BID’AH DAN SEJARAH KEMUNCULANNYA

jenis-macam-bidah

BIDAH
JENIS MACAM DAN SEJARAH KEMUNCULANNYA
Bismillah
Sebagai kelanjutan pembahasan kita terdahulu mengenai Bid’ah, maka pada kesempatan kali iniinsya Allooh akan kami sampaikan tiga hal tentang Bid’ah:
1. Jenis / macam Bid’ah
2. Sebab-sebab dan sejarah muncul dan maraknya Bid’ah
3. Bagaimana ‘Ulama menyikapi masalah Bid’ah.
Bid’ah yang di tengah masyarakat kita sekarang marak dan beragam itu, kalau kita kembalikan akan menjadi mudah untuk memisah dan memilahkannya. Ketika kita sudah tahu dan paham mana yang sesungguhnya disebut Bid’ah dan mana yang tidak disebut Bid’ah.
Bid’ah dikategorikan dua macam, yaitu:
1. Bid’ah dalam bidang Duniawi
2. Bid’ah dalam bidang Dien (Islam)
Bid’ah dalam bidang duniawi, sebagian orang mengatakannya Bid’ah; tetapi berdasarkan hadits, apa yang dikatakan itu bukanlah tergolong Bid’ah.
Bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم melewati suatu kaum yang sedang mengkawinkan kurma, lalu beliau صلى الله عليه وسلم berkata, “Kalau kalian tidak lakukan, mungkin lebih baik.” Kemudian mereka mengatakan, “Wahai Rosuul, Anda berkata begini dan begitu.” Kemudian Rosuul menjawab,
أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ
“Kalian lebih tahu tentang perkara dunia kalian.” (Hadits Riwayat Imaam Muslim no: 6277, dari Anas Bin Maalik رضي الله عنه)
Kalaupun disebut Bid’ah, maka sebenarnya hanya bersifat lughowiyyah (secara bahasa saja). Seperti sudah kita bahas sebelum ini, bahwa kata “Bid’ah”, asal katanya adalah:
ابتدع – يبتدع – ابتداعا
Artinya adalah:
اختراعا
yaitu: memunculkan sesuatu yang baru, yang sebelumnya tidak ada.
Misalnya: pengeras suara, speaker, mikrofon, whiteboard, spidol, overhead projector, dsbnya; itu semua adalah ibtida’ atau ikhtiro’.
Kemudian ada Handphone (HP), ada kendaraan yang demikian beragam, yang juga disebutibtidaa’ atau ikhtiroo’ yang dahulu belum ada. Kendaraan di zaman Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم paling canggih adalah unta, kuda, himaar, atau jalan kaki. Sekarang kendaraan bisa dengan mobil, motor, sepeda, kapal laut, kapal udara, dsbnya. Semua itu adalah ikhtiro’. Sebelumnya tidak ada.
Sedangkan bendanya disebut : مخترعة
Yang berarti : moderen.
Yang kesemuanya ini bukanlah bid’ah yang dimaksud didalam Hadits, yang oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم sudah diberikan penjelasan berupa ancaman terhadapnya.
Jadi, sekali lagi, bahwa Bid’ah dalam bidang Duniawi itu tidak disebut Bid’ah; walaupun istilah secara bahasanya juga adalah Bid’ah. Tetapi ini bukanlah termasuk Bid’ah yang diancam oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم didalam Haditsnya.
Kedua, sebagai Wasiilah (media). Kalau media itu misalnya termasuk Sunnah, maka media itupun hukumnya adalah Sunnah. Kalau perbuatan itu Wajib, maka hukumnya adalah Wajib.
Misalnya: kain, dasarnya adalah untuk menutup aurot. Hukum menutup aurot adalah Wajib. Maka melakukan sesuatu untuk terpenuhinya yang Wajib itu, hukumnya adalah Wajib.
Dalam kaidah, para ‘Ulama mengatakan bahwa sesuatu yang tidak bisa tertunaikan, kecuali dengan Wajib, maka sesuatu itu hukumnya juga adalah Wajib.
Kalau sesuatu yang Sunnah tidak bisa terjadi kecuali dengan Sunnah, maka sesuatu itu hukumnya adalah Sunnah.
Menutup aurot itu Wajib, maka berpikir bagaimana supaya menutup aurot itu terjadi, maka hukumnya adalah Wajib, karena hal itu sesuai dengan kaidah:
ما لم يتم الواجب إلا به ؛ فهو واجب
Artinya:
“Suatu perkara, jika perkara yang wajib tidak bisa tertunaikan kecuali dengannya, maka perkara itu berarti wajib.”
Maka dari itu, misalnya: tentang sarung, gamis, dsbnya adalah termasuk kategori menutup aurot, yang Wajib.
Mengenai detailnya, dijelaskan lagi oleh Syar’i bahwa kalau perkara itu dilanggar, maka tergolongnya bukan kepada Bid’ah, tetapi tergolong kepada perkara Ma’shiyat.
Setiap Bid’ah pasti Ma’siat. Tetapi tidak setiap Ma’shiyat itu Bid’ah.
Contoh: Jika seseorang melakukan dzikir dengan suara keras setelah sholat fardhu, maka itu adalah Bid’ah. Karena hal ini menyalahi Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
Perhatikan QS. Al A’roof ayat 55, Allooh سبحانه وتعالى berfirman:
ادْعُواْ رَبَّكُمْ تَضَرُّعاً وَخُفْيَةً إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ
“Berdo’alah kepada Robb-mu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allooh tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”
Nabi Zakariya عليه السلام, beliau berdo’a dengan suara yang lembut, sebagaimana diberitakan dalamQS. Maryam ayat 3:
إِذْ نَادَى رَبَّهُ نِدَاء خَفِيّاً
“Yaitu ketika ia berdo’a kepada Robb-nya dengan suara yang lembut.”
Juga firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. Al A’roof ayat 205:
وَاذْكُر رَّبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعاً وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالآصَالِ وَلاَ تَكُن مِّنَ الْغَافِلِينَ
“Dan sebutlah (Nama) Robb-mu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.”
Dan dalam hadits tentang tujuh golongan yang akan dilindungi Allooh سبحانه وتعالى pada hari Kiamat, diantaranya Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم menyebutkan:
… وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ
Artinya:
“…seorang yang berdzikir kepada Allooh dalam keadaan sepi / sendiri, lalu mengalirlah air matanya…” (Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 660 dan Imaam Muslim no: 2427 dari Abu Hurairoh رضي الله عنه)
Juga dalam sebuah hadits dari Abu Musa al Asy’ari رضي الله عنه, ia berkata bahwa, “Orang-orang mengangkat suaranya bertakbir dan berdo’a, kemudian Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda,
… يَا أَيُّهَا النَّاسُ ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ فَإِنَّكُمْ لَا تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلَا غَائِبًا إِنَّمَا تَدْعُونَ سَمِيعًا بَصِيرًا
“Hai sekalian manusia, kasihanilah diri kalian, sesungguhnya kalian tidak berdo’a kepada Robb yang tuli dan tidak juga jauh. Sesungguhnya yang kalian berdo’a kepada-Nya adalah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat, dan Dia bersama kalian.” (Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory no : 6610 dari Abu Muusa رضي الله عنه)
Jadi dzikir dengan suara keras ba’da sholat fardhu dipandu oleh Imaam sholat, sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian orang di masyarakat kita itu, justru adalah Bid’ah, karena menyalahi dalil-dalil yang telah disebutkan diatas.
Berdasarkan sabda Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم:
… و كل بدعة ضلالة و كل ضلالة في النار
“Semua Bid’ah itu adalah sesat dan setiap kesesatan itu tempatnya di Neraka” (Hadits Riwayat Imaam Ibnu Huzaimah no : 1725 , dari Jaabir رضي الله عنه))
Juga sabda Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم:
… وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
“Jauhkanlah diri kalian dari setiap perkara-perkara yang baru, karena setiap hal yang baru dalam dien adalah Bid’ah, dan setiap Bid’ah adalah sesat.” (Hadits Riwayat Imaam Abu Daawud no: 4609, dari Al ‘Irbad bin Saariyah رضي الله عنه)
Atau sabda Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم:
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa mengadakan sesuatu yang baru dalam urusan dien kami yang bukan berasal darinya, maka (perbuatan itu) tertolak.” (Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 2697 dan Imaam Muslim no: 4589, dari ‘Aa’isyah رضي الله عنها)
Berarti orang yang melakukan Bid’ah itu telah melakukan Ma’shiyat, karena ia telah melanggar apa yang telah diperingatkan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Dan yang demikian itu adalah Ma’shiyat.
Tetapi tidak setiap Ma’shiyat itu adalah Bid’ah. Misalnya seseorang meminum khomer (minuman keras), maka itu bukanlah Bid’ah tetapi fusuuq.
Contoh didalam perkara yang Sunnah: misalnya seseorang tahu bahwa membersihkan kuku adalah Sunnah Fithroh. Termasuk mencukur kumis, memakai minyak wangi, itu adalah Sunnah Fithroh. Maka orang-orang yang melakukan sunnah itu sehingga terlaksana, hukumnya adalah Sunnah. Jadi orang yang membuat alat potong kuku, alat mencukur, membuat minyak wangi dll adalah sunnah, akan mendapatkan pahala kalau niatnya dalam berbuat tersebut adalah karena Allooh سبحانه وتعالى semata.
Demikian pula dengan dengan orang yang merancang botol minyak wangi. Karena memakai minyak wangi adalah Sunnah, maka orang yang merancang atau membuat minyak wangi itu agar mudah dibawa dan disebarkan ke masyarakat pun adalah berarti melaksanakan Sunnah. Seperti itulah kaidahnya.
Melakukan hal-hal seperti itu termasuk dalam kategori Wasiilah atau Media. Maka tergantung pada apa yang menjadi hukum asalnya. Para ‘Ulama mengatakan: Wasiilah itu hukum (status)-nya sama dengan hukum sesuatu yang menjadi sasarannya.
Jadi, Bid’ah dalam bidang Duniawi tidaklah tercela. Boleh-boleh saja, selama tidak berbenturan dengan Syari’at Islam. Kalau berbenturan dengan Syari’at, maka menjadi perkara Ma’shiyat. Hukum asal dalam urusan Duniawi adalah boleh (mubah). Maka merancang apa saja yang sifatnya duniawi, hukum asalnya boleh (mubah).
Sebaliknya, kalau hukum asal urusan Dien, haruslah berlandaskan dalil (berasal dari Wahyu). Jadi, hukum asal dalam perkara Dien adalah Harom. Kalau mengerjakan perkara Dien dengan tidak berlandaskan kepada dalil, maka menjadi perkara Bid’ah yang diancam berdasarkan Hadits Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
Demikianlah bedanya, untuk urusan Duniawi, hukum asalnya adalah mubah (boleh), silakan bebas melakukannya selama tidak berbenturan dengan urusan Syar’i. Karena jika berbenturan dengan Syar’i maka bisa jatuh kedalam perkara yang harom, faasiq, dosa besar dll. Sedangkan untuk urusan Dien, maka hukum asalnya adalah harom, untuk mengerjakannya haruslah berlandaskan kepada dalil (wahyu).
Semua itu sudah dipelajari di majlis-majlis ta’liim. Orang yang mengaji Kitab Kuning pun paham, bahwa urusan ibadah itu hukumnya harom, kecuali datang suatu dalil. Kalau ada dalilnya, maka boleh dikerjakan. Sedangkan untuk urusan duniawi, tanpa dalil pun boleh. Hal ini kami ulang-ulang agar benar-benar masuk kedalam hati kita semua.
Misalnya: urusan Sholawat. Sholawat itu ibadah atau bukan? Ibadah. Berarti harus berdasarkan dalil. Seluk-beluk mengenai Sholawat itu, tidaklah boleh mengarang sendiri, karena ini perkara ibadah. Sementara ibadah itu hukum asalnya adalah harom, kecuali ada dalilnya. Sedangkan urusan duniawi adalah bebas, misalkan seseorang mau memakai peci berwarna putih, hitam, coklat atau warna lainnya adalah bebas; karena itu urusan duniawi.
Bid’ah dalam urusan Dien
Bid’ah dalam urusan Dien juga ada dua:
1. Bid’ah dalam bidang keyakinan
بدعة اعتقادية
2. Bid’ah dalam bidang Furu’
بدعة عملية
Menurut istilah Imaam Asy Syaatiby dalam Kitab Al I’tishoom, disebutkan bahwa adaBid’ah Al Haqiiqiyyah dan Bid’ah Al ‘Idhoofiyyah.
Bid’ah Haqiiqiyyah adalah Bid’ah sejati, tulen, asli, benar-benar Bid’ah.
Sedangkan Bid’ah Al ‘Idhoofiyyah adalah Bid’ah tambahan; yaitu Bid’ah yang ada landasannya tetapi detailnya Bid’ah.
Itu hanya istilahnya saja.
Ada lagi ‘Ulama yang membagi Bid’ah itu dalam bidang keyakinan (‘Aqodiyyah) dan dalam bidang ‘Amaliyyah. Karena Dien adalah ada perkara ‘Aqodiyyah dan perkara ‘Amaliyyah, maka Bid’ah juga ada dalam ‘Aqodiyyah dan ‘Amaliyyah.
Bid’ah Haqiiqiyyah
Contoh Bid’ah Haqiiqiyyah, misalnya:
Mereka mengatakan bahwa Allooh سبحانه وتعالى tidak mempunyai nama dan tidak mempunyai sifat. Jelas ini tergolong kedalam perkara Bid’ah ‘Aqodiyyah. Mereka adalah orang-orang Jahmiyah.
Perhatikanlah betapa mereka menyalahi firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. Al A’roof ayat 180:
وَلِلّهِ الأَسْمَاء الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُواْ الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَآئِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ
Artinya:
“Hanya milik Allooh Asmaaul Husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asmaaul Husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.”
Ada lagi orang-orang Mu’tazilah, yang mana mereka mengatakan bahwa Al Qur’an adalah makhluk ciptaan Allooh سبحانه وتعالى. Maka, mereka tergolong Bid’ah ‘Aqodiyyah.
Padahal Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam QS. Al Jaasiyah (45) ayat 6, bahwa Al Qur’anadalah kalam Allooh:
تِلْكَ آيَاتُ اللَّهِ نَتْلُوهَا عَلَيْكَ بِالْحَقِّ فَبِأَيِّ حَدِيثٍ بَعْدَ اللَّهِ وَآيَاتِهِ يُؤْمِنُونَ
Artinya:
“Itulah ayat-ayat Allooh yang Kami membacakannya kepadamu dengan sebenarnya; maka dengan perkataan manakah lagi mereka akan beriman sesudah kalam Allooh dan keterangan-keterangan-Nya.”
Ada lagi, misalnya yang mengatakan bahwa Akal menjadi dasar hukum dalam Dien (Islam), maka ini pun tergolong Bid’ah ‘Aqodiyyah. Sehingga mereka meyakini bahwa Al ‘Aqlu (akal) lebih diprioritaskan daripada Naql (Wahyu); dengan demikian mereka mengatakan bahwa Wahyu itu haruslah dipikirkan terlebih dahulu, kalau masuk akal maka diterima, kalau tidak masuk akal maka tidak diterima. Demikianlah kata mereka yang sudah tertular virus Mu’tazilah. Dan itubukan lagi Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.
Karena Ahlus Sunnah Wal Jama’ah berpendapat bahwa Akal yang sehat itu adalah sesuai dengan Naql (dalil) yang shohiih. Ketika mendapatkan suatu permasalahan, Ahlus Sunnah Wal Jama’ah mendahulukan Naql (Wahyu), karena Naql (Wahyu) itu tidak membawa sesuatu yang mustahil bagi akal untuk menerimanya. Akan tetapi Naql (Wahyu) itu membawa sesuatu yang tidak diketahui kebenarannya oleh Akal. Sehingga Akal haruslah membenarkan Naql (Wahyu) dari segala yang dikhobarkannya dan bukan sebaliknya. Jadi Akal tidak boleh mendahului Syari’at. Oleh karena itulah mereka dinamakan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah karena teguhnya mereka dan berserah diri (tasliim)-nya mereka secara penuh terhadap petunjuk Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
Ada lagi kelompok lain yang mana mereka mengatakan bahwa problem apa pun yang ada di dunia ini, maka manusia pasti bisa mengatasinya. Kalau mau, bisa terjadi dan kalau tidak mau, tidak bisa terjadi. Orang yang seperti ini beraqidah Qodariyyah, bukan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Dan ini pun tergolong Bid’ah ‘Aqodiyyah.
Dan yang seperti itu banyak. Contohnya, orang yang mengatakan “Cukup dua anak saja, masa depan akan bahagia.” Itu adalah bagian dari simbol paham Qodariyyah. Karena mereka mengatakan bahwa masa depan pasti bahagia kalau anaknya cukup dua orang saja. Kalau lebih dari dua, pasti terjadi malapetaka. Karena repotlah, inilah, itulah dan berbagai macam alasan lainnya. Paham demikian termasuk Qodariyyah, bukan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.
Sebaliknya, ada orang yang mengatakan bahwa tidak perlu berikhtiar terlalu keras dalam urusan dunia ini, sebab segalanya toh sudah ditentukan oleh takdir Allooh سبحانه وتعالى. Itu juga termasuk Bid’ah ‘Aqodiyyah, dan mereka termasuk kepada paham Jabariyyah, bukan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.
Dan masih banyak lagi contoh-contoh Bid’ah ‘Aqodiyyah. Semuanya itu termasuk dalam kategori sesat, dan tidak boleh menjangkit pada diri kita semua.
Bid’ah ‘Amaliyyah
Bid’ah ‘Amaliyyah beragam dalam berbagai hal, dan ragamnya sangat banyak. Sementara ‘Aqodiyyah (‘Aqidah) itu harus satu, yaitu ‘Aqidah yang dipahami oleh Ahlus Sunnah Wal Jama’ah sebagaimana yang dicontohkan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, para shohabat, paratabi’in, tabi’ut tabi’in, dan ‘Ulama yang mu’tabar. Maka untuk perkara ‘Aqidah, haruslah satu. Siapa pun bangsanya, warna apapun kulitnya, di belahan bumi mana pun dia berada, ‘aqidah-nya haruslah satu apabila mengaku sebagai Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Haruslah konsisten dengan ‘Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Kalau tidak konsisten, berarti bisa menjadi Ahlul Bid’ah.
Bid’ah ‘Amaliyyah itu banyak sekali. Misalnya dalam hal sholat, contohnya adalah Sholat Nisfu Sya’ban. Ada Bid’ah ‘Amaliyyah yang berkaitan dengan Syi’ar, misalnya peringatanMauludan (Peringatan kelahiran Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم), Rajaban (Peringatan Isra’ Mi’raj).
Yang lainnya, misal dalam masalah Sholawat. Sholawat atas Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم adalah ‘Amaliyyah, karena itu berupa ibadah lisan. Tetapi, bisa berpeluang menjadi Bid’ah yang tersebar di masyarakat, contoh: Sholawat Nariyah, Sholawat Badriyah, dll.
Yang lainnya lagi, misal dalam bidang da’wah. Karena da’wah adalah ibadah maka bisa pula berpeluang terhadap munculnya Bid’ah ‘Amaliyyah dalam urusan da’wah, bila tidak sesuai dengan tuntunan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
Kembali kepada pembahasan mengenai Bid’ah Haqiiqiyyah, yakni Bid’ah yang sama sekali tidak ada dalilnya. Tidak dari Al Qur’an, tidak dari Sunnah, dan tidak dari Ijma’. Bid’ah itu muncul atas kreatif sendiri. Orang bisa mengatakan bahwa itu pasti tergolong Bid’ah, karena tidak ada dasarnya baik dalam Al Qur’an maupun Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
Sedangkan Bid’ah Al ‘Idhoofiyyah adalah Bid’ah tambahan. Yang lalu, orang mengatakan bahwa bid’ah itu tidak mengapa karena itu adalah hasanah (baik). Mereka menganggap bahwa itu ada dasarnya, padahal sebenarnya tidak ada dalil untuknya.
Untuk urusan Sholawatan saja, sampai pernah hampir terjadi tawuran antar warga. Mereka menyangka bahwa orang-orang yang berpegang teguh pada Sunnah itu adalah orang yang benci Sholawatan, karena Sholawat Nariyah tidak boleh, Sholawat Badriyah juga tidak boleh, dstnya. Mereka salah sangka. Justru Ahlus Sunnah Wal Jama’ah adalah orang yang cinta pada Sholawat, tetapi Sholawat dengan cara yang benar sesuai tuntunan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Barulah setelah dibawakan kepada mereka kitab-kitab rujukan para ‘Ulama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Dijelaskan kepada mereka, bahwa Ahlus Sunnah Wal Jama’ah menganggap bahwa Sholawat itu adalah Ibadah, sehingga haruslah sesuai dengan dalil ataupun tuntunan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Bahkan ditunjukkan pula kepada mereka, cara Sholawat yang benar dan cara Sholawat yang tidak benar. Barulah mereka reda amarahnya, sesudah paham bahwa yang menjadi masalah adalah detail / cara-caranya dalam melaksanakan Sholawat tersebut, yang hendaknya pula sesuai tuntunan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
Didalam tidak kurang dari 40 riwayat cara Sholawat atas Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, tidak ada dalil tentang Sholawat Badriyah, Sholawat Nariyah, Sholawat ini dan itu yang sekarang banyak dijual di pasaran.
Atau, misalnya tidak ada yang mengharuskan bahwa pada malam 1 Muharrom, atau pada malam 10 Suro melakukan itu dan itu. Ketika dikatakan bahwa itu baik, itu hasanah, dsbnya, seolah-olah landasannya ada; padahal yang ada sebenarnya adalah syubhat pada kebanyakan orang. Itulah yang disebut sebagai Bid’ah Al ‘Idhoofiyyah (Bid’ah Tambahan).
Yang tersebar di masyarakat, kata mereka ada Bid’ah yang termasuk Hasanah dan ada Bid’ah yang termasuk Sayyi’ah. Padahal sesungguhnya istilah tersebut bertentangan dengan Hadits Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Karena, kalau orang mengerti bahasa Arab, maka sabda Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم sebagai berikut:
وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
“Setiap Bid’ah adalah sesat”.
كُلَّ بِدْعَةٍ
Adalah mubtada’ dan
ضَلاَلَةٌ
Adalah Khobar. Khobar itu terkait dengan Mubtada’, namanya “Musnad”. Maka tidak adaDholaalah, kalau tidak ada Bid’ah.
Karena ada Bid’ah, maka ada hukum, yaitu yang disebut dengan Dholaalah (sesat).
Kalau masih saja ngotot, maka ada kata “Kullu” yang artinya setiap, seluruh. Dengan demikian, maka Setiap Bid’ah adalah Dholaalah (sesat). Atau, Seluruh Bid’ah adalah Dholaalah(sesat).
Imaam Jalaaluddin As Suyuuthi dalam kitab beliau yang berjudul Al Amru bill Ittibaa’ wan Nahyu ‘Anil Iibtidaa’, yang memuat penjelasan Imaam Asy Syaafi’iy رحمه الله yang mengatakan bahwa yang disebut Bid’ah itu ada yang Bid’ah Mustahsanah dan Bid’ah Mustahabbah.
Diterangkan oleh Imaam As Suyuuthi رحمه الله dalam kitab tersebut sebagai berikut: “Tetapi ingat, penjelasan Imaam Syaafi’iy seperti itu bahwa Bid’ah itu ada yang terpuji (hasanah) dan tercela, adalah berhujjah dari pendapat shohabat ‘Umar bin Khoththoob رضي الله عنه yang berkenaan dengan sholat Taroowih.”
Yaitu, ketika ‘Umar bin Khoththoob رضي الله عنه melihat orang mengerjakan sholat Taroowih secara sendiri-sendiri, dan ada yang berkelompok-kelompok, maka beliauرضي الله عنه lalu mengkomando agar semua jama’ah yang hadir ketika itu dalam satu Imaam sholat. Lalu ditunjuklah oleh ‘Umar bin Khoththoob رضي الله عنه seorang untuk menjadi Imaam sholat yaitu ‘Ubay bin Ka’ab رضي الله عنه.
Maka menjadi tertiblah sholat Taroowih sejak itu.
Padahal, bila direnungkan, sesungguhnya hal tersebut bukanlah Bid’ah dalam urusan Dien. Karena itu sesuai dengan Sunnah.
Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم merintis sholat Taroowih dengan berjama’ah. Namun, ketika Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم melakukan sholat Taroowih dengan berjama’ah dan muncul kekhawatiran beliau صلى الله عليه وسلم bahwa jangan sampai sholat Taroowih itu dianggap wajib oleh umatnya, maka kemudian beliau صلى الله عليه وسلم tidak sholat berjama’ah di masjid lagi sesudahnya.
Dalam Hadits diterangkan bahwa ketika itu Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم ditunggu-tunggu oleh para shohabat untuk melakukan sholat Taroowih, tetapi beliau صلى الله عليه وسلم tidak keluar dari rumah beliau. Ketika pagi harinya setelah sholat Shubuh, beliau صلى الله عليه وسلم menjelaskan:
قَدْ رَأَيْتُ الَّذِي صَنَعْتُمْ وَلَمْ يَمْنَعْنِي مِنْ الْخُرُوجِ إِلَيْكُمْ إِلَّا أَنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ
“Aku telah memperhatikan apa yang kalian perbuat dan tidak ada yang menghalangi aku untuk keluar menemui kalian, hanya saja aku khawatir, jangan-jangan sholat Taroowih itu akan menjadi wajib atas kalian.” (Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 1129 dan Imaam Muslim no: 1819 dari ‘Aa’isyah رضي الله عنها)
Pada zaman Khaliifah Abu Bakar As Siddiq رضي الله عنه, bahkan Sholat Taroowih berjama’ah itu tidak dilakukan. Ketika zaman Khaliifah ‘Umar bin Khoththoobرضي الله عنه, Sholat Taroowih berjama’ah itu dihidupkan kembali. Tetapi sesungguhnya itu bukanlah Bid’ah, tetapi tajdiid(pembaharuan), karena itu sebenarnya adalah sesuatu Sunnah yang pernah dilakukan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, tetapi terhenti, lalu dihidupkan kembali oleh ‘Umar bin Khoththoob رضي الله عنه. Itulah yang dimaksud dengan Bid’ah Hasanah dalam Kitabnya Imaam Jalaaluddin As Suyuuthi.
Maka kata ‘Umar bin Khoththoob رضي الله عنه:
نعمت البدعة هذه
“Betapa bagusnya bid’ah ini.” (Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 2010)
Jadi perkataan ‘Umar bin Khoththoob رضي الله عنه itu bisa diartikan sebagai Bid’ah dalampengertian Bahasa. Dengan kata lain, bisa diartikan bukan Bid’ah, karena sesungguhnya itu adalah Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
Oleh karenanya, maka pengertian Bid’ah ada dua macam seperti tersebut diatas.
Secara detail, misalnya seperti yang dikatakan oleh Imaam Asy Syaafi’iy رحمه الله (sebagaimana yang dikutip dalam Kitab Imaam Jalaaluddin As Suyuuthy رحمه الله): “Bid’ah itu ada dua, Bid’ah yang terpuji dan Bid’ah yang tercela. Jika suatu perkara sesuai dengan As Sunnah maka terpuji dan jika menyelisihi maka ia tercela.”
Dengan demikian:
1. Jika sesuatu yang diada-ada itu menyelisihi, maka itu adalah Bid’ah. Yaitumenyelisihi Kitab (Al Qur’an), Sunnah, atau Atsar (apa yang dilakukan oleh para shohabat), atau Ijma’ (apa yang sudah menjadi kesepakatan para shohabat), maka itulah yangdisebut Bid’ah Dholaalah (Bid’ah yang Sesat).
2. Tetapi jika sesuatu disebut dengan baik itu, mulanya berasal dari Rosuululloohصلى الله عليه وسلم dalam urusan ini, maka yang demikian itu adalah sesuatu yang baru yang tidak tercela. ‘Umar bin Khoththoob رضي الله عنه mengatakan tentang Qiyaamul Romadhoon sebagai, “Ni’matul bid’ah haadzihi.” Jadi, contoh yang disebut Bid’ah yang Mahmuudah adalah misalnya Sholaatut Taroowih. Substansinya, kalau ada dasarnya dari Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, maka itu tidak termasuk Madzmuum.
Ada lagi dalil misalnya bahwa ada Hadits Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم berkenaan dengan ‘Abdullooh bin Zaiid رضي الله عنه, ketika Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم didatangi oleh kaum muslimiin dari Kuffah, mereka terlihat dari penampilannya adalah termasuk orang miskin, perlu bantuan. Maka Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم langsung masuk ke rumah beliau صلى الله عليه وسلم dan keluar lagi membawa makanan yang beliau صلى الله عليه وسلم miliki untuk diberikan kepada muslim dari Kuffah tersebut.
Ketika selesai sholat, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم berkhutbah kepada para shohabat, memerintahkan untuk selalu bertaqwa kepada Allooh سبحانه وتعالى, serta bershodaqoh. Kemudian ada salah seorang shohabat bernama ‘Abdullooh bin Zaiid رضي الله عنه yang menggelar sorbannya untuk mengumpulkan uang dari para shohabat, sehingga uang dan apa saja yang terkumpul itu bisa diberikan kepada muslimin dari Kuffah tersebut.
Dengan kejadian itu, maka Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda seperti dalam Hadits Shohiih riwayat Imaam Muslim:
« مَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَىْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ »
“Siapa saja yang mencontohkan sesuatu yang baik dalam Islam kemudian diikuti oleh orang lain setelahnya, maka ia berhak mendapatkan pahala sebanyak orang yang mencontohnya, tanpa dikurangi pahala itu sedikit pun. Siapa saja yang melakukan contoh yang buruk dalam Islam kemudian diikuti oleh orang lain setelahnya, maka ia berhak atasnya mendapatkan dosa sebanyak dosa orang yang mencontohnya setelah dia, tanpa dikurangi dosa itu sedikit pun.” (Hadits Riwayat Imaam Muslim no: 6975 dari Jariir bin ‘Abdillah رضي الله عنه)
Kalimat : مَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً itu kalau disebut sebagai bid’ah hasanah adalah salah. Karena perintahnya jelas, yaitu urusan shodaqoh. Jadi tidak bisa disebut sebagai bid’ahhasanah, karena sudah jelas shodaqoh itu diperintahkan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, jadi itu bukan bid’ah tetapi tergolong Sunnah.
Maka pada kesempatan lain insya Allooh nanti perlu dijelaskan dan akan kita bahas mengapa ada yang memahaminya secara salah, tentang adanya istilah Bid’ah Hasanah dan Bid’ahSayyi’ah.
Tetapi yang perlu dijelaskan sekarang, yang paling prinsip adalah menanamkan pemahaman kepada kita semua bahwa sesungguhnya Bid’ah yang disebut Madzmum dan Dholaalahadalah Bid’ah Aqodiyah dan Bid’ah Amaliyah.
Kesimpulannya adalah:
Urusan Dien, apapun dia, harus kembali kepada dalil. Kalau ada dalilnya yang shohiih maka harus dikerjakan, kalau tidak ada dalilnya yang shohiih maka tidak boleh dikerjakan.
Bagaimana mengidentifikasi bahwa sesuatu itu Bid’ah atau bukan.
Ada dua versi yaitu menurut Kitab yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shoolih Al Utsaimiin رحمه الله dan Syaikh Nashiruddin Al Albaany رحمه الله. Kata beliau Syaikh Muhammad bin Shoolih Al Utsaimiin رحمه الله, “Mudah sekali untuk mengidentifikasi apakah sesuatu itu bid’ah ataukah tidak. Kalau suatu amalan itu terdapat didalamnya satu diantara enam perkara berikut ini, maka ia sudah termasuk bid’ah”:
1. Sebab
Jika Sebab (dari amalan tersebut) tidak disyari’atkan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, maka ia termasuk Bid’ah.
Kata beliau : “Jika seorang manusia melakukan ibadah kepada Allooh سبحانه وتعالى dibarengidengan sebab yang tidak syar’i, maka ibadahnya adalah ibadah yang tertolak.”
Misalnya: “Sebagian orang menghidupkan malam tanggal 27 Rojab, karena pada malam ituRosuulullooh صلى الله عليه وسلم melakukan Isro’ Mi’roj. Kalau ia tahajud, maka tahajud itu adalah suatu ibadah. Tetapi bila tahajudnya itu dikaitkan dengan peristiwa Isro’ Mi’rojRosuulullooh صلى الله عليه وسلم pada malam tersebut, maka tahajudnya itu menjadi Bid’ah.Karena tahajud itu dikaitkan dengan suatu sebab yang sebenarnya tidak ada dasarnya dalam Syari’at Islam.”
Misalnya ada kata-kata “Dalam rangka…”, maka kalimat “Dalam rangka..” itu berarti Sebab. Yang demikian itu bisa dikategorikan Bid’ah kalau landasannya tidak didasarkan kepada Syar’i. Walaupun pekerjaannya adalah Sunnah (tahajud itu ada dalam Sunnah), tetapi menjadi Bid’ah karena yang menjadi Sebab dilaksanakannya pekerjaan tahajud tersebut itu tidak ada dalam Syari’at Islam.
2. Al Jinsu (Jenis)
Haruslah jenisnya ibadah itu sesuai dengan Syar’i.
Kata beliau: “Kalau seorang manusia beribadah kepada Allooh سبحانه وتعالى tetapi jenisnya tidak sesuai untuk diibadahkan, maka ibadahnya tidak akan diterima.”
Contoh: Seseorang berqurban, tetapi hewan qurbannya bukan kambing, sapi atau unta, melainkan dengan hewan kuda. Maka tidak dibenarkan qurbannya, karena menyelisihi syari’at dalam jenis. Kalau di Indonesia misalnya, berqurban dengan hewan ayam potong, maka tidak diterima qurbannya.
Karena seperti disebutkan dalam Hadits, hewan qurban adalah domba (kambing), unta, sapi (kerbau).
3. Al Qodar (Ketentuan)
Kata beliau: “Kalau ada seorang manusia yang ingin menambah sholat dalam sholat fardhu, maka yang demikian itu adalah Bid’ah Ghoiru Maqbullah, tidak diterima oleh Allooh سبحانه وتعالى, karena menyelisihi syar’i dalam ketentuannya.”
Misalnya ada orang sholat Dhuhur 5 roka’at, padahal ketentuan sesuai syari’at semestinya adalah 4 roka’at. Maka ia sholatnya tidaklah sah.
Sholat Shubuh ketentuannya 2 roka’at. Karena merasa masih segar, lalu ditambah 2 roka’at lagi hingga menjadi 4 roka’at. Maka yang demikian itu adalah Bid’ah, dan tidak akan diterima oleh Allooh سبحانه وتعالى, karena ditunaikannya tidak sesuai dengan aturan syar’i sehingga ibadah itu pun menjadi tertolak.
4. Kaifiyat (Tatacara)
Kata beliau: “Kalau ada seseorang berwudhu yang ia memulai wudhunya itu dengan membasuh kedua kaki, lalu mengusap kepala, lalu membasuh kedua tangan, kemudian wajahnya, maka wudhunya batal karena menyalahi syari’at dalam tatacara.”
Tatacara wudhu adalah dimulai dengan membasuh kedua tangan, membasuh wajah, membasuh kedua lengan sampai siku, lalu kepala barulah kedua kaki; sebagaimana yang dicontohkan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dan ‘Utsman bin Affan رضي الله عنه, dan para shohabat. Kalau urutannya dibalik, maka berarti ia tidak melakukan sesuai urutan berturut-turut (tertib)-nya, dan dengan demikian berarti telah menyelisihi apa yang dicontohkan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم oleh sehingga terkategori sebagai Bid’ah.
5. Waktu
Kalau ada orang yang melakukan Qurban di awal bulan Dzul Hijjah, maka qurbannya tidak bisa diterima karena menyelisihi syari’at dalam hal waktu. Yang demikian masuk dalam kategori Bid’ah. Karena yang benar, qurban itu dilakukan setelah sholat ‘Iedul Adha, sementara ia melakukannya di hari pertama bulan Dzul Hijjah. Itu tidaklah dibenarkan.
6. Tempat
Kalau ada orang melakukan I’tikaf tetapi tidak di masjid, maka itikaf-nya itu tidak dibenarkan. Karena i’tikaf itu tidak boleh dilakukan, kecuali di masjid. Jadi tempatnya harus sesuai dengan Syar’i. Ketika tempat tidak sesuai dengan syar’i maka tidaklah dibenarkan.
Ada beberapa kriteria apakah sesuatu itu Bid’ah atau bukan, adalah sebagaimana dijelaskan olehSyaikh Nashiruddin Al Albaany رحمه الله dalam kitabnya yaitu Kitab Ahkaamul Janaa’iz. Kata beliau: “Sesungguhnya Bid’ah yang ditetapkan kesesatannya dalam kategori Syar’i adalah sebagai berikut:
1. Setiap apa saja yang bertentangan dengan Sunnah, baik berupa perkataan maupun perbuatan ataupun keyakinan, walaupun atas dasar Ijtihad, maka ia adalah Bid’ah. Misalnya, ada orang yang mengatakan bahwa Al Qur’an yang ada sekarang ini sebetulnya hanyalah sepertiga dari yang semestinya, yang dua pertiga-nya masih terpendam. Kata-kata demikian itu bertentangan dengan apa yang ditetapkan oleh Sunnah, maka ia masuk kategori Bid’ah dholaalah. Orang yang meyakininya berarti dhoollun, alias sesat. Yang mengajarkannya disebut Mudhillun (menyesatkan).
2. Seseorang mendekatkan diri kepada Allooh سبحانه وتعالى, padahal caranya telah dilarang oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Suatu kali sekelompok orang datang kepada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم untuk melihat dan mengamati ibadah beliau صلى الله عليه وسلم. Setelah itu mereka kembali ke tempat masing-masing dan menyimpulkan:
Dari Anas bin Maalik رضي الله عنه, bahwa sekelompok shohabat Nabi صلى الله عليه وسلم bertanya pada istri-istri Nabi tentang ibadah Nabi صلى الله عليه وسلم dalam kesendiriannya, sehingga setelah itu sebagian mereka mengatakan “Adapun aku tidak akan menikah dengan wanita.” Seorang lagi mengatakan: “Kalau begitu aku tidak akan makan daging,” Sebagian lain mengatakan, “Aku tidak akan tidur diatas kasur.” Maka Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda setelah memuji Allooh سبحانه وتعالى: “Kenapa dengan suatu kaum yang mengatakan begini dan begitu. Adapun aku sholat, tidur, shoum dan berbuka dan menikahi wanita. Barangsiapa yang membenci Sunnahku, maka ia bukanlah ummatku.” (Hadits Riwayat Imaam Muslim no: 3469)
Itulah suatu contoh. Jika ada orang yang beribadah, tetapi cara beribadahnya tidak sesuai dan dilarang oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, maka ibadah itu termasuk bid’ah. Mereka yang demikian disebut dengan: Rabbaniyah, yaitu orang yang suka nyepi (bertapa, menyendiri), tidak makan sesuatu yang bernyawa, mutih dsbnya. Hal-hal yang sudah jelas dihalalkan oleh Allooh سبحانه وتعالى dan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم kemudian ia haromkan. Maka perbuatan yang demikian itu termasuk Bid’ah.
3. Setiap perkara yang tidak disyari’atkan, tidak dengan Nash dan tidak dengan wahyu, maka itu pun termasuk Bid’ah. Urusan keyakinan yang tidak ada dalilnya. Dalam masyarakat, disebut dengan Khurafat (Tahayul).
Misalnya, orang akan membangun rumah, sebelumnya diadakanlah makan-makan (sedekahan) dulu untuk permisi kepada “mbaureksa” (yang menjaga bumi) disitu, agar tidak terjadi na’as. Lalu ketika akan memasang atap, harus digantungkan pisang, padi dan bendera di puncak rumah tersebut. Semua itu tidak ada dalilnya. Itu pun termasuk Bid’ah.
4. Sesuatu yang dikategorikan ibadah, padahal itu ibadahnya orang kaafir. Ada keterangan dari salah seorang Syaikh di Madinah, bahwa apabila ada orang yang melakukan wirid sambil bergoyang-goyang ke kanan dan ke kiri, maka sebetulnya ia beribadah dengan cara orang Yahudi. Karena cara beribadah orang Yahudi memang dengan cara bergerak-gerak ke kiri dan ke kanan. Maka dari itu, kita dilarang bergerak-gerak atau bergoyang-goyang ketika mengaji, berdzikir, atau apa saja karena menyerupai (tasyabbuh) dengan cara ibadah orang Yahudi.
Bila kaum Nashroni memperingati lahirnya Nabi Isa عليه السلام dengan Natal, maka bagi kitakaum muslimin tidak ada peringatan lahirnya Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم. Oleh karena itu, Mauludan (peringatan lahirnya Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم yang dilakukan oleh sebagian orang) itu adalah Bid’ah, karena tasyabbuh dengan kaum Nashroni.
Bahkan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم menjelaskan kepada kita, bahwa yang dimaksud dengan lafadz “’Ied” adalah Yaumu ‘Arofah, Yaumu Mina dan Ayyamu Tasyrik adalah hari besar Islam (Hari ‘Arofah adalah 9 Dzul Hijjah, hari Mina dan Tasyrik tanggal 10, 11, 12 dan 13 Dzul Hijjah adalah hari besar Islam).
Tetapi di hadits yang lain, ‘Aa’isyah رضي الله عنها menyampaikan bahwa hari raya (‘Ied) itu ada dua, yakni ‘Iedul Fithri dan ‘Iedul Adha.
Maka kalau ada hari raya selain yang disabdakan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dalam dua hadits diatas, maka itu termasuk dalam kategori Bid’ah.
5. Apa-apa yang dianjurkan oleh para ‘Ulama, terutama ‘Ulama Mutaakhiriin,padahal tidak ada dalilnya, misalnya: Muhasabah dengan membaca Al Qur’an dsbnya, padahal itu tidak ada contohnya dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, maka tergolong Bid’ah.
6. Setiap ibadah yang tatacaranya hanya berdasarkan Hadits Dho’iif dan atau Hadits Palsu, maka itu adalah Bid’ah.
Syaikh Nashiruddin Al Albaany رحمه الله berkata: “Kalau ada orang berdalil dan ternyata dalilnya lemah atau Hadits palsu, maka sesungguhnya itu perbuatan Bid’ah. Karena hadits dho’iif itu adalah prasangka belaka. Tidak pasti. Karena hadits itu dalam perjalanannya penuh dengan cacat. Maka itu tidak termasuk dalam kategori ibadah.”
Madzab Ahlul Hadiits mensyaratkan bahwa baik dalam hukum, ataupun dalam Fadho’ilul A’maal, maka Hadits Dho’iif tidak boleh dipakai. Maka bagi kita, cukuplah, puaslah dengan hadits-hadits yang shohiihah, insya Allooh itu akan maqbul disisi Allooh سبحانه وتعالى. Lalu sesudahnya, hendaknya kita sibukkan diri dengan memperbaiki kualitas ibadah kita. Jadi, tidak perlu merasa penasaran dan mencoba-coba beramal dengan landasan hadits yang lemah ataupun palsu, karena semuanya itu tidak akan memberikan kepada kita suatu ibadah yang maqbul.
7. Berlebih-lebihan dalam ibadah (Al ghuluw fil ‘ibaadah). Kalau orang sudah melebih-lebihkan dalam urusan ibadah, maka itu sudah termasuk dalam kategori Bid’ah. Misalnyasesuatu itu dikatakan baik, tetapi baik itu bukanlah menurut ukuran kita. Baik dan buruk itu dasarnya adalah Syari’at Islam. Kita tidak punya hak untuk mengatakan sesuatu itu baik ataupun buruk. Karena, baik dan buruk dengan makna sesungguhnya, ukurannya adalah dari Allooh سبحانه وتعالى dan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Oleh karena itu, kita tidak boleh mengatakan sesuatu itu baik atau buruk, apalagi dalam masalah ibadah. Berlebihan dalam ibadah, misalnya: Dzikirnya harus 10.000 kali, atau puasanya harus 40 hari, dstnya. Itu jelas berlebihan.
8. Setiap ibadah yang dimutlakkan oleh Syari’at, tetapi lalu diikat oleh orang-orang dengan ikatan-ikatan tertentu, maka itu pun tergolong Bid’ah. Maksud ibadah mutlak itu adalah tidak ada ketentuannya.
Contohnya, Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam QS. Al Ahzab (33) ayat 41:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْراً كَثِيراً
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman, dzikirlah (ingatlah) kalian kepada Allooh dengan dzikir (ingat) yang sebanyak-banyaknya.”
Lalu ada orang yang memberikan batasan-batasan tertentu terhadapnya, baik batasan dengan tempat, batasan dengan waktu, batasan dengan tata cara tertentu atau batasan dengan bilangan tertentu; maka yang demikian itu termasuk dalam kategori Bid’ah.
Misalnya: dzikir dengan membaca Asma’ul Husna, dibaca ba’da Isya sampai jam 22.00 atau dengan membaca “Ar Rohmaan, Ar Rohmaan” 100.000 kali.
Nah, kata-kata ketentuan 100,000 kali itu dari siapa?
Ketentuan: harus ba’da Isya sampai jam 22.00 itu dari siapa?
Kalau ada orang yang mengatakan demikian, maka itu tergolong Bid’ah; karena menyalahi ayat diatas dimana Allooh سبحانه وتعالى menyuruh dzikir sebanyak-banyaknya, tanpa ada ketentuan batasan bilangan, waktu, tempat ataupun tatacara tertentu.
Demikianlah indikator tentang Bid’ah. Kalau ada salah satu diantaranya terjadi dalam masyarakat kita, maka kita bisa mengetahui bahwa itu Bid’ah, tidak boleh kita tiru, tidak boleh kita laksanakan.
Sejarah dan Munculnya Bid’ah
Dalam kitab yang ditulis oleh Syaikh Shoolih bin Fauzan Ali Fauzan, dikatakan sesungguhnya Bid’ah itu telah muncul bukan hanya pada zaman sekarang. Bid’ah telah muncuk sejak zaman Khulafaa Ar Roosyidiin. Misalnya, seorang tabi’in dipanggil oleh ‘Umar bin Khoththoob رضي الله عنه lalu dipukuli sampai berdarah di kepalanya, karena bertanya tentang Ayat Muhtasyabihat. Jadi saat itu, begitu kebid’ahan itu muncul, langsung ditindak tegas dan ditumpas.
Lalu pada zaman Khaliifah ‘Utsman bin Affan رضي الله عنه juga muncul kebid’ahan, tetapi juga langsung ditumpas. Begitu pula pada masa Khaliifah Ali bin Abi Tholib رضي الله عنه pun begitu bid’ah muncul segera ditumpas.
Jadi, ketika Atsar (‘Ilmu) kuat, maka Bid’ah akan mati. Bid’ah itu muncul ketika ‘Ilmu Syar’i itu lemah, sehingga Bid’ah pun muncul dan marak dimana-mana.
Kata Imaam Maalik bin Anas dalam Kitab Al Faqiih Wal Mutafaqqih yang ditulis olehImaam al Khotiib Al Baghdaady رحمه الله: “Jika peninggalan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلمdan para shohabat itu di suatu kaum (masyarakat) nihil atau sedikit, maka akan banyak ditengah-tengah mereka hawa nafsu. Dan jika para ‘Ulama (orang yang berilmu dien) sedikit, maka ditengah-tengah masyarakat demikian itu akan terjadi kekerasan.”
Tepatlah apa yang dikatakan Imaam Maalik tersebut. Karena sesungguhnya ketika dalil-dalil ‘ilmu Syar’i itu sudah tidak ada lagi di tengah masyarakat, akan sedikitlah pedoman bagi kehidupan mereka. Mereka menjadi sangat kurang ‘ilmunya, dan masyarakat tidak lagi tahu apa yang menjadi pedoman dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
Bid’ah pertama kali muncul di bidang aqidah itu ada empat. Hal ini dikemukakan oleh Al Imaam Yuusuf bin Asbaath رحمه الله, yaitu:
1. Raafidhoh (sekarang: Syi’ah), ini yang paling klasik
2. Qodariyah
3. Jahmiyah
4. Murji’ah
Keempatnya adalah Bid’ah ‘Aqidah semua.
Sedangkan Bid’ah dalam urusan ‘Amaliyyah adalah sebagaimana ‘Abdullooh bin Mas’uud رضي الله عنه mengingkari (melarang) orang yang berdzikir sambil menghitung-hitung dengan menggunakan batu kerikil (di zaman sekarang menggunakan tasbih), seperti dijelaskan dalam Hadits berikut ini:
Sebagaimana Abu Muusa رضي الله عنه mengatakan kepada ‘Abdullloh bin Mas’uud رضي الله عنه, “Wahai Abu ‘Abdurrohmaan, sungguh aku melihatmu tadi di masjid. Engkau mengingkari sesuatu yang tidak aku pandang kecuali kebaikan.”
Lalu ‘Abdullooh bin Mas’uud رضي الله عنه bertanya, “Apa itu?”
Lalu Abu Muusa رضي الله عنه mengatakan, “Jika engkau panjang umur, engkau niscaya akan melihatnya. Aku melihat di masjid suatu kaum berkelompok-kelompok sambil duduk menunggu sholat, dimana setiap kelompok terdapat seseorang dimana pada tangannya terdapat kerikil dan mengatakan, ‘Bertakbirlah kalian 100.’ Maka mereka pun bertakbir; ‘Katakanlah oleh kalian Laa Illaaaha Illallooh’ 100, maka mereka pun melakukannya; ‘Bertasbihlah kalian 100’, maka mereka pun melakukannya. Apa yang Anda katakan kepada mereka?”
‘Abdullooh bin Mas’uud رضي الله عنه menjawab, “Aku tidak mengatakan apa pun kepada mereka, kecuali hanya aku perintahkan kepada mereka, ‘Coba kalian hitung kesalahan-kesalahan kalian dan aku jamin pada mereka untuk tidak menyia-nyiakan kebaikan-kebaikan mereka’ .”
Sehingga pembicaraan mereka itu pun berlalu.
Kemudian ‘Abdullooh bin Mas’uud رضي الله عنه mendatangi pada kelompok-kelompok tersebut dan berdiri dihadapan mereka dan mengatakan, “Apa yang kalian lakukan?”
Kata mereka, “Wahai Abu ‘Abdillaah, kerikil kami hitung dengannya takbir, tahlil dan tasbih.”
Lalu ‘Abdullooh bin Mas’uud رضي الله عنه kembali berkata, “Hitunglah kejelekan-kejelekan kalian, aku jamin kalian tidak akan menyia-nyiakan kebaikan kalian sedikitpun. Celaka kalian wahai ummat Muhammad, betapa cepatnya kesesatan kalian. Mereka, para shohabat Nabi kalian begitu banyak dan ini bajunya belum juga rusak dan ini bejananya belum juga pecah. Demi yang jiwaku ditangan-Nya, sesungguhnya kalian diatas ajaran yang paling lurus dari ajaran Muhammad صلى الله عليه وسلم. Apakah kalian akan menjadi pembuka-pembuka pintu kesesatan?”
Mereka menjawab, “Yaa Abu ‘Abdurrohmaan, tidak ada yang kami inginkan kecuali kebaikan.”
Beliau رضي الله عنه berkata, “Berapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tetapi tidak mendapatkannya. Sesungguhnya Rosuul صلى الله عليه وسلم mengatakan kepada kami bahwa suatu kaum membaca Al Qur’an tidak melewati tenggorokannya. Demi Allooh saya tidak tahu, jangan-jangan dari kebanyakan mereka itu ada diantara kalian.”
Kemudian beliau رضي الله عنه pung berpaling.
(Hadits riwayat Imaam Ad Daarimy no: 204 dari ‘Abdullooh bin Mas’uud رضي الله عنه dan Syaikh Husain Saliim Asad mengatakan sanad hadits ini baik)
Perhatikan pula :
عن أبي عثمان قال كتب عامل لعمر بن الخطاب إليه أن ها هنا قوما يجتمعون فيدعون للمسلمين وللأمير فكتب إليه عمر أقبل وأقبل بهم معك فأقبل وقال عمر للبواب أعد لي سوطا فلما دخلوا على عمر أقبل على أميرهم ضربا بالسوط فقال يا عمر إنا لسنا أولئك الذين يعني أولئك قوم ياتون من قبل المشرق
Sebagaimana diriwayatkan dari Abu ‘Utsman yang mengatakan bahwa salah seorang pekerja ‘Umar bin Khoththoob رضي الله عنه menulis surat padanya, bahwa disini terdapat suatu kaum yang berkumpul dan mendoakan kaum muslimin dan ‘Amiir (pemimpin), kemudian ‘Umar رضي الله عنه membalasnya, “Temui, temui mereka.”
Dan ‘Umar رضي الله عنه berkata kepada penjaga pintu, “Siapkan untukku cambuk.”
Dan ketika mereka masuk, oleh ‘Umar رضي الله عنه, pemimpin mereka, disambutnya dengan pukulan cambuk, lalu kemudian orang itu berkata, “Wahai ‘Umar, bukan kami mereka itu, melainkan mereka adalah kaum yang datang dari arah timur.”
Perhatikanlah pada kisah yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah رضي الله عنه dalam kitab Al Mushonnif-nya no: 26191 sebagaiman dikisahkan diatas, betapa ‘Umar bin Khoththoob رضي الله عنه sedemikian tegas mengingkari sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang ada pada zaman Rosuul صلى الله عليه وسلم dan sesuatu yang tidak dipahami demikian oleh beliau رضي الله عنه dan para shohabat.
Padahal, secara kasat mata orang sekarang mengatakan yang seperti itu yakni menghitung dengan tasbih, berdzikir dengan berkelompok-kelompok dengan ada komando dari pimpinan mereka; hal ini dianggapnya sudah menjadi bagian dari ajaran Islam, padahal yang seperti itu jelas-jelas diingkari oleh para shohabat Rosuul صلى الله عليه وسلم sebagaimana dijelaskan dalam Hadits diatas.
Termasuk kategori Bid’ah ‘Amaliyyah, contohnya: ‘Umar bin Khoththoob رضي الله عنه pernah mengingkari (melarang) seseorang yang mengharap rizqi dengan berdzikir terus-menerus di dalam masjid. Oleh ‘Umar bin Khoththoob رضي الله عنه, orang tersebut diusirnya keluar masjid sambil beliau رضي الله عنه berkata, “Keluar kamu, pergilah ke pasar, karena sesungguhnya langit tidak akan menghujanimu dengan emas dan perak karena dzikirmu itu.” Jadi itu jelas-jelas merupakan pengingkaran bahwa orang mencari rizqi itu bukanlah dengan cara wirid.
Hal-hal seperti itu sudah muncul sejak zaman shohabat, tetapi ditumpas sedemikian rupa, sehingga tidak pernah bangkit dan marak, karena pemegang panji-panji Sunnah demikian banyak dan kuat. Sedangkan di zaman sekarang, di tengah masyarakat justru yang terjadi adalah banyaknya kejahilan dan jauhnya manusia dari keseimbangan dalam urusan Dien, maka yang terjadi adalah seperti apa yang kita lihat sekarang yakni maraknya Bid’ah di berbagai tempat.
Barokallahu fiikum
Abu Muhammad@
Ustadzrofii.wordpress.com

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: