AD-DUKHAAN

ad-dukhan-gerhana-api

AD DUKHAAN GERHANA API YANG MENGGIRING MANUSIA
Oleh: Ustadz Achmad Rofi’i, Lc.

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allooh سبحانه وتعالى,
Pada pembahasan penghujung tentang Tanda-Tanda Hari Kiamat Besar, kali ini kita akan selesaikan sekaligus tiga bahasan, yaitu tentang Ad Dukhaan (asap), Tiga Gerhana dan Api yang menggiring manusia.
Ad Dukhaan dalam bahasa kita diartikan sebagai Asap, tetapi yang dimaksudkan adalah “Asap sebagai tanda hari Kiamat”. Bukan asap yang sekarang dikeluhkan oleh banyak kalangan akibat kebakaran hutan atau yang lainnya.
Perhatikanlah firman Allooh سبحانه وتعالى dalam Al Qur’an Suroh Ad Dukhaan (44) ayat 10 – 15, dimana Allooh سبحانه وتعالى menjelaskan kepada kita tentang Ad Dukhaan (Asap – yang merupakan tanda Kiamat Besar ini –).
Ayat 10 :
فَارْتَقِبْ يَوْمَ تَأْتِي السَّمَاء بِدُخَانٍ مُّبِينٍ
Artinya:
“Maka tunggulah hari ketika langit membawa kabut (Asap) yang nyata.”
Dalam ayat ini, Allooh سبحانه وتعالى menjelaskan bahwa Ad Dukhaan (Asap) tersebut datangnya dari langit. Sementara asap yang sekarang ada, adalah datangnya dari bumi. Mungkin akibat kebakaran hutan, atau kepulan gunung berapi dan sebagainya.
Tetapi Ad Dukhaan (Asap) yang menjadi tanda Hari Kiamat kelak adalah Asap yang Allooh سبحانه وتعالى kirim dari langit.
Ayat 11 :
يَغْشَى النَّاسَ هَذَا عَذَابٌ أَلِيمٌ
Artinya:
“yang meliputi manusia. Inilah adzab yang pedih.”
Ayat 12 :
رَبَّنَا اكْشِفْ عَنَّا الْعَذَابَ إِنَّا مُؤْمِنُونَ
Artinya:
“(Mereka berdo`a): “Ya Robb kami, lenyapkanlah dari kami azdab itu. Sesungguhnya kami akan beriman.”
Ayat 13 :
أَنَّى لَهُمُ الذِّكْرَى وَقَدْ جَاءهُمْ رَسُولٌ مُّبِينٌ
Artinya:
“Bagaimanakah mereka dapat menerima peringatan, padahal telah datang kepada mereka seorang rosuul yang memberi penjelasan.”
Maksudnya, bukankah sebelumnya Allooh سبحانه وتعالى sudah memberi peringatan, namun mereka menolak peringatan tersebut, dan setelah muncul Asap itu barulah mereka sadar. Padahal sebelumnya juga telah datang rosuul yang menjelaskan kepada manusia bahwa akan terjadi tanda-tanda Kiamat seperti demikian, sebagai peringatan keras agar manusia mengambil pelajaran. Tetapi manusia tetap enggan, bahkan mereka menolak peringatan tersebut.
Ayat 14 :
ثُمَّ تَوَلَّوْا عَنْهُ وَقَالُوا مُعَلَّمٌ مَّجْنُونٌ
Artinya:
“Kemudian mereka berpaling daripadanya dan berkata: “Dia adalah seorang yang menerima ajaran (dari orang lain) lagi pula seorang yang gila..”
Maksudnya, sungguh sangat disayangkan bahwa mereka mendapat peringatan Allooh سبحانه وتعالى melalui Rosuul-Nya صلى الله عليه وسلم yang menjelaskan tentang peringatan itu tetapi mereka berpaling, dengan mengatakan bahwa Rosuul صلى الله عليه وسلم atau Nabi itu gila.
Bayangkan, orang-orang kaafir menuduh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم yang memberikan sinar (cahaya) ke arah mana seharusnya manusia menuju dalam hidup ini agar menjadi berada diatas jalan yang lurus, akan tetapi mereka mengatakan bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم itu orang gila.
Ayat 15 :
إِنَّا كَاشِفُو الْعَذَابِ قَلِيلاً إِنَّكُمْ عَائِدُونَ
Artinya:
“Sesungguhnya (kalau) Kami akan melenyapkan siksaan itu agak sedikit, sesungguhnya kamu akan kembali (ingkar).”
Dari rangkaian ayat-ayat tersebut, kita lihat bahwa telah dijelaskan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم tentang Ad Dukhaan kepada kaum kaafir dan musyrikin.
Dan ayat-ayat tersebut merupakan dalil dari akan terjadinya Ad Dukhaan (Asap) di akhir zaman.
Sebagaimana telah dijelaskan dalam kajian lalu, tentang Hadits dari Shohabat Hudzaifah Ibnu Usaid Al Ghifaari رضي الله عنه, yang diriwayatkan oleh Imaam Muslim no: 7468 dalam shohiihnya, bahwa beliau berkata:
كَانَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- فِى غُرْفَةٍ وَنَحْنُ أَسْفَلَ مِنْهُ فَاطَّلَعَ إِلَيْنَا فَقَالَ « مَا تَذْكُرُونَ ». قُلْنَا السَّاعَةَ. قَالَ « إِنَّ السَّاعَةَ لاَ تَكُونُ حَتَّى تَكُونَ عَشْرُ آيَاتٍ خَسْفٌ بِالْمَشْرِقِ وَخَسْفٌ بِالْمَغْرِبِ وَخَسْفٌ فِى جَزِيرَةِ الْعَرَبِ وَالدُّخَانُ وَالدَّجَّالُ وَدَابَّةُ الأَرْضِ وَيَأْجُوجُ وَمَأْجُوجُ وَطُلُوعُ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا وَنَارٌ تَخْرُجُ مِنْ قُعْرَةِ عَدَنٍ تَرْحَلُ النَّاسَ ». قَالَ شُعْبَةُ وَحَدَّثَنِى عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ رُفَيْعٍ عَنْ أَبِى الطُّفَيْلِ عَنْ أَبِى سَرِيحَةَ. مِثْلَ ذَلِكَ لاَ يَذْكُرُ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- وَقَالَ أَحَدُهُمَا فِى الْعَاشِرَةِ نُزُولُ عِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ -صلى الله عليه وسلم-. وَقَالَ الآخَرُ وَرِيحٌ تُلْقِى النَّاسَ فِى الْبَحْرِ
Artinya:
“Suatu ketika Nabi صلى الله عليه وسلم keluar menemui kami, sedangkan kami dalam keadaan satu-sama-lain mengingat (– maksudnya: seorang Shohabat mengingatkan Shohabat yang lain mengenai ilmu yang telah diajarkan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم – pent.), lalu beliau صلىالله عليه وسلم bertanya kepada kami: “Apa yang kalian ingat (yang kalian perbincangkan untuk mengingat sesuatu)?”
Kami (para Shohabat) menjawab: “Kami sedang mengingat As Saa’ah (Hari Kiamat)”.
Beliau صلى الله عليه وسلم bersabda: “Hari Kiamat tidak akan terjadi, sehingga kalian melihat sebelumnya muncul sepuluh tanda-tandanya:
1. Terjadi tiga gerhana : (Gerhana) terjadi di belahan Timur,
2. (Gerhana) di belahan Barat dan
3. (Gerhana) di Jazirah Arab,
4. Ad Dukhaan (asap),
5. Dajjal,
6. Dabbah (hewan melata diatas muka bumi),
7. Ya’juj wa Ma’juj,
8. Terbit matahari dari barat,
9. Api keluar dari negeri Yaman, menggiring manusia ke tempat mereka dikumpulkan oleh Allooh سبحانه وتعالى
10. Turunnya ‘Isa putra Maryam عليه السلام
Maka kali ini, kita akan bahas tentang :
1. Ad Dukhaan (Asap),
2. Al Khusuf (Tiga Gerhana)
3. Api yang menggiring manusia ke tempat mereka dikumpulkan.
Kalau kita merasa bahwa tanda-tanda Kiamat itu belum kita alami, maka janganlah kita meminta panjang umur agar kita bisa mengalaminya. Karena semua tanda-tanda itu berisi dengan fitnah (ujian) yang belum tentu kita sanggup menghadapinya.
Mengapa bahasan tentang Tiga Tanda-Tanda Kiamat Besar itu kita jadikan dalam satu bahasan? Karena ketiganya sangat sederhana dan semuanya berdasarkan nash, sehingga mudah-mudahan kita bisa meyakininya.
Pertama, Para ‘Ulama Ahlus Sunnah berbeda pendapat tentang Ad Dukhaan (Asap). Bisa kita lihat dalam Tafsiir Ath Thobari, Tafsiir Al Baghoowy, Tafsiir Al Qurthuby dan Tafsiir Ibnu Katsiir, semuanya mereka mengatakan yang maknanya seperti yang terdapat dalam KitabAsyrootussaa’ah :
– Tidaklah menimpa Quraisy baik berupa kehidupan yang sulit maupun berupa kelaparan, kecuali itu terjadi ketika mereka diseru oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم kemudian mereka tidak memenuhi seruan tersebut, mereka tetap enggan dan tidak mau menerima, bahkan mereka mengangkat pandangan mereka ke langit dan tidak ada yang mereka lihat kecuali Ad Dukhaan(Asap).
Itulah yang dimaksud Ad Dukhaan atau asap yang pernah terjadi pada awal mula Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم berdakwah. Berarti, menurut pendapat tersebut, Ad Dukhaan pernah terjadi dahulu. Maknanya bahwa Ad Dukhaan merupakan tanda akhir zaman, tetapi sudah keluar lebih dahulu. Maka bila kita sudah menerima dan membahas selama ini bahwa yang dimaksud Kiamat itu ada dua yaitu Kiamat Kecil (Qiyamah Sughro) dan Kiamat Besar (QiyamahKubro), maka dengan demikian Ad Dukhaan termasuk ke dalam ayat-ayat tanda Kiamat Kecil (Qiyamah Sughro) karena sudah berlalu dan tidak akan terulang.
Pendapat tersebut dikatakan oleh ‘Abdullooh bin Mas’uud رضي الله عنه dan diikuti oleh Salaful Ummah, dan dikuatkan oleh Imaam Ath Thobari, karena mengambil satu dalil yang berasal dari apa yang diriwayatkan oleh Al Imaam Al Bukhoory رحمه الله no: 4824 dan dalilnya kuat, yaitu bahwa kata beliau dari Masyruq رضي الله عنه (salah seorang Taabi’iin):
“Berkata salah seorang Shohabat bernama ‘Abdullooh (– yang dimaksud adalah ‘Abdullooh bin Mas’uud رضي الله عنه –), bahwa sesungguhnya Allooh سبحانه وتعالى membangkitkan Muhammad صلى الله عليه وسلم lalu beliau صلى الله عليه وسلم mengatakan kepada umatnya (– yaitu Surat Ash Shood (38) ayat 86 – ):
قُلْ مَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُتَكَلِّفِينَ
“Katakanlah (hai Muhammad): “Aku tidak meminta upah sedikitpun kepadamu atas da`wahku; dan bukanlah aku termasuk orang-orang yang mengada-adakan..”
Kata beliau (–‘Abdullooh bin Mas’uud رضي الله عنه –) bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم ketika melihat orang-orang Quraisy tidak mau menerima dakwah beliau صلى الله عليه وسلم, bahkan mereka berma’siyat dan menentang, maka beliau lalu berdo’a :
اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَيْهِمْ بِسَبْعٍ كَسَبْعِ يُوسُفَ فَأَخَذَتْهُمُ السَّنَةُ حَتَّى حَصَّتْ كُلَّ شَيْءٍ حَتَّى أَكَلُوا الْعِظَامَ وَالْجُلُودَ – فَقَالَ أَحَدُهُمْ حَتَّى أَكَلُوا الْجُلُودَ وَالْمَيْتَةَ – وَجَعَلَ يَخْرُجُ مِنَ الأَرْضِ كَهَيْئَةِ الدُّخَانِ فَأَتَاهُ أَبُو سُفْيَانَ فَقَالَ أَيْ مُحَمَّدُ إِنَّ قَوْمَكَ قَدْ هَلَكُوا فَادْعُ اللَّهَ أَنْ يَكْشِفَ عَنْهُمْ فَدَعَا
Artinya:
“Ya Allooh tolonglah aku terhadap orang-orang Quraisy, jadikan mereka kekeringan selama tujuh tahun sebagaimana dialami ummat Nabi Yusuf, dan terjadi kemarau panjang sampai semua menjadi kering akhirnya memakan tulang dan kulit (– ada yang mengatakan : memakan kulit dan bangkai –), kemudian keluar dari bumi seperti halnya Ad Dukhaan (asap)”.
Kemudian Abu Sofyan mengatakan : “Hai Muhammad, sesungguhnya ummatmu telah binasa maka mintalah kepada Allooh سبحانه وتعالى agar Allooh سبحانه وتعالى menyingkap musibah ini.” Kemudian beliau membacakan Surat Ad Dukhaan seperti tercantum diatas.
Menurut pendapat pertama tersebut, berdasarkan dalil melalui riwayat Al Imaam Al Bukhoory رحمه الله maka asap (Ad Dukhaan) adalah perrnah terjadi pada zaman Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
Kedua, adalah Pendapat yang menyatakan bahwa yang dimaksudkan Ad Dukhaan adalah merupakan tanda-tanda yang ditunggu dan tanda-tanda tersebut belum datang atau belum terjadi sampai sekarang namun akan terjadi bila Hari Kiamat sudah semakin mendekat.
Pendapat ini adalah pendapat dari Shohabat ‘Ali Bin Abi Tholib, ‘Abdullooh bin ‘Abbas, Abu Saa’id Al Khudry رضي الله عنهم, dan yang lainya; bahkan juga didukung kebanyakan dari kalanganTaabi’iin dan berdalil kepada Hadits Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم yang diriwayatkan oleh Al Imaam Ibnu Jariir Ath Thobari dalam Kitabnya “Jaami’ul Bayaan Fi Tafsiir Al Qur’an” no: 31314 dan Imaam Ibnu Katsiir رحمهما الله dan kata Imaam Ibnu Katsiir bahwa sanad Hadits inishohiih sampai dengan ‘Abdullooh bin ‘Abbas dan berasal dari ‘Abdullooh bin Mulaa’ikah رضي الله عنهما, ia berkata :
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ قَالَ : غَدَوْتُ عَلَى ابْنِ عَبَّاسٍ ذَاتَ يَوْمٍ ، فَقَالَ : مَا نِمْتُ اللَّيْلَةَ حَتَّى أَصْبَحْتُ ، قُلْتُ : لِمَ ؟ قَالَ : قَالُوا : طَلَعَ الْكَوْكَبُ ذُو الذَّنَبِ ، فَخَشِيتُ أَنْ يَكُونَ الدُّخَانُ قَدْ طَرَقَ ، فَمَا نِمْتُ حَتَّى أَصْبَحْتُ
Artinya:
“Pagi-pagi saya datang kepada ‘Abdullooh bin ‘Abbas رضي الله عنه dan ia berkata :
“Saya tidak tidur semalam sampai pagi. Karena malam itu telah terbit bintang yang bintang itu berekor, saya khawatir (takut) jangan-jangan Ad Dukhaan telah mulai muncul. Sampai saya tidak bisa tidur hingga pagi harinya”
Dengan perkataan ‘Abdullooh bin ‘Abbas رضي الله عنه tersebut, para ‘Ulama Ahlus Sunnah termasuk yang dikatakan oleh Imaam Ibnu Katsiir mengatakan bahwa Ad Dukhan belum terjadi. Karena ternyata bintang yang dikira sudah terbit dan berasal dari langit itu semula disangka sebagai Ad Dukhaan. Dengan demikian Ad Dukhaan sekarang belum terjadi. Ditambah pula dengan apa yang dikatakan oleh ‘Abdullooh bin ‘Abbas رضي الله عنه tersebut diatas, bahwa itu belum terjadi dan akan terjadinya di akhir zaman, maka kemudian oleh para ‘Ulama Ahlus Sunnah digabungkan menjadi pendapat yang kedua ini.
Kesimpulannya:
Pendapat Pertama, bahwa Ad Dukhaan (Asap) itu terjadi pada masa Quraisy.
Pendapat Kedua, mengatakan bahwa Ad Dukhaan (Asap) itu belum terjadi, dan akan terjadi menjelang Hari Kiamat.
Pendapat pertama didukung oleh Al Imaam Al Bukhoory dan merupakan pendapat yang kuat. Tetapi Pendapat kedua juga dikatakan oleh Al Imaam Ibnu Katsiir dan sanadnya adalah shohiih.
Sehingga dua-duanya shohiih, kemudian para ‘Ulama Ahlus Sunnah menggabungkan dua pendapat tersebut, sehingga sebagaimana kata Penulis Kitab Asyrootussaa’ah, yakni Syaikh Yuusuf bin ‘Abdillaah bin Yuusuf Al Waabil, beliau mengatakan bahwa :
“Sesungguhnya Ad Dukhaan (Asap) itu terjadi dua kali. Pertama sudah pernah muncul dan sudah hilang, tetapi yang kedua tersisa asap yang lain yang akan terjadi pada akhir zaman. Adapun menyikapi tentang ayat pertama bahwa asap sudah terjadi, itu adalah yang disaksikan oleh orang Quraisy dimana mereka melihat bahwa asap itu sudah terjadi. SedangAd Dukhaan bukanlah asap yang sesungguhnya, melainkan ia merupakan tanda bagi Hari Kiamat”.
Pendapat Para ‘Ulama Ahlus Sunnah tentang Ad Dukhaan :
1. Diambil dari Kitab yang ditulis oleh Al Imaam Al Qurthubi رحمه الله yang berjudulTadzkiroh, beliau menukil perkataan Al Imaam Mujaahid bahwa ‘Abdullooh bin Mas’uud رضي الله عنه mengatakan : “Dua Asap itu merupakan dua asap yang berbeda. Sudah terjadi dan terlewati yang satu, sedangkan yang tersisa yaitu yang kedua bukan hanya terjadi di Quraisy, tetapi asap itu akan menyelimuti langit dan bumi, tidak akan menemui kecuali rentang yang amat sempit, sampai orang kaafir itu telinga-telinga mereka dipenuhi oleh asap”.
Maksudnya, bahwa seluruh muka bumi ini dipenuhi oleh Asap. Bila orang Mu’min (beriman) akan mempunyai jarak dengan asap itu, sedangkan orang kaafir maka Asap itu akan sampai masuk ke dalam telinga-telinga mereka.
2. Dalam pernyataan Al Imaam Ibnu Jariir At Thobari رحمه الله, bahwa Ad Dukhaan (Asap) itu akan terjadinya di akhir zaman. Allooh سبحانه وتعالى mengancam orang-orang kaafir agar mereka itu dilanda oleh Asap dan Asap itu membuat mereka tidak mempunyai ruang, sehingga mereka mati tersiksa oleh Asap tersebut. Dan akan terjadi juga Ad Dukhaan (Asap) sebagaimana yang disabdakan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Karena berita-berita dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم telah banyak sekali, bahwa Asap itu akan terjadi. Demikian pula Asap yang telah terjadi melalui riwayat ‘Abdullooh bin Mas’uud رضي الله عنه, jadi kedua khabar itu adalah shohiih.
3. Dalam Syarah Shohiih Muslim, Imaam An Nawaawy رحمه الله mengatakan : “Dimungkinkan sekali bahwa Ad Dukhann (Asap) yang dimaksud adalah dua asap (dua kali terjadi), untuk menggabungkan dua pendapat tersebut. Tidak mungkin dua atsar atau khabar digabung kecuali keduanya shohiih. Sebab bila yang satu dho’iif, sedangkan satunya lagi shohiih, maka pasti yangdho’iif akan terbuang. Tetapi ketika dikumpulkan, maka keduanya adalah shohiih.
Jadi semua pendapat diatas mengatakan kedua pendapat tersebut adalah shohiih. Semuanya adalah dua atsar yang shohiih.
Maka karena itu kita meyakini bahwa Ad Dukhaan itu dua kali terjadi. Hanya saja, Ad Dukhaan yang merupakan tanda Hari Kiamat kelak adalah Asap yang menyelimuti langit dan bumi dan akan menyiksa orang kaafir karena mereka tidak bisa bernafas dengan adanya Asap tersebut.
Tentang Tiga Gerhana :
Haditsnya sama seperti disampaikan diatas, yakni yang diriwayatkan oleh Imaam Muslim no: 7468, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda : “Akan terjadi tiga gerhana dimana gerhana yang pertama akan terjadi di belahan Timur, gerhana kedua akan terjadi di belahan Barat dan yang ketiga gerhana yang terjadi di negeri Arab (Timur Tengah).”
Hadits tersebut merupakan dalil yang tidak boleh diingkari, tiga-tiganya akan terjadi dan berdekatan rentang waktunya.
Yang lebih jelas adalah dalam riwayat Al Imaam Ath Thobroni رحمه الله dalam Kitab “Mu’jamul Kabiir” no: 19081 dan kata Al Imaam Al Haetsamy رحمه الله bahwa Hadits tersebut diriwayatkan oleh Hakim bin Naafi’, di-tsiqohkan oleh Imaam Ibnu Ma’iin رحمه الله, tetapi dilemahkan oleh yang lainnya.
Tetapi menurut para ‘Ulama Al Jarhu Wat Ta’diil, bila seorang perowi Hadits sudah dikatakan “Tsiiqoh” oleh Imaam Ibnu Ma’iin رحمه الله, berarti orang itu bisa dipercaya.
Karena dalam Ilmu Hadits dikenal bahwa Ibnu Ma’iin رحمه الله adalah terkenal sebagai seorang yang sangat ketat didalam mem-filter (menyaring) apakah seseorang itu boleh diambil riwayatnya ataukah tidak boleh diambil.
Sedemikian ketatnya sehingga rekomendasi dari Ibnu Ma’iin رحمه الله bisa mengangkat derajat Hadits tersebut menjadi derajat Hadits yang shohiih. Apalagi menurut Imaam Al Haetsamy رحمه الله mengatakan bahwa sisa atau para perowi Hadits lainnya adalah terpercaya.
Hadits tersebut berasal dari Ummu Salaamah رضي الله عنها yang mengatakan : “Aku mendengar Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda :
سَيَكُونُ بَعْدِي خَسْفٌ بِالْمَشْرِقِ، وَخَسْفٌ بِالْمَغْرِبِ، وَخَسْفٌ فِي جَزِيرَةِ الْعَرَبِ، فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، يُخْسَفُ بِالأَرْضِ وَفِيهِمِ الصَّالِحُونَ؟، فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:إِذَا كَانَ أَكْثَرُ أَهْلِهَا الْخَبَثَ
Artinya:
“Akan terjadi setelah aku tiga gerhana, yaitu Gerhana di Timur, Gerhana di Barat dan Gerhana di Jazirah Arab”.
Aku mengatakan: “Ya Rosuulullooh, apakah mungkin manusia dibinasakan (ditimbun, dikurung, terkubur) sedangkan ditengah-tengah mereka ada orang-orang shoolih?”.
Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda kepadaku: “Jika kebanyakan penghuni bumi ini berbuat kerusakan (kema’shiyatan).”
Jadi jika para warga (penghuni) bumi ini memperbanyak dosa dan kefaasikan maka akan menyebabkan mereka terjatuh (terkubur) oleh tanah.
Bahkan di tempat lain, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم menjawab ketika ditanya oleh Shohabat ‘Abdullooh bin ‘Abbas رضي الله عنه :
يا رَسولَ اللهِ أتهلك القرية وفيها الصالحون ؟ قال : نعم قيل : بم ؟ قال : بدهنتهم وسكوتهم عن معاصي الله
Artinya:
“Wahai Rosuulullooh, apakah suatu negeri akan dibinasakan, padahal didalamnya terdapat orang-orang shoolih?”
Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم menjawab, “Ya.”
‘Abdullooh bin ‘Abbas رضي الله عنه bertanya lagi, “Mengapa?”
Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم menjawab, “Karena ditengah mereka banyak penjilat dan diamnya mereka terhadap kema’shiyatan.” – (Hadits Riwayat Al Bazzaar no: 4743)
Inilah isyarat yang sangat mengerikan. Maksud dari Hadits tersebut adalah bahwa jika penghuni bumi ini semakin hari semakin memperbanyak kefaasikan, ma’shiyat dan dosa, maka akan Allooh سبحانه وتعالى timbun mereka.
Itu berita dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم yang mengerikan. Dengan demikian bisa digaris bawahi bahwa “Perbuatan faasiq, ma’shiyat serta perbuatan apa saja yang menyelisihi ajaran Allooh سبحانه وتعالى dan Rosuul-Nya صلى الله عليه وسلم adalah merupakan andil yang mempercepat turunnya ‘adzab Allooh سبحانه وتعالى.”
Maka bila kita ingin “terundurkan” atau dijauhkan dari ‘adzab Allooh سبحانه وتعالى, maka sudah semestinya kita gigih dan benar-benar peka terhadap kemungkaran yang ada di sekitar kita. Kita tidak boleh tinggal diam, karena itu adalah mempercepat turunnya ‘adzab Allooh سبحانه وتعالى.
Menurut Al Haafidz Ibnu Hajar Al Asqolaany رحمه الله dalam Kitab Fat-hul Baari :
“Telah diketemukan Al Khosfu (tanah longsor, dan manusia tertimbun oleh tanah) dalam berbagai riwayat. Tetapi yang dimaksudkan sebagai tiga Gerhana diatas, maka kadarnya lebih dahsyat dari apa yang sudah terjadi, mungkin bisa lubang tanah semakin besar atau kedahsyatannya lebih besar.”
Dalam penjelasannya Al Haafidz Ibnu Hajar Al Asqolaany رحمه الله mengatakan: “Akibatnya bumi menjadi amblas, memakan dan mengubur manusia yang ada diatasnya, itu juga merupakan tanda dekatnya hari Kiamat.”
Api Yang Menggiring (Menghimpun) Manusia :
Sebagaimana diriwayatkan oleh Al Imaam Al Bukhoory no: 6522 dan Imaam Muslim no: 2861, dari Abu Hurairoh رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda :
يُحْشَرُ النَّاسُ عَلَى ثَلاَثِ طَرَائِقَ رَاغِبِينَ رَاهِبِينَ وَاثْنَانِ عَلَى بَعِيرٍ وَثَلاَثَةٌ عَلَى بَعِيرٍ وَأَرْبَعَةٌ عَلَى بَعِيرٍ وَعَشَرَةٌ عَلَى بَعِيرٍ وَيَحْشُرُ بَقِيَّتَهُمُ النَّارُ تَقِيلُ مَعَهُمْ حَيْثُ قَالُوا وَتَبِيتُ مَعَهُمْ حَيْثُ بَاتُوا وَتُصْبِحُ مَعَهُمْ حَيْثُ أَصْبَحُوا وَتُمْسِي مَعَهُمْ حَيْثُ أَمْسَوْا
Artinya:
“Manusia itu akan digiring melalui tiga jalan. Mereka berharap dan mereka takut ketika digiring itu, lalu ada dua orang yang mengendarai unta, ada yang tiga orang, ada juga empat orang yang naik di atas unta, bahkan ada yang sepuluh orang; semuanya itu merupakan sisamanusia yang akan digiring oleh Allooh سبحانه وتعالى melalui api sehingga mereka menemui suatu tempat, sampai tidak ada lagi manusia yang tertinggal.Kalaupun ada manusia yang tertidur, si api akan menunggunya sampai ia bangun, kalau manusia bangun di pagi hari, maka api itu pun akan bersama mereka. Dan bila sore terjadi, maka si api akan menggiring mereka di sore hari itu juga”.
Semua itu berita dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bahwa api akan menggiring mereka, dimana pun mereka berada, semua akan digiring menuju ke tempat mereka dikumpulkan oleh Allooh سبحانه وتعالى.
Dimanakah mereka akan dikumpulkan ?
Dalam apa yang dijelaskan oleh Al Haafidz Ibnu Rojab Al Hambali رحمه الله dalam Kitab beliau bernama “Lathoo’iful Ma’aarif” bahwa: “Adapun manusia-manusia yang jahat, maka akan dikeluarkan api di akhir zaman, yang akan menggiring mereka ke negeri Syam (Syiria) dengan paksa. Sehingga api itu mengumpulkan manusia semuanya di negeri Syam, sebelum terjadinya Hari Kiamat.”
Penjelasan para ‘Ulama Ahlus Sunnah berkenaan dengan masalah tiga gejala tersebut adalah sangat pendek dibandingkan dengan penjelasan tentang masalah lainnya. Itulah yang kita dapati dari penjelasan mereka.
Berarti Ad Dukhaan, Tiga Gerhana dan Api yang Menggiring Manusia adalah menjadi penutup dari Sepuluh Tanda-Tanda Hari Kiamat Besar (Qiyamah Kubro) dan sebagai penutup kedahsyatan Hari Kiamat. Setelah yang sepuluh itu terjadi, maka yang akan terjadi berikutnya adalah Ahwaalul Qiyamah (Kejadian Kiamat yang sesungguhnya), yang insya Allooh akan kita bahas dalam kajian mendatang.
Bagaimana Menghadapi Tanda-Tanda Kiamat seperti tersebut diatas, adalahsebagai berikut :
1. Bahwa kita harus mengimani dan membenarkannya betapa pun akal kita tidak bisa mencernanya, karena semua dalilnya dari Al Qur’an dan Sunnah Rosuululloohصلى الله عليه وسلم yangshohiih.
Dan mengimani perkara yang Ghoib itu, maka tidak ada ikut-campur akal manusia didalamnya, karena yang dibutuhkan adalah iimaan. Kita sebagai Ahlus Sunnah wal Jamaa’ah harus mengakui kelemahan akal manusia dan menerima wahyu secara sepenuhnya, apakah akal kita bisa mencernanya ataukah tidak.
2. Yang paling penting adalah : Hendaknya kita mempersiapkan diri dalam menghadapinya. Apa yang sudah kita persiapkan apabila kita menghadapi Kiamat tersebut? Apakah itu Qiyamah Kubro ataukah Qiyamah Sughro (Kiamat Kecil atau kematian). Adapun Qiyamah Kubro, maka mudah-mudahan kita tidak menemuinya karena sangat lah dahsyat kejadiannya. Persiapan kitaminimal adalah : Shodaqotul Jaariyah, Ilmu yang bermanfaat dan anak yang shoolih yang mendo’akan kita.
3. Dari semua tanda Kiamat itu hendaknya kita meyakini seyakin-yakinnya bahwa Allooh سبحانه وتعالى itu Maha Besar, Maha Berkuasa, dan Maha Perkasa, sehingga tidak ada yang bisa melawan Allooh سبحانه وتعالى atas semua kehendak-Nya.
Bila Allooh سبحانه وتعالى menghendaki sesuatu maka pastilah akan terjadi. Semuanya itu adalah tanda kebesaran Allooh سبحانه وتعالى dan hendaknya kita meyakini dan tidak boleh ada yang ragu. Karena keraguan dalam perkara ‘Aqiidah adalah berbahaya, bisa mengakibatkan murtadnya seseorang dari Islam.

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: