PENYEBAB MARAKNYA BID’AH

faktor-penyebab-bidah

PENYEBAB MUNCUL DAN MARAKNYA BID’AH
Oleh : Ust. Achmad Rofi’i, Lc.

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allooh سبحانه وتعالى,
Pembahasan kita masih merupakan kelanjutan dari bahasan-bahasan kita yang lalu mengenai Al Bid’ah, dan kali ini insya Allooh akan kita bahas tentang “Faktor-Faktor yang Menyebabkan Muncul dan Maraknya Bid’ah”.
Kalau kita kembali kepada isyarat yang telah disampaikan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, ternyata munculnya Bid’ah itu bukanlah sesuatu yang aneh. Karena sekitar 1400-an tahun yang lalu, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم telah bersabda kepada kita, sebagaimana yang diriwayatkan oleh para ‘Ulama Ahlus Sunnah Wal Jamaa’ah, antara lain yakni Al Imaam Al Khothiib Al Baghdaady رحمه الله didalam Kitabnya “Syarah Ashhaabil Hadiits”.
Imaam At Tibriizy رحمه الله dalam Kitabnya “Misykaatul Mashoobiih”, Kitab yang ditulis oleh Imaam Al Qostholaany رحمه الله, telah memaparkan sabda Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم kepada kita untuk kemudian kita jadikan sebagai landasan kajian kita.
Dari Ibrohiim bin ‘Abdurrohmaan Al Adzry رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
يَرِثُ هَذَا الْعِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلَفٍ عُدُولُهُ يَنْفُونَ عَنْهُ تَأْوِيلَ الْجَاهِلِينَ وَانْتِحَالَ الْمُبْطِلِينَ وَتَحْرِيفَ الْغَالِينَ
Artinya:
“Pembawa ‘ilmu ini (Al Islaam) dari setiap khalaf (generasi ke generasi berikutnya), adalahorang-orang yang membawa ilmu ini dengan gigih dalam mewariskan Sunnah, dan adalah mereka orang-orang yang ‘aadil dalam ‘Ilmu Dien (– kemampuan membawa perowi ‘ilmu dan bertaqwa –). Dimana mereka membersihkan dien dari ta’wiilnya orang-orang Jaahil, ajaran yang diada-adakan oleh orang-orang yang baathil, dan perubahan yang dilakukan oleh orang-orang yang berlebih-lebihan.”
(Hadits Riwayat Imaam Al Baihaqy رحمه الله no: 21439, di-shohiihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany رحمه الله dalam Misykaatul Mashoobiih no: 51/428)
Ada dua identitas bagi orang yang ‘aadil dalam ‘Ilmu Dien, yaitu:
– Dia harus selalu bertaqwa kepada Allooh سبحانه وتعالى
– Dia harus jauh dari sesuatu yang tidak etis. Jangankan yang melanggar ajaran Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, sekedar melakukan sesuatu yang bagi muslim pada umumnya boleh melakukannya, tetapi karena dia seorang pembawa ‘ilmu Syar’i, pembawa Kalamullooh, pembawa Kalam Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, maka perkara tersebut menjadi tidak patut baginya.
Misalnya: Bagi orang awam, berdiri di depan gedung bioskop itu masih boleh, dan dianggap biasa; tetapi bagi orang-orang yang merupakan pembawa Kalamullooh atau Ahlul ‘Ilmi, sudah menjadi tidak pantas.
Maka bagi seorang Ahlul ‘Ilmi, haruslah memperhatikan dan tidak boleh mendekati tempat-tempat semacam tersebut diatas, yaitu tempat-tempat yang mempunyai nilai tidak etis.
Maka bagi orang yang dikategorikan sebagai orang yang layak membawa ‘ilmu Syar’i itu, dan sebagai orang yang layak meriwayatkan hadits-hadits Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, adalah orang yang memiliki karakter tertentu sebagaimana telah dijelaskan diatas.
Menurut sabda Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, orang yang karakternya demikianlah yang akan membawa ‘Ilmu Dien ini dari generasi ke generasi, sehingga merupakan mata rantai yang tidak terputus.
Para ‘Ulama Ahlus Sunnah yang ‘aadil seperti itu memiliki misi untuk menghapuskan dan menghilangkan 3 perkara yakni:
1. Ta’wiil Al Jaahiliin (تأويل الجاهلين)
2. Intihal Al Mubthiliin (انتحال المبطلين)
3. Tahrif Al Ghaliin (تحريف الغالين)
Ketiga faktor tersebutlah yang menjadi penyebab dari munculnya Bid’ah dimana-mana.
1. Ta’wiil Al Jaahiliin :
“Ta’wiil”maknanya antara lain adalah “Tafsiir”, yakni menjelaskan dan menjabarkan tentang Al Islaam. Ternyata orang yang menjabarkannya adalah Al Jaahilin, yakni orang-orang yang tidak ber-‘ilmu atau orang yang tidak kompeten dalam ‘ilmu Dien (‘ilmu Syar’i) namun ia kesana kemari menjabarkan tentang Al Islaam; sehingga bukannya menjadi benar penyampaian tentangAl Islaam tersebut; melainkan justru menjadikan ummat ini tersesat (dholluun). Maka ia pun berdosa karena telah menjadikan dirinya tersesat dan menjadikan orang lain pun sesat karena kesalahannya dalam menjelaskan tentang Al Islaam.
Dari ‘Abdullooh bin Amr bin Al ‘Ash رضي الله عنه, dia berkata, “Aku mendengar Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda,
إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا
“Sesungguhnya Allooh tidak akan mencabut ilmu dari manusia secara langsung, akan tetapi Dia akan mencabut ilmu dengan mematikan para ‘Ulama sampai tidak tersisa seorang ‘alim pun, maka manusia menjadikan para pemimpin yang Jaahil (bodoh), maka ketika ditanya mereka berfatwa tanpa ilmu, maka sesatlah mereka dan menyesatkan.” (Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 100 dan Imaam Muslim no: 6971)
Oleh karena itu, para ‘Ulama Ahlus Sunnah Wal Jamaa’ah yang ‘aadil haruslah membasmi kejaahilan (kebodohan akibat kesalahan penafsiran tentang Al Islaam) dari Al Jaahilin (orang-orang yang menafsirkan dienul Islaam semaunya sendiri itu).
2. Intihal Al Mubthiliin
“Intihal”, berasal dari kalimat “Nihlah”, yang artinya adalah sekte atau sempalan. Sementara “Al Mubthiliin” berasal dari kata “Baathil” yang artinya adalah tertolak. Jadi “Intihal Al Mubthiliin” artinya adalah: sekte-sekte atau pemahaman sempalan-sempalan yang tidak benar, hal ini dikarenakan mereka mengikuti hawa nafsu dank arena mendahulukan akal daripada Wahyu.
3. Tahrif Al Ghaliin
“Tahrif” maknanya adalah perubahan. “Al Ghaliin” maknanya adalah ekstrim, keterlaluan, lepas dari landasannya, melampaui batasannya.
Jadi “Tahrif Al Ghaliin” artinya adalah melakukan perubahan dengan ekstrim atau melampaui batas. Hal ini disebabkan karena Ta’ashshub dan Tasyaddud (ekstrim).
Ta’ashshub adalah bersikap ashobiyyah, yakni menyatakan sesuatu atau membela sesuatu yang bukan syar’i, hanya karena taqliid terhadap kelompoknya, ras atau sukunya, karena madzab-nya, karena pendiriannya dan seterusnya.
Tasyaddud adalah berpegang pada sesuatu dengan ketatnya, tidak punya kelonggaran atau kemudahan sama sekali; dan hal ini merupakan kebalikan dari yang diajarkan oleh Syar’i, karena Syar’i itu mengajarkan kemudahan.
Maka Ta’ashshub dan Tasyaddud itu akan memunculkan Bid’ah.
Pertama, jadi Jaahil (kebodohan dalam perkara dien) adalah merupakan penyebab utama munculnya kebid’ahan. Hal ini dijelaskan oleh Nash dan Daliil sebagai berikut, dimana Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam QS. Al A’roof (7) ayat 138:
وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتَوْاْ عَلَى قَوْمٍ يَعْكُفُونَ عَلَى أَصْنَامٍ لَّهُمْ قَالُواْ يَا مُوسَى اجْعَل لَّنَا إِلَـهاً كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ
Artinya:
“Dan Kami seberangkan Bani Isro’iil ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala mereka, Bani Isro’iil berkata: “Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala)”. Musa menjawab: “Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang Jaahil (tidak mengetahui sifat-sifat Robb)”.
Yang dimaksud Jaahil dalam ayat tersebut adalah bodoh, karena tidak ber-‘ilmu syar’i (tidak paham ‘ilmu dien), sehingga muncullah suatu pernyataan, pemikiran, ide dan kreativitas untuk mengaplikasikan dalam kehidupannya sesuatu yang diluar pedoman dan tuntunan Allooh سبحانه وتعالى. Oleh karena itu, orang yang jaahil (bodoh) dalam ‘ilmu dien, bisa memunculkan suatu kreativitas yang salah.
Ada pepatah bahwa salahnya seorang guru tidak lah lebih parah dibandingkan salahnya seorang murid. Karena salahnya seorang guru itu punya dasar. Ada kaidah-kaidahnya. Kalau ia salah, mungkin saja karena istimbaath-nya yang salah. Tetapi seorang murid yang salah karena ia sebenarnya tidak mempunyai dasar apa pun, tetapi lalu ia ber-istimbaath (diluar kemampuannya), sehingga tidak mustahil mereka mempunyai dan memunculkan ide-ide, pemikiran-pemikiran sesat seperti yang dijelaskan dalam ayat diatas (“Kalau mereka memiliki beberapa tuhan, mengapa tidak dibuatkan sebuah tuhan untuk kita juga?”). Itu adalah pemikiran yang sesat dan keliru, yang lahir dari kejaahilan (kebodohan) terhadap ‘ilmu dien.
Para Rosuul, para Nabi dan para ‘Ulama Ahlus Sunnah Wal Jamaa’ah mempunyai misi utama yakni mengajarkan Tauhiid; sementara orang jaahil justru memunculkan Syirik.
Yang mereka minta adalah tuhan (berhala) untuk disembahnya, dimana hal tersebut menunjukkan kebodohan mereka terhadap sifat-sifat Allooh سبحانه وتعالى, yang Maha Esa, yang tidak boleh disekutukan dengan apa pun juga.
Kemudian Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam QS. An Naml (27) ayat 55:
أَئِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِّن دُونِ النِّسَاء بَلْ أَنتُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ
Artinya:
“Mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk (memenuhi) nafsu (mu), bukan (mendatangi) wanita? Sebenarnya kamu adalah kaum yang Jaahil (tidak mengetahui akibat perbuatanmu)”.
Sebagaimana dijelaskan dalam ayat diatas, maka kaum Nabi Luth عليه السلام adalah kaum yangjaahil, karena mereka justru mendatangi laki-laki dengan syahwatnya (Homo) dan bukannya mendatangi wanita. Yang wajar itu adalah laki-laki semestinya tertarik pada kaum wanita, namun kaum Nabi Luth عليه السلام malah menujukan syahwatnya kepada sesama laki-laki. Maka Allooh سبحانه وتعالى pun menyebut mereka sebagai kaum yang jaahil (bodoh). Jaahil itu bukan saja semata-mata karena tidak ber-ilmu, namun bisa saja mereka ber-ilmu tetapi ‘ilmunya tertutup oleh hawa nafsunya, sehingga mereka pun mempunyai hasrat dan pengamalan yang tidak sesuai dengan tuntunan Allooh سبحانه وتعالى dan Sunnah para Nabi-Nya.
Lalu didalam QS. Az Zumar (39) ayat 64, Allooh سبحانه وتعالى berfirman:
قُلْ أَفَغَيْرَ اللَّهِ تَأْمُرُونِّي أَعْبُدُ أَيُّهَا الْجَاهِلُونَ
Artinya:
“Katakanlah: “Maka apakah kamu menyuruh aku menyembah selain Allooh, hai orang-orang yang Jaahil (tidak berpengetahuan)?”
Jaahil (tidak ber-‘ilmu), menurut ‘ilmu ‘Ushuulul Fiqih itu ada 2 jenis, yakni: Jaahil Bashiitdan Jaahil Murrokkab.
Jaahil Bashiit adalah jaahil yang memang betul-betul jaahil. Dia jaahil karena tidak pernah belajar ‘ilmu dien, maka ia tidak berpengetahuan. Sementara Jaahil Murrokkab, adalah Jaahilkarena hawa nafsu; dimana sebenarnya ia sudah pernah mempelajari ‘ilmu dien tetapi ‘ilmu-nya lalu diselewengkan sehingga ia menjawab dengan tidak sesuai apa yang semestinya berasal dari tuntunan Allooh سبحانه وتعالى dan Rosuul-Nya صلى الله عليه وسلم. Di zaman sekarang, Jaahil Murrokkabini sangat banyak. Apabila orang yang Jaahil Bashiit menjadi orang-orang yang taqliid-nya, maka orang yang Jaahil Murrokkab itu menjadi pembimbing-pembimbing, juru-juru dakwah yang menyesatkan bagi orang-orang yang Jaahil Bashiit tersebut ke jalan yang keliru, sehingga jadilah mereka itu sesat dan menyesatkan sebagaimana telah dijelaskan dalam sabda Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dalam Hadits diatas yakni:
“Sesungguhnya Allooh tidak akan mencabut ilmu dari manusia secara langsung, akan tetapi Dia akan mencabut ilmu dengan mematikan para ‘Ulama sampai tidak tersisa seorang ‘alim pun, maka manusia menjadikan para pemimpin yang Jaahil (bodoh), maka ketika ditanya mereka berfatwa tanpa ilmu, maka sesatlah mereka dan menyesatkan.” (Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 100 dan Imaam Muslim no: 6971, dari Shohabat ‘Abdullooh bin Amr bin Al ‘Ash رضي الله عنه)
Itulah keadaan yang sangat berbahaya bagi kita. Karena semakin banyaknya orang-orang ‘aalim yang Allooh سبحانه وتعالى panggil (meninggal), berarti yang tersisa adalah orang-orang yang jaahil. Sementara membuat kader ‘Ulama tidaklah mudah. Belum tentu semua lulusan pesantren menjadi ‘Ulama. Bahkan sangat sedikit dari mereka yang bisa melanjutkan misi yang telah ditanamkan oleh para Ahlul ‘Ilmi-nya, para Ustadz ataupun Kyai-nya. Dan bila hal yang terjadi adalah demikian, maka ketika terjadi ketidakseimbangan antara kualitas dan kuantitas tantangan yang ada di alam ini maka mereka pun akan tersesat dan mencari fatwa-fatwa yang tidak berdasarkan pada ‘ilmu dien yang benar (sesuai tuntunan Allooh سبحانه وتعالى dan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم). Pada akhirnya, Bid’ah pun muncul dan merebak di mana-mana.
Dalam Hadits yang lain diriwayatkan oleh Imaam Al Bukhoory no: 5577, dari Shohabat Anas bin Maalik رضي الله عنه, beliau berkata,
“Sungguh akan aku ceritakan kepada kalian suatu Hadits yang tidak seorangpun dari kalian mendengarnya kecuali dariku. Aku mendengar Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda,
مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يَظْهَرَ الْجَهْلُ وَيَقِلَّ الْعِلْمُ وَيَظْهَرَ الزِّنَا وَتُشْرَبَ الْخَمْرُ وَيَقِلَّ الرِّجَالُ وَيَكْثُرَ النِّسَاءُ حَتَّى يَكُونَ لِخَمْسِينَ امْرَأَةً قَيِّمُهُنَّ رَجُلٌ وَاحِدٌ
‘Diantara tanda hari kiamat, yaitu:
1) Akan nampak kebodohan
2) Ilmu diangkat
3) Zina Nampak
4) Khamr diminum
5) Akan semakin sedikit bilangan laki-laki dan semakin banyak bilangan wanita, sehingga 50 wanita dipimpin (ditanggung) oleh seorang laki-laki’.”
Apabila ‘Ilmu dien semakin hilang dengan meninggalnya para ‘Ulama, maka tinggallah di muka bumi ini yang terbanyak adalah orang-orang jaahil yang kokoh didalam kejaahilannya, dan berbagai perkara akan diatur bukan atas dasar ‘ilmu dien lagi, sehingga kekacauan pun merebak dimana-mana dan Bid’ah pun muncul serta marak ditengah-tengah masyarakat.
Syaikhul Islaam Ibnu Taimiyah رحمه الله dalam Kitab “Majmu’ Fataawa”, beliau رحمه الله mengatakan:
“Golongan ini (Ahlul Bid’ah) semakin banyak, semakin marak dan semakin subur dimana-mana jika kejaahilan (kebodohan dalam ‘ilmu dien) itu semakin banyak, dan orang yang menganut kejaahilan itu pun semakin banyak, serta tidak ada Ahlul ‘Ilmi tentang kenabian dan tentang Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, yang memiliki kemampuan dan punya kemauan yang keras untuk menampakkan sinar-sinar Sunnah itu untuk menghapuskan kejaahilan, kegelapan dan kesesatan tersebut serta menjelaskan hal-hal yang bertentangan dengannya, termasuk diantaranya sesuatu yang diada-adakan (Bid’ah), kemusyrikan, sesuatu yang khayalan yang tiada kebenaran didalamnya.”
Dengan penjelasan-penjelasan dari Nash, Hadiits dan pernyataan para ‘Ulama Ahlus Sunnah Wal Jamaa’ah diatas, menunjukkan kepada kita bahwa Jaahil (Bodoh terhadap ‘ilmu dien) merupakan bibit utama muncul dan bercokolnya kebid’ahan.
Contohnya, seseorang itu sudah tahu tentang Al Islaam, ia sudah tahu bahwa ibadah itu harus datang dari tuntunan Allooh سبحانه وتعالى dan Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, namun ketika ia melakukan suatu ‘amalan, maka ia hanyalah mengikuti kebiasaan turun temurun dari nenek moyangnya saja tanpa mengecheck apakah ‘amalannya itu ada tuntunannya dari Allooh سبحانه وتعالى dan Rosuul-Nya صلى الله عليه وسلم ataukah tidak. Kalau ditanya daliilnya mana, maka ia tidak tahu dan tidak bisa memberikan daliil yang shohiih tentangnya. Ia hanya ikut-ikutan kebanyakan orang, ikut-ikutan “katanya… katanya….” orang saja tanpa merujuk ke daliil yang shohiih, ikut-ikutan apa yang turun temurun dari nenek moyang padahal apa yang ia ikuti itu sama sekali tidak ada landasan ‘ilmu syar’i-nya.
Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalm QS. Al-Baqoroh (2) ayat 170:
وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنزَلَ اللّهُ قَالُواْ بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءنَا أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لاَ يَعْقِلُونَ شَيْئاً وَلاَ يَهْتَدُونَ
Artinya:
“Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allooh,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”.“(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?”
Dan dalam QS. Al-Ma’idah (5) ayat 104:
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْاْ إِلَى مَا أَنزَلَ اللّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ قَالُواْ حَسْبُنَا مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءنَا أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لاَ يَعْلَمُونَ شَيْئاً وَلاَ يَهْتَدُونَ
Artinya:
“Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allooh dan mengikuti Rosuul”. Mereka menjawab: “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya”. Dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk ?”
Juga dalam QS. Al-An’am (6) ayat 116:
وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِي الأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ اللّهِ إِن يَتَّبِعُونَ إِلاَّ الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلاَّ يَخْرُصُونَ
Artinya:
“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allooh. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allooh).”

Misalnya, Bid’ah Mauludan (perayaan Maulid Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم), yang banyak dilakukan oleh orang-orang yang mengaku sebagai pengikut dari madzab Syaafi’iy, padahal dalam Kitab Al Amru bill Ittibaa’ wan Nahyu ‘Anil Iibtidaa’ yang ditulis olehImaam Jalaaluddin As Suyuuthi رحمه الله, yakni Imaam-nya madzab Syaafi’iy dimana beliau رحمه الله memasukkan Mauludan kedalam perkara-perkara Bid’ah yang tersebar di masyarakat.
Jadi betapa banyak orang-orang yang sekedar “mengaku-ngaku” sebagai pengikut madzab Syaafi’iy, tetapi amalan yang mereka lakukan justru bertentangan dengan apa yang diajarkan oleh para Imaam madzab Syaafi’iy. Dan sikap mereka itulah yang sebenarnya mencoreng nama Ahlus Sunnah Wal Jamaa’ah, karena beramal dengan amalan Bid’ah, namun menyatakan dirinya sebagai pengikut Ahlus Sunnah Wal Jamaa’ah.
Kedua, mengapa Bid’ah muncul, diantaranya adalah karena menuruti hawa nafsu. Ternyata hawa nafsu itu mempunyai saham besar dalam memunculkan ke-Bid’ahan. Perhatikanlah firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. Al Qoshosh (28) ayat 50:
فَإِن لَّمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءهُمْ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِّنَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
Artinya:
“Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu), ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allooh sedikitpun. Sesungguhnya Allooh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzolim.”
Makna daripada ayat diatas adalah ketika orang-orang itu diseru untuk mengikuti Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, dan ketika mereka diseru untuk masuk kedalam ajaran yang sesungguhnya berasal dari Al Qur’an dan As Sunnah, maka mereka tidak menanggapinya, mereka tidak menggubrisnya dan lebih suka larut didalam hawa nafsunya. Maka ketahuilah bahwa Allooh سبحانه وتعالى tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzolim tersebut.
Dengan berpedoman pada ayat ini, maka sebetulnya sangat mudah mengidentifikasi siapa itu Ahlul Bid’ah. Bila ada orang yang diberitahu untuk melakukan ‘amalan yang sesuai tuntunan Allooh سبحانه وتعالى dan Rosuul-Nya صلى الله عليه وسلم dan jangan mengikuti ‘amalan yang tidak ada daliil shohiih-nya, lalu kita sodorkan pula ini ayat-ayat Al Qur’an-nya dan ini Hadits-Hadits Shohiih-nya, namun sesudah mendapat penjelasan yang sedemikian jelasnya itu, ia tetap pada pekerjaan Bid’ah-nya yang semula; maka bisa dipastikan bahwa ia adalah pengikut hawa nafsu, bukanlah pengikut Allooh سبحانه وتعالى dan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
Dengan kata lain, kalau ada orang yang diajak untuk benar tetapi ia tidak mau, maka jelaslah bahwa ia adalah pengikut hawa nafsunya.
Perhatikan pula firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. Al Jaatsiyah (45) ayat 18:
ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَى شَرِيعَةٍ مِّنَ الْأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاء الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ
Artinya:
“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (dien) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.”
Orang yang tidak ber-‘ilmu adalah orang jaahil. Orang jaahil itu hawa nafsunya tidak terpandu, maka wajar saja bila mereka terperosok kedalam sesuatu yang keliru, diantaranya adalah Bid’ah.
Maka kita harus yakin bahwa ummat Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم itu memiliki pedoman yang berasal dari Muhammad bin ‘Abdillaah صلى الله عليه وسلم, yang haruslah kita pelajari dan kita pegang teguh serta diamalkan dalam keseharian kita dan janganlah mengikuti seruan, perkataan ataupun konsep yang diutarakan dan didakwahkan oleh para pengikut hawa nafsu. Walau seindah apa pun mereka (para pengikut hawa nafsu) tersebut mengatakannya. Walau sepintar apa pun mereka dalam perkara duniawinya. Karena Dien bukanlah hasil pemikiran manusia, namun Dien itu adalah Wahyu yang harus berpatokan pada Kalamullooh dan sabda Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
Dalam Hadits Riwayat Imaam Al Bazzaar no: 6491 dan Imaam Ath Thobrony no: 5754, dari Shohabat Anas bin Maalik رضي الله عنه dan menurut Syaikh Nashiruddin Al Albaany dalam Shohiih At Targhiib Wat Tarhiib no: 453 bahwa Hadits ini adalah Hasan Lighoirihi, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
ثلاث كفارات وثلاث درجات وثلاث منجيات وثلاث مهلكات … وأما المنجيات : فالعدل في الغضب والرضا والقصد في الفقر والغني وخشية الله في السر والعلانية وأما المهلكات فشح مطاع وهوي متبع وإعجاب المرء بنفسه
Artinya:
“Ada tiga penghapus dosa, tiga pengangkat derajat, tiga penyelamat, tiga penyebab binasa….Adapun tiga perkara yang akan menjadikan kita selamat adalah:
1) Adil dalam keadaan marah ataupun tidak marah
2) Sederhana baik dalam keadaan faqir maupun kaya
3) Takut baik dalam keadaan rahasia, maupun ditengah-tengah orang banyak, yaitu takut hanya kepada Allooh سبحانه وتعالى.”
Selanjutnya Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
“Ada tiga perkara yang membinasakan:
1) Baakhil yang keterlaluan
2) Hawa nafsu yang diperturutkan
3) Kagum terhadapdiri sendiri (Ujub).”

Dengan demikian, ada tiga perkara yang hendaknya kaum muslimin itu takut untuk terjerumus didalamnya yakni:
1) Urusan perut
2) Syahwat
3) Hawa nafsu yang membuat pemandangan menjadi gelap.
Oleh karenanya, maka hendaknya kita bisa mengendalikan, janganlah patuh kepada hawa nafsu, karena hawa nafsu itu akan membawa kepada kesesatan. Termasuk memandang secara terbalik, sehingga yang sesungguhnya merupakan Sunnah (yang sudah jelas-jelas landasan daliil-daliilShohiih-nya) justru dianggap sebagai Bid’ah; dan juga memandang bahwa ajaran-ajaran dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم malah dituduh sebagai “Ajaran Baru” oleh mereka. Dan sebaliknya, yang Bid’ah itu oleh mereka malah dianggapnya sebagai Sunnah. Bukankah yang demikian ini adalah kegelapan yang nyata?
Ketika orang sudah tidak bisa membedakan lagi mana yang putih dan mana yang hitam, maka orang tersebut dikatakan buta warna. Ketika orang tidak tahu lagi mana yang Halaal dan mana yang Harom, maka orang tersebut telah “Buta” terhadap kebenaran. Ketika orang sudah tidak tahu lagi mana yang Sunnah dan mana yang Bid’ah, maka orang tersebut sudah berada dalam cengkeraman Syaithoon untuk menuju pada Kesesatan. Na’uudzu billaahi min dzaalik.
Dan ini suatu Hadits yang diriwayatkan oleh Imaam At Turmudzy no: 3591, dari Shohabat Abu Barzah Al Asnamy رضي الله عنه, dishohiihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda dalam mengajari ummatnya untuk berdo’a guna melindungi diri kita dari hawa nafsu:
اللهم إني أعوذ بك من منكرات الأخلاق والأعمال والأهواء
Artinya:
“Alloohumma innii a’uudzubika min munkoorotil akhlaaqi wal a’mali wa ahwaa i.”
(Ya Allooh, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu, agar aku terhindar dari kemunkaran akhlaq, kemunkaran amal, dan hawa (nafsu) yang membawa kepada kemunkaran)
Oleh karena itu, wahai kaum muslimin, perhatikanlah bahwa ada orang-orang yang sudah larut dalam kemunkaran hawa nafsu sampai sedemikian rupa, sampai-sampai ia rela mati untuk membela sesuatu yang Bid’ah. Sudah jelas-jelas tidak ada daliil Shohiih-nya, tetapi orang itu tetap “ngotot” (berkeras) mempertahankan kebid’ahannya secara emosional. Padahal dalam ber-Islam, kita tidak boleh menuruti emosi atau hawa nafsu, melainkan haruslah berada diatas landasan Al Qur’an dan Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
Banyak sekali orang yang menganggap bahwa sesuatu itu ibadah kepada Allooh سبحانه وتعالى, padahal itu tidak ada daliilnya yang shohiih. Ia hanyalah mengikuti hawa nafsunya belaka.
Ketiga, termasuk berbahaya pula ketika seseorang itu sudah mendahulukan ‘Aql (Akal) daripada Naql (Wahyu).
Sebagaimana dikatakan oleh Imaam Abu Ja’far Ath Thohaawy رحمه الله dalam Kitab ‘Aqiidah Ath Thohaawiyyah, kata beliau رحمه الله:
“Bahwa Dien tidak akan tegak diatas kebenaran kecuali dia patuh dan menyerahkan diri kepada Al Haq, kepada Al Qur’an dan Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.”
Hal ini menunjukkan bahwa Islam itu tidak bisa bersandarkan pada akal, Islam tidak bisa bersandarkan pada perasaan, Islam tidak bisa bersandarkan pada hasil musyawaroh manusia, Islam tidak bisa bersandarkan pada hasil impian, dan seterusnya. Karena Islam itu haruslah bersandarkan pada Wahyu, yakni dari Allooh سبحانه وتعالى dan Rosuul-Nya صلى الله عليه وسلم.
Berikutnya Imaam Asy Sya’tiby رحمه الله dalam Kitab Al I’tishoom, beliau رحمه الله berkata:
“Sesungguhnya Allooh سبحانه وتعالى telah menjadikan akal itu punya batasan. Oleh sebab itu, Allooh سبحانه وتعالى tidak menjadikan akal itu jalan untuk mengetahui segala yang diinginkan.”
Artinya, akal manusia itu terbatas. Karena akal manusia itu terbatas, maka tidak bisa mengetahui dan menyelami apa saja yang diinginkannya.
Juga dalam Kitab yang ditulis oleh Imaam Abu Muhammad Al Hasan bin ‘Ali bin Kholaf Al Barbahaary رحمه الله yang berjudul “Syarhus Sunnah”, dan beliau adalah Imaam Ahlus Sunnah Wal Jamaa’ah yang hidup pada abad ke-3 Hijriyah, maka dijelaskan oleh beliau رحمه الله dalam Kitabnya tersebut tentang banyaknya perkara yang menjadi penyebab mengapa Bid’ah itu muncul.
Syaikh Al Buraikaan رحمه الله dalam Kitabnya yang berjudul Ta’rifal Khalaf telah mengemukakan dan menyimpulkan dari apa yang ditulis oleh Al Imaam Al Barbahaary رحمه الله dalam Kitabnya tersebut diatas, bahwa Bid’ah itu muncul dengan banyak sebab. Diantaranya adalah:
1. Bid’ah muncul karena Ilmu Kalam (Filsafat, Mantik)
Kata Imaam Al Barbahaary رحمه الله : “Kemunafikan, kekufuran, keraguan, kebid’ahan, kesesatan, kebingungan dalam urusan dien, penyebabnya adalah Al Kalam (Filsafat).”
Ketika orang menjadikan Filsafat sebagai landasan dalam memunculkan suatu keyakinan dan landasan dalam suatu amalan, maka itu akan menjadi Bid’ah.
2. Bid’ah muncul dari Kalimat Jidaal, debat, permusuhan dalam urusan dien
Imaam Al Barbahaary رحمه الله berkata: “Bagaimana seseorang itu akan berani melakukan jiddal, debat dan melakukan penentangan dalam urusan dien, sedangkan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلمbersabda:
الْمِرَاءُ فِى الْقُرْآنِ كُفْرٌ

“Tidak ada yang melakukan jiddal (debat) terhadap ayat-ayat Allooh, kecuali orang-orang kaafir.” (Hadits Riwayat Imaam Abu Daawud no: 4605 dan Imaam Ibnu Hibban رحمهما الله no: 1464, dari Shohabat Abu Hurairoh رضي الله عنه, menurut Syaikh Syuaib Al Arnaa’uth رحمه الله Sanadnya adalah Hasan)
Jadi kalau ada orang yang mempertentangkan, memperdebatkan Al Qur’an dstnya, maka menurut Allooh سبحانه وتعالى, mereka itu meniru budaya orang kaafir. Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam QS. An Nisaa’ (4) ayat 65:
فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
Artinya:
“Maka demi Robb-mu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu (Muhammad) berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”
Jadi hendaknya kaum muslimin itu berserah diri, pasrah, ridho dengan peninggalan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dan diam (menghentikan diri) dan tidak boleh melanggar batasan yang bukan merupakan kewenangannya. Kalau didalam dirinya masih ada rasa keberatan, maka ia terancam menjadi orang yang dinyatakan “Tidak beriman” sebagaimana firman Allooh سبحانه وتعالى diatas.
3. Menyembunyikan apa yang diturunkan oleh Allooh سبحانه وتعالى
Imaam Al Barbahaary رحمه الله berkata: “Ketika Ahlus Sunnah Wal Jamaa’ah tersembunyi, tidak menampakkan Sunnahnya, maka akan muncul kebid’ahan dan menyebar dimana-mana.”
Maka kalau kita ingin mengerem Bid’ah, kita harus sepakat untuk beramal dengan Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
4. Berhukum dengan Qiyas dan Analogi Akal
Imaam Al Barbahaary رحمه الله berkata: “Mereka meletakkan Qiyas (– padahal Qiyas tidak boleh dipakai dalam perkara Aqidah –), lalu mereka membawa kepastian, kemampuan, kekuasaan Allooh سبحانه وتعالى dan ayat-ayat serta hukum Allooh سبحانه وتعالى, perintah dan larangan-Nya kedalam akal dan pendapat mereka. Apa yang cocok dengan akal mereka maka mereka terima dan apa yang menyelisihi akal mereka maka mereka pun menolaknya. Ketika akal menjadi penentu terhadap hukum, maka itu akan menjadi dasar munculnya Bid’ah.”
Paham-paham yang sesat seperti paham Qodariyah, Mu’tazilah, dll; semuanya itu merupakan Bid’ah karena mereka menggunakan akal mereka sebagai dasar. Tersesatnya mereka itu karena mendewakan akal manusia yang sebenarnya adalah terbatas. Berbeda dengan Ahlus Sunnah Wal Jamaa’ah, maka Ahlus Sunnah meletakkan segala perkara pada tuntunan Wahyu yang berasal dari Allooh سبحانه وتعالى (Al Qur’an) dan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم (As Sunnah).
5. Duduk (bergaul) dengan Ahlul Bid’ah
Imaam Al Barbahaary رحمه الله berkata, “Jika engkau lihat seseorang duduk bersama Ahlul Bid’ah, maka hindarilah orang tersebut. Ketahuilah bahwa duduk bersama Ahlul Bid’ah adalah tidak benar, karena mereka adalah pengikut hawa nafsu.”

6. Hadits-Hadits Palsu (Maudhuu’) dan Hadits-Hadits Lemah (Dho’iif)
Imaam Al Barbahaary رحمه الله berkata, “Dan ujian dalam Islam itu adalah Bid’ah. Adapun hari ini, maka Sunnah itu diuji. Sesungguhnya ‘ilmu itu adalah dien, maka hendaknya engkau lihat dari siapa engkau mengambil dien tersebut. Dan janganlah kalian mengambil Hadits kecuali dari orang yang bisa diterima persaksiannya. Jika orang itu termasuk orang yang mengamalkan Sunnah, diketahui jelas kebaikannya, maka ditulislah Hadits dan ilmu darinya, namun jika ia tidak demikian, maka hendaknya engkau tinggalkan dia.”
7. Menentang apa yang dibawakan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم baik berupa Al Qur’an maupun Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم
Imaam Al Barbarhaary رحمه الله berkata, “Ketahuilah, bila manusia itu berdiri diatas sesuatu yang baru, tidak melewati batasan darinya sedikitpun, atau tidak melahirkan suatu perkataan, dan tidak mendapatkan sesuatu yang bersumber dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dan para Shohabatnya; maka sesungguhnya tidak akan terjadi Bid’ah.”
Maksudnya, jika seseorang ketika melihat sesuatu amalan, lalu ia senantiasa menimbang-nimbang amalan tersebut dengan ayat-ayat Al Qur’an maupun Hadits-Hadits Shohiih dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, maka tidak akan terjadi Bid’ah.
8. Ghuluw (Kultus) dalam urusan Dien
Imaam Al Barbahaary رحمه الله berkata, “Hendaknya engkau hindari Kultus dalam urusan Dien. Karena yang demikian itu bukanlah jalan menuju kebenaran.”
9. Mengatakan Sesuatu Tanpa ‘Ilmu
Bila ada orang yang mengatakan sesuatu tetapi tanpa landasan ‘Ilmu Dien yang jelas, maka itu adalah berpeluang untuk memunculkan suatu Bid’ah.
Imaam Al Barbahaary رحمه الله berkata, “Barangsiapa yang mengatakan tentang urusan Dien dengan pendapatnya, Qiyasnya, ta’wiilnya, tanpa membawa Hujjah dari Sunnah dan Al Jamaa’ah, maka sesungguhnya ia mengatakan sesuatu yang ia tidak ketahui. Siapa yang mengatakan sesuatu yang tidak diketahui, maka ia adalah orang yang mengada-ada. Sesungguhnya kebenaran hanyalah berdasarkan pada apa-apa yang dibawa oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
10. Berbicara tentang Allooh سبحانه وتعالى tetapi tidak berdasarkan pada Al Qur’an dan Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم
Mengatakan, menjelaskan, menjabarkan tentang Allooh سبحانه وتعالى yang Ghoib, dengan landasan yang bukan Wahyu, maka semuanya itu menyebabkan Bid’ah.
Imaam Al Barbahaary رحمه الله berkata, “Sesungguhnya perbincangan tentang Allooh سبحانه وتعالىadalah Bid’ah, kecuali dengan apa-apa yang Allooh سبحانه وتعالى telah sifatkan atas diri-Nya sendiri dalam Al Qur’an dan apa yang telah dijelaskan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم terhadap para Shohabatnya.”
Maka kita yakin bahwa Bid’ah itu banyak sekali penyebabnya. Tetapi bila dikembalikan pada jabaran-jabaran diatas adalah kembali pada apa yang diisyaratkan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم seperti disebutkan diatas, yaitu bermuara pada:
– Tahriif Al Ghoolin
– Intihaal Al Mubthiliin
– Ta’wiil Al Jaahiliin
Dan dari situ lalu bercabanglah menjadi berbagai hal sebagaimana yang telah dijelaskan.

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: