KA’BAH BUKAN BERHALA

kabah-poros-bumi-2

KA BAH BUKAN BERHALA
MENGAPA UMMAT ISLAM BERKIBLAT PADA KA’BAH.
Ada banyak pertanyaan ketika seorang muslim yang bertauhid kepada Tuhan dan tidak
menyekutukannya dengan benda apapun ditentang oleh kaum lain.
Pertentangan ini disebabkan acuan muslim yang menolak menyembah berhala namun sholat justru menyembah sebuah rumah batu berbentuk kotak yang disebut Ka’bah.
Tentu bagi sebagian muslim yang belum memiliki iman kuat akan terpancing keragu- raguannya akan kebenaran Islam.
Di sini saya akan menjelaskan perbedaan penyembahan berhala oleh umat lain, baik dalam bentuk pemujaan terhadap patung maupun pemujaan terhadap benda-benda lain yang diyakini merupakan manifestasi Tuhan. Umat Islam diwajibkan bersholat 5 waktu sehari, sholat adalah amalan utama dalam Islam, tidaklah seorang muslim akan ditanya perkara lain di hari kiamat kecuali akan ditanya terlebih dahulu tentang sholatnya. Barangsiapa yang sholatnya baik maka baik pula amalan hidupnya. Tetapi jika sholatnya buruk maka buruklah semua amalannya, jadi percuma jika seorang muslim yang dermawan dan baik hati tapi lalai dalam bersholat.
Kembali pada permasalahan Ka’bah sebagai kiblat umat Islam yang selama ini ‘diserupakan‘ oleh umat lain sebagai bentuk penyembahan terhadap berhala, ternyata merupakan anggapan yang sangat salah.
Dalam pandangan umat lain, Nasrani / Hindu misalnya, penyembahan mereka kepada salib tidak ditujukan kepada patung / salib tersebut tapi salib tersebut merupakan lambang / icon / simbol dari Tuhan mereka yang dihadirkan dalam bentuk fisik. Jadi mereka menyembah benda-benda itu bukanlah pada bendanya, tapi supaya mereka dapat lebih terfokus dalam menyembah Tuhannya. Bukankah sama saja dengan muslim yang sholat menghadap Ka’bah, mereka tidak menyembah Ka’bah tetapi supaya lebih terfokus dalam sholatnya. jadi pada dasarnya, Islam dan non muslim itu sama-sama membutuhkan manifestasi Tuhan dalam bentuk fisik yang dapat kita lihat supaya lebih yakin akan keberadaannya.
Sekali lagi saya ingatkan hal ini merupakan kekeliruan para orientalis dalam memaknai arti Ka’bah bagi seorang muslim. Ka’bah merupakan kiblat umat Islam, yang dimaksud kiblat itu adalah pusat, tetapi apakah pusat ini? Pusat penyembahan paganisme versi muslim? Oh bukan …
Seorang ilmuwan keturunan Palestine bernama Yasin As-Syauk menemukan bahwa Makkah ternyata merupakan poros bumi, dan hendaknya inilah tempat yang berhak menjadi tempat penentuan waktu dunia menggantikan kota Greenwich. Ini memperkuat penemuan-penemuan para Ilmuwan sebelumnya tentang hal serupa.
Bulan April Kemarin bertempat di Doha, Qatar, berlangsung hajatan ilmiah penting bagi dunia Islam. Sejumlah ilmuwan dan ulama Islam berkumpul, mendiskusikan kemungkinan mengalihkan perhitungan waktu yang sudah baku selama ini, dari mengacu pada Greenwich Mean Time (GMT) sebagai meridian nol, berganti menjadikan Makkah sebagai awal mula perhitungan waktu.
Konferensi ilmiah yang dibuka oleh Dr. Yusuf Qaradhawi itu bertajuk: ”Makkah Sebagai Pusat Bumi, Antara Praktik dan Teori”. Selain Yusuf Qaradhawi, hadir pula sebagai pembahas geolog Mesir, Dr. Zaglur Najjar, yang juga dosen ilmu bumi di Wales University, Inggris; dansaintis yang memelopori jam Makkah, Ir Yaseen Shaok.
Terkait Mekah sebagai pusat bumi, DR. Zaglul Najjar, dosen ilmu bumi di Wales University di Inggris mengatakan hal itu memang benar berdasarkan penelitian saintifik yang dilakukan olehDR. Husain Kamaluddin bahwa ternyata Mekah al-Mukarramah memang menjadi titik pusat bumi. Hasil penelitian itu dipublikasikan oleh The Egyptian Scholars of The Sun and Space Research Center yang berpusat di Kairo itu. Penemuan ini sekaligus menggambarkan peta dunia baru, yang dapat menunjukkan arah Mekah dari kota-kota lain di dunia.
Konferensi itu dilangsungkan untuk memperkenalkan Saat Makkah (jam Mekah). Penemu jam MEKAH ini, Yasin a-Shouk, mengatakan, jam Mekah bergerak berlawanan dengan arah jarum jam dalam direksi Thawaf, rotasi keliling Ka’bah. Masihkah ini menjadi sebuah kebetulan lagi bagi para orientalis?
Penemu asal Palestina yang bermarkas di Swiss, mengatakan bahwa penemuannya ditentang orang banyak, dan memakan waktu 4 tahun untukmendapatkan hak paten.
Moderator konferensi itu, Rabaa Hamo, yang juga istri penemu jam itu mengatakan, “Barat memaksakan kepada kami garis Greenwich sebagai patokan waktu.”
Ia berharap bahwa sebuah negara Islam akan mengadopsi proyek itu untuk menguatkan kepercayaan bahwa Makkah adalah pusat dunia, tidak secara teoritis tetapi secara praktis.
Makkah, tempat Ka’bah berada, disimpulkan merupakan ‘pusat bumi‘. Ini sekaligus membuktikan bahwa bumi berkembang dari Makkah. Sebagaimana lazim diketahui, setiap tahun jutaan umat Islam sedunia mendatangi Ka’bah di Makkah untuk melaksanakan haji. Dalam salah satu prosesi thawaf, jutaan umat Islam mengelilingi Ka’bah, dengan arah berlawanan jarum jam. Arah itu bertentangan dengan lazimnya perputaran waktu sesuai perhitungan Greenwich.
Penelitian menggunakan program komputer oleh Hosien, sebelumnya juga pernah dilakukan menggunakan perhitungan matematika sederhana oleh ilmuwan Islam, Abi Fadlallah Al-Emary, yang meninggal pada 749 H. Peta itu kemudian diabadikan di kitabnya Masalik Al Absar Fi Mamalik Al Amsar.
Peta yang melukiskan arah kiblat, Makkah, juga dibuat pemikir Islam, Al-Safaksy (meninggal pada 958 H), menggunakan perhitungan astronomi. Hasil kajian dua ilmuwan itu juga membuktikan bahwa Makkah adalah ‘pusat bumi’.
Kembali ke konferensi di Doha, seperti dilansir BBC, salah satu pembahas menjelaskan, Makkah berada di titik lintang yang persis lurus dengan titik magnetik di Kutub Utara.
Kondisi ini tak dimiliki oleh kota-kota lain, bahkan Greenwich yang ditetapkan sebagai meridian nol.
Apalagi, tutur geolog tersebut, penetapan Greenwich sebagai mula perhitungan waktu dilakukan oleh Inggris yang kala itu merupakan kekuatan kolonial super power dunia. Karenanya, sangat wajar, jika Makkah ditetapkan sebagai titik nol meridian, menggantikan Greenwich.
Sementara itu, ulama Dr. Syeikh Yusuf Al-Qaradawy mengatakan, sains modern akhirnya menunjukkan bukti bahwa Makkah berada di pusat bumi yang sebenarnya, yang sekaligus merupakan bukti tentang keagungan arah Kiblat.
Konperensi di Qatar itu juga membahas temuan seorang Muslim Perancis yang disebut arloji Makkah. Arloji itu dilaporkan berputar berlawanan dengan arah jarum jam — yang biasanya berputar ke kanan — dan juga bisa menunjukkan arah Kiblat dari tempat manapun di dunia.
Konperensi Qatar merupakan bagian dari upaya dunia Islam untuk mencari bukti-bukti mengenai sains dari kitab suci Al-Quran.
Kecenderungan ini disebut Ijaz Al-Quran yang artinya adalah ‘keajabaiban kitab suci’.
Pembuktian bahwa Kabah merupakan poros bumi dapat kita buktikan dengan adanya zero magnetism area pada kutub utara dan selatan bumi ini. Di tempat itulah sebuah kompas tidak akan menunjukkan arah utara karena telah berada di zero magnetism area.
Bagaimana dengan Ka’bah? Seseorang yang tinggal lama di Makkah dan senang melakukan thawaf(mengelilingi kabah) akan lebih sehat, karena tidak banyak dipengaruhi oleh gaya gravitasi bumi.
Jadi sholat yang menghadap kiblat ini bukanlah untuk menyembah Ka’bahnya atau untuk memanifestasikan bentuk fisik Tuhan tetapi karena di sanalah letak poros bumi. Tempat dimana bumi berpusat dan umat Islam menjadikannya sebagai acuan tempat untuk menentukan arah sholatnya di seluruh dunia. Jadi ada persamaan visi dalam sholat, dalam konteks menyatukan kekuatan umat.
PENEMUAN DARI LUAR ANGKASA
Penemuan para astronot bahwa bumi mengeluarkan semacam radiasi yang bersifat infinity (tidak berujung) dari salah satu bagian tubuhnya dan pusat dari radiasi
itu adalah Ka’bah. Radiasi ini bahkan tertangkap kamera dari pengambilan gambar di planet Mars. Ilmuwan muslim yakin ini lah radiasi yang menghubungkan Ka’bah
dunia di Makkah dengan Ka’bah akhirat.
Nabi Muhammad pernah menyatakan dalam sebuah hadits
“Hajar Aswad itu diturunkan dari surga, warnanya lebih putih daripada susu, dan dosa-dosa anak cucu Adamlah yang menjadikannya hitam”. ( Jami al-Tirmidzi al-Hajj (877) )
Di sebuah musium di negara Inggris, ada tiga buah potongan batu tersebut. Hajar Aswad (dari Ka’Bah) dan pihak musium juga mengatakan bahwa bongkahan batu-batu tersebut bukan berasal dari sistem tata surya kita.
Jika anda seorang muslim dan ditanyakan mengapa anda menyembah Ka’bah, anda sekarang dapat menambahkan penemuan ilmuwan Perancis tersebut untuk lebih menguatkan iman anda bahwa Ka’bah bukanlah manifestasi Tuhan yang diberhalakan oleh umat muslim, tetapi karena ia adalah kiblat / poros dari bumi.
Dari Ali rhodiyalloohu ‘anhu; Nabi Sholalloohu ‘alaihi wassalam bersabda, “Allah berfirman; apabila Aku menghendaki kerusakan dunia (kiamat) maka Aku mulai dengan rumahku (Ka’bah), lalu dunia mengiringinya.”

Dalil ini menyatakan bahwa Ka’bah akan menjadi tempat pertama yang akan hancur pada hari kiamat adalah kota Makkah, lalu menyebar keseluruh dunia, seperti putaran
roda yang dihantam porosnya, dunia ini akan hancur berantakan.
Pakar Islam, Zaghloul al-Najjar, mengatakan, Barat tidak suka bukti-bukti sains bahwa “Makkah terletak pada pusat planet kita, tapi kami akan tetap melanjutkan riset kami untuk mencari kebenaran”.
Sumber:
http://anotherorion.multiply.com/journal/item/51?&item_id=51&view:replies=reverse

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: