PERAYAAN MAULID NABI

maulid-nabi

PERAYAAN MAULID NABI MUHAMMAD صلى الله عليه وسلم
oleh : H. Achmad Rofi’i, Lc.

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allooh سبحانه وتعالى,
Seperti kita lihat setiap 12 Robii’ul Awwal di negeri kita selalu diadakan perayaan Maulid Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, padahal sudah nyata dalam sejarah Islam dan dalam aqidah Islam, bahwa Maulid Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم tidak pernah tercatat landasan dan ajarannya.
Perayaan Maulid Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم itu secara syari’at bukan saja tidak ada ajarannya, bahkan justru berbahaya. Oleh karena itu dibawah ini kami sampaikan kepada anda sekalian berdasarkan referensi-referensi yang ada secara ringkas. Berikut ini beberapa perkara penting yang sering dijadikan dalil dan dijadikan tradisi dalam acara peringatan Maulid itu.
Maulid Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم di Indonesia dan di luar Indonesia biasa diperingati dengan acara di rumah-rumah dan ada juga yang dilaksanakan dengan cara yang legal dan resmi melalui instansi-instansi pemerintah maupun swasta.
Kalau Maulid dikaitkan dengan cinta kepada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, maka tidak bisa diingkari bahwa Maulid Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم itu menjadi perkara yang berkenaan dengan Dien (agama). Dan kalau sudah berkenaan dengan Dien, maka harus ada landasan dan dalilnya. Kalau tidak ditemukan dalil dan landasannya, maka harus diakui bahwa itu menjadi bagian dari perbuatan Bid’ah.
Maulid atau Maulud atau Miladah, artinya kelahiran Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم. Padahal secara sejarah para ulama tidak bisa memastikan dengan pasti satu kata sepakat bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم lahir tanggal 12 Robii’ul Awwal. Sehingga bila ada orang mengatakan harus diperingati tanggal 12 Robii’ul Awwal, dalilnya hanyalah sebatas: “Mungkin”. Dan “Kemungkinan” tidak lah bisa dijadikan suatu dalil. Itulah yang hendaknya menjadi pemahaman awal kita.
Untuk itu, maka kita akan cari dari mana dan kapan awal munculnya peringatan Maulid Nabi tersebut.
Pernah disampaikan dalam satu Kitab bahwa Maulid Nabi itu pertama kali muncul dan yang mengadakannya adalah seorang raja yang bernama Al Mudhoffar Abi Sa’id Kubray. Cerita tersebut diriwayatkan oleh Imam As Suyuuthi di dalam kitab beliau yang bernama Husnul Maqshad Fi ‘Amalil Maulid.
Al Imam As Suyuuthi dikenal sebagai pengikut madzhab Imam Syafi’i dan beliau (Imam As Suyuuthi) menceritakan bahwa Maulidan itu dilaksanakan pada masa raja Al Mudhoffar.
Al Mudhoffar meninggal tahun 630 Hijriyah. Tetapi bisa diyakini bahwa menurut Ibnu Katsiir, orang ini (Mudhoffar) dilahirkan pada tahun 549 Hijriyah. Kalau meninggalnya tahun 630 Hijriyah berarti ia berusia 81 tahun. Berarti peringatan Maulid dilaksanakan pada abad ke-6 Hijriyah. Dia memegang tampuk kerajaan pada tahun 563 H, atau setelah dia berusia 14 tahun. Kalau ia meninggal tahun 630 H, berarti itu adalah abad ke-7 Hijriyah. Mulai abad ke -6 akhir atau abad ke-7 Hijriyah awal itulah Maulid Nabi mulai dikumandangkan.
Namun ada khabar lain bahwa Maulid Nabi itu sudah dimulai pada akhir abad ke-4. Yaitu pada masa pemerintahan Fathiimiyah di Mesir. Sejak saat itu muncul dan mulai menjadi mode budaya Maulidan. Demikian itu telah dikemukakan oleh para ulama antara lain Al Qalqasandi, yang merupakan perkataan jamaah dari kalangan muta akhiriin.
Yang terakhir adalah yang dikemukakan oleh Abu Syamah bahwa Maulidan itu bermula pada masa orang yang menguasai negara Mousil (sekarang Syria) yang bernama Syeikh ‘Umar bin Muhammad Al Mala’, termasuk orang shoolih, dimulai abad ke-6 atau ke-7 Hijriyah.
Dari ketiga versi tersebut diatas, yang dianggap paling benar adalah khabar yang kedua, yang mengatakan bahwa Maulid diadakan pada masa pemerintahan Fathiimiyah di Mesir, dengan beberapa pertimbangan, karena masa ‘Umar bin Muhammad Al Mala’ dan Al Mudhoffar perayaan Maulid sudah membudaya di Mesir dan kemudian berkembang di negara mereka. Maka kalau itu dianggap benar, sesungguhnya Maulidan itu baru mulai muncul pada akhir abad ke-4, berarti 400-an tahun setelah Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم wafat.
Pada zaman Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم tidak pernah dikenal perayaan Maulid itu, demikian pula pada zaman para Shohabat, dan pada masa Tabi’iin maupun pada masa Tabi’ut Tabi’iin tidak lah dikenal. Justru dikenalnya pada masa pemerintahan Fathiimiyah di Mesir, 400–an tahun kemudian.
Munculnya peringatan Maulid adalah karena Taqlid (mengekor) dan Tasyabbuh(menyerupai). Taqlid adalah mengekor, mengikuti secara buta terhadap orang-orang Nasrani, dimana kaum Nasrani telah mempunyai budaya yang disebut Natal, yaitu memperingati kelahiran Yesus (Nabi Isa عليه السلام). Lalu ditiru oleh kaum muslimin yang kemudian menamakannya dengan Maulid Nabi. Yang demikian itu sesuai dengan sabda Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم , haditsnya shohiih diriwayatkan oleh para ahli Hadits, bahwa:
لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ
Artinya:
“Kalian niscaya akan mengikuti ajaran-ajaran orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sampai-sampai kalaupun mereka masuk ke lubang biawak, kalian akan mengikutinya masuk ke lubang itu pula”.
Ternyata benar; kalau kaum Nasrani mengadakan perayaan Natal, kaum muslimin ikut-ikutan dengan mengadakan Maulidan. Itulah bagian daripada Taqlid.
Maulidan juga merupakan Tasyabbuh (menyerupai), yaitu menyerupai peribadatan atau syi’ar dari orang yang beraqidah agama lain. Kalau orang Nasrani mempunyai aqidah dan ibadah sendiri, lalu diserupai oleh kaum muslimin maka itu lah yang disebut Tasyabbuh. Dan Tasyabbuh adalah dilarang, diharamkan oleh Allooh سبحانه وتعالى, sesuai dengan sabda Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم:
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
Artinya:
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk umat kaum itu”.
Tetapi kaum muslimin zaman sekarang akan marah kalau dikatakan bahwa mereka mengikuti ajaran Nasrani, atau Tasyabuh dengan Nashara. Mereka tetap mempunyai penyakit, yaitu penyakit turunan, yaitu mengikuti apa yang menjadi warisan orang-orang sebelumnya (leluhur) dan budaya turun-temurun dalam masyarakat dan bangsa itu. Kalau bapaknya melakukan itu, maka kaum muslimin akan mengatakan: “Ini kan sudah turun-temurun, sudah umum”.
Maka sikap seperti inipun merupakan Taqlid juga, tetapi bukan kepada agama lain, melainkan Taqlid kepada nenek-moyang.
Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allooh سبحانه وتعالى,
Kita hendaknya kembali kepada jalan Allooh سبحانه وتعالى, bahwa dalam beragama tidak boleh seorang di antara kita, hanya karena melihat orang sholat lalu ikut-ikutan sholat. Ada orang melakukan A, lalu kita ikut melakukan A. Ada orang banyak melakukan sesuatu, lalu kita ikut-ikutan, tanpa melihat dasar landasan atau dalilnya, hanya karena musiman atau trendy. Ada orang ibadah memakai baju putih, lalu ikut-ikutan memakai baju putih. Orang beribadah memakai peci putih, lalu ikut-ikut memakai peci putih. Ada orang memakai udeng-udeng (sorban) lalu ikut-ikutan memakai udeng-udeng. Itu namanya Taqlid, dan itu tidak boleh.
Allooh سبحانه وتعالى berfirman:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
Artinya:
“Janganlah kamu melakukan suatu perkara yang kamu tidak tahu ilmunya tentang itu, sebab sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati kamu akan dimintai tanggungjawabnya oleh Allooh”. (QS Al Isroo :36)
Jadi hukum asal dalam beragama menurut ajaran Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, bahwa ibadah itu haram, kecuali ada dalil yang mengajarkan tentang itu. Kalau ada ajaran dan dalilnya, maka kita harus mengamalkannya.
Ada beberapa fakta, yang kiranya tidak bisa dikemukakan disini, tetapi setidaknya menjadi pertimbangan bagi Anda sekalian bahwa peringatan Maulid termasuk kultus terhadap Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, yang memang dilarang oleh beliau صلى الله عليه وسلم. Seperti disabdakan beliau صلى الله عليه وسلم dalam sebuah Hadits shohiih:
لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتْ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ
Artinya:
“Jangan kalian berlebihan kepadaku seperti orang Nasrani melakukannya terhadap Isa ibnu Maryam”.
Jadi kalau itu kultus dan mengagungkan kepada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, maka itu dilarang oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
Ada yang menganjurkan melakukan peringatan Maulid, seperti yang dikatakan oleh Al Barzanji. Barzanji adalah nama tempat (daerah). Nama lengkapnya adalah Ja’far bin Hasan Abdul Karim Al Barzanji Zainal ‘Abidin. Termasuk warga Madinah, dan termasuk mufti dalam Madzhab Syafi’i. Ia meninggal tahun 1177 Hijriyah (abad ke-12 Hijriyah).Demikian dikemukakan oleh Az Zarkali dalam kitabnya: “Al A’lam”.
Dikatakannya begini: “Telah dianjurkan untuk melaksanakan Maulid, mengingat kelahiran Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Siapa yang menganjurkan itu adalah para imam yang mempunyai riwayat. Maka berbahagialah bagi orang yang mengagungkan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم”.
Berarti orang tersebut termasuk yang mendukung acara Maulidan tersebut. Tetapi ingat, orang ini hidup di abad 12 Hijriyah. Jadi merupakan turunan saja dari ajaran yang pernah ada pada abad ke-4, pada pemerintahan Fathiimiyah di Mesir.
Ada lagi orang lain yaitu Imam al Manawi, ia juga orang yang men-syarah Al Jami’ Shaghirmelalui kitab yang namanya “Faidzul Qadir”, ia juga mengatakan: “Wajib bagi orang yang hadir dan mendengar untuk berdiri ketika disebut tentang kelahiran Rosuulullooh صلى الله عليه وسلمsebagai bukti mengagungkan atas datangnya dzat Nabi صلى الله عليه وسلم”.
Katanya, kalau Rosuul disebut dalam suatu perkataan dimana perkataannya sebagai berikut: “Asraqad anwaru Muhammadin wahtafad min hal buduru”. Atau ada kata-kata: “Shalatu Rabbi dzil Jalali ‘ala nuril huda bahil jamali”. Atau yang sering kita dengar adalah: “Marhaban ya Marhaban ya Marhaban, Marhaban jaddal husaini, Marhaba.Ya Nabi ya salamun ‘alaika, ya Rasul salamun ‘alaika”.
Ketika kata-kata itu dibacakan, maka yang hadir berdiri. Katanya, untuk menghormati ruh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم yang datang.
Kemudian ada yang mempunyai doa, apabila mereka selesai dari acara peringatan Maulid Nabi صلى الله عليه وسلم itu dengan mengucapkan:
“Allahumma inna qad hadhorna qiraata matayassara min maulida nabiyyikal karim faqdhi – Allahumma ‘alaina khal alqabuli watakrimi waaskinna bijiwarihi fi jannatinna’im” (dinukil dari kitab Al Anwar Al Qudsiyah dan Maulid yang ditulis oleh Al Manawi).
Terjemahannya: “Ya Allooh sesungguhnya kami telah menghadiri pembacaan dari kisah lahirnya Nabi-Mu, yang mulia, maka tunaikanlah kebutuhan kami. Ya Allooh karuniakan kepada kami diterimanya ibadah kami, dan kemuliaan itu. Dan berikanlah kesempatan untuk tinggal menjadi tetangga Rosuul di surga”.
Kalau kita selesai membaca Al Qur’an memang ada Hadits, dimana Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
عند كل ختمة دعوة مستجابة
Artinya:
“Setiap orang selesai dan khatam membaca Al Qur’an, maka ia mempunyai kesempatan berdo’a dan do’a itu akan dikabulkan oleh Allooh سبحانه وتعالى”.
Lalu oleh mereka, pembacaan Barzanji disamakan dengan membaca Al Qur’an. Kata mereka: “Ya Allah kami sudah selesai membaca cerita Nabi-Mu, maka kabulkanlah permintaan kami”. Karena mereka selesai membaca kisah Maulid Nabi صلى الله عليه وسلم lalu berdoa kepada Allooh سبحانه وتعالى.Yang demikian itu dijadikan tawassul. Dan masih ada doa-doa yang lain, yang sering mereka ucapkan setelah membaca kitab Barzanji, atau Kitab Diba’i, yang semua itu dimuat dalam kitabMajmu’ Syarif.
Al Marghini mengatakan bahwa: “Akan dikabulkan suatu doa ketika mengingat kelahiran Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم dan ketika selesai dari memperingati kelahiran beliau”.
Yang mengatakan demikian itu bukan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, bukan pula shohabat, tetapi seseorang yang bernama Al Marghini dan itu dinukil dari Kitab “Al Asrar Ar Rabbaniyah”.
Semua itu berasal dari orang-orang muta akhiriin (yaitu orang-orang yang hidupnya jauh dari masa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, para shohabat, tabi’iin dan tabi’ut tabi’iin), karena hidupnya adalah baru pada abad ke-12 Hijriyah.
Sementara pada abad-abad sebelumnya atau di masa-masa Islam sebelumnya (yang masih murni),tidak akan ditemukan orang yang meng-keramatkan dan mengutamakan peringatan Maulid Nabi صلى الله عليه وسلم.
Maulid Nabi صلى الله عليه وسلم, kalau kita lihat di awal sejarahnya diperingati dengan besar-besaran. Bahkan sampai sekarang. Pada awal sejarahnya pada zaman pemerintahan Fathiimiyah, raja Al Mudhoffar dalam suatu Maulid telah berinfak sebanyak 5000 ekor kambing, 10.000 ekor ayam, 100.000 keju, 30.000 piring halwa (roti padat). Yang hadir adalah diantaranya para tokoh Sufi, yang memperdengarkan lagu-lagu pujian Sufi, dari sejak shalat Dhuhur sampai dengan Shalat Shubuh. Dan melagukan lagu Yarqus (Rock), berisi joged-joged. Disebutkan bahwa dana untuk itu semua mencapai 300.000 Dinar (Emas). Itu infak untuk Maulidan.
Data itu perlu disampaikan kepada kita, bahwa memang benar Maulidan itu sudah ada sejak abad ke-4 Hijriyah. Tetapi yang menjadi dasar bagi kita adalah bahwa sesuatu diyakini sebagai agama, Dien, ajaran, jika didasarkan pada abad Nol Hijriyah.
Kalender Hijriyah dihitung dimulai sejak bulan Muharram hijrahnya Rasulullah صلى الله عليه وسلم ke Madinah. Dengan demikian dapat dipastikan setelah 13 tahun setelah ke-Rasulan. Atau 13 tahun kebelakang belum dihitung dalam penanggalan. Sejak dari Nol Hijriyah itu atau sejak 13 tahun Rasulullah صلى الله عليه وسلم berda’wah, apalagi selama beliau di Mekkah, tidak pernah ditemukan dalam sejarah dan sirroh mana pun Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم memperingati hari kelahiran beliau.
Setelah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم wafatpun juga tidak ada riwayatnya. Sampai kepada shohabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, sampai zamannya Imam Syafi’i juga tidak pernah ada peringatan Maulid Nabi صلى الله عليه وسلم. Kalau begitu, itu pasti ajaran baru. Kalau ajaran baru berarti Muhdats. Padahal Muhdats itu oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dilarang. Sabda beliau dalam Hadits Shohiih:
و إياكم و محدثات الأمور فإن كل محدثة بدعة و كل بدعة ضلالة
Demikian disabdakan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dalam suatu khutbah yang bernama Khutbatul Hajah dan itu menjadi bukti. Bahwasanya yang disebut dengan Maulidan itu mempunyai akibat terhadap perkara aqidah yang tidak kecil, karena dengan Maulidan telah memunculkan kultus terhadap Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
Padahal seperti disebutkan diatas bahwa kultus terhadap Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dilarang. Karena Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم telah bersabda seperti disebutkan diatas:
لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتْ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ
Artinya:
“Jangan kalian memperlakukan aku seperti orang Nashara memperlakukan Isa ibnu Maryam”.
Lalu dalam Hadits yang lain, diriwayatkan oleh banyak orang ulama Hadits antara lain Ibnu Hibban, Imam Ahmad, dll, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
يا أيها الناس إياكم والغلو في الدين فإنه أهلك من كان قبلكم الغلو في الدين
Artinya:
“Wahai manusia, hindarilah oleh kalian dari kultus atau berlebihan dalam masalah Dien (Islam),sesungguhnya berlebih-lebihan telah membuat binasanya orang-orang sebelum kalian”.
Ada beberapa perkara yang menjadi fakta, bahwa Maulidan mengakibatkan kultus.
Di antaranya adalah mereka berdalil dengan hadits, kata mereka haditsnya dari Jabir bin ‘Abdillah, yang mengatakan kepada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم: “Ya Rosuulullooh, demi bapak dan ibuku, beritahukanlah kepadaku, tentang yang pertama kali Allooh ciptakan sebelum segala sesuatu”. Maka jawab Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم: “Wahai Jabir, sesungguhnya Allooh telah menciptakan sebelum menciptakannya segala sesuatu, adalah telah menciptakan nur (cahaya) Nabimu dari cahaya-Nya (cahaya Allooh سبحانه وتعالى). Pada waktu itu tidak ada Lauhul Mahfudz, tidak ada Qolam (pena), tidak ada Jannah (surga) dan tidak ada Naar (neraka), tidak ada malaikat dan tidak ada langit, bumi, matahari dan bulan”.
Hadits tersebut diriwayatkan dalam kitab “Al Mawahid Al Laduniyah”, di tulis oleh Al Asqolaani.
Menurut Imam Al Manawi, bahwa Nama Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم mempunyai 4 huruf, yaitu huruf Hijaiyah: Mim, Ha, Mim dan Dal. Setiap huruf mempunyai kedudukan. Mim (pertama) adalah merupakan dasar diciptakannya segala sesuatu. Segala sesuatu berasal dari cahaya-Nya (Allooh سبحانه وتعالى), yang telah mengadakannya. Kalau saja tidak karena Muhammad صلى الله عليه وسلم maka tidak akan terbit, dan tidak akan ada makhluk tersebut.
Lalu dikatakan oleh Al Marghini: “Aku bersaksi bahwa Tuan (Sayyidina) Muhammad diciptakan dari Mim, namanya terbentang ke seluruh alam yang ciptakan oleh Allah Ta’ala”.
Yang demikian itu, harus kita ketahui bahwa Haditsnya adalah Hadits palsu, kedustaan terhadap Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
Berarti bukan Hadits melainkan hadits yang diada-adakan. Oleh karena itu dalam satu Kitab “Majmu’Ar Rosail Wal Masail”, dikatakan bahwa: “Ini bukanlah hadits yang berasal dari Nabiصلى الله عليه وسلم. Hadits dho’if. Tidak seorangpun dari kalangan ahlul ‘ilimi tentang hadits, yang meriwayatkan hadits tersebut dari Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم. Bahkan tidak pernah dikenal pula ada seorang shohabat yang meriwayatkan ini. Perkataan itu tidak diketahui, siapa yang mengatakan awal pertama kalinya”
Berarti hadits yang tersebut diatas tidak jelas asal-usulnya. Haditsnya palsu.
Bahkan Imam As Suyuuthi dalam kitabnya “Al Haawi” mengatakan, seperti disebutkan dalam Al Qur’an bahwa manusia itu berasal dari anak-cucu Adam dan diciptakan dari tanah.
Juga bertentangan pula dengan firman Allooh سبحانه وتعالى dalam surat Fushshilat ayat 6:
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ
Artinya:
“Katakan lah (Wahai Muhammad): Sesungguhnya aku adalah manusia seperti kalian.” (QS Al Kahfi : 110)
Sedangkan dalam hadits palsu diatas, dikatakan bahwa Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم tidak seperti manusia biasa, karena diciptakan dari cahaya sebelum segala sesuatu ini diciptakan dan seterusnya, dan seterusnya.
Padahal yang benar, seperti yang disebutkan dalam Hadits Shohiih, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda bahwa makhluk yang pertama kali diciptakan oleh Allooh سبحانه وتعالى adalah pena. Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda dalam satu hadits riwayat Imam Bukhoory dan Imam Muslim, dan itu menjadi kesepakatan Ahlussunnah wal Jama’ah, bahwa: “Pertama kali makhluk yang Allooh ciptakan adalah pena (Qalam). Lalu Allooh mengatakan kepada pena itu:‘Tulislah’. Maka kata pena: ‘Apa yang harus aku tulis?’ Firman Allooh: ‘Tulislah olehmu tentang apa yang akan terjadi sampai dengan hari Kiamat’.”
Jadi pena adalah makhluk yang pertama kali diciptakan. Maka apa yang disebutkan dalam hadits palsu diatas adalah bertentangan dengan Hadits Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم tersebut.
Ada beberapa bait Syi’ir yang ditulis oleh Al Buushiri dalam kitabnya yang namanya Burdah. Dan itu ada juga dalam Majmu’ Syarif. Syi’ir-nya antara lain berbunyi:
Wahai manusia yang paling mulia,
Kepada siapa lagi aku akan mengadu selain kepadamu,
Ketika turun kepada kami beberapa musibah yang melanda.
Tidak akan pernah sempit dengan Rosuulullooh Saw
bagi kedudukanmu melalui aku,
Ketika kemuliaan telah jelas dengan nama.
Karena dengan adanya engkau (Muhammad Saw),
lalu adanya dunia dan seisinya.
Dan di antara ilmumu (ilmu Nabi Muhammad Saw)
adalah ilmu tentang Lauh dan ilmu tentang Pena.
Itulah bentuk kultusnya. Dikatakan bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم lah yang menyebabkan lahirnya dunia ini dan seisinya, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم mengetahui apa yang ada dalam Lauhul Mahfudz, dan apa yang dalam Al Qolam. Semua itu termasuk kultus, karena sesungguhnya yang demikian adalah bagian dari syirik.
Kalau dikatakan bahwa segala kejadian akan bisa terangkat dan terselamatkan oleh adanya Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, maka itu adalah syirik.
Karena bertentangan dengan firman Allooh سبحانه وتعالى:
وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ
Artinya:
“Kalau Allooh sudah menghendaki terjadinya suatu mudhorot maka tidak ada yang bisa mengangkat madhorot dan bahaya itu kecuali Allooh”
Sementara dari keyakinan dalam syi’ir itu, yang mengangkat dan yang mengentaskan musibah/ mudhorot adalah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
Oleh karena itu, kalau dikatakan bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم mengetahui Lauhul Mahfudz dan Al Qolam, itu pun salah. Karena bertentangan dengan firman Allooh سبحانه وتعالى:
قُلْ لَا أَقُولُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلَا أَعْلَمُ الْغَيْبَ
Artinya:
“Katakan (Wahai Muhammad): Aku tidak mengatakan kepada kalian bahwa aku memiliki apa (pengetahuan) yang ada dalam rahasia Allooh dan aku tidak mengetahui hal yang ghoib”. (QS. Al An ‘aam : 50)
Juga firman Allooh سبحانه وتعالى:
قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ
Artinya:
“Katakanlah (Wahai Muhammad): Aku tidak memiliki terhadap diriku manfaat dan bahaya kecuali berasal dari kehendak Allooh”.
Dan sabda Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم:
وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ
Artinya:
“Kalau saja aku tahu perkara-perkara yang ghoib, nisacaya aku akan memperbanyak amalan yang shoolih”. (QS Al A’roof : 188)
Itulah yang diungkapkan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, atas perintah Allooh سبحانه وتعالى, untuk mengucapkannya. Maka apa yang disyi’irkan dan dinyatakan oleh syi’ir tertsebut diatas, selain suatu peng-kultus-an juga tergolong syirik.
Dalam bait-bait Syi’ir yang lainnya disebutkan:
Seluruh yang ada di alam semesta ini
karena Muhammad صلى الله عليه وسلم diciptakan.
Dunianya, akhiratnya, semuanya adalah
karena diciptakannya Muhammad صلى الله عليه وسلم.
Muhammad صلى الله عليه وسلم adalah makhluk pertama kali
yang menjadi rahasia alam semesta.
Begitu juga seluruh manusia dari awalnya.
Kalau saja bukan karena Muhammad صلى الله عليه وسلم,
Allooh سبحانه وتعالى tidak akan mengadakan apa yang ada di alam semesta ini,
Dan tidak akan terjadi apa yang ada di alam semesta ini,
kalau bukan karena kemuliaannya.
Dan masih banyak lagi syi’ir-syi’ir yang syubhat-syubhat, yang masih saja diyakini oleh sebagian besar kaum muslimin tentang masalah Maulidan, yang sebenarnya secara ilmiah tidak lah bisa dibuktikan.
Maka hendaknya kita semakin yakin bahwa Maulidan bukanlah bagian dari Sunnah dan ajaran Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Bukan bagian dari ajaran Islam.
Maulidan adalah ajaran yang diada-adakan (merupakan perkara baru) dalam ajaran Islam, yang tidak dikenal sebelumnya, atau dengan kata lain disebut Bid’ah.
Maka sangat disayangkan seandainya hal itu terus berlangsung di masyarakat dan kita diam saja terhadap orang-orang disekitar kita yang melakukannya.
Kesimpulannya, bahwa Maulidan itu mempunyai beberapa efek negatif, antara lain:
1. Dari sisi aqidah: akan terjadi Syirik, Kultus, dan Tawassul yang tidak benar caranya. Semua itu adalah perkara yang berat.
Dengan mengatakan bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bisa mengangkat dan mengentaskan bahaya, maka yang demikian itu adalah syirik.
Dan syirik itu akan melenyapkan seluruh nilai amalan kita.
Firman Allooh سبحانه وتعالى:
لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Artinya:
“Kalau kamu berbuat syirik, niscaya amalanmu akan gugur semuanya dan kamu di hari Akhir termasuk orang-orang yang merugi”. (QS Az Zumar : 65)
Itu sudah cukup membuat kita kandas, merugi dan termasuk orang yang bangkrut.Na’udzubillaahi min dzaalik.
2. Dari sisi ibadah: Ibadah yang demikian itu menjadi Bid’ah, karena tidak ada dasarnya. Orang berkorban dengan harta, waktu, tenaga dan apa yang ia miliki, menganggap bahwa Maulidan itu syi’ar Islam, menganggap itu bagian dari ritual kaum muslimin, padahal tidak ada landasannya sama sekali. Berarti perkara itu adalah perkara Bid’ah, dan Bid’ah adalah hal yang sia-sia, bahkan menjadi dosa. Bahwa orang yang menghidupkan satu bid’ah, berarti telah mematikan satu Sunnah.
3. Secara budaya: Maulidan merupakan pembiasaan yang buruk. Dari dahulu sampai sekarang bahkan sampai waktu yang akan datang terus saja dibiasakan, padahal sudah jelas-jelas tidak bisa dibuktikan landasan dalilnya.
Yang disebut dalil adalah Firman Allooh سبحانه وتعالى dan Sabda Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
Kalau hanya kata kyai, kata organisasi, kata sekumpulan orang, hasil kesepakatan manusia, kebiasaan dan sebagainya, semuanya itu bukan lah dalil. Kalaupun disebut dengan Syi’ar, maka itu adalah syi’ar Islam yang palsu, karena tidak ada dasarnya. Sesuatu baru bisa dikatakan sebagai Syi’ar itu kalau ada dasarnya.
Yang dimaksud Syi’ar Islam misalnya: Shalat berjamaah, wanita berjilbab, menunaikan ibadah haji, dan seterusnya yang memang jelas ada ajarannya dan dasar (dalilnya). Kalau suatu syi’ar tidak ada ajarannya, berarti itu syi’ar palsu.
4. Dari sisi sosial: Yaitu yang menyangkut masyarakat umum. Maulidan telah membiasakan orang untuk memperingati dengan acara-acara yang maksiat. Laki-laki dan perempuan yang bukan mahromnya bercampur aduk dalam satu tempat, bahkan ada musik-musiknya, nyanyian-nyanyiannya, lalu ada joged-jogednya, dan itu adalah haram. Bahkan mungkin disitu tidak terkontrol ada unsur judinya, ada minum khamernya, maka semakin bertambah haram. Dari sini saja sudah banyak mengandung unsur madhorot.
5. Dari sisi ekonomi: Termasuk tabdziir dan isroof (mubadzir). Kalau saja setiap RT mengadakan Maulidan, per-RT menghabiskan rata-rata satu juta rupiah, maka untuk seluruh Indonesia yang sebanyak 10.000 RT, maka dana yang dihabiskan sebesar 10 milyar rupiah. Bayangkan, uang sebanyak itu dihabiskan untuk perkara yang bukan bermakna ibadah, tetapi justru bermakna tabdzir, tidak mempunyai nilai di sisi Allooh سبحانه وتعالى, bahkan berpeluang menimbulkan maksiat.
Itulah hal-hal yang harus disadari oleh kita semua, dipahami sedalam-dalamnya, bukan semata-mata diatas dasar emosi dan bertahan diatas sesuatu yang tidak ada landasan ilmunya.
Kalau ingin berbicara tentang ilmu, marilah semuanya kita kembalikan ke firman Allooh سبحانه وتعالى dan sabda Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
Cukuplah bagi kita, kalau kita berpegang pada Al Qur’an dan Sunnah, maka kita akan menjadi orang yang selamat.
Ber-Islam landasannya bukan karena sedang nge-trend, atau sedang favorit atau sedang digandrungi, atau karena sudah membudaya dan sudah turun-temurun. Semua landasan tersebut tidak benar, karena Islam yang ada pada hari ini harus sesuai dengan Islam yang ada pada masa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Kalau tidak ada dalam al Qur’an, tidak ada dalam Sunnah atau ajaran Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, hendaknya berhenti dan dihentikan. Sebab semua amalan itu akan tertolak.
Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
وَمَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
Artinya:
“Barangsiapa yang beramal dengan amalan yang bukan dari kami, maka amalan itu akan tertolak.”
Demikianlah hal-hal yang bisa dikemukakan saat ini, mudah-mudahan bisa menjadi pengajaran bagi kaum muslimin bahwa sebenarnya Acara Peringatan Maulid Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم itu tidak ada landasannya, tidak ada tuntunannya dari Sunnah Muhammad Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
Karena itu, seharusnya kepada khalayak kaum muslimin dan saudara-saudara kita yang lainnya, kita sebarkan pemahaman yang benar agar setiap kita menjadi orang-orang yang selamat, kalau kelak kita meninggal.
Tanya-Jawab:
Pertanyaan:
Ada informasi lain tentang Maulid Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم katanya pertama-tama dilakukan oleh Salahudin Al Ayyubi. Karena ketika itu umat Islam semangatnya mulai lemah, tidak semangat.
Mohon penjelasan lebih lanjut tentang asal rujukan dan dari kitab apa informasi tersebut.
Jawaban:
Apa yang kami sampaikan diatas rujukannya jelas. Dari kitab-kitab yang saya sebutkan diatas. Tetapi cerita Shalahuddin Al Ayyubi adalah riwayat dari mulut ke mulut dan tidak jelas asal-usul riwayatnya. Maka kita tidak perlu terpaku dengan kisah Shalahuddin Al Ayyubi, kalau memang itu tidak ada landasannya yang jelas. Kami sendiri tidak menemukan sumber informasinya, karena riwayat itu hanya dari mulut ke mulut.Tidak jelas ke-shohiihannya. Sementara yang bisa dirujuk dari berbagai kitab adalah seperti yang disampaikan diatas.
Kalaupun itu dikatakan untuk menumbuhkan semangat kaum muslimin untuk beramal, mengamalkan ajaran Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, maka pada kenyataannya urusan tersebut tidak lah berbekas. Tidak ada hasilnya apa-apa. Maulidan dilaksanakan dari tahun ke tahun, toh tidak berbekas sama sekali. Apakah dengan Maulid lantas kaum muslimin menjadi militant untuk mengikuti ajaran Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم? Apakah menjadi semakin tergerak untuk meniru ibadahnya Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم? Semakin kental nyunnahnya, semakin berpegang teguh Islamnya? Sama sekali tidak.
Yang jelas, yang sekarang muncul malah justru pornografi, pornoaksi, dekadensi moral, seperti munculnya majalah Playboy dan sejenisnya, yang semua itu adalah pelecehan dari ajaran Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
Haram hukumnya seorang wanita memperlihatkan perhiasannya. Terutama perhiasan asli tubuhnya yang Allooh سبحانه وتعالى ciptakan. Juga perhiasan buatan yang berasal dari pakaiannya, make-up, dan perhiasan lainnya. Semua itu haram untuk diperlihatkan kepada orang yang bukan mahromnya.
Bagaimana halnya dengan seorang perempuan yang memperlihatkan tubuhnya?
Ia difoto dalam pose tanpa busana atau busana yang minim, lalu dicetak sekian ribu eksemplaar. Mungkin perempuan itu dibeli dengan difoto, sekali foto upahnya 5 juta rupiah. Lalu fotonya dicetak menjadi 10 ribu eksemplar. Maka harga satu foto Rp500,–/lembar. Artinya perempuan yang difoto itu harga dirinya hanya Rp500,–(Limaratus rupiah). Dengan demikian ia sama sekali tidak punya harga diri. Hanya dihargai limaratus rupiah. Ironisnya, perempuan yang difoto itu bangga. Ia bangga karena merasa populer, padahal ia hanya bernilai limaratus rupiah. Hina sekali sebetulnya.
Belum lagi kerusakan moral yang muncul.Manusia yang waras dan sehat syahwatnya, bila diiming-imingi (sengaja atau tidak) untuk melihat aurat wanita, pasti akan tergiur. Wanita pun tertarik pada laki-laki. Apalagi laki-laki. Tentu lebih tertarik kepada wanita. Dengan demikian, foto-foto seperti itu yang disebar-luaskan, akan menyebabkan orang lain terbangkit syahwatnya untuk berbuat zina. Maka moral manusia menjadi turun drastis. Banyak terjadi sekarang anak berzina dengan orang tuanya sendiri. Ada anak dibawah umur berzina dengan sesama anak dibawah umur. Di siaran berita TV-TV setiap hari ditayangkan berita semacam itu. Itu antara lain karena adanya VCD porno, gambar porno dan majalah porno.
Maka hendaknya kita kaum muslimin berhati-hati, jangan sampai tergiur dan tertipu oleh tipu-daya syeitan.
Pertanyan tertulis:
Dalam Kitab “Al ‘Ubuudiyah” ditulis oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyebutkan bolehnya bertawasul kepada kubur Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم. Apakah hal itu benar?
Jawaban:
Saya yakin tidak ada yang mengajarkan bahwa orang boleh dan bisa bertawassul dengan kubur. Karena kubur itu adalah terdiri dari tanah, batu, nisan, dsbnya. Kalau bertawassul dengan yang ada di dalamnya, berarti orang yang dikubur, maka itu tidak lah benar.
Kalaupun misalnya ada dalam kitab yang disebut diatas, kitab apa pun kalau itu mengajarkan sesuatu yang tidak benar, maka tidak perlu dijadikan pelajaran. Kitab apa pun yang ditulis oleh orang semasyhur apa pun, kalau tidak sesuai dengan firman Allooh سبحانه وتعالى dan sabda Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, maka tidak perlu didengar.
Tawassul yang dibolehkan adalah tawassul dengan amal shoolih. Bila seseorang pernah beramal shoolih, maka boleh bertawassul dengan amal shoolihnya itu. Itu boleh.
Atau orang bertawassul melalui do’a orang shoolih yang masih hidup, itu juga boleh. Misalnya ada orang shoolih, ia berpegang-teguh dengan Sunnah, ia ahli ibadah, ia adalah orang taqwa, ia adalah orang wara’, dan orang tersebut masih hidup, lalu kita datangi dia, minta tolong padanya untuk mendo’akan kita, lalu orang shoolih tersebut membacakan do’a untuk kita, maka yang demikian itu adalah diperbolehkan. Itu namanya tawassul melalui do’a orang shoolih. Tetapi kalau orang shoolih itu sudah mati, maka tidak boleh lagi bertawassul dengannya.
Bertawasul dengan Asma dan shifat Allooh سبحانه وتعالى, itu juga boleh. Allooh سبحانه وتعالى berfirman:
وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا
Artinya:
“Sesungguhnya Allooh mempunyai nama-nama yang baik, maka berdoalah kamu dengan nama-nama itu”.
Berarti bertawasul dengan Asma-Asma Allooh سبحانه وتعالى boleh. Dan itu memang diajarkan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
Tetapi bertawassul kepada kuburan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, maka yang seperti ini adalah tidak boleh.
Bertawassul dengan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, setelah beliau meninggal, juga tidak boleh. Karena beliau sudah meninggal dunia.
Adapun tidaklah sama, kalau seseorang bershalawat kepada beliau lalu beliau membalasnya, itu adalah Al Hayat Al Barzakhiyyah, dan itu adalah kekuasaan Allooh سبحانه وتعالى, tidak bisa disamakan dengan kehidupan kita di dunia.
Pertanyaan:
Apakah aqidah dari Imam Al Manawi, yang merupakan pen-syarah Kitab “Jaami’ish shoghir”, karena beliau termasuk yang menganjurkan perayaan Maulid Nabi صلى الله عليه وسلم?
Jawaban:
Imam Al Manawi adalah seorang Imam bahkan dikenal kitabnya dalam menjelaskan Kitab Imam As Suyuuthi. Namanya Kitab “Al Faidhul Qadir, syarah Al Jami ‘ush shghiir’”
Tetapi, sekali lagi, imam siapa pun kalau ia mengajarkan sesuatu yang tidak diajarkan dan disampaikan oleh shohabat, maka berarti aqidahnya mempunyai peluang sesat dan salah. Karena itu kita tidak mengikuti imam/ orang shoolih atau siapa pun bila yang disampaikannya tidak sesuai dengan tuntunan Rosuul. Karena yang harus kita ikuti adalah Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم.
Pertanyaan:
Dalam sholat berjama’ah bila shaf pertama penuh, bagaimana cara membentuk shaf kedua? Dari kanan atau dari tengah?
Jawaban:
Mulailah dari sebelah belakang kanan imam, terus berbaris ke kanan. Barulah berbaris ke kiri.
Pertanyaan:
Bolehkah sholat di masjid yang disampingnya terdapat makam (kuburan)?
Bagaimana dengan Masjid Nabawi yang didalamnya terdapat makam Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم?
Jawaban:
Dilihat dari sejarah asalnya adalah karena makam Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم lebih dahulu ada disitu, yang dahulunya bukan masjid. Makamnya semula diluar masjid Nabawi. Makam dan rumah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم asalnya terpisah dengan masjid Nabawi oleh dinding. Kalau sekarang makamnya terdapat dalam Masjid, itu bukanlah menjadikan dalil bagi bolehnya kuburan lalu disampingnya dibangun masjid.
Pertanyaan:
Dijelaskan diatas bahwa mengadakan perayaan Maulid itu Bid’ah. Bagaimana kalau dalam perayaan Maulid itu tidak ada acara-acara yang bertentangan, kecuali hanya ceramah tabligh, apakah itu termasuk Bid’ah? Kalau dikatakan Bid’ah mengapa tidak ada ulama yang sepakat bahwa Maulid itu Bid’ah? Berarti orang-orang yang mengadakan Bid’ah itu masuk neraka, karena setiap yang baru itu sesat dan masuk neraka. Mohon penjelasan.
Jawaban:
Sekarang hendaknya diketahui dulu ilmunya dengan benar, bahwa Maulid itu secara syar’i tidak punya landasan yang benar. Anda hendaknya camkan terlebih dahulu pemahaman seperti itu.
Lalu, kalau didalam perayaan Maulid itu tidak ada acara lain kecuali ceramah. Kalau tidak acara lain, berarti tidak akan terjadi Maulidan. Maka mustahil kalau tidak ada acara apa-apa. Pasti terjadi acara apa-apa. Acaranya itu justru yang tidak ada landasannya (dalilnya).
Maka kalau ingin sesuai dengan Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, tidak usah diadakan Maulid itu. Kalau saja ada acara ceramah, dan ceramahnya membantah terhadap diadakannya Maulidan itu, tentu sebelum selesai ceramah sudah disuruh berhenti oleh panitia. Maka pasti isi ceramahnya mempertimbangkan khalayak yang mengundang dan meng-odernya. Tidak mungkin untuk berbicara sebebas-bebasnya.
Maka kalau memang ingin “Nyunnah”, tidak lah usah ikut dalam acara itu. Karena Maulid itu mengada-ada sesuatu yang tidak ada dalilnya, alias Bid’ah.
Mulailah dari diri kita sendiri. Tegakkan Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم mulai dari dalm diri kita terlebih dahulu. Marilah kita bersemangat untuk selalu cinta kepada Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Apa yang ada dalam Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم kita hidupkan, apa yang tidak ada kita tidak perlu ikut-ikutan. Insya Allooh kita akan mendapat banyak pahala dan kebajikan. Mudah-mudahan Allooh سبحانه وتعالى akan memberikan ilmu kepada yang masih melaksanakan Bid’ah. Allooh سبحانه وتعالى bukakan hati mereka, ditunjukkan mereka kepada jalan yang lurus, lalu jera tidak lagi melakukan kebid’ahan itu. Tetapi kalau sudah diberitahu tentang yang benar, lalu mereka masih saja melakukan bid’ah, jangan-jangan hati mereka memang sudah tertutup sekat (Khotamalloohu ‘ala qulubihim). Berarti kita tidak bersama mereka.
Pertanyaan:
Menurut pengamatan Anda, Maulid Nabi صلى الله عليه وسلم selain dilakukan di Indonesia, dilakukan di negara mana saja?
Jawaban:
Yang namanya Bid’ah, itu tersebar di mana-mana. Jangankan di Indonesia, di negara Haramain (Saudi Arabia) sendiri, ada Maulidan. Tetapi kadar dan prosentasenya sangat kecil. Yang banyak disana adalah melaksanakan Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Sehingga, kalau ada Maulid disana tidak begitu nampak, sepertinya dilakukannya dengan sembunyi-sembunyi.Yang demikian itu tidak mustahil, karena di zaman para shohabat saja terjadi maksiat. Jadi tidak aneh, dimana saja bid’ah bisa muncul, juga di Asia.
Pertanyaan:
Tentang pernikahan massal. Sekarang menjadi model dari organisasi-organisasi sosial untuk mengadakan pernikahan massal, terutama terhadap orang-orang yang sudah hidup bersama tanpa menikah (kumpul kebo). Bagaimanakah pernikahan massal yang dimaksudkan itu dipandang dari segi aqidah ?
Jawaban:
Secara hukum, orang yang berzina adalah ibarat mayat gentayangan. Kalau orang yang berzina itu belum pernah nikah, maka memungkinkan orang tersebut dirajam tidak sampai mati. Lalu diasingkan dari negerinya (dita’zir). Tetapi bagi orang yang sudah menikah/ pernah menikah/ dalam keadaan menikah; kalau ia berzina, maka hukuman syari’at-nya adalah dirajam sampai mati.
Bila demikian adanya, maka orang yang berzina dalam keadaan sudah pernah menikah, maka mereka itu adalah laksana mayat-mayat yang bergentayangan. Karena status mereka sudah mati sebenarnya.
Tetapi di Indonesia, yang berjalan bukan lah hukum Allooh سبحانه وتعالى, melainkan hukum Hak Azasi Manusia. Jadi hukum yang berlaku semaunya, karena semua adalah Hak Azasi. Maksiat pun hak azasi. Disangkanya hak azasi itu akan menyelamatkan manusia. Padahal hak azasi seharusnya tunduk pada hak Allooh سبحانه وتعالى, yang menjadi kewajiban bagi manusia.
Dalam hadits shoohih, diriwayatkan Mu’az bin Jabal رضي الله عنه bertanya kepada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم: “Wahai Rosuulullooh, apakah yang menjadi hak Allooh atas manusia dan apa hak manusia kepada Allooh?”
Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم menjawab bahwa ada timbal-balik antara hak hamba dengan hak Pencipta (Allooh سبحانه وتعالى). Apa yang menjadi hak Allooh سبحانه وتعالى adalah menjadi kewajiban manusia. Apa yang menjadi kewajiban manusia bukanlah kewajiban bagi Allooh سبحانه وتعالى. Karena makhluk tidak bisa mewajibkan kepada Allooh سبحانه وتعالى. Semua adalah karunia dari Allooh سبحانه وتعالى. Jika orang beramal-shoolih, maka Allooh سبحانه وتعالى akan memberikan keutamaan kepada orang tersebut.
Dengan demikian, maka manusia hidup ini tidak ada yang merdeka, semaunya sendiri, mau maksiat mau beramal, terserah, seperti hewan. Tidak demikian.
Adapun hewan itu semaunya sendiri karena hewan memang tidak mukallaf, karena tidak diberi akal. Manusia berbeda. Manusia itu diberi fitroh (Islam), diberi kemampuan yang berbeda dengan hewan, diberi syari’at, diutus Rosuul pada mereka, diberi malaikat. Semuanya untuk manusia. Oleh karena itu, maka manusia tidak bebas seperti yang diinginkan dirinya (yakni ingin sebebas-bebasnya). Tetapi, hendaknya manusia mengikuti ajaran yang Allooh سبحانه وتعالى kehendaki. Manusia bergaul dengan sesama manusia juga harus sesuai dengan aturan Allooh سبحانه وتعالى.
Oleh karena itu, manusia yang berzina, ia harus mengakui terlebih dahulu bahwa ia telah berzina. Maka ia harus bertaubat kepada Allooh سبحانه وتعالى. Astaghfirullooh wa atuubu ilaih. Langsung hentikan perbuatan zinanya. Jangan lagi berbuat zina. Kalau mereka sudah bertaubat, jangan lalu diumumkan kepada orang lain.
Kalau sudah terjadi taubat, maka barulah diadakan pernikahan.
Sekian bahasan kita, mudah-mudahan ada manfaatnya.
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar
 
 

SHOLAT BERJAMAAH

sholat-berjamaah

SHOLAT BERJAMAAH

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allooh سبحانه وتعالى,
Alhamdulillah, kita bersyukur kepada Allooh سبحانه وتعالى, kita bisa berkumpul kembali untuk mengkaji bahasan tentang hal-hal yang keliru dilakukan oleh kaum muslimin dalam melaksanakan Shalat berjama’ah. Untuk sampai kepada hal tersebut, perlu sebelumnya disampaikan Penetapan Hukum Syar’i tentang shalat berjamaah. Mudah-mudahan dengan penyampaian materi tersebut kita tidak lagi menjadi ragu-ragu tentang hukum dan status shalat berjama’ah. Sengaja kami bawakan, tidak dalam bentuk terjemahan, karena kitab yang membahas tentang hal ini sudah diterjemahkan. Judul Kitabnya diterjemahkan: Syarah Rukun Islam.
Kita akan kembali secara otentik kepada naskah aslinya, yaitu Hadits-Hadits Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم berkenaan dengan Shalat berjama’ah. Untuk kali ini kita akan membahas:
1. Hukum Shalat Berjama’ah.
2. Keutamaan Shalat Berjama’ah.
3. Kapan Sahalat Berjama’ah dianggap sah,
4. Bagaimana Hukum Wanita Ikut Shalat Berjama’ah di Masjid.
5. Hikmah Disyari’atkan Shalat Berjama’ah.
Shalat artinya doa. Secara istilah, shalat adalah sesuatu yang diawali dengan Takbiratul Ihroom dan diakhiri dengan Salaam, ditengah-nya diisi dengan perkataan dan perbuatan. Diawali dengan niat untuk beribadah kepada Allooh سبحانه وتعالى.
Berjamaah, artinya shalat itu dilakukan tidak sendirian, melainkan bersama-sama. Maksud berjama’ah, terdiri dari dua unsur penting, yaitu Imaam dan Ma’mum.
Shalat berjama’ah adalah shalat yang dilakukan oleh minimal dua orang, yaitu Imaam dan Ma’mum. Tempat shalat fardhu berjama’ah adalah di masjid. Atau mungkin saja tidak di masjid tetapi di lapangan, atau di rumah, dll. Tetapi yang paling mutlak adalah: Shalat dikatakan berjama’ah bila shalat itu terdiri dari imam dan ma’mum.
Hukum Shalat Berjamaah.
Harus dipahami, bahwa shalat yang dilakukan sendirian, ada beberapa. Sebagai contoh, bahwaAssunan Arrootibah, yaitu shalat-shalat sunnah yang mengkuti Shalat fardhu, asal disyari’atkanya adalah munfarid, sendirian, tidak berjamaah.
Begitu mendengar Adzan, maka mengambil air wudhu lalu melakukan shalat sendirian dua rakaat. Setelah iqamat, barulah shalat berjama’ah dengan Imaam.
Tetapi ada shalat sunnat yang dilakukan dengan berjama’ah. Misalnya shalat Taroowih. Kalau hukum asal dari shalat itu harus berjama’ah, disebut: Ashsholawaatul Al Maktuubah.
Yang harus digaris bawahi adalah: Bahwa hukum asal shalat lima waktu (shalat fardhu) bagi laki-laki adalah berjama’ah.
Berbeda dengan perempuan, shalat yang paling afdhol bagi perempuan adalah tidak berjama’ah, tidak di masjid, tetapi di tengah atau di sudut rumah. Itulah yang paling afdhol bagi perempuan.
Hukum asal sunnah Rootibah dan kebanyakan sunnah yang lain adalah dilakukan sendirian atau di rumah.
Dengan demikian yang akan kita bahas berkenaan dengan berjama’ah adalah banyak shalat. Misalnya shalat fardhu, maka akan menyangkut shalat lima waktu. Yang fardhu Kifaayah, misalnya shalat jenazah. Shalat lima waktu dan shalat jenazah dua-duanya shalat fardhu, yang satu fardhu ‘Ain dan yang satunya lagi adalah shalat fardhu Kifayah, tetapi tatacaranya berbeda.
Shalat Sunnah, shalat sunnah Rowaatib dengan shalat sunnah Taroowih, berbeda.
Atau dengan shalat Istisqo’ atau shalat ‘Iidain, berbeda. Masing-masing mempunyai tatacara yang berbeda.
Shalat lima waktu (Shalat Fardhu).
Shalat lima waktu itu hukum asalnya berjama’ah adalah Fardhu ‘Ain bagi setiap muslim laki-laki. Maka jangan ada lagi yang memahami bahwa shalat lima waktu berjama’ah adalah Sunnah Muakkadah. Yang benar adalah: Shalat Fardhu berjamaah adalah Fardhu ‘Ain. Bukan Sunnah Muakadah. Kalau Sunnah Muakkadah berarti boleh memilih. Karena menurut mereka adalah banyak dalil yang mengatakan bahwa shalat berjama’ah itu banyak sekali ganjarannya, yaitu 27 derajat.
Tetapi dijawab bahwa yang menyatakan menjadi 27 derajat itu bukan menunjukkan status hukum Syar’ie-nya, itu menunjukkan keutamaan shalat berjama’ah. Bukan menentukan status hukum shalat berjama’ah.
Dalam bahasan kali ini tidak kurang dari 5 Hadits, yang cukup bagi kita untuk memberikan landasan bahwa Shalat lima-waktu dengan berjama’ah adalah Fardhu (Wajib) bagi laki-laki. Jadi hukumnya: Shalat berjama’ah itu wajib hukumnya atas setiap mu’miniin. Tidak ada keringanan untuk meninggalkannya, kecuali ada ‘udzur. Yang dimaksud ‘Udzur disini bukan sekedar hujan gerimis, atau badan kurang sehat atau sejenisnya, karena orang yang buta saja bila mendengar panggilan adzan, ia wajib hukumnya untuk datang ke masjid shalat fardhu berjamaah.
Anda bisa melihat di Masjidil Haram (Mekkah) atau Masjid Nabawi (Madinah), disana orang datang untuk shalat lima-waktu sampai-sampai yang memakai kursi roda, disana disediakan jalan miring khusus untuk kursi roda. Karena orang yang tidak bisa berjalan kaki-pun, dengan kursi roda, ikut shalat berjamaah di masjid. Bahkan ada yang memakai tongkat, ada yang dituntun, mereka semua shalat fardhu berjamaah di masjid.
Berbeda dengan di negeri kita (Indonesia), orangnya segar-bugar, tidak ada aral-melintang, tetapi ia tidak mau datang ke masjid. Karena apa? Barangkali sebabnya adalah adanya penjelasan bahwa shalat berjama’ah itu hukumnya Sunnah Muakkadah. Sehingga menimbulkan kemalasan. Padahal sesungguhnya berdasarkan berbagai dalil, shalat fardhu berjama’ah itu adalah wajib atas setiap mu’min.
Dalilnya adalah :
1. Dalam Hadits shohiih berikut ini:
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ أَتَى النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- رَجُلٌ أَعْمَى فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ لَيْسَ لِى قَائِدٌ يَقُودُنِى إِلَى الْمَسْجِدِ. فَسَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ يُرَخِّصَ لَهُ فَيُصَلِّىَ فِى بَيْتِهِ فَرَخَّصَ لَهُ فَلَمَّا وَلَّى دَعَاهُ فَقَالَ « هَلْ تَسْمَعُ النِّدَاءَ بِالصَّلاَةِ ». فَقَالَ نَعَمْ. قَالَ « فَأَجِبْ
Hadits riwayat Imaam Muslim, kata beliau, dari Abu Hurairah رضي الله عنه bahwa telah datang kepada Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم seseorang laki-laki buta. Ia berkata: “Wahai Rosuulullooh, tidak ada yang menuntunku untuk pergi ke masjid”. Orang buta itu meminta keringanan. Karena ia buta maka diberilah ia keringanan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم agar shalatnya cukup di rumahnya. Ketika orang buta itu berpaling hendak pergi, dan belum jauh jaraknya, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم memanggilnya kembali, dan bertanya: “Apakah kamu mendengar panggilan shalat (Adzan) dari rumahmu ?”. Kata orang buta itu: “Ya, saya mendengar”. Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda: “Kalau begitu kamu datanglah ke masjid untuk shalat berjamaah”.
Atas dasar Hadits tersebut maka shalat fardhu berjama’ah adalah wajib.Bukan sebaiknya, seyogyanya atau berupa anjuran, melainkan suatu keharusan (kewajiban).
2.
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ أَثْقَلَ صَلاَةٍ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلاَةُ الْعِشَاءِ وَصَلاَةُ الْفَجْرِ
Hadits yang shohiih dari Abu Hurairah رضي الله عنه, diriwayatkan oleh Imam Al Bukhoory dan Imaam Muslim, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda: “Shalat apa pun bagi orang munafiq itu berat. Diantara shalat yang paling berat bagi orang munafiq adalah adalah shalat ‘Isya dan shalat Fajar (Subuh)”. (Hadits Riwayat Imaam Mulim no: 1514)
Jangankan shalat ‘Isya dan Subuh, shalat-shalat yang lain juga berat rasanya bagi munafiq. Itulah tanda-tanda orang munafiq.
Kalau ada orang yang punya rasa malas untuk melaksanakan shalat, maka sesungguhnya ia sudah punya sifat munafiq pada dirinya. Apalagi Shalat ‘Isya dan Shubuh. Jelas menunjukkan bahwa orang itu munafiq. Disitu sudah menggambarkan bahwa sesungguhnya orang munafiq itu bodoh dan mereka adalah orang-orang yang mendustakan.
وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا
Seterusnya Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda: “Kalau saja orang munafiq itu tahu pahala dan rahasia apa yang dikandung dalam dua shalat itu (‘Isya dan Subuh), sungguh mereka akan datang walaupun dengan merangkak”.
Kalau mereka tidak datang untuk shalat Isya dan shalat Shubuh berjamaah di masjid, itu menunjukkan bahwa mereka adalah orang yang tidak tahu. Kalau mereka tidak tahu berarti mereka orang yang bodoh, jahil, atau mereka tahu tetapi tidak mau mengamalkan apa yang diketahuinya.
وَلَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِالصَّلاَةِ فَتُقَامَ ثُمَّ آمُرَ رَجُلاً فَيُصَلِّىَ بِالنَّاسِ ثُمَّ أَنْطَلِقَ مَعِى بِرِجَالٍ مَعَهُمْ حُزَمٌ مِنْ حَطَبٍ إِلَى قَوْمٍ لاَ يَشْهَدُونَ الصَّلاَةَ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ بِالنَّارِ
Lalu Hadits itu diteruskan: “Sungguh aku telah berfikir (merasa gundah dan dengan kemauan keras) aku perintahkan untuk melakukan shalat dan aku perintahkan seseorang (kalau mau)untuk menjadi imam shalat, kemudian aku akan pergi dengan orang-orang yang mempunyai sabuk-sabuk dari kayu, menuju suatu kaum yang tidak hadir melaksanakan shalat di masjid, lalu akan aku bakar rumah-rumah mereka dengan api”.
Haditsnya shohiih riwayat Imaam Al Bukhoory dan Imaam Muslim. Jadi perintah itu jelas sekali bahwa shalat fardhu berjama’ah itu bukan hanya anjuran melainkan ditekankan sekali, sehingga sabda beliau صلى الله عليه وسلم, rumah mereka akan dibakar. Menunjukkan bahwa shalat berjama’ah itu merupakan keharusan, bukan sekedar anjuran.
3. Hadits dari Abu Darda رضي الله عنه kata beliau, saya mendengar Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
عن أبي الدرداء : سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول : ما من ثلاثة نفر في قرية و لا بدو لا تقام فيهم الصلاة إلا استحوذ عليهم الشيطان فعليك بالجماعة فإنما يأكل الذئب من الغنم القاصية ( رواه الحاكم
“Tidaklah dari tiga orang yang hidup di suatu desa lalu tidak ditegakkan di tengah-tengah mereka shalat berjama’ah, kecuali syaithoon telah menguasai mereka bertiga sehingga mereka dikuasai oleh kehendak syaithoon, dan mereka terhalang untuk menjalankan perintah Alloohسبحانه وتعالى. Maka dari itu kalau ada tiga orang di satu desa, kota, maka mereka harus melakukan shalat berjama’ah, karena serigala akan menerkam kambing yang sendirian”.
Maka kita tidak boleh shalat sendirian. Karena akan “diterkam” oleh syaithoon, akan digoda oleh syaithoon.
4. Hadits dari ‘Abdullooh bin ‘Abbas رضي الله عنه, kata beliau Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
عن ابن عباس
عن النبي صلى الله عليه و سلم قال ( من سمع النداء فلم يأته فلا صلاة
له إلا من عذر
“Barangsiapa mendengar panggilan Adzan lalu ia tidak memenuhi panggilan adzan itu, maka shalatnya tidak termasuk sah.(Atau shalatnya sah, tetapi tidak sempurna), kecuali bila ada udzur”. (Hadits Riwayat Imaam Ibnu Maajah no: 793, dishohiihkan oleh Syaikh Nashiruddin al Albaany)
(Misalnya udzurnya karena hujan deras, atau dalam keadaan tidak aman, dsbnya). Menurut Imam Syafi’iy udzurnya bila hujan deras hingga air menggenang setinggi dua matakaki.
5. Juga ada Hadits shohiih sebagai berikut:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَلْقَى اللَّهَ غَدًا مُسْلِمًا فَلْيُحَافِظْ عَلَى هَؤُلاَءِ الصَّلَوَاتِ حَيْثُ يُنَادَى بِهِنَّ
Hadits dari Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه, kata beliau Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:“Barang siapa ada rasa bahagia untuk bertemu dengan Allooh kelak (di hari Kiamat) dalam keadaan muslim, maka hendaknya ia pelihara shalat-shalat itu ketika ia diseru untuk menunaikannya”.(Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory dan Imaam Muslim)
Maksudnya, kalau anda ingin bertemu dengan Allooh سبحانه وتعالى kelak di hari Kiamat, hendaklah anda penuhi shalat lima waktu itu, karena pahalanya besar dan anda akan bertemu dengan Allooh سبحانه وتعالى.
Hadits tersebut diteruskan, sabda Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم:
فَإِنَّ اللَّهَ شَرَعَ لِنَبِيِّكُمْ -صلى الله عليه وسلم- سُنَنَ الْهُدَى وَإِنَّهُنَّ مِنْ سُنَنِ الْهُدَى
“Sungguh Allooh سبحانه وتعالى telah menetapkan pada Nabi kalian sunnah-sunnah yang berupa petunjuk. Dan shalat lima waktu itu bagian dari sunnah–sunnah yang diajarkan oleh Nabikalian”.
Selanjutnya sabda Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم:
وَلَوْ أَنَّكُمْ صَلَّيْتُمْ فِى بُيُوتِكُمْ كَمَا يُصَلِّى هَذَا الْمُتَخَلِّفُ فِى بَيْتِهِ لَتَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ وَلَوْ تَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ لَضَلَلْتُمْ
“Kalau seandainya kalian shalat di rumah kalian sebagaimana shalat ini terlambat di rumah kalian, berarti kalian telah meninggalkan sunnahku. Dan kalau kalian tinggalkan sunnah Nabi kalian, niscaya kalian akan menjadi orang yang sesat”.
Dengan kata lain berarti orang yang meninggalkan shalat lima waktu berjama’ah di masjid adalah orang yang sesat.
Selanjutnya sabda Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم:
وَمَا يَتَخَلَّفُ عَنْهَا إِلاَّ مُنَافِقٌ مَعْلُومُ النِّفَاقِ
“Tidaklah ada orang terlambat atau tidak melaksanakan shalat fardhu di masjid, kecuali orang itu munafiq yang munafiqnya itu terang-terangan”.
Demikianlah 5 hadits yang mengatakan bahwa shalat lima waktu berjama’ah di masjid adalah harus. Bukan sekedar anjuran. Jangankan lima hadits, bagi kita satu hadits juga sudah cukup untuk menjadikan shalat lima waktu berjamaah di masjid adalah wajib bagi laki-laki.
Keutamaan Shalat berjamaah di masjid.
Keutamaannya adalah disamping kita mengamalkan perintah, juga akan ditambah bonus. Banyak dalilnya, diantaranya:
1. Hadits dari ‘Abdullooh bin ‘Umar رضي الله عنه. Kata beliau, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « صَلاَةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلاَةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً »
“Shalat berjamaah itu lebih afdhol dibandingkan dengan seseorang shalat sendirian dengan 27 derajat”. (Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory dan Imaam Muslim)
Itu bukan menunjukkan status hukum, melainkan menunjukkan tentang keutamaan bagi orang yang menunaikan shalat berjama’ah di masjid.
2. Hadits Shohiih sebagai berikut:
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « صَلاَةُ الرَّجُلِ فِى جَمَاعَةٍ تَزِيدُ عَلَى صَلاَتِهِ فِى بَيْتِهِ وَصَلاَتِهِ فِى سُوقِهِ بِضْعًا وَعِشْرِينَ دَرَجَةً وَذَلِكَ أَنَّ أَحَدَهُمْ إِذَا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ أَتَى الْمَسْجِدَ لاَ يَنْهَزُهُ إِلاَّ الصَّلاَةُ لاَ يُرِيدُ إِلاَّ الصَّلاَةَ فَلَمْ يَخْطُ خَطْوَةً إِلاَّ رُفِعَ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ وَحُطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةٌ حَتَّى يَدْخُلَ الْمَسْجِدَ فَإِذَا دَخَلَ الْمَسْجِدَ كَانَ فِى الصَّلاَةِ مَا كَانَتِ الصَّلاَةُ هِىَ تَحْبِسُهُ وَالْمَلاَئِكَةُ يُصَلُّونَ عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِى مَجْلِسِهِ الَّذِى صَلَّى فِيهِ يَقُولُونَ اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اللَّهُمَّ تُبْ عَلَيْهِ مَا لَمْ يُؤْذِ فِيهِ مَا لَمْ يُحْدِثْ فِيهِ
Dari Abu Hurairah رضي الله عنه kata beliau, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda: “Shalat seseorang dalam berjama’ah akan menambah dibanding ia shalat di rumahnya. Jika ia shalat di pasarnya sebanyak 27 tingkat, yang demikian itu seseorang dari mereka hendaknya berwudhu dengan wudhu yang sebaik-baiknya kemudian datang di masjid, tidak ada yang mendorong ia pergi ke masjid kecuali shalat, maka orang yang pergi ke masjid dengan dorongan seperti disebutkan diatas, tidak satu langkah pun dari kakinya naik satu tingkat. Dan dihapuskan dengan satu langkah itu setiap satu kesalahan (dosa), sampai ia masuk ke masjid.Orang itu terhukumi dengan shalat. Jika orang tersebut masuk mesjid, orang tersebut dihukumi oleh Allooh سبحانه وتعالى seolah-olah orang itu tidak terputus-putusnya melakukan shalat selama hanya shalat yang ia cari. Bahkan malaikat mendoakan kalian kalau kalian berada di masjid.
(Hadits Riwayat Imaam Muslim no: 1538)
Karena apa? Selama kita duduk di Majelis kita (di Masjid), menurut sabda Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, malaikat selalu mendoakan kalian selama kalian tetap di dalamnya. Malaikat mendoakan:
اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اللَّهُمَّ تُبْ عَلَيْهِ
Allahummarhamhu, Allahummaghfirlahu, Allahumma tub’alaihi
(Ya Allooh, sayangilah orang ini, ya Allooh ampunilah dosa-dosa orang ini, ya Allooh terimalah taubat orang ini), selama ia tidak batal.
Singkatnya :
Anda dari rumah niatnya harus tulus, datang di masjid dalam keadaan suci (berwudhu), dan di masjid segera cari tempat, kemudian shalat dan usahakan tidak batal (berhadats). Dan selama duduk disitu anda dihukumi sebagai sedang shalat dan didoakan oleh malaikat dengan tiga doa seperti tersebut diatas.
Nilainya tinggi sekali. Tidak bisa dinilai dengan uang atau apa pun. Shalat fardhu berjama’ah itu banyak sekali keuntungannya. Tetapi justru banyak kaum muslimin yang tidak tahu, yang akhirnya banyak yang tidak memprioritaskan untuk shalat berjama’ah.
Berapa orang bisa disebut berjamaah?
Menurut Hadits sebagaimana tersebut dibawah ini ada empat riwayat:
Pertama:
Hadits shohiih sebagai berikut:
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ بِتُّ عِنْدَ خَالَتِي فَقَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي مِنْ اللَّيْلِ فَقُمْتُ أُصَلِّي مَعَهُ فَقُمْتُ عَنْ يَسَارِهِ فَأَخَذَ بِرَأْسِي فَأَقَامَنِي عَنْ يَمِينِهِ
Dari ‘Abdullooh bin ‘Abbas رضي الله عنه, (diriwayatkan oleh Imaam Al Bukhoory dan Imaam Muslim) beliau berkata: “Suatu malam aku menginap bersama bibiku (Maimunah, adik ibuku), Nabi صلى الله عليه وسلم bangun malam, shalat malam, aku ikut bangun dan shalat bersama beliau,berdiriku di sebelah kiri (ketika itu ‘Abdullooh bin Abbas رضي الله عنه masih kecil), lalu beliau (Nabi Muhammd صلى الله عليه وسلم) memegang kepalaku, digeserlah aku disebelah kanan beliau. Lalu aku di sebelah kanan beliau.”
(Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 699)
Atas dasar hadits tersebut, shalat berjamaah bisa terjadi dengan dua orang. Yaitu Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dan ‘Abdullooh bin Abbas رضي الله عنه. Yang satu dewasa (Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم) dan yang satunya lagi anak-anak (‘Abdullooh bin Abbas رضي الله عنه). Maka shalat berjamaah adalah sah meskipun hanya dengan dua orang. Bahkan kata ‘Ulama, jangankan dengan orang dewasa, dengan anak belum baligh pun, sah shalat berjama’ahnya.
Dalam hadits tersebut ada kaitannya dengan hukum shalat yang lain, hukum kedua, yaitu bahwa posisi ma’mum ketika hanya berdua (dua orang), maka ma’mum posisinya disebelah kanan imaam dan sejajar.
Hukum ketiga, gerakan (bergerak) dalam shalat karena diperlukan, itu boleh, seperti misalnya Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم memegang kepala ‘Abdullooh bin Abbas رضي الله عنه lalu digeser ke sebelah kanan beliau, itu boleh. Dalam rangka memperbaiki shalat, bergeser atau bergerak, diperbolehkan. Sementara banyak kaum muslimin karena tidak tahu, karena tidak mengaji, tidak mempelajari, disuruh rapat, atau disuruh bergeser sedikit untuk merapatkan shafnya, banyak yang tidak mau. Karena terlalu mengikuti aturan bahwa ketika shalat tidak boleh bergerak-gerak. Padahal bergerak untuk kepentingan shalat bahkan dicontohkan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
Kedua: Hadits dari Abu Saa’id Al Khudry رضي الله عنه, diriwayatkan oleh Imaam Abu Daawud, Imaam Hakim,
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم : مَنِ اسْتَيْقَظَ مِنَ اللَّيْلِ فَأَيْقَظَ أَهْلَهُ فَصَلَّيَا رَكْعَتَيْنِ جَمِيعًا كُتِبَا لَيْلَة إِذٍ مِنَ الذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ
Kata beliau رضي الله عنه, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda: “Siapa saja yang bangun di malam hari, lalu ia membangunkan keluarganya (istrinya/suaminya) lalu dua-duanya shalat berjama’ah, maka orang ini akan dicatat termasuk orang yang paling banyak berdzikir dari kalangan laki-laki maupun perempuan”.
Dari hadits tersebut bisa kita pahami bahwa :
1. Shalat berjamaah bisa dengan dua orang saja.
2. Shalat Tahajjud boleh dilakukan dengan berjama’ah.
3. Di antara pahala, ganjaran keutamaan shalat malam dengan keluarga menyebabkan kita dicatat oleh Allooh سبحانه وتعالى sebagai tergolong orang yang banyak berdzikir kepada Allooh سبحانه وتعالى. Artinya, bila kita tidak melakukannya maka kita termasuk orang yang tidak berdzikir, termasuk orang yang lalai.
Ketiga: Dari Abu Saa’id Al Khudry رضي الله عنه, beliau meriwayatkan ada seseorang masuk ke dalam masjid, ketika itu Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم) telah (selesai) melakukan shalat berjamaah bersama para shohabat. Maka Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
عن أبي سعيد الخدري : ان رجلا دخل المسجد وقد صلى رسول الله صلى الله عليه و سلم بأصحابه فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم من يتصدق على هذا فيصلي معه فقام رجل من القوم فصلى معه
“Siapakah yang mau bersodakoh dengan orang ini, karena orang ini datang terlambat? Dan datangnya belum shalat. (Hadits Riwayat Imaam Ahmad dan Imaam Ibnu Hibban)
(Maksudnya, siapa yang mau bershodaqoh shalat berjama’ah dengan orang yang terlambat datang itu). Salah seorang di antara para shohabat bangkit lalu shalat bersama orang yang baru datang itu.
Menunjukkan bahwa shalat berjama’ah itu sah meskipun hanya dengan dua orang saja. Dari hadits tersebut tergambar bahwa ada shalat berjama’ah dengan jama’ah yang banyak, yaitu Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dengan para shohabatnya dan satu lagi seseorang (yang datang terlambat) dengan satu orang ma’mum yaitu seorang shohabat yang bangkit yang dianjurkan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Berarti semakin banyak jama’ahnya, maka semakin afdhol berjama;ahnya, tetapi tetap sah berjama’ahnya meskipun hanya dua orang saja (Imaam dan seorang ma’mum).
Ditambah lagi hukumnya bahwa boleh seseorang menegakkan kembali shalat berjama’ah gelombang kedua kalau imam rawatib yang ada di situ selesai dari shalat berjama’ah. Asal tidak sering terjadi oleh orang yang itu-itu juga, karena bermakna munaafasah dan fitnah.
Ketiga: Hadits dari Ubay bin Ka’ab رضي الله عنه:
وَإِنَّ صَلاَةَ الرَّجُلِ مَعَ الرَّجُلِ أَزْكَى مِنْ صَلاَتِهِ وَحْدَهُ وَصَلاَتُهُ مَعَ الرَّجُلَيْنِ أَزْكَى مِنْ صَلاَتِهِ مَعَ الرَّجُلِ وَمَا كَثُرَ فَهُوَ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى
Beliau رضي الله عنه berkata, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda: “Shalat seseorang bersama seseorang, yang demikian itu lebih suci dibanding dengan bila ia shalat sendirian.Dan shalat bersama ma’mum dua orang lebih suci dibanding shalatnya bersama satu orang. Dan semakin banyak ma’mumnya,semakin Allooh سبحانه وتعالى cinta”.
(Hadits Riwayat Imaam Abu Daawud no: 554)
Hadits tersebut memberikan dalil kepada kita bahwa shalat berjama’ah itu penting dan harus, serta berderajat tinggi.
Wanita ikut hadir di masjid.
Hukumnya boleh wanita hadir di masjid, asalkan memenuhi syarat. Diantara syaratnya sesuai dengan hadits Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم adalah :
1. Mahramnya (walinya) mengizinkannya. Dan jangan dilarang. Karena tidak boleh seorang laki-laki melarang wanita untuk pergi ke masjid.
2. Tidak boleh memperlihatkan perhiasan, memakai harum-haruman, dan make-up.
3. Aman dari fitnah. Misalnya dalam perjalanan ke masjid banyak godaan laki-laki, dan sejenisnya. Walinya berhak tidak memberikan izin.
Hadits-hadits yang menerangkan masalah tersebut adalah :
Pertama: Hadits yang diriwayatkan oleh Imaam Muslim, Imaam Ahmad dan Imaam Abu Daawud. Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « لاَ تَمْنَعُوا إِمَاءَ اللَّهِ مَسَاجِدَ اللَّهِ
“Jangan kamu larang para wanita untuk mendatangi masjid-masjid Allooh, tetapi ingat jangan mereka keluar menuju masjid itu dengan memakai wangi-wangian”. (Hadits Riwayat Imaam Muslim no: 1018)
Kedua: Dalam hadits lain, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَيُّمَا امْرَأَةٍ أَصَابَتْ بَخُورًا فَلاَ تَشْهَدْ مَعَنَا الْعِشَاءَ الآخِرَةَ
“Siapapun wanita yang mengenakan wangi-wangian jangan ikut berjamaah shalat Isya’ bersamaku”. (Hadits Riwayat Imaam Muslim no: 1026)
Ketiga: Hadits shohiih diriwayatkan oleh Imaam Ibnu Majah, beliau berkata, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
عن أبي موسى : عن النبي صلى الله عليه و سلم قال كل عين زانية والمرأة إذا استعطرت فمرت بالمجلس فهي كذا وكذا يعني زانية
“Wanita siapapun yang memakai wangi-wangian, lalu ia keluar rumahnya menuju masjid, maka shalatnya tidak akan diterima sampai ia mandi terlebih dahulu”.(Hadits Riwayat Imaam Tirmidzy no: 2786)
Keempat: Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لاَ تَمْنَعُوا نِسَاءَكُمُ الْمَسَاجِدَ وَبُيُوتُهُنَّ خَيْرٌ لَهُنَّ
“Jangan kalian larang wanita untuk datang ke masjid, walaupun demikian rumah-rumah mereka itu lebih baik bagi mereka”. (Hadits Riwayat Imaam Abu Daawud no: 567)
Kelima: Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- :« لأَنْ تُصَلِّىَ الْمَرْأَةُ فِى بَيْتِهَا خَيْرٌ لَهَا مِنْ أَنْ تُصَلِّىَ فِى حُجْرَتِهَا
“Shalat seorang wanita di rumahnya lebih afdhol bila shalatnya itu dilakukan di kamar yang lebih kecil (tersembunyi)”. (Hadits Riwayat Imaam Baihaqy)
Artinya, bagi wanita semakin tersembunyi shalatnya, semakin afdhol. Karena wanita itu banyak memunculkan fitnah.
Hikmah disyari’atkannya shalat berjama’ah.
Bahwa shalat berjama’ah itu banyak hikmahnya:
1. Dengan berjama’ah berarti kita telah mematuhi perintah Allooh سبحانه وتعالى.
2. Kita akan mendapat ganjaran dari Allooh سبحانه وتعالى.Ganjarannya dilipat-gandakan bahkan kebaikan-kebaikan yang lain. Misalnya ganjarannya dilipatkan 27 kali lipat.
3. Dengan berjama’ah kita telah mendidik diri untuk mengikis sifat nifaq (munafiq) dalam diri kita.
4. Dengan shalat berjama’ah sesungguhnya kita telah mengalahkan syaithoon, yang selalu mengajak kita untuk tidak berjama’ah.
5. Dengan shalat berjama’ah berarti kita menghidupkan Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, yaitu shalat di masjid. Jadi shalat berjama’ah di masjid sama dengan menghidupkan Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
6. Itulah yang dimaksud dengan Syi’ar Islam. Syi’ar Islam bukan dengan Mauludan, Nifsu Sya’ban atau Isra’ Mi’raj. Syi’ar Islam adalah shalat berjama’ah di masjid.
7. Dengan berjama’ah kaum muslimin satu sama lain saling bertemu, saling mengenal, dan saling ber-muwaajahah. Dan merupakan hikmah tersendiri.
8. Dengan berjama’ah shalat fardhu kita dididik untuk disiplin. Ingat jam sekian adzan, setelah adzan antara sekian menit lalu iqomat, maka kita akan menyesuaikan waktu yang berkaitan dengan waktu shalat. Begitulah kita dididik disiplin oleh shalat berjama’ah. Ketika Imaam bertakbir kita pun takbir. Ketika Imaam ruku’ dan sujud kita pun ruku dan sujud. Ketika Imaam salam, kita pun salam. Tidak boleh mendahului dan membelakangi.Sayangnya kaum muslimin belum menyerap makna disiplin dalam shalat itu dalam kehidupan sehari-hari.
9. Shalat berjama’ah merupakan simbul kehidupan umat Islam bermasyarakat.
10. Berjama’ah di masjid merupakan bagian dari memakmurkan masjid. Kalau kita ingin memakmurkan masjid, shalatlah berjama’ah di masjid, jangan sampai masjid itu digembok (dikunci) terus.Hendaknya masjid selalu terbuka lima kali sehari semalam untuk beribadah.
11. Bahwa wanita boleh hadir di masjid untuk bersama laki-laki berjama’ah, asal memenuhi kriteria dan syarat seperti disebutkan di atas.

Categories: Fiqih, Uncategorized | 1 Komentar
 
 

YAUMUL HASYR [HARI DIKUMPULKAN]

hari-dikumpulkan YAUMUL HASYR

HARI DIKUMPULKAN (YAUMUL HASYR)
Oleh: Ustadz Achmad Rofi’i, Lc.

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allooh سبحانه وتعالى,
Bahasan kita kali ini adalah tentang “Hari Dikumpulkan” atau biasa kita sebut dengan:Yaumul Mahsyar, atau dalam Bahasa Arabnya adalah “Yaumul Hasyr”; yang merupakan kelanjutan dari kajian lalu tentang Hari Kebangkitan.
Sudah banyak dalil yang kita bahas berkenaan dengan Hari Kebangkitan. Diantara dalil tersebut antara lain adalah sebagaimana Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam Al Qur’an Surat Ar Ruum(30) ayat 27 :
وَهُوَ الَّذِي يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ وَهُوَ أَهْوَنُ عَلَيْهِ وَلَهُ الْمَثَلُ الْأَعْلَى فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
Artinya:
“Dan Dialah (Allooh) yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan)-nya kembali, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya. Dan bagi-Nya lah sifat yang Maha Tinggi di langit dan di bumi; dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
Juga sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al Anbiyaa’ (21) ayat 104 :
يَوْمَ نَطْوِي السَّمَاء كَطَيِّ السِّجِلِّ لِلْكُتُبِ كَمَا بَدَأْنَا أَوَّلَ خَلْقٍ نُّعِيدُهُ وَعْداً عَلَيْنَا إِنَّا كُنَّا فَاعِلِينَ
Artinya:
“(Yaitu) pada hari Kami gulung langit sebagaimana menggulung lembaran-lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati; sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya..”
Yaumul Mahsyar atau Yaumul Hasyr adalah “Hari dimana manusia dikumpulkan oleh Allooh سبحانه وتعالى”. Mereka dibangunkan dari kubur mereka, lalu akan dikumpulkan.
Kemudian mereka pun berdiri dan dikumpulkan. Berapa lama berdirinya, bagaimana keadaan mereka, apa yang akan dilakukan terhadap mereka selama berdiri tersebut, serta apa yang dialami setelah berdiri itu, adalah yang insya Allooh akan dibahas dalam kajian kita kali ini.
Pada intinya, yang perlu kita ingat adalah bahwa setiap kita akan mengalami semua hal itu. Setelah kita mati, maka kita akan dibangkitkan dan lalu dikumpulkan.
Proses itu merupakan tahapan dan akan kita alami dua perkara :
Pertama, kia akan bertemu dengan apa yang disebut sebagai Al Haudh (Telaga Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم) yang bernama Al Kautsar.
Dan dalam Al Qur’an ada sebuah surat yang disebut dengan: Surat Al Kautsar, dimana surat tersebut memberikan penjelasan sehubungan dengan Hari Al Hasyr; dan siapakah yang akan meminum air dari Telaga Al Kautsar tersebut. Hendaknya kita melakukan introspeksi terhadap diri kita masing-masing, apakah kita tergolong layak meminum air telaga tersebut ataukah tidak.
Kedua, akan terjadi Asy Syafaa’ah.
Yaumul Hasyr itu berkaitan erat dengan urusan Asy Syafaa’ah. “Asy Syafaa’ah” artinya adalah “Penggenapan”, dimana seseorang diberikan rekomendasioleh Allooh سبحانه وتعالى, melalui Rosuul-Nya صلى الله عليه وسلم didalam melaksanakan perjalanan akhiratnya, apakah ia tergolong yang mendapatkan kemudahan atau bahkan mendapatkan pembebasan dari‘Adzaabun Naar (siksa neraka) ataukah tidak.
Setelah itu, kita akan mengalami tahapan berikutnya yaitu Al Hisaab.
“Al Hisaab” artinya adalah “Perhitungan”, dimana manusia akan diperlihatkan oleh Allooh سبحانه وتعالى dengan apa yang disebut dalam bahasa ‘aqiidah yakni: Al ‘Ardhu. Itulah hari dimana kita akan ditunjukkan catatan amalan diri kita masing-masing. Adakah kita tergolong yang menerima catatan amalan tersebut dengan tangan kanan ataukah dengan tangan kiri. Sesungguhnya, amatlah beruntung orang-orang yang menerima catatan amalan tersebut dengan tangan kanannya, dan celakalah bila tergolong orang-orang yang menerima catatan amalan tersebut dengan tangan kirinya.
Tahapan berikutnya adalah Al Miizaan, artinya “Ditimbang”. Adakah kita tergolong yang lebih berat timbangan amal sholiihnya ataukah justru lebih berat timbangan keburukannya.
Tahapan demi tahapan tersebut insya Allooh akan kita bahas satu-per-satu.
Berbagai dalil tentang Yaumul Mahsyar
Dalil yang menyebutkan tentang adanya Yaumul Mahsyar (Al Hasyr) itu banyak sekali, baik di dalam Al Qur’an maupun di dalam Hadits-Hadits Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Dalil-dalil tersebut menunjukkan bahwa hari itu akan terjadi dan akan dialami oleh setiap umat manusia. Termasuk orang kaafir pun akan mengalaminya.
Perhatikanlah firman Allooh سبحانه وتعالى di dalam Al Qur’an Surat Al An’aam (6) ayat 36 – 38berikut ini:
Ayat 36 :
إِنَّمَا يَسْتَجِيبُ الَّذِينَ يَسْمَعُونَ وَالْمَوْتَى يَبْعَثُهُمُ اللّهُ ثُمَّ إِلَيْهِ يُرْجَعُونَ
Artinya:
“Hanya orang-orang yang mendengar saja lah yang mematuhi (seruan Allooh), dan orang-orang yang mati (hatinya), akan dibangkitkan oleh Allooh, kemudian kepada-Nya-lah mereka dikembalikan.”
Ayat 37 :
وَقَالُواْ لَوْلاَ نُزِّلَ عَلَيْهِ آيَةٌ مِّن رَّبِّهِ قُلْ إِنَّ اللّهَ قَادِرٌ عَلَى أَن يُنَزِّلٍ آيَةً وَلَـكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لاَ يَعْلَمُونَ
Artinya:
“Dan mereka (orang-orang musyrik Mekkah) berkata: “Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) suatu mu`jizat dari Robb-nya?” Katakanlah: “Sesungguhnya Allooh kuasa menurunkan suatu mu`jizat, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui”.”
Maksudnya, orang-orang kaafir ketika itu berkata : “Mengapa tidak diturunkan mu’jizat dari Allooh سبحانه وتعالى? Mana buktinya bahwa manusia itu akan mati lalu akan dibangkitkan setelah mati?”
Dan bukti yang diminta oleh orang-orang kaafir tersebut bukanlah berupa dalil, melainkan yang mereka minta adalah bukti nyata seperti yang pernah diminta oleh kaum-kaum sebelum umat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, yaitu pembuktian secara inderawi, bukti yang bisa dilihat secara langsung oleh mata kepala mereka.
Maka Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم pun diperintahkan oleh Allooh سبحانه وتعالى agar menjawab dengan: “Sesungguhnya Allooh kuasa menurunkan mu’jizat sebagai bukti tentang akan terjadinya kebangkitan, akan tetapi kebanyakan mereka tidak tahu tentang pembuktian itu”.
Ketidaktahuan mereka itu bisa jadi karena kejahilan mereka atau karena mereka tidak mau menerima firman Allooh سبحانه وتعالى dan dalil-dalil yang berasal dari wahyu.
Ayat 38 :
وَمَا مِن دَآبَّةٍ فِي الأَرْضِ وَلاَ طَائِرٍ يَطِيرُ بِجَنَاحَيْهِ إِلاَّ أُمَمٌ أَمْثَالُكُم مَّا فَرَّطْنَا فِي الكِتَابِ مِن شَيْءٍ ثُمَّ إِلَى رَبِّهِمْ يُحْشَرُونَ
Artinya:
“Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat-umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatu pun di dalam Al Kitab, kemudian kepada Robb-lah mereka dihimpunkan (dikumpulkan).”
Maksud daripada ayat diatas adalah: Jangankan manusia, bahkan binatang-binatang pun termasuk burung yang berterbangan sekalipun akan dikumpulkan oleh Allooh سبحانه وتعالى. Itu merupakan bukti bagi kita, yang tidaklah boleh kita ragu bahwa kita akan mengalami hari dimana kita dikumpulkan oleh Allooh سبحانه وتعالى, untuk menunggu keputusan apakah yang akan terjadi terhadap diri kita masing-masing setelahnya. Kita akan dikumpulkan dalam keadaan telanjang, dimana kita akan menerima pengadilan Allooh سبحانه وتعالى. Pengadilan dengan adil yang sebenar-benarnya. Tidak ada lagi suap-menyuap sebagaimana yang di dunia ini bisa saja terjadi, dimana orang-orang yang kaya atau orang-orang yang berpengaruh dan memiliki jabatan bisa saja “membeli hukum” agar dia dapat terlepas dari pengadilan di dunia; tetapi di Hari Akhirat nanti hal itu tidak bisa lagi dilakukannya.
Perhatikan pula firman Allooh سبحانه وتعالى dalam Surat Al Ma’aarij (70) ayat 43-44 berikut ini:
Ayat 43:
يَوْمَ يَخْرُجُونَ مِنَ الْأَجْدَاثِ سِرَاعاً كَأَنَّهُمْ إِلَى نُصُبٍ يُوفِضُونَ
Artinya:
“(yaitu) pada hari mereka keluar dari kubur dengan cepat seakan-akan mereka pergi dengan segera kepada berhala-berhala (sewaktu di dunia)”
Maksud dari ayat diatas adalah bahwa mereka akan dipanggil oleh Malaikat: “Wahai manusia, kalian semua harus keluar dari kubur kalian, dan berkumpul (di suatu tempat)”. Mereka akan digiring oleh Malaikat ke suatu tempat dan akan memenuhi tempat tersebut.
Ayat 44 :
خَاشِعَةً أَبْصَارُهُمْ تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ ذَلِكَ الْيَوْمُ الَّذِي كَانُوا يُوعَدُونَ
Artinya:
“dalam keadaan mereka menundukkan pandangannya (serta) diliputi kehinaan. Itulah hari yang dahulunya diancamkan kepada mereka.”
Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allooh سبحانه وتعالى,
Sebelum Yaumul Mahsyar itu pasti akan menimpa diri kita, hendaknya kita mempersiapkan diri di dunia ini dengan banyak beramal shoolih. Kelak kita akan datang menghadap kepada Allooh سبحانه وتعالى dalam keadaan menundukkan pandangan dan diliputi kehinaan. Sungguh, di kala itu tidak ada yang berani memberontak kepada Allooh سبحانه وتعالى. Yang ada hanyalah perasaan takut dan hina dikala menghadap Allooh سبحانه وتعالى pada Yaumul Mahsyar.
Apa yang harus kita persiapkan dan akan kita pertanggungjawabkan kepada Allooh سبحانه وتعالى?
Seluruh apa yang kita perbuat, apa yang kita yakini, apa yang kita nyatakan di dunia ini akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Allooh سبحانه وتعالى.
Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam QS. Al Isroo’ (17) ayat 36, bahwa pendengaran, penglihatan dan hati kita, seluruhnya akan dimintai pertanggunganjawab oleh-Nya:
وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولـئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولاً
Artinya:
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabannya.”
Oleh karena itu hendaknya kita berhati-hati. Kendalikanlah telinga kita, kendalikanlah pandangan mata kita, kendalikanlah seluruh anggota tubuh kita dan kendalikan pula hati kita untuk selalu berjalan di atas jalan Al Haq, karena semuanya itu akan ditanya oleh Alloohسبحانه وتعالى. Termasuk juga pekerjaan kita sehari-harinya.
Sebagaimana dalam Hadits Riwayat Al Imaam Al Bukhoory no: 893, dari Shohabat Ibnu ‘Umar رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
وَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَمَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
Artinya:
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang kepemimpinannya”
Walaupun ada diantara kita yang masih hidup membujang, belum punya isteri ataupun keluarga, tetapi tetap saja dia akan ditanya tentang kepemimpinan atas dirinya sendiri. Kaki, tangan, mata, pendengarannya akan tetap diminta pertanggungjawabannya oleh Allooh سبحانه وتعالى.
Dan di hadapan Allooh سبحانه وتعالى, tidak ada yang bisa membantah. Maka sebelum penyesalan itu terjadi, sebelum kita dikumpulkan di Yaumul Mahsyar tersebut, maka marilah mulai dari sekarang, kita kembali kepada jalan Allooh سبحانه وتعالى. Diatas jalan-Nya yang lurus dan benar.
Berbagai Hadits yang menjelaskan berbagai keadaan manusia di Hari Mahsyar :
Hadits Riwayat Al Imaam Al Bukhoory no: 6521 dan Al Imaam Muslim no: 2790, dari Shohabat Sahl bin Sa’ad As Sa’idi رضي الله عنه, dimana beliau berkata: “Aku mendengar Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى أَرْضٍ بَيْضَاءَ عَفْرَاءَ كَقُرْصَةِ النَّقِىِّ لَيْسَ فِيهَا عَلَمٌ لأَحَدٍ
Artinya:
“Akan dibangkitkan, dikumpulkan semua manusia di atas bumi yang putih, seperti kapas yang jernih. Tidak ada tanda (identitas) bagi seseorang”.
Makna dari Hadits tersebut adalah bahwa:
1. Manusia akan dibangkitkan,
2. Manusia akan dikumpulkan di bumi yang putih.
3. Ketika itu manusia tidak ada yang mengenal satu sama lainnya.
Juga didalam Hadits Riwayat Al Imaam Al Bukhoory no: 6527 dan Al Imaam Muslim no: 2859, dari Shohabiyyah ‘Aaisyah رضي الله عنها, dimana beliau berkata: “Aku mendengar Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلاً ». قُلْتُ(عَائِشَةُ) يَا رَسُولَ اللَّهِ النِّسَاءُ وَالرِّجَالُ جَمِيعًا يَنْظُرُ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ قَالَ -صلى الله عليه وسلم- « يَا عَائِشَةُ الأَمْرُ أَشَدُّ مِنْ أَنْ يَنْظُرَ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ
Artinya:
“Manusia akan dikumpulkan pada hari Kiamat, tidak beralas kaki, tidak berpakaian, tidak berkhitan”.
Aku (‘Aaisyah رضي الله عنها) bertanya lagi: “Ya Rosuulullooh, kalau demikian tentu satu sama lain akan saling melihat, apakah tidak malu?”.
Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda: “Keadaan manusia pada hari itu sangatlah dahsyat, lebih dahsyat berfikir tentang keadaan diri mereka daripada melihat aurot masing-masing”.
Maksud dari Hadits tersebut adalah bahwa manusia dikala itu, masing-masing sudah sangat sibuk memikirkan keadaan dirinya sendiri, bagaimanakah mereka harus mempertanggung-jawabkan dirinya di hadapan Allooh سبحانه وتعالى; mereka tidak akan sempat untuk memperhatikan aurot dirinya atau orang-orang disekitarnya.
Juga didalam Hadits Riwayat Al Imaam Muslim no: 2864, dari Sulaim Ibnu ‘Aamir رضي الله عنه dari salah seorang Shohabat bernama Al Miqdad Ibnul Aswad رضي الله عنه, dimana beliau berkata, “Aku mendengar Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
تُدْنَى الشَّمْسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنَ الْخَلْقِ حَتَّى تَكُونَ مِنْهُمْ كَمِقْدَارِ مِيلٍ ». قَالَ سُلَيْمُ بْنُ عَامِرٍ فَوَاللَّهِ مَا أَدْرِى مَا يَعْنِى بِالْمِيلِ أَمَسَافَةَ الأَرْضِ أَمِ الْمِيلَ الَّذِى تُكْتَحَلُ بِهِ الْعَيْنُ. قَالَ « فَيَكُونُ النَّاسُ عَلَى قَدْرِ أَعْمَالِهِمْ فِى الْعَرَقِ فَمِنْهُمْ مَنْ يَكُونُ إِلَى كَعْبَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَكُونُ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَكُونُ إِلَى حَقْوَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يُلْجِمُهُ الْعَرَقُ إِلْجَامًا ». قَالَ وَأَشَارَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِيَدِهِ إِلَى فِيهِ
Artinya:
“Matahari akan direndahkan (didekatkan) dengan kepala manusia, sampai jarak antara matahari dengan kepala manusia hanya satu mil”.
Sulaim Ibnu Amir رضي الله عنه (periwayat hadits ini) berkata:
“Demi Allooh, aku tidak tahu apa yang dimaksud dengan “mil”, apakah itu berarti suatu jarak ataukah itu berarti celah.”
Selanjutnya Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
“Manusia pada hari itu akan berkeringat dan banyak yang berkeringat di sana sampai setinggi mata-kakinya. Ada yang keringatnya sampai ke lutut. Ada manusia yang berkeringat sampai setinggi pinggang. Dan di antara mereka ada yang dibungkam oleh keringatnya sendiri, karena keringatnya sampai setinggi mulutnya”.
Sambil beliau صلى الله عليه وسلم memperlihatkan kepada Miqdad Ibnul Aswad رضي الله عنه, tangan beliau menunjuk mulut beliau sambil berkata: “Sampai disini”.
Dan dalam Hadits Riwayat Imaam Ahmad no: 22240, dari Shohabat Abu ‘Umaamah رضي الله عنه bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
تَدْنُو الشَّمْسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى قَدْرِ مِيلٍ ، وَيُزَادُ فِي حَرِّهَا كَذَا وَكَذَا يَغْلِي مِنْهَا الْهَامُّ كَمَا تَغْلِي الْقُدُورُ يَعْرَقُونَ فِيهَا عَلَى قَدْرِ خَطَايَاهُمْ مِنْهُمْ مَنْ يَبْلُغُ إِلَى كَعْبَيْهِ ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَبْلُغُ إِلَى سَاقَيْهِ ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَبْلُغُ إِلَى وَسَطِهِ ، وَمِنْهُمْ مَنْ يُلْجِمُهُ الْعَرَقُ
Artinya:
“Matahari akan direndahkan (didekatkan) dengan kepala manusia, sampai jarak antara matahari dengan kepala manusia hanya satu mil. Dan panasnya ditambah sampai dengan begini dan begini, sehingga otak menjadi mendidih, sebagaimana air dalam bejana. Dan mereka berkeringat sesuai dengan kadar keshoolihan mereka, sehingga menenggelamkan kedua mata kakinya, kedua betisnya, pinggangnya, bahkan diantara mereka ada yang dibungkam oleh keringatnya sendiri.”
Itulah hal yang akan terjadi kepada manusia di Yaumul Mahsyar. Maka hendaknya mulai saat sekarang kita sudah “meng-hisab” diri kita masing-masing sebelum dihisab oleh Allooh سبحانه وتعالى.Karena ketika Yaumul Mahsyar itu adakah kita tergolong yang akan mendapatkan keringat sampai setinggi mata kaki, ataukah sampai selutut, ataukah sampai setinggi pinggang ataukah bahkan sampai setinggi mulut kita?
Jika seseorang itu semakin banyak ma’shiyat-nya, tentulah keringatnya pun akan semakin banyak pula, sehingga bisa menenggelamkan dirinya.
Juga didalam Hadits Riwayat Al Imaam Al Bukhoory no: 4938 dan Al Imaam Muslim no: 2862, dari Shohabat Ibnu ‘Umar رضي الله عنه, beliau berkata bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
حَتَّى يَغِيبَ أَحَدُهُمْ فِي رَشْحِهِ إِلَى أَنْصَافِ أُذُنَيْهِ
Artinya:
“Berkenaan dengan firman Allooh سبحانه وتعالى: “(Yaumul Hasyr) adalah Hari dimana manusia berdiri menghadap Allooh, Robb semesta alam”, maka keringat manusia ketika itu sampai pada pertengahan kedua telinganya”.
Maksudnya, keringat manusia ada yang sampai setinggi telinga, sehingga air keringat bisa menenggelamkan tubuhnya.
Kita berdo’a mudah-mudahan Allooh سبحانه وتعالى menjauhkan perkara-perkara seperti itu dari diri kita. Hal itu bisa terjadi kalau sejak sekarang ketika kita masih diberi kesempatan untuk hidup di dunia ini, maka kita mempunyai sikap untuk memilih berada diatas jalan-Nya yang lurus, memiliki ‘aqiidah yang benar, men-tauhidkan Allooh سبحانه وتعالى dengan benar, dan beramalshoolih sebanyak-banyaknya, agar kelak di Hari Mahsyar dapat terhindar dari ditenggelamkan keringat hingga sekujur tubuh kita.
Juga dalam Hadits Riwayat Al Imaam Al Bukhoory no: 6532, dari Shohabat Abu Huroiroh رضي الله عنه, beliau berkata bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
يَعْرَقُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يَذْهَبَ عَرَقُهُمْ فِي الأَرْضِ سَبْعِينَ ذِرَاعًا وَيُلْجِمُهُمْ حَتَّى يَبْلُغَ آذَانَهُمْ
Artinya:
“Manusia akan berkeringat sampai-sampai keringatnya itu menggenang sampai tujuhpuluh siku, lalu membungkam mulut mereka, sampai keringat mereka setinggi telinga-telinga mereka”.
Itulah gambaran manusia ketika di Yaumul Mahsyar. Bagi orang yang memiliki keimanan di dalam hatinya maka dia akan menjadi takut dan hal itu akan menjadi pelajaran bagi dirinya.
Berapa lamanya manusia akan berdiri di Yaumul Mahsyar
Dalam hal ini, Al Imaam Ibnu Katsiir رحمه الله dalam Tafsiir Ibnu Katsiir, ketika menafsirkan Surat Al Muthoffiffiin (83) ayat 6, dimana beliau رحمه الله menukil beberapa perkataan para ‘Ulama dari kalangan para Shohabat bahwa lama manusia berdiri di saat itu adalah ada yang mengatakan 70 (tujuh puluh) tahun tidak berbicara, juga ada yang mengatakan 300 (tiga ratus) tahun, juga ada yang mengatakan 40 (empatpuluh) tahun, dan juga ada yang mengatakan 10.000 (sepuluh ribu) tahun; diantaranya adalah:
1) Menurut ‘Abdullooh bin Mas’uud رضي الله عنه: “40 (empat puluh) tahun.”
2) Menurut ‘Abdullooh bin ‘Umar رضي الله عنه: “100 (seratus) tahun.”
3) Menurut Abu Hurairoh رضي الله عنه dari apa yang Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم nyatakan pada Basyiir al Ghifaary رضي الله عنه: “300 (tiga ratus) tahun.”
4) Menurut Abu Hurairoh رضي الله عنه dari apa yang diriwayatkan oleh Imaam Muslim رحمه الله no: 987 adalah: “50.000 (lima puluh ribu) tahun.”
Dan bahkan di dalam Hadits dari salah seorang Shohabat bernama Abu Saa’id Al Khudry رضي الله عنه, beliau berkata, “Berkaitan dengan Surat Al Muthoffiffiin (83) ayat 6:
يَوْمَ يَقُومُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ
“(Yaumul Hasyr) (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Robb semesta alam”, betapa panjang hari ini (Yaumul Hasyr).”
Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
“Tetapi bagi mu’min yang taat kepada Allooh سبحانه وتعالى maka akan Allooh ringankan, yaitulimapuluh ribu tahun itu seperti kadar seorang sholat fardhu di dunia”.
Sayangnya, Hadits ini lemah (dho’iif), sehingga tidak bisa dijadikan sebagai suatu sandaran.
Masih banyak lagi dalil-dalil yang memberikan penjelasan tentang Yaumul Mahsyar,
diantaranya juga adalah Hadits berikut ini :
Hadits Riwayat Al Imaam Al Bukhoory no: 3340, dari Shohabat Abu Huroiroh رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
أَنَا سَيِّدُ الْقَوْمِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ هَلْ تَدْرُونَ بِمَنْ يَجْمَعُ اللَّهُ الأَوَّلِينَ وَالآخِرِينَ فِي صَعِيدٍ وَاحِدٍ فَيُبْصِرُهُمُ النَّاظِرُ وَيُسْمِعُهُمُ الدَّاعِي وَتَدْنُو مِنْهُمُ الشَّمْسُ فَيَقُولُ بَعْضُ النَّاسِ أَلاَ تَرَوْنَ إِلَى مَا أَنْتُمْ فِيهِ إِلَى مَا بَلَغَكُمْ أَلاَ تَنْظُرُونَ إِلَى مَنْ يَشْفَعُ لَكُمْ إِلَى رَبِّكُمْ…
Artinya:
“Aku adalah tuan manusia pada hari Kiamat. Apakah kalian tahu tentang orang dimana Allooh kumpulkan sejak awal generasi manusia sampai akhir generasimanusia di satu padang sehingga dia melihat mereka dan mendengar seruan dan matahari mendekat kepada mereka sehingga sebagian manusia mengatakan, “Apakah kalian tidak melihat kepada keadaan kalian saat ini, tidakkah kalian melihat pada yang akan memberi syafa’at untuk kalian pada Allooh سبحانه وتعالى…”
Demikianlah, dalil-dalil yang menjelaskan tentang Yaumul Mahsyar, ada yang menjelaskan lamanya adalah empat puluh tahun, seratus tahun, tigaratus tahun bahkan sampailimapuluh ribu tahun.
Dalil-dalil yang riwayatnya shohiih, bila digabungkan dengan riwayat yang lemah (dho’iif) tersebut, maka dapatlah diambil pelajaran bahwa maknanya adalah: “Bagi orang yang mu’min (beriman), tidaklah sama perasaannya, yaitu ada yang merasakan Yaumul Mahsyar itu laksana limapuluh ribu tahun, ada yang merasakannya tiga ratus tahun dan ada pula yang merasakannya empatpuluh tahun dan bahkan ada yang laksana kadar sholat fardhu di dunia.”
Pada intinya: “Kadar keimanan dan amal-shoolih kita lah yang akan menjadikan penentu berapa lama kita akan berdiri menunggu keputusan Allooh سبحانه وتعالىseperti disebutkan diatas.”
Bagaimana dengan keadaan orang-orang yang sombong
Di dalam Hadits Riwayat Al Imaam At Turmudzy no: 2492, beliau berkata Hadits ini HasanShohiih, dan Syaikh Nashiruddin Al Albaany men-Hasankannya, dari Shohabat ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya (Syu’aib) dan dari kakeknya رضي الله عنهم, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
يحشر المتكبرون يوم القيامة أمثال الذر في صور الرجال يغشاهم الذل من كل مكان فيساقون إلى سجن في جهنم يسمى بولس تعلوهم نارالأنيار يسقون من عصارة اهل النار طينة الخبال
Artinya:
“Orang-orang yang sombong itu akan Allooh kumpulkan pada Hari Kiamat, sedang mereka seperti biji-bijian, diselimuti oleh kehinaan dari berbagai penjuru, mereka akan digiring menuju penjara di neraka jahanam yang bernama Bulisdan mereka akan ditenggelamkan dan akan ditutup oleh api yang bernama Naarul An-yar, kemudian mereka akan disiram oleh nanah-nanah neraka”.
Maksud dari “seperti biji-bijian” sebagaimana disebutkan dalam Hadits diatas adalah bahwa mereka menjadi manusia yang bentuknya kecil-kecil seperti biji-bijian (biji jagung) dan mereka akan mendapatkan siksa sebagaimana disebutkan dalam Hadits tersebut. Itulah siksaan bagi orang-orang yang sombong. Oleh karena itu, hendaknya kita jauhi sikap sombong, karena sikap sombong itu tiadalah manfaatnya di dunia, apalagi di negeri akhirat.
Demikian pula dalam Hadits Riwayat Al Imaam Al Bazzaar, dari Shohabat Jaabir bin ‘Abdillah رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
“Allooh akan membangkitkan manusia pada Hari Kiamat dalam bentuk yang sangat kecil dan hina, diinjak-injak oleh orang-orang melalui kaki-kaki mereka”.
Lalu Shohabat bertanya: “Ya Rosuulullooh, mengapa mereka menjadi sekecil itu?”
Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم menjawab: “Mereka waktu di dunia termasuk orang-orang yang sombong.”
Sedangkan tentang Naarul An-yar adalah sebagaimana dijelaskan didalam Hadits dari Shohabat Abu Huroiroh رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
“Akan didatangkan orang-orang yang bengis, kejam, dan orang-orang yang sombong pada Hari Kiamat, mereka akan sekecil biji-bijian, diinjak-injak oleh orang karena kehinaan mereka dalam pandangan Allooh, sampai datang keputusan Allooh terhadap manusia. Kemudian mereka (orang-orang kecil itu) digiring ke neraka An-yar.”
Shohabat pun bertanya: “Ya Rosuulullooh, apakah An-yar itu?”.
Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم menjawab: “Mereka akan disiram dengan nanah dan darah yang berasal dari neraka”.
Apa yang dialami manusia di Yaumul Mahsyar
Hal ini adalah sebagaimana diberitakan dalam Hadits Riwayat Al Imaam Muslim no: 400, dari Shohabat Anas bin Maalik رضي الله عنه, beliau berkata: “Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم berbincang-bincang dengan para Shohabat, kemudian beliau صلى الله عليه وسلم mengangkat kepalanya sambil tersenyum dan bersabda:
أُنْزِلَتْ عَلَىَّ آنِفًا سُورَةٌ ». فَقَرَأَ « بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الأَبْتَرُ) ». ثُمَّ قَالَ « أَتَدْرُونَ مَا الْكَوْثَرُ ». فَقُلْنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ « فَإِنَّهُ نَهْرٌ وَعَدَنِيهِ رَبِّى عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْهِ خَيْرٌ كَثِيرٌ هُوَ حَوْضٌ تَرِدُ عَلَيْهِ أُمَّتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ آنِيَتُهُ عَدَدُ النُّجُومِ فَيُخْتَلَجُ الْعَبْدُ مِنْهُمْ فَأَقُولُ رَبِّ إِنَّهُ مِنْ أُمَّتِى. فَيَقُولُ مَا تَدْرِى مَا أَحْدَثَتْ بَعْدَكَ وَقَالَ « مَا أَحْدَثَ بَعْدَكَ
Artinya:
“Diturunkan kepadaku barusan suatu surat, kemudian beliau صلى الله عليه وسلم membaca Surat Al Kautsar (108) ayat 1-3, kemudian beliau صلى الله عليه وسلم bertanya, “Tahukah kalian apakah Al Kautsar itu?”
Kami menjawab, “Allooh dan Rosuul-Nya yang lebih tahu.”
Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda, “Itu adalah telaga yang Allooh janjikan kepadaku di surga, di dalamnya terdapat kebaikan yang banyak, yaitu ummatku akan mendatangi telaga itu pada Hari Kiamat. Gelas (bejana untuk minum)-nya sebanyak bintang di langit”.
Kemudian dikatakan : “Ada segerombolan orang yang berdesak-desakan untuk mendapatkan air Telaga itu, lalu kukatakan: “Itu ummatku, ya Allooh”.
Kemudian Allooh سبحانه وتعالى berfirman: “Kamu tidak tahu apa yang mereka ada-adakan (berbuat Bid’ah) setelahmu”.
Maka aku katakan,“Menjauhlah, menjauhlah, bagi yang menukar-nukar (dien) sepeninggalku !”
Juga sebagaimana dalam Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory no : 7050, dari Shohabat Sahl bin Sa’ad رضي الله عنه, ia berkata, “Aku mendengar Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
أَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ فَمَنْ وَرَدَهُ شَرِبَ مِنْهُ وَمَنْ شَرِبَ مِنْهُ لَمْ يَظْمَأْ بَعْدَهُ أَبَدًا لَيَرِدُ عَلَيَّ أَقْوَامٌ أَعْرِفُهُمْ وَيَعْرِفُونِي ثُمَّ يُحَالُ بَيْنِي وَبَيْنَهُمْ قَالَ أَبُو حَازِمٍ فَسَمِعَنِي النُّعْمَانُ بْنُ أَبِي عَيَّاشٍ وَأَنَا أُحَدِّثُهُمْ هَذَا فَقَالَ هَكَذَا سَمِعْتَ سَهْلًا فَقُلْتُ نَعَمْ قَالَ وَأَنَا أَشْهَدُ عَلَى أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ لَسَمِعْتُهُ يَزِيدُ فِيهِ قَالَ إِنَّهُمْ مِنِّي فَيُقَالُ إِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا بَدَّلُوا بَعْدَكَ فَأَقُولُ سُحْقًا سُحْقًا لِمَنْ بَدَّلَ بَعْدِي
Artinya:
“Aku akan mendahului kalian tiba di Haudh (telaga Al Kautsar). Barangsiapa yang tiba disana, pasti minum dan siapa saja yang minum darinya, pasti tidak akan dahaga selama-lamanya. Akan datang kepadaku sejumlah ummatku, aku mengenali mereka dan mereka mengenaliku. Kemudian aku dipisahkan dari mereka.”
Abu Hazim berkata, “An Nu’man bin Abi ‘Ayyasy رضي الله عنه mendengarnya ketika aku sedang menyampaikan hadits ini kepada mereka. Beliau berkata, ‘Begitukah engkau mendengarnya dari Sahl bin Sa’ad?’”
“Benar!”, kataku.
Ia lalu berkata, “Aku bersaksi bahwa aku mendengar Abu Saa’id Al Khudry رضي الله عنهmenambahkan (– apa yang ia dengar dari sabda Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم tersebut –), “Sesungguhnya mereka dari ummatku.” Lalu dikatakan kepadaku, “Engkau tidak tahu apa yang mereka tukar / ganti sepeninggalmu!” Maka aku katakan, “Menjauhlah, menjauhlah! Bagi yang menukar-nukar dien (– berbuat bid’ah –) sepeninggalku!”
Itulah gambaran tentang Yaumul Mahsyar, Hari dimana kita akan dikumpulkan dalam keadaan telanjang, tidak beralas kaki, tidak berkhitan, kepanasan hingga puluhan ribu tahun lamanya, dan keringat kita akan setingga apakah menenggelamkan diri-diri kita sendiri itu adalah bergantung kepada amal-shoolih yang kita lakukan. Namun yang jelas, hal ini pasti akan dialami oleh kita semua. Tinggallah kita mempersiapkan diri terhadap Hari dimana kita akan dimintai pertanggung-jawaban oleh Allooh سبحانه وتعالى tersebut. Berupayalah sejauh kemampuan agar tergolong sebagai orang-orang yang beruntung kelak. Sebelum terlambat!
Saat ini, selama nyawa masih belum sampai ke tenggorokan, selama masih ada waktu untuk memperbaiki diri, maka banyak-banyaklah kita bertaubat kepada Allooh سبحانه وتعالى. Hindarilah perbuatan-perbuatan yang syirik. Janganlah menyekutukan Allooh سبحانه وتعالى dengan sesuatu apa pun. Lakukanlah amalan-amalan yang shoolih. Gantilah perbuatan-perbuatan ma’shiyat yang pernah kita lakukan dengan perbuatan-perbuatan yang baik. Gantilah perbuatan-perbuatanBid’ah yang tidak sesuai dengan ajaran Allooh سبحانه وتعالى dan Rosuul-Nya صلى الله عليه وسلم dengan amalan-amalan yang sesuai Sunnah (sebagaimana yang dituntunkan Allooh سبحانه وتعالى dan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم).
Mudah-mudahan Allooh سبحانه وتعالى membukakan pintu hidayah dan taufiq kepada diri kita, keluarga kita dan kaum Muslimin, agar kita dimudahkan untuk selalu berada diatas jalan yang lurus dan semoga Allooh سبحانه وتعالى mengakhiri hidup kita pada masa yang ditentukan-Nya adalah dalam keadaan yang Husnul Khootimah.

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Abu Muhammad

JALAN YANG LURUS
ROX1838.TIF

JALAN YANG LURUS

Bismillah
1.Kenapa mesti jalan yang lurus….
Tidak ada manusia yang hidup abadi didunia ini…
Allooh telah berfirman :
{ ثُمَّ إِنَّكُمْ بَعْدَ ذَلِكَ لَمَيِّتُونَ . ثُمَّ إِنَّكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ تُبْعَثُون } المؤمنون : 15-1
Artinya :
“ Kemudian kalian setelah itu sungguh akan mati dan pada hari kiamat akan dibangkitkan “ ( QS Al Mu’minuun ayat 15-16 )

Dunia tempat berusaha
Allooh berfirman :
{ مَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِن نَّصِيب } الشورى : 20
Artinya :
“ Barang siapa yang menginginkan keuntungan di akherat maka Kami akan tambahkan pada keuntungan itu dan barang siapa yang menginginkan keuntungan di dunia maka dia akan diberi sebagian sedang di akherat dia tidak berhaq mendapatkan bagian apapun “ ( QS As-Syuro ayat 20 )
Manusia akan mempertanggungjawabkan apa yang diupayakannya
Allooh…

Lihat pos aslinya 850 kata lagi

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

JALAN YANG LURUS

JALAN YANG LURUS
ROX1838.TIF

JALAN YANG LURUS

Bismillah
1.Kenapa mesti jalan yang lurus….
Tidak ada manusia yang hidup abadi didunia ini…
Allooh telah berfirman :
{ ثُمَّ إِنَّكُمْ بَعْدَ ذَلِكَ لَمَيِّتُونَ . ثُمَّ إِنَّكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ تُبْعَثُون } المؤمنون : 15-1
Artinya :
“ Kemudian kalian setelah itu sungguh akan mati dan pada hari kiamat akan dibangkitkan “ ( QS Al Mu’minuun ayat 15-16 )

Dunia tempat berusaha
Allooh berfirman :
{ مَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِن نَّصِيب } الشورى : 20
Artinya :
“ Barang siapa yang menginginkan keuntungan di akherat maka Kami akan tambahkan pada keuntungan itu dan barang siapa yang menginginkan keuntungan di dunia maka dia akan diberi sebagian sedang di akherat dia tidak berhaq mendapatkan bagian apapun “ ( QS As-Syuro ayat 20 )
Manusia akan mempertanggungjawabkan apa yang diupayakannya
Allooh berfirman :
{ هَذَا يَوْمُ الْفَصْلِ الَّذِي كُنتُمْ بِهِ تُكَذِّبُونَ . احْشُرُوا الَّذِينَ ظَلَمُوا وَأَزْوَاجَهُمْ وَمَا كَانُوا يَعْبُدُونَ . مِن دُونِ اللَّهِ فَاهْدُوهُمْ إِلَى صِرَاطِ الْجَحِيمِ . وَقِفُوهُمْ إِنَّهُم مَّسْئُولُون } الصفات : 21-24
Artinya :
“ Ini adalah hari keputusan yang kalian dustakan. (Wahai mala’ikat) kumpulkanlah orang-orang yang dzolim dan sejawat mereka dan apa yang mereka sembah selain Allooh. Maka tunjukkanlah kepada mereka jalan menuju ke neraka dan hentikanlah sesungguhnya mereka akan ditanya “ ( QS Ash-Shoffaat ayat 21-24 ).
Juga berfirman :
{ وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولـئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولا } الإسراء : 36
“ Dan janganlah kamu ikuti apa-apa yang kamu tidak tahu ilmunya tentang itu sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semua itu akan ditanya “ ( QS Al-Isroo ayat 36 )
2. Apa itu Jalan Lurus
Allooh hidupkan manusia di dunia ini tidak lain hanya untuk mengabdi hanya kepada Alooh sebagaimana Allooh berfirman :
{ وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ }
“Artinya :
“ Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku ” (QS Adz Dzaariyaat : 56)
Dan beribadah itupun akan terwujud dan benar hanya dengan islam terakhir yang disampaikan dan dijelaskan oleh Nabi kita Muhammad Bin ‘Abdillaah. Yang merupakan jalannya yang lurus bahkan beliau telah menyuruh untuk hanya puas untuk mengikuti jalan lurus itu dan tidak untuk menoleh pada jalan selainnya sebagaimana Allooh berfirman :
وَأَنَّ هَـذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَ تَتَّبِعُواْ السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُون } الأنعام : 153
Artinya :
“ Dan ini adalah jalan yang lurus maka ikutilah dia dan janganlah kalian ikuti jalan-jalan selainnya niscaya kalian akan bercerai dari jalan-Nya. Yang demikian itu Allooh berwasiat pada kalian agar kalian bertaqwa “ (QS Al-An’aam ayat 153)
Qotadah Rohimahullooh: “ Ketahuilah oleh kalian bahwa jalan yang dimaksud adalah hanya jalan yang satu yaitu jama’ah yang mengikuti hidayah (petunjuk Allooh) dan akhir perjalanannya adalah syurga dan Iblis sungguh telah merekayasa jalan-jalan yang bercerai berai yaitu jamaah sesat dan akhir perjalanannya adalah neraka “.
عن ابن مسعود قال: خط رسول الله صلى الله عليه وسلم خطا بيده، ثم قال “هذا سبيل الله مستقيما، ثم خط خطوطا عن يمين ذلك الخط وعن شماله، ثم قال: وهذه السبل ليس منها سبيل إلا عليه شيطان يدعو إليه، ثم قرأ {وأن هذا صراطي مستقيما فاتبعوه ولا تتبعوا السبل فتفرق بكم عن سبيله} “.
Artinya :
“ Dari ‘Abdullooh Bin Mas’uud berkata : Rosuulullooh menggaris goretan dengan tangannya kemudian bersabda : “ Ini adalah jalan Allooh yang lurus “ kemudian menggaris banyak goresan di sebelah kanan dan kirinya kemudian bersabda : “ Ini adalah jalan-jalan, tidak satu jalanpun kecuali padanya ada syaithon yang menyeru kepadanya “. kemudian beliau membaca ayat ini.
Diriwayatkan oleh Ahmad, ‘Abd Bin Humaid, An-Nasa’i, Al-Bazzar Ibnul Mundziir, Ibnu Abii Hatim, Abu Syekh Ibnu Marduuyah dan Al-Haakim dan menshohihkannya
Imam Ibnu ‘Athiyyah berkata : “ Yang dimaksud dengan jalan-jalan disini adalah mencakup Yahudi, Nashroni, Majusi, dan seluruh pengikut ajaran dan bid’ah dan kesesatan dari kalangan ahli hawa’ dan nyeleneh dalam bidang furu’ juga yang lain-lainnya dari oarang-orang yang memperdalam jidal (debat) dan filsafat; semua itu jurang kesesatan dan aqidah (keyakinan) yang jelek “.
Dan beliaupun telah bersabda :
عن العرباض بن سارية قال: “وعظنا رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم يوما بعد صلاة الغداة موعظة بليغة ذرفت منها العيون ووجلت منها القلوب فقال رجل إن هذه موعظة مودع فبمإذا تعهد الينا يا رسول اللّه؟ قال: أوصيكم بتقوى اللّه، والسمع والطاعة وان عبد حبشي فانه من يعش منكم يرى اختلافا كثيرا، واياكم ومحدثات الأمور، فانها ضلالة فمن أدرك ذلك منكم فعليه بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين عضوا عليها بالنواجذ”. هذا حديث حسن صحيح
Artinya :
“ Dari Al-Irbaadh Bin Saariyah berkata: ‘Pada suatu hari setelah sholat shubuh. Rosuulullooh menasihati kami dengan suatu nasihat yang menyebabkan mata kami melelehkan air mata dan hati kami merasa takut. Sehingga seorang dari kami berkata: “Sepertinya nasihat ini nasihat terakhir, maka apa wasiat anda untuk kami ya Rosuulullooh?” Beliau bersabda: “Aku wasiatkan pada kalian agar selalu bertaqwa pada Allooh, mendengar dan ta’at betapa pun yang memerintah kalian itu seorang hamba dari Habasyah (Ethiophia sekarang). Sesungguhnya barang siapa yang hidup diantara kalian maka dia akan menyaksikan perselisihan yang amat banyak; Maka waspadai dan jauhilah perkara-perkara baru, sesungguhnya yang demikian itu sesat. Barang siapa yang menyaksikan hal itu dari kalian hendaknya dia berpegang dengan sunnahku dan sunnahnya para khulafaa’ur rosyidiin yang diberi petunjuk. Gigitlah hal itu dengan gigi-gigi gerahamnya “ (HR Imam At-Tirmidzi dan kata beliau hadits ini hasan shohih).
3. Keuntungan Jalan Lurus dan bagaimana mencapainya :
Allooh berfirman :
{ وَمَن يُطِعِ اللّهَ وَالرَّسُولَ فَأُوْلَـئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللّهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاء وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَـئِكَ رَفِيقًا . ذَلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللّهِ وَكَفَى بِاللّهِ عَلِيمًا } النساء : 69-70
Artinya :
“ Dan barang siapa yang ta’at pada Allooh dan Rosuul, maka mereka bersama orang-orang yang Allooh karuniakan pada mereka kenikmatan dari kalangan para nabi, para shiddiiqiin (orang-orang yang benar), para syuhada dan orang-orang sholih. Mereka adalah sebaik-baik teman. Yang demikian itu adalah merupakan karunia dari Allooh. Dan cukuplah Allooh Dzat yang Maha Mengetahui “. (QS An-Nisa ayat 69-70)
Sumber
ustadzrofii.wordpress.com

Categories: Uncategorized | 1 Komentar

MENGAPA HARUS MANHAJ SALAF

mengapa-pilih-manhaj-salaf

Mengapa Saya Memilih Manhaj Salaf

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allooh سبحانه وتعالى,
Ummat Islam di zaman sekarang dihadapkan pada terjadinya perpecahan dan perselisihan yang berakibat pada munculnya berbagai jenis aliran yang semuanya mengaku berada diatas kebenaran, namun pada hakekatnya mereka telah terjerembab di dalam jurang kesesatan dan ketertipuannya diri mereka atas hawa-hawa nafsu serta keberpalingan mereka dari tuntunan Allooh سبحانه وتعالى dan Rosuul-Nya صلى الله عليه وسلم yang shohiih.
Aliran-aliran yang menyimpang tersebut menyebabkan kebanyakan orang awam menjadi bingung dan bimbang dalam menuntut ‘ilmu dien. Siapa yang harus diikuti? Siapa yang pantas menjadi panutan?
Namun, Alhamdulillah, akan senantiasa ada kebaikan pada ummat Islam. Karena diantara ummat tersebut akan selalu ada segolongan orang yang senantiasa berpegang teguh pada petunjuk dan kebenaran (yakni Al Qur’an dan As Sunnah diatas pemahaman As Salafus Shoolih) sampai dengan hari Kiamat. Hal ini telah dikhobarkan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dalam sabdanya melalui Mu’awiyah رضي الله عنه sebagai berikut:
لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِى قَائِمَةً بِأَمْرِ اللَّهِ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ أَوْ خَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِىَ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ ظَاهِرُونَ عَلَى النَّاسِ

Artinya:
“Senantiasa ada segolongan dari ummatku yang tegak diatas kebenaran, tidak akan membahayakan mereka siapapun yang menghina dan menyelisihi mereka sehingga datang hari Kiamat sedang mereka tetap berada dalam kemenangan terhadap manusia.”(Hadits Shohiih Riwayat Imaam Muslim no: 5064)
Dengan demikian maka wajib bagi kita untuk mengikuti golongan yang mendapatkan barokah ini, yang selalu konsisten diatas dienul Islam yang benar sebagaimana yang dibawakan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dan yang telah dipraktekkan oleh generasi Shohabat, Taabi’iin dan Taabi’ut Taabi’iin serta orang-orang yang mengikuti kebaikan mereka hingga hari Kiamat – semoga Allooh سبحانه وتعالى menjadikan kita termasuk golongan ini.
kali ini kita akan membahas suatu tema yang berjudul “Mengapa saya memilih manhaj Salaf”. Telah kita ketahui bahwa Salaf itu adalah Ahlus Sunnah, karena Salaf itu adalah Ash Shohabat.
Sebagaimana yang dikatakan oleh seorang taabi’iin bernama Al Imaam Al Auzaa’i رحمه الله, “Ilmu itu adalah sesuatu yang disampaikan melalui para shohabat, jika tidak berasal dari mereka maka itu bukanlah ‘ilmu.” Dengan demikian berikut ini akan dijabarkan lebih lanjut tentang 15 poin yang mengokohkan alasan mengapa kita hendaknya memilih manhaj Salaf tersebut, yakni :
1) Karena Allooh سبحانه وتعالى ridho pada para Shohabat
Perhatikanlah Firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS At Taubah (9) ayat 100 :
وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Artinya:
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allooh ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allooh dan Allooh menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.”
Dalam ayat diatas dijelaskan bahwa “As Saabiquunal awwaluun” adalah generasi yang pertama-tama masuk Islam, yakni Shohabat dari kalangan Muhajirin dan Anshor.
Muhajirin, bermakna “Orang-orang yang Berpindah”, yang dimaksud adalah Shohabat yang hijrah dari Mekkah ke Madinah.
Sementara Anshor, bermakna “Orang-orang yang Menolong”, yang dimaksud adalah Shohabat yang berasal dari Madinah, yang menolong kaum Muhajirin.
Sebagian kalangan di masyarakat kita, mereka justru mengkultuskan kyai / ajeungan / ustadz /tokoh-tokoh mutaakhiriin yang sesungguhnya tidak ada jaminan keridhoan Allooh سبحانه وتعالى atasnya. Apabila disuguhkan dalil yang shohiih untuk meluruskan ke-Bid’ah-an mereka, maka mereka membantah dengan sikap taqlid yang ujung-ujungnya berakhir dengan kata-kata: “Pokoknya kata kyai-ku begitu…”, seakan-akan kyai-nya mendapat jaminan keridhoan Allooh سبحانه وتعالى.
Wahai kaum muslimin, apabila hendak mencari panutan, maka ikutilah orang-orang yang telah Allooh سبحانه وتعالى ridhoi, mengapa mesti taqlid terhadap kyai / ajeungan / ustadz / tokoh-tokohmutaakhiriin yang tidak ada jaminan keridhoan Allooh سبحانه وتعالى atasnya?
2) Para Shohabat yang Shoolih itu telah dijamin masuk Surga oleh Allooh سبحانه وتعالى
Ada shohabat yang diabsen atau disebutkan namanya satu per satu secara jelas oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bahwa mereka telah dijamin masuk Surga oleh Allooh سبحانه وتعالى.
Dari ‘Abdurrohman bin ‘Auf رضي الله عنه, bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda,
أَبُو بَكْرٍ فِي الْجَنَّةِ وَعُمَرُ فِي الْجَنَّةِ وَعَلِيٌّ فِي الْجَنَّةِ وَعُثْمَانُ فِي الْجَنَّةِ وَطَلْحَةُ فِي الْجَنَّةِ وَالزُّبَيْرُ فِي الْجَنَّةِ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ فِي الْجَنَّةِ وَسَعْدُ بْنُ أَبِي وَقَّاصٍ فِي الْجَنَّةِ وَسَعِيدُ بْنُ زَيْدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ نُفَيْلٍ فِي الْجَنَّةِ وَأَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ فِي الْجَنَّةِ

Artinya:
“Abu Bakar didalam surga, ‘Umar didalam surga, ‘Ali didalam surga, ‘Utsmaan didalam surga, Tholhah didalam surga, Az Zubair didalam surga, ‘Abdurrohman bin ‘Auf didalam surga, Sa’ad bin Abi Waqqosh didalam surga, Sa’iid bin Zaiid bin ‘Amr bin Nufaiil didalam surga, dan Abu ‘Ubaidah bin Al Jarrooh didalam surga.” (Hadiits Riwayat Imaam Ahmad رحمه الله no: 1675, menurut Syaikh Syuaib Al Arna’uuth sanadnya kuat sesuai dengan syarat Imaam Muslim)
Bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda melalui ‘Abdullooh bin Abbas رضي الله عنه,
أفضل نساء أهل الجنة خديجة بنت خويلد و فاطمة بنت محمد و مريم بنت عمران و آسية بنت مزاحم امرأة فرعون

Artinya:
“Sebaik-baik wanita penghuni surga adalah Khodiijah bintu Khuwailid, Faathimah bintu Muhammad, Maryam bintu ‘Imroon, dan ‘Aasiyah bintu Muzaahim istri Fir’aun.” (Hadits Riwayat Imaam Ibnu Hibban رحمه الله no: 7010, menurut Syaikh Syuaib Al Arna’uuth sanadnya shohiih)
Dan bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda melalui Abu Hurairoh رضي الله عنه, sebagaimana diriwayatkan oleh Imaam Al Bukhoory رحمه الله no: 6542 dan Imaam Muslim رحمه الله no: 542 :
يَدْخُلُ مِنْ أُمَّتِى الْجَنَّةَ سَبْعُونَ أَلْفًا بِغَيْرِ حِسَابٍ ». فَقَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ ادْعُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنِى مِنْهُمْ. قَالَ « اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ مِنْهُمْ ». ثُمَّ قَامَ آخَرُ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ادْعُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنِى مِنْهُمْ. قَالَ « سَبَقَكَ بِهَا عُكَّاشَةُ
Artinya:
“Akan masuk kedalam surga dari ummatku 70.000 orang tanpa hisab”.
Lalu seseorang bertanya, “Wahai Rosuulullooh, berdoalah pada Allooh agar Allooh menjadikan aku bagian dari mereka.”
Jawab Rosuul صلى الله عليه وسلم, “Ya Allooh, jadikanlah dia bagian dari mereka.”
Lalu yang lain berkata pula, “Ya Rosuulullooh, bermohonlah agar Allooh menjadikan aku bagian dari mereka.”
Rosuul صلى الله عليه وسلم menjawab, “Kamu sudah didahului ‘Ukkaasyah.”
Juga Hadits Shohiih yang diriwayatkan oleh Imaam Ahmad رحمه الله no: 27042 yang dishohiihkan oleh Syaikh Syuaib Al Arna’uuth, dari shohabat Jaabir رضي الله عنه dari Ummu Mubasyiir رضي الله عنها (istri Zaid bin Tsaabit رضي الله عنه, salah seorang shohabat penulis Al Qur’an), beliau berkata, “Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم suatu hari berada di rumah Hafshoh (– istri Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, anak dari ‘Umar bin Khoththoob رضي الله عنه –), lalu beliau صلى الله عليه وسلم bersabda,
لَا يَدْخُلُ النَّارَ أَحَدٌ شَهِدَ بَدْرًا وَالْحُدَيْبِيَةَ قَالَتْ حَفْصَةُ أَلَيْسَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ { وَإِنْ مِنْكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا } ] مريم: 71[ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَهْ { ثُمَّ نُنَجِّي الَّذِينَ اتَّقَوْا } (مريم: 72
Artinya:
‘Orang yang ikut perang Badar dan Bayatul Ridwaan tidak seorangpun akan masuk neraka’.”
Lalu Hafshoh رضي الله عنها berkata, “Bukankah Allooh سبحانه وتعالى berfirman, ‘Tidaklah diantara kalian kecuali akan memasukinya’. (QS. Maryam ayat 71)
Kemudian Hafshoh رضي الله عنها berkata, “Rosuul صلى الله عليه وسلم bersabda, ‘Allooh berfirman, “Kemudian kami selamatkan orang-orang yang bertaqwa.” (QS Maryam ayat 72).”
Adakah diantara kyai / ajeungan / ustadz / tokoh-tokoh mutaakhiriin di zaman sekarang yang mendapat jaminan masuk surga dari Allooh سبحانه وتعالى, sebagaimana para shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم mendapatkannya? Mengapa perkataan kyai / ajeungan / ustadz / tokoh-tokohmutaakhiriin yang tidak ada jaminan Surga-nya itu lebih ditakuti, dijadikan “harga mati” dan lebih diutamakan daripada perkataan orang-orang shoolih terdahulu yang telah jelas jaminan Surganya?
3) Karena para Shohabat itu telah terbukti berjuang menegakkan Islam dan menerapkan Islam pada diri mereka
Perhatikanlah firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. As Sajdah (32) ayat 24 sebagai berikut:
وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ
Artinya:
“Dan Kami jadikan diantara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.”
Yang dimaksud dalam ayat ini adalah para Shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Allooh سبحانه وتعالى menjadikan para Shohabat sebagai pemimpin, karena mereka disifati sebagai orang-orang yang berpegang teguh pada syari’at Allooh سبحانه وتعالى, sabar dan sangat yakin terhadap ayat-ayat Allooh سبحانه وتعالى. Para Shohabat itu sangat istiqomah, hidup mereka dipenuhi dengan perjuangan melawan orang-orang musyrik, orang-orang kaafir, orang Parsia maupun orang Romawi sehingga Islam pada masa itu berkembang luas dan berjaya karena perjuangan mereka yang luar biasa.
4) Para Shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم itu adalah Pelopor / Penegak dalam memelihara kemurnian Islam
Dalam Hadits Shohiih Riwayat Imaam Muslim رحمه الله no: 6629, dari shohabat Abu Burdah, dari ayahnya, beliau رضي الله عنهما berkata, “Kami sholat maghrib bersama Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, lalu kami duduk menunggu sampai datangnya waktu Isya.”
Maka Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bertanya, “Kalian masih disini?”
Para shohabat pun menjawab, “Benar ya Rosuul, kami menunggumu untuk sholat Isya bersamamu.”
Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم pun berkata, “Kalian telah berbuat sesuatu yang baik.”
Lalu Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم melihat kearah langit dan berkata,
النُّجُومُ أَمَنَةٌ لِلسَّمَاءِ فَإِذَا ذَهَبَتِ النُّجُومُ أَتَى السَّمَاءَ مَا تُوعَدُ وَأَنَا أَمَنَةٌ لأَصْحَابِى فَإِذَا ذَهَبْتُ أَتَى أَصْحَابِى مَا يُوعَدُونَ وَأَصْحَابِى أَمَنَةٌ لأُمَّتِى فَإِذَا ذَهَبَ أَصْحَابِى أَتَى أُمَّتِى مَا يُوعَدُونَ
Artinya:
“Bintang itu adalah penjaga langit. Bintang pergi maka langit pun akan hancur. Aku adalah pengaman terhadap para Shohabatku, jika aku pergi maka para Shohabatku akan mengalami apa yang dijanjikan pada mereka (– maksudnya: fitnah – pen.). Dan para Shohabatku adalah penjaga Ummatku. Jika para Shohabat pergi maka Ummatku akan mengalami apa yang dijanjikan pada mereka (– maksudnya: fitnah – pen.).”
Jadi jika mencari panutan, maka ikutilah para Shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم yang telah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم sendiri katakan sebagai “Penjaga Ummat Islam”.
Berdasarkan firman Allooh سبحانه وتعالى didalam Al Qur’an, maka Bintang itu memiliki 3 fungsiyakni:
a) Sebagai Pelempar Syaithoon
Perhatikan QS. Ash Shoffaat (37) ayat 6 – 10 sebagai berikut:
إِنَّا زَيَّنَّا السَّمَاء الدُّنْيَا بِزِينَةٍ الْكَوَاكِبِ ﴿٦﴾ وَحِفْظاً مِّن كُلِّ شَيْطَانٍ مَّارِدٍ ﴿٧﴾ لَا يَسَّمَّعُونَ إِلَى الْمَلَإِ الْأَعْلَى وَيُقْذَفُونَ مِن كُلِّ جَانِبٍ ﴿٨﴾ دُحُوراً وَلَهُمْ عَذَابٌ وَاصِبٌ ﴿٩﴾ إِلَّا مَنْ خَطِفَ الْخَطْفَةَ فَأَتْبَعَهُ شِهَابٌ ثَاقِبٌ ﴿١٠
Artinya:
(6) “Sesungguhnya Kami telah menghias langit yang terdekat dengan hiasan, yaitubintang-bintang,
(7) dan telah memeliharanya (sebenar-benarnya) dari setiap syaithoon yang sangat durhaka,
(8) syaithoon-syaithoon itu tidak dapat mendengar-dengarkan (pembicaraan) para malaikat dan mereka dilempari dari segala penjuru.
(9) Untuk mengusir mereka dan bagi mereka siksaan yang kekal,
(10) akan tetapi barangsiapa (di antara mereka) yang mencuri-curi (pembicaraan); maka ia dikejar oleh suluh api yang cemerlang.”

b) Sebagai Perhiasan

Perhatikan QS. Al Mulk (67) ayat 5 sebagai berikut:

وَلَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَاء الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ وَجَعَلْنَاهَا رُجُوماً لِّلشَّيَاطِينِ وَأَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابَ السَّعِيرِ
Artinya:
“Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar syaithoon, dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala.”
c) Sebagai Petunjuk

Perhatikan QS. Al An’aam (6) ayat 97 sebagai berikut:
وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ النُّجُومَ لِتَهْتَدُواْ بِهَا فِي ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ قَدْ فَصَّلْنَا الآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ
Artinya:
“Dan Dia lah (Allooh) yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran (Kami) kepada orang-orang yang mengetahui.”
Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم mengumpamakan para Shohabatnya laksana Bintang-Bintang di langit, sehingga bila kita mengikuti mereka (para Shohabat) رضي الله عنهم maka insya Allooh kita bisa menepis tipu daya syaithoon yang terkutuk, menjadikan Islam tampak keindahan ajarannya (laksana perhiasan) yang memancar dengan jelas di muka bumi, juga mendapatkan petunjuk diantara gelapnya kesesatan, ke-Bid’ah-an dan maraknya penyimpangan yang ada.
5) Para Shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم itu adalah sebaik-baik Ummat Islam
Perhatikanlah firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. Aali ‘Imroon (3) ayat 110 sebagai berikut:
كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْراً لَّهُم مِّنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ
Artinya:
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allooh. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; diantara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.”
Gelar “Ummat Terbaik” itu Allooh سبحانه وتعالى berikan kepada para Shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, karena teguhnya mereka dalam ber-amar ma’ruf nahi munkar dan keimanan mereka yang sangat dalam dan besar kepada Allooh سبحانه وتعالى.
Dan juga suatu Hadits yang telah kita bahas dalam beberapa kajian yang lalu yakni Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 2652 dan Imaam Muslim no: 6635, dari shohabat ‘Abdullooh bin Mas’uud رضي الله عنه, ia berkata bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِى ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

Artinya:
“Sebaik-baik manusia adalah (orang yang hidup) pada masaku ini (– yaitu generasi shohabat –), kemudian yang sesudahnya (– generasi Tabi’in –), kemudian yang sesudahnya (– generasi Tabi’ut Tabi’in –).”
6) Para Shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم itu adalah Generasi Pilihan
Shohabat ‘Abdullooh bin Mas’uud رضي الله عنه berkata,
إنَّ اللهَ نَظَرَ إلى قلوبِ العبادِ؛ فوجدَ قلبَ محمدٍ خيرَ قُلوبِ العبادِ فاصطفاه لنفسِه،فابتعثَه برسالتِه، ثمَّ نَظرَ في قُلوبِ العبادِ بعدَ قلبِ محمدٍ، فوجدَ قلوبَ أصحابِه خيرَقُلوبِ العبادِ فجعلَهم وزراءَ نبيِّه، يُقاتلونَ على دينِه
Artinya:
“Sesungguhnya Allooh melihat pada hati manusia, maka hati Muhammad lah sebaik-baik hati, sehingga Allooh memilih untuk diri-Nya dan mengangkatnya dengan kerosuulan. Lalu Allooh melihat pada hati manusia setelah hati Muhammad, maka hati para Shohabat Muhammad itulah sebaik-baik hati, sehingga Allooh pun menjadikan mereka sebagai para mentri Nabi-Nya. Para Shohabat itu berperang membela dirinya…..” (Musnad Ahmad)
Berarti para Shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم itu adalah generasi pilihan / ideal yang Allooh سبحانه وتعالى tempatkan untuk menjadi pendamping Rosuul-Nya Muhammad صلى الله عليه وسلم dalam menampakkan kebenaran, keindahan dan kelurusan dienul Islam di muka bumi ini. Berbeda halnya dengan kita yang sangat jauh dari kualitas imaan mereka para Shohabat, maka dari itu merekalah yang lebih pasti keberhakannya untuk diikuti.
7) Karena persaksian Para Shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم itu diterima oleh Allooh سبحانه وتعالى
Perhatikanlah firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. Al Baqoroh (2) ayat 143 :
وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطاً لِّتَكُونُواْ شُهَدَاء عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيداً
Artinya:
“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rosuul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu…”
Para Shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم itu adalah Ummat yang mempunyai sikap pertengahan (wasathiyyah) diantara ifrooth (melampaui batas) dan tafriith (menyia-nyiakan); dan pertengahan diantara berlebih-lebihan dan sewenang-wenang, baik dalam masalah ‘aqidah, hukum ataupun akhlaq. Allooh سبحانه وتعالى jadikan mereka sebagai saksi bagi perbuatan manusia, karena mereka memiliki sifat yang adil.
8) Karena Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم menyuruh kita agar mengikuti para Shohabatnya رضي الله عنهم
Perhatikanlah firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. Luqman (31) ayat 15 sebagai berikut:
وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

Artinya:
“… dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Ku lah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
Yang dimaksud dengan “Jalannya orang-orang yang kembali pada Allooh سبحانه وتعالى” itu adalahJalannya para Shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
Juga Hadits yang diriwayatkan oleh Imaam Dhiyaa’ Al Maqdiisy رحمه الله dalam kitab “Al Mukhtaroh” no: 2733, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda,
تفترق هذه الأمة على ثلاث وسبعين فرقة كلهم في النار إلا واحدة قالوا وما هي تلك الفرقة قال ما أنا عليه اليوم وأصحابي

Artinya:
“Ummat ini akan berpecah belah menjadi 73 golongan. Setiap mereka (semua golongan) itu akan masuk neraka kecuali satu,” Kemudian mereka para Shohabat bertanya, “Apa itu ya Rosuulullooh? Dan kelompok apakah itu?” Lalu Rosuul صلى الله عليه وسلم menjawab, “ Yakni apa-apa yang aku dan shohabatku diatasnya hari ini.”
9) Karena Shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم itu adalah orang yang paling selamat
Para Shohabat adalah orang yang paling dekat dengan sumber ‘ilmu yang murni yakni Muhammad Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dan mereka adalah generasi awal hasil didikan langsung dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
Perhatikanlah Hadits Shohiih Riwayat Imaam Al Bukhoory رحمه الله no: 3606 dari Hudzaifah Ibnul Yamaan رضي الله عنه berikut ini :
عن حُذَيْفَةَ بْنَ الْيَمَانِ يَقُولُ كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْخَيْرِ وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنْ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا كُنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَشَرٍّ فَجَاءَنَا اللَّهُ بِهَذَا الْخَيْرِ فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ قَالَ نَعَمْ قُلْتُ وَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْرٍ قَالَ نَعَمْ وَفِيهِ دَخَنٌ قُلْتُ وَمَا دَخَنُهُ قَالَ قَوْمٌ يَهْدُونَ بِغَيْرِ هَدْيِي تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ قُلْتُ فَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ قَالَ نَعَمْ دُعَاةٌ إِلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا فَقَالَ هُمْ مِنْ جِلْدَتِنَا وَيَتَكَلَّمُونَ بِأَلْسِنَتِنَا قُلْتُ فَمَا تَأْمُرُنِي إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ قَالَ تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ قُلْتُ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلَا إِمَامٌ قَالَ فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ بِأَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ
Artinya:
Dari Hudzaifah bin Al Yamaan رضي الله عنه berkata, “ Orang-orang bertanya pada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya tentang kejahatan, karena takut hal itu menimpaku.“
Maka aku katakan, “Wahai Rosuulullooh, sesungguhnya dulu kita berada dalam kejahiliyahan (kebodohan) dan kejahatan, lalu Allooh datangkan pada kami kebaikan (–Islam –pent) ini,maka apakah setelah kebaikan ini akan datang kejahatan?”
Beliau صلى الله عليه وسلم menjawab, “Ya.”
Aku bertanya lagi, “Apakah setelah kejahatan itu akan muncul lagi kebaikan?”
Beliau صلى الله عليه وسلم menjawab, “Ya. Tetapi di dalamnya terdapat noda.”
Aku bertanya lagi, “Noda apakah itu?”
Beliau صلى الله عليه وسلم menjawab, “Yaitu suatu kaum yang berpedoman bukan dengan pedomanku. Kamu tahu dari mereka dan kamu ingkari.”
Aku bertanya lagi, “Lalu apakah setelah kebaikan itu akan muncul lagi kejahatan?”
Beliau صلى الله عليه وسلم menjawab, “Ya. Yaitu para da’i (penyeru) kepada pintu-pintu jahannam. Maka barangsiapa yang memenuhi panggilan mereka, niscaya mereka akan mencampakkannya pada jahannam itu.”
Aku bertanya lagi, “Wahai Rosuulullooh, gambarkanlah kepada kami tentang mereka.”
Lalu beliau صلى الله عليه وسلم menjawab, “Mereka adalah dari kalangan kita. Berkata dengan bahasa kita.”
Aku bertanya, “Apa yang kau perintahkan padaku, jika hal itu menimpaku?”
Beliau صلى الله عليه وسلم menjawab, “Berpegang teguhlah dengan jama’ah muslimin, dan Imaam mereka (– kelompok yang berpegang teguh dengan Al Haq – pent).”
Aku bertanya, “Jika mereka tidak punya jama’ah dan tidak punya Imaam?”
Beliau صلى الله عليه وسلم menjawab, “Maka tinggalkan semua golongan itu, walaupun kamu harus menggigit akar pohon sampai kamu mati, sedangkan kamu berada dalam keadaan demikian.”
Dari Hadits diatas jelaslah diberitakan bahwa generasi awal (para Shohabat) itu adalah generasi yang paling murni ilmu dien-nya, dan generasi-generasi berikutnya adalah lebih keruh bila dibandingkan dari generasi awalnya. Oleh karena itu bila hendak mengambil ilmudien, maka ambillah dari sumbernya yang murni, karena itulah yang paling selamat. Dan hendaknya kaum muslimin memperhatikan bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلمtelah mensinyalir akan adanya para da’i-da’i penyeru di pintu api neraka jahannampada generasi-generasi sesudahnya. Maka hendaknya kaum muslimin berhati-hati, dari siapa ia mengambil ilmu diennya !
10) Para Shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم itu adalah orang yang paling ‘aalim
Perhatikanlah atsar dari ‘Abdullooh bin Mas’uud رضي الله عنه, dimana beliau berkata:
“Barangsiapa yang ingin mencontoh, maka contohlah para Shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, kerena mereka itu hatinya paling baik, ilmunya paling dalam. Tidak membebani diri (– dengan apa-apa yang Bid’ah –). Petunjuknya paling lurus. Keadaan diennya paling baik. Dan Shohabat itu adalah suatu kaum yang Allooh سبحانه وتعالى pilih untuk mendampingi Rosuulullooh untuk menegakkan dien-Nya. Maka ketahuilah keutamaan mereka. Dan ikutilah peninggalan-peninggalan mereka sebab mereka diatas petunjuk yang lurus.” (dinukil dari kitab Imaam Al Laalika’i رحمه الله yang berjudul “Syarah Ushuul I’tiqood Ahlis Sunnah Wal Jamaa’ah”)
Banyak para Shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم yang merupakan perintis madrosah ke-ilmuan di berbagai daerah, mereka antara lain adalah ‘Abdullooh bin Abbas رضي الله عنه yang terkenal sebagai ahli ilmu Tafsiir di Mekkah, ‘Abdullooh bin Mas’uud رضي الله عنه yang merupakan perintis madrosah keilmuan di Kuffah, ‘Abdullooh bin ‘Umar رضي الله عنه yang merupakan perintis madrosah keilmuan di Madinah, ‘Abdullooh bin Amr bin Al Ash رضي الله عنه yang merupakan perintis madrosah keilmuan di Mesir, dan lain sebagainya.
11) Para Shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم itu adalah orang yang paling bijaksana
Perhatikanlah firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. An Nahl (16) ayat 125 :
ادْعُ إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
Artinya:
“Serulah (manusia) kepada jalan Robb-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Robb-mu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”
Allooh سبحانه وتعالى menyuruh kaum muslimin berdakwah dengan cara yang hikmah (nasehat) yang baik. Bagaimana seseorang menyeru manusia dengan hikmah apabila dirinya sendiri tidak memiliki hikmah?
Perhatikanlah kebijaksanaan yang tercermin dari perkataan ‘Umar bin ‘Abdul Aziiz رضي الله عنه, yang oleh Al Imaam Asy Syaafi’iy disebut sebagai Khaliifah ke-5, dimana suatu hari beliau bertemu dengan Sulaiman bin ‘Abdul Maalik
Kata Sulaiman bin ‘Abdul Maalik : “Wahai ‘Umar, apa yang mengagumkanmu?”
Jawab ‘Umar bin ‘Abdul Aziiz رضي الله عنه : “Aku merasa heran pada orang yang mengenal Alloohسبحانه وتعالى, namun dia berma’shiyat pada Allooh سبحانه وتعالى. Dan aku heran pada orang yang tahu tentang Syaithoon, namun ia mentaatinya. Dan aku pun heran pada orang yang tahu tentang dunia, namun ia justru cenderung padanya.”
Dalam Hadiits Riwayat Imaam At Turmudzy no: 2323 dan Imaam Ibnu Maajah no: 4108, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
ما الدنيا إلا مثل ما يجعل أحدكم إصبعه في اليم فلينظر بماذا يرجع
Artinya:
“Bahwa dunia itu tidaklah kecuali laksana telunjuk yang dicelup kedalam lautan yang luas, maka perhatikanlah apa yang tersisa.”
Perhatikanlah pula hikmah yang terselip dalam nasihat Imaam Al Laits bin Sa’ad Al Fahmy رضي الله عنه, seorang taabi’iin, beliau berkata : “Jika kalian melihat orang berjalan diatas air maka janganlah kalian tertipu, sampai kalian mengadukan perkara itu kepada Al Qur’an dan As Sunnah.”
Maksud dari nasihat Imaam Al Laits bin Sa’ad Al Fahmy رضي الله عنه tersebut adalah janganlah mudah tertipu dengan seseorang yang tampaknya hebat karena bisa berjalan di atas air (sebagaimana yang bisa dilakukan oleh para penyulap dan penyihir), namun hendaknya kembalikanlah perkara tersebut pada Al Qur’an dan As Sunnah tentang hukum sulap maupun sihir. Bagaimana tinjauan hukum Sulap maupun Sihir tersebut secara Syari’at Islam? Bisa jadi apa yang tampak hebat dalam pandangan manusia, namun itu justru merupakan perkara yang Harom yang dapat menjatuhkan manusia ke jurang kesyirikan dan mendatangkan murka Allooh سبحانه وتعالى.
12) Yang mengikuti Salaf itu dipuji oleh Allooh سبحانه وتعالى dan yang tidak mengikutinya dicela oleh Allooh سبحانه وتعالى
Perhatikanlah firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. Az Zumar (39) ayat 17-18 :
وَالَّذِينَ اجْتَنَبُوا الطَّاغُوتَ أَن يَعْبُدُوهَا وَأَنَابُوا إِلَى اللَّهِ لَهُمُ الْبُشْرَى فَبَشِّرْ عِبَادِ ﴿١٧﴾ الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ أُوْلَئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ وَأُوْلَئِكَ هُمْ أُوْلُوا الْأَلْبَابِ ﴿١٨

Artinya:
(17) “Dan orang-orang yang menjauhi thoghut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allooh, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku,”
(18) “yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya.Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allooh petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.”

13) Allooh سبحانه وتعالى mengancam orang yang menyelisihi Para Shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم
Perhatikanlah firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. An Nisaa’ (4) ayat 115 :
وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءتْ مَصِيراً

Artinya:
“Dan barangsiapa yang menentang Rosuul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.”
Dalam riwayat tersebut, yang dimaksud sebagai “jalannya orang-orang mu’min” (sabiilul mu’miniin) pada masa itu adalah jalan yang ditempuh para Shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
Juga firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. Al Anfaal (8) ayat 13 :
ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ شَآقُّواْ اللّهَ وَرَسُولَهُ وَمَن يُشَاقِقِ اللّهَ وَرَسُولَهُ فَإِنَّ اللّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Artinya:
“ (Ketentuan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka menentang Allooh dan Rosuul-Nya; dan barangsiapa menentang Allooh dan Rosuul-Nya, maka sesungguhnya Allooh amat keras siksaan-Nya.”
14) Wajib mencintai para Shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dan dicela orang yang membenci Shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم
Dalam Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 3673 dan Imaam Muslim no: 6651, dari Shohabat Abu Saa’id Al Khudry رضي الله عنه bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ
Artinya:
“Janganlah kalian mencaci maki Shohabatku, sebab seandainya salah seorang dari kalian berinfaq sebesar gunung Uhud emas, tidak akan sampai pada 1 mud (raupan keduatangannya) diantara kalian bahkan tidak setengahnya sekalipun.”
Juga dalam Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 17, dari Shohabat Anas bin Maalik رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda,
آيَةُ الْإِيمَانِ حُبُّ الْأَنْصَارِ وَآيَةُ النِّفَاقِ بُغْضُ الْأَنْصَارِ
Artinya:
“Tanda keimanan itu adalah mencintai Al Anshor dan tanda orang munaafiq adalah membenci Al Anshor.”

15) Mengikuti para Shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم itu adalah kunci kejayaan Islam
Imaam Maalik bin Anas رضي الله عنه berkata, “Akhir ummat ini tidak akan berjaya atau tidak akan baik, kecuali dengan perkara yang menyebabkan generasi awalnya baik.”
Juga perkataan Imaam Al Auzaa’i رضي الله عنه :
“Sabarkanlah dirimu diatas Sunnah. Berhentilah (menyikapi sesuatu), jika para Shohabat berhenti. Katakan apa yang mereka (para Shohabat) katakan. Dan berhentilah (dalam membahas sesuatu), apabila para Shohabat tidak membahasnya. Dan titilah jalan As Salafus Shoolih. Sesungguhnya kelapangan (kejayaan) akan kamu alami seperti mereka.”
Demikianlah 15 alasan mengapa kita hendaknya memilih manhaj Salaf. Dan sebagai penutup adalah wasiat dan untain kata-kata hikmah yang datang dari para Imaam Ahlus Sunnah Wal Jamaa’ah :
a) Hudzaifah bin Al Yamaan رضي الله عنه, salah seorang Shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلمberkata:
“Setiap ibadah yang tidak pernah dilakukan oleh Shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم sebagai ibadah, maka janganlah kalian lakukan ! Karena generasi pertama itu tidak memberikan kesempatan kepada generasi berikutnya untuk berpendapat (dalam perkara dien). Bertaqwalah kepada Allooh سبحانه وتعالى wahai para qurro’ (ahlul qiro’ah) dan ambillah jalan orang-orang sebelum kalian !” (dinukil dari kitab Imaam Ibnu Baththah رحمه الله yang berjudul “Al Ibaanah”)

b) ‘Abdullooh bin Mas’uud رضي الله عنه, salah seorang Shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم berkata :
“Barangsiapa mengikuti jejak (seseorang), maka ikutilah jejak orang-orang yang telah wafat, mereka adalah para shohabat Muhammad صلى الله عليه وسلم. Mereka adalah sebaik-baik ummat ini, paling baik hatinya, paling dalam ilmunya dan paling sedikit berpura-pura. Mereka adalah suatu kaum yang telah dipilih oleh Alloohسبحانه وتعالى untuk menjadi Shohabat Nabi-Nya صلى الله عليه وسلم dan menyebarkan dien-nya; maka berusahalah untuk meniru akhlaq dan cara mereka. Karena mereka telah berjalan diatas petunjuk yang lurus.” (dinukil dari kitab Imaam Al Baghowy رحمه الله yang berjudul “Syarhus Sunnah”)
c) Khaliifah yang adil ‘Umar bin ‘Abdul Aziiz رضي الله عنه, salah seorang Taabi’iin berkata :
“Berhentilah kamu dimana para Shohabat berhenti (– dalam memahami nash –),karena mereka berhenti berdasarkan ilmu dan dengan penglihatan yang tajam, mereka menahan (diri). Mereka lebih mampu untuk menyingkapnya dan lebih patut dengan keutamaan. Seandainya hal tersebut ada didalamnya. Jika kalian katakan: ‘Terjadi (suatu Bid’ah) setelah mereka’. Maka tidaklah diada-adakan kecuali oleh orang yang menyelisihi petunjuknya dan membenci Sunnah. Sungguh mereka telah menyebutkan dalam petunjuk itu apa yang melegakan (dada) dan mereka sudah membicarakannya dengan cukup. Dan apa yang dibawahnya, adalah orang yang meremehkan. Sungguh ada suatu kaum yang meremehkan mereka, lalu mereka menjadi kasar. Dan ada pula yang melebihi batas mereka, maka mereka menjadi berlebih-lebihan. Sungguh para Shohabat itu, diantara kedua jalan tersebut (– pertengahan sikap meremehkan dan berlebih-lebihan –), dan tentulah diatas petunjuk yang lurus.” (dinukil dari kitab Imaam Ibnu Qudamah رحمه الله yang berjudul “Lum’atul I’tiqodil Hadi Ilas Sabiilir Rosyaad”)
d) Imaam Al Auzaa’i رحمه الله, salah seorang Taabi’iin berkata :
“Hendaklah engkau berpegang dengan atsar para pendahulu ummat (Salaf), meskipun orang-orang menolakmu dan jauhkanlah dirimu dari pendapat para tokoh meskipun ia hiasi pendapatnya dengan perkataan yang indah. Sesungguhnya hal itu akan jelas, sedangkan engkau berada diatas jalan yang lurus.” (dinukil dari kitab Imaam Al Khatib رحمه الله yang berjudul “Saraf Ashhaabul Hadiits”)
e) Rabi’ bin Sulaiman berkata: “Imaam Asy-Syaafi’i رحمه الله pada suatu hari meriwayatkan hadits, lalu seseorang berkata kepada beliau رحمه الله: ‘Apakah engkau mengambil hadits ini wahai Abu ‘Abdillaah?’
Beliau رحمه الله pun menjawab, “Bilamana aku meriwayatkan suatu hadits yang shohiih dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم lalu aku tidak mengambilnya, maka aku bersaksi dihadapan kalian bahwa akalku telah hilang.” (dinukil dari kitab Imaam Ibnu Baththah رحمه الله yang berjudul “Al Ibaanah”)
f) Perkataan Imaam Asy-Syaafi’i رحمه الله tentang Ahlus Sunnah,
“Jika aku melihat seseorang dari ashhaabul hadiits (ahli hadiits), maka seakan-akan aku melihat seseorang dari Shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.” (dinukil dari kitab Imaam Al Khatib رحمه الله yang berjudul “Saraf Ashhaabul Hadiits”)
g) Al Fudhail bin ‘Iyaadh رحمه الله berkata:
“Sesungguhnya Allooh mempunyai hamba-hamba yang dengan mereka Dia menghidupkan negeri, mereka adalah Ashhaabus Sunnah.” (dinukil dari kitab Imaam Al Laalika’i رحمه الله yang berjudul “Syarah Ushuul I’tiqood Ahlis Sunnah Wal Jamaa’ah”)
h) ‘Abdullooh bin ‘Umar رضي الله عنه, salah seorang Shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم berkata :
“Setiap bid’ah adalah sesat, walaupun manusia menganggapnya baik.” (dinukil dari kitab Imaam Al Laalika’i رحمه الله yang berjudul “Syarah Ushuul I’tiqood Ahlis Sunnah Wal Jamaa’ah”)
i) Sufyan Ats Tsauri رحمه الله berkata:
“Perbuatan Bid’ah lebih dicintai oleh iblis daripada kema’shiyatan dan pelaku kema’shiyatan masih mungkin dia untuk bertaubat dari kema’shiyatannya; sedangkan pelaku Bid’ah sulit untuk bertaubat dari Bid’ahnya.” (dinukil dari kitab Imaam Al Laalika’i رحمه الله yang berjudul “Syarah Ushuul I’tiqood Ahlis Sunnah Wal Jamaa’ah”)
j) Dari Nuh al-Jaami’ berkata, “Aku bertanya kepada Abu Haniifah رحمه الله : “Apakah yang engkau katakan terhadap perkataan yang dibuat-buat oleh orang-orang seperti A’radh dan Ajsam?” Beliau رحمه الله menjawab,”Itu adalah perkataan orang-orang Ahli Filsafat.Berpegangteguhlah pada atsar dan jalan orang Salaf. Dan waspadalah terhadap segala sesuatu yang diada-adakan, karena hal tersebut adalah Bid’ah!” (dinukil dari kitab Imaam Al Khatib رحمه الله yang berjudul “Al Faqih wal Mutafaqqih”)
k) Imaam Maalik bin Anas رحمه الله, guru dari Imaam Asy-Syaafi’i رحمه الله berkata, “Seandainya ilmu Kalam itu merupakan ilmu, niscaya para Shohabat dan Taabi’iin berbicara tentang hal itu sebagaimana mereka berbicara tentang hukum dan Syari’at; akan tetapi ilmu Kalam itu baathil yang menunjukkan kepada kebaathilan.” (dinukil dari kitab Imaam Al Baghowy رحمه الله yang berjudul “Syarhus Sunnah”)
l) Dari Ibnu Majisyuun, dia berkata, “Aku mendengar Imaam Maalik رحمه الله berkata, ‘Barangsiapa berbuat suatu Bid’ah dalam Islam lalu ia menganggapnya sebagai suatu kebaikan, berarti ia telah menyangka bahwa Muhammad صلى الله عليه وسلم telah berkhianat terhadap risaalah. Karena Allooh سبحانه وتعالى telah berfirman: “Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu dien-mu…” Maka apa-apa yang saat itu tidak merupakan dien, maka pada saat ini juga tidak merupakan dien.” (dinukil dari kitab Imaam Asy-Syaathiby رحمه الله yang berjudul “Al I’tishoom”)
m) Imaam Ahmad bin Hanbal رحمه الله, Imaam Ahlus Sunnah berkata, “Pokok sunnah menurut kami (Ahlus Sunnah Wal Jamaa’ah) adalah: Berpegang teguh pada apa yang dilakukan oleh para Shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dan mengikuti mereka serta meninggalkan Bid’ah. Segala Bid’ah itu adalah sesat.” (dinukil dari kitab Imaam Al Laalika’i رحمه الله yang berjudul “Syarah Ushuul I’tiqood Ahlis Sunnah Wal Jamaa’ah”)
n) ‘Abdullooh bin Mubaarok رحمه الله , salah seorang Taabi’iin berkata:
“Ketahuilah – wahai Saudaraku – bahwa kematian seorang Muslim untuk bertemu dengan Allooh diatas sunnah pada hari ini merupakan suatu kehormatan, lalu (kita ucapkan): ‘Innaa Lillaahi Wa innaa Ilaihi Rojiuun’ (Sesungguhnya kita adalah milik Allooh dan sesungguhnya kita akan kembali kepada-Nya). Maka kepada Allooh-lah kita mengadu atas kesepian diri kita, kepergian saudara, sedikitnya penolong dan munculnya Bid’ah. Dan kepada Allooh pulalah kita mengadu atas beratnya cobaan yang menimpa ummat ini berupa kepergian para ‘Ulama dan Ahlus Sunnah serta munculnya Bid’ah.” (dinukil dari kitab Imaam Ibnu Wadhdhah رحمه الله yang berjudul “Al Bida’ Wan Nahyu ‘Anha”)

o) Imaam Al Fudhail bin ‘Iyaadh رحمه الله berkata:
“Ikutilah jalan-jalan kebenaran itu, dan jangan hiraukan walaupun sedikit orang yang mengikutinya ! Jauhkanlah dirimu dari jalan-jalan kesesatan dan janganlah terpesona dengan banyaknya orang yang menempuh jalan kebinasaan !” (dinukil dari kitab Imaam Asy-Syaathiby رحمه الله yang berjudul “Al I’tishoom”)
Sekian dulu bahasan pada kesempatan kali ini, mudah-mudahan Allooh سبحانه وتعالى selalu melimpahkan taufiq dan hidayah kepada kita semua untuk istiqomah sampai akhir hayat. Kita akhiri dengan Do’a Kafaratul Majlis :
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Zadanallah hilman wa Hirshan
Oleh: Ustadz Achmad Rofi’i, Lc. MM.PP
Sumber-ustadzrofii.wordpress.com
Abu Muhammad@

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

ETIKA BERPAKAIAN DAN BERHIAS

ETIKA BERPAKAIAN DAN BRHIAS-FIQIH

Etika Berpakaian dan BerhiaS)
‘AADAAB AL LIBAASI WAZZIINAH

Oleh: Ustadz Achmad Rofi’i, Lc.

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allooh سبحانه وتعالى,
Pada kesempatan kali ini kami sampaikan perkara penting, yang oleh sebagian orang dianggap perkara remeh dan sepele. Padahal perkaranya adalah penting berkenaan dengan orang laki-laki maupun perempuan. Tidak sedikit dari kaum muslimin yang belum sesuai dengan pedoman Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Perkara yang dimaksud adalah yang disebut dengan ‘Aadaab Al Libaasi Wazziinah (Etika berpakaian dan Berhias).
Allooh سبحانه وتعالى menciptakan manusia dalam penciptaan yang sebaik-baiknya. Allooh سبحانه وتعالى berfirman:
لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
“Sungguh telah Kami ciptakan manusia itu dalam bentuk yang sebaik-baiknya.“ (QS. At Tiin ayat 4)
Penciptaan itu ternyata berikutnya tidak dibiarkan begitu saja, tetapi dibimbing, diarahkan bahkan diatur, mana yang layak dikenakan maupun yang tidak. Laki-laki dan perempuan ada perbedaan. Tidak mungkin dan tidak bisa untuk disamaratakan. Betapapun mereka adalah sama dalam pandangan Allooh سبحانه وتعالى, karena mereka semua adalah hamba Allooh سبحانه وتعالى, tetapi dalam kiprah mereka berkenaan dengan aturan Allooh سبحانه وتعالى, terutama dalam masalah bagaimana menutupi aurat adalah berbeda antara laki-laki dan perempuan.
Apa yang harus diperhatikan kalau kita berpakaian dan/ atau berhias?
Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم telah menjelaskan kepada kita tentang bagaimana kita berpakaian, dan telah pula dijelaskan dalam Al Qur’an. Oleh karena itu kita tidak boleh melanggar aturan itu, karena bila melanggar berarti kita tidak taat dan patuh kepada Allooh سبحانه وتعالى dan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, bahkan mungkin termasuk menyelisihi dan tidak mencontoh kepada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
1. Yakini bahwa pakaian yang kita kenakan adalah nikmat dari Allooh سبحانه وتعالى.
Dalam Al Qur’an Surat Al A’roof ayat 26 Allooh سبحانه وتعالى berfirman:
يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاساً يُوَارِي سَوْءَاتِكُمْ وَرِيشاً وَلِبَاسُ التَّقْوَىَ ذَلِكَ خَيْرٌ ذَلِكَ مِنْ آيَاتِ اللّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ
Wahai anak-cucu Adam sungguh telah Kami turunkan kepada kalian pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allooh, mudah-mudahan mereka selalu ingat.
Maka kita harus yakin bahwa pakaian yang kita pakai ini adalah diturunkan (dijulurkan) dari atas. Tentunya melalui proses, misalnya dari tanah, air, pepohonan, lalu pepohonan itu diproses hingga menjadi tekstil, akhirnya dijahit, akhirnya kita pakai sebagai pakaian kita saat ini. Intinya, pakaian itu nikmat Allooh سبحانه وتعالى.
Menurut ilmu kesehatan, pakaian adalah untuk melindungi hawa dingin atau panas matahari. Tetapi setelah kita sadari bahwa pakaian itu adalah pelindung dari dingin dan panas, berarti pakaian adalah nikmat Allooh سبحانه وتعالى. Sehingga dengan pakaian, kita terlindung dari panas, dingin, atau perkara lain yang membahayakan.
2. Pakaian yang kita kenakan harus menampakkan Tawadhu’ (rendah hati).
Dalam arti tidak termasuk orang yang dengan gigih bila berpakaian itu selalu dengan pakaian yang mewah, atau pakaian yang harganya sangat mahal. Karena sebagaimana dikatakan, bahwa orang yang bertaqwa itu justru tidak bermewah-mewah dalam berpakaian, mereka justrutawadhu’ dalam berpakaian dan dalam hidupnya tidak punya himmah untuk memperlihatkan bahwa ia kaya atau kesohor. Seperti Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم pernah ditanya orang:
إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً. قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
“Seseorang itu suka kalau pakaiannya baik, sandalnya juga baik. Apakah yang demikian termasuk kategori orang sombong, ya Rosuulullooh?”
Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم menjawab: “Sesungguhnya Allooh itu indah, dan suka kepada perkara-perkara yang indah. Sombong itu adalah menolak kebenaran dan menyepelekan orang”. (Hadits Riwayat Imaam Muslim no: 275)
Maksudnya, kalau ada orang yang ditunjukkan tentang kebenaran lalu menolak, diperlihatkan dan dibuktikan dalilnya dan penjelasannya dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, tetapi ia tetap menolak kebenaran (dalil-dalil itu), dipastikan orang itu adalah sombong. Atau menyepelekan orang lain.
Bila ada orang yang mampu tetapi ia tetap berpakaian sederhana, apakah ada kelebihannya dalam pandangan Allooh سبحانه وتعالى?
Dijelaskan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم melalui Hadits yang diriwayatkan oleh Imaam Ahmad dan Imaam At Turmudzi, sabda beliau صلى الله عليه وسلم:
من ترك اللباس تواضعا لله وهو يقدر عليه دعاه الله يوم القيامة على رؤس الخلائق حتى يخيره من أي حلل الإيمان شاء يلبسها
Artinya:
“Barangsiapa yang meninggalkan berpakaian mewah karena tawadhu’ kepada Allooh, atau karena Allooh, padahal ia mampu untuk berpakaian yang mewah maka Allooh akan panggil orang itu pada hari Kiamat di tengah-tengah manusia, sehingga Allooh memberikan pilihan kepada orang itu untuk memilih perhiasan untuk dipakainya”. (Hadits Riwayat Imaam At Turmudzy no: 2481)
3. Janganlah berpakaian dengan pakaian ketenaran.
Misalnya pakaian yang akan memberikan ciri dan tanda bahwa bila ada orang berpakaian tertentu, maka ia adalah si Fulan. Supaya dikenal dan supaya beda dengan orang lain, baik itu dengan modelnya, dengan kesederhanaannya, yang niatnya mencari ketenaran. Atau sebaliknya, bila berpakaian dengan yang serba mewah, dan sebagainya. Lalu ia bangga dengan ke-khasannya. Ada orang yang bangga dengan bordirnya, atau dengan baju koko-nya. Yang intinya ia ingin tenar dengan pakaiannya, maka hal itu termasuk pakaian kesohor, yang demikian termasuk berbahaya.
Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dalam Hadits Riwayat Imaam Abu Daawud, dari Abdullah bin ‘Umar رضي الله عنه, bersabda:
مَنْ لَبِسَ ثَوْبَ شُهْرَةٍ أَلْبَسَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثَوْبًا مِثْلَهُ ثُمَّ تُلَهَّبُ فِيهِ النَّارُ
Artinya:
“Barangsiapa yang berpakaian dengan pakaian ketenaran, maka Allooh pada hari Kiamat akan memberi pakaian seperti pakaian yang ia pakai, lalu orang itu dinyalakan dalam api neraka”. (Hadits Riwayat Imaam Abu Daawud no: 4071)
Bayangkan hanya sekedar dengan pakaian, ternyata seseorang disuruh terbakar dalam api neraka. Berarti pakaian ketenaran itu membawa dosa.
4. Berpakaian yang Sunnah dari segi warna adalah warna putih (bagi laki-laki).
Dalam Hadits, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
الْبَسُوا مِنْ ثِيَابِكُمْ الْبِيضَ فَإِنَّهَا مِنْ خَيْرِ ثِيَابِكُمْ وَكَفِّنُوا فِيهَا مَوْتَاكُمْ
Artinya:
“Pakailah pakaian yang berwarna putih. Karena yang demikian itu lebih suci dan lebih baik dan indah. Dan kafani orang-orang mati dari kalian dalam pakaian putih itu”. (Hadits Riwayat Imaam Ahmad no: 3035)
Ini menunjukkan Sunnah, karena Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم menganjurkan kepada kita. Dan dengan kata-kata“Lebih suci dan lebih baik”, menunjukkan bahwa bukan berarti tidak boleh menggunakan warna selain warna putih. Karena sabda beliau: “Warna putih itu lebih baik dan lebih suci.”
Oleh karena itu dalam ‘adab kita (laki-laki) dianjurkan untuk mengenakan pakaian warna putih.
Karena hadits tersebut diatas adalah khusus pakaian untuk laki-laki, sementara orang perempuan justru tidak boleh mengikuti kaidah tersebut. Kalau ada perempuan mengenakan pakaiannya putih-putih justru malah keliru. Karena pakaian putih bagi wanita itu bila terkena sinar matahari, mudah “menerawang” sehingga bentuk tubuhnya justru terlihat, dan ini tidak benar. Bagi perempuan, adabnya adalah menggunakan pakaian berwarna gelap, tidak harus selalu berwarna hitam, tetapi gelap sehingga tidak menampakkan bentuk tubuhnya.
5. Bentuk dan mode baju yang disukai Rosuulullooh adalah Qomis (Gamis).
Dalam Hadits diriwayatkan bahwa pakaian yang paling disukai oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم adalah Qomis (Gamis), cirinya: Berkerah, berlengan, berkantong, dan yang sejenis dengan itu. Kalau kita perhatikan di negara-negara tertentu, Saudi, Kuwait, Qathar dan sekitarnya, orang memakai Saub, mirip gamis tetapi panjang menjulur kebawah. Bila orang pergi Haji suka dibuat oleh-oleh. Namun itu biasanya berkaitan dengan kultur dan cara penghidupan.
Di Indonesia tidak kentara nuansa ke-Islamannya. Karena pakaian yang kita pakai adalah cenderung warisan zaman Belanda. Kalau memakai sarung dan baju koko, maka kelihatan nuansa ke-Islamannya. Yang benar kalau kita memakai sarung, hendaknya sebelah dalamnya memakai celana panjang. Karena bila memakai sarung tanpa celana dalam panjang akan bermasalah ketika shalat, yaitu ketika ruku’ dan sujud. Auratnya masih sering kelihatan dari sebelah belakang. Maka hendaknya memakai celana dalam panjang.
Untuk wanita di Indonesia, pakaiannya hampir-hampir tidak nampak nuansa ke-Islamannya. Karena model di Indonesia konon dikenal dengan model Ibu Kartini. Kalau dilihat dari sisi Syar’ie, sebetulnya tidak sesuai dengan Syari’at Islam.
Bagi laki-laki kalau boleh disarankan, akan lebih mendekati kepada Sunnah bila kita berpakaian Gamis dan dipanjangkan. Jangan bajunya dimasukkan ke dalam celana panjang, biarkan bajunya dijulurkan keluar. Karena bila dimasukkan ke dalam celana panjang, itu akan memperlihatkanSau’ah yaitu sekitar qubul maupun dubur. Dengan dijulurkannya baju maka akan menutup aurat dengan baik. Kalau memakai celana panjang pun, hendaknya celananya longgar, tidak ketat membentuk tubuh.
6. Mulailah berpakaian dengan sebelah kanan.
Tangan kanan atau kaki kanan terlebih dahulu. Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم apabila berpakaian, mendahulukan sebelah kanan. Yang sebelah kanan didahulukan daripada yang kiri. Demikian pula sepatu atau sandal. Dahulukan sebelah kanan, lalu sebelah kiri.
7. Waktu membuka, sebaliknya, kiri dulu barulah yang sebelah kanan.
8. Bagi laki-laki, tidak boleh memanjangkan pakaian dari tiga sisi.
Untuk tutup kepala, kita tidak masalah karena kita memakai peci, baik hitam, putih atau warna lain. Kalau kita memakai tutup kepala, tidak boleh ekor tutup kepala itu menjulur panjang kebawah. Termasuk tidak boleh Isbal (menutup mata-kaki).
Yang standar adalah Imaamah, yaitu kain yang tebal yang dikenakan di bagian kepala, yang menutupi anggota Wudhu. Dari batas muka sampai ke telinga sampai ke belakang kepala semuanya tertutup, tidak bergeser dan tidak berubah. Maka bila kita menggunakan itu, ketika wudhu tidak usah dibuka, cukup dengan mengusap bagian atasnya saja.
Tetapi budaya kita adalah menggunakan peci saja. Tetapi haruslah memperlihatkan budaya ke-Islamannya. Jangan pecinya terlalu tipis, bundar kecil menempel diatas kepala saja, karena nanti bentuknya akan seperti pendeta Nasrani. Atau peci warna hitam atau warna lainnya juga jangan terlalu kecil hanya nempel di kepala, karena nanti seperti orang Yahudi. Kita tidak bolehTasyabbuh (menyerupai) orang kaafir, tetap harus tetap bernuansa Islami.
Lengan baju,batasannya adalah pergelangan tangan. Tidak boleh melebih pergelangan tangan.Karena itu termasuk batas yang dibolehkan bahkan Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم hanya sampai pergelangan tangan.
Kebawah, yang berupa celana atau sarung, pedomannya adalah seperti Hadits riwayat Imaam Ibnu Maajah dari Abu Hurairoh رضي الله عنه, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
إزرة المؤمن إلى أنصاف ساقيه . لاجناح عليه ما بينه وبين الكعبين . وما أسفل من الكعبين في النار
Artinya:
“Sarung seorang mu’min adalah sampai pada urat-urat kedua betisnya, kemudian sampai kedua mata-kaki. Kalau sampai dibawah mata kaki maka yang demikian itu diancam denngan api neraka”. (Hadits Riwayat Imaam Ibnu Maajah no: 3573)
Kita tahu bahwa dosa besar itu ciri-cirinya adalah jika perbuatan itu diancam dengan api neraka. Maka orang yang memakai celana atau sarung sampai menutupi di bawah mata kakinya adalah dosa besar, karena ada ancaman dengan api neraka.
Hadits berikutnya, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
وَإِيَّاكَ وَإِسْبَالَ الإِزَارِ فَإِنَّهَا مِنَ الْمَخِيلَةِ وَإِنَّ اللَّهَ لاَ يُحِبُّ الْمَخِيلَةَ
Artinya:
“Hindari oleh kalian menjulurkan sarung atau celana (sampai menutupi mata-kaki), karena yang demikian adalah bagian dari kesombongan, Allooh tidak menyukainya”. (Hadits Riwayat Imaam Abu Daawud no: 4086)
Dalam Hadits yang lain lagi Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
مَا أَسْفَلَ مِنْ الْكَعْبَيْنِ مِنْ الْإِزَارِ فَفِي النَّارِ
Artinya:
“Pakaian apa saja yang dikenakan sampai di bawah mata kaki adalah masuk neraka”. (Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 5787)
Dalam Hadits lain lagi, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
ثَلاَثَةٌ لاَ يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلاَ يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ » قَالَ فَقَرَأَهَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- ثَلاَثَ مِرَارٍ. قَالَ أَبُو ذَرٍّ خَابُوا وَخَسِرُوا مَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « الْمُسْبِلُ وَالْمَنَّانُ وَالْمُنَفِّقُ سِلْعَتَهُ بِالْحَلِفِ الْكَاذِبِ
Artinya:
“Ada tiga orang, yang Allooh tidak akan berbicara dengan mereka pada hari Kiamat, dan Allooh tidak akan melirik mereka dan Allooh tidak akan men-sucikan mereka, bahkan mereka berhak atas adzab yang pedih, mereka adalah: pertama Musbil, orang yang melakukan Isbal (menjulurkan pakaian sampai batasan yang dibolehkan, menutupi mata-kaki). Kedua, provokator, yang pergi kesana-kemari memperuncing persoalan, membuat retak persaudaraan. Ketiga, orang yang menjual dagangan dengan sumpah palsu”. (Hadits Riwayat Imaam Muslim no: 306)
Hadits lain lagi Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « لاَ يَنْظُرُ اللَّهُ إِلَى مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلاَءَ
Artinya:
“Allooh tidak akan melihat orang yang menjulurkan pakaiannya karena sombong”. (Hadits Riwayat Imaam Muslim no: 5574 dan imaam Al Bukhoory no:3665)
Dengan demikian, maka semua dalil yang disampaikan tersebut di atas adalah memberikan peringatan kepada kita, agar kita (laki-laki) jangan menjulurkan pakaian di bawah mata-kaki.
Yang benar adalah sampai diatas mata-kaki atau sampai pertengahan betis. Itu adalah Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Maka kalau ada orang mengolok-olok kepada orang berpakaian demikian itu termasuk aneh; kita sudah mendengar dan tidak bisa mengelak lagi, bahwa haditsnya jelas, bahwa bagi laki-laki hendaknya meninggikan pakaiannya dari mata-kakinya.
Yang tersebut diatas adalah khusus pakaian untuk laki-laki, sementara orang perempuan tidak boleh mengikuti kaidah tersebut. Kalau ada perempuan mengenakan pakaiannya diatas mata-kaki justru adalah salah. Apalagi di pertengahan betis, itu adalah salah. Justru perempuan adabnya adalah adab yang ke-9 sebagai berikut:
9. Bagi perempuan hendaknya memanjangkan jilbabnya kira-kira satu jengkal.
Dalam Hadits, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
يرخين شبرا فقالت إذا تنكشف أقدامهن قال فيرخينه ذراعا
Artinya:
“Ekor (pakaian) wanita (panjang rok dan jilbab) perempuan itu hendaknya dipanjangkan satu jengkal dari dua mata-kaki”.
Hal ini ditanya oleh Ummu Salamah رضي الله عنها, maka jawab Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم: “Kalau dipanjangkan satu jengkal masih terbuka, maka panjangkan satu dzira’ (satu hasta)” (Hadits Riwayat Imaam At Turmudzy no: 1731)
Yang demikian tentu akan merepotkan, maka antisipasinya dan solusinya, bagi kita yang ingin menjalankan Sunnah, hendaknya para perempuan itu bisa menggunakan dua perkara, pertamamemakai celana panjang dalam, kedua menggunakan kaos kaki.
Sebenarnya ajaran ini tidak ada yang aneh, karena bagi anak kita yang pernah nyantri (di pesantren), akan ditemukan ajaran itu bahwa batasan aurat perempuan menurut Madzhab Syaafi’iy adalah seluruh tubuhnya. Berarti termasuk dibawah kakinya. Jadi ajaran ini sudah sangat lama, hanya saja tidak dipraktekkan. Maka kita sekarang mengkaji ini untuk dipraktekkan.
Maka kami tegaskan bahwa pakaian yang khas bagi perempuan adalah Jilbab. Demikian istilah dari Al Qur’an dan itu adalah wahyu dari Allooh سبحانه وتعالى. Intinya, perempuan hendaknya memanjangkan pakaiannya, dan bukannya memendekkan pakaiannya. Sementara perempuan di zaman sekarang, mereka itu memprioritaskan (mengutamakan) mode, sehingga mengakibatkan murahnya harga-diri perempuan itu sendiri. Sampai-sampai pada akhirnya, laki-laki itu malah lebih sopan pakaiannya dibandingkan perempuan.
Kita tahu aurat laki-laki adalah dari pusar (pinggang) sampai lutut. Jadi bila ada laki-laki memakai celana panjang sampai di bawah lutut saja sudah sopan, tidak melanggar syar’iy. Tetapi bagi perempuan, itu adalah haroom, tidak boleh berpakaian demikian itu.
10. Bagi laki-laki tidak boleh menggunakan sutera dan emas.
Kecuali orang laki-laki memakai sutera untuk penyembuhan. Haditsnya, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم – مَنْ لَبِسَ الْحَرِيرَ فِى الدُّنْيَا لَمْ يَلْبَسْهُ فِى الآخِرَةِ
Artinya:
“Orang yang memakai sutera di dunia, maka ia tidak akan mendapatkan jatah yang demikian itu di akhirat” (Hadits Riwayat Imaam Muslim no: 5546 dan imaam Al Bukhoory no: 5832)
Jadi memakai sutera bagi laki-laki adalah haroom. Karena sutera akan menjadi pakaian laki-laki ketika di akhirat kelak. Orang laki-laki yang memakai sutera ketika di dunia, berarti ia tidak akan mendapatkan pakaian sutera ketika di akhirat kelak. Haditsnya shohiih diriwayatkan Imaam Al Bukhoory dan Imaam Muslim.
Dalam Hadits yang lain, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
عَنْ أَبِي أُمَامَةَ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يَلْبَسْ حَرِيرًا وَلَا ذَهَبًا
Artinya:
“Barangsiapa yang beriman kepada Allooh dan hari akhir, janganlah ia memakai sutera dan emas” (Hadits Riwayat Imaam Ahmad no: 22248)
Dalam Hadits lain, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
عن أبي موسى أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال : أحل الذهب والحرير لإناث أمتي وحرم على ذكورها
Artinya:
“Emas dan sutera dihalalkan bagi para perempuan umatku dan diharoomkan bagi laki-laki”.(Hadits Riwayat Imaam An Nasaa’i : 5148)
Haditsnya shohiih diriwayatkan oleh Imaam An Nasaa-i, Imaam Ahmad dan Imaam Hakim. Inilah yang harus diperhatikan. Yang bukan sutera (atau sutera buatan, tiruan, berarti bukan sutera), maka itu boleh, tidak dilarang.
11. Haroom hukumnya laki-laki menyerupai perempuan dan perempuan menyerupai laki-laki.
Hal ini termasuk dosa besar. Karena Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda dalam sebuah Hadits shohiih yang diriwayatkan oleh Imaam Al Bukhoory, sabda beliau صلى الله عليه وسلم:
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُتَشَبِّهِينَ مِنْ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنْ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ
Artinya:
“Allooh mengutuk perempuan yang menyerupai laki-laki dan laki-laki yang menyerupai perempuan.” (Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 5885)
Maka tidak boleh dan terkutuk bila ada laki-laki yang berpakaian perempuan, atau bergaya seperti perempuan. Kadang ada peragaan yang mana laki-laki memakai rok bermain sepakbola, dan sebagainya, mereka adalah terkutuk. Karena itu termasuk dosa besar.
Termasuk pakaian yang memang khusus untuk wanita, misalnya gelang, kalung, anting. Zaman sekarang, banyak laki-laki yang memakai gelang yang dipakai perempuan, atau yang mirip dengan itu, kalung, anting-anting dan sebagainya. Yang demikian tidak boleh, karena Tasyabbuh(menyerupai) perempuan. Hukumnya haroom.
Maka harus dijaga, kita ini hidup untuk ibadah kepada Allooh سبحانه وتعالى, bukan untuk sekehendak sendiri. Artinya, seluruh gerak dan diam kita harus sesuai dengan pedoman yang ada dan diterapkan oleh Allooh سبحانه وتعالى dan Rosuul-Nya.
Kalau tidak ada aturannya, dan itu urusan duniawi, maka boleh.Tetapi kalau ada nash-nya dari Allooh سبحانه وتعالى dan Rosuul-Nya, maka tidak boleh kita tawar-tawar lagi, karena itu adalah bagian dari kepatuhan kita kepada Allooh سبحانه وتعالى dan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
Dalam Hadits yang lain diriwayatkjan oleh Imaam Abu Daawud, dari Abu Hurairah رضي الله عنه, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الرَّجُلَ يَلْبَسُ لِبْسَةَ الْمَرْأَةِ وَالْمَرْأَةَ تَلْبَسُ لِبْسَةَ الرَّجُلِ
Artinya:
“Allooh mengutuk laki-laki yang memakai pakaian perempuan dan perempuan yang memakai pakaian laki-laki”. (Hadits Riwayat Imaam Abu Daawud no: 4100)
Zaman sekarang misalnya sandal, tidak ada jenis kelaminnya; sandal laki-laki atau sandal perempuan. Laki-laki memakai sandal seperti sandal perempuan, demikian pula sebaliknya. Maka ukurannya adalah ‘Urf. Bila menurut keumuman manusia bahwa sandal (pakaian) itu untuk perempuan, maka tidak boleh dipakai oleh laki-laki. Demikian pula sebaliknya.
Juga tentang cincin, banyak laki-laki memakai cincin. Zaman sekarang karena sudah meniru dunia Barat, bahwa bila seseorang sudah memakai cincin dengan corak tertentu berarti orang tersebut sudah terikat oleh calon pasangannya. Yang demikian itu tidak boleh. Itu adalahTasyabbuh bil kuffaar, menyerupai orang kafir. Tidak boleh dilakukan.
Kalau kita ingin kembali kepada Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, kembalilah dalam banyak perkara dalam kehidupan ini, jangan hanya dalam perkara aqidah dan ibadah. Tetapi dalam seluruh perkara keseharian-pun hendaknya kita kembali kepada Manhaj Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
12. Tidak boleh Taysabbuh (meniru) dengan orang kaafir.
Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda dalam Hadits:
عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
Artinya:
“Siapa yang meniru orang kaafir, maka ia termasuk golongan mereka”. (Hadits Riwayat Imaam Abu Daawud no: 4033)
Misalnya orang kaafir memakai dasi, atau pakaian khas orang kaafir, maka tidak boleh kita tiru. Hukumnya haroom. Zaman sekarang banyak kaum muslimin yang meniru orang kaafir, misalnya: orang kaafir rambutnya dibuat seperti jengger ayam, kaum muslimin ikut-ikutan. Orang kaafir memakai celana dengan lobang di dengkulnya, orang muslimin ikut-ikutan melobangi dengkulnya (celananya).
Tayangan-tayangan TV sering menyiarkan mode-mode pakaian dari berbagai belahan bumi, dan tidak ada halal-haroom bagi mereka, orang-orang kaafir. Laki-laki dan perempuan kaafir bergaul sedemikian rupa tanpa batas, seperti hewan. Kalau mau mereka makan, kalau tidak mau tidak mereka makan, itulah hewan. Bagi kaum muslimin yang mengikuti pergaulan demikian, namanyaTasyabbuh, dan tidak boleh (haroom). Yang demikian terutama TV adalah bagian dari sosialisasi budaya yang paling mengarah dan membekas. Bila kaum muslimin sebagai penontonnya lantas meniru, lalu mengambil manfaat dari budaya demikian itu, maka kaum muslimin tidak akan menjadi selamat, melainkan justru menjadi terkutuk disisi Allooh سبحانه وتعالى.
13. Ekor pakaian (surban) hanya sampai belikat.
Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم ketika memakai tutup kepala (surban), ekornya hanya sampai kedua belikat. Lebih dari itu termasuk tidak boleh.
14. Pakaian yang dipakai harus suci.
Ketika memakai pakaian hendaknya pakaian yang bersih, suci. Jangan yang tidak suci. Banyak orang yang dari rumah memakai pakaian, ketika sampai di masjid hendak shalat lalu pakaiannya diletakkan di pojok masjid, ganti dengan pakaian sarung, lalu shalat. Ketika ditanya mengapa ganti pakaian, ia menjawab bahwa pakaiannya itu ada najisnya. Kalau memang ada najisnya tentunya jangan dipakai. Jadikan pakaian kita itu suci, kemana pun dan dimana pun berada, pakaian harus suci. Karena berpakaian adalah ibadah.
Menurut Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم diperbolehkan kita shalat dengan memakai sandal atau sepatu. Boleh, yang penting tidak najis. Menunjukkan bahwa pakaian yang kita pakai adalah suci.
15. Pakaian harus menutupi aurat.
Tentang aurat ini oleh Allooh سبحانه وتعالى dijelaskan terutama untuk perempuan. Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam surat Al Ahzab (33) ayat 59 :
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاء الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُوراً رَّحِيماً
“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allooh adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
Jilbab, sebagaimana terdengar dalam ayat adalah pakaian yang berbeda dengan pakaian laki-laki. Pakaian perempuan bukan pakaian belahan (bukan pakaian atasan dan bawahan), melainkan pakaian yang menutupi seluruh tubuh dan dikenakan dari atas lalu kebawah. Pakaian perempuan adalah yang dipakai dari arah kepala. Itulah Jilbab, yang sekarang sudah populer. Maka para perempuan hendaknya memakai Jilbab. Pakaian Jilbab itulah yang diperintahkan oleh Allooh سبحانه وتعالى kepada Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, untuk isteri-isteri beliau, untuk anak-anak dan para muslimah.
Jilbab itu sebenarnya berupa rok, tetapi mempunyai spesifikasi berbeda dengan rok. Jilbab bahannya :
1. Tidak boleh tipis, harus tebal, dan tidak memperlihatkan bentuk tubuh.
2. Tidak boleh transparan. Walau pun tebal tetapi banyak berlubang-lubang, tidak boleh dipakai.
3. Tidak boleh sempit. Harus longgar. Harus melebihi besaran tubuh.
4. Tidak boleh menarik perhatian, jangan warna mencolok sehingga memancing pandangan laki-laki. Yakinlah bahwa jodoh itu Allooh سبحانه وتعالى yang punya. Setiap orang pasti ada jodohnya. Jangan khawatir, jangan mencari jodoh dengan cara yang haroom. Laki-laki yang shoolih akan mencari wanita yang shoolihah.
Doa memakai pakaian :
Salah satu doanya antara lain:
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى كَسَانِى هَذَا الثَّوْبَ وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّى وَلاَ قُوَّةٍ
Alhamdulillaahilladzii kasaani hadzaa tsauba warozaqonihi min ghoiri haulin minni walaa quwwatin.
Artinya:
“Segala puji bagi Allooh yang memberi pakaian ini kepadaku sebagai rezeki daripada-Nya, dengan tanpa daya dan kekuatan dariku.”
(Hadits Riwayat Imaam Abu Daawud no: 4025)
Orang yang berdoa seperti tersebut, maka ia akan diampuni dosa-dosa yang sebelumnya.
Itulah mengenai tata-cara berpakaian menurut syar’i, semua ada 23 perkara, tetapi tidak kami bacakan semua, tetapi intinya saja. Termasuk: Bila anda berpakaian, janganlah memakai pakaian yang bergambar makhluk yang bernyawa. Misalnya: Gambar orang, gambar seorang pemain sepak bola, gambar burung, dll. Yang demikian itu tidak boleh. Dan pakaian demikian itu tidak boleh dipakai untuk shalat. Karena bisa menyebabkan shalatnya tidak sah.
Pakaian batik boleh (Ja’iz), asal batiknya bukan gambar makhluk yang bernyawa.
Demikianlah cara-cara berpakaian yang benar sesuai syari’ah, ternyata Islam itu lengkap, termasuk mengatur bagaimana cara kita berpakaian dan berhias. Oleh karena itu harus kita patuhi, karena itu adalah bagian dari ibadah kepada Allooh سبحانه وتعالى.
Untuk para ibu-ibu, harap diketahui bahwa bahan pakaian yang berlobang-lobang, misalnya bahan burkat (broukat) adalah haroom, tidak boleh dipakai.
Kata Imaam Al Qurthuby, seorang ahli Tafsir Al Qur’an, beliau seorang Ahlussunnah wal Jama’ah, mengatakan bahwa bagi wanita hendaknya disadari, Allooh سبحانه وتعالى menciptakan wanita itu dalam status sebagai perhiasan.Wanita identik perhiasan.
Perhiasan wanita ada dua macam:
1. Ziinatun Ashliyah, artinya perhiasan asli ciptaan Allooh سبحانه وتعالى. Misalnya langsing, gemuk, kulitnya putih, kuning, hitam, hidung mancung, pesek, semua adalah perhiasan yang diberikan Allooh سبحانه وتعالى kepada wanita itu. Itu perhiasan asli. Memang takdir Allooh سبحانه وتعالى berikan seperti itu.
2. Ziinatun Muktasabah, perhiasan yang diupayakan, hasil rekayasa manusia. Itulah yang kemudian disebut dengan pakaian. Pakaian itulah yang dilarang oleh Allooh سبحانه وتعالى.
Firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. An-Nuur (24) Ayat 31:
وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا
Artinya:
“dan janganlah mereka (perempuan itu) menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.”
Jadi perempuan tidak boleh memamerkan perhiasannya. Jangankan perhiasan asli, perhiasan buatan manusia saja tidak boleh diperlihatkan. Kecuali yang biasa nampak. Tidak mungkin pakaian luar disembunyikan. Pakaian luar boleh nampak, tetapi tidak boleh direkayasa.
Itulah ajaran Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, dan itu bukan budaya, melainkan ibadah yang harus kita laksanakan. Yaitu cara (kaidah) berpakaian yang harus kita patuhi, termasuk tidak boleh menggunakan assesories. Misalnya bagi perempuan dilarang memakai bross, termasuk bross yang ada tulisan “Allooh” yang berbentuk hati. Mungkin maksudnya: I love Allooh.Tetapi itu tidak boleh dipakai. Apa saja yang berbentuk hiasan pada tubuh wanita, maka tidak boleh.
Demikian pula bila ibu-ibu atau perempuan muslimah mengenakan kerudung, jangan seperti orang Indonesia zaman dahulu, (nenek-nenek yang memakai kerudung) yang berupa selendang, lebarnya kira-kira 30 cm X 2 meter, lalu disampirkan ke kepalanya lalu dilipatkan ke belakang. Itu namanya kerudung kapstok. Karena rambut dan bulat-kepala si ibu-ibu itu masih kelihatan
Sedangkan yang sesuai dengan Sunnah (ajaran Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم), Jilbab adalah membentuk segitiga. Kepala sampai ke bahu tidak kelihatan bentuknya, hanya berbentuk segitiga saja, kuping dan leher tidak kelihatan. Dari kepala atas sampai bahu membentuk segitiga. Kemudian bentuknya menutup (menjulur) hingga ke bawah tubuhnya, dan jangan membentuk tubuh. Jilbab (kerudung) yang mengatung hanya sampai di dada saja, maka itu adalah kerudung perhiasan, dan bukanlah tergolong jilbab / kerudung ibadah.
Demikian ajaran Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, hendaknya jilbab dan kerudung dijulurkan ke bawah, sehingga bentuk tubuhnya (bentuk kepalanya, lengan tangan, dada, maupun pinggulnya sudah tidak tampak bentuknya lagi, karena tertutup oleh Jilbab tersebut). Dengan begitu inya Alloohta’alaa kita telah menjalankan apa yang menjadi perintah Allooh سبحانه وتعالى.
Demikian pula ketika perempuan berjalan, jangan sampai jalannya menggoda laki-laki. Karena seluruh tubuh perempuan adalah perhiasan. Ketika berbicara, suara perempuan itu menawan. Ketika perempuan berjalan, jalannya menarik. Oleh karena itu laki-laki disyari’atkan oleh Islam tidak boleh berjalan di belakang perempuan. Apalagi jalan bersama di kiri (kanan) perempuan. Berjalannya harus di depan perempuan, supaya tidak memandang cara berjalannya perempuan. Sebab akhirnya, dapat membayangkan yang tidak-tidak.
Tubuh perempuan pun tidak syak lagi pasti menarik bagi laki-laki. Dan sebenarnya, sepakat orang yang berakal, bahwa cantik dan tidaknya seorang perempuan itu, terletak pada wajahnya. Bila seseorang dikatakan cantik, tentu adalah karena wajahnya. Karena itu kecantikannya hendaknya jangan dibiarkan untuk memfitnah kaum laki-laki. Karena memang demikian lah Islam mensyari’atkan.
Berikutnya, bila memakai parfum ketika keluar rumah janganlah dengan sengaja. Dalam artian, ia ber-make-up khusus pakaian untuk keluar rumah. Yang anggarannya pun khusus.
Sedangkan kalau ia mandi dengan sabun mandi, sabunnya ada unsur parfum, atau ia misalnya memelihara tubuhnya di rumahnya, atau berhias untuk suaminya, lalu ada unsur harum bagi suaminya, maka ketika ia keluar rumah, itu termasuk ja’iz (boleh).
Tetapi kalau dengan sengaja, misalnya hendak pergi kondangan, anggaran berpakaiannya khusus, lalu hendak pergi kerja anggaran pakaiannya juga khusus, yang seperti itu lah yang tidak boleh. Wanita itu ibadahnya di dalam rumahnya, mempercantik diri untuk suaminya, bukan untuk menimbulkan fitnah bagi laki-laki lain yang bukan mahromnya.
Sabda Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم:
أم سلمة رضي الله عنها تقول : سمعت رسول الله لله عليه و سلم يقول : أيما امرأة ماتت وزوجها عنها راض دخلت الجنة
Artinya:
“Perempuan siapa saja yang mati, sedangkan suaminya puas terhadap perempuan (isterinya) tadi, karena khidmatnya, karena cintanya, karena sayangnya, karena bakti kepada suaminya, sehingga suaminya ridho kepada isterinya, perempuan itu akan dipersilakan masuk ke dalam surga Allooh dari delapan pintu surga, yang mana ia mau”. (Hadits Riwayat Imaam Al Haakim no: 7328)
Bagaimana mencapai seperti itu, adalah dengan berkhidmat kepada suami di rumahnya.
Demikianlah yang diajarkan berdasarkan Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Mudah-mudahan menjadi jelas, dan kalau kita sudah tahu ilmu itu, hendaknya kita amalkan.
Tanya-Jawab:
Pertanyaan:
1. Sekarang ada trend (model), orang menikahkan anaknya di masjid. Lalu ketika para tamu yang ikut menyaksikan akad-nikahnya, terutama tamu-tamu perempuan tidak memakai pakaian yang Islami, sesuai dengan ajaran Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم seperti yang disebutkan diatas. Ibu-ibunya tidak memakai jilbab dan seterusnya, menghormati masjid pun tidak, shalat tahiyatul masjid juga tidak. Ini bagaimana?
2. Pengantin putrinya dihias sedemikian rupa sehingga berubah wajahnya, apalagi orang Jawa, perempuannya suka dibuka wajahnya. Apakah Sunnah menikahkan anak di masjid?
Jawaban:
1. Kebiasaan di negeri kita, akad-nikah dan walimah menjadi satu waktu. Misalnya akad-nikah jam 09.00, lalu diteruskan dengan walimah. Yang demikian itu, akan banyak sekali madhorotnya secara syar’i, dibandingkan jika akad-nikah dahulu lalu di lain waktu barulah diadakan walimah (makan-makan).
Maka dianjurkan, berdasarkan ajaran Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bila kita hendak menikahkan anak, akad-nikahkan dulu si pengantin, lalu setelah itu walimah. Misalnya: akad-nikahkan dulu tiga hari sebelum walimah, atau seminggu sebelum walimah atau sebulan sebelum walimah. Karena akad dengan walimah itu berbeda. Akad-nikah adalah berkaitan dengan penghalalan faroj(kelamin). Sedangkan walimah adalah meng-iklankan (mengumumkan, pemberitahuan bahwa tidak ada fitnah lagi karena si Fulan dengan Fulanah telah menikah, resmi menjadi suami-isteri).
2. Akad-nikah di masjid boleh, tetapi walimah di masjid jangan. Karena masjid dijadikan tempat makan-makan. Apalagi “walimah” di Indonesia adalah pesta. Orang memperlihatkan atau memamerkan kekayaannya, statusnya, perhiasannya, dan seterusnya, yang demikian itu tidak boleh. Dan ketika datang menghadiri akad-nikah tidaklah mungkin perempuan dari rumahnya ber-make-up lalu di masjid berwudhu.
Maka walimah di masjid lebih banyak madhorotnya, dan tidak sesuai dengan syari’at. Tetapi kalau hanya akad-nikah saja boleh.
Karena acara akad-nikah itu tidak berkaitan dengan perempuannya (calon mempelai perempuan), maka hendaknya dibiasakan bila mengadakan acara menikahkan anak, si calon mempelai wanita tidak usah disandingkan di tempat acara akad-nikah.
Jadi jangan laki-laki dan perempuan yang sebenarnya belum sah menjadi suami istri karena proses akad nikahnya belum berlangsung, tetapi lalu sedari awal acaranya tersebut sudah disandingkan dan berhimpitan duduk jejer berdua, itu haroom hukumnya. Apalagi kalau dalam undangannya sudah ada foto (gambar) kedua orang laki-laki dan perempuan tersebut (kedua calon mempelai); padahal mereka saat itu belum menikah, tapi mereka sudah duduk berhimpitan, berpelukan. Itu tidak boleh, haroom.
Ketika akad-nikah yang ada adalah: Wali, Calon pengantin laki-laki, para saksi. Calon mempelai perempuan cukup di rumah atau di kamar. Setelah acara akad-nikah selesai, maka sudah resmi menjadi suami-isteri, otomatis si mempelai perempuan menjadi milik si laki-laki itu.
Sehingga saat akad nikah, calon mempelai perempuan sebenarnya tidak perlu dilihat oleh si laki-laki, bukankah dia sudah dilihat oleh laki-laki tersebut ketika proses Nazhor ataupun Khitbah(meminang).
Ketika akad-nikah, tidak perlu dihadirkan calon mempelai perempuannya atau ibu-ibunya. Dan walimah hendaknya tidak di masjid.
Pertanyaan:
Dalam berpakaian, berjilbab, apakah ada pengecualian (rukhshoh) misalnya dalam pelaksanaan olahraga, sepakbola, tenis atau berenang?
Jawaban:
Berkenaan dengan olahraga, tentunya berbeda tabi’atnya dalam berpakaian. Intinya, olahraga dalam Islam adalah untuk kesehatan, bukan untuk tontonan. Oleh karena itu, wanita boleh berolahraga, berenang, tenis, tetapi di tempat dan waktu yang khusus untuk wanita.
Tidak boleh dicampur, dalam waktu dan tempat yang sama antara laki-laki dan perempuan bercampur berolah-raga tanpa batas. Tidak boleh demikian. Karena itu adalah maksiat. Sama saja dengan “kumpul-kebo”. Dalam pandangan Syar’i itu adalah munkar, haroom dan tidak boleh.
Intinya, para wanita boleh berenang, berolahraga dan laki-laki juga boleh berenang, berolah raga; tetapi tidak boleh bercampur dan saling menatap. Tempat dan waktunya dipisah.
Hadits Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم:
لاَ يَنْظُرُ الرَّجُلُ إِلَى عَوْرَةِ الرَّجُلِ وَلاَ الْمَرْأَةُ إِلَى عَوْرَةِ الْمَرْأَةِ
Artinya:
“Laki-laki tidak boleh melihat aurat laki-laki, wanita tidak boleh melihat aurat wanita”. (Hadits Riwayat Imaam Muslim no: 794)
Jadi sesama jenis saja tidak boleh saling melihat, apalagi lain jenis. Bila tidak melanggar seperti yang disebutkan dalam Hadits tersebut, maka itu ja’iz, boleh.
Pertanyaan:
1. Mengenai aurat perempuan, bagi orang yang sudah berhenti haid (menopouse) sesudah usia 50 tahun keatas, katanya tidak seketat seperti yang usia muda.
2. Zaman sekarang mode berjilbab adalah diikat lehernya, dengan jilbabnya, bahkan harus menutupi dadanya, serta kainya tertutup.
3. Tentang wanita Saudi-Arabia, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda: “Sebaiknya pakaian itu putih-putih”, tetapi mengapa wanita Saudi-Arabia berpakaian hitam-hitam, bercadar dan tangannya ditutup. Padahal katanya Sunnahnya adalah muka dan telapak tangan boleh diperlihatkan?
Jawaban:
Sebetulnya bahasan kita adalah etika berpakaian, bukan membahas mana aurat wanita dan laki-laki yang wajib ditutup, tidak boleh dibuka dan boleh dibuka. Mengenai aurat, perlu kajian khusus di lain waktu agar penjelasannya lebih detail.
Sesuai ajaran Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, wanita itu seluruh tubuhnya adalah aurat. Tentang pengecualian, para ‘Ulama dari zaman dahulu sampai zaman yang akan datang, tidak akan lebih dari dua pendapat.
Pendapat sebagian ‘Ulama, adalah wajah dan telapak tangan wanita adalah aurat; dan pendapat yang lain lagi mengatakan bahwa wajah dan telapak tangan wanita bukan aurat.
Yang mengatakan aurat berarti wajib ditutupi. Maka mereka bercadar, mereka pakai kaos tangan.
Yang mengatakan tidak merupakan aurat pun bukan berarti boleh dibuka, tetapi sebaiknya,afdhol-nya ditutup.
Maka bila wanita hendak memakai jilbab, seperti disebutkan diatas dan ke bawah seluruh tubuhnya tertutupi, maka tidak boleh kelihatan bentuk tubuhnya. Yang semestinya demikian.
Mudah-mudahan sudah disampaikan bahwa menurut Islam apa yang disebut porno (yang diartikan dengan cabul) semuanya adalah haroom. Bayangkan, menurut Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم manusia yang akan masuk neraka ada dua kelompok, antara lain adalah wanita yang berpakaian tetapi telanjang.
Berpakaian tetapi telanjang, karena berpakaian tetapi membentuk tubuhnya. Atau berpakaian, tetapi pakaiannya tipis atau transparan. Itu sudah termasuk calon neraka. Ditambah lagi kalau berjalan berlenggak-lenggok, menawan dan menarik kaum laki-laki, maka mereka adalah calonAhlunnaar (Neraka).
Maka sebetulnya tidak usah sulit-sulit mencari definisi pornografi, karena sudah jelas dalam hadits tersebut. Apalagi beraksi dengan tubuhnya dibuka dan dipamerkan, itu sudah jelas merupakan wasilah panah zina. Sedangkan yang berpakaian rapat saja, kalau masih kelihatan membentuk tubuh karena sempit, itu sudah termasuk berbahaya dan haroom. Maka yang harus kita contoh adalah Hadits Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, yaitu dari atas berkerudung, kerudungnya lebar dan luas, berwarna gelap (tidak harus hitam), bajunya longgar, bahannya tebal, tidak menggunakan parfum, tidak sempit, tidak boleh transparan, memakai celana panjang dalam dan memakai kaos kaki.
Tidak ada perselisihan ‘Ulama bahwa kaki perempuan adalah aurat.Yang berselisih pendapat ulama adalah mengenai tangan. Tangan ini aurat atau tidak. Demikian juga wajah, masih ada perselisihan. Tetapi kaki, seluruh ‘Ulama sepakat bahwa kaki adalah aurat. Maka harus ditutup dengan celana panjang dalaman dan kaos kaki.
Kalau pun ada yang mengatakan bahwa wajah boleh diperlihatkan, tetapi tidak boleh memakaimake-up, tidak boleh menghias bibirnya. Dan tidak boleh melukis wajahnya. Biarkan begitu saja, karena wajah yang dihias akan membuat tampilan semakin cantik dan orang lain menjadi naksir, maka itu menjadi fitnah.
Mengenai pakaian wanita itu putih-putih, sebenarnya yang dianjurkan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم kepada para wanita adalah pakaian warna gelap. Bukan warna putih.
Warna putih adalah untuk laki-laki. Warna gelap adalah bagi wanita, karena akan menghilangkan kesan fitnah yang ada pada tubuh wanita (bila berpakaian putih bagi wanita, justru tembus pandang bila terkena sinar matahari, sehingga bentuk tubuhnya malah dapat terbayang dari balik pakaian yang putih tersebut).
Tentang pakaian wanita yang sudah menopouse adalah benar, tidak seketat peraturannya seperti bagi wanita yang masih muda.
Pertanyaan:
1. Ada orang wanita yang ketika berpakaian seolah-olah mengikuti Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم tetapi faktanya pakaian itu menjadi identitas tersendiri. Bagaimanakah cara menyampaikan kepada mereka bahwa kesucian itu lebih utama.
2. Mengenai shalat dengan memakai sepatu adalah boleh dan sah termasuk memakai kaos kaki, sehingga menutupi mata kaki. Sementara pada kalimat sebelumnya dikatakan bahwa menutup matakaki tidak boleh.Tolong dijelaskan pemahaman yang kelihatan bertentangan itu.
3. Mohon penjelasan tentang keharooman memakai emas dan sutera bagi laki-laki, apakah itu ditinjau dari kemewahan dan mahalnya emas dan sutera, sementara keharooman khamer itu adalah karena lebih banyak mudharatnya dibandingkan manfaatnya.
Jawaban:
1. Apapun alasannya, kalau dengan memakai pakaian itu lalu terkenal dia siapa, itu suhrohnamanya. Kecuali kalau itu merupakan bagian dari sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Masyhur dengan Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم adalah boleh.
Yang tidak boleh ialah berpakaian dengan mode tertentu, misalnya selalu tampil beda dengan yang lain, dimana ia memakai pakaian yang ia lalu kesohor dengan pakaian itu, maka itu tidak boleh. Tetapi bila itu sesuai dengan kaidah Sunnah, maka itu boleh.
2. Boleh shalat memakai sepatu/ sandal asal sepatunya itu bersih, dan jangan di masjid shalat memakai sepatu. Karena masjid di zaman sekarang lantainya marmer atau keramik bersih, berbeda dengan masjid di zaman Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم yang masih berlantaikan tanah atau pasir. Yang dimaksud dengan boleh memakai sepatu seperti dijelaskan diatas adalah ketika misalnya orang sedang dalam perjalanan, atau khawatir ketika masuk masjid dicuri sandalnya/ sepatunya, kalau alas kaki itu suci maka boleh shalat diatas alas kaki itu. Karena itu bagian dari pakaian kita dan pakaian kita suci. Maka boleh shalat dengan memakai sepatu/ sandal yang suci. Tetapi untuk masjid di zaman sekarang yang sudah bersih lantainya, maka tidak boleh shalat memakai sepatu karena alasan estetika.
Sehubungan dengan mata-kaki, pakaian yang terjulur dari atas ke bawah itu tidak boleh melewati mata-kaki. Tetapi kalau sepatu atau sandal yang tidak termasuk izar dan tidak termasuk sirwal(celana), maka hukumnya adalah berbeda. Sehingga memakai sarung atau celana melebihi mata-kaki hukumnya tidak boleh. Tetapi memakai sepatu atau kaus kaki karena dalam perjalanan, maka itu hukumnya boleh sampai tiga-hari tiga-malam.
3. Larangan memakai emas dan sutera bukan karena mahalnya, karena memang nash (dalil)-nya begitu. Yang namanya emas, warnanya kuning. Kalau tidak kuning berarti bukan emas. Apalagi sekarang ada “emas putih”. Maka itu bukan emas. Bukan perkara mahalnya. Perkaranya adalahdzat-nya, bahwa ia adalah emas. Demikian pula sutera, kalau sutera buatan berarti tidak termasuk yang dilarang dipakai. Hukum-Asal dalam beribadah adalah irrasional. Mengapa yang diharamkan emas yang berwarna kuning? Tidak emas putih, padahal emas putih harganya mungkin lebih mahal? Demikian lah irrasionalnya, ibadah memang irrasional. Pokoknya, karena ada nash (dalil)-nya begitu, maka kita patuhi. Akal kita tidak boleh menjadi dasar harus atau tidak harus, boleh atau tidak boleh, halal atau haroom dan sebagainya.
Pertanyaan:
Ada sebagian orang yang mengatakan bahwa aurat laki-laki itu boleh sampai di paha masih bisa dilihat. Dasarnya, konon Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم ketika mermbangun masjid Nabawy ikut mengerjakan, sehingga suatu saat gamisnya terangkat sebatas paha. Bagaimana pendapat yang demikian itu?
Jawaban:
Sebetulnya bahasan kita bukan mengenai aurat laki-laki atau aurat perempuan, melainkan tentang etika berpakaian dan berhias. Tetapi agar terjawab, kami jelaskan bahwa aurat laki-laki yang roojih (kuat dan shohiih) menurut jumhur para Fuqaha (Ahli-ahli Fiqih), para ulama termasuk madzhab yang empat, bahwa aurat laki-laki adalah dari pusat (pusar) sampai ke lutut.
Tentang Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم kelihatan pahanya, sebenarnya bukan sedang menjelaskan tentang aurat. Dalam keadaan tertentu, seseorang tersingkap auratnya, adalah darurat. Jadi hadits tersebut bukan sedang menjelaskan tentang batasan aurat. Batasan aurat laki-laki adalah dari pusat sampai ke lutut. Paha merupakan aurat bagi laki-laki.
Sahabat ‘Utsman bin ‘Affan رضي الله عنه dan juga atsar yang lain menunjukkan bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم termasuk malu dan tidak suka bila pahanya dilihat. Maka selalu dalam keadaan tertutup. Tetapi dalam keadaan tertentu, ketika mungkin sedang berperang, jihad dan sebagainya, tidak dalam keadaan sengaja, maka itu bukan dalam keadaan sedang menjelaskan tentang aurat. Tetapi itu dalam kondisi terpaksa, bukan dalam kondisi ikhtiar /sengaja.
Kiranya cukup sekian bahasan kita, mudah-mudahan Allooh سبحانه وتعالى memberikan ilmu kepada kita dan dimudahkan untuk mengamalkannya.
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

PANDUAN PAKAIAN MUSLIM WA MUSLIMAH

PANDUAN PAKAIAN MUSLIM & MUSLIMAH
(BESERTA GAMBAR & DALIL-DALILNYA)
Oleh: Ust. Achmad Rofi’i, Lc. MM. Pd

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allooh سبحانه وتعالى,
Tidak sedikit kaum Muslimin, bangsa Indonesia khususnya, yang meyakini bahwa pakaian hanyalah sekedar budaya, yang seluruh perancangan dan pemakaiannya terserah selera, keinginan atau budaya mode yang datang dari sana dan dari sini. Sehingga bisa jadi pakaian manusia yang notabene Muslim atau Muslimah, dia seolah orang primitif atau orang yang katanya “modern” karena dianggapnya yang datang dari Barat atau Timur itu adalah “modern”.
“Buka-bukaan” pun tidak jadi masalah, bahkan menjadi trendy dan gaya hidup, padahal di dalam ajaran Islam, pakaian bukan saja merupakan budaya, tetapi justru merupakan ungkapan ibadah dan pengabdian terhadap Pencipta alam semesta yang telah memberinya berbagai anugrah, termasuk didalamnya finansial berupa pakaian.
Dengannya, Allooh سبحانه وتعالى tutupi aurot manusia. Dengannya, manusia berpahala atau berdosa. Bahkan dengannya, manusia menjadi cantik dan pantas. Semua itu secara lengkap tuntunannya, 1432 tahun yang lalu, Allooh سبحانه وتعالى telah tetapkan dan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم telah jelaskan dan contohkan.
Dimana sudah merupakan keharusan bagi setiap orang yang mengaku ummat Muhammad Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم untuk menjadikan berpakaian dan bermode, sesuai dengan ajaran yang diyakininya selama ini. Agar tidak terjadi krisis identitas, dimana dia seorang Muslim atau Muslimah dalam satu sisi, namun dia bisa terkategorikan seolah-olah kaafir atau faasiq dari sisi yang lain.
Melalui audio ceramah dan makalah ringkas serta praktis berikut ini, para Pendengar dan Pembaca diharapkan dapat mengukur terhadap pakaian yang dikenakannya. Semoga bermanfaat.
Download: preview.mp3?sId=yoaJNecX8xerc1sv

Download: preview.mp3?sId=9PsAdVHo1f9Hr9FE

Download: preview.mp3?sId=lZ9RS4L5GAwnjcZE

Download Audio Ceramah:
Panduan Pakaian Muslim dan Muslimah Bagian-1
Panduan Pakaian Muslim dan Muslimah Bagian-2
Panduan Pakaian Muslim dan Muslimah Bagian-3
1) PANDUAN PAKAIAN MUSLIM :

DALIL-DALIL PANDUAN PAKAIAN MUSLIM
1) PAKAIAN UNTUK MENUTUP AUROT:
QS. Al-A’rof (7) ayat 26 :
{ يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاساً يُوَارِي سَوْءَاتِكُمْ وَرِيشاً وَلِبَاسُ التَّقْوَىَ ذَلِكَ خَيْرٌ ذَلِكَ مِنْ آيَاتِ اللّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ }
Artinya:
“Hai anak Adam , sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup ‘aurotmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allooh, mudah-mudahan mereka selalu ingat.”
QS. Al-A’rof (7) ayat 27 :
{ يَا بَنِي آدَمَ لاَ يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُم مِّنَ الْجَنَّةِ يَنزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْءَاتِهِمَا إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لاَ تَرَوْنَهُمْ إِنَّا جَعَلْنَا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاء لِلَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ }
Artinya:
“Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaithoon sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya ‘aurotnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaithoon-syaithoon itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.”
2) PERKARA AUROT
Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
( لاَ يَنْظُرُ الرَّجُلُ إِلَى عَوْرَةِ الرَّجُلِ وَلاَ الْمَرْأَةُ إِلَى عَوْرَةِ الْمَرْأَةِ …)
Artinya:
“Laki-laki tidak boleh melihat aurot laki-laki, wanita tidak boleh melihat aurot wanita”. (Hadits Riwayat Imaam Muslim no: 794, dari Shohabat Abu Saa’id Al Khudry رضي الله عنه)
3) TIDAK BOLEH TASYABBUH DALAM BERPAKAIAN
Dalam perkara berpakaian, hendaknya kaum Muslimin tidak meniru pakaian orang-orang kaafir karena Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
( مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ )
Artinya:
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka”. (Hadits Riwayat Imaam Abu Daawud no: 4033, dari Shohabat Ibnu ‘Umar رضي الله عنه)
4) TIDAK BOLEH MENYERUPAI PAKAIAN PEREMPUAN
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ : لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الرَّجُلَ يَلْبَسُ لِبْسَةَ الْمَرْأَةِ وَالْمَرْأَةَ تَلْبَسُ لِبْسَةَ الرَّجُلِ
Artinya:
Dari Shohabat Abu Hurairoh رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم mengutuk: “laki-laki yang memakai pakaian perempuan dan perempuan yang memakai pakaian laki-laki”. (Hadits Riwayat Imaam Abu Daawud no: 4100)
5) DALIL BATASAN AUROT LAKI-LAKI DARI PUSAR SAMPAI LUTUT:
Dari ‘Abdullooh bin Ja’far bin Abi Tholib رضي الله عنه berkata,
( ما بين السرة إلى الركبة عورة)
Artinya:
“Aku mendengar Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda, “Apa-apa diantara pusat dan lutut adalah aurot.” (Hadits Riwayat Imaam Al Haakim no: 6418, di-Hasankan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany dalam Shohiih Al Jaami’ush Shoghiir no: 10520)
6) HAROM HUKUMNYA MEMAKAI PAKAIAN BERSALIB DAN BERGAMBAR MAKHLUK BERNYAWA:
Dalam Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 5957, dari ‘Aa’isyah رضي الله عنها:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّهَا اشْتَرَتْ نُمْرُقَةً فِيهَا تَصَاوِيرُ فَقَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْبَابِ فَلَمْ يَدْخُلْ فَقُلْتُ أَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مِمَّا أَذْنَبْتُ قَالَ : مَا هَذِهِ النُّمْرُقَةُ قُلْتُ لِتَجْلِسَ عَلَيْهَا وَتَوَسَّدَهَا قَالَ : إِنَّ أَصْحَابَ هَذِهِ الصُّوَرِ يُعَذَّبُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يُقَالُ لَهُمْ أَحْيُوا مَا خَلَقْتُمْ وَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَا تَدْخُلُ بَيْتًا فِيهِ الصُّورَةُ
Artinya:
Bahwa ia (‘Aa’isyah رضي الله عنها) membeli bantal yang bergambar (makhluk bernyawa). Maka Nabi صلى الله عليه وسلم berdiri di pintu dan tidak masuk. Maka aku berkata, “Aku bertaubat kepada Allooh dari dosaku.”
Beliau صلى الله عليه وسلم bersabda, “Bantal apa ini?”
Aku berkata, “Agar engkau duduk diatasnya dan bersandar padanya.”
Beliau صلى الله عليه وسلم bersabda, “Sesungguhnya pemilik (pembuat dan pemakai) gambar-gambar (– makhluk bernyawa –) ini akan disiksa pada hari Kiamat. Dikatakan kepada mereka,“Hidupkanlah apa yang telah kalian ciptakan”, dan sesungguhnya para malaikat tidak akan masuk suatu rumah yang ada gambar (– makhluk bernyawa –)-nya”.”
Dalam Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 5954 dan Imaam Muslim no: 5650, dari ‘Aa’isyah رضي الله عنها. Ia berkata:
قالت عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ سَفَرٍ وَقَدْ سَتَرْتُ بِقِرَامٍ لِي عَلَى سَهْوَةٍ لِي فِيهَا تَمَاثِيلُ فَلَمَّا رَآهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَتَكَهُ وَقَالَ : أَشَدُّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الَّذِينَ يُضَاهُونَ بِخَلْقِ اللَّهِ قَالَتْ فَجَعَلْنَاهُ وِسَادَةً أَوْ وِسَادَتَيْنِ
Artinya:
“Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم tiba dari suatu perjalanan, sedangkan aku lupa, menutup tubuhku dengan kain tipis yang bergambar. Maka tatkala Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم melihatnya, maka beliau صلى الله عليه وسلم mengeriknya. Kemudian beliau صلى الله عليه وسلم bersabda, “Manusia yang paling berat siksanya pada hari Kiamat adalah orang-orang yang membandingkan dengan makhluk Allooh (yang bernyawa).”
‘Aa’isyah رضي الله عنها berkata, “Maka kami menjadikannya sebuah atau dua buah bantal.”
Dari ‘Aa’isyah رضي الله عنها bahwa:
قالت عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا حَدَّثَتْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَكُنْ يَتْرُكُ فِي بَيْتِهِ شَيْئًا فِيهِ تَصَالِيبُ إِلَّا نَقَضَهُ
Artinya:
“Bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم tidaklah meninggalkan sesuatupun di rumahnya yang mengandung salib, kecuali pasti akan beliau lepaskan (hilangkan).” (Hadits Riwayat Imaam Al Bukhorory no: 5952)
Dari ‘Aa’isyah رضي الله عنها, ia berkata:
عَنْ عَائِشَةَ رضى الله عنها أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ لاَ يَتْرُكُ فِى بَيْتِهِ شَيْئًا فِيهِ تَصْلِيبٌ إِلاَّ قَضَبَهُ
Artinya:
“Tidaklah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم meninggalkan di rumahnya sebuah pakaian pun yang bergambar salib kecuali pasti akan dihapusnya.” (Hadits Riwayat Imaam Abu Daawud no: 4153 dan Imaam Ahmad no: 24306, dan menurut Syaikh Syuaib Al Arnaa’uth Sanadnya Shohiih sesuai dengan syarat Imaam Al Bukhoory)
7) HAROM MENGGUNAKAN BAJU SUTERA BAGI LAKI-LAKI:
Dari Shohabat Abu Muusa Al Asy’ary رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
عن أبي موسى أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال : أحل الذهب والحرير لإناث أمتي وحرم على ذكورها
Artinya:
“Emas dan sutera dihalalkan bagi para perempuan umatku dan diharoomkan bagi laki-laki”. (Hadits Riwayat Imaam An Nasaa’i no: 5148)
Dari Shohabat Anas bin Maalik رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم – : مَنْ لَبِسَ الْحَرِيرَ فِى الدُّنْيَا لَمْ يَلْبَسْهُ فِى الآخِرَةِ
Artinya:
“Orang yang memakai sutera di dunia, maka ia tidak akan memakainya di akhirat” (Hadits Riwayat Imaam Muslim no: 5546 dan Imaam Al Bukhoory no: 5832)
8) ANJURAN MEMAKAI KEMEJA PANJANG:
Dari Ummu Salamah رضي الله عنها, dia berkata,
عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ قَالَتْ : كَانَ أَحَبَّ الثِّيَابِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الْقَمِيصُ
Artinya:
“Baju yang paling dicintai oleh Rosuululloohصلى الله عليه وسلم adalah gamis (kemeja panjang).” (Hadits Riwayat Imaam Abu Daawud no: 4027 dan Imaam At Turmudzy no: 1762)
9) UKURAN PANJANG LENGAN BAJU GAMIS :
Dalam Hadits berikut:
عن أسماء بنت يزيد قالت : كانت يد كم رسول الله صلى الله عليه وسلم إلى الرسغ
Artinya:
Dari Asma’ binti Yazid Al-Anshoriyah رضي الله عنها, dia berkata, “Lengan gamis Rosuululloohصلى الله عليه وسلم memanjang sampai pergelangan tangan.” (Hadits Riwayat Imaam Abu Daawud no: 4027 dan Imaam At Turmudzy no: 1765, Hadits ini Lemah menurut Syaikh Nashiruddin Al Albaany dalam berbagai tempat antara lain: Dho’iif Al Jaami’ish Shoghiirno: 9956)
Nampak bahwa Hadits ini adalah Lemah, namun demikian Syaikh ‘Abdul Muchsin Al Abbaaddalam Syarah Sunan Abi Daawud, saat ditanya, “Jika panjang lengan baju melebihi pergelangan tangan, apakah yang demikian itu tergolong Isbal?”
Beliau menjawab, “Jika baju masih berada dalam batas yang wajar pada tangan, maka tidak mengapa dan sepengetahuan saya adalah tidak ada yang melarang. Namun yang jelas, tidak baik jika kedua (telapak) tangan seseorang masuk dalam lengan baju, karena yang demikian itu menimbulkan kesulitan ketika memegang, mengambil atau memberi sesuatu. Yang sesuai adalah yang memudahkan dalam memegang dan memberi tanpa harus menggulung lengan bajunya.”
Jadi, sebaiknya lengan baju itu hingga pergelangan tangan atau lebih sedikit dan hendaknya tidak sampai menutupi telapak tangan, karena yang demikian itu tergolong Isbal yang menyebabkan berbagai kesulitan. Sedangkan kesulitan itu tidak dikehendaki Syari’at.
10) HAROMNYA ISBAL :
Dari Shohabat Al ‘Alaa bin ‘Abdirrohman dari ayahnya, berkata: “Aku berkata kepada Abu Saa’id, ‘Apakah engkau mendengar dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم sesuatu tentang sarung?’ Beliau menjawab, “Ya. Aku mendengar Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
( إزرة المؤمن إلى أنصاف ساقيه. لاجناح عليه ما بينه وبين الكعبين. وما أسفل من الكعبين في النار يقول ثلاثا ( لا ينظر الله إلى من جر إزاره بطرا )
Artinya:
“Sarung seorang mu’min adalah sampai pertengahan kedua betisnya, tidak mengapa antara itu sampai kedua mata-kakinya. Sedangkan apa-apa yang dibawah kedua mata kaki, maka didalam neraka (3X)”. (Hadits Riwayat Imaam Ibnu Maajah no: 3573)
Dari Shohabat Abu Hurairoh رضي الله عنه, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلمbersabda:
( مَا أَسْفَلَ مِنْ الْكَعْبَيْنِ مِنْ الْإِزَارِ فَفِي النَّارِ )
Artinya:
“Pakaian apa saja yang dikenakan sampai di bawah mata kaki adalah masuk neraka”. (Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 5787)
Dari Shohabat Abu Dzar رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
( ثَلاَثَةٌ لاَ يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلاَ يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ » قَالَ فَقَرَأَهَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- ثَلاَثَ مِرَارٍ. قَالَ أَبُو ذَرٍّ خَابُوا وَخَسِرُوا مَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « الْمُسْبِلُ وَالْمَنَّانُ وَالْمُنَفِّقُ سِلْعَتَهُ بِالْحَلِفِ الْكَاذِبِ
Artinya:
“Ada tiga orang, yang Allooh tidak akan berbicara dengan mereka pada hari Kiamat, dan Allooh tidak akan melirik mereka dan Allooh tidak akan mensucikan mereka, bahkan mereka berhak atas adzab yang pedih (Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم mengulanginya 3X).”
Abu Dzar رضي الله عنه berkata, “Sungguh mereka merugi. Siapakah mereka ya Rosuulullooh?”
Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم menjawab, “Pertama, Al Musbil, orang yang melakukan Isbal (menjulurkan pakaian sampai dibawah mata-kaki). Kedua, Al Mannaan (orang yang mengungkit-ngungkit kebaikan yang pernah diberikannya). Ketiga, orang yang menjual dagangan dengan sumpah palsu”. (Hadits Riwayat Imaam Muslim no: 306)
Dalam Hadits berikut ini dijelaskan bahwa:
عَنْ أَبِى جُرَىٍّ جَابِرِ بْنِ سُلَيْمٍ قَالَ رَأَيْتُ رَجُلاً يَصْدُرُ النَّاسُ عَنْ رَأْيِهِ لاَ يَقُولُ شَيْئًا إِلاَّ صَدَرُوا عَنْهُ قُلْتُ مَنْ هَذَا قَالُوا هَذَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-. قُلْتُ عَلَيْكَ السَّلاَمُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَرَّتَيْنِ. قَالَ « لاَ تَقُلْ عَلَيْكَ السَّلاَمُ. فَإِنَّ عَلَيْكَ السَّلاَمُ تَحِيَّةُ الْمَيِّتِ قُلِ السَّلاَمُ عَلَيْكَ ». قَالَ قُلْتُ أَنْتَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « أَنَا رَسُولُ اللَّهِ الَّذِى إِذَا أَصَابَكَ ضُرٌّ فَدَعَوْتَهُ كَشَفَهُ عَنْكَ وَإِنْ أَصَابَكَ عَامُ سَنَةٍ فَدَعَوْتَهُ أَنْبَتَهَا لَكَ وَإِذَا كُنْتَ بِأَرْضٍ قَفْرَاءَ أَوْ فَلاَةٍ فَضَلَّتْ رَاحِلَتُكَ فَدَعَوْتَهُ رَدَّهَا عَلَيْكَ ». قُلْتُ اعْهَدْ إِلَىَّ. قَالَ « لاَ تَسُبَّنَّ أَحَدًا ». قَالَ فَمَا سَبَبْتُ بَعْدَهُ حُرًّا وَلاَ عَبْدًا وَلاَ بَعِيرًا وَلاَ شَاةً. قَالَ « وَلاَ تَحْقِرَنَّ شَيْئًا مِنَ الْمَعْرُوفِ وَأَنْ تُكَلِّمَ أَخَاكَ وَأَنْتَ مُنْبَسِطٌ إِلَيْهِ وَجْهُكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنَ الْمَعْرُوفِ وَارْفَعْ إِزَارَكَ إِلَى نِصْفِ السَّاقِ فَإِنْ أَبَيْتَ فَإِلَى الْكَعْبَيْنِ وَإِيَّاكَ وَإِسْبَالَ الإِزَارِ فَإِنَّهَا مِنَ الْمَخِيلَةِ وَإِنَّ اللَّهَ لاَ يُحِبُّ الْمَخِيلَةَ وَإِنِ امْرُؤٌ شَتَمَكَ وَعَيَّرَكَ بِمَا يَعْلَمُ فِيكَ فَلاَ تُعَيِّرْهُ بِمَا تَعْلَمُ فِيهِ فَإِنَّمَا وَبَالُ ذَلِكَ عَلَيْهِ »
Artinya:
Dari Abu Jurayyi Jaabir bin Sulaim رضي الله عنه, berkata, “Aku melihat seseorang berfatwa pada orang-orang berdasarkan pendapatnya. Tidak mengatakan sesuatu kecuali berasal dari dirinya. Aku bertanya, “Siapa orang ini?”
Mereka menjawab, “Ini Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.”
Maka aku katakan, “’Alaikassalaam (selamat atasmu) wahai Rosuulullooh (2x).” Beliau صلى الله عليه وسلم bersabda, “Jangan kau katakan ‘Alaikassalaam, sebab ‘Alaikassalaam itu salamnya untuk di rumah. Katakan olehmu “Assalamu’alaika (Selamat atasmu)”
Aku berkata, “Engkaukah Rosuulullooh?”
Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم menjawab, “Aku Rosuulullooh. Yang jika engkau ditimpa bahaya, niscaya Allooh akan angkat bahaya itu, dan jika kekeringan tahunan menimpamu maka Dia yang menumbuhkan, dan jika engkau di negeri yang miskin atau di gurun lalu kendaraanmu hilang lalu kamu memintanya, niscaya Dia kembalikan padamu kendaraanmu.”
Maka aku berkata, “Ikatlah aku dengan perjanjian.”
Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda, “Jangan engkau sekali-kali menyepelekan sesuatu yang ma’ruf. Apa pun engkau temui saudaramu dengan wajah berseri, sesungguhnya yang demikian itu bagian dari kebajikan. Dan angkatlah sarungmu sampai dengan setengah betis. Dan jika engkau enggan, kecuali sampai kedua mata kaki, maka boleh sampai dengan kedua mata kaki. Dan hindarkanlah olehmu Isbal, sebab Isbal itu bagian dari kesombongan. Dan sesungguhnya, Allooh tidak suka kesombongan. Dan jika ada seseorang yang memakimu dengan apa yang dia ketahui padamu, maka janganlah engkau memaki dia dengan yang engkau tahu padanya. Sesungguhnya petakamu atasnya.”
(Hadits Riwayat Imaam Abu Daawud no: 4086)
Dalam riwayat yang lain adalah sebagai berikut:
عن أَبُو جُرَىٍّ الْهُجَيْمِيُّ قَالَ أَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا قَوْمٌ مِنْ أَهْلِ الْبَادِيَةِ فَعَلِّمْنَا شَيْئًا يَنْفَعُنَا اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى بِهِ قَالَ : لَا تَحْقِرَنَّ مِنْ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تُفْرِغَ مِنْ دَلْوِكَ فِي إِنَاءِ الْمُسْتَسْقِي وَلَوْ أَنْ تُكَلِّمَ أَخَاكَ وَوَجْهُكَ إِلَيْهِ مُنْبَسِطٌ وَإِيَّاكَ وَتَسْبِيلَ الْإِزَارِ فَإِنَّهُ مِنْ الْخُيَلَاءِ وَالْخُيَلَاءُ لَا يُحِبُّهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَإِنْ امْرُؤٌ سَبَّكَ بِمَا يَعْلَمُ فِيكَ فَلَا تَسُبَّهُ بِمَا تَعْلَمُ فِيهِ فَإِنَّ أَجْرَهُ لَكَ وَوَبَالَهُ عَلَى مَنْ قَالَهُ
Artinya:
Dari Abu Jurayyi Al Hujainy رضي الله عنه, berkata, “Aku datang kepada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, lalu aku berkata, “Ya Rosuulullooh, sesungguhnya kami kaum dari pegunungan, maka ajarkanlah kepada kami sesuatu yang Allooh dengannya beri manfaat.”
Beliau صلى الله عليه وسلم menjawab, “Jangan kamu remehkan sesuatu yang baik, walaupun kamu tumpahkan air dari bejanamu (ember) pada orang yang meminta air, walaupun kamu berbicara dengan saudaramu dengan wajah yang berseri dan hindarilah olehmu dari menjulurkan sarung, sesungguhnya yang demikian itu bagian dari kesombongan. Sedangkan Allooh tidak suka kesombongan; dan jika seseorang mencacimu dengan yang dia tahu padamu maka jangan engkau caci maki dia dengan apa yang engkau tahu padanya, sebab pahalanya untukmu dan akibat buruknya pada yang mengatakannya.” (Hadits Riwayat Ahmad no: 20633, menurut Syaikh Syuaib Al Arnaa’uth sanadnya Shohiih)
Dari Ibnu ‘Umar رضي الله عنه, dia berkata,
عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ مَرَرْتُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَفِى إِزَارِى اسْتِرْخَاءٌ فَقَالَ « يَا عَبْدَ اللَّهِ ارْفَعْ إِزَارَكَ ». فَرَفَعْتُهُ ثُمَّ قَالَ « زِدْ ». فَزِدْتُ فَمَا زِلْتُ أَتَحَرَّاهَا بَعْدُ. فَقَالَ بَعْضُ الْقَوْمِ إِلَى أَيْنَ فَقَالَ : أَنْصَافِ السَّاقَيْنِ
Artinya:
“Aku melewati Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم sementara sarungku agak isbal, maka beliau صلى الله عليه وسلم bersabda, “Wahai ‘Abdullooh, tinggikanlah sarungmu.”
Maka aku mengangkatnya, kemudian beliau صلى الله عليه وسلم bersabda, “Tambah (tinggi) lagi.”
Maka aku pun mengangkatnya lagi. Maka setelah itu aku terus memperhatikannya, maka berkatalah sebagian orang, “Sampai mana?”
Maka beliau صلى الله عليه وسلم menjawab, “Sampai pertengahan betis.”
(Hadits Riwayat Imaam Muslim no: 5583)
11) ANJURAN MEMAKAI PAKAIAN BERWARNA PUTIH, DAN LARANGAN MEMAKAI PAKAIAN YANG DICELUP DENGAN WARNA KUNING :
Dari Shohabat Ibnu ‘Abbaas رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
( الْبَسُوا مِنْ ثِيَابِكُمْ الْبِيضَ فَإِنَّهَا مِنْ خَيْرِ ثِيَابِكُمْ وَكَفِّنُوا فِيهَا مَوْتَاكُمْ …)
Artinya:
“Pakailah pakaianmu yang berwarna putih. Karena yang demikian itu sebaik-baik pakaian kalian dan kafanilah orang-orang mati dari kalian dalam pakaian putih itu”.(Hadits Riwayat Imaam Ahmad no: 3035)
Dari Shohabat ‘Abdullooh bin Amru bin Al Ash رضي الله عنه, ia berkata:
عن عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ قَالَ رَأَى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَلَىَّ ثَوْبَيْنِ مُعَصْفَرَيْنِ فَقَالَ « إِنَّ هَذِهِ مِنْ ثِيَابِ الْكُفَّارِ فَلاَ تَلْبَسْهَا »
Artinya:
“Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم melihatku mengenakan dua pakaian yang dicelup warna kuning, maka beliau صلى الله عليه وسلم bersabda, “Sesungguhnya ini diantara pakaian orang-orang kaafir, maka jangan engkau pakai!” (Hadits Riwayat Imaam Muslim no: 5555)
Dari Shohabat ‘Abdullooh bin Amru bin Al Ash رضي الله عنه, ia berkata:
رَأَى النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- عَلَىَّ ثَوْبَيْنِ مُعَصْفَرَيْنِ فَقَالَ « أَأُمُّكَ أَمَرَتْكَ بِهَذَا ». قُلْتُ أَغْسِلُهُمَا. قَالَ « بَلْ أَحْرِقْهُمَا »
Artinya:
“Nabi صلى الله عليه وسلم melihatku mengenakan dua pakaian yang dicelup warna kuning, maka beliau صلى الله عليه وسلم berkata, “Apakah ibumu memerintahkanmu dengan hal ini?”
Aku berkata, “Aku akan mencucinya.”
Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda, “Bahkan bakarlah!” (Hadits Riwayat Imaam Muslim no: 5557)
Untuk membaca PDF dalil-dalil yang melandasi Panduan Pakaian Muslim seperti tertera pada gambar diatas, maka Klik / Download “Dalil-Dalil Panduan Pakaian Muslim” sebagai berikut yang akan menjelaskan, baik ayat-ayat Al Qur’an maupun Hadits-Hadits Rosuululloohصلى الله عليه وسلم, sehubungan dengannya.
Download PDF “Dalil-Dalil Panduan Pakaian Muslim”:
Dalil-Dalil Panduan Pakaian Muslim
2) PANDUAN PAKAIAN MUSLIMAH :

DALIL-DALIL PANDUAN PAKAIAN MUSLIMAH

1) PERINTAH BERJILBAB
Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam surat Al Ahzab (33) ayat 59 :
{ يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاء الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُوراً رَّحِيماً }
Artinya:
“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka“. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu merekatidak diganggu.Dan Allooh adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
2) KEHARUSAN MEMANJANGKAN PAKAIAN BAGI WANITA:
Dari Shohabat Ibnu ‘Umar رضي الله عنه, dia berkata, “Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda,
( من جر ثوبه خيلاء لم ينظر الله إليه يوم القيامة فقالت أم سلمة فكيف يصنعن النساء بذيولهن ؟ قال يرخين شبرا فقالت إذا تنكشف أقدامهن قال فيرخينه ذراعا لا يزدن عليه )
Artinya:
“Barangsiapa yang menyeret pakaiannya karena sombong maka Allooh سبحانه وتعالى tidak akan melihat kepadanya pada hari kiamat,” maka Ummu Salamah رضي الله عنها bertanya, “Apa yang harus diperbuat oleh para wanita pada ujung-ujung pakaiannya?”
Beliau صلى الله عليه وسلم menjawab, “Mereka harus menjulurkannya satu jengkal.”
Ummu Salamah رضي الله عنها bertanya lagi, “Kalau begitu tumit mereka akan terlihat?”
Beliau صلى الله عليه وسلم menjawab, “Mereka harus menjulurkannya satu hasta (satu lengan) dan tidak lebih dari itu.” (Hadits Riwayat Imaam At Turmudzy no: 1731. Hadits iniHasan Shohiih)
Oleh karena kondisi tanah di Indonesia yang becek (tanahnya basah), maka cukup gunakan gamis sampai panjangnya menyentuh lantai, lalu untuk menutupi agar tumitnya tidak terlihat adalah dengan menggunakan kaus kaki dan celana panjang dalaman dibalik gamisnya.
3) LARANGAN TABARRUJ (BERHIAS UNTUK YANG BUKAN MAHROMNYA):
Firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. Al Ahzaab (33) ayat 33:
{ وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيراً }
Artinya:
“Dan hendaklah kamu (perempuan) tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ta`atilah Allooh dan Rosuul-Nya. Sesungguhnya Allooh bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.”
Firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. An-Nuur (24) Ayat 31:
{ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا }
Artinya:
“dan janganlah mereka (perempuan itu) menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.”
Dengan adanya larangan berhias bagi yang bukan mahromnya, maka kaidah berjilbab adalah tidak boleh diberi hiasan payet, bross / hiasan berkerlap-kerlip / berkembang-kembang yang menyolok (menarik perhatian); dan hendaknya terbuat dari bahan kain yang polos (menghindari bahan bercorak / kembang-kembang yang menarik perhatian).
4) LARANGAN BERPAKAIAN DENGAN PAKAIAN KETENARAN DAN ANJURAN UNTUK TAWAADHU’ DALAM BERPAKAIAN :
Dari Sahl bin Mu’adz bin Anas Al Juhany رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda,
( من ترك اللباس تواضعا لله وهو يقدر عليه دعاه الله يوم القيامة على رؤس الخلائق حتى يخيره من أي حلل الإيمان شاء يلبسها )
Artinya:
“Barangsiapa yang meninggalkan berpakaian mewah karena merendah (tawaadhu’) karena Allooh سبحانه وتعالى, padahal dia mampu, maka Allooh سبحانه وتعالى akan ambil pada hari kiamat di hadapan khalayak makhluk untuk dikabarkan dari perhiasan iman yang mana yang dia mau pakai.” (Hadits Riwayat Imaam At Turmudzy no: 2481, Hadits ini di-Hasankan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany)
Dalam Hadits Riwayat Imaam Abu Daawud, dari Shohabat ‘Abdullooh bin ‘Umar رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
( مَنْ لَبِسَ ثَوْبَ شُهْرَةٍ أَلْبَسَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثَوْبًا مِثْلَهُ ثُمَّ تُلَهَّبُ فِيهِ النَّارُ )
Artinya:
“Barangsiapa yang berpakaian dengan pakaian ketenaran, maka Allooh pada hari Kiamat akan memberi pakaian seperti pakaian yang ia pakai, lalu orang itu dinyalakan dalam api neraka”. (Hadits Riwayat Imaam Abu Daawud no: 4071)
5) HENDAKNYA JILBAB DAN GAMIS BERWARNA GELAP BAGI WANITA:
عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ قَالَتْ لَمَّا نَزَلَتْ (يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلاَبِيبِهِنَّ) خَرَجَ نِسَاءُ الأَنْصَارِ كَأَنَّ عَلَى رُءُوسِهِنَّ الْغِرْبَانُ مِنَ الأَكْسِيَةِ
Artinya:
Dari Ummu Salamah رضي الله عنها berkata, “Ketika ayat “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka” (QS. Al Ahzaab (33) ayat 59) turun, para wanita Al Anshoor keluar, seolah-olah diatas kepala mereka burung gagak, dari busana mereka.” (Hadits Riwayat Imaam Abu Daawud no: 4103)
Pakaian akhwat berwarna gelap, adalah sebagaimana dijelaskan dalam Hadits diatas, yakni digambarkan bagaikan buruk gagak (dan burung gagak adalah berwarna gelap).
6) TIDAK BOLEH MENAMPAKKAN LEKUK TUBUH DAN BENTUK JILBAB HENDAKNYA SEPERTI “KEMAH”:
Dari Abu Hurairoh رضي الله عنه berkata, “Telah bersabda Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم,
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا
Artinya:
“Dua golongan termasuk dari penghuni neraka yang belum pernah aku melihatnya:
1. Kaum, bersama mereka cemeti bagaikan ekor sapi. Dengannya mereka pukuli orang-orang.
2. Wanita, mereka berpakaian tetapi mereka telanjang. Mereka melenggak-lenggok dan diatas kepala mereka bagaikan punuk unta.
Mereka itu tidak akan masuk kedalam surga, bahkan tidak akan mencium baunya surga. Padahal baunya surga bisa menembus jarak sekian dan sekian (70 tahun).” (Hadits Riwayat Imaam Muslim no: 5704)
Dalam Hadits ini dapatlah diambil pelajaran bahwa Jilbab wanita hendaknya tidak membentuk lekuk tubuh atau yang mengesankan bentuk tubuh atau yang menampakkan tubuhnya, betapapun dia berpakaian. Terlebih lagi seperti yang “trendy” saat ini dalam berbagai kalangan wanita, mode pakaian menjadi khas, selalu mengesankan bentuk tubuhnya hingga seolah tubuh wanita telanjang yang berjalan. Untuk bagian atas kepala hingga pundak, hendaknya membentuk mirip kemah, sehingga tidak nampak lekukan leher yang mengesankan bahwa wanita itu bersanggul atau tidak, berambut panjang atau tidak, berleher panjang ataukah tidak.
7) TENTANG CADAR:
Masalah CADAR ini adalah mungkin untuk ditulis dalam makalah tersendiri karena masalahnya pantas untuk diperluas, namun dalam Panduan Pakaian Muslimah kita kali ini, hanyalah sekilas dibahas, untuk memberikan gambaran kongkrit dan mudah untuk diikuti dalam perkara ini.
Adapun tentang status hukum CADAR atau Penutup Wajah Wanita juga Kaos Tangan adalah diantaranya dalam QS. An Nuur (24) ayat 30:
{ وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاء بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاء بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُوْلِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاء وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِن زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعاً أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ }
Artinya:
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”
Ayat ini mendasari mengapa wanita tidak boleh menampakkan perhiasannya terutama wajah dan kedua telapak tangannya, betapapun diantara Hadits yang masyhur dalam perkara ini adalah yang diriwayatkan oleh Imaam Abu Daawud dalam Sunannya no: 4106 dan di-Shohiihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany sebagai berikut :
عَنْ عَائِشَةَ رضى الله عنها أَنَّ أَسْمَاءَ بِنْتَ أَبِى بَكْرٍ دَخَلَتْ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَعَلَيْهَا ثِيَابٌ رِقَاقٌ فَأَعْرَضَ عَنْهَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَقَالَ « يَا أَسْمَاءُ إِنَّ الْمَرْأَةَ إِذَا بَلَغَتِ الْمَحِيضَ لَمْ تَصْلُحْ أَنْ يُرَى مِنْهَا إِلاَّ هَذَا وَهَذَا ». وَأَشَارَ إِلَى وَجْهِهِ وَكَفَّيْهِ
Artinya:
Dari ‘Aa’isyah رضي الله عنها bahwa Asmaa’ bintu Abu Bakar رضي الله عنها masuk pada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Dia mengenakan baju tipis sehingga Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم berpaling daripadanya dan berkata, “Wahai Asmaa’, sesungguhnya wanita jika sudah Haid, tidaklah patut untuk terlihat daripadanya kecuali ini dan ini (sembari menunjuk pada wajahnya dan kedua telapak tangannya).”
Al Imaam Abu Daawud mengatakan bahwa Hadits ini Mursal (Terputus) karena Khoolid bin Duraik tidak bertemu dengan ‘Aa’isyah رضي الله عنها. Betapapun demikian, para ‘Ulama Ahlus Sunnah Wal Jamaa’ah berselisih pendapat tentang perkara CADAR ini.
Menurut Imaam Maalik dan Imaam Abu Hanifah, keduanya berpendapat bahwa tubuh wanita, seluruhnya adalah aurot kecuali wajah dan telapak tangan. Dan Hadits diatas, diantara yang melandasi pendapat mereka.
Sedangkan Madzab Syaafi’iy dan Madzab Hambali, justru mengatakan bahwa Wajah dan kedua telapak tangan adalah aurot, berdasarkan pada Al Qur’an, As Sunnah dan rasio. Karena QS. An Nuur (24) ayat 31 diatas, menunjukkan Harom-nya wanita menampakkan perhiasan, sedangkan perhiasan itu ada dua jenis:
a) Perhiasan asli ciptaan Allooh سبحانه وتعالى yaitu berupa kecantikan yang ada pada seluruh tubuh wanita, dimana wajah dan telapak tangan termasuk didalamnya.
b) Perhiasan yang diupayakan yaitu adalah seperti baju, kalung, gelang, bross dsbnya.
Sedangkan firman Allooh سبحانه وتعالى yang mengecualikan bolehnya kelihatan dari aurot wanita adalah pada saat tanpa sengaja, atau diluar kesadaran. Bahkan kebanyakan daripada para Fuqoha dari kalangan Madzab Hanafi, Madzab Maaliki dan Madzab Syaafi’iy adalah “Jika seorang laki-laki melamar seorang wanita, maka Pelamar dibolehkan untuk melihat wajah dan telapak tangan Wanita (yang hendak dilamarnya)”. Ketika mereka menjelaskan tentang Hadits yang berikut ini.
Dalam Hadits Riwayat Imaam At Turmudzy no: 1087, Imaam Ibnu Maajah no: 1865, dan Imaam Ahmad no: 18154
عن المغيرة بن شعبة : أنه خطب امرأة فقال النبي صلى الله عليه و سلم : ( انظر إليها فإنه أحرى أن يؤدم بينكما )
Artinya:
Dari Al Mughiiroh bin Syu’bah رضي الله عنه ketika beliau melamar seorang wanita, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda, “Lihatlah olehmu dia (calon istrimu), sebab yang demikian itu adalah penyebab langgengnya pernikahan kalian berdua.”
Hal ini menunjukkan bahwa diluar saat melamar, adalah tidak diperbolehkan melihat wajah dan telapak tangan wanita tersebut.
Ditambah lagi, siapakah yang dapat memungkiri bahwa titik pusat kecantikan seorang wanita itu adalah pada wajahnya, juga pada telapak tangannya, bukan pada selainnya. Oleh karena itu, jika ingin menghindarkan ummat ini dari fitnah yang semakin hari semakin marak, maka hendaknya aurot wanita bukan saja ditutup, tetapi sedemikian rupa dikaburkan agar tidak nampak darinya kecantikan, terlebih lagi pada wajah juga telapak tangannya.
Hal lain yang perlu diperhatikan oleh setiap wanita Muslimah adalah bahwa hendaknya diaselain menutup dan melindungi kaki dengan celana panjang dalam dan kaos kaki,hendaknya pula menghindarkan diri dari mengenakan alas kaki (baik sandal maupun sepatu) yang berhak tinggi dan atau yang menimbulkan bunyi “tuk-tuk-tuk” saat berjalan, karena bisa jadi syaithoon membangkitkan fitnah melalui yang demikian itu. Sebagaimana hal ini telah dilarang oleh Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. An Nuur (24) ayat 31dengan perintah: “Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan.”
Berikut ini adalah penjelasan tentang penggunaan CADAR :
NIQOOB adalah sesuatu yang menutupi wajah dan melihatnya adalah melalui bayang-bayang kain. Sedangkan AL BURQO’ adalah sesuatu yang menutupi wajah, terbuka hanya pada bagian kedua matanya saja. Baik NIQOOB maupun BURQO’, dalam bahasa Indonesia keduanya disebutCADAR.
السؤال
على بركة الله نبدأ هذه الحلقة برسالة وصلت من المستمعة للبرنامج من اليمن الجنوبي رمزت لا سمها بـ و. ج. ع. تقول بأنها امرأة ملتزمة بالشرع الإسلامي تحمد الله على ذلك تقول ولكني أشكوا من ضعف البصر وأنا مدرسة تقول عندما أخرج من المنزل أكون ساترة لجسمي بثوب فضفاض أسود ووجهي مغطى ولا يخرج من ذلك سوى العينين أي أنني منقبة فما حكم ذلك مأجورين؟
الجواب
الشيخ: الواجب على المرأة إذا خرجت إلى السوق أن تستر وجهها عن الرجال وذلك لأن ستر المرأة وجهها عن الرجال غير المحارم واجب قد دل عليه القرآن والسنة وهو الراجح من أقوال اهل العلم ولكن إذا دعت الحاجة إلى أن تفتح نقباً لعينيها فلا حرج بشرط أن لا يعدو ذلك سعة العين إلا أنه إذا خيف من توسع النساء في هذه المسألة فإنه يجب سد الذرائع الموصلة إلى المحرم وهذه قاعدة أصولية شرعية وهي أن الذرائع الموصلة إلى المحرم يجب منعها قال الله تبارك وتعالى (وَلا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْواً بِغَيْرِ عِلْمٍ) فنهى الله تعالى عن سب آلهة المشركين مع أنها حقيقة به لئلا يكون ذريعة إلى سب الله عز وجل والله عز وجل منزه عن السب وهو أهل للثناء والمجد فإذا كانت المرأة كما ذكرت السائلة محتاجة إلى فتح نقب لعينيها فلا بأس به لكن بشرط ألا يكون ذلك ذريعة إلى المنكر بحيث يتوسع النساء في ذلك حتى يفتحن لجزء أكبر يشمل أسفل الجبهة وأعلى الخلد وربما يتوسعن في ذلك توسعاً كبيراً؟
Artinya:
Syaikh Muhammad bin Shoolih Al Utsaimiin رحمه الله menjawab pertanyaan seorang wanita yang bertanya tentang hukum membuka cadar untuk lubang bagi kedua matanya (sebagai Al Burqo’).
Syaikh Muhammad bin Shoolih Al Utsaimiin رحمه الله menjelaskan bahwa:
“Wajib bagi wanita jika keluar ke pasar agar menutup wajahnya dari pandangan laki-laki, karena menutup wajah wanita dari pandangan laki-laki bukan mahrom adalah Wajib dalilnya terdapat dalam Al Qur’an dan As Sunnah, dan yang kuat dari perkataan para ‘Ulama Ahlus Sunnah Wal Jamaa’ah. Akan tetapi jika dituntut terpaksa untuk membuka kedua matanya maka tidak mengapa, dengan syarat tidak boleh melebihi kelopak mata, kecuali jika dikhawatirkan seorang wanita dalam masalah ini hendaknya mencegah dari sesuatu yang membahayakan sebagaimana terdapat dalam kaidah ushuul:
“Janganlah kalian mencaci maki orang-orang yang menyeru pada selain Allooh سبحانه وتعالىsehingga mereka mencaci maki Allooh dengan melampaui batas tanpa ilmu.”
Maka melalui ayat ini, Allooh سبحانه وتعالى melarang dari mencaci tuhan-tuhan orang musyrikin, betapa pun yang demikian itu sebenarnya agar tidak menjadi sebab dicelanya Allooh سبحانه وتعالى, karena Allooh سبحانه وتعالى tidak patut untuk dicela bahkan berhak untuk dipuji. Maka jika wanita itu sebagaimana yang anda sebut memerlukan untuk dibuka celah untuk kedua matanya, maka tidak mengapa. Akan tetapi dengan syarat tidak menjadi jembatan menuju kemunkaran melalui membuka lebih besar sampai dengan dibawah dahi dan diatas alis, atau bahkan lebih besar lagi.”
Fatwa Nuurun ‘Alad Darbi)

DO’A MEMAKAI PAKAIAN :
( الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى كَسَانِى هَذَا الثَّوْبَ وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّى وَلاَ قُوَّةٍ )
Alhamdulillaahilladzii kasaani hadzaa tsauba warozaqonihi min ghoiri haulin minni walaa quwwatin.
Artinya:
“Segala puji bagi Allooh yang memberi pakaian ini kepadaku sebagai rezeki daripada-Nya, dengan tanpa daya dan kekuatan dariku.”
(Hadits Riwayat Imaam Abu Daawud no: 4025)
Untuk membaca PDF dalil-dalil yang melandasi Panduan Pakaian Muslimah seperti tertera pada gambar diatas, maka Klik / Download “Dalil-Dalil Panduan Pakaian Muslimah” sebagai berikut yang akan menjelaskan, baik ayat-ayat Al Qur’an maupun Hadits-Hadits Rosuululloohصلى الله عليه وسلم, sehubungan dengannya.

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

SHALAWAT YANG BUKAN SHALAWAT

sholawat-yg-bukan-sholawat

“SHOLAWAT YANG BUKAN SHOLAWAT”
Oleh: Ustadz Achmad Rofi’i, Lc. MM.Pd

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allooh سبحانه وتعالى,
Sholawat adalah Ibadah, karena merupakan perintah secara langsung dari Allooh سبحانه وتعالى sebagaimana terdapat dalam Al Qur’an Surat Al Ahzaab (33) ayat 56:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً
Artinya:
“Sesungguhnya Allooh dan malaikat-malaikat-Nya bersholawat untuk Nabi*]. Hai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya**].”
*] Arti Sholawat:
– Allooh سبحانه وتعالى bersholawat untuk Nabi صلى الله عليه وسلم, berarti Allooh سبحانه وتعالى memuji, menyanjung dan melimpahkan rahmat serta kasih sayang-Nya kepada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
– Malaikat bersholawat untuk Nabi صلى الله عليه وسلم, berarti Malaikat mendo’akan Rosuululloohصلى الله عليه وسلم agar Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم diberi rahmat, ampunan dan kasih sayang Alloohسبحانه وتعالى.
– Orang-orang mukmin bersholawat untuk Nabi صلى الله عليه وسلم, berarti Orang-orang mukmin mendo’akan agar Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم diagungkan, dimuliakan serta ditinggikan derajatnya oleh Allooh سبحانه وتعالى.
**] Salam penghormatan : adalah dengan mengucapkan perkataan antara lain seperi “Assalamu ‘alaika ayyuhannabiyyu warohmatulloohi wabarokaatuh” (Selamat untukmu, Wahai Nabi, juga kasih-sayang dan berkah-Nya).
Maka Sholawat itu adalah Ibadah, dan karena merupakan Ibadah maka landasannya adalahterpaku pada Wahyu, harus berdasarkan dalil, tidak boleh mengarang sendiri.
Islam itu adalah sudah baku. Kalau Islam tidak baku sebagaimana firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. Al Maa’idah (5) ayat 3, maka bisa jadi setiap orang punya kreasi masing-masing, dimana hal ini dapat menyebabkan kerusakan terhadap Syari’at Islam dari zaman ke zaman, akibat dari penambahan dan pengurangan disana-sini terhadap Syari’at Islam tersebut oleh para pelaku Bid’ah; sehingga Islam yang seyogyanya merupakan ajaran yang “mudah” menjadi dipersulit oleh para pelaku Bid’ah dengan berbagai kreasi penambahan dan pengurangan ataupun penggantian disana-sini oleh mereka itu tadi. Contohnya: Redaksi Sholawat yang sesuai tuntunan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم yang semula berkisar antara 3 baris kalimat saja, lalu ditambah-tambah dan diganti-ganti oleh para pelaku Bid’ah tersebut sehingga menjadi berpuluh-puluh kalimat.
Padahal Islam adalah ajaran yang mudah dan terpaku pada Wahyu. Jadi harus berdasarkan pada apa yang telah diajarkan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, yang telah diberi izin dan diutus ke dunia oleh Allooh سبحانه وتعالى untuk menyampaikan dan mengajarkan Risalah dari Alloohسبحانه وتعالى.
Perhatikanlah firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. Al Maa’idah (5) ayat 3 :
…الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً …
Artinya:
“…Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu dien-mu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu menjadi dien bagimu…”
Imaam Maalik رحمه الله menjelaskan berkaitan dengan ayat tersebut adalah berikut ini:
مالكا يقول من ابتدع في الاسلام بدعه يراها حسنه فقد زعم ان محمدا ( صلى الله عليه وسلم ) خان الرسالة لان الله يقول اليوم أكملت لكم دينكم فما لم يكن يومئذ دينا فلا يكون اليوم دينا
Artinya:
“Barangsiapa yang mengada-ada suatu ke-Bid’ahan didalam Al Islam yang dianggapnya baik, maka sungguh dia telah mengklaim bahwa Muhammad صلى الله عليه وسلم telah mengkhianati Risaalah. Karena Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam QS. Al Maa’idah ayat 3, “Hari ini Aku telah sempurnakan dien untuk kalian.” Maka apa saja yang pada saat beliau hidup tidak menjadi ajaran dien, maka hari ini TIDAK BOLEH DIANGGAP DIEN.” (Lihat kitab Al-I’tishoom karya Imaam Al Syaatiby Jilid 1/149).
Oleh karena itu, dengan tegas pula Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم telah menjelaskan bahwa barangsiapa yang beramal dengan tidak berlandaskan pada Syari’at Islam, maka amalannya itu tertolak. Perhatikanlah Hadits Shohiih Riwayat Imaam Muslim no: 4590, ‘Aa’isyah رضي الله عنها bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda :
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
Artinya:
“Barangsiapa mengada-adakan perkara baru dalam urusan dien kami ini yang bukan termasuk darinya, maka ia (‘amalan itu) tertolak.”
Jadi sebenarnya demikian mudah kita memahami dienul Islam ini, karena semuanya sudah baku, sudah lengkap dan berpatokan kepada Wahyu. Tidak boleh ada orang yang mengatakan bahwa karena dirinya pandai, lantas ia boleh dengan seenak hatinya menambah-nambahkan sesuatu kepada Islam. Tidak boleh !
Maka, Sholawat pun demikian pula. Sholawat yang kita pelajari adalah bukan wewenang kita untuk mengarang-ngarang sendiri Redaksi / Kalimat Sholawat tersebut, melainkan itu merupakan wewenang Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم yang telah mencontohkan Redaksi / Kalimat Sholawat itu kepada ummatnya berdasarkan Wahyu dari Allooh سبحانه وتعالى. Kita sebagai kaum Muslimin, tinggal mengikuti saja apa yang sudah dicontohkan dan dituntunkan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Dari Redaksi / KalimatSholawat yang telah dituntunkan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم saja, kita kaum Muslimin tidak semua hafal akan redaksi-redaksi yang ada. Lalu, mengapa kita harus melirik kepada Sholawatyang bukan berasal dari ajaran Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم?
Ada beberapa jenis Sholawat-Sholawat yang Bukan dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم,tetapi merupakan karangan orang, namun telah tersebar secara meluas di kalangan masyarakat, yang hendaknya kita ketahui untuk kita waspadai. Dan apabila ada diantara kaum Muslimin yang membacanya, maka hendaknya tinggalkanlah Sholawat-Sholawat yang bukan berasal dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم itu. Dan hendaknya kaum Muslimin mencukupkan diri untuk hanya ber-Sholawat sesuai dengan Redaksi / Kalimat Sholawat sebagaimana yang telah diajarkan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم saja.
Dalam kajian kita kali ini insya Allooh akan dibahas antara lain 4 Sholawat yang BUKAN berasal dari Rosuulullooh صلىالله عليه وسلم, tetapi telah tersebar luas di kalangan masyarakat, yakni:
1. Sholawat Nariyah
2. Sholawat Al Fatih
3. Sholawat Basyisiyah
4. Sholawat Badriyah
Dalam Kitab berjudul Manhaju Al Firqotin Najiyyah karya Syaikh Jamiil Zainu, dikatakan bahwa:
“Kita seringkali mendengar dari ucapan kalimat Sholawat atas Nabi صلى الله عليه وسلم yang baru (Mubtada’ah, Bid’ah) yang tidak pernah kita dengar dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, tidak pula kita dengar dari Shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, tidak kita dengar dari Taabi’iin, bahkan tidak kita dengar dari para Imaam yang Mujtahidiinsekalipun ucapan dan bacaan Sholawat seperti itu. Redaksi (Kalimat) Sholawat itu adalah hasil buatan dan karangan syaikh-syaikh / orang yang hidup di akhir zaman ini, namun telah tersebar dan masyhur diantara orang-orang awam dan bahkan ahlil ‘ilmu. Mereka membaca dan mengulang-ngulang sholawat seperti itu lebih sering daripada mereka membaca Sholawat yang teriwayatkan secara Shohiih dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Bahkan bisa jadi mereka itu meninggalkan riwayat tentang Sholawat yang Shohiih, namun justru menyebarkan sholawat-sholawat yang dinisbatkan kepada syaikh-syaikh mereka. Kalau saja kita hayati dan renungkan sholawat-sholawat tadi, maka akan kita dapati bahwa didalamnya (– didalam redaksi sholawat tersebut – pent.) adalah merupakan bentuk penyelisihan terhadap Petunjuk dan Pedoman Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.”
Namun demikianlah kenyataan yang harus kita analisa keberadaannya, yakni bahwa Sholawatyang diriwayatkan secara Shohiih berasal dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم justru ditinggalkan dan tidak dipelajari; sementara sholawat buatan syaikh-syaikh muta’akhiriin (zaman sekarang) justru malah dimasyhurkan, dilazimkan, dan diwiridkan dalam kesehariannya. Padahal Ibadah itu adalah sebagaimana yang Imaam Maalik رحمه الله jelaskan diatas, bahwa sesuatu yang bukan merupakan dien pada zaman Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, maka sampai kapan pun juga tidak boleh kita anggap atau kita sebut sebagai dien.
Contoh Redaksi / Kalimat Sholawat yang TIDAK diajarkan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم antara lain:
اللهم صلِّ على محمد طِبِّ القلوب ودوائها ، وعافية الأبدان وشفائها ، ونور الأبصار وضيائها، وعلى آله وسلم
“Alloohumma sholli ‘ala Muhammadin, tibbil quluubi wadawaa-uhaa wa’afiat al abdan wa syifaa-uha, wan nuur al abshor wadhiyaa-iha wa’ala alihi wassallam.”
Artinya:
“Ya Allooh, kasih-sayangilah atas Muhammad, dia adalah dokter dan obat hati, penyembuh badan dan obat badan, dan cahaya serta sinar pandangan, dan keselamatan atas keluarganya.”
Kalimat Sholawat diatas bukan berasal dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, melainkan hasil karangan orang. Maka bila kita pelajari, makna dari Redaksi / Kalimat sholawat itu adalah MENYELISIHI firman Allooh سبحانه وتعالى. Karena sesungguhnya yang menjadi obat penyembuh, dan pembebas dari penyakit hati dan badan kita itu adalah Allooh سبحانه وتعالى; bukan Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم! Karena Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم tidak punya kemampuan untuk memberi manfaat pada diri beliau sendiri, apalagi pada orang lain; sebagaimana hal tersebut telah Allooh سبحانه وتعالى firmankan dalam QS. Yunus (10) ayat 49 :
قُل لاَّ أَمْلِكُ لِنَفْسِي ضَرّاً وَلاَ نَفْعاً إِلاَّ مَا شَاء اللّهُ لِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ إِذَا جَاء أَجَلُهُمْ فَلاَ يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلاَ يَسْتَقْدِمُونَ
Artinya:
“Katakanlah (Muhammad): “Aku tidak berkuasa mendatangkan kemudharatan dan tidak (pula) kemanfa`atan kepada diriku, melainkan apa yang dikehendaki Allooh.” Tiap-tiap ummat mempunyai ajal. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukan-(nya).”
Demikianlah firman Allooh سبحانه وتعالى yang menjelaskan bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم tidak mempunyai kemampuan untuk memberikan manfaat ataupun menghilangkan madhorot / bahaya, baik pada diri Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم sendiri, apalagi terhadap orang lain. Lalu mengapa dikatakan dalam redaksi sholawat tersebut bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم adalah merupakan obat penyembuh bagi hati, badan serta cahaya pandangan dan sebagainya itu?
Maka jelaslah bahwa Redaksi/ Kalimat Sholawat karangan orang tersebut telah menyelisihi firman Allooh سبحانه وتعالى, karena bersifat Kultus (Ghuluw), penyanjungan yang berlebih-lebihan terhadap Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, sehingga menempatkan Rosuulullooh diatas derajat yang semestinya yakni menyetarakan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلمdengan Allooh سبحانه وتعالى. Na’uudzu billaahi min dzaalik.
Itulah Ghuluw, penyebab kebinasaan sebagaimana yang dijelaskan dalam Hadits Riwayat Imaam Ibnu Maajah no: 3029, di-shohiihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany, dari ‘Abdullooh bin ‘Abbaas رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
يا أيها الناس إياكم والغلو في الدين فإنه أهلك من كان قبلكم الغلو في الدين
Artinya:
“Wahai manusia, Hindarilah oleh kalian sifat Ghuluw (kultus) dalam perkara dien. Binasanya orang-orang terdahulu sebelum kalian adalah karena Ghuluw.”
Juga dalam Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 3445, dari ‘Umar bin Khoththoob رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتْ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ فَقُولُوا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ
Artinya:
“Janganlah kalian berlebihan terhadapku, sebagaimana orang Nashoro mengkultuskan ‘Isa Ibnu Maryam. Aku ini hanyalah hamba Allooh. Maka katakanlah untukku: ‘Hamba Allooh dan Rosuul-Nya’.”
Dari Hadits diatas, dapat diambil pelajaran bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم sendiri melarang ummatnya untuk mengkultuskan beliau صلى الله عليه وسلم. Bahkan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم meng-haromkan kultus tersebut, karena hal itu menyerupai perilaku orang-orang Nashrani. Lalu bagaimana sebagian kaum Muslimin mengaku-ngaku dirinya mencintai Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم tetapi malah mengerjakan pekerjaan yang justru bertentangan bahkan dibenci oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم? Sungguh ironis kenyataan ini.
Perhatikanlah betapa, redaksi/ kalimat sholawat karangan orang tersebut justru telah melanggar paling tidak 2 perkara besar, yakni:
– Mengucapkan redaksi/ kalimat sholawat yang tidak diajarkan oleh Rosuululloohصلى الله عليه وسلم, berarti berbuat ke-Bid’ahan
– Mengarang redaksi/ kalimat sholawat yang justru bertentangan dengan Risaalah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dan bertentangan dengan firman Allooh سبحانه وتعالى.
Kemudian Syaikh Jamiil Zainu mengatakan, “Aku melihat suatu Kitab tentang keutamaansholawat atas Rosuul, yang ditulis oleh seorang Sufi terkenal dari Libanon, dimana redaksi sholawatnya adalah sebagai berikut:
اللهم صلِّ على محمد حتى تجعلَ منه الأحدِيَّة والقيُّومية
“Alloohumma sholli ‘ala Muhammadin, hatta taja’ala min hul ahadiyyata wal qoyyumiyyah.”
Artinya:
“Ya Allooh, limpahkanlah sholawat atas Nabi Muhammad, sehingga Engkau jadikan dari Muhammad ini ke-Esa-an, sehingga Muhammad itu berdiri sendiri.”
Kalimat/ Redaksi Sholawat itu jelas-jelas menyelisihi firman Allooh سبحانه وتعالى. Karena ke-Esa-an itu hanyalah milik Allooh سبحانه وتعالى (QS. Al Ikhlas (112) ayat 1). “Al Qoyyum” (berdiri sendiri) adalah merupakan sifat Allooh سبحانه وتعالى. Mengapa apa yang menjadi sifat Allooh سبحانه وتعالى, dijadikan sifat Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم? Bukankah Allooh سبحانه وتعالى tidak bisa dan tidak boleh disetarakan dengan makhluk-Nya? Bukankah hal ini jelas-jelas pula bertentangan dengan petunjuk Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم sendiri, yang telah melarang ummatnya untuk mengkultuskan dirinya?
Perhatikanlah firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. Al Ikhlas (112) ayat 1:
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ
Artinya:
“Katakanlah (Muhammad): “Dia-lah Allooh, Yang Maha Esa.”
Juga firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. Al Baqoroh (2) ayat 255 :
اللّهُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ …
Artinya:
“Allooh, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi (berdiri sendiri) terus menerus mengurus makhluk-Nya…”
Kemudian ada pula suatu do’a pagi dan petang karya seorang syaikh yang terkenal di Syria, sebagaimana dijelaskan dalam Kitab Ad’iyaatush shobaahi wal masaa’i, dimana redaksi/ kalimat do’a tersebut adalah sebagai berikut:
اللهم صلِّ على محمد الذي خَلقتَ من نوره كل شيء
“Alloohumma sholli ‘ala Muhammadin alladzi kholaqta minnuurihi kulla syai’.”
Artinya:
“Ya Allooh, limpahkanlah sholawat atas Muhammad, yang Engkau ciptakan dari cahaya Muhammad itu segala sesuatu.”
Maksudnya, dari Nur Muhammad itu diciptakan segala sesuatu. Syaikh Jamiil Zainu membantah sholawat karangan orang Syria tersebut dengan penjelasannya sebagai berikut, “Yang dimaksud dengan segala sesuatu itu bisa meliputi Adam عليه السلام, Iblis, kera, babi dan seterusnya. Apakah mungkin ada orang yang berakal sehat mengatakan bahwa itu semua diciptakan dari Nur Muhammad صلى الله عليه وسلم? Syaithoon telah mengetahui tentang penciptaannya dan penciptaan Adam عليه السلام, ketika Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam Al Qur’an Al-A’roof (7) ayat 12 :
قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلاَّ تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ قَالَ أَنَاْ خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ
Artinya:
“Allooh berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku (Allooh) menyuruhmu?”
Menjawab iblis “Aku lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan aku dari api sedangkan dia (Adam) Engkau ciptakan dari tanah.”
Maka jelaslah bahwa sholawat karangan syaikh orang Suriah tersebut tertolak dan tidak dibenarkan karena kalimatnya adalah bertentangan dengan firman Allooh سبحانه وتعالى dan menunjukkan kebathiilan.
Adapun kalimat sholawat berikut ini yang juga merupakan hasil karangan orang dan tidak sesuai dengan tuntunan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم adalah :
الصلاة السلام عليكم يا رسول الله ضاقت حيلتي فأدركني يا حبيب الله
“Ashsholaatu wassallamu ‘alaikum ya Rosuulullooh,dhooqot hiilatii fa adriknii habiballooh.”
Artinya:
“Sholawat dan salam untukmu ya Rosuulullooh, menyempit seluruh daya-upayaku, karena ituwahai Kekasih Allooh, berikan kepadaku kemampuan untuk mengatasinya.”
Redaksi/ Kalimat Sholawat tersebut mengandung kesyirikan, karena telah menyelisihi firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. An Naml (27) ayat 62:
أَمَّن يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاء الْأَرْضِ أَإِلَهٌ مَّعَ اللَّهِ قَلِيلاً مَّا تَذَكَّرُونَ
Artinya:
“Atau siapakah yang memperkenankan (do`a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo`a kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allooh ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati (Nya).”
Maka, kalau diyakini oleh orang yang membaca sholawat yang seperti itu, bahwa ada seseorang (bahkan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم sekalipun) yang bisa memperkenankan do’a dan bisa menghilangkan kesusahan selain daripada Alloohسبحانه وتعالى; maka orang tersebut berarti telah jatuh pada kesyirikan.
Juga redaksi sholawat seperti itu telah bertentangan dengan firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. Al An’aam (6) ayat 17 :
وَإِن يَمْسَسْكَ اللّهُ بِضُرٍّ فَلاَ كَاشِفَ لَهُ إِلاَّ هُوَ وَإِن يَمْسَسْكَ بِخَيْرٍ فَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدُيرٌ
Artinya:
“Jika Allooh menimpakan suatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu.”
Jadi, kalau diyakini bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bisa memberikan kemampuan berupaya bagi manusia, maka jelas telah bertentangan dengan firman Allooh سبحانه وتعالى diatas, dan redaksisholawat seperti itu mengandung kesyirikan, dan hendaknya dijauhi sikap ghuluw atau sanjungan yang berlebih-lebihan pada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم tersebut.
Bahkan dalam Hadits Riwayat Imaam At Turmudzy no: 3524, dari Anas bin Maalik رضي الله عنه. Imaam At Turmudzy رحمه الله berkata Hadits ini Ghorib, dan Hadits ini di-Hasankan oleh Syaikh Nashirudddin Al Albaany dalam Kitab At Tawassul hal: 31, dijelaskan bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم sendiri, apabila beliau صلى الله عليه وسلم ditimpa kegelisahan dan kegundahan maka beliau berdo’a:
يا حي يا قيوم برحمتك أستغيث
“Ya Hayyu, ya Qoyyum, birohmatika astaghits.”
(Ya Allooh Yang Maha Hidup, dan Yang Maha Berdiri Sendiri, dengan segala kasih-sayang-Mu aku memohon pertolongan-Mu).”
Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم sendiri meminta kepada Allooh سبحانه وتعالى. Maka sungguh aneh apabila ada orang yang meminta kepada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم untuk dihindarkan dari bahaya/ kesulitan.
Hal ini menunjukkan bahwa sholawat yang demikian itu tidak benar, bukan saja mengada-ada, tetapi malah mengandung kesyirikan.
Dalam Kitab berjudul Dalaa’ilul Khoiroot (Petunjuk-Petunjuk Kebaikan), Kitab ini judulnya kelihatannya bagus, tetapi sungguh sayang isi Kitab tersebut mengandung kesyirikan, dimana didalam Kitab tersebut antara lain diajarkan sholawat seperti ini:
اللهم صلّ على محمد ما سجعتِ الحمائم وفعت التمائم
“Alloohumma sholli ‘ala Muhammadin maa saja’atil hamaa-im wafa’atit tamaa-im.”
Artinya:
“Ya Allooh, sampaikanlah sholawat atas Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, selama merpati bersiul dan tamiimah bergantung.”
“Tamaa-im” adalah Tamiimah, yakni semacam jimat berupa bungkusan kain yang dijahit, yang didalamnya berisi tulisan-tulisan / isim-isim dari seorang Kyai atau Ajeungan, yang lalu dikalungkan di leher seseorang (biasanya anak kecil), dan dipercayai oleh mereka sebagai penangkal bagi yang memakainya dari berbagai penyakit dan sebagainya.
Ketahuilah wahai kaum Muslimin, kalung jimat yang seperti itu adalah tidak ada manfaat bagi yang mengalungkannya ataupun bagi yang memakai kalung tersebut. Bahkan itu adalah amalan yang dikerjakan oleh orang-orang musyrikin.
Dalam Hadits Shohiih Riwayat Imaam Ahmad no: 17241, dari ‘Uqbah bin ‘Aamir Al JuHaaniy رضي الله عنه, dan Syaikh Syu’aib Al Arnaa’uth mengatakan sanadnya Kuat dan Syaikh Nashiruddin Al Albaany men-shohiihkannya dalam Silsilah Hadiits Shohiih no: 492, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda,
مَنْ عَلَّقَ تَمِيمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ
Artinya:
“Barangsiapa yang menggantungkan (berkalung) tamiimah, maka ia telah musyrik.”
Banyak pula kita dapati di kalangan sebagian masyarakat di Indonesia, yang mereka itu masih saja memiliki suatu kepercayaan bahwa wanita yang hamil hendaknya menggantungkan gunting kecil, peniti dan sejenisnya di tubuhnya ketika ia hendak keluar rumah; apalagi pada kehamilan di bulan ke tujuh dan sebagainya. Maka sesungguhnya itu adalah kesyirikan. Demikian pula, para pedagang yang suka menyelipkan bungkusan kertas atau kain di pecinya sebagai suatu jimat, maka itupun juga tergolong kesyirikan. Ada lagi yang menaruh lipatan isim di laci uangnya dengan niatan sebagai penglaris atau agar aman dan sebagainya. Semua itu merupakanTamiimah dan itu adalah Syirik.
Lalu ada pula orang yang memakai akar bahar di lengannya, dengan meyakini bahwa akar bahar itu bisa menolak bala’, maka itupun termasuk Tamiimah, dan orangnya adalah tergolong musyrik. Oleh karena itu hendaknya kaum Muslimin berhati-hati. Apabila sudah menyangkut perkara ‘Aqiidah, hendaknya kita tidak boleh berbasa-basi dalam urusan ini.
Demikian pula dalam mengucapkan kalimat / redaksi sholawat. Betapa banyak kaum Muslimin yang mengucapkan kalimat sholawat tanpa mengetahui artinya, hanya karena ikut-ikutan saja, padahal bisa jadi kalimat-kalimat sholawat karangan manusia yang banyak beredar di masyarakat tersebut tidak lepas dari unsur kesyirikan, ke-Bid’ahan maupun kultus terhadap Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
Kemudian Syaikh Jamiil Zainu menjelaskan bahwa didalam Kitab Dalaa’ilul Khoiroot tersebut, terdapat pula sholawat-sholawat yang menyelisihi Hadits dan mengandung kesyirikan, antara lain adalah:
اللهم صل على محمد حتى لا يبقى من الصلاة شيء وارحم محمدا حتى لا يبقى من الرحمة شيء
“Alloohumma sholli ‘ala Muhammadin hatta laa yabqo minashsholaati syai’un wa arham Muhammadan hatta layabqo minarrohmati syai’un.”
Artinya:
“Ya Allooh, limpahkanlah sholawat atas Muhammad, sehingga tidak tersisa sholawat sedikit pun dan kasih-sayangilah Muhammad sehingga tidak tersisa kasih-sayang itu sesuatupun sedikitpun.”
Redaksi Sholawat yang seperti ini pun tidak benar, karena menjadikan sholawat dan rohmahberakhir dan habis. Jelas hal itu bertentangan dengan Sifat dan Ilmu Allooh سبحانه وتعالى yang tidak akan pernah habis, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al Kahfi (18) ayat 109 :
قُل لَّوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَاداً لِّكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَن تَنفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَداً
Artinya:
“Katakanlah: “Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Robb-ku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Robb-ku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).”
Jadi redaksi sholawat itu bersifat ghuluw (berlebih-lebihan) dan melampaui batas, karena mengatakan bahwa sholawat dan rohmah (kasih sayang) itu berakhir dan habis, yang jelas menyelisihi QS. Al Kahfi (18) ayat 109 diatas.
“Sholawat Basyisyiyah” yang mengandung ke-baathilan :
Sholawat ini dibuat oleh Ibnu Basyis, dan redaksinya berbunyi:
اللهم انشلني من أوحال التوحيد وأغرقني في بحر الوحدة وزُجَّ بي في الأحدية حتى لا أرى ولا أسمع ولا أحس إلا بها
“Alloohumma ansyulnii min auhaalittauhiid wa aghriqnii fi bahril wihdati wasujjabii fil ahadi yati hatta la a’ro walaa asma’u walaa uhissu illaa biHaa.”
Artinya:
“Ya Allooh, belenggulah aku dalam ikatan tauhiid dan tenggelamkan aku dalam lautan kesendirian dan sembunyikanlah aku dalam ke-Esaan, sehingga aku tidak melihat, tidak mendengar dan tidak merasa kecuali dengannya.”
Redaksi sholawat tersebut juga termasuk kultus, sebagaimana hal ini telah dijelaskan oleh Syaikh Jamil Zainu sebagai berikut:
“Orang yang mengarang sholawat tersebut termasuk orang yang meyakini adanya Wihdatul Wujud bahwa Alloohسبحانه وتعالى dan Mahkhluk bersatu dalam satu nyawa. Keyakinan itu adalah kotor (baathil) (– kita berdo’a pada Allooh agar terhindar darinya –) karena meminta untuk ditenggelamkan dalam lautan Wihdatul Wujud, yakni agar melihat Tuhannya dalam segala sesuatu.”
Orang-orang Wihdatul Wujud (mereka bukan Ahlus Sunnah Wal Jamaa’ah), meyakini bahwa anjing dan babi itu adalah jelmaan tuhan. Allooh سبحانه وتعالى itu yang menjadi Rahib didalam gereja, sedangkan anjing dan babi adalah tuhan juga. Orang-orang Nasrani menjadikan itu adalah ‘Isa dan mereka menjadikan segala sesuatu sebagai sekutu bagi Allooh سبحانه وتعالى.
Syaikh Jamiil Zainu mengingatkan agar kaum Muslimin berhati-hati dan jangan menggunakansholawat-sholawat yang baathil seperti telah dijelaskan diatas.
“Sholawat Al Fatih” yang Bid’ah :
Sholawat ini juga sering digunakan orang dan sudah tersebar luas di masyarakat, padahalredaksi/ kalimatnya adalah tidak sesuai dengan tuntunan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Perhatikanlah redaksi sholawat Al Fatih berikut ini, yang hendaknya kaum Muslimin mewaspadainya dan menjauhinya :
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِنِ الْفَاتِحِ لِمَااُغْلِقَ وَالْخَاتِمِ لِمَاسَبَقَ نَاصِرِالْحَقِّ ‍ بِالْحَقِّ وَالْهَادِى اِلَى صِرَاطِك َالْمُسْتَقِيْم وَعَلَى اَلِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ الْعَظِيْمِ
(Alloohumma sholli ‘alaa sayyidinaa Muhammadinil faatihi lima ughliqo wal khootimi lima sabaqo naashiril haqqi bil haqqi wal Haadi ilaa shiroothikal mustaqiimi wa ‘alaa alihi haqqo qodrihi wa miqdaarihil ‘adziimi)
Artinya:
“Ya Allooh, limpahkanlah sholawat kepada Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلمpembuka sesuatu yang tertutup, dan penutup segala sesuatu sebelumnya (pamungkas), penolong kebenaran dengan kebenaran, pemberi petunjuk kepada jalan yang lurus. Semoga rahmat-Mu dilimpahkan kepada keluarganya yaitu rahmat yang sesuai dengan kepangkatan Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم.”
Sholawat Al Fatih ini telah tersebar di masyarakat dan biasa dipakai oleh Imaam-Imaam sebelum sholat di masjid-masjid dan didzikirkan dengan suara keras bersama-sama (koor).
Menurut Syaikh Jamiil Zainu, bahwa Sholawat Al Fatih ini adalah diantara Dzikir yang Bid’ah, dipakai sebagai ibadah kepada Allooh سبحانه وتعالى oleh pengikut-pengikut daripadaThoriqoh Tijaniyyah. Thoriqoh Tijaniyyah tersebut bukanlah Ahlus Sunnah Wal Jamaa’ah. Perlu diketahui, bahwa Sufi bukanlah Ahlus Sunnah Wal Jamaa’ah. Walaupun Sufi itu banyak sekte-nya tetapi mereka itu bukan tergolong Ahlus Sunnah Wal Jamaa’ah, meskipun mereka itu mengaku-ngaku sebagai Ahlus Sunnah Wal Jamaa’ah. Mereka itu sebenarnya adalah pengikut Tijaniyyah.
Lalu, kata Syaikh Jamiil Zainu, “Adapun ucapan sholawat bersama-sama dalam satu suara (serempak) dengan suara yang nyaring, maka itu termasuk Bid’ah. Tidak ada contoh dari Nabi صلى الله عليه وسلمmaupun Shohabat. Kita ketahui bersama bahwa Ibadah itu adalah dibangun diatas apa yang berasal dari Syari’at yang bijak dari Muhammadصلى الله عليه وسلم. Maka, Wajib bagi kita untuk mengikuti Pendahulu kita dari kalangan orang-orang yang shoolih dengan amalan mereka yang mereka kerjakan, dan menghentikan diri dari apa yang mereka tinggalkan. Benarlah orang yang mengatakan bahwa segala kebaikan berada dalam mengikuti Pendahulu Ummat yang shoolih, dan segala kejahatan adalah didalam ber-Bid’ah terhadap orang-orang belakang (– orang-orang zaman sekarang / muta’akhiriin –).”
Keutamaan Sholawat Al Fatih, yang diyakini oleh para pengikutnya (sebagaimana dinukil dari “Ensiklopedi tentang Agama, Sekte dan Pemikiran-Pemikiran masa Kini”, yang ditulis oleh Organisasi Pemuda Islam Internasional), adalah sebagai berikut:
1. Menurut kata mereka, sholawat tersebut diperoleh melalui mimpi dimana Rosuulullooh صلى الله عليه وسلمmemberitahu bahwa barangsiapa yang membaca Sholawat Al Fatih satu kali maka sama dengan membaca Al Qur’an enam kali khatam.
2. Menurut kata mereka, (lagi-lagi kata mereka adalah melalui mimpi), bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلمmemberitahukan untuk kedua kalinya bahwa membaca Sholawat Al Fatih satu kali adalah sama dengan membaca Al Qur’an enam ribu kali khatam.
Ahmad At Tiijaanii, seorang dari Al Jazair yang merupakan perintis Thoriqoh Tiijaaniiyyah, mengatakan bahwa dirinya telah bertemu dengan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلمdalam mimpinya, lalu Rosuulullooh mengajarkan hal tersebut diatas padanya.
(– Memang Jin dan Syaithoon dapat memberikan talbis (tipuan) terhadap manusia dengan cara seperti itu –)
3. Kalau orang ingin mendapatkan keutamaan dan fadhilah yang sedemikian besarnya tersebut (sampai 6000 kali khatam bacaan Al Qur’an), maka harus pernah belajar dari seorang Sufi Tiijaanii, karena orang tersebut mendapatkan dari gurunya, dan gurunya juga mendapatkan dari guru sebelumnya dan seterusnya, sampai kepada Ahmad At Tiijaanii. Kalau hanya belajar sendiri (autodidak), maka orang tersebut tidak akan mendapatkan keutamaan seperti ini, demikian menurut mereka. Dan hal ini merupakan politis daripada Thoriqoh Tiijaaniiyyah, dimana orang diharuskan untuk terikat kepada Thoriqoh mereka.
4. Menurut mereka, Sholawat Al Fatih tersebut adalah bagian dari Firman Allooh سبحانه وتعالى, yang sama statusnya dengan Hadits Qudsi. Lihat hal ini dalam Kitab mereka yakni Ad Durah Al Fariidah.
5. Menurut mereka, siapa yang membaca Sholawat Al Fatih sepuluh kali, maka ia akan mendapat pahala lebih banyak dibandingkan orang yang tahu tentang Allooh سبحانه وتعالى seribu-ribu kali (satu juta kali).
6. Menurut mereka, siapa yang membaca Sholawat Al Fatih satu kali, maka dosa-dosanya akan dihapus dan kebaikannya akan ditimbang sama dengan timbangan enam ribu kali tasbih, do’a dan dzikir yang terjadi di alam semesta ini.
Walaupun demikian dahsyatnya keutamaan Sholawat Al Fatih yang digembar-gemborkan olehThoriqoh Sufi Tiijaaniiyyah, hendaknya kaum Muslimin tidak terkecoh oleh janji-janji muluk-muluk tersebut, yang tidak ada landasannya secara Shohiih dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Karena hendaknya diingat kaidah yang telah disampaikan dalam Hadits melalui ‘Aa’isyah رضي الله عنها diatas, bahwa “Barangsiapa mengada-adakan perkara baru dalam urusan dien kami ini yang bukan termasuk darinya, maka ia (‘amalan itu) tertolak.”
Jadi, walaupun seindah dan sedahsyat apa pun janji-janji keutamaan Sholawat Al Fatih, amalan tersebut tetap saja tertolak karena tidak berasal dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم secara shohiih.
Berikut ini, disampaikan Fatwa dari Lajnah Ad Daa’imah, Majlis Ulama Saudi Arabiaberkenaan dengan sesatnya Sufi Tijaniyyah (– lihat Fatwa-Fatwa Lajnah Daa’imah terlampir –), bahkan terhukumi Kufur dan Sesat, adalah karena beberapa perkara:
1.Tijaaniiyyah adalah Thoriqoh Sufiyyah yang munkar yang tidak sesuai dengan petunjuk Al Islam. Banyak kesyirikan yang mereka yakini dan keluar dari ajaran Islam. Ahmad bin Muhammad At Tiijaanii pendiri Thoriqoh Sufiyyah ini telah berlaku kultus terhadap anak buah dan pengikutnya, terutama dalam perkara-perkara yang berkenaan dengan karakteristik Risaalah ini, bahkan meng-klaim sebagai Tuhan dan diikuti oleh para pendukungnya (– Ini adalah Ghuluw –)
2. Dia meyakini adanya Wihdatul Wujud dan mengatakan bahwa Allooh سبحانه وتعالى memberikan pemberian yang besar kepada Muhammad صلى الله عليه وسلم lalu diberikan kepada para nabi dan lalu kepadanya (Ahmad Tijaani).
3. Thoriiqoh At Tijaani mempunyai Kitab yang berjudul Jawaahirul Ma’ani, yang memuat hadits-haditsnya Ahmad Tiijaanii, yang dihimpun oleh muridnya yang bernama Ali Kharazindalam Kitabnya yang berjudul Rimaahizbi Ar Rohiim.
4. Ahmad Tiijaanii nama lengkapnya adalah Ahmad bin Muhammad bin Al Muhtar bin Ahmad bin Muhammad Salim At Tiijaanii. Hidup di tahun 1737 – 1815 Masehi (abad ke-19 masehi). Jadi baru kira-kira 115 tahun yang lalu, dan dia adalah seorang Al Jazair.
Jadi, Sholawat Al Fatih (Sholawat Tiijaaniiyyah) adalah sholawat hasil karangan orang abad ke-19 Masehi. Tidak layak bagi kaum Muslimin untuk mengikuti ajarannya, baik thoriqot-nya maupun sholawat-nya karena sholawat tersebut memang bukan berasal dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dan banyaknya penyimpangan serta kesesatan dalamThoriiqot tersebut.
“Sholawat Nariyyah” yang mengandung kesyirikan :
Redaksi Sholawat Nariyyah yang berbunyi:
اللهم صل صلاة كاملة وسلم سلاما تاما على سيدنا محمد الذي تنحل به العقد وتتفرج به الكرب وتقضى به الحوائج ، وتنال به الرغائب ، وحسن الخواتيم ، ويستسقى الغمام بوجهه الكريم ، وعلى آله وصحبه في كل لمحة ونفس بعدد كل معلوم لك
“Allohumma sholli ’sholaatan kaamilatan wa sallim salaaman taaamman ‘ala sayyidina Muhammadinilladzi tanhallu bihil ‘uqodu wa tanfariju bihil kurobu wa tuqdhoo bihil hawaaiju wa tunaalu bihir roghooibu wa husnul khowaatimu wa yustasqol ghomaamu biwajhihil kariem wa ‘ala aalihi wa shohbihi fie kulli lamhatin wa nafasim bi’adadi kulli ma’lumin laka.”
Artinya:
“Ya Allooh, berilah sholawat dengan sholawat yang sempurna dan berilah salam dengan salam yang sempurna atas penghulu kami Muhammad yang dengannya terlepas segala ikatan masalah, lenyap segala kesedihan, terpenuhi segala kebutuhan, tercapai segala kesenangan, pemberi husnul khootimah, pemberi awan hujan dengan wajahnya yang mulia, juga atas keluarga dan sahabat-sahabatnya dalam setiap kedipan mata dan hembusan nafas sebanyak hitungan segala yang ada dalam pengetahuan-Mu.”
Itulah redaksi/ kalimat Sholawat Nariyyah yang juga sudah tersebar di masyarakat Indonesia. Di India, sholawat Nariyyah ini dibaca orang sebanyak 4.444 (empat ribu empat ratus empat puluh empat) kali, apabila terjadi musibah atau kesulitan di suatu rumah. Dan menurut kepercayaan mereka, bahwa orang yang membacanya akan mendapatkan sejenis karomah.
Hendaknya kaum Muslimin tidak terkecoh dengan janji-janji keutamaan Sholawat Nariyyah sebagaimana yang mereka katakan itu. Dan perhatikanlah bahwa diantara kalimat/ redaksiSholawat Nariyyah itu justru terdapat unsur kesyirikan, oleh karena itu sangat berbahaya bila diamalkan oleh kaum Muslimin.
Berikut ini adalah Fatwa dari Para Ulama Ahlus Sunnah Wal Jamaa’ah yang melarang kaum Muslimin untuk membaca sholawat Nariyyahtersebut, antara lain:
1. Kalimat yang tercantum dalam Sholawat Nariyyah tersebut jelas merupakan Bid’ahdan Syirik: “….penghulu kami Muhammad yang dengannya terlepas segala ikatanmasalah, lenyap segala kesedihan, terpenuhi segala kebutuhan, tercapai segala kesenangan, pemberi husnul khootimah, pemberi awan hujan dengan wajahnya yang mulia…”
Padahal sebagaimana yang telah dijelaskan dalam banyak firman Allooh سبحانه وتعالى diatas antara lain dalam QS. Yunus (10) ayat 49 dan QS. Al An’aam (6) ayat 17, bahwa yang dapat melepaskan manusia dari berbagai masalah adalah Allooh سبحانه وتعالى, dan bukan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Oleh karena itu redaksi Sholawat Nariyyah adalah tidak sesuai dengan‘Aqiidah, dan bahkan orang yang mengamalkan sholawat Nariyyah tersebut lalu ia meyakini bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم lah yang dapat memberikan maslahat dan menghilangkanmadhorot bagi dirinya, maka ia telah jatuh pada kesyirikan.
Dengan demikian, pembaca sholawat Nariyyah akan melakukan berbagai kebaathilan, yakni di satu sisi adalah menyalahi / menyelisihi Syar’i, dan disisi lain adalah melakukan kesyirikan serta kultus terhadap Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم.
2. Dinukil dari perkataan Ibnu Rojab Al Hanbali رحمه الله, kata beliau bahwa Hadits “Barangsiapa mengada-adakan perkara baru dalam urusan dien kami ini yang bukan termasuk darinya, maka ia (‘amalan itu) tertolak.” – adalah termasuk pokok-pokok Islam didalamnya, dan sebagai suatu standar bahwa amalan apapun dari seseorang itu haruslah dengan niat karena Allooh سبحانه وتعالى. Jadi orang yang beramal itu tidak akan mendapatkan pahala, kalau ia tidak meniatkannya hanya semata-mata untuk mendapatkan pahala dari Allooh سبحانه وتعالى. Sebagaimana akan gagal pula amalannya, jika amalannya tersebut tidak bersumber dari tuntunan / ajaran Muhammad Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
Maka kata beliau رحمه الله bahwa setiap yang baru dalam dien dan tidak diizinkan oleh Allooh سبحانه وتعالى dan Rosuul-Nya صلى الله عليه وسلم maka ia bukanlah bagian dari dien.
3. Demikian pula Imaam An Nawawy رحمه الله mengatakan bahwa dalam Hadits “Barangsiapa mengada-adakan perkara baru dalam urusan dien kami ini yang bukan termasuk darinya, maka ia (‘amalan itu) tertolak” – terdapat suatu kaidah yang besar dari kaidah-kaidah Islam. Dan ia merupakan kalimat yang sederhana / simpel dan jelas dari Rosuululloohصلى الله عليه وسلم yang merupakan penolakan terhadap Bid’ah dan perkara-perkara baru dalam dien. Sedangkan orang yang membangkang dengan melakukan amalan-amalan yang Bid’ah, maka akan berakibat pada tertolaknya amalan-amalannya tersebut.
4. Fatwa dari Syaikh ‘Abdul ‘Aziiz bin Baaz رحمه الله menyatakan bahwa, “Sholawat Nariyyah bukan berasal dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.”
Bahkan dikatakan bahwa, Sholawat Nariyyah adalah termasuk do’a-do’a dari orang-orang Sufi, bukan bagian dari Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, oleh karena itusholawat tersebut termasuk yang menyesatkan kaum Mu’miniin, dan hendaknya kita hindari.
5. Fatwa dari Syaikh ‘Abdurrohmaan bin Nashir Al Barrok, “Orang yang berdo’a dengan bertawassul dengan sholawat tersebut (sholawat Nariyyah), maka hukumnya Harom, karena lafadznya antara Syirik dan Bid’ah.”
Jadi, sholawat Nariyyah yang didalamnya mengandung kesyirikan dank ke-Bid’ahanadalah Harom. Orang-orang Sufi yang terkenal suka mengada-ada atau berbuat Bid’ah, menjadikan seakan-akan sholawat tersebut memiliki keutamaan-keutamaan yang Allooh سبحانه وتعالى dan Rosuul-Nya صلى الله عليه وسلم tidak pernah menjelaskan atau mengajarkannya seperti itu. Oleh karena itu, terhitung sebagai perkara yang munkar. Bahkan namanya saja adalahSholawat Nariyyah, yang artinya adalah Sholawat Neraka.
“Sholawat Badriyyah” yang mengandung kebaathilan :
Adapun Sholawat Badriyyah adalah sholawat lokal, karangan kyai Indonesia, tidak dikenal di dunia Internasional; karena ia dibuat oleh Kyai Ali Mansyur yang berasal dari Banyuwangi, Jawa Timur di era tahun 1960-an.
Di tahun 1960-an, kaum Muslimin di Indonesia mengalami kegelapan akibat pengaruh dan fitnah dari Partai Komunis Indonesia (PKI), maka Kyai Ali Mansyur (– ia lulusan Pesantren Lirboyo, Kediri –) yang dikala itu menjabat sebagai Kepala Kantor Departemen Agama Banyuwangi, Jawa Timur dan sebagai Pengurus Cabang NU Banyuwangi, menyusun syair Sholawat Badriyyah, yang kemudian beredar luas di masyarakat Indonesia sampai sekarang.
Berdasarkan cerita, suatu pagi orang-orang yang ada di sekitar rumahnya berdatangan ke rumah Kyai Ali Mansyur dengan membawa beras. Katanya, mereka bermimpi untuk membantu Kyai Ali Mansyur karena ia sedang mendapatkan “sesuatu”, yang mana Kyai Ali Mansyur bermimpi didatangi orang-orang berjubah putih. Kemudian pada siang harinya Kyai Ali Mansyur langsung pergi menemui Habib Hadi Al Haddar Banyuwangi dan menceritakan kisah mimpinya itu. Habib Hadi menyatakan bahwa orang-orang yang berjubah putih itu adalah ruh para pejuang Badar. Katanya, mereka adalah arwah Shohabat yang ikut dalam perang Badar. Sehingga kemudian sholawatnya disebut dengan Sholawat Badar atau Sholawat Badriyyah.
Bahkan ada cerita lagi sesudahnya, bahwa ada seorang Habib yang datang dari Jakarta, yakniHabib Ali (dari Kwitang), padahal ketika itu Sholawat Badar belum dipublikasikan, akan tetapi Habib Ali sudah mengetahuinya. Habib Ali Kwitang lalu meminta agar Kyai Ali Mansyur membacakan syair Sholawat Badriyyah itu. Semua yang hadir terharu dan menangis ketika mendengar syair sholawat tersebut dibacakan.
Selanjutnya tidak berselang lama dari kejadian tersebut, Habib Ali mengundang para Kyai dan Habaib ke Kwitang, Jakarta untuk suatu pertemuan. Salah satu yang diundang adalah Kyai Ali Mansyur. Lalu dalam pertemuan tersebut, sekali lagi Kyai Ali Mansyur diminta untuk membacakan syair Sholawat Badriyyah hasil gubahannya itu. Maka kemudian Sholawat Badriyyah pun dikenal secara meluas oleh masyarakat.
Demikianlah sekelumit sejarah Sholawat Badriyyah, yang sebenarnya merupakan sholawat lokal (hanya di Indonesia), yang mendapatkan dukungan dari para Habaib. Dan kisah ini dimuat dalam buku Antologi NU Sejarah Istilah Amaliyah Uswah, karangan Haji Sulaiman Fadeli.
Adapun naskah redaksi Sholawat Badriyyah adalah sebagai berikut:
“Sholaatullooh Salaamullooh ‘Alaa Thooha Rosuulillaah
Sholaatullooh Salaamullooh ‘Alaa Yaa Siin Habiibillaah
Tawassalnaa bi Bismillaah Wa bil Haadi Rosuulillaah
Wakulli Mujaahidin Lillaah Bi Ahlil Badri Yaa Allooh
llaahi Sallimil Ummah Minal Aafaati Wanniqmah
Wamin Hammin Wamin Ghummah Bi Ahlil Badri Yaa Allooh
Ilaahi Najjinaa Waksyif Jamii’a Adziyyatin Washrif
Makaa idal ‘idaa wal thuf Bi Ahlil Badri Yaa Allooh
llaahi Naffisil Kurbaa Minal ‘Aashiina Wal ‘Athbaa
Wakulli Baliyyatin Wawabaa Bi Ahlil Badri Yaa Allooh
Wakam Min Rohmatin Hasholat Wakam Min Dzillatin Fasholat
Wakam Min Ni’matin Washolat Bi Ahlil Badri Yaa Allooh
Wakam Aghnaita Dzal ‘Umri Wakam Aulaita Dzal Faqri
Wakam’Aafaita Dzal Wizri Bi Ahlil Badri Yaa Allooh
Laqad Dhooqot ‘Alal Qolbi Jamii’ul Ardhi Ma’ Rohbi
Fa Anji Minal Balaash Sho’bi Bi Ahlil Badri Yaa Allooh
Atainaa Thoolibir Rifdi Wajullil Khoiri Was Sa’di
Fawassi’ Minhatal Aidii Bi Ahlil Badri Yaa Allooh
Falaa Tardud Ma ‘al Khoibah Balij ‘Alnaa’Alath Thoibah
Ayaa Dzal ‘izzi Wal Haibah Bi Ahlil Badri Yaa Allooh
Wa in Tardud Faman Ya-Tii Binaili Jamii’i Haajaati
Ayaa jalail mulimmaati Bi Ahlil Badri Yaa Allooh
llaahighfir Wa Akrimnaa Binaili Mathoolibin Minnaa
Wadaf’ i Masaa-Atin ‘Annaa Bi Ahlil Badri Yaa Allooh
llaahii Anta Dzuu Luthfin Wadzuu Fadh-lin Wadzuu ‘Athfin
Wakam Min Kurbatin Tanfii Bi Ahlil Badri Yaa Allooh
Washolli ‘Alan Nabil Barri Bilaa ‘Addin Walaa Hashri
Wa Aali Saadatin Ghurri Bi Ahlil Badri Yaa Allooh.”
Artinya:
Rahmat dan keselamatan Allooh,
Semoga tetap untuk Nabi Thooha utusan Allooh,
Rahmat dan keselamatan Allooh,
Semoga tetap untuk Nabi Yasin kekasih Allooh.
Kami berwasilah dengan berkah “Basmalah”,
Dan dengan Nabi yang menunjukkan lagi utusan Allooh,
Dan seluruh orang yang berjuang karena Allooh,
Sebab berkahnya shohabat Ahli Badar ya Allooh.
Ya Allooh, semoga Engkau menyelamatkan ummat,
Dari bencana dan siksa,
Dan dari susah dan kesempitan,
Sebab berkahnya shohabat Ahli Badri ya Allooh.
Ya Allooh semoga Engkau selamatkan kami dari semua yang menyakitkan,
Dan semoga Engkau (Allooh) meniauhkan tipu dan daya musuh-musuh,
Dan semoga Engkau mengasihi kami,
Sebab berkahnya shohabat Ahli Badar Ya Allooh.
Ya Allooh, semoga Engkau menghilangkan beberapa kesusahan,
Dari orang-orang yang berma’siat dan semua kerusakan,
Dan semoga Engkau hilangkan semua bencana dan wabah penyakit,
Sebab berkahnya shohabat Ahli Badar ya Allooh.
Maka sudah beberapa rahmat yang telah berhasil,
Dan sudah beberapa dari kehinaan yang dihilangkan,
Dan sudah banyak dari ni’mat yang telah sampai,
Sebab berkahnya shohabat Ahli Badar ya Allooh.
Sudah berapa kali Engkau (Allooh) memberi kekayaan orang yang makmur,
Dan berapa kali Engkau (Allooh) memberi nikmat kepada orang yang fakir,
Dan berapa kali Engkau (Allooh) mengampuni orang yang berdosa,
Sebab berkahnya shohabat Ahli Badar ya Allooh.
Sungguh hati manusia merasa sempit di atas tanah yang luas ini,
karena banyakhnya marabahaya yang mengerikan,
Dan malapetaka yang menghancurkan,
semoga Allooh menyelamatkan kami dari bencana yang mengerikan,
Sebab berkahnya shohabat Ahli Badar ya Allooh.
Kami datang dengan memohon pemberian/ pertolongan,
Dan memohon agungnya kebaikan dan keuntungan,
Semoga Allooh meluaskan anugerah (keni’matan) yang melimpah-limpah,
Dari sebab berkahnya ahli Badar ya Allooh.
Maka janganlah Engkau (Allooh) menolak kami menjadi rugi besar,
Bahkan jadikanlah diri kami dapat beramal baik, dan selalu bersuka ria.
Wahai Dzat yang punya keagungan (kemenangan) dan prabowo,
Dengan sebab berkahnya shohabat Ahli Badar ya Allooh.
Jika Engkau (Allooh) terpaksa menolak hamba, maka kepada siapakah
kami akan datang mohon dengan mendapat semua hajat kami,
Wahai Dzat yang menghilangkan beberapa bencana dunia dan akhirat,
hilangkan bencana-bencana hamba,
lantaran berkahnya shohabat Ahli Badar ya Allooh.
Ya Allooh, semoga Engkau mengampuni kami dan memuliakan diri kami,
dengan mendapat hasil beberapa permohonan kami,
Dan menolak keburukan-keburukan dari kami,
Dengan mendapat berkahnya shohabat Ahli Badar ya Allooh.
Ya Allooh, Engkau lah yang punya belas kasihan,
dan punya keutamaan (anugerah) lagi kasih sayang,
Sudah banyaklah kesusahan yang hilang,
Dari sebab berkahnya shohabat Ahli Badar ya Allooh.
Dan semoga Engkau (Allooh) melimpahkan rahmat kepada Nabi yang senantiasa berbakti kepada-Nya,
dengan limpahan rahmat dan keselamatan yang tak terbilang dan tak terhitung,
Dan semoga tetap atas para keluarga Nabi dan para Sayyid yang bersinar nur cahayanya,
Sebab berkahnya shohabat Ahli Badar ya Allooh.
Dari redaksi sholawat Badriyyah tersebut, terdapat kalimat “…Wa bil Haadi Rosuulillaah…” (Dan ber-Tawassul dengan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم), dimana hal ini adalah merupakansuatu Bid’ah karena tidak ada ajarannya dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Para Shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم pun tidak melakukannya, demikian pula para Imaam yang mu’tabar(valid) seperti Imaam Asy Syafi’i, Imaam Maalik, Imaam Ahmad bin Hanbal رحمهم الله, dll mereka juga tidak pernah melakukannya. Apalagi bila sampai orang yang membaca sholawattersebut lalu mempunyai keyakinan bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dan Ahlul Badar lah yang bisa memberikan manfaat ataupun menghilangkan madhorot bagi dirinya, maka ia telah jatuh pada kesyirikan; karena seyogyanya yang dapat memberikan manfaat ataupun menghilangkan madhorot hanyalah Allooh سبحانه وتعالى sebagaimana telah dijelaskan dalam banyak ayat-ayat Al Qur’an diatas.
Setelah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم wafat, maka ber-tawassul itu hanyalah dibolehkan dengan cara bertawassul menggunakan Nama-Nama Allooh سبحانه وتعالى, bertawassuldengan menggunakan amalan-amalan kita yang shoolih, ataupun bertawassuldengan do’a orang shoolih yang masih hidup (maksudnya, kita meminta supaya orangshoolih yang masih hidup tersebut mendo’akan kita kepada Allooh سبحانه وتعالى, agar Allooh سبحانه وتعالى menolong kita).
Jadi bertawassul dengan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم yang telah wafat saja adalah terlarang, apalagi bertawassul dengan para Mujahid (Ahlul Badar), sebagaimana redaksi “…Wakulli Mujaahidin Lillaah Bi Ahlil Badri Yaa Allooh…” dalam sholawat Badriyyah diatas?
Wahai kaum Muslimin, hendaknya kalian mewaspadai hal ini. Karena ber-tawassul kepada orang yang sudah meninggal itulah yang tergolong perkara yang Harom (tidak diperbolehkan).
Disisi lain, Sholawat Badar tersebut adalah sholawat karangan orang, bahkan baru dibuat pada tahun 1960-an (jadi baru sekitar 50-an tahun yang lalu). Bandingkanlah dengan Sholawat yang jelas-jelas shohiih-nyadari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, yang telah disampaikan kepada kita sejak sekitar 1432 tahun yang lalu. Mengapa sebagian dikalangan kaum Muslimin malah meninggalkanSholawat yang Shohiih dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, lalu mengamalkan sholawat karangan orang yang kebanyakan tidak luput dari ghuluw, Bid’ah atau Syirik? Hendaknya kaum Muslimin kembali kepada Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
Hadits itu ada yang Hadits Marfuu’ (مرفوع = yaitu Hadits yang sanadnya tersambung sampai kepada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم).
Ada pula Hadits Mauquuf (موقوف = yaitu Hadits yang sanadnya tersambung sampai kepada Shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم).
Lalu ada pula Hadits Maqtu’ (yaitu Hadits yang sanadnya tersambung, paling tinggi hanya sampai kepada para Taabi’iin atau para Imaam yang Mujtahidiin).
Sholawat Badriyyah itu apa sebutannya? Sholawat Badriyyah itu tidak Marfu’, tidak Mauquuf, tidak pula Maqtu’; karena ia hasil karangan orang di zaman sekarang tetapi digembar-gemborkan bahwa “fadhilah-nya mantap”, sehingga sebagian kaum Muslimin terkecoh, bahkan melalaikanSholawat yang berasal dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم (sebagaimana yang kita baca padaTasyahhud Akhir) yang sesungguhnya merupakan sholawat yang afdhol (utama) untuk diamalkan oleh kaum Muslimin.
Jangankan Maqtu’, sedangkan yang Mauquuf saja tidak bisa dijadikan Hujjah. Karena Hujjah itu haruslah berdasarkan Hadits yang Marfu’. Apalagi bagi Ahlus Sunnah Wal Jamaa’ah, maka dalil itu haruslah Marfu’, dan Marfu’ yang shohiih. Kalau Marfu’-nya tidak shohiih (lemah/ palsu) pun, maka juga tidak bisa dijadikan sebagai daliil.
Maka, bagaimana mungkin menyatakan bahwa Sholawat Badriyyah itu memiliki fadhillahsampai 8 macam, padahal seyogyanya itu bukan dalil?
Sholawatitu adalah Ibadah, dan Ibadah itu haruslah terpaku pada contoh dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Sholawat Badriyyah itu bukan dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, bahkan didalamnya terkandung unsur Bid’ah atau kesyirikan. Di zaman Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, maka tidak ada tawassul kecuali dengan apa yang beliau صلى الله عليه وسلم lakukan untuk beliau صلى الله عليه وسلم sendiri. Setelah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم wafat, para Shohabat pun tidak pernah ada yang bertawassul kepada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, apalagi dengan memegang-megang kuburan beliau صلى الله عليه وسلم dan sebagainya, sebagaimana yang sering dilakukan oleh sebagian kaum Muslimin di zaman sekarang yang sudah merupakan perkara kesyirikan.
Hendaknya kaum Muslimin puas dengan apa yang berasal dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم saja, dan tidak menggunakan selain dari ajaran Muhammad Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Di zaman sekarang, banyak orang mengaku sebagai Ahlus Sunnah Wal Jamaa’ah, namun bila diteliti maka amalan-amalannya adalah sangat jauh dari tuntunan Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
Di Indonesia, yang kaum Musliminnya sebagian besar mengaku bermadzab Syafi’iy, hendaknya membuka Kitab Riyaadhus Shoolihiin karya Imaam An Nawawy رحمه الله (tokoh yang dikenal dikalangan madzab Asy Syaafi’iy) dan pelajarilah sholawat seperti apa yang ditulis dalam Kitab tersebut. Insya Allooh, sholawat atas Rosuulullooh yang صلى الله عليه وسلم ditulis oleh Al Imaam An Nawawy رحمه الله adalah berdasarkan pada Hadits-Hadits Shohiih Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, dan tidak satupun tercantum dalam Kitab tersebut sholawat seperti sholawat Badriyyah,sholawat Nariyyah, sholawat Al Fatih dan yang sejenisnya. Maka semestinya, kaum Muslimin konsekwen, bila menyatakan dirinya bermadzab Asy Syaafi’iy, karena redaksi sholawat yang ada di dalam Kitab Riyaadhus Shoolihiin (Kitab yang menjadi rujukan madzab Asy Syaafi’iy tersebut) saja belum diamalkan semuanya, lalu mengapa malah mengamalkan redaksi sholawathasil karangan manusia yang tidak ada sama sekali dalam Kitab tersebut?
Hendaknya kita bermohon kepada Allooh سبحانه وتعالى agar hati kita selalu ditunjukkan kepada apa yang berasal dari Allooh سبحانه وتعالى dan Rosuul-Nya صلى الله عليه وسلم.

—–

Berikut ini terlampir Fatwa-Fatwa Lajnah Daa’imah, Majelis Fatwa di Saudi Arabiatentang kesesatan Thoriqot Sufi Tiijaaniyyah, juga tentang Sholawat Nariyyah, Sholawat Najiyyah, serta tentang Kitab Dalaa’ilul Khoiroot.
Lampiran 1:
Fatwa Lajnah Daa’imah tentang Kesesatan Sekte Sufi Tijaaniyyah

السؤال الأول من الفتوى رقم ( 18068 )
س1 : قرأت فتوى بالحكم على الفرقة التيجانية بالكفر والضلال . أرجو إيضاح الأسباب التي بني عليها الحكم ؟
ج1 : الطريقة التيجانية طريقة منكرة لا تتفق مع هدي الإسلام ، لما فيها من البدع والمنكرات والشركيات التي تخرج من يعتقدها عن ملة الإسلام ، من ذلك :
1- غلو أحمد بن محمد التيجاني مؤسس الطريقة وغلو أتباعه فيه غلوا جاوز الحد ، حتى أضفى على نفسه خصائص الرسالة ، بل صفات الربوبية والإلهية وتبعه في ذلك مريدوه .
2- إيمانه بالفناء ووحدة الوجود ، وزعمه ذلك لنفسه ، بل زعم أنه في الذروة العليا من ذلك ، وصدقه فيه مريدوه فآمنوا به واعتقدوه .
3- تصريحه بأن المدد يفيض من الله على النبي – صلى الله عليه وسلم – أولا ، ثم يفيض منه على الأنبياء ، ثم يفيض من الأنبياء عليه ، ثم منه يتفرق على جميع الخلق من آدم إلى النفخ في الصور ، ويؤمن مريدوه بذلك ويعتقدونه .
4- تهجمه على الله وعلى كل ولي لله ، وسوء أدبه معهم إذ يقول : قدمي على رقبة كل ولي .
5- دعواه كذبا أنه يعلم الغيب وما تخفي الصدور ، وأنه يصرف القلوب ، وتصديق مريديه بذلك وعده من محامده وكراماته .
6- إلحاده في آيات الله وتحريفها عن مواضعها بما يزعمه تفسيرا إشاريا .
7- زعمه أن كل من كان تيجانيا يدخل الجنة دون حساب ولا عذاب ، مهما فعل من الذنوب .
هذه بعض أفكار التيجانية ملخصة من أوسع كتبهم وأوثقها في نظر علمائهم ، مثل كتاب :
( جواهر المعاني ) لعلي حرازم ، وكتاب : ( رماح حزب الرحيم ) لعمر بن سعيد الفوتي .
وبالله التوفيق ، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم .
اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء
عضو … عضو … عضو … عضو … الرئيس
بكر أبو زيد … عبد العزيز آل الشيخ … صالح الفوزان … عبد الله بن غديان … عبد العزيز بن عبد الله بن باز
Telah diajukan permintaan Fatwa kepada Lajnah Daa’imah sebagai Majelis Fatwa di Saudi Arabia dengan nomor: 18068, dengan redaksi pertanyaan sebagai berikut:
“Saya (penanya) telah membaca Fatwa tentang Sekte Tijaaniyyah dengan vonis Kufur dan Sesat. Saya berharap penjelasan tentang sebab Hukum dibangunnya vonis ini.”
Jawaban Lajnah Daa’imah:
“Sekte Tijaaniyyah adalah Sekte yang munkar, tidak sesuai dengan tuntunan Al Islam, disebabkan adanya berbagai ke-Bid’ahan, kemunkaran, dan kesyirikan-kesyirikan didalamnya yang mengeluarkan orang yang meyakininya dari Islam, antara lain:
1. Kultus terhadap Ahmad bin Muhammad At Tiijaanii sebagai pendiri sekte ini, dimana para pengikutnya telah mengkultuskannya dengan melampaui batas; bahkan diyakini bahwa Ahmad At Tiijaani ini mempunyai ciri-ciri kerosuulan bahkan ciri-ciri ketuhanan yang pada akhirnya diikuti oleh para muridnya.
2. Mengimani adanya Fana (kerusakan) dan Wihdatul Wujud (menjelmanya tuhan pada dirinya – pent.) bahkan dia mengklaim bahwa dia di puncak paling tinggi dalam hal itu, dimana yang demikian itu diimani dan diyakini oleh para muridnya.
3. Penerangan yang bersumber darinya bahwa pemberian keistimewaan dari Allooh سبحانه وتعالى terhadap Nabi صلى الله عليه وسلم terlebih dahulu, kemudian dari Nabi صلى الله عليه وسلم kepada para nabi, dan dari para nabi kepadanya (pada Ahmad Tijaani – pent.), kemudian daripadanya tersebar ke seluruh makhluk-Nya sejak Adam عليه السلام sampai ditiupnya sangkakala. Keyakinan ini pun dibenarkan oleh para pengikutnya.
4. Sikap ekstrimnya terhadap Allooh سبحانه وتعالى dan terhadap setiap Wali Allooh سبحانه وتعالى, bahkan berperilaku buruk terhadap mereka dimana dia mengatakan: “Kakiku diatas leher setiap Wali.”
5. Pengakuannya yang dusta bahwa dia mengetahui yang ghoib dan apa yang tersembunyi dalam dada, dan bahwa dia (Ahmad Tiijaani – pent.) lah yang membolak-balik hati dimana yang demikian pun dibenarkan oleh para pengikutnya. Dan mereka meyakini hal ini sebagai keramat dan keterpujiannya.
6. Menyelewengkannya Ahmad Tiijaanii terhadap ayat-ayat Allooh سبحانه وتعالى, bahkan memalingkan dari posisi yang sebenarnya dengan alasan Tafsir Isyarat.
7. Pengakuannya bahwa setiap pengikut Tiijaanii akan masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab, betapa pun dia berbuat dosa.
Ini adalah sebagian pemikiran dari Sekte Tiijaani yang diringkas dari Kitab yang diyakini paling luas dan paling terpercaya dalam pandangan ulama-ulama mereka seperti Kitab Jawaahirul Ma’aani karya Ali Haroozim dan Kitab Rimaahu Hizbir Ar Rohiim karya ‘Umar bin Sa’iid Al Fuuthy.
Wabillaahit taufiq, dan sholawat serta salam semoga Allooh سبحانه وتعالى limpahkan kepada Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, keluarganya dan Shohabatnya.
Team Fatwa:
1. ‘Abdul ‘Aziiz bin ‘Abdillaah bin Baaz (Ketua)
2. Syaikh Bakr Abu Zaiid (Anggota)
3. Syaikh ‘Abdul Aziiz ‘Aalu Asy Syaikh (Anggota)
4. Syaikh Shoolih Al Fauzaan (Anggota)
5. Asy Syaikh ‘Abdullooh bin Hudayyaan (Anggota)
—–
Lampiran 2:
Fatwa Lajnah Daa’imah tentang kebaathilan dan ke-Bid’ahan Sholawat Al Fatih

السؤال الخامس من الفتوى رقم ( 7519 ) :
س5: في طائفة تجانية لها دعاء ويسمى هذا الدعاء: صلاة الفاتح، وهو عندهم خير من قراءة القرآن هل هذا صحيح، وأيضا قبل صلاة المغرب وبعد صلاة الصبح من يوم الجمعة يجلسون في شكل حلقة ويضعون قطعة قماش في الوسط ويدعون أنه يجلس فيه الرسول صلى الله عليه وسلم وأحمد التجاني وفي هذا الوقت لهم دعاء وهو صلاة الفاتح هل هذا صحيح، وما الدليل على ذلك؟
ج5: ما زعموه من ذلك كذب وعملهم باطل وبدعة محدثة (1) .
وبالله التوفيق. وصلى الله على نبينا محمد، وآله وصحبه وسلم.
اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء
عضو … عضو … نائب رئيس اللجنة … الرئيس
عبد الله بن قعود … عبد الله بن غديان … عبد الرزاق عفيفي … عبد العزيز بن عبد الله بن باز
__________
(1) ”زيادة في الإيضاح أذكر ما يسمى بـ: صلاة الفاتح، قال في [الموسوعة الميسرة في الأديان والمذاهب المعاصرة] – الندوة العالمية للشباب الإسلامي – ما نصه: يدعي زعيمهم أحمد التجاني بأنه قد التقى بالنبي صلى الله عليه وسلم لقاء حسيًا ماديًا، وأنه قد كلمه مشافهة، وأنه قد تعلم من النبي عليه الصلاة والسلام صلاة (الفاتح لما أغلق ) – صيغة هذه الصلاة: (اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق، والخاتم لما سبق، ناصر الحق بالحق، الهادي إلى صراطك المستقيم، وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم). ولهم في هذه الصلاة اعتقادات نسوق منها: – أن الرسول صلى الله عليه وسلم قد أخبره بأن المرة الواحدة منها تعدل من القرآن ست مرات. – أن الرسول صلى الله عليه وسلم قد أخبره مرة ثانية بأن المرة الواحدة منها تعدل من كل ذكر ومن كل دعاء كبير أو صغير، ومن القرآن ستة آلاف مرة؛ لأنه كان من الأذكار [الجواهر] (1 / 136 ). – أن الفضل لا يحصل بها إلا بشرط أن يكون صاحبها مأذونًا بتلاوتها، وهذا يعني تسلسل نسب الإذن حتى يصل إلى أحمد التجاني الذي تلقاه عن رسول الله – كما يزعم -. – أن هذه الصلاة هي من كلام الله تعالى بمنزلة الأحاديث القدسية [الدرة الفريدة] (4 / 128 ). – أن من تلا صلاة الفاتح عشر مرات، لو عاش العارف بالله ألف ألف سنة ولم يذكرها، كان أكثر ثوابًا منه. – من قرأها مرة كفرت بها ذنوبه، ووزنت له ستة آلاف من كل تسبيح ودعاء وذكر وقع في الكون…. إلخ (انظر كتاب [مشتهى الخارف الجاني] 299، 300). اهـ ص (127). أقول: وفي هذا تظهر دلالة قوله جل وعلا: ( فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَذَا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا ) الآية ، وقد فصلت اللجنة القول في هذه الطائفة في الفتاوى السابقة.”
Telah diajukan permintaan Fatwa kepada Lajnah Daa’imah sebagai Majelis Fatwa di Saudi Arabia Jilid 3251 dengan nomor: 7519, dengan redaksi pertanyaan sebagai berikut:
“Dalam sekte Tiijaaniiyyah terdapat do’a yang diberi nama dengan Sholawat Al Fatih. Sholawat ini diyakini oleh mereka lebih baik dari membaca Al Qur’an. Benarkah ini?
Juga sebelum sholat maghrib dan setelah sholat shubuh di hari Jum’at, mereka duduk melingkar, meletakkan secarik kain di tengah mereka dan mereka meng-klaim bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم duduk disana bersama Ahmad At Tiijaanii. Pada saat itu mereka berdo’a dengan Sholawat Al Fatih. Benarkah ini? Apakah dalil terhadap hal tersebut?

Jawaban Lajnah Daa’imah:
Apa yang mereka klaim adalah dusta. Amalan mereka baathil dan Bid’ah yang diada-ada.*]
Wabillaahit taufiq, dan sholawat serta salam semoga Allooh سبحانه وتعالى limpahkan kepada Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, keluarganya dan Shohabatnya.
Team Fatwa:
1. ‘Abdul ‘Aziiz bin ‘Abdillaah bin Baaz (Ketua)
2. Syaikh ‘Abdur Rozaaq ‘Afiifi (Wakil Ketua)
3. Syaikh ‘Abdullooh bin Qu’uud (Anggota)
4. Asy Syaikh ‘Abdullooh bin Hudayyaan (Anggota)
*] Sebagai penjelas, saya sebutkan apa yang disebut dengan Sholawat Al Fatih sebagaimana disebutkan dalam Al Maushuu’ah Al Muyassaroh Fil Adyaani Wal Madzaahibi Al Mu’aasirroti halaman 127, terbitan Forum Pemuda Islam Internasional, dimana nash-nya adalah sebagai berikut:
“Pemimpin At Tiijaanii bernama Ahmad At Tiijaanii mengaku telah bertemu Nabi صلى الله عليه وسلمsecara fisik dan material, dan bahwa telah berbicara secara langsung, juga telah belajar dari Nabi صلى الله عليه وسلم Sholawat Al Fatih ini dengan redaksi sebagai berikut:
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِنِ الْفَاتِحِ لِمَااُغْلِقَ وَالْخَاتِمِ لِمَاسَبَقَ نَاصِرِالْحَقِّ ‍ بِالْحَقِّ وَالْهَادِى اِلَى صِرَاطِك َالْمُسْتَقِيْم وَعَلَى اَلِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ الْعَظِيْمِ
(Alloohumma sholli ‘alaa sayyidinaa Muhammadinil faatihi lima ughliqo wal khootimi lima sabaqo naashiril haqqi bil haqqi wal Haadi ilaa shiroothikal mustaqiimi wa ‘alaa alihi haqqo qodrihi wa miqdaarihil ‘adziimi)
Artinya:
“Ya Allooh, limpahkanlah sholawat kepada Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلمpembuka sesuatu yang tertutup, dan penutup segala sesuatu sebelumnya (pamungkas), penolong kebenaran dengan kebenaran, pemberi petunjuk kepada jalan yang lurus.Semoga rahmat-Mu dilimpahkan kepada keluarganya yaitu rahmat yang sesuai dengan kepangkatan Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم.”
Mereka meyakini dalam sholawat ini sebagai berikut:
1. Bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم telah memberitakan padanya bahwa barangsiapa yang membaca Sholawat Fatih 1 kali adalah sama dengan pahala membaca Al Qur’an 6 kali.
2. Barangsiapa yang membaca 2 kali maka kali yang pertama adalah setara dengan dzikir, do’a yang dilakukan oleh orang besar maupun orang kecil dan membaca Al Qur’an 6.000 kali karena Al Qur’an adalah bagian daripada dzikir (Al Jawaahir 136).
3. Dimana keutamaan ini tidak didapat kecuali dengan syarat bahwa si pembacanya mendapat izin membacanya dan hal ini yang dimaksud adalah urutan nasab izin hingga sampai pada Ahmad At Tiijaanii yang hendak menerimanya dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, sebagaimana di-klaimnya.
4. Bahwa sholawat ini adalah bagian dari firman Allooh سبحانه وتعالى sekedudukan dengan Hadits Qudzi (‘Abdullooh Al Fariidah no: 4/128)
5. Bahwa yang membaca sholawat Al Fatih 10 kali, kalau hidup maka dia mengetahui Allooh سبحانه وتعالى seribu-seribu tahun (satu juta tahun) dan pahalanya lebih banyak dari itu.
6. Barangsiapa yang membacanya satu kali, dihapuskan dosanya dan ditimbang seberat 6.000 tasbih, do’a dan dzikir yang terjadi di alam semesta ini (Mustahaa Al Khoorif Al Jaani 299-300)
Aku (pentahqiq) berkata bahwa dalam hal ini nampak dalil firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. Al Baqoroh (2) ayat 79:
فَوَيْلٌ لِّلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَـذَا مِنْ عِندِ اللّهِ لِيَشْتَرُواْ بِهِ ثَمَناً قَلِيلاً فَوَيْلٌ لَّهُم مِّمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَّهُمْ مِّمَّا يَكْسِبُونَ

Artinya:
“Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: “Ini dari Allooh”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan.”
Dan sungguh Lajnah Daa’imah telah merinci pernyataan tentang sekte ini dalam fatwa-fatwa sebelumnya.
—–
Lampiran 3:
Fatwa Lajnah Daa’imah tentang Sholawat Nariyyah

السؤال الخامس من الفتوى رقم ( 20794 )
س 5 : ما حكم قراءة ما يسمى بالصلاة النارية هي كما يلي : (اللهم صل صلاة كاملة وسلم سلاما تاما على سيدنا محمد الذي تنحل به العقد وتتفرج به الكرب وتقضى به الحوائج ، وتنال به الرغائب ، وحسن الخواتيم ، ويستسقى الغمام بوجهه الكريم ، وعلى آله وصحبه في كل لمحة ونفس بعدد كل معلوم لك)؟
ج 5 : صفة الصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم أن يقول : (اللهم صل وسلم على نبينا محمد) وإن زاد فقال : (وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد ، وبارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم في العالمين إنك حميد مجيد) فذلك الأفضل .
وبالله التوفيق ، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم .
اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء
عضو … عضو … الرئيس
بكر بن عبد الله أبو زيد … صالح بن فوزان الفوزان … عبد العزيز بن عبد الله آل الشيخ
Telah diajukan permintaan Fatwa kepada Lajnah Daa’imah sebagai Majelis Fatwa di Saudi Arabia dengan nomor: 20794, dengan redaksi pertanyaan sebagai berikut:
“Apa hukum membaca Sholawat yang disebut dengan Sholawat Nariyyah, dimana redaksi bacaannya adalah sebagai berikut: “Ya Allooh, berilah sholawat dengan sholawat yang sempurna dan berilah salam dengan salam yang sempurna atas penghulu kami Muhammad yang dengannya terlepas segala ikatan masalah, lenyap segala kesedihan, terpenuhi segala kebutuhan, tercapai segala kesenangan, pemberi husnul khootimah, pemberi awan hujan dengan wajahnya yang mulia, juga atas keluarga dan sahabat-sahabatnya dalam setiap kedipan mata dan hembusan nafas sebanyak hitungan segala yang ada dalam pengetahuan-Mu.”
Jawaban Lajnah Daa’imah:
Redaksi Sholawat atas Nabi صلى الله عليه وسلم adalah “Ya Allooh, sampaikanlah sholawat dan salam atas Nabi kita Muhammad صلى الله عليه وسلم”, dan jika ditambah maka “dan juga terhadap keluarga Muhammad صلى الله عليه وسلم, sebagaimana Engkau sampaikan sholawat atas Ibroohiim عليه السلامdan keluarga Ibroohiim عليه السلام. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia” dan “Berkahilah pada Muhammad صلى الله عليه وسلم dan keluarga Muhammad صلى الله عليه وسلمsebagaimana Engkau berkahi Ibroohiim عليه السلام dan keluarga Ibroohiim عليه السلام di alam semesta, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.”
Sholawat dengan seperti itu adalah lebih afdhol (lebih utama).
Wabillaahit taufiq, dan sholawat serta salam semoga Allooh سبحانه وتعالى limpahkan kepada Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, keluarganya dan Shohabatnya.
Team Fatwa:
1. Syaikh ‘Abdul Aziiz ‘Aalu Asy Syaikh (Ketua)
2. Syaikh Bakr Abu Zaiid (Anggota)
3. Syaikh Shoolih Al Fauzaan (Anggota)
—–
Lampiran 4:
Fatwa Lajnah Daa’imah tentang Sholawat Najiyyah

الفتوى رقم ( 21137 )
س : لقد حضرت الجمعة في إحدى الدول الإسلامية ، وبعد الصلاة قام الإمام بالدعاء الجماعي ، ومن ضمن الدعاء هذا الدعاء : (اللهم صل على محمد صلاة تنجينا بها من الآفات ، اللهم صلي على محمد صلاة تفرج بها الكربات والبلاء ، اللهم صل على محمد صلاة ترزقنا بها رزقا حلالا) فما حكم هذا الدعاء؟
ج : هذا العمل عمل بدعي لا يجوز ؛ لأن الدعاء الجماعي بعد الصلاة بدعة لا أصل لها في الشرع المطهر ، والأصل في العبادات التوقيف ، وهذه الصيغة للصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم صيغة محدثة ، والخير فيما ورد عن النبي صلى الله عليه وسلم وأرشد أمته إليه من صيغ الصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم ، كما في التشهد الأخر للصلاة وغيره .
وبالله التوفيق ، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم .
اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء
عضو … عضو … عضو … الرئيس
بكر أبو زيد … صالح الفوزان … عبد الله بن غديان … عبد العزيز بن عبد الله آل الشيخ
Telah diajukan permintaan Fatwa kepada Lajnah Daa’imah sebagai Majelis Fatwa di Saudi Arabia dengan nomor: 21137, dengan redaksi pertanyaan sebagai berikut:
“Saya (penanya) telah menghadiri sholat Jum’at di salah satu Negara Islam, dan setelah sholat maka Imaam berdiri dan memimpin do’a secara berjamaa’ah dan diantara do’anya adalah sebagai berikut:
“Alloohumma sholli ‘ala Muhammadin shollatan tunjinaa bihaa minal Aafati. Alloohumma sholli ‘ala Muhammadin shollatan tufriju bihaa al Kuruubaati wal balaa’i. Alloohumma sholli ‘ala Muhammadin shollatan tarzuquna rizqon halaalan.”
(Ya Allooh, sampaikan sholawat atas Muhammad, sholawat yang menyelamatkan kami dari petaka. Ya Allooh, sampaikan sholawat atas Muhammad, sholawat yang mengeluarkan kami dari berbagai bencana dan bala. Ya Allooh, sampaikan sholawat atas Muhammad, sholawat yang Engkau beri rizqi kami dengannya rizqi yang halal).
Apakah hukum do’a dengan do’a ini?

Jawaban Lajnah Daa’imah:
Amalan ini adalah amalan Bid’ah. Tidak diperbolehkan karena berdo’a secara berjamaa’ah ba’da sholat adalah Bid’ah, tidak ada asalnya dalam Syari’at yang suci. Padahal hukum asal dari Ibadah adalah baku. Sedangkan redaksi sholawat atas Nabi صلى الله عليه وسلم seperti itu adalah redaksi yang baru (Bid’ah) dan sebaik-baik sholawat adalah apa yang diriwayatkan dari Nabi صلى الله عليه وسلم dan beliau صلى الله عليه وسلم membimbing ummatnya dengan sholawat sebagaimana yang kita baca dalam Tasyahhud Akhir pada setiap sholat dan lain-lain.
Wabillaahit taufiq, dan sholawat serta salam semoga Allooh سبحانه وتعالى limpahkan kepada Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, keluarganya dan Shohabatnya.
Team Fatwa:
1. Syaikh ‘Abdul Aziiz ‘Aalu Asy Syaikh (Ketua)
2. Syaikh Bakr Abu Zaiid (Anggota)
3. Syaikh Shoolih Al Fauzaan (Anggota)
4. Asy Syaikh ‘Abdullooh bin Hudayyaan (Anggota)
—–
Lampiran 5:
Fatwa Lajnah Daa’imah tentang Kitab Dalaa’ilul Khoiroot

الفتوى رقم ( 15880 )
س : أرجو منكم إبداء وإظهار رأيكم في هذا الذي سأذكره عما قريب ، وهل يجوز قراءته والإبقاء عليه : هنا جمل من هذا الكتاب : ( فالغرض في هذا الكتاب ذكر الصلاة على النبي – صلى الله عليه وسلم – وفضائلها ، نذكرها محذوفة الأسانيد ليسهل حفظها على القارئ ، وهي من أهم المهمات لمن يريد القرب من رب الأرباب ، وسميته بكتاب ( دلائل الخيرات وشوارق الأنوار في ذكر الصلاة على النبي المختار ) .
( . . . وروي عنه – صلى الله عليه وسلم – أنه قال : « ليردن على الحوض يوم القيامة أقوام ما أعرفهم إلا بكثرة الصلاة علي » . . . ) .
وهذه نسخ من صفحة من صفحاته : ( بسم الله الرحمن الرحيم : إلهي بجاه نبيك سيدنا محمد – صلى الله عليه وسلم – عندك ، ومكانته لديك ، ومحبتك له ومحبته لك ، وبالسر الذي بينك وبينه . . . إلخ ) .
( . . . وصل على محمد وعلى آل محمد الذي نوره من نور الأنوار ، وأشرق بشعاع سره الأسرار . . . ) .
ج : الكتاب الذي ذكرته وهو كتاب ( دلائل الخيرات ) ،
معروف عند العلماء المحققين بأنه كتاب ضلالة ؛ لما يشتمل عليه من الغلو بالرسول – صلى الله عليه وسلم – والسؤال بجاهه ، وأن نوره من نور الأنوار وأشرق بشعاعه سر الأسرار . كما نقله السائل ، وكما هو موجود في الكتاب من الصلوات والمبالغات التي لا دليل عليها . فعليه لا يغتر بهذا الكتاب ، ولا تجوز قراءته إلا لمن يريد الرد عليه والتحذير منه ، وهناك من الكتب الصحيحة في الصلاة على النبي – صلى الله عليه وسلم – ما يغني عن هذا الكتاب وأمثاله ، مثل كتاب : ( جلاء الأفهام في الصلاة والسلام على خير الأنام ) للعلامة ابن القيم .
وبالله التوفيق ، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم .
اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء
عضو … عضو … عضو … عضو … الرئيس
بكر أبو زيد … عبد العزيز آل الشيخ … صالح الفوزان … عبد الله بن غديان … عبد العزيز بن عبد الله بن باز

Telah diajukan permintaan Fatwa kepada Lajnah Daa’imah sebagai Majelis Fatwa di Saudi Arabia dengan nomor: 15880, dengan redaksi pertanyaan sebagai berikut:
“Saya (penanya) berharap dari Anda untuk dapat mengemukakan dan menyatakan pendapat Anda dalam perkara yang akan saya sebutkan berikut ini, dan apakah boleh membaca dan melanggengkan pembacaannya?
Berikut ini diantara ungkapan yang terdapat dalam Kitab yang saya maksud:
“Maka Kitab ini dimaksudkan untuk menyebutkan tentang Sholawat atas Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم dan keutamaan-keutamaannya. Sengaja kami sebutkan dengan menghapus sanad-sanadnya agar mudah membaca dan menghafalnya. Sholawat-sholawat ini adalah sholawat yang terpenting bagi yang ingin mendekatkan diri dengan Penguasa segala penguasa, dan kuberi nama Dalaa’ilul Khoiroot wa Syafaariqul Anwaari fi Dzikrish Sholaati ‘alan Nabiyyil Mukhtaari….”
(“….Dan diriwayatkan dari beliau صلى الله عليه وسلم bahwa beliau صلى الله عليه وسلم bersabda, “Akan berduyun-duyun mendatangi telaga pada Hari Kiamat kaum-kaum yang aku tidak kenali mereka, kecuali dengan banyaknya sholawat atasku”….)
Dan ini diantara yang terdapat dalam halaman-halaman buku Kitab tersebut:
(“…Bismillaahirrohmaanirrohiim, Ilaahi bijaahi nabiyyika sayyidina Muhammadin صلى الله عليه وسلم ‘indaka wamakaanatihi ladayka wa mahabbatika lahu wa mahabbatihi laka wa bissirri alladzi bainaka wa bainahu…..”)
(Artinya: Dengan nama Allooh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Tuhanku, dengan pengaruh Nabi-Mu, tuan kami Muhammad صلى الله عليه وسلم disisi-Mu, dan kedudukannya disisi-Mu dan cinta-Mu padanya dan cintanya pada-Mu dan rahasia antar Engkau dengannya….”)
(“…. Wa sholli ‘ala Muhammadin wa ‘ala ali Muhammadinilladzii nuurruhu min nuuril anwaar wa asyroqo bi syu’aa’i sirrihil asroori….”)
(Artinya: Dan limpahkanlah sholawat atas Muhammad صلى الله عليه وسلم dan atas keluarga Muhammad صلى الله عليه وسلم yang cahayanya berasal dari cahaya segala cahaya, dan segala rahasia terbit dengan pancaran sinarnya…”).”

Jawaban Lajnah Daa’imah:
Kitab yang Anda sebut, yaitu Kitab Dalaa’ilul Khoiroot adalah Kitab yang dikenal di kalangan para ‘Ulama Muhaqiqiin (Peneliti), adalah Kitab Kesesatan, karena didalamnya meliputi Kultus terhadap Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, dan meminta dengan melalui kedudukannya. Dan bahwa cahayanya berasal dari segala cahaya, dan segala rahasia terbit dengan pancaran sinarnya; sebagaimana dinukil oleh Penanya dan sebagaimana yang demikian itu terdapat dalam Kitab juga sholawat-sholawat dan berlebihan tanpa dalil.
Maka dari itu, hendaknya tidak boleh tergiur dengan Kitab ini, tidak boleh membacanya kecuali orang yang ingin membantahnya dan memberikan kewaspadaan kepada ummat. Sebab, masih banyak Kitab-kitab shohiihtentang sholawat atas Nabi صلى الله عليه وسلم, dan tidak lagi membutuhkan kitab ini dan semisalnya, seperti Kitab Jalaa’ul Afhaami fish sholaati wassallaami ‘ala khoiril anaami karya Ibnu Al Qoyyim رحمه الله.
Wabillaahit taufiq, dan sholawat serta salam semoga Allooh سبحانه وتعالى limpahkan kepada Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, keluarganya dan Shohabatnya.
Team Fatwa:
1. ‘Abdul ‘Aziiz bin ‘Abdillaah bin Baaz (Ketua)
2. Syaikh Bakr Abu Zaiid (Anggota)
3. Syaikh ‘Abdul Aziiz ‘Aalu Asy Syaikh (Anggota)
4. Syaikh Shoolih Al Fauzaan (Anggota)
5. Asy Syaikh ‘Abdullooh bin Hudayyaan (Anggota)
—–
Lampiran 6:
Fatwa Lajnah Daa’imah tentang Kitab Dalaa’ilul Khoiroot

الفتوى رقم ( 8879 ) :
س: ما حكم القراءة في كتاب [دلائل الخيرات] للإمام محمد بن سليمان الجزولي والمشتمل على أحزاب وأوراد يومية تتضمن التوسل بالنبي صلى الله عليه وسلم وطلب الشفاعة منه، مثل: يا حبيبنا يا محمد، إنا نتوسل بك إلى ربك فاشفع لنا عند المولى العظيم، وأيضا اللهم إنا نستشفع به إليك إذ هو أوجه الشفعاء إليك ونقسم به عليك إذ هو أعظم من أقسم بحقه عليك ونتوسل إليك إذ هو أقرب الوسائل إليك. وأشرفهم جرثومة.
ج: إذا كان الواقع ما ذكرت من اشتمال أوراد وأحزاب هذا الكتاب على التوسل بالنبي صلى الله عليه وسلم والاستشفاع به إلى الله تعالى في قضاء حاجته فلا تجوز لك القراءة فيه؛ لقوله تعالى: { قُلْ لِلَّهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيعًا } (سورة الزمر الآية 44)
وقوله تعالى: { مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ } (سورة البقرة الآية 255
) وقوله: { أَمِ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ شُفَعَاءَ قُلْ أَوَلَوْ كَانُوا لَا يَمْلِكُونَ شَيْئًا وَلَا يَعْقِلُونَ } (سورة الزمر الآية 43) { قُلْ لِلَّهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيعًا } (سورة الزمر الآية 44) الآية.
وفي التمسك بكتاب الله تعالى وتلاوته وبالأذكار النبوية الصحيحة غنية لك عن قراءة الأوراد والأحزاب التي بكتاب [دلائل الخيرات] وأشباهها وهي كثيرة تجدها في كتاب [رياض الصالحين] وكتاب [الأذكار النووية] كلاهما للإمام النووي ، وكتاب [الكلم الطيب] لابن تيمية و[الوابل الصيب] للعلامة ابن القيم رحمة الله على الجميع، وغيرها من كتب أهل السنة.
وبالله التوفيق. وصلى الله على نبينا محمد، وآله وصحبه وسلم.
اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء
عضو … عضو … نائب رئيس اللجنة … الرئيس
عبد الله بن قعود … عبد الله بن غديان … عبد الرزاق عفيفي … عبد العزيز بن عبد الله بن باز

Juga telah diajukan permintaan Fatwa kepada Lajnah Daa’imah sebagai Majelis Fatwa di Saudi Arabia dengan nomor: 8879, dengan redaksi pertanyaan sebagai berikut:
“Apa hukum membaca Kitab Dalaa’ilul Khoiroot karya Imaam Muhammad bin Sulaiman Al Jazuuli yang meliputi atas hizib-hizib dan wirid-wirid harian yang mengandung tawassul terhadap Nabi صلى الله عليه وسلم dan meminta syafaat darinya صلى الله عليه وسلم, seperti: “Wahai kekasih kami, wahai Muhammad, sungguh kami bertawassul melalui mu, kepada Tuhanmu, maka berilah kami syafaat disisi Allooh سبحانه وتعالى”.
Dan juga, “Ya Allooh, sungguh kami memohon syafaat dengan melaluinya kepada-Mu, karena dialah syafaat yang paling dekat kepada-Mu, dan kami bersumpah dengannya kepada-Mu karena dia seagung-agung sumpah dengan haqnya kepada-Mu, dan kami bertawassul kepada-Mu karena dia adalah sedekat-dekat perantara terhadap-Mu, dan semulia-mulia dan paling terhormat wasilah.”

Jawaban Lajnah Daa’imah:
Jika kenyataannya adalah seperti yang Anda sebutkan, yaitu jika Kitab ini meliputi wirid-wirid dan hizib-hizib berkenaan dengan tawassul dengan Nabi صلى الله عليه وسلم dan meminta syafaatnya kepada Allooh سبحانه وتعالى dalam memenuhi kebutuhan, maka Anda tidak boleh membaca buku ini. Karena Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam QS. Al Baqoroh (2) ayat 255 :
اللّهُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلاَ يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَاء وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ وَلاَ يَؤُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

Artinya:
“Allooh, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa`at di sisi Allooh tanpa izin-Nya. Allooh mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allooh melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allooh meliputi langit dan bumi. Dan Allooh tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allooh Maha Tinggi lagi Maha Besar.”
Dan firman-Nya dalam QS. Az Zumaar (39) ayat 43-44:

أَمِ اتَّخَذُوا مِن دُونِ اللَّهِ شُفَعَاء قُلْ أَوَلَوْ كَانُوا لَا يَمْلِكُونَ شَيْئاً وَلَا يَعْقِلُونَ ﴿٤٣﴾ قُل لِّلَّهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيعاً لَّهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ ﴿٤٤﴾

Artinya:
(43) Bahkan mereka mengambil pemberi syafa`at selain Allooh. Katakanlah: “Dan apakah (kamu mengambilnya juga) meskipun mereka tidak memiliki sesuatupun dan tidak berakal?”
(44) Katakanlah: “Hanya kepunyaan Allooh syafaat itu semuanya. Kepunyaan-Nya kerajaan langit dan bumi. Kemudian kepada-Nyalah kamu dikembalikan”.
Dan dengan berpegang teguh kepada Al Qur’an dan membacanya, dan dzikir-dzikir Nabawy yang shohiih, cukup bagimu daripada membaca wirid-wirid dan hizib-hizib yang terdapat dalam Kitab Dalaa’ilul Khoiroot dan sejenisnya, dimana yang demikian itu banyak ditemui dalam Kitab Riyaadhus Shoolihin dan Kitab Al Adzkar An Nawawiyyah karya Al Imaam An Nawawy dan Kitab Al Kaalimith Thoyyib karya Ibnu Taimiyyah dan Kitab Al Wabillush Shoyyibi karya Ibnu Qoyyim – semoga Allooh سبحانه وتعالى merahmati semua mereka –, dan lain-lain dari Kitab-Kitab Ahlis Sunnah.
Wabillaahit taufiq, dan sholawat serta salam semoga Allooh سبحانه وتعالى limpahkan kepada Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, keluarganya dan Shohabatnya.
Team Fatwa:
1. ‘Abdul ‘Aziiz bin ‘Abdillaah bin Baaz (Ketua)
2. Syaikh ‘Abdur Rozaaq ‘Afiifi (Wakil Ketua)
3. Syaikh ‘Abdullooh bin Qu’uud (Anggota)
4. Asy Syaikh ‘Abdullooh bin Hudayyaan (Anggota)
—–
Lampiran 7:
Fatwa Lajnah Daa’imah tentang Kitab Dalaa’ilul Khoiroot
السؤال الخامس من الفتوى رقم ( 2392 ) :
رابعا: أما كتاب [دلائل الخيرات] فننصحك بتركه؛ لما يشتمل عليه من الأمور المبتدعة والشركية، وفي الوارد في القرآن والسنة غنية عنه.
وبالله التوفيق. وصلى الله على نبينا محمد، وآله وصحبه وسلم.
اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء
عضو … عضو … الرئيس
عبد الله بن قعود … عبد الله بن غديان … عبد العزيز بن عبد الله بن باز
Juga terdapat dalam Fatwa Lajnah Daa’imah sebagai Majelis Fatwa di Saudi Arabia dengan nomor: 2392, dimana didalam Fatwa itu terdapat dalam poin ke-4 yang mengatakan sebagai berikut:
“4. Adapun Kitab Dalaa’ilul Khoiroot, maka kami nasehati agar Anda meninggalkannya, karena didalamnya banyak mengandung perkara-perkara Bid’ah dan Syirik. Dan apa-apa yang terdapat dalam Al Qur’an dan Sunnah kiranya adalah cukup.”
Wabillaahit taufiq, dan sholawat serta salam semoga Allooh سبحانه وتعالى limpahkan kepada Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, keluarganya dan Shohabatnya.
Team Fatwa:
1. ‘Abdul ‘Aziiz bin ‘Abdillaah bin Baaz (Ketua)
2. Syaikh ‘Abdullooh bin Qu’uud (Anggota)
3. Asy Syaikh ‘Abdullooh bin Hudayyaan (Anggota)
—–
Alhamdulillah, kiranya cukup sekian dulu bahasan kita kali ini, mudah-mudahan bermanfaat. Kita akhiri dengan Do’a Kafaratul Majlis :
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Categories: Uncategorized | 2 Komentar

SHALAWAT SESUAI TUNTUNAN RASULULLAH

SHOLAWAT SESUAI TUNTUNAN ROSUULULLOOH
Oleh: Ust. Achmad Rofi’i, Lc. MM.Pd.

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allooh سبحانه وتعالى,
Bahasan kali ini adalah berkenaan dengan redaksi (kalimat) Sholawat atas Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم. Sholawat adalah Ibadah. Dan Ibadah itu hukum asalnya adalah Harom, sampai dengan ada ajarannya atau dalil yang menjelaskannya. Kalau tidak ada dalil, maka tidak boleh melakukan apa pun.
Sholawat adalah perintah Allooh سبحانه وتعالى, juga perintah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Berarti Sholawat adalah Ibadah. Dan itu sudah kita kaji pada pertemuan-pertemuan yang lalu. Maka pada bahasan kali ini, kita akan ambil dari 2 sisi, yaitu :
1. Redaksi Sholawat yang diriwayatkan oleh Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم
2. Bolehkah kita ber-Sholawat dengan redaksi (kalimat) karangan orang, yang tidak dari Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم?
Maka apa yang kita kaji ini bukanlah hal yang baru. Karena memang lebih dari 1432 tahun lalu Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم sudah mengajarkannya, para Shohabat sudah menyampaikannya, sehingga sampai kepada para ‘Ulama Ahli Hadiits dan sampai pula kepada kita dan akan kita pelajari. Puluhan riwayat yang menjelaskan kepada kita tentang Sholawat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
Kita ambil beberapa riwayat (Hadits), mudah-mudahan bisa mencakup apa yang bisa kita ketahui dari redaksi Sholawat atas Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم.
1. Dalam Hadits Shohiih diriwayatkan oleh Imaam Al Bukhoory no: 6357 dan Imaam Muslim no: 935, melalui salah seorang Shohabat bernama Ka’ab bin ‘Ujroh رضي الله عنه, beliau berkata bahwa,
إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ عَلَيْنَا فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَدْ عَلِمْنَا كَيْفَ نُسَلِّمُ عَلَيْكَ فَكَيْفَ نُصَلِّي عَلَيْكَ قَالَ فَقُولُوا اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
Artinya:
“Sesungguhnya Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم keluar menemui kami, lalu kami berkata:
“Ya Rosuulullooh, kami telah mengetahui bagaimana kami mengucapkan salam atas engkau. Bagaimana cara kami mengucapkan Sholawat atas engkau?”
Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم menjawab, “Katakanlah oleh kalian:
– “Alloohumma sholli ‘ala Muhammadin wa ‘ala ali Muhammadin kamaa shollaita ‘ala ali Ibroohiima innaka hamiidummajiidun
(Ya Allooh, kasih sayangilah Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah berikan kasih sayang atas keluarga Ibrohim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia).”
– “Alloohumma baarik ‘ala Muhammadin wa ‘ala ali Muhammadin, kamaa barokta ‘ala ali Ibroohiima innaka hamiidummajiidun
(Ya Allooh, berkahilah terhadap Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau berkahi keluarga Ibrohim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia).”
Adapun Salamnya, diucapkan dalam Tasyaahud sebagaimana diriwayatkan oleh Imaam Al Bukhoory no: 832 yaitu:
عَنْ شَقِيقِ بْنِ سَلَمَةَ قَالَ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ كُنَّا إِذَا صَلَّيْنَا خَلْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْنَا السَّلَامُ عَلَى جِبْرِيلَ وَمِيكَائِيلَ السَّلَامُ عَلَى فُلَانٍ وَفُلَانٍ فَالْتَفَتَ إِلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنَّ اللَّهَ هُوَ السَّلَامُ فَإِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَقُلْ التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ فَإِنَّكُمْ إِذَا قُلْتُمُوهَا أَصَابَتْ كُلَّ عَبْدٍ لِلَّهِ صَالِحٍ فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
Artinya:
Dari Syaqiiq bin Salamah رضي الله عنه berkata, bahwa ‘Abdullooh bin Mas’uud رضي الله عنه berkata,
“Kami sholat dibelakang Nabi صلى الله عليه وسلم, lalu kami mengatakan, “Selamat atas Jibril, Mika’il. Selamat atas Fulan dan Fulan.”
Maka menolehlah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم kepada kami, kemudian beliau صلى الله عليه وسلم bersabda,
“Sesungguhnya Allooh سبحانه وتعالى adalah ‘Assalaam’ (Yang Maha Selamat), maka jika salah seorang dari kalian sholat, maka katakanlah: “Segala penghormatan, sholawat dan segala kebaikan hanya milik Allooh سبحانه وتعالى. Assalamu ‘alaika ayyuhannabiyyu warohmatulloohi wabarokaatuh (Selamat untukmu, Wahai Nabi, juga kasih-sayang dan berkah-Nya). Selamat atas kami, hamba-hamba Allooh سبحانه وتعالى yang shoolih. Sesungguhnya kalian jika membacanya akan sampai pada setiap hamba Allooh سبحانه وتعالى yang shoolih, baik di langit maupun di bumi. Aku bersaksi bahwa tidak ada yang berhak diibadahi dengan sebenarnya kecuali Allooh سبحانه وتعالى, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.”
Ada riwayat lain juga dari ‘Abdullooh bin Mas’uud رضي الله عنه, bahwa Salam-nya dengan mengatakan “Assalamu’alannabiy warohmatulloohi wabarokaatuh.”
Hal ini sebagaimana diriwayatkan dalam Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 6265:
أن ابْنَ مَسْعُودٍ يَقُولُ عَلَّمَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَفِّي بَيْنَ كَفَّيْهِ التَّشَهُّدَ كَمَا يُعَلِّمُنِي السُّورَةَ مِنْ الْقُرْآنِ التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَهُوَ بَيْنَ ظَهْرَانَيْنَا فَلَمَّا قُبِضَ قُلْنَا السَّلَامُ يَعْنِي عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Artinya:
Bahwa ‘Abdullooh bin Mas’uud رضي الله عنه berkata, “Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم mengajari kami tasyahud sebagaimana Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم mengajari kami surat dari Al Qur’an, sedangkan telapak tanganku diantara kedua telapak tangan beliau صلى الله عليه وسلم. Segala penghormatan, sholawat dan segala kebaikan hanya milik Allooh سبحانه وتعالى. Assalamu ‘alaika ayyuhannabiyyu warohmatulloohi wabarokaatuh (Selamat untukmu, Wahai Nabi, juga kasih-sayang dan berkah-Nya). Selamat atas kami, hamba-hamba Allooh سبحانه وتعالى yang shoolih. Aku bersaksi bahwa tidak ada yang berhak diibadahi dengan sebenarnya kecuali Allooh سبحانه وتعالى, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.”
Sedangkan beliau صلى الله عليه وسلم berada ditengah-tengah kami. Ketika beliau صلى الله عليه وسلم wafat, kami mengatakan “Assalamu’alannabiy warohmatulloohi wabarokaatuh(Semoga keselamatan dan keberkahan Allooh سبحانه وتعالى limpahkan untuk Nabi صلى الله عليه وسلم).”
2. Namun dalam Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 3369, dari Shohabat Abu Humaid as Saa’idiy رضي الله عنه, bahwa beliau berkata,
يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ نُصَلِّي عَلَيْكَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُولُوا اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
Artinya:
“Ya Rosuulullooh, bagaimana cara kami mengucapkan Sholawat atas engkau?”
Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم menjawab, “Katakanlah oleh kalian:
“Alloohumma sholli ‘ala Muhammadin wa azwaajihi wa dzurriyyatihi kamaa shollaita ‘ala ali Ibroohiima wa baarik ‘ala Muhammadin wa azwaajihi wa dzurriyyatihi kamaa barokta ‘ala ali Ibroohiima innaka hamiidummajiidun
(Ya Allooh, kasih-sayangilah Muhammad dan istri-istrinya serta keturunannya, sebagaimana Engkau kasih-sayangi keluarga Ibrohim, dan berkahilah atas Muhammad dan istri-istrinya beserta keturunannya, sebagaimana Engkau berkahi atas keluarga Ibrohim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia).”
3. Dan dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Imaam Al Bukhoory no: 6358, dari Abu Saa’id Al Khudry رضي الله عنه, beliau berkata,
يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذَا السَّلَامُ عَلَيْكَ فَكَيْفَ نُصَلِّي قَالَ قُولُوا اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَآلِ إِبْرَاهِيمَ
Artinya:
“Ya Rosuulullooh, bagaimanakah mengucapkan Sholawat atas engkau?”
Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم menjawab, “Katakanlah oleh kalian:
“Alloohumma sholli ‘ala Muhammadin ‘abdika wa rosuulika kamaa shollaita ‘ala Ibroohiima wa baarik ‘ala Muhammadin wa ‘ala ali Muhammadin kamaa barokta ‘ala Ibroohiima wa ali Ibroohiima
(Ya Allooh, kasih-sayangilah Muhammad, hamba-Mu dan utusan-Mu, sebagaimana kasih-sayang yang Engkau berikan kepada Ibrohim. Dan berkahilah atas Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau berkahi atas Ibrohim dan keluarganya).”
4. Dan dalam Hadits Riwayat Imaam Muslim no: 934, dari Shohabat Abu Mas’uud رضي الله عنه (nama aslinya adalah ‘Uqbah bin Amir Al Anshory رضي الله عنه), beliau berkata,
أَتَانَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَنَحْنُ فِى مَجْلِسِ سَعْدِ بْنِ عُبَادَةَ فَقَالَ لَهُ بَشِيرُ بْنُ سَعْدٍ أَمَرَنَا اللَّهُ تَعَالَى أَنْ نُصَلِّىَ عَلَيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَكَيْفَ نُصَلِّى عَلَيْكَ قَالَ فَسَكَتَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- حَتَّى تَمَنَّيْنَا أَنَّهُ لَمْ يَسْأَلْهُ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قُولُوا « اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ فِى الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. وَالسَّلاَمُ كَمَا قَدْ عَلِمْتُمْ
Artinya:
“Kami mendatangi Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم pada saat kami berada di majlis Sa’ad bin ‘Ubadah رضي الله عنه (– seorang Shohabat yang termasuk disebutkan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم sebagai sepuluh dari orang yang bakal masuk surga – pent.), ketika itu Basyiir Ibnu Sa’ad رضي الله عنه berkata, “Ya Rosuulullooh, Allooh memerintahkan kami untuk mengucapkan Sholawat atas engkau, maka bagaimanakah kami mengucapkan Sholawat itu?”
Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم terdiam sejenak, sehingga kami berangan-angan tidak menanyakan hal itu, lalu Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda, “Katakanlah olehmu:
“Alloohumma sholli ‘ala Muhammadin wa ‘ala ali Muhammadin kamaa shollaita ‘ala ali Ibroohiima wa baarik ‘ala Muhammadin wa ‘ala ali Muhammadin kamaa barokta ‘ala ali Ibroohiima fil ‘aalamiina innaka hamiidummajiidun
(Ya Allooh, kasih-sayangilah Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana kasih-sayang yang Engkau berikan kepada keluarga Ibrohim. Dan berkahilah atas Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau berkahi atas keluarga Ibrohim. Di alam semesta ini, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Terpuji lagi Maha Mulia).
Adapun Salam, maka sebagaimana yang telah kalian ketahui.”
5. Juga dalam Hadits Riwayat Imaam Ahmad no: 1396, menurut Syaikh Syu’aib Al Arnaa’uth Sanadnya kuat, memenuhi Syarat Imaam Muslim, dari salah seorang Shohabat bernama Tholhah bin ‘Ubaidillah رضي الله عنه, beliau berkata,
يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ الصَّلَاةُ عَلَيْكَ قَالَ قُلْ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
Artinya:
“Wahai Rosuulullooh, bagaimanakah mengucapkan Sholawat atas engkau?”
Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda, “Katakanlah olehmu:
“Alloohumma sholli ‘ala Muhammadin wa ‘ala ali Muhammadin kamaa shollaita ‘ala Ibroohiima innaka hamiidummajiidun wa baarik ‘ala Muhammadin wa ‘ala ali Muhammadin kamaa barokta ‘ala ali Ibroohiima innaka hamiidummajiidun
(Ya Allooh, kasih-sayangilah Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana kasih-sayang yang Engkau berikan kepada Ibrohim. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Dan berkahilah atas Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau berkahi atas keluarga Ibrohim. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Terpuji lagi Maha Mulia).”
Itulah riwayat-riwayat yang bisa kita temukan dan Hadits-Haditsnya Shohiih.
Pernyataan ‘Ulama pada masa Awal (abad 1-3 Hijriyyah) dibandingkan dengan ‘Ulama Mutta’akhiriin (sesudah abad ke-4 Hijriyyah)
Imaam Ibnul Qoyyim Al Jauziyyah رحمه الله yang menulis Kitab Jalaa’ul Al Afhaam Fishsholaati ‘Alaa Khoiril Anaam, menurut beliau ada 2 kelompok:
1. Kelompok yang mengatakan bahwa kita boleh menggabungkan redaksi-redaksiSholawatdari beberapa riwayat (yaitu Kelompok ‘Ulama Mutta’akhiriin / sesudah abad ke-4 Hijriyyah).
Kata beliau رحمه الله, “Dalam mengucapkan Sholawat atas Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, orang-orang mutta’akhiriin telah menempuh beberapa jalan, bahwa orang yang mengucapkan do’a hendaknya menggabungkan sholawat-sholawat yang redaksinya berbeda-beda. Cara yang demikian itu (– menggabungkan redaksi sholawat yang berbeda –) adalah cara terbaik. Dianjurkan kepada orang yang berdo’a agar mengucapkan sholawat atas Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dengan cara sebagai berikut:
“اللهم صل على محمد وعلى آل محمد وعلى أزواجه وذريته، وارحم محمدا وآل محمد وأزواجه وذريته كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم”
“Alloohumma sholli ‘ala Muhammadin wa ‘ala ali Muhammadin wa ‘ala azwaajihi wa dzurriyyatihi, warham Muhammadin wa ‘ala Muhammadin wa azwaajihi wa dzurriyyatihi, kamaa shollaita ‘ala Ibroohiima wa ‘ala ali Ibroohiim.
Artinya:
“Ya Allooh, limpahkanlah sholawat atas Muhammad dan keluarga Muhammad, juga istri-istrinya dan keturunannya, dan kasih sayangilah Muhammad juga keluarga Muhammad, istri-istrinya dan keturunannya, sebagaimana Engkau limpahkan sholawat atas Ibrohim dan keluarga Ibrohim.”
Demikian pula bila kita ingin mengatakan tentang “Barokah”, maka menjadi:
اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد …
“Alloohumma baarik ‘ala Muhammadin wa ‘ala ali Muhammadin…….”
Artinya:
“Ya Allooh, berkahilah atas Muhammad dan keluarga Muhammad…”
dan seterusnya.
Menurut Imaam Ibnul Qoyyim Al Jauziyyah رحمه الله, mengapa yang demikian itu diperbolehkan, itu adalah supaya tepat sesuai dengan apabila ada riwayat yang ragu dalam meriwayatkan redaksi Sholawat atas Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم itu, maka digabung atau agar do’a-do’a dengan lafadz-lafadz yang berbeda itu dijadikan satu.
Jadi kebolehan itu adalah sebatas menggabungkan redaksi sholawat yang ada riwayatnya dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, dan bukannya merupakan kebolehan untuk menggunakan redaksi Sholawat yang tidak ada riwayatnya sama sekali dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Redaksinya haruslah tetap dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, tetapi karena redaksinya berbeda-beda, maka redaksi yang berbeda-beda itu dijadikan (digabung) menjadi satu redaksi. Jadi sebatas hal ini saja.
2. Kelompok ‘Ulama yang lain mengatakan bahwa tidak boleh menggabungkan redaksi-redaksi Sholawat dari beberapa riwayat (yaitu Kelompok ‘Ulama pada masa-masa awal / abad 1-3 Hijriyyah)
Kelompok ‘Ulama yang kedua ini menyatakan, bahwa yang dibolehkan adalah pada suatu waktu mengucapkan Sholawat atas Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم sebagaimana misalnya contoh redaksiSholawat yang pertama, lalu di waktu yang lain mengucapkan Sholawat dengan redaksiSholawat yang kedua, lalu di lain waktu lagi dengan redaksi sholawat yang ketiga, demikian seterusnya; tetapi redaksi-redaksi sholawat tersebut tidak boleh digabungkan menjadi satu. Yang boleh adalah diucapkan redaksi yang satu di satu waktu, dan redaksi yang lain di waktu yang lain.
Menurut Imaam Ibnul Qoyyim Al Jauziyyah رحمه الله, landasan pendapat kelompok ‘Ulama kedua ini adalah karena cara Sholawat dengan menggabungkan berbagai redaksi ituadalah Baru (Bid’ah). Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم tidak mengajarkannya. Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم memang mengajarkan redaksi Sholawat yang berbeda-beda, tetapi tidak mencontohkannya dengan digabung menjadi satu. Kata Imaam Ibnul Qoyyim Al Jauziyyah رحمه الله, Para Imaam Ahlus Sunnah Wal Jamaa’ah yang terkenal, mereka tidak memperbolehkan menggabungkan redaksi-redaksi sholawat menjadi satu, dan mereka tidak mengenal hal yang demikian itu.
Beberapa alasan mengapa tidak diperbolehkan untuk menggabungkan redaksi-redaksi sholawat tersebut, antara lain adalah:
Pertama, ‘Ulama pada masa-masa awal (abad 1 – 3 Hijriyyah), mereka itu mengucapkan sholawat persis sesuai dengan redaksi Sholawat yang diajarkan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Menurut mereka, menggabungkan redaksi sholawat adalah hal Baru (Bid’ah), maka tidak boleh dilakukan.
Kedua, alasan tidak boleh digabungkannya redaksi-redaksi Sholawat itu adalah karena kalau seandainya redaksi sholawat itu boleh digabungkan, maka hendaknya orang yang mengucapkansholawat itu pun melakukan hal ini terhadap berbagai perkara lainnya, seperti misalnya: Syahadat pun semestinya dibolehkan dengan berbagai redaksi. Dan itu bisa jadi bukan saja dalam tempat yang berbeda, tetapi misalnya sujudnya pun dibolehkan untuk berbeda, dan seterusnya. Dan hal-hal seperti ini tidak dikenal serta tidak dianjurkan oleh para ‘Ulama pada masa-masa awal, karena menurut mereka itu adalah merupakan Bid’ah.
Ketiga, tidak boleh menggabungkan redaksi-redaksi sholawat tersebut, bukan hanya di dalam sholat saja, tetapi di luar sholat pun juga tidak dibolehkan.
Keempat, karena Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم pun belum pernah menggabungkan semua redaksi sholawat tersebut dalam waktu pembacaan yang sama. Namun,Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم mencontohkannya dengan cara terkadang membaca redaksi sholawat yang satu, lalu di lain waktu terkadang membaca dengan redaksisholawat yang lainnya. Demikian pula ucapan dalam ruku’ atau sujud ketika sholat, yang terdapat riwayat yang shohiih dengan redaksi-redaksi bacaan yang berbeda, tetapi hal itu adalah digunakan untuk variasi, bukan untuk digabungkan redaksi-redaksinya menjadi satu.
Menurut para ‘Ulama Ahlus Sunnah, bahwa yang dimaksud dengan Sholawat adalah makna dan pengungkapan yang menunaikan pada makna yang dimaksud.
Maka, kalau sudah mengucapkan salah satu redaksi (kalimat Sholawat), maka itu sudah mewakili. Jadi, bukan untuk menggabungkan berbagai redaksi sholawat yang berbeda-beda menjadi satu.
Yang penting adalah kita mengucapkan Sholawat. Itu sudah cukup. Adapun, redaksi sholawat itu ada yang panjang dan ada yang pendek, maka silakan pilih, dan tidak dalam bentuk menggabungkan redaksi-redaksi tersebut menjadi satu. Karena satu redaksi adalah menjadi pengganti dari redaksi dengan lafadz yang lain. Maka tidaklah dianjurkan untuk menggabungkan, seperti misalnya “Muhammad” dengan “ ‘Abdika wa Rosuulika” atau dengan lafadz-lafadz yang lain.
Dengan demikian, adalah cukup apabila kita punya beberapa redaksi sholawat yang shohiih dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, lalu pilihlah salah satu, atau boleh digunakan bervariasi dalam waktu yang berbeda-beda, misalkan hari ini membaca sholawat dengan redaksi shohiih yang pertama, lalu esok hari dengan redaksi shohiih yang kedua, lalu lusa dengan redaksi shohiih yang ketiga, dan seterusnya; maka yang demikian itu boleh, tetapi tidak untuk digabungkan.
Perkataan Para ‘Ulama tentang Redaksi Sholawat
Imaam As Sakhoowy رحمه الله dalam Kitab Al Qoulul Badii’, beliau menyatakan : “Kita bisa mengambil dalil dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم yang mengajarkan kepada para Shohabat-nya tentang bagaimana ber-sholawat atas beliau صلى الله عليه وسلم, setelah para Shohabat tersebut bertanya perihal sholawat. Itulah redaksi (kalimat), dan cara pengucapan sholawat yang paling afdhol (utama). Seandainya seseorang mengucapkan sumpah dengan mengucapkan sholawat atas beliau صلى الله عليه وسلم, maka itulah sholawat yang terbaik.”
Jadi, menurut Imaam As Sakhoowy رحمه الله, maknanya bahwa Sholawat itu hendaknya adalah puas dengan apa yang diajarkan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Jangan mengarang sholawat sendiri. Karena sholawat yang diajarkan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم terhadap para Shohabatnya itu adalah sholawat yang dipilih oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, maka pastilah itu sholawat yang paling mulia dan afdhol. Sehingga, sebagaimana dapat diambil hikmahnya dari Hadits diatas, ketika Rosuululloh صلى الله عليه وسلم ditanya oleh seorang Shohabat-nya tentang bagaimanakah cara ber-sholawat, maka Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم pun terdiam sejenak, sebelum kemudian menjawab tentang redaksisholawat (yang Haditsnya telah diuraikan diatas). Karena sholawat yang berasal dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم itu adalah merupakan bagian dari Wahyu yang diwahyukan oleh Allooh سبحانه وتعالى kepada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
Al Faqiihi ‘Abdullooh bin Ahmad رحمه الله (wafat tahun 972 Hijriyyah), kata beliau bahwaIbnu Mandah رحمه الله (termasuk dari kalangan ‘Ulama Pendahulu Ummat), beliau menukil dari sekian para Shohabat termasuk juga yang lainnya, yang memiliki pemahaman yang dalam tentangdien menjelaskan bahwa lafadz yang dikeluarkan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم mempunyai kemuliaan.
Beliau رحمه الله menjelaskan juga bahwa Sholawat dengan lafadz “Sholalloohu ‘alaihi wasallam” adalah yang terbaik. Didalamnya terkandung makna sastra yang ringkas dan simple, dengan sisi makna yang paling sempurna. Maka dari itu, para ‘Ulama, penulis, baik dari kalangan ‘Ulama terdahulu maupun ‘Ulama Mutta’akhiriin, mereka sepakat untuk iltizam (puas) dengan redaksi yang diberikan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم saja.
Imaam An Nawawy رحمه الله dalam Kitab Al Majmu’ (Ensiklopedi Fiqih Asy Syaafi’iy yang terluas) mengatakan bahwa: “Mestinya dikumpulkan apa yang terdapat dalam Hadits-Hadits Shohiih.”
Jadi Imaam An Nawawy رحمه الله termasuk ‘Ulama yang setuju (sepakat) dengan apa yang dikemukakan oleh Imaam Ibnul Qoyyim رحمه الله, bahwa boleh menggabungkan riwayat-riwayat yang shohiih tentang Sholawat atas Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم untuk dijadikan satu redaksi. Contohnya adalah sebagai berikut:
اللهم صل على محمد عبدك ورسولك النبي الأمي وعلى آل محمد وأزواجه وذريته كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم وبارك على محمد وعلى آل محمد وأزواجه وذريته كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم في العالمين إنّك حميد مجيد
“Alloohumma sholli ‘ala Muhammadin ‘abdika wa rosuulika nabiyyil ummiyyi, wa ‘ala ali Muhammadin wa azwaajihi wa dzurriyyatihi, kamaa shollaita ‘ala Ibroohiima wa ‘ala ali Ibroohiima wa baarik ‘ala Muhammadin wa ‘ala ali Muhammadin wa azwaajihi wa dzurriyyatihi, kamaa barokta ‘ala Ibroohiima wa ‘ala ali Ibroohiima fil ‘aalamiina innaka hamiidummajiidun.”
Artinya:
“Ya Allooh limpahkanlah sholawat atas Muhammad, hamba-Mu dan utusan-Mu, seorang Nabi yang ummi, juga kepada keluarga Muhammad, istri-istrinya dan keturunannya, sebagaimana Engkau limpahkan sholawat atas Ibrohim dan keluarga Ibrohim. Ya Allooh berkahilah pada Muhammad dan keluarga Muhammad, istri-istrinya dan keturunannya, sebagaimana Engkau berkahi Ibrohim dan keluarga Ibrohim. Di alam semesta ini, sesungguhnya Engkau Yang Maha Terpuji lagi Maha Mulia.”
Sholawat yang digabungkan redaksinya tersebut, tidak lebih dari 3 baris kalimat (bandingkan dengan kalimat sholawat-sholawat hasil karangan manusia yang banyak beredar di sebagian kalangan masyarakat kita, yang insya Allooh akan kita bahas dalam kajian mendatang yang bertemakan: “Sholawat yang Bukan Sholawat”). Meskipun demikian, penggabungan redaksi-redaksi yang shohiih dari Sholawat dengan cara seperti ini pun masih diperselisihkan oleh para ‘Ulama. Karena para ‘Ulama mengatakan, “Ini adalah susunan rangkaian Sholawat yang kita susun sendiri.”
Kalau misalnya ada orang yang mengatakan bahwa dengan cara seperti itu, kita pun bisa menyusun juga sholawat dari riwayat-riwayat yang lain lalu kita gabung-gabungkan dengan susunan kita sendiri, maka ketahuilah bahwa yang demikian itu adalah termasuk yang diperselisihkan oleh para ‘Ulama Ahlus Sunnah. Tidak berada dalam kesepakatan mereka.
Yang jelas-jelas disepakati adalah apa yang redaksinya berasal dari Hadits yang shohiih, sebagaimana telah diuraikan diatas. Silakan praktekkan sesuai dengan apa yang berasal dari Hadits-Hadits Shohiih tersebut saja.
Imaam As Sakhoowy رحمه الله menyebutkan, dari guru beliau bernama Imaam Ibnu Hajar Al Asqolaany رحمه الله (tokoh yang sangat dikenal dikalangan madzab Asy Syaafi’iy) yang mengatakan bahwa, “Penyusunan redaksi gabungan (sholawat) itu pada akhirnya menjadi perselisihan, mana yang semestinya didahulukan atau dikebelakangkan, mana yang ditambahkan atau yang tidak ditambahkan. Dan setiap orang bisa memiliki susunan yang berbeda.”
Penambahan kalimat “Sayyidina” pada redaksi Sholawat adalah Bid’ah
Dikatakan oleh Syaikh ‘Abdurrouuf Muhammad ‘Utsman dalam Kitab beliauMahabbaturrosuul (Cinta Rosuul antara Sunnah dan Bid’ah), beliau mengatakan, “Jika jelas kepada kita bahwa redaksi yang sesuai Sunnah dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, maka kita mengetahui bahwa apa yang diada-adakan oleh kebanyakan tokoh-tokoh Sufi dari redaksi-redaksi Sholawat atas Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم itu dengan meng-klaim bahwa redaksi itu mengandung pahala dan ganjaran yang sangat banyak, maka Sholawat yang mereka (– tokoh-tokoh Sufi – pent.) karang itu tidaklah akan bisa menyaingi martabat, tingkat kemuliaan dan keberkahan sebagaimana redaksi yang diajarkan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم kepada para Shohabat dan kepada ummatnya, dalam tata-cara Sholawat atas Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Itupun kalau Sholawat mereka terbebas dari unsure kultus maupun Bid’ah.”
Maksudnya, kalaupun Sholawat yang mereka (tokoh-tokoh Sufi) karang itu terbebas dari Bid’ah,Syirik dan Kultus, tetap saja yang lebih berkah dan lebih mulia adalah redaksi Sholawat yang diajarkan langsung oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
“Sebagaimana, hendaknya kita catat bahwa tidak ada satu riwayat pun dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم tentang redaksi Sholawat atas Rosuul yang ditambah dengan kata “Sayyidina”.”
Artinya, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم tidak pernah mengajarkan apakah itu dalam sholat ataupun di luar sholat, redaksi seperti: “Alloohumma sholli ‘ala sayyidinaMuhammadin.”
Kata “Sayyidina” adalah tambahan, dan tidak pernah diajarkan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
Maka apa yang diriwayatkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany رحمه الله dalam Kitab Sifat Sholat Nabi, dimana beliau menukil dari Fatwa atau Jawaban Imaam Al Haafidz Ibnu Hajar Al Asqolaany رحمه الله, ketika beliau ditanya sebagai berikut:
– Bagaimana sholawat atas Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, apakah sholawat itu Wajib atau Sunnah?
– Apakah dipersyaratkan untuk menambah lafadz “Sayyid” dalam Sholawat, misalnya: “Alloohumma sholli ‘ala sayyidina Muhammadin” atau “Sayyidi kholqi”, atau “ ‘Ala sayyidi waladi adam” ?
– Ataukah kita hanya terpaku pada pembacaan “Alloohumma sholli ‘ala Muhammadin” ?
Maka Jawaban beliau رحمه الله adalah sebagai berikut:
Kita tahu bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم adalah Sayyid. Tetapi kita tidak perlu mengucapkan “Alloohumma sholli ‘ala sayyidina Muhammadin”, tidak perlu dengan“Sayyidina”. Karena tidak pernah terdapat dalam riwayat (Hadits) tentang cara ber-sholawat atas Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dengan penambahan lafadz tersebut.
Selanjutnya Al Haafidz Ibnu Hajar Al Asqolaany رحمه الله menjelaskan, “Kalau kitamengikuti lafadz (redaksi) sholawat sesuai dengan apa yang terdapat dalam Riwayat dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, maka itu adalah lebih kuat. Tidak boleh kita mengatakan bahwa, “Rosuul صلى الله عليه وسلم tidak menambahkan kata “Sayyidina”, karena beliau tawadhu’.”
Jadi, kita tidak boleh mengatakan demikian, dan tidak boleh kita menambahkan jawaban yang seperti itu.
Al Haafidz Ibnu Hajar Al Asqolaany رحمه الله mengatakan, “Kalau saja penambahan kata“Sayyidina” itu ada, rojih (kuat), dan disandarkan pada hujjah yang kuat, maka pasti akan ada, datang riwayatnya dari Shohabat, lalu dari Taabi’iin. Tetapi kami belum pernah menemukan (riwayatnya).”
Kalau yang mengatakan “Kami belum pernah menemukan riwayatnya” adalah orang sekapasitasAl Haafidz Ibnu Hajar Al Asqolaany رحمه الله, yang sangat jauh kapasitasnya dari orang-orang biasa seperti kita ini, maka bila beliau رحمه الله telah memberikan pernyataan demikian; itu berarti bahwa beliau رحمه الله telah meneliti, memeriksa berbagai riwayat yang bertumpuk-tumpuk dan ternyata bahwa beliau (Al Haafidz Ibnu Hajar Al Asqolaany رحمه الله) tidak pernah menemukan, bahwa Shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم menambahkan kata “Sayyidina” kedalam Sholawat. Tidak pula hal itu ditemukan riwayatnya dari para Taabi’iin.
Padahal riwayat tentang Sholawat dari Nabi itu banyak sekali. Tetapi tidak pernah ditemukan dalam riwayat-riwayat tersebut ada kata “Sayyidina”. Demikianlah pernyataan dari ‘Ulama Ahlus Sunnah Al Haafidz Ibnu Hajar Al Asqolaany رحمه الله. Oleh karena itu, ketika kita mengucapkan sholawat maka tidak perlu menggunakan kata “Sayyidina”, sebagaimana kekeliruan ini banyak tersebar di sebagian kalangan masyarakat.
Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم adalah Sayyid, tetapi kelak di hari Kiamat dan bukan di dunia. Hal ini adalah sebagaimana Hadits yang diriwayatkan oleh Imaam Muslim no: 6079, dari Shohabat Abu Hurairoh رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَوَّلُ مَنْ يَنْشَقُّ عَنْهُ الْقَبْرُ وَأَوَّلُ شَافِعٍ وَأَوَّلُ مُشَفَّعٍ
Artinya:
“Aku adalah Tuan (Sayyid) anak Adam pada hari Kiamat. Aku adalah orang yang pertama kali kuburannya dibuka, pemberi Syafa’at pertama kali dan orang yang pertama kali diberi Syafa’at.”
Maksudnya, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم sebagai Tuan (Sayyid) anak Adam (manusia) bukan di dunia, melainkan kelak di Hari Kiamat. Adapun kalau dikatakan bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم adalah Sayyid di dunia, maka beliau صلى الله عليه وسلم bahkan mengingkarinya, sebagaimana dijelaskan dalam Hadits Riwayat Imaam Abu Daawud no: 4808, di-shohiihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany رحمه الله, dari Shohabat Abi Nadhrota رضي الله عنه, beliau berkata. “Aku bertindak sebagai duta Bani ‘Amiir pada Rosuululloohصلى الله عليه وسلم, maka kami mengatakan,
فَقُلْنَا أَنْتَ سَيِّدُنَا. فَقَالَ « السَّيِّدُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى ». قُلْنَا وَأَفْضَلُنَا فَضْلاً وَأَعْظَمُنَا طَوْلاً. فَقَالَ « قُولُوا بِقَوْلِكُمْ أَوْ بَعْضِ قَوْلِكُمْ وَلاَ يَسْتَجْرِيَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ
Artinya:
“Wahai Rosuulullooh, engkau adalah Tuan kami (Sayyidina)”
(– Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم hendak disebut Sayyid oleh para Shohabat, hal tersebut karena beliau memang keturunan Quraisy, bangsawan, suku bangsa pembesar di Mekkah – pent.), tetapi Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم tidak meng-iya-kan, bahkan justru beliau صلى الله عليه وسلم bersabda,
“Yang Sayyid (Tuan) adalah Allooh Yang Maha Pemilik Berkah dan Maha Tinggi.”
Sehingga kami katakan, “Anda terbaik dari kami dan teragung dari kami.”
Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم mengatakan, “Katakanlah oleh kalian dengan perkataan kalian atau sebagian perkataan kalian, dan jangan syaithoon menyeret kalian.”
Jadi, Rosuullooh صلى الله عليه وسلم tidak suka disebut “Sayyid”, bahkan dari Hadits diatas nampak bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم memberikan kewaspadaan agar kita tidak terseret oleh tipu daya syaithoon, maka apalagi jika kultus ditujukan kepada beliauصلى الله عليه وسلم sebagaimana yang banyak dilakukan oleh kaum Muslimin di zaman sekarang, maka tentu Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم akan lebih melarangnya.
Lalu dalam Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 3445, dari Shohabat Ibnu ‘Abbas رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda,
فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ فَقُولُوا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ
Artinya:
“Sesungguhnya aku ini tidak lebih adalah hamba Allooh dan Utusan-Nya, maka katakan oleh kalian kepadaku (sebutlah untukku): Hamba Allooh dan Rosuul-Nya.”
Demikian jelas dan gamblang dan mudah bagi kita untuk menjalankan Sunnah ini, karena semua berdasarkan riwayat dan hujjah (dalil), oleh karena itu tidak perlu mencari-cari perkara lain.
Syaikh Nashiruddin Al Albaany رحمه الله dalam Kitabnya “Sifat Sholat Nabi” memberikan penjelasan bahwa dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Imaam Ath Thobrony رحمه الله, dengan Sanad yang Shohiih, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda,
ما تركت شيئا يقربكم من الله إلا أمرتكم به
Artinya:
“Aku tidak meninggalkan sesuatu pun yang sesuatu itu bisa mendekatkan kalian kepada Allooh, kecuali aku sudah perintahkan kalian dengannya.”
Juga dalam Hadits Shohiih Riwayat Imaam Muslim no: 7445, dalam suatu khutbah sebagaimana diriwayatkan oleh Hudzaifah Ibnul Yaman رضي الله عنه sebagai berikut:
عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ قَامَ فِينَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مَقَامًا مَا تَرَكَ شَيْئًا يَكُونُ فِى مَقَامِهِ ذَلِكَ إِلَى قِيَامِ السَّاعَةِ إِلاَّ حَدَّثَ بِهِ حَفِظَهُ مَنْ حَفِظَهُ وَنَسِيَهُ مَنْ نَسِيَهُ قَدْ عَلِمَهُ أَصْحَابِى هَؤُلاَءِ.
Artinya:
“Telah berdiri Rosuul صلى الله عليه وسلم di hadapan kami, ketika itu Rosuul صلى الله عليه وسلمmenyebutkan sehingga tidak ada yang tertinggal sedikit pun dari Perkara Dien ini sampai dengan hari kiamat, kecuali Rosuul صلى الله عليه وسلم menyampaikannya. Hafal bagi yang hafal, lupa bagi yang lupa. Dimana para shohabat-shohabatku telah mengetahuinya.”
Dan dalam Hadits Riwayat Imaam Ahmad no: 21399, dari Shohabat Abu Dzar Al Ghifaari رضي الله عنه, bahwa beliau berkata:
قَالَ أَبُو ذَرٍّ لَقَدْ تَرَكَنَا مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَا يُحَرِّكُ طَائِرٌ جَنَاحَيْهِ فِي السَّمَاءِ إِلَّا أَذْكَرَنَا مِنْهُ عِلْمًا
Artinya:
“Sungguh Rosuul Muhammad صلى الله عليه وسلم telah meninggalkan kita, bahkan sampai burung yang menggerakkan kedua sayapnya di langit, kecuali telah Rosuul صلى الله عليه وسلم sebutkan ‘ilmu tentangnya.”
Berarti semua apa yang menjadikan kita dekat dengan Allooh سبحانه وتعالى sudah ada penjelasannya dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Maka kalau ada orang yang mengatakan bahwa “Ada yang lebih baik”, atau “Ada yang baru”, atau “Ada yang tidak ada dalam ajaran Rosuulullooh صلى الله عليه وسلمsehingga ada yang baru, dan yang lebih bagus”, maka orang tersebut seolah-olah mengatakan bahwa Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم telah mengkhianati risalah (dengan tidak menyampaikan suatu risalah kepada ummatnya).
Juga sebagaimana dalam Hadits diriwayatkan oleh Imaam Muslim no: 4882, dari ‘Abdullooh bin ‘Amr bin Al Ash رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم selanjutnya bersabda,
إِنَّهُ لَمْ يَكُنْ نَبِىٌّ قَبْلِى إِلاَّ كَانَ حَقًّا عَلَيْهِ أَنْ يَدُلَّ أُمَّتَهُ عَلَى خَيْرِ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ وَيُنْذِرَهُمْ شَرَّ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ
Artinya:
“Tidak ada seorang nabi pun sebelum aku, kecuali hak atas orang itu untuk menunjuki ummatnya terhadap kebaikan yang dia ketahui dan memberi ancaman kepada ummatnya agar mereka menjauhi dari apa yang mereka (para nabi) itu ketahui.”
Muslimin dan Muslimat yang dirahmati Allooh سبحانه وتعالى,
Itulah yang hendaknya kita camkan baik-baik, boleh juga dihafal beberapa redaksi sholawat yang berasal dari riwayat-riwayat yang shohiih diatas, serta silakan dipilih dari berbagai redaksishohiih tersebut yang mana yang hendak diamalkan. Yang penting adalah agar dalam mengucapkan Sholawat, hendaknya kita merujuk kepada Hadits-Hadits yang shohiih. Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم telah mengajarkan sedemikian rupa, maka silakan mengamalkan salah satu dari redaksi-redaksi yang shohiih tersebut, atau silakan pula bila mau menghafal keseluruhan redaksi yang shohiih tersebut.
Insya Allooh dalam kajian mendatang, akan kita bahas dengan tema tentang: “Sholawat-Sholawat yang bukan Sholawat dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.”
TANYA JAWAB
Pertanyaan:
1. Bagaimana dengan Sholawat yang lebih singkat “Alloohumma sholli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad” ? Apakah ada dasarnya?
2. Orang ber-sholawat dengan membaca “Sholalloohu ‘ala Muhammad, sholalloohu ‘alaihi wassallam” secara beramai-ramai (koor) di masjid-masjid / musholla-musholla selesai sholat dan dzikir, apakah itu ada dasarnya?
3. Dalam Ilmu Hadits disebutkan Al Kutubussittah, urutannya adalah Imaam Al Bukhoory, Imaam Muslim dan seterusnya hingga yang terakhir adalah Imaam Ibnu Maajah. Tetapi ada beberapa ‘Ulama yang mengatakan bahwa urutannya adalah tidak seperti itu. BahkanImaam Maalik dalam Al Muwaatho’ urutannya adalah lebih diatas daripada Imaam Al Bukhoory dan Imaam Muslim. Apakah dasarnya dan apa kelebihan masing-masing dengan urut-urutan seperti tersebut? Bagaimana urutannya menurut Syaikh Nashiruddin Al Albaany رحمه الله?
Jawaban:
1. 1. Tentang Mustholahul Hadiits (Ilmu Hadits):
Para ‘Ulama sudah melakukan Dirosah (penelitian, kajian yang mendalam) tentang semua Kitab Hadits. Bila kita hendak menilai, tentu harus dilihat dari sisi tinjauannya. Misalnya dari sisi pertama kali yang ditulis, sebenarnya Al Muwaththo’ adalah lebih dahulu dibandingkan Imaam Al Bukhoory dan Imaam Muslim.
Kalau dinilai dari sisi ke-shohiihan atau dari seni menulis, maka Shohiih al Imaam Muslim adalah lebih baik daripada Shohiih al Imaam Al Bukhoory. Imaam Muslim رحمه الله sangat sistematis dalam penyusunan Kitab dan Bab. Bila beliau رحمه الله mengulang suatu Hadits, beliau tidak mengulang dengan redaksinya, tetapi mengulang dengan sanad-nya. Sehingga terkesan bahwa ShohiihMuslim tidak banyak mengulang Hadits. Sedangkan Imaam Al Bukhoory رحمه الله mengulang-ulang Hadits. Dari tinjauan ini, maka orang mengatakan bahwa Shohiih Imaam Muslim adalah lebih baik daripada Shohiih Imaam Al Bukhoory.
Tetapi bila dilihat dari tinjauan lain, bahwa kedalaman Fiqih Imaam Al Bukhoory رحمه الله adalah tidak bisa disebandingkan dengan kedalaman Fiqih Imaam Muslim رحمه الله. Imaam Al Bukhoory رحمه الله seolah-olah memang mengulang-ulang Hadits, tetapi pengulangan Hadits dalam Shohiih Imaam Al Bukhoory pasti ada bedanya jika dikaji dengan Hadits lainnya yang sama. Misalnya, Hadits pertama diulang-ulang 5 kali oleh Imaam Al Bukhoory رحمه الله, namun bila dikaji satu persatu dengan teliti, ternyata kelimanya adalah tidak sama. Itulah keistimewaan Imaam Al Bukhoory رحمه الله. Bahkan Imaam Muslim رحمه الله pun mengakui hal tersebut.
Tentang Ibnu Maajah :
Dalam Hadits Sunnan Ibnu Maajah bahkan terdapat Hadits Palsu. Kitab yang empat yaitu:
a) Sunnan Abu Daawud,
b) Sunnan At Turmudzy,
c) Sunnan An Nasaa’i,
d) Sunnan Ibnu Maajah
Urutan seperti tersebut adalah berdasarkan kriteria ke-shohiihan, keabsahan, kevalidan suatu Hadits. Para ‘Ulama mengatakan bahwa hendaknya urutannya adalah seperti tersebut diatas.
Kalau dilihat dari mana yang paling dahulu, maka Imaam Maalik Al Muwatho’ adalah lebih baik, karena disitu adalah campuran; ada Hadits Marfuu’ (مرفوع = yaitu Hadits yang sanadnya tersambung sampai kepada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم), ada Hadits Mauquuf (موقوف = yaituHadits yang sanadnya tersambung sampai kepada Shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم),adaIjtihad para Shohabat, sehingga lebih kompleks.
Termasuk misalnya Musnad Imaam Ahmad, keistimewaannya adalah bahwa Hadits dari setiap Shohabat dikoleksikan, misalnya semua Hadits-Hadits dari Abu Hurairoh رضي الله عنه itu apa saja, lalu dari Abu Bakar As Siddiq رضي الله عنه Hadits-Haditsnya apa saja, dan seterusnya. Keistimewaan ini mempunyai kelas masing-masing.
Tentang Syaikh Nashiruddin Al Albaany رحمه الله, beliau adalah Muhaddits (Ahli Hadits) abad sekarang yang sangat dikenal dalam dunia Islam, walaupun Muhaddits itu tidak hanya beliau رحمه الله saja, ada juga Muhaddits-Muhaddits yang lain. Hanya saja beliau رحمه الله ditakdirkan oleh Allooh سبحانه وتعالى untuk terpublikasikan karya ilmunya, terutama yang dibidang Hadits. Banyak karya beliau رحمه الله, terutama dalam men-Takhrij Hadits. Walaupun, tentunya ada juga ‘Ulama lain yang mengkritisi beliau رحمه الله.
2.Tentang ucapan “Sholalloohu ‘alaihi wassallam” atau dalam bentuk perintah “Shollu ‘ala an Nabiy” atau “Sholalloohu ‘ala Muhammad, sholalloohu ‘alaihi wassallam”, maka redaksi-redaksi tersebut adalah redaksi yang sederhana dan sesuai dengan Hadits-hadits yang ada. Jadi minimal sholawat atas Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم adalah seperti itu. Dansholawat itu tidak untuk dilagukan (koor) / dinyanyikan bersama-sama.
Pertanyaan:
1. Tentang Bid’ah, apakah orang mengerjakan sholat dan ada Bid’ahnya maka ia akan masuk neraka?
2. Ada orang yang suka mengaku sebagai Ahlul Bait. Mohon dijelaskan apa itu Ahlul Bait?
Jawaban:
1.Tentang Bid’ah, adalah sebagaimana dalam Hadits Riwayat Imaam Abu Daawud no: 4609, di-shohiihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany, dari salah seorang Shohabat bernama Al Irbaadh Ibnu Saariyah رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda,
وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
Artinya:
“Jauhilah oleh kalian perkara-perkara baru, karena setiap perkara yang baru adalah Bid’ah. Setiap Bid’ah adalah sesat.”
Apakah setiap Bid’ah tempatnya di neraka? Ancamannya memang demikian. Sebagaimana dalam Hadits Riwayat Imaam An Nasaa’i no: 1578, di-shohiihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany, dari Shohabat bernama Jaabir bin ‘Abdillah رضي الله عنه bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم sendiri yang mengancam dengan,
وشر الأمور محدثاتها وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار
Artinya:
“Dan sejahat-jahat perkara adalah perkara-perkara barun. Dan setiap perkara baru adalah Bid’ah dan setiap Bid’ah adalah sesat dan setiap kesesatan adalah didalam neraka.”
Jadi Ahlul Bid’ah terancam masuk neraka. Hanya saja, neraka itu bertingkat-tingkat. Ada yang paling bawah, ada yang pertengahan dan ada yang paling atas (paling ringan). Dosa-dosa besar juga tidak hanya satu derajat, ada dosa besar yang paling besar, misalnya Syirik.
2.Tentang Ahlul Bait, yang juga suka disebut Habiib, yang mengaku sebagai keturunan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Sebetulnya hal ini sudah kita ingkari dalam penjelasan kita di kajian-kajian sebelum ini. Itu merupakan tanggungjawab mereka kalau mereka mengaku-ngaku sebagai keturunan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, tetapi ternyata sebenarnya adalah bukan. Kalau bukan keturunan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, lalu mengaku sebagai keturunan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, maka itu adalah Harom hukumnya.
Pertanyaan :
1.Tentang Sholawat kepada Nabi, ada perintahnya dari Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. Al Ahzaab (33) ayat 56:
صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Shollu ‘alaihi wa sallimuu tasliimaa”, artinya: ber-sholawatlah kepada Nabi صلى الله عليه وسلم (saja). Dalam ayat tersebut tidak disebutkan termasuk terhadap keluarga Nabi صلى الله عليه وسلم.
Maka pernah ada pertanyaan, apakah Hadits tentang sholawat itu tidak bertentangan dengan ayat Allooh سبحانه وتعالى?
2.Dalam pembukaan seseorang yang berpidato, setelah Salam kepada Nabi صلى الله عليه وسلم kepada Shohabat, lalu ada kata-kata, “Dan pengikutnya yang setia hingga akhir zaman”. Bagaimana dengan kata-kata yang terakhir tersebut?
Jawaban:
Dijelaskan diatas bahwa redaksi-redaksinya adalah berasal dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Dan Haditsnya adalah Muttafaqun ‘alaih. Artinya Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم mengajarkan
“Alloohumma sholli ‘ala Muhammadin, wa azwaajihi wa dzurriyatihi”. Itu berasal dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, kita harus mengimaninya, menerima, meyakini dan upayakan untuk mempraktekkannya. Lalu ada kata-kata, “Dan pengikutnya yang setia hingga akhir zaman”.
Maka, sudah dijelaskan diatas bahwa Sholawat itu artinya adalah do’a. Masing-masing do’a tidak sama artinya, tergantung obyeknya. Kalau Sholawat kepada Nabi صلى الله عليه وسلم artinya kita memohon kepada Allooh سبحانه وتعالى, agar beliau صلى الله عليه وسلم dimuliakan. Kita juga mendo’akan kepada keluarga Nabi صلى الله عليه وسلم, agar keluarga Nabi صلى الله عليه وسلم diselamatkan, disejahterakan. Demikian pula kita mendo’akan kaum Muslimin dan Muslimat.
Dan karena Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم mencontohkan demikian, maka kita ikuti saja. Mudah-mudahan itu bagian dari Ibadah kita.
Alhamdulillah, kiranya cukup sekian dulu bahasan kita kali ini, mudah-mudahan bermanfaat. Kita akhiri dengan Do’a Kafaratul Majlis :
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Categories: Uncategorized | 3 Komentar

SHALAWAT ATAS NABI

sholawat11

SHOLAWAT ATAS NABI MUHAMMAD صلى الله عليه وسلم (BAGIAN-1)
Oleh: Ust. Achmad Rofi’i, Lc.

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allooh سبحانه وتعالى,
Sebetulnya banyak sekali bahasan tentang Sholawat. Ada Kitab khusus yang berkenaan dengan itu, yaitu Kitab Jalaa’ul Al Afhaam Fishsholaati ‘Alaa Khoiril Anaam yang ditulis oleh Imaam Ibnul Qoyyim Al Jauziyyah رحمه الله. Kitab itu tebal, sehingga tidak mungkin kita bahas satu per satu baik huruf maupun halamannya dalam waktu yang singkat, oleh karena itu pembahasan akan kita ambil dari Kitab At Ta’addub Ma’a Rosuulillaahi Fi Dhou’i Al Kitaabi Was Sunnah (Sopan Santun terhadap Rosuulullooh Menurut Al Qur’an dan As Sunnah) yang ditulis oleh Syaikh Hasan Nur Hasan.
Dalam Kitab tersebut, Syaikh Hasan Nur Hasan menulis, bahwa bila dibagi-bagi bahasannya, maka tidak akan kurang dari 5 bahasan yakni:
1. Pengertian Sholawat atas Nabi صلى الله عليه وسلم secara bahasa maupun secara istilah
2. Hukum Syar’ie dalam mengucapkan Sholawat atas Nabi صلى الله عليه وسلم
3. Redaksi-Redaksi yang terdapat dalam riwayat-riwayat mana yang mengajarkan tentang Sholawat atas Nabi صلى الله عليه وسلم.
Kita tahu bahwa Sholawat itu adalah Ibadah. Karena merupakan Ibadah, maka tidak boleh “mengarang sendiri”. Harus ada contoh atau tuntunannya dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dan contoh itu sudah ada dan sudah lengkap, serta contoh itu juga harus lah menurut Hadits-Hadits Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم yang shohiih.
4. Kapan dan dimana kita disyari’atkan mengucapkan Sholawat itu.
5. Pahala dan apa yang akan kita dapat, kalau kita mengucapkan Sholawat.
Bahasannya mungkin tidak dapat selesai dalam satu kali kajian, tetapi bisa dalam beberapa kali kajian. Namun dalam mengkaji Ilmu memang harus bersabar dan kontinyu, dan insya Allooh bahasan akan kita sederhanakan agar praktis dan dapat diketahui serta dengan mudah diamalkan apa yang menjadi Syari’at dan Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم berkenaan dengan Sholawat.
Pengertian Sholawat
Sholawat dalam bahasa Arab adalah Ash Sholat (الصلاة). Tetapi pengertian umum di negeri kita Indonesia ini, Sholat adalah sholat lima waktu, yaitu yang disebut juga dengan Ash Sholawat Al Maktuubah (الصلوات المكتوبة), atau Sholawat Al Mafruudhoh (الصلوات المفروضة).
Sedangkan yang berkenaan dengan bahasan kita, yaitu Ash Sholat (Sholawat), biasanya ada kalimat berikutnya yaitu “’Alaa”, menjadi: Ash Sholaatu ‘Alan Nabi (الصلاة على النبي), Ash Sholaatu ‘Alar Rosuulillaah صلى الله عليه وسلم الصلاة على رسو الله)), atau Ash Sholawatu ‘Alan Nabi (الصلوات على النبي), Ash Sholawatu ‘Alar Rosuulillaah صلى الله عليه وسلم (الصلوات على رسول الله).
Tetapi, dalam bahasa Indonesia biasanya digunakan kata: Sholawat.
Dalam bahasa Arab, Al Imaam Al Jauhary, Imaam Fairuz Abadiy dan Imaam-Imaam yang lain menyebutkan bahwa yang dimaksud Ash Sholat (Sholawat) secara bahasa, artinya adalahDo’a (Permohonan).
Dalam kamus yang lain, Sholawat juga berarti:
– Du’aa(Permohonan)
– Rohmah (Kasih Sayang)
– Istighfaar (Permohonan ampun kepada Allooh سبحانه وتعالى)
– Ta’dziim(Pengagungan, penghormatan, sanjungan)
Maka, para ‘Ulama menyatakan bahwa Ash Sholat (Sholawat) bermakna gabungan, yaitu bisa bermakna: Do’a, Kasih Sayang, Permohonan Ampun dan Pengagungan atau Permohonan Barokah dari Allooh سبحانه وتعالى.
Yang paling sering kita pahami adalah Sholat itu berarti Do’a. Bahwa Sholat lima waktu, misalnya, diartikan sebagai Do’a. Karena memang bila kita renungkan, bahwa Sholat lima waktu itu sejakTakbiirotul Ihroom sampai dengan Salaam isinya adalah Do’a. Bahkan selesai sholat pun, kita masih berdo’a Astaghfirullooh, Astaghfirulloooh, Astaghfirullooh, dan seterusnya. Itu semua adalah Do’a.
Adapun pengertian Sholat (Sholawat) atas Nabi صلى الله عليه وسلم, menurut para ‘Ulama maksudnya adalah: “Sanjungan yang baik dari Allooh سبحانه وتعالى kepada Rosuululloohصلى الله عليه وسلم”.
Maka kalau kita membaca dalam Al Qur’an Surat Al Ahzaab (33) ayat 56:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً
Artinya:
“Sesungguhnya Allooh dan malaikat-malaikat-Nya bersholawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”
Maksudnya adalah bahwa Allooh سبحانه وتعالى menyanjung, memuji Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم. Itulah seperti yang dikatakan oleh Al Imaam Fairuuz Aabaadiy.
Oleh Imaam yang lain, yaitu Al Imaam Al Jurjaani dalam Kitabnya At Ta’rifaat, beliau mengatakan:
“Sholawat atas Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم maksudnya adalah memohon kepada Alloohسبحانه وتعالى agar mengagungkan Rosuululloohصلى الله عليه وسلمbaik di dunia maupun di akhirat.”
Beberapa penjelasan, misalnya adalah perkataan para ‘Ulama yang lain yaitu Al Qodhy Ismaa’iil Al Jahdzomiy, beliau menukil perkataan Abul ‘Aaliyah رحمه الله (sala seorangTaabi’iin), bahwa Sholawat Allooh سبحانه وتعالى kepada Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, maksudnya adalah memuji (menyanjung). Allooh سبحانه وتعالى memuji, menyanjung Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Tetapi Sholawat Malaikat kepada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, maksudnya adalah mendo’akan.
Imaam Adh Dhohaak, beliau dari kalangan Ahli Tafsir Al Qur’an dan beliau juga adalah Ahli Hadiits, beliau mengatakan: “Allooh سبحانه وتعالى mengucapkan sholawat atas Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, maksudnya adalah Allooh سبحانه وتعالى melimpahkan kasih sayang-Nya kepada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Dan kalau Malaikat mengucapkan sholawat atas Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم maksudnya adalah mendo’akan.”
Lalu kata beliau lagi, “Sholat Allooh سبحانه وتعالى kepada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, artinya adalah Pemberian ampunan kepada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, sedangkan dari Malaikat maknanya adalah berdo’a.”
Kesimpulannya:
Sholawat Allooh سبحانه وتعالى terhadap Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, maknanya adalah: Sanjungan, Kasih-Sayang, Ampunan.
Sholawat Malaikat atas Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, maknanya adalah: Mendo’akan.
Perkataan Imaam yang lainnya, yaitu Al Imaam Al Haliimiy, penulis Kitab Al Minhaaj, yang diringkas oleh Al Imaam Al Baihaqy رحمه الله dalam Kitab Syu’abul ‘Iimaan, beliau mengatakan: “Kalau kita mengucapkan “Alloohumma Sholli ‘alaa Muhammad”, artinya Sholawat kita kepada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم itu bermakna: Mendo’akan untuk Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, supaya Allooh سبحانه وتعالى mengagungkan, meninggikan derajat Nabi Muhammadصلى الله عليه وسلمdan memohon semua itu dari Allooh سبحانه وتعالى.”
Jadi, bukan berarti kita yang mengagungkan, meninggikan derajat Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, karena kita tidak bisa melakukan semua itu.
Hanya Allooh سبحانه وتعالى yang bisa melakukannya. Dengan demikian, yang benar adalah: Kita memohon kepada Allooh سبحانه وتعالى : “Ya Allooh, agungkanlah dan tinggikanlah derajat serta berikanlah ampunan kepada Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم.”
Imaam Ibnul Qoyyim Al Jauziyyah رحمه الله dalam Kitabnya yakni Kitab Jalaa’ul Al Afhaam Fishsholaati ‘Alaa Khoiril Anaam, beliau mengatakan:
“Sholawat yang diperintahkan kepada kita adalah memohon, meminta kepada Allooh سبحانه وتعالى yaitu tentang apa yang Allooh سبحانه وتعالى beritakan bahwa Allooh سبحانه وتعالى mengucapkan sholawat atas Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, Malaikat mengucapkan sholawat atas Rosuululloohصلى الله عليه وسلم. Berita ini adalah memohon supaya Allooh سبحانه وتعالى menyanjung, menyatakan, menampakkan keutamaan, kemuliaan dan mendekatkan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلمdengan Allooh سبحانه وتعالى.”
Karena itu, Sholawat yang dimaksudkan bahwa didalamnya mengandung berita sekaligus permohonan (do’a) itu mempunyai 2 (dua) perkara:
1. Bahwa Sholawat kita adalah menyanjung, menyebut berbagai kemuliaan dan keutamaan, serta menginginkan dan mencintai Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, dan berharap yang demikian pula dari Allooh سبحانه وتعالى.
Dengan demikian maka ada 2 makna yaitu: Allooh سبحانه وتعالى memberitahukan bahwa Dia (Alloohسبحانه وتعالى) mengucapkan Sholawat dan kita hendaknya juga mengucapkan Sholawat, sebagaimana hal itu telah diperintahkan-Nya dalam Surat Al Ahzaab (33) ayat 56.
2. Dari kita juga disebutkan Sholawat, adalah agar kita memohon kepada Allooh سبحانه وتعالى supaya Dia (Allooh سبحانه وتعالى) mengucapkan Sholawat yang artinya adalah menyanjung, mengagungkan, memuliakan serta meninggikan derajat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
Kesimpulan:
Yang dimaksudkan dengan Sholawat adalah:
1. Sholawat dari Allooh سبحانه وتعالى kepada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم
2. Sholawat dari Malaikat kepada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم
3. Sholawat dari kita (manusia) kepada Rosuullooh صلى الله عليه وسلم.
Hukum Ber-Sholawat
Landasannya adalah firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. Al Ahzaab (33) ayat 56, sebagaimana telah dijelaskan diatas. Yaitu Allooh سبحانه وتعالى dan Malaikat memberikan sholawat kepada Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم dan memerintahkan kita (manusia) agar juga ber-sholawat kepada beliau صلى الله عليه وسلم.
Bahkan bukan hanya ber-sholawat, tetapi juga merupakan Salam untuk beliau صلى الله عليه وسلم.
Jadi ada 2 bahasan yaitu Sholawat dan Salam. Tentang Salam, kita lebih mengenalnya sepertiAssalamu’alaikum, Assalamu’alaika, Assalamu ‘alan Nabiy Warohmatulloohi Wabarokaatuhu. Itu lebih kita kenal dan mudah dipahami, maka hal ini tidak akan dibahas secara panjang lebar. Namun demikian, insya Allooh tetap akan kita bahas.
Karena Allooh سبحانه وتعالى memberikan sholawat kepada Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, serta memerintahkan kepada orang-orang yang beriman supaya juga mengucapkan sholawat kepada Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم.
Dengan demikian, kita harus meyakini bahwa mengucapkan Sholawat atas Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم adalah perintah Allooh سبحانه وتعالى. Bahkan juga merupakan perintah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Oleh karena itu, bila ada orang yang menyatakan bahwa ia tidak suka dan benciSholawat, maka itu adalah Salah dan berarti ia bukanlah Ahlus Sunnah Wal Jamaa’ah.
Karena Ahlus Sunnah Wal Jamaa’ah itu meyakini kebenaran Al Qur’an dan Hadiits. Al Qur’an memerintahkan, lalu Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم pun memerintahkan. Hal ini menunjukkan bahwa Sholawat itu diajarkan.
Karena diajarkan, maka Ahlus Sunnah Wal Jamaa’ah meyakini bahwa Sholawat itu adalah Ibadah. Oleh karena merupakan Ibadah, maka kita tidak boleh menggunakan hawa-nafsu atau perasaan atau emosi.
Kalau ada orang yang tidak suka “ber-sholawat sesuai dengan sholawat yang banyak beredar di masyarakat”, maka orang tersebut dikatakan “Kamu benci sholawat ya?”, “Kamu bukan Ahlus Sunnah..” dan seterusnya. Padahal, hendaknya caci maki tersebut ditahan terlebih dahulu, jangan emosional, tetapi hendaknya dipahami mengapa orang tersebut enggan mengucapkan “sholawat sebagaimana yang banyak beredar di masyarakat (seperti: sholawat Nariyah, sholawat Badriyah dll)”. Hal tersebut adalah karena orang tersebut tidak mau mengucapkanSholawat yang redaksinya tidak ada tuntunannya dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم atau Sholawat yang tidak Syar’ie sebagaimana yang banyak beredar di masyarakat. Jadi jangan disalah pahami. Bukannya karena dia tidak mau ber-sholawat, tetapi Redaksi Sholawat itu harus lah sesuai tuntunan dan contoh dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Jadi diatidak mau ber-sholawat dengan redaksi sholawat hasil “karangan manusia”, karena Sholawat itu adalah Ibadah, maka Redaksi (kata-kata) Sholawat itu haruslah yang sesuai dengan Hadits yang Shohiih karena itulah yang berasal dari Wahyu.
Oleh karena itu, sebelum mencaci maki seseorang yang tidak mau ber-“sholawat sebagaimana sholawat yang beredar di masyarakat”, hendaknya dipahami dahulu dengan ‘Ilmu (dien) apa alasannya sehingga dia tidak mau bersholawat dengan redaksi sholawat-sholawat buatan manusia yang tidak ada landasan dalilnya sama sekali.
Ahlus Sunnah Wal Jamaa’ah meyakini bahwa orang yang membenci ber-Sholawatkepada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم itu bisa menjadi Kufur, karena berarti ia melawan firman Allooh سبحانه وتعالى.
Hendaknya kita menjadikan Sholawat kepada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم adalah perintah Allooh سبحانه وتعالى, berarti merupakan bagian dari Syari’at Islam, bagian dari Sunnah Rosuul صلى الله عليه وسلم dan bagian dari Ibadah, dimana dengannya kita mendekatkan diri kepada Allooh سبحانه وتعالى.
Perkataan Para ‘Ulama Ahlus Sunnah Wal Jamaa’ah
Al Imaam Abu Bakr Al ‘Aamiry, beliau mengatakan: “Ada pun hukum mengucapkan Sholawat atas Rosuul صلى الله عليه وسلم adalah Wajib dengan Ijma’. Jadi Ahlus Sunnah meyakininya sebagai Ijma’. Maka Al Qur’an memerintahkan, As Sunnah memerintahkan dan Ijma’ (kesepakatan para ‘Ulama) juga mengatakan bahwa Sholawat atas Rosuul صلى الله عليه وسلم itu Wajib hukumnya.”
Berarti orang yang tidak ber-sholawat kepada Rosuul صلى الله عليه وسلم itu bisa dikenakan hukum berdosa. Mengapa disebut Wajib? Karena perkara Sholawat itu telah diperintahkan berdasarkan ayat yang mulia seperti telah dijelaskan diatas yakni dalam QS. Al Ahzaab (33) ayat 56.
Akan tetapi Sholawat atas Rosuul صلى الله عليه وسلم itu tidak ditentukan waktunya maupun bilangannya. Berarti tidak boleh ada orang yang membuat ketetapan sendiri bahwa Sholawat itu hendaknya dilakukan pada malam Jum’at dengan sekian kali jumlahnya, dan seterusnya. Karena ketetapan seperti itu tidak ada. Sholawat adalam Ibadah, jadi harus berlandaskan kepada daliil yang shohiih. Tidak boleh kita mengamalkan sesuatu yang tidak ada landasannya dari Wahyu sama sekali.
Al Imaam As Sakhoowiy رحمه الله, menukil dari guru beliau yang bernama Al Haafidz Ibnu Hajar Al Asqolaany رحمه الله (Imaam dari madzab Asy Syaafi’iy), kata beliau: “Hukum Sholawat atas Nabi itu ada 10 pendapat:
1. Anjuran (Mustahabbah)
2. Wajib secara umum, tanpa ada batas, minimal satu kali.
3. Wajib satu kali seumur hidup, seperti mengucapkan kalimat Asyhaadu ‘alaa Illaaha Illallooh wa asyhaadu anna Muhammadur Rosuulullooh.
Artinya, kalau ada orang yang seumur hidupnya mengucapkan sholawat kepada Rosuul صلى الله عليه وسلم itu sekali-kalinya, maka ia tidak berdosa. Karena ia telah pernah mengucapkan Sholawat atas Rosuul صلى الله عليه وسلم.
4. Wajib minimal dalam satu kali duduk ketika orang mengakhiri sholat antara ia mengucapkanTasyaahud dan Salaam.
5. Wajib hanya dalam Tasyaahud, sedangkan diluar Tasyaahud maka sholawat itu tidak Wajib. Semua sholawat diluar Tasyaahud adalah Sunnah.
6. Wajib dalam sholat, tetapi tidak ada ketentuan tempatnya (Yang ini sudah terangkum dalam pendapat ke-4 diatas).
7. Sholawat hendaknya diperbanyak, tanpa boleh menentukan jumlah (banyak) bilangannya.
8. Wajib ketika disebut nama Muhammad (Rosuulullooh). Setiap kita mendengar nama Nabi (Rosuul) Muhammad disebut, maka kita wajib mengucapkan Sholawat.
9. Wajib dalam satu kali Majlis (duduk), kita hendaknya mengucapkan sholawat atas Rosuul صلى الله عليه وسلم adalah satu kali. Kalau Majlis (duduknya) berulang-ulang, maka Sholawatnya juga berulang-ulang.
10. Wajib dalam setiap berdo’a. Do’a akan menjadi “mandul”, bila tidak disertai ucapan Sholawat kepada Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم. Maka, adab dalam berdo’a adalah:
– Memuji Allooh سبحانه وتعالى
– Beristighfar
– Mengucapkan Sholawat atas Rosuul صلى الله عليه وسلم lalu berdo’a (atau do’anya ditutup dengan Sholawat atas Rosuul صلى الله عليه وسلم).
Kalau dicermati, sebenarnya 10 pendapat tersebut adalah saling melengkapi. Tetapi dalam pelaksanaannya, sesuai dengan Hadits-Hadits Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, maka sesungguhnya Sholawat itu ada dalam setiap pendapat tersebut.
Menumbuhkan Motivasi
Hendaknya kita menumbuhkn motivasi dalam diri kita bahwa kita cinta untuk mengucapkanSholawat dan tidak bakhil (kikir), maka dibawah ini akan disampaikan berbagai daliil dan nashyang mendorong seseorang untuk rajin dan tidak bakhil dalam mengucapkan Sholawat atas Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dalam bentuk menjelaskan keutamaannya.
Keutamaan mengucapkan Sholawat antara lain adalah sebagai berikut:
Menurut Imaam Ibnul Qoyyim Al Jauziyyah رحمه الله dalam Kitabnya: “Sesungguhnya orang yang memohon agar Allooh سبحانه وتعالى memberi sholawat kepada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلمadalah termasuk do’a yang paling besar dan paling bermanfaat bagi diri orang tersebut, baik di dunia maupun di akhirat.”
Dalam Hadits Riwayat Imaam Muslim no: 939, dari Shohabat Abu Hurairoh رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
مَنْ صَلَّى عَلَىَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا
Artinya:
“Barangsiapa yang mengucapkan sholawat atasku satu kali, maka Allooh akan balas dengan sepuluh kali lipat.”
Dalam Hadits Riwayat Imaam Muslim no: 875, dari Shohabat bernama ‘Abdullooh bin Amru bin Al ‘Ash رضي الله عنه, ia berkata: “Aku mendengar Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda,
إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَىَّ فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَىَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا…
Artinya:
“Jika kalian mendengar mu’adzin (– mengucapkan adzan – pent.), maka katakanlah seperti yang diucapkan oleh mu’adzin. Kemudian ucapkanlah oleh kalian sholawat atasku. Barangsiapa yang mengucapkan sholawat atasku satu kali, maka Allooh akan membalas (pahala) sholawat atasnya sepuluh kali lipat.”
Dalam Hadits Riwayat Imaam At Turmudzy no: 2457, lalu beliau berkata bahwa Hadits ini Hasan Shohiih, demikian pula Syaikh Nashiruddin Al Albaany berkata bahwa Hadits ini Hasan, dari Shohabat Ubay bin Ka’ab رضي الله عنه, beliau berkata,
… يا رسول الله إني أكثر الصلاة عليك فكم أجعل لك من صلاتي ؟ فقال ما شئت قال قلت الربع قال ما شئت فإن زدت فهو خير لك قلت النصف قال ما شئت فإن زدت فهو خير لك قال قلت فالثلثين قال ما شئت فإن زدت فهو خير لك قلت أجعل لك صلاتي كلها قال إذا تكفى همك ويغفر لك ذنبك
Artinya:
“Ya Rosuulullooh, sesungguhnya aku memperbanyak sholawat atasmu, berapa banyak yang harus aku ucapkan sholawat atas engkau itu?”
Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم menjawab, “Semaumu”.
Lalu aku (Ubay bin Ka’ab رضي الله عنه) berkata, “Apakah seperempat?”
Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم menjawab, “Semaumu, kalau engkau tambah maka itu lebih baik.”
Aku (Ubay bin Ka’ab رضي الله عنه) bertanya, “Bagaimana kalau setengah?”
Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم menjawab, “Semaumu, kalau engkau tambah, maka itu lebih baik.”
Aku (Ubay bin Ka’ab رضي الله عنه) bertanya lagi, “Bagaimana kalau duapertiga?”
Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم menjawab, “Semaumu, kalau engkau tambah, maka itu lebih baik.”
Kata Ubay bin Ka’ab رضي الله عنه, “Aku jadikan sholawat semua untukmu ya Rosuulullooh.”
Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم menjawab, “Insya Allooh Ta’alaa ucapan yang engkau ucapkan itu akan mencukupi kemauanmu.”
Demikianlah, barangsiapa yang mengucapkan Sholawat atas Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, maka Allooh سبحانه وتعالىakan memberi kecukupan atas apa yang menjadi kegundahan dalam hidupnya.
Bahkan dalam sabda Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم selanjutnya: “Dosamu pun akan diampuni.”
Maka bagi siapa yang memiliki banyak problem dalam hidupnya, maka Sholawat atas Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم pun ternyata merupakan bagian dari solusi baginya.
Lalu dalam Hadits Riwayat Al Imaam ‘Abdur Rozzaq رحمه الله no: 3114, dari Shohabat Ya’qub bin Tholhah At Taimy رضي الله عنه, beliau berkata, “Aku mendengar Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda,
أتاني آت من ربي فقال لا يصلي عليك عبد صلاة إلا صلى الله عليه عشرا قال فقال رجل يا رسول الله إلا أجعل نصف دعائي لك قال إن شئت قال ألا أجعل كل دعائي لك قال إذا يكفيك الله هم الدنيا والآخرة
Artinya:
“Telah datang kepadaku seseorang yang datang dari Allooh (– maksudnya: Malaikat – pent.),dan berkata, “Siapa saja dari hamba Allooh yang mengucapkan Sholawat atasmu, maka Allooh akan membalas Sholawat itu sepuluh kali lipat.”
Lalu ada orang yang datang dan berkata kepada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, “Ya Rosuulullooh, kalau aku jadikan setengah doaku untukmu, bagaimana?”
Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم menjawab, “Jika engkau mau.”
Orang itu bertanya lagi, “Bagaimana kalau semua do’a itu untukmu, ya Rosuulullooh?”
Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم menjawab, “Kalau semua itu engkau lakukan, maka Allooh akan memberimu kecukupan dari apa yang engkau gundahkan di dunia maupun dalam perkara akhirat.”
Dalam Hadits yang disebutkan oleh Al Mundziriy رحمه الله dalam Kitab At Targhiib Wat Tarhiibno: 1657, dari Shohabat Anas bin Maalik رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda,
من ذكرت عنده فليصل علي ومن صلى علي مرة صلى الله عليه بها عشرا
Artinya:
“Barangsiapa yang aku disebut disisinya, kemudian orang itu mengucapkan sholawat atasku satu kali, maka Allooh akan gandakan sepuluh kali lipat.”
Dalam Hadits Riwayat Imaam Ahmad dalam Musnad-nya no: 12017, dan menurut Syaikh Syu’aib Al Arnaa’uth bahwa Hadits ini adalah Shohiih dengan Sanad yang Hasan, dari Shohabat Anas bin Maalik رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda,
من صلى علي صلاة واحدة صلى الله عليه عشر صلوات وحط عنه عشر خطيئات
Artinya:
“Barangsiapa yang mengucapkan sholawat atasku satu kali, maka akan Allooh lipatgandakan sepuluh kali dan Allooh hapus sepuluh kesalahan.”
Juga dalam Hadits Riwayat Imaam An Nasaa’i dalam As Sunnan Al Kubro no: 9890, dishohiihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany dalam Shohiih At Targhiib Wat Tarhiibno: 1657, dari Shohabat Anas bin Maalik رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda,
من صلى علي صلاة واحدة صلى الله عليه عشر صلوات وحط عنه بها عشر سيئات ورفعه بها عشر درجات
Artinya:
“Barangsiapa yang mengucapkan sholawat atasku satu kali, maka akan Allooh lipat-gandakan menjadi sepuluh kali dan dihapus sepuluh kejelekan, dan ditinggikan derajatnya sepuluh derajat.”
Dan dalam Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory dalam Kitab Al ‘Aadaabul Mufrood no: 642, menurut Syaikh Nashiruddin Al Albaany Hadits ini adalah Hasan, dari Shohabat Anas dan Maalik bin Aus Al Hadatsaan رضي الله عنهما,
أن النبي صلى الله عليه و سلم خرج يتبرز فلم يجد أحدا يتبعه فخرج عمر فاتبعه بفخارة أو مطهرة فوجده ساجدا في مسرب فتنحى فجلس وراءه حتى رفع النبي صلى الله عليه و سلم رأسه فقال أحسنت يا عمر حين وجدتني ساجدا فتنحيت عني ان جبريل جاءني فقال من صلى عليك واحدة صلى الله عليه و سلم عشرا ورفع له عشر درجات
Artinya:
Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم keluar untuk buang air besar. Tidak ada yang mengikuti beliau صلى الله عليه وسلم, akhirnya ‘Umar bin Khoththoob رضي الله عنه yang mengikutinya sambil membawa air satu bejana untuk bersuci bagi Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Ketika itu beliau صلى الله عليه وسلم menundukkan kepala, lalu ‘Umar bin Khoththoob رضي الله عنه berdehem (memberi isyarat), sambil duduk dibelakang beliau صلى الله عليه وسلم. Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم kemudian mengangkat kepalanya, dan bersabda,
“Bagus sekali engkau wahai ‘Umar. Dalam keadaan aku mencari air, engkau membawakan aku air. Jibril datang kepadaku dan mengatakan, “Barangsiapa yang mengucapkan sholawat atasku satu kali, maka Allooh akan lipat-gandakan menjadi sepuluh kali, dan Allooh akan angkat derajatnya sepuluh derajat.”
Masih banyak lagi Hadits-Hadits yang sama dan mirip dengan Hadits diatas, yang memberikan petunjuk kepada kita bahwa Sholawat atas Rosuul صلى الله عليه وسلم itu demikian tinggi nilainya, mudah untuk diamalkan tetapi sangat besar pahala dan keutamaannya.
Lalu dalam Hadits Riwayat Imaam Ahmad no: 1664, menurut Syaikh Syuaib Al Arnaa’uth Hadits ini adalah Hasan Lighoirihi:
عن عبد الرحمن بن عوف قال : خرج رسول الله صلى الله عليه و سلم فتوجه نحو صدقته فدخل فاستقبل القبلة فخر ساجدا فأطال السجود حتى ظننت ان الله عز و جل قد قبض نفسه فيها فدنوت منه فجلست فرفع رأسه فقال من هذا قلت عبد الرحمن قال ما شأنك قلت يا رسول الله سجدت سجدة خشيت ان يكون الله عز و جل قد قبض نفسك فيها فقال ان جبريل عليه السلام أتاني فبشرني فقال ان الله عز و جل يقول من صلى عليك صليت عليه ومن سلم عليك سلمت عليه فسجدت لله عز و جل شكرا
Artinya:
Dari Shohabat ‘Abdurrohman bin ‘Auf رضي الله عنه, beliau berkata, “Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم keluar menuju ke tempat shodaqoh, lalu masuk kemudian menghadap Kiblat dan sujud dan memanjangkan sujudnya. Aku mengira bahwa Allooh سبحانه وتعالىtelah mencabut nyawanya disaat sujud, maka aku mendekatinya dan duduk, maka tiba-tiba Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم mengangkat kepalanya dan bertanya, “Siapa ini?”
Aku menjawab, “’Abdurrohmaan.”
Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bertanya, “Apa urusanmu?”
Aku menjawab, “Ya Rosuulullooh, engkau sujud dengan sujud dimana aku takut Allooh سبحانه وتعالى telah mencabut nyawamu.”
Maka beliau صلى الله عليه وسلم menjawab, “Sesungguhnya Jibril datang kepadaku membawa berita gembira dan berkata,“Sesungguhnya Allooh berfirman, barangsiapa yang mengucapkan sholawat atasmu, wahai Muhammad, dan mengucapkan salam padamu, maka aku (Jibril) pun memberi sholawat dan salam untuk orang itu. Maka aku sujud kepada Allooh سبحانه وتعالى sebagai bagian dari syukurku kepada-Nya.”
Juga dalam suatu Hadits sebagaimana dinukil oleh Al Jahdhomy dalam Kitab beliau bernamaFadhlus Sholaat ‘Alan Nabiy no:10, dengan derajat Hasan Lighoirihi, dari Shohabat ‘Abdurrohmaan bin Auf رضي الله عنه,
عن ابن عوف قال : كان لا يفارق فئ النبي صلى الله عليه وسلم بالليل والنهار خمسة نفر من أصحابه أو أربعة لما ينوبه من حوائجة قال فجئت فوجدته قد خرج فتبعته فدخل حائطا من حيطان الأسواف فصلى فسجد سجدة أطال فيها فحزنت وبكيت فقلت لأرى رسول الله صلى الله عليه وسلم قد قبض الله روحه قال فرفع رأسه وتراءيت له فدعاني فقال : مالك قلت يا رسول الله سجدت سجدة أطلت فيها فحزنت وبكيت وقلت لأرى رسول الله صلى الله عليه وسلم قد قبض الله روحه قال : ( هذه سجدة سجدتها شكرا لربي فيما آتاني في أمتي من صلى علي صلاة كتب الله له عشر حسنات )
Artinya:
“Ada 5 orang atau 4 orang sahabat yang tidak pernah berpisah dari fa’i (– harta rampasan perang – pent.) baik di malam hari maupun di siang hari, karena bergiliran memenuhi kebutuhan.”
Beliau (‘Abdurrohman bin Auf) berkata, “Aku datang dan menemui Rosuulullooh صلى الله عليه وسلمtetapi beliau telah keluar, maka aku ikut dan masuklah pada suatu ladang, sehingga beliau صلى الله عليه وسلم sholat dengan sujud yang beliau صلى الله عليه وسلم panjangkan. Sehingga aku sedih dan menangis dan berkata, ‘Aku melihat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم telah dicabut nyawanya oleh Allooh سبحانه وتعالى’ .
Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda, “Sujud ini kulakukan sebagai syukurku kepada Robb-ku, disebabkan datangnya pada dalam ummatku, “Barangsiapa yang mengucapkan sholawat atasku satu kali, maka Alloohسبحانه وتعالىakan mencatat untuknya sepuluh kebajikan.”
Lalu dalam suatu Hadits sebagaimana dinukil oleh Al Jahdhomy dalam Kitab beliau bernamaFadhlus Sholaat ‘Alan Nabiy no: 978, dari Shohabat ‘Abdullooh bin Abi Tholhah dari ayahnya رضي الله عنهما, beliau berkata,
خرج علينا رسول الله صلى الله عليه وسلم والبشر يرى في وجهه فقلنا يا رسول الله نرى البشر في وجهك فقال إنه أتاني الملك فقال إن ربك يقول يا محمد أما يرضيك إلا يصلي عليك أحد من أمتك إلا صليت عليه عشرا ولا يسلم عليك إلا سلمت عليه عشرا
Artinya:
Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم keluar kepada kami dengan terlihat pada wajahnya sangat berseri-seri.
Maka kami katakan, “Ya Rosuulullooh, kami melihat pada wajah engkau terdapat sesuatu perkara yang menggembirakan.”
Maka Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم menjawab, “Ya, karena telah datang kepadaku Malaikat yang mengatakan, “Wahai Muhammad, sesungguhnya Robb-mu (Allooh سبحانه وتعالى) berfirman, “Apakah engkau ridho wahai Muhammad, karena jika ada seseorang dari ummatmu mengucapkan sholawat atasmu, maka Aku akan mengucapkan kepadanya sepuluh kali. Kalau orang itu mengucapkan salam kepadamu satu kali, maka Aku akan mengucapkan kepadanya sepuluh kali.”
Demikianlah, begitu banyak dalil yang memberikan petunjuk kepada kita agar kita bergiat serta memperbanyak mengucapkan Sholawat atas Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, karena demikian banyak pahala dengan ucapan Sholawat tersebut.
Adapun Imaam Ibnul Qoyyim Al Jauziyyah رحمه الله didalam Kitabnya, menjelaskan bahwa ada19 (Sembilan belas) faedah dan keuntungan dari mengucapkan Sholawat atas Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم tersebut, yaitu:
1. Berarti kita melaksanakan apa yang menjadi perintah Allooh سبحانه وتعالى
2. Kita bersesuaian dengan Allooh سبحانه وتعالى, walaupun Sholawat Allooh سبحانه وتعالى kepada Rosuul صلى الله عليه وسلم itu berbeda arti dengan Sholawat kita kepada Rosuul صلى الله عليه وسلم, tetapi Allooh سبحانه وتعالى mengucapkan Sholawat dan kita pun mengucapkan Sholawat.
3. Bersesuaian dengan Malaikat, yang juga mengucapkan Sholawat kepada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
4. Kita akan mendapatkan 10 kali Sholawat dari kita yang sekali mengucapkan Sholawattersebut.
5. Kita akan ditingkatkan menjadi 10 (sepuluh) derajat lebih tinggi dengan sekali ber-sholawat.
6. Kita dicatat mendapat 10 (sepuluh) kebajikan dari sekali ber-Sholawat.
7. Kita dihapus 10 (sepuluh) kesalahan, setiap kali kita mengucapkan Sholawat.
8. Bila orang berdo’a kepada Allooh سبحانه وتعالى, maka diharapkan dengan mengucapkan Sholawat atas Rosuul صلى الله عليه وسلم, maka do’anya akan di-ijabah (dikabulkan) oleh Allooh سبحانه وتعالى
9. Menyebabkan orang mendapatkan Syafa’at dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم (atas izin Allooh سبحانه وتعالى) di akherat
10. Menjadi penyebab pengampunan dosa dari Allooh سبحانه وتعالى
11. Menyebabkan Allooh سبحانه وتعالى memberikan kecukupan kepada orang yang ber-Sholawat.
12. Menyebabkan orang dekat dengan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم di akherat
13. Menyebabkan langgengnya (kekalnya) cinta seseorang kepada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم
14. Menyebabkan seseorang senang kepada manusia, yaitu mencintai sesama orang yang juga mencintai Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم
15. Penyebab terbukanya pintu hidayah bagi orang yang mengucapkan Sholawat. Bahkan hatinya menjadi hidup, peka (sensitif) terhadap hal-hal yang baik.
16. Termasuk mengucapkan dan menyebutkan nama orang yang membacakan Sholawat itu sendiri.
17. Merupakan ucapan dari rasa syukur karena Allooh سبحانه وتعالى memberikan kepada kita sehat wal afiyat, kesempatan, rizqy dan seterusnya; yang mana Allooh سبحانه وتعالى memerintahkan kita untuk ber-Sholawat atas Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم
18. Mengandung ingatan, rasa terimakasih, dan pengakuan bahwa Allooh سبحانه وتعالى memberi kenikmatan anugerah kepada hamba-Nya dengan cara Allooh سبحانه وتعالى mengutus Rosuul-Nya صلى الله عليه وسلم. Dengan diutusnya Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, maka kita ber-Sholawatdan akhirnya kita pun mendapatkan berbagai kebaikan.
19. Sholawat kepada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم merupakan do’a dari hamba kepada Allooh سبحانه وتعالى. Do’a yang merupakan permintaan dan do’a yang merupakan ibadah.
Mudah-mudahan setelah penjelasan diatas, kita terbangkit untuk selalu mengucapkan Sholawatatas Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Adapun Redaksi Sholawat, mana yang shohiih dan mana yang tidak, insya Allooh akan dibahas pada pertemuan yang akan datang.
Alhamdulillah, kiranya cukup sekian dulu bahasan kita kali ini, mudah-mudahan bermanfaat. Kita akhiri dengan Do’a Kafaratul Majlis :
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Jakarta, Senin malam, 7 Jumadil Awwal 1432 H – 11 Maret 2011
—– 0O0 —–

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

KEKELIRUAN DALAM WUDHU,MANDI WAJIB DAN ADZAN

kekeliruan-wudhu1

KEKELIRUAN DALAM WUDHU’, MANDI WAJIB DAN ADZAN
Oleh : Ust. Achmad Rofi’i, Lc.

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allooh سبحانه وتعالى,
Pada pertemuan kali ini, kita akan membahas tentang Al Bid’ah dalam ibadah keseharian kita, terutama perkara-perkara Bid’ah yang berkaitan dengan Sholat Lima Waktu, di dalam perkaraWudhu’ dan Mandi Wajib atau Thohaaroh (Bersuci) dan Adzan. Kitab yang dipakai sebagai acuan adalah As Sunan Wal Mubtada’aat yang ditulis oleh Syaikh Muhammad Abdus Salam Khilidhir, dan dalam beberapa masalah tertentu kita akan merujuk pada apa yang ditulis oleh Imaam Jalaaluddin As Suyuuthi رحمه الله dalam Kitab beliau رحمه الله yakni Al Amru bil Ittiba’ Wan Nahyu ‘Anil Ibtidaa’.
Didalam Kitab As Sunan Wal Mubtada’aat terdapat beberapa perkara yang harus kita ambil sebagai suatu pelajaran, mana yang termasuk Sunnah dan mana yang termasuk Bid’ah berkenaan dengan masalah Wudhu’. Dalam Bab ke-6 dari Kitab As Sunan Wal Mubtada’aat dibahas tentang “Dzikir-dzikir Wudhu’ yang disyari’atkan dan yang tidak disyari’atkan”
Dzikir-Dzikir Wudhu’ yang Disyari’atkan
Mengenai Wudhu’, kita mulai dengan Hadits Shohiih yang menjelaskan tentang tatacara Wudhu’ sebagaimana diriwayatkan oleh Imaam Al Bukhoory no: 159 dan Imaam Muslim no: 561 sebagai berikut:
أَنَّ حُمْرَانَ مَوْلَى عُثْمَانَ أَخْبَرَهُ أَنَّهُ رَأَى عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ دَعَا بِإِنَاءٍ فَأَفْرَغَ عَلَى كَفَّيْهِ ثَلَاثَ مِرَارٍ فَغَسَلَهُمَا ثُمَّ أَدْخَلَ يَمِينَهُ فِي الْإِنَاءِ فَمَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ ثَلَاثًا وَيَدَيْهِ إِلَى الْمِرْفَقَيْنِ ثَلَاثَ مِرَارٍ ثُمَّ مَسَحَ بِرَأْسِهِ ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ ثَلَاثَ مِرَارٍ إِلَى الْكَعْبَيْنِ ثُمَّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ لَا يُحَدِّثُ فِيهِمَا نَفْسَهُ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Artinya:
“Bahwa Humron budak ‘Utsman رضي الله عنه, beliau melihat ‘Utsman bin Affan رضي الله عنه meminta bejana, lalu mencuci kedua telapak tangannya tiga kali, kemudian memasukkan (tangan) kanannya kedalam bejana lalu berkumur, dan memasukkan air ke hidungnya kemudian membasuh wajahnya tiga kali serta (membasuh) kedua tangannya sampai dengan siku tiga kali, kemudian mengusap kepalanya, dan membasuh kedua kakinya tiga kali sampai dengan mata kaki, kemudian berkata, “Bersabda Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, ‘Barangsiapa yang ber-Wudhu’ seperti Wudhu’-ku ini, kemudian sholat dua rokaat, tidak membisikkan pada dirinya (dalam perkara duniawi), niscaya diampunilah dosa-dosanya yang lalu.”
Imaam Ibnus Syihab رحمه الله berkata, “Adalah ‘Ulama-‘Ulama kita menegaskan bahwa ini adalah cara Wudhu’ yang paling sempurna yang (seyogyanya) dipraktekkan setiap orang untuk Sholat.”
Hadits-Hadits Shohiih yang lain yang membahas tentang tatacara ber-Wudhu’ sesuai Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, insya Allooh akan kita bahas secara lebih detail dalam kajian tersendiri di lain kesempatan waktu. Sedangkan berikut ini, kita akan lebih membahas Hadits-Hadits Shohiih yang menjelaskan tentang Dzikir-Dzikir Wudhu’ yang disyari’atkan itu apa saja, yakni :
1. Dalam Hadits Riwayat Imaam Abu Daawud no: 101, dari Shohabat Abu Hurairoh رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لاَ وُضُوءَ لَهُ وَلاَ وُضُوءَ لِمَنْ لَمْ يَذْكُرِ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى عَلَيْهِ
Artinya:
“Tidak sah sholat bagi orang yang tidak berwudhu’ (sebelumnya) dan tidak sah wudhu’ bagi orang yang tidak menyebut “Bismillah” (sebelumnya).”
2. Dalam Hadits Shohiih Riwayat Imaam Muslim no: 576, dari Shohabat ‘Uqbah bin ‘Amir رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ يَتَوَضَّأُ فَيُبْلِغُ – أَوْ فَيُسْبِغُ – الْوُضُوءَ ثُمَّ يَقُولُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ إِلاَّ فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةُ يَدْخُلُ مِنْ أَيِّهَا شَاءَ
Artinya:
“Barangsiapa yang menyempurnakan Wudhu’, lalu mengucapkan “Asyhadu allaa Ilaaha Ilalloohu wahdahuu laa syariikalahu wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa Rosuuluhu (Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak untuk diibadahi dengan sebenarnya kecuali hanyalah Allooh, tidak ada sekutu bagi-Nya; dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan Rosuul-Nya)”, maka pintu-pintu surga yang delapan akan dibukakan untuknya dan dia boleh masuk dari pintu yang mana saja yang dia mau.”
3. Dalam Hadits Riwayat Imaam At Turmudzy no: 55, dari Shohabat ‘Umar bin Khoththoob رضي الله عنه, yang di-shohiihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany, ditambahkan di akhir riwayat tersebut dengan mengatakan:
من توضأ فأحسن الوضوء ثم قال أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله اللهم اجعلني من التوابين واجعلني من المتطهرين – فتحت له ثمانية أبواب الجنة يدخل من أيها شاء
Artinya:
Barangsiapa yang berwudhu dengan sebaik-baiknya kemudian berdoa: “Asyhadu allaa Ilaaha Ilalloohu wahdahuu laa syariikalahu wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa Rosuuluhu.Alloohummaj’alnii minat tawwabiina waj’alnii minal mutathohhiriin (Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak untuk diibadahi dengan sebenarnya kecuali hanyalah Allooh, tidak ada sekutu bagi-Nya; dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan Rosuul-Nya. Ya Allooh, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang tekun bertaubat dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang rajin bersuci)”; maka akan dibukakan untuknya pintu surga yang delapan dan masuk dari mana yang dia suka.”
4. Dalam Hadits Riwayat Imaam Ahmad no: 121, dari Shohabat ‘Uqbah bin Amir رضي الله عنه, dan kata Syaikh Syuaib Al Arnaauth Hadits ini Hasan Lighoirihi. Pada saat perang Tabuk, berdoa sesudah Wudhu’ itu dilakukan dengan cara mengangkat pandangan ke langit:
من توضأ فأحسن الوضوء ثم رفع نظره إلى السماء فقال أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله فتحت له ثمانية أبواب الجنة يدخل من أيها شاء
Artinya:
“Barangsiapa yang ber-Wudhu’ sebaik-baiknya, kemudian mengangkat pandangannya ke langit kemudian berdoa, “Asyhadu allaa Ilaaha Ilalloohu wahdahuu laa syariikalahu wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa Rosuuluhu (Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak untuk diibadahi dengan sebenarnya kecuali hanyalah Allooh, tidak ada sekutu bagi-Nya; dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan Rosuul-Nya)”, maka pintu-pintu surga yang delapan akan dibukakan untuknya dan dia boleh masuk dari pintu yang mana saja yang dia mau.”
Jadi Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم ketika berdo’a itu sambil mengangkat pandangan beliau صلى الله عليه وسلم kearah langit.
5. Lalu ditambah lagi berdasarkan Hadits Marfuu’ (yaitu: Hadits yang sampai sanadnya pada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم) Riwayat Imaam Al Hakim no: 2072, dan beliau berkata Hadits iniShohiih sesuai dengan syarat Imaam Muslim kemudian dishohiihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany dalam Silsilah Ash Shohiihah no: 2333, dari Shohabat Abu Saa’id Al Khudry رضي الله عنه, bahwasanya Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
سبحانك اللهم و بحمدك لا إله إلا أنت أستغفرك و أتوب إليك كتب في رق ثم طبع بطابع فلم يكسر إلى يوم القيامة
Artinya:
“Siapa yang selesai ber-Wudhu’, lalu ia membaca “Subhaanakalloohumma wabihamdika, asyhadu allaa Illaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika(Maha Suci Engkau ya Allooh dan segala puji bagi-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah dengan sebenarnya kecuali hanyalah Engkau, aku mohon ampunan dan bertaubat pada-Mu)”, niscaya akan diangkat derajatnya sampai dibawah Al ‘Arsy dan tidak berubah kedudukannya hingga hari kiamat.”
6. Dan juga di dalam Hadits Riwayat Imaam At Turmudzy no: 3500 dan Imaam Ahmad no: 16650, dari Shohabat Abu Hurariroh رضي الله عنه, menurut Syaikh Syuaib Al Arnaa’uth Hadits iniHasan Lighoirihi, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم berdo’a:
اللهم اغفر لي ذنبي ووسع لي في داري وبارك لي في رزقي
Artinya:
“Ya Allooh, ampunilah dosaku, lapangkanlah rumahku dan berkahilah apa yang Engkau rizqikan padaku.”
Kata Imaam Ibnus Sunni رحمه الله, seorang Ahli Hadiits, Hadits ini pernah disebutkan pula olehImaam Ibnul Qayyim رحمه الله dalam Kitabnya Zaadul Ma’aad.
Apakah maksud dari penyebutan beberapa riwayat tersebut diatas? Penulis Kitab tersebut ingin menyampaikan kepada kita bahwa ada beberapa hal yang harus kita ketahui bahwa ada dzikir-dzikir yang disunnahkan dalam perkara berwudhu’. Bahwa setelah selesai berwudhu’, kita disunnahkan menghadap kearah Kiblat dan mengangkat pandangan kearah langit, lalu berdo’a dengan do’a setelah wudhu’, sebagaimana telah dijelaskan diatas.
Demikian itu adalah seputar masalah wudhu’ yang disunnahkan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dan do’a-doanya yang shohiih, yang boleh kita pakai dalam rangka berwudhu’.
Hal-Hal yang Termasuk Bid’ah dalam ber-Wudhu’
1. Termasuk dalam kategori Bid’ah dalam ber-Wudhu’ adalah mengatakan:
“Alhamdulillaahilladzii ja’alal maa’a thohuuron, wal Islaama nuuron (Segala puji bagi Allooh yang telah menjadikan air ini suci dan Islam menjadi cahaya).”
Atau dengan mengatakan: “Alhamdulillaahi ‘alaa hadzal maa’i ath thohiir (Segala puji bagi Allooh yang telah menjadikan air ini suci).”
Do’a-do’a seperti ini tidak ada landasan yang shohiih tentangnya, namun para Ahlul Bid’ah sedemikian gigihnya menyebarkannya kepada kaum muslimin, sehingga kalimat ini bahkan diajarkan, dibacakan dan dituliskan oleh mereka; bahkan sampai ada suatu masjid yang menuliskan kalimat tersebut disetiap kran tempat Wudhu’. Hendaknya kaum muslimin meninggalkan perkara-perkara Bid’ah tersebut dan kembali kepada Sunnah Muhammad Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
2. Perkataan “Nawaitu…. (Saya Berniat…..)” didalam ber-Wudhu’ itu tidaklah disunnahkan, dan itu menjadi suatu Bid’ah. Karena, Niat itu tempatnya adalah didalam hati, bukan dilafadzkan dengan mulut.
Jadi tidak perlu mengucapkan: “Nawaitu wudhu’a lirof’il hadatsil asghori…” dstnya.
Melafadzkan niat itu sendiri tidak akan berpahala, bahkan berdosa (apalagi bagi orang yang mengajarkan dan menyebarkan Bid’ah ini) karena mengerjakan sesuatu perkara didalam urusan dien yang tidak ada contohnya atau tuntunannya dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Tidak ada satu pun dalil yang shohiih dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم tentang melafadzkan niat.
3. Termasuk dalam kategori Bid’ah adalah berdo’a pada setiap gerakan Wudhu’ dengan do’a-do’a, seperti:
عن انس قال دخلت على رسول الله صلى الله عليه و سلم وبين يديه اناء من ماء فقال لي يا انس ادن مني اعلمك مقادير الوضوء فدنوت من رسول الله صلى الله عليه و سلم قال فلما ان غسل يديه قال بسم الله والحمد لله ولا حول ولا قوة إلا بالله فلما استنجى قال اللهم حصن لي فرجي ويسر لي امري فلما ان تمضمض واستنشق قال اللهم لقني حجتك ولا تحرمني رائحة الجنة فلما ان غسل وجهه قال اللهم بيض وجهي يم تبيض الوجوه فلما ان غسل ذراعيه قال اللهم اعطني كتابي بيميني فلما ان مسح يده على رأسه قال اللهم تغشنا برحمتك وجنبنا عذابك فلما ان غسل قدميه قال اللهم ثبت قدمي يوم تزل فيه الأقدام ثم قال النبي صلى الله عليه و سلم والذي بعثني بالحق يا انس ما من عبد قالها عند وضوئه لم يقطر من خلل اصابعه قطرة إلا خلق الله منها ملكا يسبح الله عز و جل سبعين لسانا يكون ثواب ذلك التسبيح له الى يوم القيامة قال العلل المتناهية – ابن الجوزي هذا حديث لا يصح
قال الشوكاني في النيل :
وقال النووي في الروضة : هذا الدعاء لا أصل له . وقال ابن الصلاح : لا يصح فيه حديث
Artinya:
Dari Anas berkata, “Aku masuk pada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, sedang dihadapannya terdapat bejana air, lalu dia berkata padaku, ‘Ya Anas, mendekatlah padaku. Aku ajari kamu kadar berwudhu’ lalu aku mendekat padanya dan ketika beliau صلى الله عليه وسلم membasuh kedua tangannya, beliau صلى الله عليه وسلم berkata, “Dengan nama Allooh dan segala puji bagi Allooh, tiada daya dan kekuatan kecuali dari Allooh.
Ketika beristinja’, beliau صلى الله عليه وسلم berdoa ,“Ya Allooh, lindungilah kemaluanku, mudahkanlah urusanku.”
Dan ketika beliau صلى الله عليه وسلم berkumur dan memasukkan air ke hidung, berdoa, “Ya Allooh, ajari padaku hujjahmu, dan jangan Engkau haramkan aku dari bau surga.”
Ketika membasuh wajahnya, beliau صلى الله عليه وسلم berdoa, “Ya Allooh, putihkanlah wajahku pada hari wajah-wajah diputihkan.”
Ketika membasuh dua sikunya, beliau صلى الله عليه وسلم berdoa, “Ya Allooh, berikanlah padaku kitabku dengan tangan kananku.”
Ketika mengusap kepalanya, beliau صلى الله عليه وسلم berdoa, “Ya Allooh, selimutilah kami dengan kasih sayang-Mu dan jauhkanlah kami dari adzab-Mu.”
Ketika membasuh kedua kakinya, beliau صلى الله عليه وسلم berdoa, “Ya Allooh, kukuhkan kakiku pada hari kaki-kaki terpeleset.”
Kemudian Nabi صلى الله عليه وسلم berkata, “Demi yang mengutusku dengan kebenaran, wahai Anas, tidak ada seorang hamba yang berdoa dengannya ketika berwudhu maka tidak ada satu tetespun air yang terjatuh dari sela-sela jarinya, kecuali Allooh ciptakan darinya Malaikat yang bertasbih kepada Allooh tujuh puluh kali dimana pahalanya untuknya sampai dengan hari kiamat.”
Menurut Imaam Ibnul Jauzy رحمه الله dalam Kitab Al Ilal Al Mutanahiyyah, Hadits ini tidakShohiih.
Berkata Imaam Syaukani رحمه الله dalam Nailul Authoor, Imaam Nawawy رحمه الله berkata dalam Ar Raudhoh bahwa doa ini tidak ada asalnya.
Dan berkata Imaam Ibnus Sholaah رحمه الله, tidak ada hadits Shohiih dalam masalah ini.
Berdo’a seperti itu bukan termasuk Sunnah, melainkan justru Bid’ah, karena meladzimkan membaca do’a-do’a tertentu dalam setiap gerakan Wudhu’ dimana hal ini tidak ada contohnya atau tuntunannya dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
Yang termasuk Bid’ah juga adalah berdo’a: “Wa asmi’ni adzana Bilaal (Perdengarkanlah kepadaku Adzannya Bilaal).” dstnya
Dzikir-dzikir seperti ini adalah Palsu dan Dusta. Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم tidak pernah mengajarkan dzikir-dzikir yang demikian kepada ummatnya. Tidak ada landasan yang shohiihtentangnya, maka para Ahlul Bid’ah yang menyebarkan Hadits-Hadits Palsu tersebut hendaknya mereka takut terhadap ancaman Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Shohabat Al Mughiiroh bin Syu’bah رضي الله عنه sebagai berikut,
مَنْ حَدَّثَ عَنِّى بِحَدِيثٍ يُرَى أَنَّهُ كَذِبٌ فَهُوَ أَحَدُ الْكَاذِبِينَ
Artinya:
“Barangsiapa meriwayatkan sebuah Hadits dariku, dilihat ternyata hadits itu dusta, maka sesungguhnya ia termasuk salah satu dari para pendusta.” (Hadits Riwayat Imaam Muslim no: 1)
Dan Hadits shohiih yang diriwayatkan oleh Abu Hurairoh رضي الله عنه, ia berkata bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda,
مَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
Artinya:
“Barangsiapa sengaja berdusta atas namaku, maka bersiaplah dengan tempat duduknya di Neraka.” (Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 110 dan Imaam Muslim no: 4)
Atau dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Al Mughiroh bin Syu’bah رضي الله عنه, ia berkata, “Aku mendengar Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda,
إِنَّ كَذِبًا عَلَىَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ فَمَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
Artinya:
“Sesungguhnya, berdusta atas namaku tidaklah seperti berdusta atas nama orang lain,barangsiapa sengaja berdusta atas namaku, maka bersiaplah dengan tempat duduknya di dalam api Neraka.” (Hadits Riwayat Imaam Muslim no: 5)
Oleh karena itu, janganlah kalian wahai kaum muslimin membeli buku-buku yang mengajarkan do’a-do’a diatas landasan Hadits-Hadits yang Palsu (Maudhuu’) ataupun Lemah (Dho’iif). Hindarilah, dan kalau kalian mampu maka ingkarilah kemunkaran dan kebid’ahan tersebut, lalu sampaikan pada mereka kebenaran dan ajaklah mereka untuk kembali kepada Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
4. Selanjutnya ada pula hal yang termasuk kekeliruan dalam ber-Wudhu’ ,yang dilakukan oleh sebagian kalangan yang menyatakan dirinya sebagai pengikut madzab Syaafi’iy, padahal Imaam Asy Syaafi’iy رحمه الله sendiri telah berkata bahwa: “Apabila Hadits itu Shohiih, maka itulah madzab-ku.”
Jadi Imaam Asy Syaafi’iy رحمه الله berlepas diri dari Hadits-Hadits yang Maudhuu’ ataupun Dho’iif.
Kekeliruan dalam ber-Wudhu’ tersebut adalah: mengusap hanya sebagian ubun-ubun kepala atau beberapa helai rambut dari kepalanya saja pada saat ber-Wudhu’. Hal yang seperti ini menurut Kitab As Sunan Wal Mubtada’aat adalah perkara Jahlun(kebodohan) terhadap Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, karena Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم ketika ber-Wudhu’ memberikan tuntunan untuk mengusap seluruh rambut kepala, dimulai dari awal tumbuhnya rambut di dahi, terus kebelakang sampai ke tengkuk, lalu dikembalikan lagi arah usapannya ke arah depan kepala (tempat tumbuhnya rambut di dahi) tersebut.
Perhatikanlah Hadits Shohiih Riwayat Imaam Muslim no: 579 sebagai berikut:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ زَيْدِ بْنِ عَاصِمٍ الأَنْصَارِىِّ – وَكَانَتْ لَهُ صُحْبَةٌ – قَالَ قِيلَ لَهُ تَوَضَّأْ لَنَا وُضُوءَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-. فَدَعَا بِإِنَاءٍ فَأَكْفَأَ مِنْهَا عَلَى يَدَيْهِ فَغَسَلَهُمَا ثَلاَثًا ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فَاسْتَخْرَجَهَا فَمَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ مِنْ كَفٍّ وَاحِدَةٍ فَفَعَلَ ذَلِكَ ثَلاَثًا ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فَاسْتَخْرَجَهَا فَغَسَلَ وَجْهَهُ ثَلاَثًا ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فَاسْتَخْرَجَهَا فَغَسَلَ يَدَيْهِ إِلَى الْمِرْفَقَيْنِ مَرَّتَيْنِ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فَاسْتَخْرَجَهَا فَمَسَحَ بِرَأْسِهِ فَأَقْبَلَ بِيَدَيْهِ وَأَدْبَرَ ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ إِلَى الْكَعْبَيْنِ ثُمَّ قَالَ هَكَذَا كَانَ وُضُوءُ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-
Artinya:
“Diriwayatkan dari ‘Abdullooh bin Zaiid bin ‘Ashim al Anshoory رضي الله عنه , dan ia adalah Shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Ia berkata, bahwa ia pernah disuruh (oleh seseorang),“Ber-Wudhu’ lah untuk kami seperti Wudhu’ Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.”
Ia kemudian meminta bejana berisi air. Lalu ia kucurkan pada kedua tangannya. Lantas ia membasuhnya tiga kali. Kemudian ia memasukkan kedua tangannya (kedalam bejana air) lalu mengeluarkannya. Lantas berkumur-kumur dan menghirup air dengan hidungnya dari satu telapak tangan. Ia melakukan hal tersebut tiga kali. Kemudian ia memasukkan kedua tangannya (kedalam bejana air), lalu ia mengeluarkannya dan membasuh wajahnya tiga kali. Ia memasukkan tangannya lagi (kedalam bejana air) dan mengeluarkannya kembali. Kemudian membasuh kedua tangannya sampai siku, masing-masing dua kali. Setelah itu ia memasukkan tangannya (kedalam bejana air) dan mengeluarkannya. Lalu, mengusap kepalanya dengan menggerakkan kedua tangannya dari depan ke belakang.Kemudian dia membasuh kedua kakinya sampai mata kaki, seraya berkata, “Demikianlah Wudhu’ Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم”.”
Mengusap seluruh kepala itulah yang semestinya diyakini dan diamalkan oleh orang-orang yang menyatakan dirinya sebagai pengikut Madzab Syaafi’iy, karena Imaam Asy Syaafi’iy رحمه الله sendiri telah mengatakan bahwa Madzab beliau adalah mengikuti Hadits-Hadits yang Shohiih dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
Juga Imaam Asy Syaafi’iy رحمه الله berkata: “Semua masalah yang telah kukatakan tetapi bertentangan dengan Sunnah, maka aku ruju’ disaat hidupku dan setelah wafatku.” (Dinukil dari kitab Imaam Al Khatib رحمه الله yang berjudul “Al Faqih wal Mutafaqqih”)
5. Termasuk kekeliruan pula, dimana sebagian kaum muslimin mengatakan bahwa air bekas ber-Wudhu’ tidak boleh dipakai lagi, dengan istilah Al Ma’ul Musta’mal (air yang sudah pernah dipakai).
Yang demikian ini tidak benar, karena justru dalam Hadits yang Shohiih, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم mandi bersama ‘Aa’isyah رضي الله عنها (istri beliau), dan keduanya menciduk air dalam satu bejana yang sama, padahal keduanya dalam keadaan junub.
Dalam Hadits Shohiih Riwayat Imaam Muslim no: 755, dari ‘Aa’isyah رضي الله عنها, ia berkata,
مِنْ إِنَاءٍ وَاحِدٍ وَنَحْنُ جُنُبَانِ
Artinya:
“Dahulu aku sendiri dan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم (sering) mandi bersama dari satu bak, sedangkan kami berdua dalam keadaan junub.”
Bahkan ada Shohabat yang ber-Wudhu’ dengan air bekas Wudhu’-nya Rosuululllooh صلى الله عليه وسلم. Kalau lah itu najis, tentu Rosuululloohصلى الله عليه وسلم akan melarangnya. Ternyata beliau صلى الله عليه وسلم membiarkannya (taqriir) dan itu menjadi bagian dari Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم juga.
Perhatikanlah Hadits Riwayat Imaam Ibnu Huzaimah no: 108, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم ber-Wudhu’ dengan air lebihan bekas dipakai Maimunah رضي الله عنها, dan Syaikh Al A’dzoomy mengatakan bahwa sanad Hadits ini sesuai dengan syarat Muslim.
ابن عباس : أن رسول الله صلى الله عليه و سلم كان يتوضأ بفضل ميمونة
قال الأعظمي : إسناده على شرط مسلم
Oleh karena itu, tidak perlu ragu bila kita ber-Wudhu’ lalu beradu tangan dengan orang lain yang sedang ber-Wudhu’ dekat kita dan sejenisnya. Boleh saja. Di zaman modern seperti sekarang pun, kita tetap diajarkan untuk memakai air secara irit, hemat.
6. Hadits-Hadits yang Lemah dan Palsu berkaitan dengan perkara Wudhu’, adalah sebagai berikut:
a) Hadits Lemah (Dho’iif) :
“Wahai Abu Hurairoh, apabila engkau ber-Wudhu’, maka ucapkanlah ‘Bismillah wal Hamdulillaah’. Kalau engkau memeliharanya, kemudian engkau tidak beristirahat, maka itu akan memberikan pahala padamu, dimana akan diberi pahala kebajikan sampai dengan batalnya Wudhu’-mu.”
Hadits ini adalah Munkar, karena derajatnya Sangat Lemah (Dho’iif), sehingga tidak bisa dijadikan Hujjah.
b) Hadits Palsu (Maudhuu’) sebagaimana telah dijelaskan diatas:
Dari Anas berkata, “Aku masuk pada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, sedang dihadapannya terdapat bejana air, lalu dia berkata padaku, ‘Ya Anas, mendekatlah padaku. Aku ajari kamu kadar berwudhu’ lalu aku mendekat padanya dan ketika beliau صلى الله عليه وسلم membasuh kedua tangannya, beliau صلى الله عليه وسلم berkata, “Bismillah, wal Hamdulillaah wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah (Dengan nama Allooh dan segala puji bagi Allooh, tiada daya dan kekuatan kecuali dari Allooh).”
Ketika beristinja’, beliau صلى الله عليه وسلم berdoa ,“Ya Allooh, lindungilah kemaluanku, mudahkanlah urusanku.”
Dan ketika beliau صلى الله عليه وسلم berkumur dan memasukkan air ke hidung, berdoa,“Alloohumma laqqini hujjati wa laa tuharrimni raihatal jannah (Ya Allooh, ajari padaku hujjahmu, dan jangan Engkau haramkan aku dari bau surga).”
Ketika membasuh wajahnya, beliau صلى الله عليه وسلم berdoa, “Alloohumma bayyidh wajhii yauma tabyadhdhu wujuuh (Ya Allooh, putihkanlah wajahku pada hari wajah-wajah diputihkan).”
Ketika membasuh dua sikunya, beliau صلى الله عليه وسلم berdoa, “Ya Allooh, berikanlah padaku kitabku dengan tangan kananku.”
Ketika mengusap kepalanya, beliau صلى الله عليه وسلم berdoa, “Ya Allooh, selimutilah kami dengan kasih sayang-Mu dan jauhkanlah kami dari adzab-Mu.”
Ketika membasuh kedua kakinya, beliau صلى الله عليه وسلم berdoa, “Ya Allooh, kukuhkan kakiku pada hari kaki-kaki terpeleset.”
Kemudian Nabi صلى الله عليه وسلم berkata, “Demi yang mengutusku dengan kebenaran, wahai Anas, tidak ada seorang hamba yang berdoa dengannya ketika berwudhu maka tidak ada satu tetespun air yang terjatuh dari sela-sela jarinya, kecuali Allooh ciptakan darinya Malaikat yang bertasbih kepada Allooh tujuh puluh kali dimana pahalanya untuknya sampai dengan hari kiamat.”
Didalam periwayat Hadits ini, ada yang bernama ‘Ubadah bin Suhaib, dan orang tersebut adalah tertuduh sebagai Pemalsu Hadits. Imaam Al Bukhoory, Imaam An Nasaa’i رحمهم الله berkata bahwa orang tersebut ditinggalkan oleh para perawi Hadits. Dan Imaam An Nawaawy رحمه الله mengatakan bahwa Hadits tersebut adalah tidak ada asalnya, maka jelaslah bahwa itu adalahHadits Palsu (Maudhuu’).
c) Hadits Palsu yang mengatakan bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda, “Ya Allooh, jadikanlah siwak (sikat gigi)-ku ini bagian daripada ridha-Mu terhadapku.”
d) Hadits Palsu yang mengatakan bahwa Sholat dengan ber-siwak itu lebih baik daripada 70 kali Sholat.
Hadits ini Palsu, karena kalau ada orang yang meyakini bahwa Sholat dengan bersiwak lalu Sholat-nya itu menjadi lebih baik daripada 70 kali Sholat, maka bisa saja ia memiliki pemahaman yang keliru bahwa Sholat saja sekali dengan bersiwak, maka itu cukup untuk menggantikan 70 kali sholat berikutnya, sehingga tidak sholat 70 kali pun tidak mengapa asal sudah sholat sekali dengan bersiwak. Ini adalah pemahaman yang sesat.
Jadi sebetulnya keyakinan terhadap Hadits Palsu tersebut mempunyai dampak negatif yang sangat besar, karena orang bisa menjadi salah dan keliru dalam memahaminya. Disatu sisi, mereka bisa menjadi berlebihan didalam memahami perkara bersiwak, dan disisi lain mereka bisa menganggap enteng perkara Sholat. Oleh karena itu Imaam Ibnu Ma’iin رحمه الله, beliau adalah seorang Ahli Hadiits yang mengkritisi Hadits-Hadits dan merupakan salah seorang ‘UlamaAhlus Sunnah Wal Jamaa’ah yang sangat dihormati dikalangan para ‘Ulama Ahli Hadits, menyatakan bahwa, “Hadits yang mengatakan bahwa Sholat dengan bersiwak itu lebih baik dari 70 kali Sholat adalah Baathil.”
Padahal Hadits-Hadits yang Shohiih berkenaan dengan masalah Siwak adalah sebagai berikut:
Hadits Shohiih Riwayat Imaam Muslim no: 612, dari Shohabat Abu Hurairoh رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda,
لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ – وَفِى حَدِيثِ زُهَيْرٍ عَلَى أُمَّتِى – لأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صَلاَةٍ
Artinya:
“Kalaulah sekiranya aku tidak (khawatir) memberatkan ummatku, niscaya kuperintahkan mereka bersiwak setiap kali akan sholat.”
Dan Hadits Shohiih Riwayat Imaam Muslim no: 613, dari Shohabat Al Miqdam bin Syuraih, dari bapaknya رضي الله عنهما, ia berkata,
سَأَلْتُ عَائِشَةَ قُلْتُ بِأَىِّ شَىْءٍ كَانَ يَبْدَأُ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا دَخَلَ بَيْتَهُ قَالَتْ بِالسِّوَاكِ
Artinya:
“Aku bertanya kepada ‘Aa’isyah رضي الله عنها, “Perbuatan apa yang Nabi صلى الله عليه وسلم lakukan apabila hendak masuk rumahnya?”
Jawab ‘Aa’isyah رضي الله عنها, “Bersiwak.”
Juga Hadits Shohiih Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 245 dan Imaam Muslim no: 616, dari Shohabat Hudzaifah رضي الله عنه. Beliau berkata,
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ مِنْ اللَّيْلِ يَشُوصُ فَاهُ بِالسِّوَاكِ
Artinya:
“Adalah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم apabila bangun (malam) hendak sholat tahajjud, beliau membersihkan mulutnya dengan siwak.”
7. Termasuk kekeliruan atau Bid’ah bila seseorang meyakini terhadap Hadits Palsu seperti, “Wudhu’ diatas Wudhu’ adalah Cahaya diatas Cahaya.”
Kata Imaam Al ‘Irooqi رحمه الله, salah seorang ‘Ulama Ahlus Sunnah Wal Jamaa’ah dari Madzab Syaafi’iy, beliau رحمه الله berkata, “Aku tidak pernah menemukan Hadits seperti itu.”
Al Imaam Al ‘Irooqi رحمه الله adalah termasuk ‘Ulama Ahlus Sunnah Wal Jamaa’ah yang menulis Kitab berkenaan dengan ‘Ilmu Mushtalahul Hadiits, dan beliau adalah ‘Ulama Ahli Hadiits yang telah men-takhrij Kitab ‘Ihya ‘Uluumuddiin yang 4 jilid tersebut, dan Imaam Al ‘Irooqi رحمه الله mengatakan bahwa dari sekian persen Hadits-Hadits yang dipakai oleh Imaam Al Ghodzaali yang terbanyak adalah Hadits Dho’iif (Lemah) dan Hadits Maudhuu’ (Palsu). Oleh karena itu, apabila kaum muslimin masih awam terhadap ‘Ilmu Hadits, hendaknya bila ia membaca Kitab ‘Ihya ‘Uluumuddiin maka carilah Kitab ‘Ihya ‘Uluumuddiin yang telah di-takhrij hadits-haditsnya (telah dikritisi oleh para ‘Ulama Ahlul Hadiits). Itu yang lebih selamat, agar ia tidak terjatuh dalam beramal dan berkeyakinan dengan apa-apa yang tergolong kedalam Hadits Lemah dan Hadits Palsu, karena keawamannya terhadap ‘Ilmu Hadits.
8. Hadits Palsu yang mengatakan, “Sela-selailah jari-jemarimu bila kalian ber-Wudhu’. Jika kalian lakukan hal itu, maka kalian tidak akan tersentuh api neraka kelak di hari Kiamat.”
Hadits tersebut, maknanya bisa kita terima, namun Riwayat Hadits tersebut adalah Palsu (Maudhuu’). Hadits tersebut sangat Waahin (sangat jatuh) dan tidak perlu didengar, karena tidak berasal dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
9. Hadits Palsu yang mengatakan bahwa, “Barangsiapa yang membaca “Innaa anzalnaahu fii lailatil qadr” (Surat Al Qadr) ketika selesai ber-Wudhu’, satu kali saja, maka orang tersebut akan dicatat sebagai orang yang benar seperti Abu Bakar As Siddiq . Barangsiapa yang membacanya dua kali, maka orang tersebut termasuk golongan orang yang mati syahid. Barangsiapa yang membacanya tiga kali, maka di hari Kiamat ia akan dibangkitkan termasuk kelompok para Nabi.”
Hadits Palsu tersebut dijelaskan oleh Imaam Ad Dailamy رحمه الله didalam Kitabnya yang membahas tentang Hadits-Hadits Lemah dan Palsu.
Ketahuilah, bahwa Hadits-Hadits yang dibahas oleh Imaam Ad Dailamy, Imaam Abu Asy Syaikh dan Imaam Ibnul Jauzy رحمهم الله adalah sangat rentan palsunya, karena ketiga ‘UlamaAhlus Sunnah Wal Jamaa’ah tersebut adalah ‘Ulama yang spesialisasinya adalah menjabarkan Hadits-Hadits Palsu (Maudhuu’) dan Lemah (Dho’iif). Seperti Imaam Ibnul Jauzi رحمه الله, beliau menulis 3 jilid Kitab, yang seluruh Hadits yang ada didalam Kitabnya itu adalah Palsu. Oleh karena itu berhati-hatilah, apabila ada suatu Hadits yang telah dibahas didalam Kitab-Kitab Imaam Ad Dailamy, Imaam Abu Asy Syaikh dan Imaam Ibnul Jauzy رحمهم الله.
Sebagaimana dikatakan oleh Al Imaam Jalaaluddin As Suyuuthi رحمه الله, seorang ‘UlamaAhlus Sunnah Wal Jamaa’ah dari Madzab Syaafi’iy, beliau رحمه الله menjelaskan bahwa didalam sanadnya ada orang yang bernama Abu ‘Ubaidah dan orang tersebut adalah Majhuul (tidak diketahui atau tidak dikenal orang). Padahal setiap Perawi Hadiits itu dikenal oleh para ‘UlamaAhlus Sunnah Wal Jamaa’ah, dan Kitab yang membahasnya adalah khusus, ‘ilmunya khusus, yakni disebut ‘Ilmur Rijaal Al Hadiits (‘Ilmu tentang Perawi Hadiits). Mereka yang mengaku sebagai Perawi Hadiits akan terdeteksi, siapa yang meriwayatkan kepada siapa, haditsnya apa saja, kapan diriwayatkannya, semua akan terdeteksi dan diketahui (bahkan lebih canggih dibandingkan komputer).
Masalah Mandi Wajib
Sebelum menjelaskan tentang perkara-perkara apa saja yang tergolong Bid’ah dalam masalah Mandi Wajib, maka kita mulai terlebih dahulu dengan menjelaskan secara ringkas Hadits Shohiihtentang Mandi Wajib yang sesuai dengan Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Mandi Wajib sesuai dengan Sunnah Rosuululloohصلى الله عليه وسلم secara lebih detailnya insya Allooh akan dibahas dalam kajian tersendiri di lain kesempatan.
Dalam Hadits Shohiih Riwayat Imaam Muslim no: 744, dari ‘Aa’isyah رضي الله عنها, ia berkata,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا اغْتَسَلَ مِنَ الْجَنَابَةِ يَبْدَأُ فَيَغْسِلُ يَدَيْهِ ثُمَّ يُفْرِغُ بِيَمِينِهِ عَلَى شِمَالِهِ فَيَغْسِلُ فَرْجَهُ ثُمَّ يَتَوَضَّأُ وُضُوءَهُ لِلصَّلاَةِ ثُمَّ يَأْخُذُ الْمَاءَ فَيُدْخِلُ أَصَابِعَهُ فِى أُصُولِ الشَّعْرِ حَتَّى إِذَا رَأَى أَنْ قَدِ اسْتَبْرَأَ حَفَنَ عَلَى رَأْسِهِ ثَلاَثَ حَفَنَاتٍ ثُمَّ أَفَاضَ عَلَى سَائِرِ جَسَدِهِ ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ
Artinya:
“Adalah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم apabila mandi janabah memulai dengan mencuci kedua tangannya, kemudian menuangkan (air) dengan tangan kanannya ke atas tangan kirinya, lalu mencuci kemaluannya kemudian ber-Wudhu’, sebagaimana Wudhu’-nya untuk sholat, kemudian mengambil air (dengan tangannya), lalu memasukkan jari-jari tangannya ke pangkal rambut hingga apabila ia melihat sudah tersentuh air semua pangkal rambutnya, ia menuangkan air ke atas kepalanya tiga kali siraman dengan kedua telapak tangannya, kemudian menyiramkan air ke sekujur tubuhnya, lalu membasuh kedua kakinya.”
Dalam Hadits Shohiih Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 273, dari Maimunah رضي الله عنها, ia berkata,
وَضَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَضُوءًا لِجَنَابَةٍ فَأَكْفَأَ بِيَمِينِهِ عَلَى شِمَالِهِ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا ثُمَّ غَسَلَ فَرْجَهُ ثُمَّ ضَرَبَ يَدَهُ بِالْأَرْضِ أَوْ الْحَائِطِ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا ثُمَّ مَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ وَغَسَلَ وَجْهَهُ وَذِرَاعَيْهِ ثُمَّ أَفَاضَ عَلَى رَأْسِهِ الْمَاءَ ثُمَّ غَسَلَ جَسَدَهُ ثُمَّ تَنَحَّى فَغَسَلَ رِجْلَيْهِ قَالَتْ فَأَتَيْتُهُ بِخِرْقَةٍ فَلَمْ يُرِدْهَا فَجَعَلَ يَنْفُضُ بِيَدِهِ
Artinya:
“Aku pernah menuangkan air untuk Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم untuk dipakai mandi janabah (dan aku menabirinya). Beliau صلى الله عليه وسلم lalu membasuh kedua tangannya dua atau tiga kali, kemudian menuangkan air (dengan tangan kanannya) atas tangan kirinya, lalu beliau صلى الله عليه وسلم membasuh kemaluan dan apa-apa yang ada disekitarnya yang terkena kotoran. Beliau صلى الله عليه وسلم lalu menggosok-gosokkan tangannya ke atas tanah (atau ke dinding) dua atau tiga kali (kemudian mencucinya), lalu berkumur-kumur, menghirup air ke hidungnya, membasuh wajah dan kedua tangannya, dan membasuh kepalanya tiga kali, kemudian menyiramkan air ke seluruh tubuhnya, lalu berdehem dan mencuci kedua kakinya. Lalu aku bawakan kain, tetapi beliau صلى الله عليه وسلم tidak menolaknya, kemudian beliau صلى الله عليه وسلم keringkan dengan tangannya.”
Juga Hadits Shohiih yang diriwayatkan oleh Imaam Muslim no: 770, dari Ummu Salamah رضي الله عنها, ia berkata,
قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّى امْرَأَةٌ أَشُدُّ ضَفْرَ رَأْسِى فَأَنْقُضُهُ لِغُسْلِ الْجَنَابَةِ قَالَ « لاَ إِنَّمَا يَكْفِيكِ أَنْ تَحْثِى عَلَى رَأْسِكِ ثَلاَثَ حَثَيَاتٍ ثُمَّ تُفِيضِينَ عَلَيْكِ الْمَاءَ فَتَطْهُرِينَ
Artinya:
“Aku pernah bertanya, “Ya Rosuulullooh, sesungguhnya aku adalah seorang perempuan yang mengikat kuat rambut kepalaku, lalu apakah aku harus membukanya untuk mandi janabat?”
Jawab beliau صلى الله عليه وسلم, “Tidak (harus), cukup bagimu menuangkan (air) diatas kepalamu tiga kali tuangan, kemudian engkau siramkan air keatas tubuhmu, dengan demikian kamu menjadi suci.
Bid’ah didalam Masalah Mandi Wajib
Kekeliruan (Bid’ah) yang harus kita ketahui berkenaan dengan masalah Mandi Junub adalah sebagai berikut:
1. Melafadzkan niat dengan mulut adalah termasuk Bid’ah.
Karena Niat itu adalah tempatnya didalam hati, bukan untuk dilafadzkan dengan mulut.
2. Merupakan suatu Bid’ah menganggap najis air bekas dipakai untuk mandi junub
Yang benar adalah bahwa air yang dipakai untuk ber-Wudhu’ ataupun mandi junub itu adalah tidak najis.
Dalam Hadits Shohiih Riwayat Imaam Muslim no: 755, dari ‘Aa’isyah رضي الله عنها, ia berkata,
مِنْ إِنَاءٍ وَاحِدٍ وَنَحْنُ جُنُبَانِ
Artinya:
“Dahulu aku sendiri dan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم (sering) mandi bersama dari satu bak, sedangkan kami berdua dalam keadaan junub.”
Dari Hadits ini pula diketahui tentang bolehnya suami istri mandi bersama didalam satu kamar mandi, yang masing-masing melihat aurot pasangannya.
3. Merupakan suatu Bid’ah menganggap bahwa orang yang masih junub dan tidak mandi junub akan mendapat kutukan
Hal ini tidak benar, karena tidak ada hadits shohiih yang menyatakan seperti itu.
4. Merupakan suatu Bid’ah bila menganggap bahwa wanita yang junub itu hendaknya menggunakan ‘Ajin (adonan)
Walaupun di Indonesia ‘Ajin ini tidak begitu dikenal, meskipun demikian perlu diketahui bahwa tidak ada hadits shohiih yang dapat digunakan sebagai landasan terhadap anggapan yang seperti itu.
5. Merupakan suatu Bid’ah bila menganggap bahwa bagi wanita yang sedang junub atau haid, rambutnya tidak boleh jatuh. Kalau jatuh, maka rambutnya harus ikut serta dimandikan junub
Perkara ini sama sekali tidak ada landasan yang shohiih tentangnya. Oleh karena itu, janganlah dipercayai dan jangan pula diamalkan.
Masalah Adzan
Sunnahnya didalam masalah Adzan adalah sebagaimana dijelaskan dalam beberapa Hadits berikut ini:
Dalam Hadits Shohiih Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 611 dan Imaam Muslim no: 874, dari Shohabat Abu Saa’id رضي الله عنه, bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda,
إِذَا سَمِعْتُمْ النِّدَاءَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ الْمُؤَذِّنُ
Artinya:
“Apabila kamu mendengar panggilan (adzan). Maka ucapkanlah seperti yang diucapkan muadzin!”
Dan dalam Hadits Shohiih Riwayat Imaam Muslim no: 876, dari Shohabat Umar bin Khoththoob رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda,
إِذَا قَالَ الْمُؤَذِّنُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ. فَقَالَ أَحَدُكُمُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ. ثُمَّ قَالَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ. قَالَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ثُمَّ قَالَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ. قَالَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ. ثُمَّ قَالَ حَىَّ عَلَى الصَّلاَةِ. قَالَ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ. ثُمَّ قَالَ حَىَّ عَلَى الْفَلاَحِ. قَالَ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ. ثُمَّ قَالَ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ. قَالَ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ. ثُمَّ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ. قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ. مِنْ قَلْبِهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ
Artinya:
“Apabila muadzin mengucapkan “Alloohu Akbar, Alloohu Akbar”, lalu seorang diantara kamu mengucapkan (juga) “Alloohu Akbar, Alloohu Akbar”.
Kemudian muadzin mengucapkan “Asyhadu allaa Ilaaha Illallooh”, ia mengucapkan (juga) “Asyhadu allaa Ilaaha Illallooh”.
Kemudian muadzin mengucapkan “Asyhadu anna Muhammadur Rosuulullooh”, ia mengucapkan (juga) “Asyhadu anna Muhammadur Rosuulullooh”.
Kemudian muadzin mengucapkan “Hayya ‘alas sholaah”, maka ia mengucapkan “Laa haulaa walaa quwwata illaa billaah (tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allooh)”.
Kemudian muadzin mengucapkan “Hayya alal falaah”, ia mengucapkan “Laa haulaa walaa quwwata illaa billaah”.
Kemudian muadzin mengucapkan “Alloohu Akbar, Alloohu Akbar”, ia mengucapkan (juga) “Alloohu Akbar, Alloohu Akbar”.
Kemudian muadzin mengucapkan “Laa Ilaaha Illallooh”, ia mengucapkan (juga) “Laa Ilaaha Illallooh” dari lubuk hatinya, maka pasti ia masuk surga.”
Juga dalam Hadits Shohiih Riwayat Imaam Muslim no: 875, dari Shohabat ‘Abdullooh bin ‘Amr رضي الله عنه, bahwa ia mendengar Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:
إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَىَّ فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَىَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا ثُمَّ سَلُوا اللَّهَ لِىَ الْوَسِيلَةَ فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِى الْجَنَّةِ لاَ تَنْبَغِى إِلاَّ لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ فَمَنْ سَأَلَ لِىَ الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ
Artinya:
“Apabila kamu mendengar muadzin, maka ucapkanlah seperti yang diucapkannya. Kemudian bersholawatlah kepadaku, karena barangsiapa yang bersholawat sekali kepadaku, maka Allooh membalasnya sepuluh kali kepadanya, kemudian mintalah kepada Allooh untukku wasilah, karena sungguh ia adalah kedudukan yang tinggi di surga yang tidak patut (diraih) kecuali oleh seorang hamba dari kalangan hamba-hamba Allooh. Dan aku berharap akulah orangnya. Maka barangsiapa yang memohon wasilah kepada Allooh untukku, niscaya ia berhak mendapatkan syafa’at.”
Lalu dalam Hadits Shohiih Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 614 , dari Shohabat Jaabir رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda,
مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ النِّدَاءَ اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ حَلَّتْ لَهُ شَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Artinya:
“Barangsiapa yang ketika (usai) mendengar panggilan (adzan) mengucapkan, “Alloohumma Robba haadziihid da’watit tammah, washsholaatil qoo-imah aati Muhammadanil wasiilata wal fadhiilah wab’atshu maqomam mahmudanil ladzii wa adtah” (Ya Allooh, Robb Pemilik panggilan yang sempurna dan sholat yang akan dilaksanakan ini, berikanlah kepada Muhammad wasilah dan keutamaan, dan bangkitkanlah beliau pada kedudukan yang terpuji yang Engkau janjikan padanya). Maka ia berhak mendapatkan syafa’atku pada hari Kiamat.”
Dan dianjurkan bagi setiap muslim untuk memperbanyak do’a antara adzan dengan iqomah, karena do’a pada waktu itu mustajab (terkabul).
Dari Anas bin Maalik رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
الدعوة بين الأذان والإقامة لا ترد فادعوا
Artinya:
“Tidak ditolak doa (yang dipanjatkan) antara adzan dan iqomah.”
(Hadits Riwayat Imaam Ibnu Huzaimah no: 427, dalam Shohiih-nya yang menurut Syaikh Al A’dzhomii berkata bahwa Sanadnya Hadits ini Shohiih).
Bid’ah Berkaitan dengan Masalah Adzan
Ada beberapa Bid’ah berkenaan dengan masalah Adzan:
1. Merupakan perkara Bid’ah menambahkan kata “Sayyidinaa” atau “Habiibina” pada kalimat “Asyhadu anna Muhammadur Rosuulullooh”.
Penambahan kata demikian adalah tidak ada contoh dan tuntunannya dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
2. Merupakan perkara Bid’ah mengumandangkan adzan dengan melagukannya sambil meliuk-liukkan suara
Adzan itu dikumandangkan adalah agar kaum muslimin mendapatkan seruan bahwa ia dipanggil untuk sholat. Bila adzannya dikumandangkan dengan lagu yang sederhana, maka itu adalah Jaiz(Boleh). Tetapi bila adzannya dikumandangkan dengan lagu sambil meliuk-liukkan suara kesana kemari, maka itu adalah termasuk Bid’ah. Dan jangan menanyakan bagaimana dengan adzannya di Mekkah dan Madinah, karena bukan berarti adzan yang disana itu menjadi suatu daliil.
Para ‘Ulama Ahlus Sunnah Wal Jamaa’ah dan para Masyaikh di Madinah pun sudah menjelaskan didalam majlis-majlis ta’lim mereka, sesuai dengan kemampuan mereka, bahwa adzan dengan cara meliuk-liukkan suara itu tidak boleh. Sebagaimana dijelaskan oleh para Masyaikh, maka Adzan mad yang terpanjang adalah 9 sampai 12 saja. Tidak boleh lebih dari itu. Adzan yang Sunnah adalah Adzan yang memanggil kaum muslimin untuk sholat, bukan adzan yang dilagukan secara berlebih-lebihan.
Dan juga merupakan suatu kekeliruan adalah ketika kaum muslimin mendengar suara Adzan, mereka tidak menghiraukannya. Mereka tetap asyik dengan kegiatannya. Padahal seharusnya kaum muslimin yang mendengar seruan Adzan, segera menghentikan kegiatannya dan bergegas ke masjid (terutama yang laki-laki) untuk menunaikan sholat berjama’ah.
3. Merupakan perkara Bid’ah memberikan tambahan kalimat “Addarajaatarrofii’ah”, ketika berdo’a setelah Adzan.
Menambah-nambah sesuatu dan mengurang-ngurangi sesuatu dalam urusan dien adalah Bid’ah. Oleh karena itu penambahan kata “Addarajaatarrofii’ah” yang dilakukan di TV-TV atau Radio-Radio adalah perkara yang menyalahi Sunnah.
Imaam Al Qorri dalam Kitab Mirqoot As Su’uud mengatakan, “Adapun tambahan lafadzAddarajaatarrofii’ah yang terkenal pada mulut-mulut kaum muslimin itu, dikatakan oleh Imaam Al Bukhoory رحمه الله: “Aku tidak pernah menemukan riwayat itu”.”
Kalau yang mengatakannya Imaam Al Bukhoory رحمه الله, maka tidak diragukan lagi, dan bukan merupakan perkara yang sepele; karena beliau رحمه الله adalah Amiirul Mu’miniina Fil Hadiits.
Sehingga bila Imaam Al Bukhoory telah menyatakan bahwa beliau tidak pernah menemukan riwayat yang seperti itu, maka berarti penambahan kata “Addarajaatarrofii’ah” didalam do’a setelah Adzan itu adalah Palsu dan Baathil.
4. Merupakan perkara Bid’ah memberikan penambahan kalimat “Innaka laa tukhliful mii’aad” pada do’a sesudah Adzan.
Penambahan kalimat tersebut yang dilakukan oleh para Ahlul Bid’ah adalah bagian dari sikapJaahil mereka terhadap dien ini. Karena menambah-nambah suatu kalimat yang tidak ada contoh dan tuntunannya dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, adalah merupakan Bid’ah dan Bid’ah itu adalahdholaalah (sesat).
5. Merupakan perkara Bid’ah bahwa orang yang selesai mengumandangkan Adzan, lalu ia meniupkan dua ibu jarinya, dstnya
Tidak ada ajaran demikian dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
6. Merupakan perkara Bid’ah mengumandangkan Adzan didalam suatu masjid, dengan dilakukan oleh 2 atau 7 orang sekaligus bersama-sama seperti suatu koor
Tidak ada ajaran demikian dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
7. Merupakan perkara Bid’ah yakni sebelum mengumandangkan Adzan, mereka (para Ahlul Bid’ah) mengumandangkan terlebih dahulu Sholawatan, bacaan Al Qur’an, do’a bangun tidur (“Alhamdulillaahil ladzii ahyaanaa ba’damaa amaatanaa wa ilaihin nusyuur”) dll, ataupun sya’ir-sya’ir dari kalangan Sufi seperti “Robbi lastu lil firdausi ahlaa walaa aqwa ‘alaa naaril jahiimi. Fahablii taubatan waghfir dzunuubii, fa innaka ghoofirudz dzanbil ‘adziimi” dsbnya; yang dilakukan dengan menggunakan mikrofon atau pengeras suara.
Apalagi dengan menyetel kaset pengajian keras-keras sebelum Adzan Shubuh, yang justru mengganggu kekhusyu’an orang-orang yang sedang melaksanakan sholat Tahajjud ataupun Sholat Witir. Semua itu merupakan Bid’ah, sama sekali tidak ada tuntunan dan ajarannya dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
Hal ini telah dibahas panjang lebar dalam kajian lalu tentang “Etika Berdo’a kepada Allooh سبحانه وتعالى (‘Aadaabud Du’a)” dan “Etika Berdzikir kepada Allooh سبحانه وتعالى (‘Aadab Dzikri)”.
8. Merupakan Perkara Bid’ah, memberikan ketentuan dimana Adzan Sholat Jum’at itu harus dilakukan didepan Khotib
Tidak ada ajaran demikian dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
9. Merupakan Perkara Bid’ah, memberikan ketentuan adanya serah terima jabatan atau tongkat dari Muadzin kepada Khotib
Tidak ada ajaran demikian dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
10. Merupakan Perkara Bid’ah meladzimkan pembacaan Hadits yang melarang Jamaa’ah Jum’at berbicara disaat khutbah dilaksanakan
Hadits yang melarang jamaa’ah Jum’at berbicara dikala khutbah sedang dilaksanakan adalah:
عن أَبَي هُرَيْرَةَ أَخْبَرَهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَنْصِتْ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ فَقَدْ لَغَوْتَ
Artinya:
Dari Abu Hurairoh رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda, “Jika kamu katakan pada temanmu pada hari Jum’at Perhatikanlah, sedang Imaam dalam keadaan khutbah, maka kamu telah berbuat lalai (Idzaa kulta lishoohibika yaumal jumu’ati wal imaamu yakhtubu faqod laghout).”
(Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 634 dan Imaam Muslim no: 2002, dari Shohabat Abu Hurairoh رضي الله عنه)
Membaca Hadits tersebut sekedar sebagai suatu pengajaran, diucapkannya sesekali atau dua kali saja adalah Jaiz (boleh). Tetapi menjadikannya rutin untuk dibaca setiap kali sholat atau khutbah Jum’at adalah merupakan Bid’ah dan tidak boleh dilakukan. Kalau itu merupakan suatu pengajaran bagi ummat, maka bahaslah di majlis-majlis Ta’lim, diluar waktu sholat Jum’at.
Demikianlah berbagai perkara Bid’ah yang berhubungan dengan masalah Wudhu’, Mandi Wajib dan Adzan. Hendaknya kaum muslimin menjauhi dan meninggalkan perkara-perkara Bid’ah tersebut dan kembalikanlah segalanya kepada Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
TANYA JAWAB
Pertanyaan:
1. Mengenai Sholat Sunnah Wudhu’, apakah memang ada haditsnya, karena ada yang berpendapat bahwa tidak ada Sholat Sunnah Wudhu’, seperti misalnya Imaam Ghodzali?
2. Mengenai Iqomat, berapa jarak waktu antara Adzan dan Iqomat yang biasa dilakukan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. dan bagaimana cara melakukan Iqomat tersebut, apakah cukup dengan diucapkan biasa, ataukah harus dengan suara keras seperti suara Adzan?
Jawaban:
1. Tentang Sholat Sunnah Wudhu’, saya tekankan sekali lagi bahwa tidak perlu terpaku dengan penamaan Sholat Sunnah Wudhu’.
Hadits yang meriwayatkan kepada kita tentang adanya sholat 2 roka’at setelah ber-Wudhu’, riwayatnya Shohiihah, yakni:
Hadits Shohiih Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 159 dan Imaam Muslim no: 561, dari Shohabat ‘Utsman bin Affan رضي الله عنه, beliau berkata, “Aku pernah melihat Nabiصلى الله عليه وسلم ber-Wudhu’ seperti Wudhu’ku ini, seraya bersabda,
مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ لَا يُحَدِّثُ فِيهِمَا نَفْسَهُ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Artinya:
“Barangsiapa yang ber-Wudhu’ seperti Wudhu’ku ini, kemudian berdiri lalu ruku’ dua roka’at dengan ikhlas dn khusyu’, niscaya diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu.”
Dan juga Hadits Shohiih Riwayat Imaam Al Bukhoory:1149 dan Imaam Muslim no: 6478, dari Shohabat Abu Hurairoh رضي الله عنه, bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم bertanya kepada Bilal رضي الله عنه usai sholat Shubuh,
يَا بِلَالُ حَدِّثْنِي بِأَرْجَى عَمَلٍ عَمِلْتَهُ فِي الْإِسْلَامِ فَإِنِّي سَمِعْتُ دَفَّ نَعْلَيْكَ بَيْنَ يَدَيَّ فِي الْجَنَّةِ قَالَ مَا عَمِلْتُ عَمَلًا أَرْجَى عِنْدِي أَنِّي لَمْ أَتَطَهَّرْ طَهُورًا فِي سَاعَةِ لَيْلٍ أَوْ نَهَارٍ إِلَّا صَلَّيْتُ بِذَلِكَ الطُّهُورِ مَا كُتِبَ لِي أَنْ أُصَلِّيَ
Artinya:
“Ya Bilal, beritahukan kepadaku suatu amalan yang paling memberi harapan yang engkau kerjakan dalam Islam, karena sesungguhnya aku mendengar suara kedua alas kakimu di hadapanku di surga?”
Jawab Bilal رضي الله عنه, “Tidak ada amalan yang lebih kuharapkan (kecuali) bahwa setiap kali aku selesai bersuci baik pada waktu malam ataupun siang, pasti aku selalu sholat seberapa kemampuanku untuk sholat.”
Tentang sholatnya itu akan disebut sebagai apa; apakah sebagai Sholat Sunnah Wudhu’ atau Sholat Sunnah Selesai Wudhu’, tidak perlu terpaku pada penamaan tersebut karena pada dasarnya hanyalah dijelaskan pada Hadits-Hadits diatas adanya sholat setelah melakukan Wudhu’. Dan itu tidak terpaku pada waktu sholat.
Kapan saja kita ber-Wudhu’, boleh kita lakukan Sholat Sunnah itu, selama berada dalam waktu-waktu yang dibolehkan untuk sholat.
2. Tentang Iqomat, bagi pihak yang mengelola Masjid hendaknya mempunyai kebijakan tentang rentang waktu yang cukup antara Adzan dan Iqomat, dengan tujuan untuk memberikan kesempatan bagi jamaa’ah bersiap-siap sholat. Tentang rentang waktu itu memang tidak didapati batasan jelasnya, hanya saja kebijakan pihak masjid adalah untuk memperoleh faidah sebagaimana disebutkan diatas.
Contohnya: apabila waktu sholat Shubuh, karena waktu sholat agak lapang (panjang), maka Iqomat boleh agak dilambatkan, misalnya diberi waktu 15 menit sesudah Adzan dikumandangkan. Waktu Dzuhur juga termasuk waktu yang lapang, apabila dalam suasana yang memungkinkan orang itu baru saja datang dari kerja atau dalam suasana udara yang panas, sehingga sunnahnya boleh agak diundurkan.
Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda,
إِذَا اشْتَدَّ الْحَرُّ فَأَبْرِدُوا عَنْ الصَّلَاةِ فَإِنَّ شِدَّةَ الْحَرِّ مِنْ فَيْحِ جَهَنَّمَ
Artinya:
“Apabila kalian merasakan sangat panas, maka hendaknya dinginkan dulu dari menunaikan sholat sebab sangat panas itu adalah bagian dari hembusan jahannam.” (Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory no : 533, dari ‘Abdullooh bin ‘Umar رضي الله عنه)
Berarti ada tenggang waktu untuk Dzuhur. Demikian pula untuk waktu ‘Ashar juga agak lapang. Maka katakanlah sekitar 15 menit-an antara waktu Adzan dan Iqomat untuk sholat Shubuh, Dzuhur, ‘Ashar dan Isya’, guna memberikan keleluasaan bagi jamaa’ah untuk bersiap-siap sholat. Sementara untuk waktu Sholat Maghrib, karena waktu Maghrib itu sempit, maka sebentar saja rentang waktu antara Adzan dan Iqomatnya, katakanlah sekitar 5 menit.
Dan adanya rentang waktu yang cukup antara Adzan dan Iqomat itu juga untuk memberikan waktu bagi orang yang ingin melaksanakan Sholat Sunnah antara Adzan dan Iqomat, sebagaimana daliilnya dijelaskan dalam Hadits Shohiih Riwayat Imaam Al Bukhoory dan Imaam Muslim, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلَاةٌ ثَلَاثًا لِمَنْ شَاءَ
Artinya:
“Antara dua adzan ada sholat (3X), bagi yang mau.”
(Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 624 dan Imaam Muslim no: 1977, dari ‘Abdullooh bin Mughoffal Al Muzany رضي الله عنه)
Maksudnya antara Adzan dan Iqomat ada sholat Sunnah. Tidak perlu menyatakan itu dengan nama sholat sunnah Qobliyah ‘Ashar ataukah sholat sunnah Qobliyah Maghrib dan yang semisalnya, karena penamaan-penamaan sholat sunnah itu datangnya pada generasi-generasi belakangan, bukan dari zaman Shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Karena penjelasan didalam Hadits hanyalah ada sholat sunnah antara dua adzan (yakni Adzan dan Iqomat). Jadi niatnya adalah sholat sunnah antara dua Adzan.
Demikian pula penamaan sholat Tahiyyatul Masjid. Yang menamakan sholat Tahiyyatul Masjiditu bukanlah dilakukan pada zaman Shohabat Rosuululloohصلى الله عليه وسلم, melainkan pada generasi-generasi belakangan, setelah kaum muslimin bertanya: “Itu namanya sholat apa?”,maka supaya mudah disebutlah sebagai Sholat Tahiyyatul Masjid.
Kembali kepada bahasan kita tadi. Adapun, tentang kerasnya suara Iqomat, tidak perlu sampai keluar masjid, cukup terdengar didalam masjid saja. Mikrofon barulah digunakan apabila jamaa’ah sangat banyak jumlahnya, sehingga dikuatirkan orang yang berdiri di shaf paling belakang ataupun orang yang masih berada diluar masjid berkemungkinan tidak mendengar suara Iqomat tersebut. Bila jamaa’ahnya sedikit, maka tidak perlu menggunakan mikrofon untuk Iqomat, karena Iqomat itu fungsinya adalah untuk menyatakan siapnya mulai melakukan sholat bagi orang-orang yang telah hadir di masjid.
Berbeda dengan Adzan, yang menggunakan pengeras suara atau mikrofon, karena fungsinya adalah untuk memanggil kaum muslimin dari pekerjaan mereka ataupun rumah-rumah mereka supaya mereka datang ke masjid untuk sholat berjaama’ah.
Pertanyaan:
Ketika zaman Nabi Muhammad Rosuululloohصلى الله عليه وسلم, Wudhu’nya itu dengan air di kulah (kolam), sekarang dengan kran. Apakah itu termasuk Bid’ah?
Jawaban:
Tidak, karena kran air itu urusan teknologi, urusan duniawi. Bid’ah yang dilarang itu adalah yang ada didalam perkara dien. Penjelasan tentang masalah ini telah dibahas secara panjang lebar pada kajian tentang “Jenis dan Macam Bid’ah”.
Pertanyaan:
1. Apakah benar Adzan Shubuh itu harus dengan tambahan “Ashsholaatu Khoirum minannaum”?
2. Apakah ketika selesai Adzan, lalu Muadzin juga berdo’a dan yang mendengarkan juga berdo’a?
Jawaban:
1. Sebenarnya adalah merupakan Sunnah (kalau kita ingin melaksanakan sunnah ini) adanya 2 kali Adzan, yakni sebelum (menjelang Shubuh) dan pada saat Shubuh. Adzan yang pertama disebut Adzan Bilal dan Adzan kedua disebut Adzan Ibnu Ummi Maktum.
Adzan Bilal adalah Adzan pertama, waktunya katakanlah sekitar pukul 3 atau 4 WIB, tujuannya adalah untuk membangunkan kaum muslimin dan mengingatkan bagi yang ingin sholat Tahajjud, oleh karena itu lafadznya adalah “Ashsholaatu khoirum minannaum” (Sholat itu lebih baik daripada tidur). Maksudnya Sholat Tahajjud itu lebih baik daripada tidur.
Dalilnya adalah sebagaimana diriwayatkan dalam Hadits Shohiih oleh Imaam An Nasaa’i no: 633 :
عن أبي محذورة قال : لما خرج رسول الله صلى الله عليه و سلم … حي على الصلاة حي على الصلاة حي على الفلاح حي على الفلاح الصلاة خير من النوم الصلاة خير من النوم في الأولى من الصبح
Artinya:
“Dari Shohabat Abu Mahdzuuroh رضي الله عنه, berkata, “Nabi صلى الله عليه وسلم pernah mengajariku adzan yang didalamnya ada ucapan “Hayya ‘alal falaah, hayya ‘alaal falaah, ashsholaatu khoirum minannaum, ashsholaatu khoirum minannaum”, pada adzan shubuh pertama, “Alloohu Akbar, Alloohu Akbar, Laa Ilaaha Illallooh”.”
Juga dalam Hadits Shohiih Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 623 dan Imaam Muslim no: 2588, dari Shohabat Ibnu ‘Umar رضي الله عنه, bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:
إِنَّ بِلاَلاً يُؤَذِّنُ بِلَيْلٍ فَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى تَسْمَعُوا تَأْذِينَ ابْنِ أُمِّ مَكْتُومٍ
Artinya:
“Sesungguhnya Bilal biasa adzan di waktu malam, maka hendaklah kamu makan dan minum hingga Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan adzan.”
Nabi صلى الله عليه وسلم sudah menerangkan hikmah diadakannya dua kali adzan, yakni menjelang shubuh dan pada waktu shubuh itu dalam sabdanya:
لَا يَمْنَعَنَّ أَحَدَكُمْ أَذَانُ بِلَالٍ مِنْ سَحُورِهِ فَإِنَّهُ يُؤَذِّنُ أَوْ قَالَ يُنَادِي لِيَرْجِعَ قَائِمَكُمْ وَيُنَبِّهَ نَائِمَكُمْ وَلَيْسَ الْفَجْرُ
Artinya:
“Janganlah sekali-kali adzan Bilal mencegah salah seorang diantara kamu dari sahurnya, karena sesungguhnya ia memberitahu (atau ia berseru) di waktu malam agar orang yang biasa bangun malam diantara kamu kembali pulang (ke rumahnya) dan untuk membangunkan orang yang sedang tidur nyenyak diantara kamu, dan bukan fajar (bukan adzan shubuh).” (Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory no:7247 dan Imaam Muslim, dari Shohabat Ibnu Mas’uud رضي الله عنه)
Sedangkan pada Adzan Ibnu Ummi Maktum atau Adzan Kedua adalah tidak ada lagi lafadz : “Ashsholaatu khoirum minannaum”. Karena pada saat Adzan Kedua yakni Adzan untuk mengingatkan orang Sholat Shubuh, maka kaum muslimin itu seharusnya sudah bangun, jadi tidak perlu lagi mendapat peringatan bahwa “Sholat itu lebih baik daripada tidur”.
Namun, pelaksanaan Sunnah adanya Adzan dua kali ini perlu disesuaikan di masyarakat kita terlebih dahulu. Sudah kondusif atau belum untuk mereka? Sebab, bagi yang belum terbiasa mendengar adanya Adzan dua kali, ia malah akan kaget dan terheran-heran, kenapa pukul 3 atau 4 WIB sudah dikumandangkan Adzan? Padahal Adzan Pertama tersebut fungsinya adalah untuk membangunkan orang yang ingin sholat Tahajjud.
Oleh karena itu, apabila ingin melaksanakan Sunnah ini, hendaknya memberikan penjelasan dulu kepada masyarakat luas tentang Sunnah ini, agar masyarakat tidak bingung.
2. Berdo’a sesudah Adzan memang disunnahkan bagi Mu’adzin dan bagi yang mendengarnya. Hanya saja, Mu’adzin tidak perlu membaca do’a tersebut keras-keras dengan menggunakanspeaker, cukup untuk dirinya sendiri saja. Karena yang hendaknya dikumandangkan dengan suara keras itu hanyalah Adzannya saja.
Pertanyaan:
Bagaimanakah contoh niat Wudhu’ atau niat sholat yang diucapkan (dilafadzkan) dengan niat yang didalam hati? Mohon penjelasannya.
Jawaban:
Mudah saja, yaitu kita sadarkan hati kita bahwa ketika itu kita misalnya akan melaksanakan Wudhu’, lalu didalam hati kita meniatkannya “Ya Allooh, aku niat Wudhu’”. Sudah, mudah saja seperti itu. Allooh سبحانه وتعالى juga sudah tahu bahwa Wudhu’ itu maksudnya untuk mengangkat hadats kecil dsbnya, jadi tidak perlu lagi dilafadzkan secara lisan dengan mulut beserta penjelasannya. Tidak perlu.
Islam itu mudah, janganlah dipersulit. Justru kreatifitas para Ahlul Bid’ah menambah ini dan itu kedalam perkara dien; itulah yang membuat dienul Islam menjadi tertutupi kemudahan syari’atnya. Karena kreatifitas para Ahlul Bid’ah itulah yang membuat dienul Islam menjadi tampak sulit. Oleh karena itu, hendaknya kaum muslimin kembali kepada Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Islam itu mudah, janganlah ditambah ini dan itu sehingga menjadikannya tampak sulit.
Jadi ber-Wudhu’ itu, niatkan dalam hati ingin ber-Wudhu’, baca Bismillah, lalu langsung ber-Wudhu dengan tatacara yang disunnahkan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
Sedangkan untuk sholat, ketika sudah siap berdiri hendak memulai sholat, maka niatkan saja dalam hati, hendak melaksanakan sholat apa. Misal: niat dalam hati “Ya Allooh, aku niat sholat ‘Isya”. Sudah, seperti itu. Islam itu mudah. Jadi tidak perlu melafadzkan secara lisan dengan mulut “Usholli…..”. Tidak perlu. Karena secara syari’at, niat itu adalah pekerjaan hati.
Alhamdulillah, kiranya cukup sekian dulu bahasan kita kali ini, mudah-mudahan bermanfaat. Kita akhiri dengan Do’a Kafaratul Majlis :
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

DALIL GERAKAN SHOLAT

DALIL gerakan-sholat

DALIL GERAKAN SHOLAT SESUAI ALQURAN DAN SUNNAH
st. Achmad Rofi’i, Lc.M.Mpd

Sholat adalah amal perbuatan manusia yang pertama kali akan dihisab di hari Kiamat. Hal ini adalah sebagaimana dijelaskan dalam Hadits Riwayat Al Imaam Abu Daawud no: 864, dishohiihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany, dari Shohabat Abu Hurairoh رضي الله عنه dimana beliau berkata bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:
إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ النَّاسُ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ أَعْمَالِهِمْ الصَّلَاةُ قَالَ يَقُولُ رَبُّنَا جَلَّ وَعَزَّ لِمَلَائِكَتِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ انْظُرُوا فِي صَلَاةِ عَبْدِي أَتَمَّهَا أَمْ نَقَصَهَا فَإِنْ كَانَتْ تَامَّةً كُتِبَتْ لَهُ تَامَّةً وَإِنْ كَانَ انْتَقَصَ مِنْهَا شَيْئًا قَالَ انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ فَإِنْ كَانَ لَهُ تَطَوُّعٌ قَالَ أَتِمُّوا لِعَبْدِي فَرِيضَتَهُ مِنْ تَطَوُّعِهِ ثُمَّ تُؤْخَذُ الْأَعْمَالُ عَلَى ذَاكُمْ
Artinya:
“Sesungguhnya yang pertama kali akan dihisab dari amal perbuatan manusia pada hari kiamat adalah sholatnya. Robb kita ‘Azza wa Jalla berfirman kepada para malaikat-Nya -sedangkan Dia lebih mengetahui-, “Perhatikan sholat hamba-Ku, sempurnakah atau justru kurang?”
Sekiranya sempurna, maka akan dituliskan baginya dengan sempurna, dan jika terdapat kekurangan maka Allooh berfirman, “Perhatikan lagi, apakah hamba-Ku memiliki amalan sholat sunnah?”
Jikalau terdapat sholat sunnahnya, Allooh berfirman, “Sempurnakanlah kekurangan yang ada pada sholat wajib hamba-Ku itu dengan sholat sunnahnya.”
Kemudian semua amal manusia akan dihisab dengan cara demikian.”
Tentang sholat ini, kaum Muslimin diperintahkan untuk menegakkan sholat fardhu itu 5X sehari, namun tidak sedikit diantara kaum Muslimin yang belum mengetahui tata cara sholat yang sesuai tuntunan Rosuul-nya صلى الله عليه وسلم; padahal Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم telah bersabda, sebagaimana dalam Hadits Riwayat Al Imaam Al Bukhoory no: 631, dari Shohabat bernama Maalik bin Al Huwairits رضي الله عنه ketika beliau bersama rombongan 20 orang menginap 20 hari di Madinah untuk mempelajari tentang Islam dan selanjutnya agar diajarkan kepada kaumnya, lalu disela-sela itu Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda :
وَصَلُّوا كَمَا رَأَيتُمُوْنِي أُصَلِي
Artinya:
“Dan sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku sholat.”
Oleh karena itu hendaknya kaum Muslimin mengikuti gerakan-gerakan sholat sebagaimana yang dituntunkan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, karena itu adalah amalannya yang pertama kali akan dihisab di hari Kiamat.
Berikut ini akan diuraikan tentang Gerakan-Gerakan Sholat beserta dalil-dalilnya dari Al Quran dan As Sunnah; dimana hal ini berlaku bagi laki-laki maupun perempuan, sama saja.
1. SHOLAT DENGAN BERDIRI / DUDUK / BERBARING :
Apabila seseorang hendak memulai sholat, maka ia berdiri menghadap Kiblat atau kearah Kiblat, sebagaimana Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam QS. Al Baqoroh (2) ayat 238-239 :
حَافِظُواْ عَلَى الصَّلَوَاتِ والصَّلاَةِ الْوُسْطَى وَقُومُواْ لِلّهِ قَانِتِينَ ﴿٢٣٨﴾ فَإنْ خِفْتُمْ فَرِجَالاً أَوْ رُكْبَاناً فَإِذَا أَمِنتُمْ فَاذْكُرُواْ اللّهَ كَمَا عَلَّمَكُم مَّا لَمْ تَكُونُواْ تَعْلَمُونَ ﴿٢٣٩﴾
Artinya:
(238) “Peliharalah segala sholat-(mu), dan (peliharalah) sholat wusthoo. Berdirilah karena Allooh (dalam sholatmu) dengan khusyu`.
(239) Jika kamu dalam keadaan takut (bahaya), maka sholatlah sambil berjalan atau berkendaraan. Kemudian apabila kamu telah aman, maka sebutlah Allooh (sholatlah), sebagaimana Allooh telah mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.”
Apabila ia tidak sanggup untuk berdiri akibat suatu udzur (antara lain sakit, dan sebagainya) maka ia dapat sholat dengan duduk ataupun berbaring, sebagaimana dijelaskan dalam Hadits Riwayat Al Imaam Al Bukhoory no: 1117, dari Shohabat ‘Imron bin Hushoin رضي الله عنه, beliau berkata:
” كانت بي بَوَاسير، فسألت رسولَ الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ؟ فقال : ” صلِّ قائماً ، فإنْ لم تستطعْ ؛ فقاعداً ، فإن لم تستطعْ ؛ فعلى جنبٍ “
Artinya:
“Aku menderita wasir, maka aku bertanya pada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, kemudian beliau صلى الله عليه وسلم menjawab, “Sholatlah engkau dengan berdiri. Jika kamu tidak mampu maka duduklah. Dan jika kamu tidak mampu maka berbaringlah.”
2. MENGHADAP KIBLAT :

Jika seorang Muslim berada di kawasan atau belahan dunia dimana dia tidak memungkinkan untuk melihat Ka’bah, maka hendaknya dia mengetahui persisarah Kiblat, dimana dia harus mengarahkan sholatnya kearah Kiblat tersebut, sebagaimana dalam QS. Al Baqoroh (2) ayat 115 berikut ini:
وَلِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
Artinya:
“Dan kepunyaan Allooh-lah timur dan barat, maka ke manapun kamu menghadap di situlah wajah Allooh. Sesungguhnya Allooh Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui.”
Ayat ini ditafsirkan oleh Imaam Mujaahid رحمه الله, beliau berkata, “Dimanapun kalian berada, hadapkanlah wajah kalian pada Kiblat Allooh سبحانه وتعالى. Karena kalian memiliki Kiblat yang kalian berkiblat padanya, yaitu Ka’bah.” (Tafsir Imaam Ibnu Katsir Jilid I halaman 391)
Akan tetapi jika seorang Muslim sedang berada dihadapan Ka’bah, maka dia wajib menghadapkan tubuh dan wajahnya ke Ka’bah, sebagaimana Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam QS. Al Baqoroh (2) ayat 144 berikut ini:
قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاء فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنتُمْ فَوَلُّواْ وُجُوِهَكُمْ شَطْرَهُ وَإِنَّ الَّذِينَ أُوْتُواْ الْكِتَابَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِن رَّبِّهِمْ وَمَا اللّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ ﴿١٤٤﴾
Artinya:
“Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Robb-nya; dan Allooh sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.”
Juga sebagaimana dalam Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 6251 dan Imaam Muslim no: 397, dari Shohabat Abu Hurairoh رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلاَةِ فَأَسْبِغِ الْوُضُوءَ ثُمَّ اسْتَقْبِلِ الْقِبْلَةَ فَكَبِّرْ
Artinya:
“Jika kamu berdiri sholat, maka sempurnakanlah wudhu kemudian menghadaplah ke Kiblat, kemudian bertakbirlah.”
3. TAKBIIROTUL IHROM :
3.1. Membarengkan niat sholat dalam hati bersamaan (berdekatan dengan) gerakan Takbirotul Ihrom.
A) NIAT SHOLAT KARENA ALLOOH, DIDALAM HATI:
Adapun berkaitan dengan masalah Niat Sholat, maka sebagaimana dalam Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 1, dari Shohabat ‘Umar bin Khoththoob رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
Artinya:
“Sesungguhnya seluruh amalan itu (hendaknya) dibarengi oleh niat dan sesungguhnya setiap orang berhak mendapat dari apa yang diniatkannya.”
Artinya setiap orang yang hendak sholat, usahakan membarengkan niat sholatnya dengan awal sholatnya; dalam hal ini Takbiirotul Ihroom.
Dan tidak perlu melafadzkan “Usholli….” melalui mulutnya, akan tetapi niat tersebut cukup digerakkan dan disengajakan oleh hatinya bahwa dia akan sholat.

B) MENGANGKAT KEDUA TANGAN:
Mengangkat kedua tangan saat Takbiirotul Ihroom dijelaskan dalam Hadits Riwayat Imaam Abu Daawud no: 753 dan Imaam At Turmudzy no: 240, dari Shohabat Abu Hurairoh رضي الله عنه, dishohiihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ فِى الصَّلاَةِ رَفَعَ يَدَيْهِ مَدًّا
Artinya:
“Bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم jika memasuki sholat, maka beliau صلى الله عليه وسلم mengangkat kedua tangannya sembari menjulurkannya.”
3.2. Adapun posisi tangan saat Takbiirotul Ihrom, bisa dengan 2 pilihan cara:
C) MENGANGKAT KEDUA TANGAN HINGGA UJUNG JARI SEJAJAR BAHU:

Adapun posisi kedua tangan tersebut sejajar dengan bahu adalah dijelaskan dalam Hadits Riwayat Imaam Abu Daawud no: 722, dari Shohabat ‘Abdullooh bin ‘Umar رضي الله عنه, dishohiihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى تَكُونَ حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ
Artinya:
“Adalah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم jika berdiri sholat, beliau صلى الله عليه وسلمmengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan kedua bahunya.”
Juga beliau رضي الله عنه berkata,
رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا افْتَتَحَ الصَّلاَةَ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى يُحَاذِىَ مَنْكِبَيْهِ وَقَبْلَ أَنْ يَرْكَعَ وَإِذَا رَفَعَ مِنَ الرُّكُوعِ وَلاَ يَرْفَعُهُمَا بَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ
Artinya:
“Aku melihat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم apabila membuka sholat, maka beliau صلى الله عليه وسلم mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan kedua bahunya, dan ketika akan ruku,’ dan ketika bangun dari ruku’. Tetapi tidak mengangkat kedua tangannya diantara dua sujud.”
(Hadits Riwayat Imaam Muslim no: 390, dari Shohabat ‘Abdullooh bin ‘Umar رضي الله عنه)
D) MENGANGKAT KEDUA TANGAN HINGGA UJUNG JARI SEJAJAR KEDUA DAUN TELINGA:

Akan tetapi terdapat Hadits yang dikeluarkan oleh Ibnu Al Jaruud dalam Kitab “Al Muntaqo” no: 202, dari Waa’il bin Hujr رضي الله عنه. Bahwa beliau berkata:
لأنظرن الى صلاة رسول الله صلى الله عليه و سلم قال فلما افتتح الصلاة كبر ورفع يديه فرأيت إبهاميه قريبا من أذنيهوَذَكَرَ الْحَدِيثَ ، فَسَجَدَ فَوَضَعَ رَأْسَهُ بَيْنَ يَدَيْهِ عَلَى مِثْلِ مِقْدَارِهِمَا حِينَ افْتَتَحَ الصَّلاَةَ
Artinya:
“Sungguh aku melihat Sholat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dimana ketika beliau صلى الله عليه وسلمmembuka sholat, beliauصلى الله عليه وسلم bertakbir dan mengangkat kedua tangannya sehingga aku lihat kedua ibu jarinya dekat dengan kedua telinganya.”
Dan juga sebagaimana dalam Hadits Riwayat Imaam Ahmad no: 18869, dari Shohabat Waa’il bin Hujr رضي الله عنه, dishohiihkan oleh Syaikh Syu’aib Al Arna’uuth, bahwa beliau رضي الله عنه melihat:
رأيت رسول الله صلى الله عليه و سلم يرفع يديه حين افتتح الصلاة حتى حاذت إبهامه شحمة أذنيه
Artinya:
“Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم mengangkat kedua tangannya ketika membuka sholatsehingga kedua ibu jarinya sejajar dengan daun kedua telinganya.”
Jadi ada 2 pilihan bagi posisi mengangkat tangan tersebut, boleh sejajar dengan bahu, dan boleh pula sejajar dengan kedua daun telinga.
3.3. Posisi jari-jemari tangan tidak rapat dan tidak terlalu renggang (biasa saja).
3.4. Hadapkan telapak tangan kearah Kiblat.
3.5. Posisi tangan setelah Takbiirotul Ihroom :
A) MELETAKKAN TANGAN KANAN DIATAS TANGAN KIRI, DIATAS DADA
Setelah Takbir “Alloohu Akbar” usai, letakkanlah tangan kanan diatas tangan kiri, diatas dada.
Hal ini sebagaimana dalam Hadits Riwayat Imaam Ibnu Hudzaimah no: 479, dari Shohabat Waa’il bin Hujr رضي الله عنه, berikut ini:
صليت مع رسول الله صلى الله عليه وسلم ووضع يده اليمنى على يده اليسرى على صدره
Artinya:
“Aku sholat bersama Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dan beliau meletakkan tangan kanannya diatas tangan kirinya DIATAS DADANYA.”
B) 3 POSISI PELETAKAN TANGAN KANAN DIATAS TANGAN KIRI
Hal ini dilakukan dengan 3 pilihan cara, sesuai dengan kondisi kepadatan jama’ah sholat, sebagaimana dalam Hadits Riwayat Imaam Abu Daawud no: 727 dan Imaam Ahmad no: 18890, dari Shohabat Waa’il bin Hujr رضي الله عنه berikut ini:
ثم وضع يده اليمنى على كفه اليسرى والرسغ والساعد
Artinya:
“… Kemudian beliau (Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم) meletakkan tangan kanannyadiatas punggung telapak tangan kirinya dan atau pada pergelangan tangan kirinya dan atau pada punggung tangan kirinya…”
Bahkan terdapat dalam riwayat Al Imaam Al Bukhoory no: 740 dari Sahl bin Sa’adرضي الله عنه bahwa beliau رضي الله عنه berkata,
كَانَ النَّاسُ يُؤْمَرُونَ أَنْ يَضَعَ الرَّجُلُ الْيَدَ الْيُمْنَى عَلَى ذِرَاعِهِ الْيُسْرَى فِي الصَّلاَةِ
Artinya:
“Adalah orang-orang diperintahkan agar meletakkan tangan kanannya diatas siku tangan kirinya dalam sholat…”
Adapun meletakkan kedua tangan dibawah dada (di pusar / di pinggang sebelah kiri), maka semua itu adalah Haditsnya LEMAH.
B-1. Posisi telapak tangan kanan diatas telapak tangan kiri, saat sholat sendirian atau kondisi jamaah sholat longgar.

B-2. Posisi telapak tangan kanan menggenggam pergelangan tangan kiri, saat kondisi jamaah sholat agak padat.

B-3. Posisi telapak tangan kanan menggenggam punggung tangan kiri, saat kondisi jamaah sholat padat.

3.6. Tujukan pandangan mata kearah tempat sujud. Dan dilarang pandangan mata bergentayangan keatas – kebawah – kekiri dan kekanan.
ARAH MATA SAAT SHOLAT :
Imaam Muhammad bin Siriin رحمه الله berkata, “Para Shohabat mengangkat pandangan mereka ke langit dalam sholat. Akan tetapi ketika ayat ini (QS Al Mu’minuun (23) ayat 1-2) turun, maka mereka menundukkan pandangan mereka ke tempat sujud mereka.” (Tafsiir Imaam Ibnu Katsiir Jilid 5 halaman 461)
Berikut ini adalah firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. Al Mu’minuun (23) ayat 1-2 tersebut :
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ ﴿١﴾ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ ﴿٢﴾
Artinya:
(1) “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman,
(2) (yaitu) orang-orang yang khusyu` dalam sholatnya.”
Dan sebagaimana terdapat keterangan dari ‘Aa’isyah رضي الله عنها bahwa sebagaimana diriwayatkan oleh Imaam Al Haakim dalam Kitab “Al Mustadrok” no: 1761 dan kata beliau keterangan itu disebutnya sebagai Hadits yang Shohiih, memenuhi syarat Imaam Al Bukhoory dan Al Imaam Muslim, hanya saja mereka tidak mengeluarkannya; juga diriwayatkan oleh Al Imaam Al Baihaqy dalam “As Sunnan Al Kubro” no: 9726, dan syaikh Nashiruddin Al Albaany dalam “Sifat Sholat Nabi” Jilid 1 halaman 232 menyetujui penshohiihan keduanya. Bahwa ‘Aa’isyah رضي الله عنها mengagumi seorang Muslim ketika masuk Ka’bah mengangkat pandangannya kearah atap Ka’bah, berdoa sebagai bentuk pengagungan terhadap Allooh سبحانه وتعالى, lalu ketika itu Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم masuk, sedangkan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم tidak meninggalkan pandangannya dari tempat sujudnya sehingga dia keluar dari Ka’bah.
Syaikh Al ‘Utsaimiin رحمه الله menjelaskan dalam Syarah beliau terhadap Kitab Zaadul Mustaqni’Jilid 3 halaman 15, bahwa mengarahkan pandangan kearah tempat sujud adalah menjadi sikap kebanyakan ahlul ‘Ilmu.
Demikian pula Syaikh Nashiruddin Al Albaany رحمه الله dalam Kitab “Sifat Sholat Nabi” Jilid 1 halaman 233 mengatakan bahwa pendapat inilah yang benar dari madzab Hanafi; yaitu bahwa beliau menganjurkan agar seseorang yang sholat mengarahkan pandangannya ke tempat sujudnya, karena yang demikian itu adalah lebih dekat kepada khusyu’ dan itulah yang benar.
4. RUKUU’ :
Adapun ketika rukuu’, maka ikutilah tuntunan gerakan tangan dan tubuh sebagaimana berikut ini:
A) GERAKAN TANGAN KETIKA RUKUU’
Mengangkat kedua tangan hingga sejajar dengan kedua bahu, ketika bertakbir untuk rukuu’ dan ketika bangun dari rukuu’ adalah dijelaskan di dalam Hadits Riwayat Al Imaam Al Bukhoory no: 735 dan Imaam An Nasaa’I no: 1059, dari Shohabat ‘Abdullooh bin ‘Umar رضي الله عنه, bahwa:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ إِذَا افْتَتَحَ الصَّلَاةَ وَإِذَا كَبَّرَ لِلرُّكُوعِ وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ الرُّكُوعِ رَفَعَهُمَا
Artinya:
“Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan kedua bahunya ketika memulai sholat dan ketika bertakbir untuk rukuu’ dan ketika beliau صلى الله عليه وسلم bangun dari rukuu’.”
B) LETAK TANGAN DISAAT RUKUU’
Posisi jari-jari tangan setelahnya adalah berada di lutut (bukan di paha, dan bukan di betis)
Meletakkan kedua tangan tersebut diatas lutut tersebut adalah sesuai dengan Hadits Riwayat Imaam Abu Daawud no: 747, dan dishohiihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany, dari ‘Abdullooh bin ‘Umar رضي الله عنه, beliau berkata:
عَلَّمَنَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم الصَّلاَةَ فَكَبَّرَ وَرَفَعَ يَدَيْهِ فَلَمَّا رَكَعَ طَبَّقَ يَدَيْهِ بَيْنَ رُكْبَتَيْهِ قَالَ فَبَلَغَ ذَلِكَ سَعْدًا فَقَالَ صَدَقَ أَخِى قَدْ كُنَّا نَفْعَلُ هَذَا ثُمَّ أُمِرْنَا بِهَذَا يَعْنِى الإِمْسَاكَ عَلَى الرُّكْبَتَيْنِ
Artinya:
“Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم mengajari kami sholat, lalu beliau صلى الله عليه وسلم bertakbir dan mengangkat kedua tangannya, dan ketika rukuu’ beliau صلى الله عليه وسلم meletakkan kedua tangannya diatas lututnya.”
Dimana yang demikian itu dibenarkan oleh Sa’ad رضي الله عنه, dengan mengatakan, “Kami mengerjakan ini, kemudian kami diperintahkan dengan ini, yaitu memegang kedua lutut.”

C) KEADAAN TUBUH PADA SAAT RUKUU’
– Punggung harus rata

– Kepala tidak mendongak keatas dan tidak menunduk kebawah, melainkan harus lurus.

Hal ini adalah dijelaskan dalam dalil-dalil berikut ini:
Gerakan tubuh ketika rukuu’ adalah sebagaimana dalam Hadits Riwayat Al Imaam Muslim no: 1138, dari ‘Aa’isyah رضي الله عنها, bahwa beliau رضي الله عنها berkata:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَسْتَفْتِحُ الصَّلاَةَ بِالتَّكْبِيرِ وَالْقِرَاءَةَ بِ (الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ) وَكَانَ إِذَا رَكَعَ لَمْ يُشْخِصْ رَأْسَهُ وَلَمْ يُصَوِّبْهُ وَلِكَنْ بَيْنَ ذَلِكَ وَكَانَ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ لَمْ يَسْجُدْ حَتَّى يَسْتَوِىَ قَائِمًا وَكَانَ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ السَّجْدَةِ لَمْ يَسْجُدْ حَتَّى يَسْتَوِىَ جَالِسًا وَكَانَ يَقُولُ فِى كُلِّ رَكْعَتَيْنِ التَّحِيَّةَ وَكَانَ يَفْرِشُ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَيَنْصِبُ رِجْلَهُ الْيُمْنَى وَكَانَ يَنْهَى عَنْ عُقْبَةِ الشَّيْطَانِ وَيَنْهَى أَنْ يَفْتَرِشَ الرَّجُلُ ذِرَاعَيْهِ افْتِرَاشَ السَّبُعِ وَكَانَ يَخْتِمُ الصَّلاَةَ بِالتَّسْلِيمِ
Artinya:
“Adalah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم membuka sholat dengan Takbir dan membuka bacaan dengan “Alhamdulillaahirrobbil ‘aalamiin”. Dan jika beliau صلى الله عليه وسلم rukuu’, beliau صلى الله عليه وسلم tidak menengadahkan kepalanya keatas, akan tetapi tidak juga menundukkannya, tetapi diantara keduanya (rata). Dan jika beliau صلى الله عليه وسلمbangun dari rukuu’, beliau صلى الله عليه وسلم tidak langsung bersujud sehingga berdiri tegak terlebih dahulu. Dan apabila beliau صلى الله عليه وسلم mengangkat kepalanya dari sujud, belum sujud lagi sehingga duduk dengan lurus. Dan beliau صلى الله عليه وسلم pada setiap dua rokaat membaca Tahhiyyat dimana beliau menghamparkan kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya. Dan beliau صلى الله عليه وسلم melarang dari duduk syaithoon. Dan melarang seseorang menghamparkan kedua sikunya sebagaiman terkaman binatang buas. Dan beliau صلى الله عليه وسلمmenutup sholatnya dengan Salam.”
Dan beliau صلى الله عليه وسلم meratakan punggungnya pada saat rukuu’. Hal ini sebagaimana terdapat Hadits diriwayatkan oleh Imaam Ibnu Maajah no: 872, dishohiihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany dari Waabishoh bin Ma’bad رضي الله عنه, bahwa beliau berkata:
رأيت رسول الله صلى الله عليه و سلم يصلي . فكان إذا ركع سوى ظهره حتى لو صب عليه الماء لاستقر
Artinya:
“Aku melihat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم sholat, beliau صلى الله عليه وسلم meratakan punggungnya sehingga kalau ditumpahkan air niscaya air tersebut tidak tumpah.”

D) LAMANYA RUKUU’
Sedangkan lamanya seseorang rukuu’ adalah dijelaskan dalam Hadits Riwayat Al Imaam Muslim no: 1085, dari Baroo’ bin ‘Aazib رضي الله عنه, beliau berkata:
رَمَقْتُ الصَّلاَةَ مَعَ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم فَوَجَدْتُ قِيَامَهُ فَرَكْعَتَهُ فَاعْتِدَالَهُ بَعْدَ رُكُوعِهِ فَسَجْدَتَهُ فَجَلْسَتَهُ بَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ فَسَجْدَتَهُ فَجَلْسَتَهُ مَا بَيْنَ التَّسْلِيمِ وَالاِنْصِرَافِ قَرِيبًا مِنَ السَّوَاءِ
Artinya:
“Aku sholat bersama Muhammad صلى الله عليه وسلم lalu aku dapati berdirinya, rukuu’nya, i’tidaal-nya setelah rukuu’, dan sujudnya, dan duduknya diantara dua sujud, dan sujudnya dan duduknya diantara Salam dan berpaling; adalah mendekati sama (lamanya).”
5. I’TIDAAL :
Jika kita selesai melaksanakan rukuu’ sebagaimana penjelasan diatas, maka gerakan berikutnya adalah I’tidaal; yaitu gerakan yang dilakukan antara rukuu’ dan sujud. Dimana kita bangun dari rukuu’, kemudian berdiri tegak lurus sejenak, kemudian berikutnya sujud.
Hal ini sebagaimana kita dapati Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم melaksanakan dan mencontohkannya sebagai berikut:
5.1. PERINTAH UNTUK BERDIRI TEGAK LURUS SAAT I’TIDAAL
Meluruskan seluruh sendi tubuh, terutama punggung ke tempat semula, sehingga kita berada dalam posisi berdiri tegak. Hal ini ditegaskan dalam Hadits Riwayat Al Imaam Ahmad no: 10812, dan Syaikh Syu’aib Al Arnaa’uth meng-Hasankannya. Bahkan Syaikh Nashiruddin Al Albaany dalam Kitab “Shohiih At Targhiib wat Tarhiib” no: 531 mengatakan Hadits ini Shohiih Lighoirihi, dari Shohabat Abu Hurairoh رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
لا ينظر الله إلى صلاة رجل لا يقيم صلبه بين ركوعه وسجوده
Artinya:
“Allooh tidak akan memandang pada sholat seseorang yang tidak menegakkan tulang rusuknya antara rukuu’-nya dan sujud-nya.”
5.2. POSISI BADAN TEGAK LURUS SAAT I’TIDAAL
Sebagaimana dalam Hadits Riwayat Al Imaam Muslim no: 498 dari ‘Aa’isyah رضي الله عنها bahwa:
وَكَانَ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ لَمْ يَسْجُدْ حَتَّى يَسْتَوِىَ قَائِمًا
Artinya:
“Adalah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم apabila mengangkat kepalanya dari rukuu’, tidak bersujud sehingga berposisi berdiri tegak lurus.”
Bahkan lebih jelas lagi adalah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al Imaam Al Bukhoory dalamShohiih-nya no: 828, dimana para Shohabat menggambarkan bahwa:
وَإِذَا رَكَعَ أَمْكَنَ يَدَيْهِ مِنْ رُكْبَتَيْهِ ثُمَّ هَصَرَ ظَهْرَهُ فَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ اسْتَوَى حَتَّى يَعُودَ كُلُّ فَقَارٍ مَكَانَهُ
Artinya:
“Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم apabila rukuu’ maka kedua tangan beliau صلى الله عليه وسلمmenggenggam kedua lutut, kemudian meluruskan punggungnya dan apabila mengangkat kepalanya dari rukuu’ beliau صلى الله عليه وسلم berdiri tegak sehingga setiap sendi kembali ke tempat semula.”
5.3. THUMA’NINAH DALAM I’TIDAAL
Thuma’ninah artinya berhenti sejenak (sejenak itu adalah lama waktunya sekedar seorang mengucapkan satu kali tasbih), antara satu gerakan ke gerakan yang lainnya.
Dimana thuma’ninah ini dijelaskan dalam Hadits Riwayat Al Imaam Al Bukhoory no: 6667 dan Al Imaam Muslim no: 397, dari Shohabat Abu Hurairoh رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا
Artinya:
“Kemudian rukuu’-lah kamu sehingga thuma’ninah dalam keadaan rukuu’; kemudian bangkitlah kamu dari rukuu’ sehingga kamu I’tidaal dalam keadaan berdiri thuma’ninah, kemudian sujudlah sehingga kamu sujud dalam keadaan thuma’ninah.”
5.4. POSISI TANGAN SAAT I’TIDAAL
Tentang posisi tangan pada saat I’tidaal yang tepat adalah kembali meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri diatas dada (dengan 3 pilihan posisi sebagaimana telah dijelaskan diatas dalam masalah posisi tangan setelah takbiirotul ihroom).
a) Posisi telapak tangan kanan diatas telapak tangan kiri, saat sholat sendirian atau kondisi jamaah sholat longgar.

b) Posisi telapak tangan kanan menggenggam pergelangan tangan kiri, saat kondisi jamaah sholat agak padat.

c) Posisi telapak tangan kanan menggenggam punggung tangan kiri, saat kondisi jamaah sholat padat.

Adapun yang menjadi dalil terhadap hal itu adalah apa yang diriwayatkan oleh Al Imaam Al Bukhoory dalam Shohiih-nya no: 740, dari salah seorang Shohabat bernama Sahl bin Sa’ad رضي الله عنه, beliau berkata:
كَانَ النَّاسُ يُؤْمَرُونَ أَنْ يَضَعَ الرَّجُلُ الْيَدَ الْيُمْنَى عَلَى ذِرَاعِهِ الْيُسْرَى فِي الصَّلاَةِ
Artinya:
“Adalah orang-orang (para Shohabat) diperintahkan (– tentunya oleh Rosuululloohصلى الله عليه وسلم – pen.) agar seseorang meletakkan tangan kanannya diatas siku kirinya dalam sholat.”
Hal ini tidak aneh, karena posisi tangan dalam sholat adalah asal muasalnya seperti ini, sebagaimana telah terdahulu penjelasannya. Ketika kita merubah posisi tangan kita, itu adalah disebabkan adanya dalil yang menyebabkan kita mengikuti tuntunannya, seperti saat rukuu’ dimana kedua tangan kita itu di lutut; dan ketika sujud maka kedua tangan kita itu menapak ke tanah; dan ketika duduk antara dua sujud; juga tasyahhud maka tangan kita itu diatas paha.
Semua posisi tangan kita itu adalah pada posisi tangan sebagaimana yang dijelaskan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, maka ketika tidak ada penjelasan dimana letak posisi tangan kita disaat I’tidaal, otomatis tangan kita itu adalah kembali ke posisi semula, karena kita sadari bersama bahwa saat ini kita sedang sholat. Sedangkan posisi tangan pada saat sholat adalah tangan kanan diatas tangan kiri diatas dada. Yang demikian itu lah yang menjadi jawaban Syaikh Al ‘Utsaimin رحمه الله dalam “Koleksi Fatwa dan Risalah”-nya no: 450.
6. SUJUD :
6.1. URUTAN GERAK MENUJU SUJUD
A) MENGANGKAT KEDUA TANGAN, SEBAGAIMANA GERAKAN TAKBIIROTUL IHROOM
Kemudian apabila seorang Muslim hendak bergerak menuju sujud maka ia mengangkat kedua tangan terlebih dahulu sebagaimana gerakan takbiirotul ihroom yang dijelaskan dalam Hadits Riwayat Imaam Muslim no: 390, dari Shohabat ‘Abdullooh bin ‘Umar رضي الله عنه berikut ini bahwa beliau berkata:
إِذَا افْتَتَحَ الصَّلاَةَ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى يُحَاذِىَ مَنْكِبَيْهِ وَقَبْلَ أَنْ يَرْكَعَ وَإِذَا رَفَعَ مِنَ الرُّكُوعِ وَلاَ يَرْفَعُهُمَا بَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ
Artinya:
“Aku melihat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم apabila membuka sholat, maka beliaumengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan kedua bahunya, dan ketika akan ruku,’ dan ketika bangun dari ruku’. Tetapi tidak mengangkat kedua tangannya diantara dua sujud.”
B) BERGERAK TURUN MENUJU SUJUD
Dan mengucapkan “Alloohu Akbar” ketika ia turun menuju sujud, sebagaimana dijelaskan dalam Hadits Riwayat Al Imaam Al Bukhoory no: 803 dan Al Imaam Muslim no: 392, dari Shohabat Abu Hurairoh رضي الله عنه bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم :
ثُمَّ يَقُولُ اللَّهُ أَكْبَرُ حِينَ يَهْوِي سَاجِدًا
Artinya:
“Mengatakan “Alloohu Akbar” ketika turun menuju Sujud.”
C) MELETAKKAN TANGAN TERLEBIH DAHULU SEBELUM LUTUT
Ketika hendak sujud maka letakkanlah tangan terlebih dahulu sebelum lutut, sebagaimana dalam Hadits Riwayat Al Imaam Abu Daawud no: 840, dishohiihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany, dari Shohabat Abu Hurairoh رضي الله عنه, beliau berkata bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
إِذَا سَجَدَ أَحَدُكُمْ فَلاَ يَبْرُكْ كَمَا يَبْرُكُ الْبَعِيرُ وَلْيَضَعْ يَدَيْهِ قَبْلَ رُكْبَتَيْهِ
Artinya:
“Jika seorang dari kalian sujud maka janganlah kalian turun merunduk sebagaimana apa yang dilakukan oleh onta, akan tetapi letakkanlah kedua tangan sebelum kedua lutut.”
Adapun Hadits yang menyatakan hendaknya kedua lutut terlebih dahulu daripada kedua tangannya, maka Hadits itu tergolong Hadits yang lemah (dho’iif), sebagaimana diriwayatkan oleh Al Imaam Abu Daawud no: 838, Al Imaam At Turmudzy no: 268 dan Al Imaam Ibnu Maajah no: 882 dan Al Imaam An Nasaa’i no: 1089, sebagaimana hal ini telah dinyatakan ke-dho’iif-annya oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany. Yaitu melalui Waa’il bin Hujr رضي الله عنه, beliau berkata:
رَأَيْتُ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم إِذَا سَجَدَ وَضَعَ رُكْبَتَيْهِ قَبْلَ يَدَيْهِ وَإِذَا نَهَضَ رَفَعَ يَدَيْهِ قَبْلَ رُكْبَتَيْهِ
Artinya:
“Aku melihat Nabi صلى الله عليه وسلم apabila beliau sujud, maka beliau صلى الله عليه وسلم meletakkan kedua lututnya sebelum kedua tangannya. Dan apabila bangun, maka beliauصلى الله عليه وسلم mengangkat kedua tangannya sebelum kedua lututnya.”
Walaupun demikian, Ibnu Taimiyyah رحمه الله dalam Kitab “Majmu Al Fatawa” Jilid 22 halaman 449, berkata: “Adapun sholat dengan kedua cara ini (mendahulukan kedua tangan sebelum kedua lutut atau kedua lutut sebelum kedua tangan – pen.) adalah dibolehkan sesuai dengan apa yang disepakati para ‘Ulama, yaitu jika orang yang sholat mau, maka dia boleh meletakkan kedua lututnya sebelum kedua tangannya. Dan jika dia mau maka dia boleh meletakkan kedua tangannya kemudian kedua lututnya. Dan sholatnya sah dalam kedua keadaan ini, sesuai dengan kesepakatan para ‘Ulama.”
Sikap ini juga menjadi sikap yang diambil oleh Syaik ‘Abdul Aziiz bin Baaz dan Syaikh ‘Utsaimiin رحمهما الله.
D) IMAAM TERLEBIH DAHULU, BARU MA’MUM
Sebagai suatu catatan yang harus diperhatikan terutama ketika seseorang berposisi sebagai makmum adalah membiarkan Imaam sujud terlebih dahulu baru kemudian setelah itu makmum turun untuk sujud.
Hal ini sebagaimana terdapat dalam Hadits Riwayat Al Imaam Al Bukhoory no: 690 dan Al Imaam Muslim no: 474, dari riwayat Al Baroo’ bin Al ‘Aazib رضي الله عنه, bahwa:
إِذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ لَمْ يَحْنِ أَحَدٌ مِنَّا ظَهْرَهُ حَتَّى يَقَعَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم سَاجِدًا ثُمَّ نَقَعُ سُجُودًا بَعْدَهُ
Artinya:
“Apabila beliau (Nabi) صلى الله عليه وسلم mengatakan “Sami Alloohu liman hamidah” maka tidak seorangpun dari kami mencondongkan punggungnya sehingga Nabiصلى الله عليه وسلم sujud terlebih dahulu, baru kemudian kami bersujud setelahnya.”
E) POSISI TUBUH SAAT SUJUD
– Dahi bersamaan satu paket dengan ujung hidung, ditempelkan ke tempat sujud

– Telapak kaki belakang merapat dan tegak lurus

– Paha lurus, tidak berhimpit dengan betis ataupun perut

– Posisi tangan merenggang, jika memungkinkan. Tangan merenggang dari dada, telapak tangan sejajar seperti posisi jari-jemari saat sedang TakbiIrotul Ihroom. Dan jari jemari tidaklah merapat, dan tidak pula sangat merenggang.

Posisi tubuh saat sujud tersebut adalah sebagaimana dalil-dalil berikut ini:
E-1) DIATAS 7 (TUJUH) ANGGOTA BADAN
Hal ini adalah dijelaskan dalam Hadits Riwayat Al Imaam Al Bukhoory no: 815 dan Al Imaam Muslim no: 490, dari Shohabat ‘Abdullooh bin ‘Abbas رضي الله عنه, beliau berkata:
أُمِرَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم أَنْ يَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أَعْظُمٍ ، وَلاَ يَكُفَّ ثَوْبَهُ ، وَلاَ شَعَرَهُ
Artinya:
“Bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم diperintahkan untuk sujud diatas 7 (tujuh) tulang dan tidak menyingkap bajunya dan rambutnya.”
E-2) KEPALA DIANTARA KEDUA TELAPAK TANGANNYA
Ketika sujud maka hendaknya seorang Muslim meletakkan kepala diantara kedua telapak tangannya, sebagaimana dalam Hadits Riwayat Al Imaam Muslim no: 401 dari Shohabat Wa’il bin Hujr رضي الله عنه, dimana dijelaskan bahwa:
فَلَمَّا سَجَدَ سَجَدَ بَيْنَ كَفَّيْهِ
Artinya:
“Ketika beliau (Nabi) صلى الله عليه وسلم bersujud, beliau صلى الله عليه وسلم bersujud diantara kedua telapak tangannya.”
E-3) MERENGGANGKAN JARI DAN LENGAN
Adapun keadaan kedua tangan saat sujud dijelaskan dalam Hadits Riwayat Al Imaam Al Bukhoory no: 390 dan Al Imaam Muslim no: 495, dari Shohabat ‘Abdullooh bin Maalik bin Buhainah رضي الله عنه, bahwa:
أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ إِذَا صَلَّى فَرَّجَ بَيْنَ يَدَيْهِ حَتَّى يَبْدُوَ بَيَاضُ إِبْطَيْهِ
Artinya:
“Nabiصلى الله عليه وسلمjika sholat, merenggangkan kedua tangannya hingga nampak putih ketiaknya.”
E-4) TEGAP DAN TIDAK MALAS
Sebagaimana dalam Hadits Riwayat Al Imaam Al Bukhoory no: 822 dan Imaam Muslim no: 493, dari Shohabat Anas bin Maalik رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
اعْتَدِلُوا فِي السُّجُودِ ، وَلاَ يَبْسُطْ أَحَدُكُمْ ذِرَاعَيْهِ انْبِسَاطَ الْكَلْبِ
Artinya:
“Luruslah kalian dalam sujud dan jangan lah seorang dari kalian menghamparkan kedua sikunya seperti anjing.”
Kemudian dalam Hadits Riwayat Al Imaam Muslim no: 494, dari Al Baroo’ bin Al Azib رضي الله عنه, beliau berkata, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
إذا سجدت فضع كفيك وارفع مرفقيك
Artinya:
“Jika kamu sujud maka letakkanlah kedua telapak tanganmu dan angkat kedua sikumu.”
Juga dalam Hadits Riwayat Al Imaam An Nasaa’i dalam As Sunnan Al Kubro no: 688 melalui Shohabat Abu Humaid As Saa’idy رضي الله عنه, berkata:
كان النبي صلى الله عليه و سلم إذا هوى إلى الأرض ساجدا جافى عضديه عن أبطيه وفتح أصابع رجليه
Artinya:
“Adalah Nabi صلى الله عليه وسلم jika turun ke tanah menuju sujud maka beliau merenggangkan kedua lengan tangannya dari dua ketiaknya. Dan membuka jari kedua kakinya.”
E-5) KEDUA TUMIT RAPAT
Hal ini dijelaskan melalui apa yang terjadi pada ‘Aa’isyah رضي الله عنها, sebagaimana diriwayatkan oleh Al Imaam Muslim dalam Shohiih-nya no: 486, dimana ketika beliau رضي الله عنها terbangun di malam hari lalu mencari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم (dalam keadaan gelap), maka ‘Aa’isyah رضي الله عنها berkata:
فَوَقَعَتْ يَدِى عَلَى بَطْنِ قَدَمَيْهِ وَهُوَ فِى الْمَسْجِدِ وَهُمَا مَنْصُوبَتَانِ
Artinya:
“Maka tanganku tiba-tiba menyentuh pada kedua telapak kaki Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Beliau صلى الله عليه وسلم sedang di masjid, dan kedua telapak kaki beliau صلى الله عليه وسلم itu tegak berdiri (dalam keadaan rapat).”
Hal serupa dikuatkan oleh riwayat lain sebagaimana diriwayatkan oleh Al Imaam Hakim dalam Kitab Al Mustadrok no: 832, dimana beliau mengatakan, “Hadits ini Shohiih memenuhi syarat Shohiih Imaam Al Bukhoory dan Al Imaam Muslim, tetapi keduanya tidak mengeluarkannya dengan redaksi ini; dan saya tidak tahu seorangpun yang menyebutkan penggabungan kedua tumit dalam sujud, selain dalam Hadits ini.”
Juga Hadits ini diriwayatkan oleh Al Imaam Ibnu Huzaimah dalam Shohiih-nya no: 654, dan Syaikh Al A’dzomy mengatakan Sanadnya Shohiih.
Bahwa ‘Aa’isyah رضي الله عنها berkata:
فَقَدْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ مَعِي عَلَى فِرَاشِي فَوَجَدْتُهُ سَاجِدًا رَاصًّا عَقِبَيْهِ ، مُسْتَقْبِلاً بِأَطْرَافِ أَصَابِعِهِ الْقِبْلَةَ
Artinya:
“Suatu malam aku kehilangan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, padahal semula beliau صلى الله عليه وسلمseranjang denganku. Tiba-tiba aku temui beliau صلى الله عليه وسلمdalam keadaan sujud, merapatkan kedua tumit kakinya, menghadapkan jari-jemari kakinya kearah Kiblat.”
7. DUDUK ANTARA 2 SUJUD
Apabila seorang yang sholat selesai melakukan sujud yang pertama, kemudian bangun dan menjelang sujud yang kedua, dalam setiap rakaat ; tentunya melakukan posisi Duduk. Dimana posisi duduk ini disebut Duduk antara 2 Sujud.
Dan Duduk antara 2 Sujud ini hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
– Pandangan mata ke tempat sujud
– Duduk diatas telapak kaki kiri.

– Telapak kaki kanan tegak lurus dengan ujung jari mengarah kearah Kiblat.
– Telapak tangan kanan diatas paha kanan dan telapak tangan kiri berada diatas paha kiri.

Imaam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata dalam Kitab “Zaadul Ma’ad” Jilid I halaman 230: “Kemudian Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم mengangkat kepalanya (dari sujud) sembari bertakbir tanpa mengangkat kedua tangannya, dan beliau صلى الله عليه وسلم melalukan itu sebelum mengangkat kedua tangannya, kemudian duduk dengan menghamparkan kaki kiri, lalu mendudukinya dan menegakkan kaki kanannya.”
Dan sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh Al ‘Utsaimin, yang terdapat didalam “Koleksi Fatwa dan Risalah” beliau Jilid XIII halaman 144, beliau berkata: “Yang saya tahu tidak ada dalil yang menunjukkan adanya perbedaan antara Duduk Tasyahhud dengan Duduk antara Dua Sujud.”
8. DUDUK ISTIRAHAT
Adapun jika kita bangun dari rakaat ganjil, maka disunnahkan untuk melakukan Duduk Istirahat sejenak sebelum bangun. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Hadits Riwayat Al Imaam Al Bukhoory no: 823, dari Shohabat Maalik bin Al Huwairits رضي الله عنه, bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم :
فَإِذَا كَانَ فِي وِتْرٍ مِنْ صَلاَتِهِ لَمْ يَنْهَضْ حَتَّى يَسْتَوِيَ قَاعِدًا
Artinya:
“Apabila dalam Sholat rakaat ganjil, maka beliau صلى الله عليه وسلم tidak langsung bangun sehingga beliau صلى الله عليه وسلم duduk lurus (duduk istirahat) terlebih dahulu.”
Juga dalam Hadits Riwayat Al Imaam Al Bukhoory no: 824, masih melalui Maalik bin Al Huwairits رضي الله عنه:
وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ ، عَنِ السَّجْدَةِ الثَّانِيَةِ جَلَسَ وَاعْتَمَدَ عَلَى الأَرْضِ ثمَّ قَامَ
Artinya:
“Dan apabila mengangkat kepalanya dari sujud kedua, maka beliau صلى الله عليه وسلمduduk (duduk istirahat) dan bertumpu pada bumi, kemudian bangun.”

9. TASYAHHUD
Adapun tentang Tasyahhud adalah sebagaimana dijelaskan berikut ini:
A) POSISI DUDUK SAAT TASYAHHUD
Sebagaimana dalam Hadits Riwayat Al Imaam An Nasaa’i no: 889, dishohiihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany, dari Shohabat Wa’il bin Hujr رضي الله عنه, beliau berkata:
قلت لأنظرن إلى صلاة رسول الله صلى الله عليه و سلم كيف يصلي فنظرت إليه فقام فكبر ورفع يديه حتى حاذتا بأذنيه ثم وضع يده اليمنى على كفه اليسرى والرسغ والساعد فلما أراد أن يركع رفع يديه مثلها قال ووضع يديه على ركبتيه ثم لما رفع رأسه رفع يديه مثلها ثم سجد فجعل كفيه بحذاء أذنيه ثم قعد وافترش رجله اليسرى ووضع كفه اليسرى على فخذه وركبته اليسرى وجعل حد مرفقه الأيمن على فخذه اليمنى ثم قبض اثنتين من أصابعه وحلق حلقة ثم رفع إصبعه فرأيته يحركها يدعو بها
Artinya:
“Sungguh aku melihat pada sholat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bagaimana beliau صلى الله عليه وسلمsholat lalu beliau صلى الله عليه وسلم berdiri, kemudian bertakbir, kemudian mengangkat kedua tangannya sehingga sejajar dengan kedua telinganya, kemudian meletakkan tangan kanannya diatas telapak tangan kirinya dan pergelangan dan punggung lengan bawah tangan kirinya. Dan ketika hendak rukuu’ beliau صلى الله عليه وسلم mengangkat kedua tangannya seperti itu, kemudian meletakkan kedua tangannya diatas kedua lututnya, kemudian ketika beliau صلى الله عليه وسلم mengangkat kepalanya dari rukuu’ melakukan hal yang sama, kemudian beliau صلى الله عليه وسلم sujud lalu mensejajarkan kedua telapak tangannya dengan telinganya, kemudianduduk dan ber-iftirosy (menghamparkan kaki kirinya) dan meletakkan telapak tangan kirinya diatas pahanya dan lututnya yang kiri, dan menjadikan siku tangan kanannya diatas paha kanannya, kemudian menggenggam dua dari jarinya dan membentuk lingkaran, kemudian mengangkat jarinya. Aku lihat menggerak-gerakkannya saat berdoa.”
B) DUDUK IFTIROSY SAAT TASYAHHUD AWAL
Dalam Tasyahhud Awal hendaknya seorang yang sedang sholat memposisikan dirinya dalam sikap Iftirosy, sebagaimana dalam Hadits Riwayat Al Imaam Muslim no: 498, dari ‘Aa’isyah رضي الله عنها, bahwa:
وَكَانَ يَفْرِشُ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَيَنْصِبُ رِجْلَهُ الْيُمْنَى
Artinya:
“Nabi صلى الله عليه وسلم menghamparkan kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya.”
Duduk Iftirosy tersebut dapat digambarkan sebagaimana berikut ini :
– Duduk diatas telapak kaki kiri

– Telapak kaki kanan tegak lurus dengan ujung jari mengarah kearah Kiblat.

C) DUDUK TAWARRUK SAAT TASYAHHUD AKHIR
Dalam Tasyahud Akhir ini, seorang yang sedang sholat hendaknya memposisikan dirinya dalam sikap Tawarruk, sebagaimana dalam Hadits Riwayat Al Imaam Muslim no: 579, dari Shohabat ‘Abdullooh bin Az Zubair رضي الله عنه, beliau berkata:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا قَعَدَ فِى الصَّلاَةِ جَعَلَ قَدَمَهُ الْيُسْرَى بَيْنَ فَخِذِهِ وَسَاقِهِ وَفَرَشَ قَدَمَهُ الْيُمْنَى وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُسْرَى عَلَى رُكْبَتِهِ الْيُسْرَى وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى وَأَشَارَ بِإِصْبَعِهِ
Artinya:
“Bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم apabila duduk dalam sholat (Tasyahhud Akhir), beliau صلى الله عليه وسلم mengedepankan kaki kirinya (mengeluarkan kaki kirinya) diantara pahanya dan betisnya, dan menghamparkan kaki kanannya dan meletakkan tangan kirinya diatas lutur kirinya. Dan meletakkan tangan kanannya diatas paha kanannya, sembari memberi isyarat dengan telunjuknya.”
Duduk Tawarruk tersebut dapat digambarkan sebagaimana berikut ini :
– Duduk diatas lantai (sajadah).
– Telapak kaki kanan tegak lurus dengan ujung jari mengarah kearah Kiblat.
– Ujung kaki kiri diposisikan dibawah betis kaki kanan. Nampak ujung-ujung jarinya.

D) PANDANGAN MATA SAAT TASYAHHUD
Sedangkan pandangan mata saat duduk Tasyahhud tersebut adalah diarahkan ke jari telunjuk tangan kanan, sebagaimana dijelaskan dalam Hadits Riwayat Al Imaam An Nasaa’i no: 1160, dishohiihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany, dari Shohabat Wa’il bin Hujr رضي الله عنه, bahwa beliau صلى الله عليه وسلم :
وضع يده اليمنى على فخذه اليمنى وأشار بأصبعه التي تلي الإبهام في القبلة ورمى ببصره إليها
Artinya:
“Meletakkan tangan kanannya diatas paha kanannya dan memberi isyarat dengan telunjuknya kearah Kiblat sembari mengarahkan pandangannya padanya (pada telunjuk tangannya).”
Juga dalam Hadits Riwayat Al Imaam An Nasaa’I no: 1275 dan Al Imaam Abu Daawud no: 990, dishohiihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany, dari Shohabat ‘Abdullooh bin Az Zubair رضي الله عنه, beliau berkata:
أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ إِذَا قَعَدَ فِي التَّشَهُّدِ وَضَعَ كَفَّهُ الْيُسْرَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُسْرَى ، وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ لاَ يُجَاوِزُ بَصَرُهُ إِشَارَتَهُ
Artinya:
“Bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم apabila duduk dalam Tasyahud maka beliau صلى الله عليه وسلم meletakkan telapak tangan kirinya diatas paha kirinya dan memberi isyarat dengan telunjuknya dan pandangannya tidak melewati isyarat telunjuknya.”
E) POSISI PELETAKAN TANGAN SAAT TASYAHHUD
Sedangkan posisi peletakan tangan saat Tasyahhud tersebut adalah sebagaimana dijelaskan dalam Hadits Riwayat Al Imaam At Turmudzy no: 294, dishohiihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany, dari Shohabat ‘Abdullooh bin ‘Umar رضي الله عنه:
أن النبي صلى الله عليه و سلم كان إذا جلس في الصلاة وضع يده اليمنى على ركبته ورفع إصبعه التي تلي الإبهام اليمنى يدعو بها ويده اليسرى على ركبته باسطها عليه
Artinya:
“Bahwa Nabi صلى الله عليه وسلمapabila duduk dalam sholat, beliauصلى الله عليه وسلمmeletakkan tangan kanannya diatas lututnya dan mengangkat telunjuknya yang kanan ketika berdo’a dan menghamparkan tangan kirinya diatas lututnya.”
E-1) Posisi peletakan tangan saat Tasyahhud Awal dapat digambarkan sebagaimana berikut ini:
– Telapak tangan kiri diatas lutut kiri.

– Telapak tangan kanan sembari menunjuk kearah Kiblat. Dengan menempelkan ujung ibu jari ke ujung jari tengah. Atau seperti orang menunjuk.

– Pandangan mata tertuju pada ujung jari telunjuk.

E-2) Sedangkan posisi peletakan tangan saat Tasyahhud Akhir dapat digambarkan sebagaimana berikut ini:
– Telapak tangan kiri diatas lutut kiri.

– Telapak tangan kanan sembari menunjuk kearah Kiblat. Dengan menempelkan ujung ibu jari ke ujung jari tengah. Atau seperti orang menunjuk.

– Pandangan mata tertuju pada ujung jari telunjuk.
F) KEADAAN JARI-JEMARI TANGAN KANAN SAAT TASYAHHUD
Adapun keadaan jari jemari tangan kanan saat tasyahhud tersebut adalah membentuk angka 53, sebagaimana dijelaskan dalam Hadits Riwayat Al Imaam Ahmad no: 6153, menurut Syaikh Syu’aib Al Arnaa’uth sanadnya Shohiih memenuhi syarat Al Imaam Muslim, para perowinya terpercaya, termasuk para perowi Al Imaam Al Bukhoory dan Al Imaam Muslim kecuali Hammad bin Salamah, beliau termasuk perowi Shohiih Muslim; dari Shohabat ‘Abdullooh bin ‘Umar رضي الله عنه :
أن النبي صلى الله عليه و سلم كان إذا قعد يتشهد وضع يده اليسرى على ركبته اليسرى ووضع يده اليمنى على ركبته اليمنى وعقد ثلاثا وخمسين ودعا
Artinya:
“Bahwa Nabi صلى الله عليه وسلمapabila duduk bertasyahhud beliau meletakkan tangan kirinya diatas lutut kirinya dan meletakkan tangan kanannya diatas lutut kanannya dan membentuk angka 53 kemudian berdoa.”

Atau menggenggamkan seluruh jemari tangan kanan dan menunjuk dengan telunjuknya, dan meletakkannya diatas paha kanannya; lalu meletakkan telapak tangan kirinya diatas paha kirinya. Sebagaimana hal tersebut dijelaskan dalam Hadits Riwayat Al Imaam Muslim no: 580, dari ‘Abdullooh bin ‘Umar رضي الله عنه, dimana didalam riwayat itu dijelaskan bahwa:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَصْنَعُ قَالَ كَانَ إِذَا جَلَسَ فِى الصَّلاَةِ وَضَعَ كَفَّهُ الْيُمْنَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى وَقَبَضَ أَصَابِعَهُ كُلَّهَا وَأَشَارَ بِإِصْبَعِهِ الَّتِى تَلِى الإِبْهَامَ وَوَضَعَ كَفَّهُ الْيُسْرَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُسْرَى
Artinya:
“Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم apabila duduk dalam sholat maka beliau صلى الله عليه وسلمmeletakkan telapak tangan kanannya diatas paha kanannya dengan menggenggam seluruh jarinya dan menunjuk dengan telunjuknya, dan meletakkan telapak tangan kirinya diatas paha kirinya.”

10. LAMANYA GERAKAN SHOLAT :
Gerakan sholat tersebut dilaksanakan dalam waktu yang mendekati sama lamanya. Hal ini adalah sebagaimana dijelaskan dalam Hadits Al Imaam Al Bukhoory no: 801 dan Al Imaam Muslim no: 471, dari Shohabat Al Baroo’ bin Azib رضي الله عنه, beliau berkata:
كَانَ رُكُوعُ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم وَسُجُودُهُ ، وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ وَبَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ قَرِيبًا مِنَ السَّوَاء
Artinya:
“Adalah rukuu’ dan sujudnya Nabi صلى الله عليه وسلم itu dan ketika beliau صلى الله عليه وسلمmengangkat kepalanya dari rukuu’ dan duduk antara dua sujud; lamanya adalah mendekati sama.”
Juga sebagaimana dalam Hadits yang panjang yang diriwayatkan oleh Al Imaam Muslim no: 397, melalui salah seorang Shohabat yakni Abu Hurairoh رضي الله عنه, bahwa:
دَخَلَ الْمَسْجِدَ فَدَخَلَ رَجُلٌ فَصَلَّى ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَرَدَّ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- السَّلاَمَ قَالَ « ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ ». فَرَجَعَ الرَّجُلُ فَصَلَّى كَمَا كَانَ صَلَّى ثُمَّ جَاءَ إِلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَسَلَّمَ عَلَيْهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « وَعَلَيْكَ السَّلاَمُ ». ثُمَّ قَالَ « ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ ». حَتَّى فَعَلَ ذَلِكَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ فَقَالَ الرَّجُلُ وَالَّذِى بَعَثَكَ بِالْحَقِّ مَا أُحْسِنُ غَيْرَ هَذَا عَلِّمْنِى. قَالَ « إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلاَةِ فَكَبِّرْ ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا ثُمَّ افْعَلْ ذَلِكَ فِى صَلاَتِكَ كُلِّهَا
Artinya:
“Ada seseorang masuk kedalam Masjid kemudian sholat, kemudian datang kepada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم memberi salam, kemudian Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم menjawab salamnya sembari berkata, “Ulanglah sholatmu, sesungguhnya kamu belum sholat.”
Maka kembalilah orang tersebut mengulang sholatnya, sebagaimana dia sholat pertama kali. Kemudian ia datang kembali kepada Nabi صلى الله عليه وسلم dan memberi salam. Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم pun menjawab salamnya, kemudian mengatakan, “Ulanglah sholatmu, sebab kamu belum sholat.”
Diulangnya lagi perbuatan itu hingga tiga kali, sehingga orang itu mengatakan, “Demi Yang mengutusmu dengan kebenaran, sungguh aku tidak bisa melakukan yang lebih baik dari itu. Maka ajarilah aku.”
Maka bersabdalah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, “Jika kamu berdiri untuk sholat, maka bertakbirlah.
Kemudian bacalah apa yang mudah bagimu dari Al Qur’an.
Kemudian rukuu’-lah kamu sehingga kamu rukuu’ dalam keadaan thuma’ninah.
Kemudian bangunlah kamu dari rukuu’-mu sehingga kamu ber-I’tidaal dalam keadaan thuma’ninah.
Kemudian sujudlah kamu sehingga kamu bersujud dalam keadaan thuma’ninah.
Kemudian bangkitlah kamu dari sujud, sehingga kamu duduk dalam keadaan thuma’ninah.
Dan lakukanlah yang demikian itu dalam seluruh sholatmu.”
11. SALAM
Adapun ketika Salam, hendaknya seseorang memalingkan kepalanya ke kanan hingga putih pipinya terlihat, kemudian memalingkan kepalanya ke kiri hingga putih pipinya terlihat oleh orang dibelakangnya.

Hal tersebut adalah sebagaimana dijelaskan dalam dalil berikut ini:
Hadits Riwayat Al Imaam An Nasaa’i dalam As Sunnan Al Kubro no: 1248, dan dishohiihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany dalam Shohiih Sunnan An Nasaa’i no: 1324, dari Shohabat ‘Abdullooh bin ‘Umar رضي الله عنه:
أَنَّهُ كَانَ يُسَلِّمُ عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ يَسَارِهِ : السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ ، السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ حَتَّى يُرَى بَيَاضُ خَدِّهِ مِنْ هَاهُنَا وَبَيَاضُ خَدِّهِ مِنْ هَاهُنَا
Artinya:
“Bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم bersalam ke kanan dan ke kiri dengan mengatakan “Assalamu’alaikum Warohmatullooh”, “Assalamu’alaikum Warohmatullooh” sehingga terlihat putih pipinya dari sini dan putih pipinya dari sini.”
Demikianlah apa yang menjadi tuntunan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم terhadap Gerakan Sholat bagi kaum Muslimin. Adapun apa yang mesti dibaca dikala sholat tersebut, maka silakan merujuk pada kajian tentang : “BACAAN SHOLAT (Bagian ke-1 sampai dengan Bagian ke-5)“, juga kajian “DZIKIR DAN DO’A SETELAH SHOLAT FARDHU” yang pernah dimuat pada Blog ini.
—0O0—

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

KEKELIRUAN DALAM SHALAT BERJAMAAH

kekeliruan-sholat-jamaah

KEKELIRUAN DALAM SHOLAT BERJAMAAH
Oleh: Ustadz Achmad Rof’i, Lc.

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allooh سبحانه وتعالى,
Sebagai rangkaian pembahasan yang telah kita laksanakan pekan lalu, yaitu berkenaan dengan Shalat berjama’ah, ternyata banyak dari kaum muslimin yang masih keliru, melakukan beberapa kekeliruan dan kesalahan ketika melaksanakan Shalat berjama’ah. Padahal sudah saatnya mereka itu tidak boleh melakukan kekeliruan atau kesalahan, karena shalat lima waktu (shalat fardhu) yang dilakukan di masjid itu sudah sangat sering, sehingga sudah semestinya jauh dari kesalahan.
Namun demikian kesalahan masih terus berulang, maka agar bisa dikurangi atau dihilangkan kesalahan tersebut, semuanya itu harus berdasarkan ilmu.
Pada kesempatan ini, kami sampaikan beberapa penyimpangan dan kesalahan, berkenaan dengan Shalat Berjama’ah. Banyak sekali yang bisa kita temukan dalam keseharian kita, namun demikian kita coba amati di kalangan kaum muslimin, mereka shalat berjama’ah, merekaAlhamdulillaah datang di masjid, tetapi masih juga melakukan kesalahan.
Tidak kurang dari 28 point kesalahan kita bisa buktikan, bahwa kaum muslimin masih salah dalam shalat berjama’ah. Bahkan mungkin bisa lebih dari itu. Untuk kemudian di akhir bahasan ini kami sampaikan sikap Imaam As Suyuuthy رحمه الله berkenaan dengan peringatan (perayaan) akhir atau awal tahun.
Adapun kekeliruan atau kesalahan dimaksud antara lain adalah :
1. Ketika Imam shalat selesai membaca Al Faatihah, lalu jama’ah mengucapkan:“Aamiiin, waliwaali daiyaa walil muslimiin”.
Makna kalimat tersebut bagus dan tidak tercela, tetapi karena ini ibadah dan bukan karangan, dan bukan perasaan, maka kesalahan semacam itu tidak boleh diulangi, karena akan mengurangi nilai dan pahala shalat kita, karena dengan nyata shalat yang diperintahkan oleh Allooh سبحانه وتعالى itu ditambah-tambah dengan sesuatu yang bukan berasal dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
Sebagai dalil, bahwa yang demikian itu keliru adalah Hadits Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, diriwayatkan oleh Imaam Al Bukhoory, dari Abu Hurairoh رضي الله عنه, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِذَا أَمَّنَ الإِمَامُ فَأَمِّنُوا فَإِنَّهُ مَنْ وَافَقَ تَأْمِينُهُ تَأْمِينَ الْمَلاَئِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
ِArtinya:
“Jika Imam mengatakan “Aamiiin” maka aminkanlah oleh kalian. Maka barangsiapa yang “Amin”nya berbarengan dengan “Amin”nya malaikat,ia akan diampuni dosanya”.
(Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory dan Imaam Muslim).
Bukan saja masalah yang kita bahas, tetapi itu merupakan pahala atau kebajikan yang dijanjikan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, bahwa “Aamiiin” kita harus seragam. Ketika mengucap “Aamiiin” kita harus memperhitungkan agar tepat berbarengan dengan malaikat. Malaikat memang ghoib, tetapi yang menjadi ukuran adalah keseragaman suara. Setelah Imam mengucapkan “Ghoiril maghduubi ‘alaihim waladh dhooolliiiin”, lalu serempak jamaah mengucapkan: “Aamiiin”.
Mengucapkan Aamiiin: A – mi —- n (Min lebih panjang dari pada A).
A—min, artinya aman.
Ami—n, artinya terpercaya.
A—mi—–n, artinya: Penuhilah, kabulkanlah ya Allooh.
Masih dari Abu Hurairah رضي الله عنه, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِذَا أَمَّنَ الإِمَامُ فَأَمِّنُوا فَإِنَّهُ مَنْ وَافَقَ تَأْمِينُهُ تَأْمِينَ الْمَلاَئِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
ِArtinya:
“Jika Imaam membaca Maghdhubi ‘alaihim…, maka katakanlah olehmu: Aamiiin. Barang siapa yang ucapannya bersama malaikat, maka ia diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. (Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory dan Imaam Muslim).
Dalam hadits tersebut tidak ada tambahan penjelasan bahwa ada “Amin waliwaali daiya walil muslimiin”. Kalau ada yang bertanya mana dalil yang melarang memberi tambahan tersebut, maka jawabannya adalah: Amrul ‘ibadati tauqiifiyyun. – Perkara ibadah adalah baku.Kalau ada dalilnya silakan dijalankan, kalau tidak ada dalil, tidak boleh dijalankan.
Bagi kita karena tidak ada dalil, dan para ulama tidak menjelaskan terhadap adanya dalil bahwa bila kita mengucapkan Aamiiin lalu ditambah dengan: Waliwaali daiya walil muslimiin, maka berarti tidak ada. Karena tidak ada, maka tidak boleh orang menambahkan dalam urusan itu, meskipun dikatakannya menjadi lebih baik.
Urusan ibadah, adalah siapa yang mengatakan “bahwa ibadah itu ada“, maka ia harus bisa mengatakan (menunjukkan) dalilnya.
Sedangkan yang mengatakan tidak ada dalilnya, adalah karena atas dasar penelitian dan sekian kajian terhadap hadits-hadits Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
Jadi kalau ada orang menambah ucapan Waliwaali daiyaa walil muslimiin, katakanlah bahwa itu Bid’ah, tidak sesuai dengan Hadits Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
2. Masbuq, orang yang terlambat datang menunggu sampai imam berdiri.
Ketika Shalat berjamaah sedang berlangsung, lalu ada ma’mum yang terlambat, sementara yang berjamaah posisinya sedang tidak dalam berdiri, misalnya sedang sujud atau duduk Tasyahud, lalu yang datang terlambat itu berdiri saja menunggu sampai imam shalat berdiri, baru si terlambat itu mulai dengan Allahu Akbar (Takbiratul Ihram). Yang demikian itu keliru. Karena tidak sesuai dengan petunjuk Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Dalam Hadits riwayat Imam Bukhoory, dari Abu Hurairoh رضي الله عنه, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « إِذَا أُقِيمَتِ الصَّلاَةُ فَلاَ تَأْتُوهَا تَسْعَوْنَ وَأْتُوهَا تَمْشُونَ وَعَلَيْكُمُ السَّكِينَةُ فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا
ِArtinya:
“Jika kalian datang pada suatu shalat, maka hendaknya kalian dengan tenang mendatangi shalat itu, apa yang kalian ketahui, maka kalian bisa masuk dalam shalat itu, maka shalatlah bersama mereka. Dan jika kalian terlambat maka sempurnakan (roka’atnya).”
(Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory dan Imaam Muslim).
Dalam Hadits yang lain dari Mu’azd bin Jabal رضي الله عنه, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
“Jika salah seorang dari kalian memasuki suatu shalat berjama’ah, sedangkan imam dalam suatu keadaan (posisi), maka lakukan apa yang dilakukan oleh imam”.
Maksudnya, misalnya imam sedang sujud, maka langsung ikut sujud bagi yang terlambat (masbuq), jangan menunggu sampai imam kembali berdiri lagi.
Ibnu Hajar Al Asqalani memberikan penjelasan, kata beliau: “Hadits ini menunjukkan terhadap apa yang ada didalam Hadits riwayat Ibnu Abi Syaibah dari jalan ‘Abdul ‘Aziiz bin Rafi’ dari seorang laki-laki dari kalangan Anshar, kata beliau:
“Barangsiapa yang menemui aku (Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, berarti imam shalat) berada dalam keadaan ruku’ atau berdiri, atau sujud, maka hendaknya ia bersamaku sesuai dengankeadaanku”.
Maksudnya langsung lakukan seperti apa yang sedang imam lakukan, kalau imam sedang sujud, ikut sujudlah, imam sedang ruku’ ikut ruku’lah, tidak usah menunggu.
3. Seorang masbuq (ma’mum yang terlambat datang) yang ingin menyempurnakan raka’at shalatnya, sebelum imam salam, ia telah mendahului imam, ia berdiri untuk menyempurnakan shalatnya.
Ini juga merupakan kekeliruan. Oleh karena itu tidak boleh terulang kesalahan itu.
Dalil yang mengatakan hal tersebut adalah Hadits yang diriwayatkan Imam Bukhoory dan Imam Muslim, dari Abu Hurairoh رضي الله عنه, kata beliau, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda :
إِنَّمَا جُعِلَ الإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فَإِذَا رَكَعَ فَارْكَعُوا
ِArtinya:
“Imam itu dijadikan untuk diikuti, jika ia bertakbir, ikutlah kalian bertakbir, jika ia ruku’ maka ruku’lah”. (Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory dan Imaam Muslim).
Imam Syafi’iy رحمه الله mengatakan: “Barangsiapa yang dalam keadaan masbuq,(terdahului oleh imam) dalam urusan shalatnya, maka tidak boleh berdiri untuk menambah rakaat kekurangannya, kecuali imam selesai dari dua salamnya”.
4. Mendahului imam secara umum.
Dalam hal ini telah dilarang keras oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. sesuai dengan Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhoory, kata beliau dalam judul Babnya dengan jelas mengatakan:“Dosa bagi orang yang mengangkat kepalanya, sebelum imam mengangkat kepalanya”.
Maksudnya, bangun sebelum imam bangun.
Lalu dibawakan Hadits dari Abu Hurairah رضي الله عنه, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
عن أَبُي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ مُحَمَّدٌ -صلى الله عليه وسلم- « أَمَا يَخْشَى الَّذِى يَرْفَعُ رَأْسَهُ قَبْلَ الإِمَامِ أَنْ يُحَوِّلَ اللَّهُ رَأْسَهُ رَأْسَ حِمَارٍ
ِArtinya:
“Apakah salah seorang dari kalian tidak takut, jika dia mengangkat kepalanya sebelum imam mengangkat kepalanya, lalu dijadikan kepalanya itu kepala keledai, atau bentuk dia seperti keledai ?” (Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory dan Imaam Muslim).
Maksudnya, adalah berdosa (shalat sah, tetapi berdosa), mungkin karena ma’mum terburu-buru karena terbiasa shalat seperti ayam mematuki makanannya, atau ia tidak tahu bahwa shalat itu punya waktu yang khusus, sehingga dia shalat inginnya dilaksanakan dengan cepat, hatinya sudah kemana-mana, gerakannya sangat cepat, dia shalat tetapi seolah-olah tidak shalat. Ketika bersama imam yang mengajak untuk tuma’ninah, dengan memahami apa yang dibacanya, ketika ruku’ kata Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم: “Ketika ruku’ perbanyak tasbih, ketika sujud perbanyak do’a.” Mana mungkin bisa segera bangun dengan cepat. Bagi orang yang tidak paham bahasa Arab, untuk sampai kepada derajat khusyu’, maka ia harus berusaha mengerti apa yang ia baca. Kalau sudah dipahami, maka diresapi. Dengan demikian tidak bisa cepat, harus tuma’ninah.
Dengan demikian ia melakukan kekeliruan yang nyata, yaitu mengangkat kepala mendahului imam. Dan itu merupakan pelanggaran.
Imam Al Mundziri dalam kitab At Targhiib Wa Tarhiib, menyatakan bahwa adalah ancaman keras bagi ma’mum yang mengangkat kepalanya sebelum imam. Lafadz Hadits yang lain, yang diriwayatkan oleh Ibnu Mundzir, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda :
عن أبي هريرة عن النبي صلى الله عليه و سلم قال : ( أما يخشى الذي يرفع رأسه قبل الإمام أن يحول الله رأسه رأس الكلب
ِArtinya:
“Apakah tidak takut orang yang mengangkat kepalanya sebelum imam, untuk kemudian Alloohسبحانه وتعالى tukar dengan kepala anjing?” (Hadits Riwayat Imaam Ibnu Hibban)
Jadi tidak boleh kita mendahului imam. Itu bukan perkara kecil. Dan itu merupakan pendidikan untuk disiplin.
Gerakan imam dan ma’mum ada 3 macam, yaitu: Al Musaawaat, Al Musaabaqah danMutaaba’ah.
Al Musawat (tidak boleh) yaitu imam dan ma’mum bergerak bersama-sama. Itu salah.
Al Musabaqah, artinya imam belum bangun, ma’mum sudah bangun. Seperti berlomba. Imam belum salam, ma’mum sudah salam. Yang demikian itu tidak boleh.
Mutaba’ah, inilah yang benar. Bergerak sesudah imam. Imam mengucap “Alloohu Akbar”, barulah si ma’mum mengucap “Alloohu Akbar”. Imam bangun, sesudah “Alloohu Akbar”, barulah si ma’mum bangun, sesudah “Alloohu Akbar”, dan seterusnya.
Bahkan sebenarnya, yang tertib adalah sesuai dengan lafadz Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory dan Imaam Muslim:
عن أَبَي هُرَيْرَةَ يَقُولُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ قَالَ « إِنَّمَا جُعِلَ الإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا وَإِذَا رَكَعَ فَارْكَعُوا وَإِذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ. فَقُولُوا اللَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ. وَإِذَا صَلَّى قَائِمًا فَصَلُّوا قِيَامًا وَإِذَا صَلَّى قَاعِدًا فَصَلُّوا قُعُودًا أَجْمَعُونَ
(Bila imam mengucap “Alloohu Akbar”, maka ucapkanlah oleh kalian “Alloohu Akbar”, jika imam ruku’- sesudah imam ruku’nya sempurna – maka ruku’lah kalian, bila imam sujud dan sujudnya sudah sempurna, maka sujudlah, bila imam dalam keadaan berdiri, maka kalian (ma’mum) berdiri. Bila imamnya shalat sambil duduk, – mungkin karena sakit, kalian (ma’mum) harus duduk pula, meskipun kalian kuat berdiri). Itu namanya Mutaba’ah, mengikuti imam.
Bisa saja ada imam yang shalat sambil duduk, karena ia memang imam rowatib (Imam tetap). Maka ma’mumnya juga harus duduk, tidak boleh ma’mumnya berdiri. Kecuali bila si imam rowatib mempersilakan orang lain untuk menjadi imam shalat. Itu namanya Tanaazul. (Imam turun dari jabatannya). Kalau imam tetapnya, tidak mempersilakan kepada orang lain, maka jangan diganti, meskipun ia tidak kuat berdiri. Dan itu ada dalilnya dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
Jadi semuanya akan mudah, kalau kita memang betul-betul sesuai dengan yang diajarkan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
5. Mempercepat langkah ketika menuju ke masjid.
Ini tidak boleh dilakukan, karena Sabda Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم:
عليكم بالسكينة والوقار
“’Alaikum bi sakinah wal waqor”.
Harus tenang, tidak boleh terburu-buru, lari atau mempercepat langkah. Dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhoory, Imam Ahmad dan Imam Ahli Sunnah, kata beliau Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
“Jika shalat telah ditegakkan (dimulai), maka janganlah kalian mendatanginya (menuju kepada shalat itu) dengan cara yang cepat atau sa’i (lari-lari kecil). Kecuali kalau kamu berjalan dengan jalan biasa, hendaknya kalian tenang menuju ke masjid. Apa yang kamu dapati dari imam, ikutilah. Bila kalian terlambat, maka sempurnakanlah setelah imam salam”.
Tetapi hendaknya jadikan kasus yang demikian itu sesekali, jangan setiap kali. Jangan setiap shalat itu masbuq terus. Para orang-orang shoolih zaman dahulu, seperti dikatakan oleh para ‘Ulama bahwa ada diantara mereka yang sampai 40 tahun tidak pernah terlambat Takbirotul Ihroom bersama imam shalat. Jadi selama 40 tahun tidak pernah telat, tidak pernah alpa, tidak pernah izin, selalu hadir bersama imam. Itulah kualitas orang zaman dahulu, lalu bagaimana kualitas orang di zaman sekarang?
Ada kasus dalam satu hadits, bahwa dari Abu Bakrah رضي الله عنه, ada seseorang datang untuk shalat berjama’ah dengan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم sebagai imam shalat) sedang ruku’. Orang itu masuk, baru sampai didepan pintu langsung ikut ruku’ disitu.
Itu karena ia menerapkan hadits tersebut diatas, bahwa apa yang dilakukan oleh imam, lakukanlah oleh jama’ah. Tetapi itu sangat letterlijk, tetapi itu bagi kita merupakan pelajaran yang berharga. Karena setelah kejadian itu Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
زَادَكَ اللَّهُ حِرْصًا وَلاَ تَعُدْ
ِArtinya:
“Wahai Abu Bakrah, semoga engkau ditambah rajinmu (semangatmu) oleh Allah سبحانه وتعالى. Tetapi jangan engkau ulangi perbuatanmu seperti itu”. (Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 783)
Dan itu adalah teguran yang sangat santun, tidak mencela atau mengolok-olok, tetapi memberikan motivasi, memberikan semangat.
Dalam Hadits yang lain, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
إذا سمعت الإقامة فامش على هينتك فما أدركت فصل وما فاتك فاقض
ِArtinya:
“Jika kamu telah mendengar Iqomat, maka berjalanlah kamu menuju shalat, hendaknya kalian tenang tidak usah mempercepat jalanmu, apa yang kamu dapati, shalatlah bersama imam dan apa yang tertinggal, lengkapilah setelah imam”.
(Imaam ‘Abdul Rozzaaq dalam kitab Al Mushonnif no:3406)
Itu adalah dalil yang jelas. Dan ketika Iqomat, boleh menggunakan speaker dan boleh tidak menggunakannya. Karena orang yanag sudah siap shalat hadir di masjid. Karena Iqomat adalah aba-aba bahwa shalat sudah akan ditegakkan, maka cukuplah orang yang sudah hadir itu saja yang mendengarkannya. Boleh juga menggunakan speaker (pengeras suara), karena dalam hadits dikatakan: “Bila iqomah sudah dikumandangkan, maka hendaknya kalian berjalan menuju shalat”.
Kalimat “berjalan menuju shalat”,berarti ada jarak antara rumah dengan masjid. Menunjukkan bahwa orang mendengar dari luar masjid. Maka boleh iqomat menggunakan speaker.
6. Tidak meluruskan shaf sebagaimana mestinya.
Sebetulnya dalam shalat berjamaah, yang paling penting dibahas adalah tentang Shaf. Karena di zaman Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم untuk mengatur shaf digunakan tongkat atau pedang untuk meluruskan shaf. Yang diluruskan bukan kakinya, karena kaki orang itu ada yang panjang ada yang pendek. Yang diluruskan adalah mata kaki. Batangnya manusia adalah kaki. Itu yang harus lurus.
Ada hadits yang tegas dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم melalui salah seorang shohaby, bernamaNu’man Ibnu Basyir رضي الله عنه, ia berkata, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
عن النُّعْمَانَ بْنَ بَشِيرٍ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « لَتُسَوُّنَّ صُفُوفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللَّهُ بَيْنَ وُجُوهِكُمْ
ِArtinya:
“Apakah kalian akan meluruskan shaf kalian, atau Allooh jadikan hati-hati kalian berselisih satu sama lain”. (Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory dan Imaam Muslim).
Ternyata urusan fisik bersambung dengan urusan hati. Dan itu benar. Orang yang terbiasa bergaul dengan orang biasa, ketika bajunya bersentuhan dengan baju orang lain, tidak menjadi masalah. Tetapi bagi orang yang kaya atau tidak terbiasa bergaul antara orang kaya dan orang miskin, maka ia tidak mau berdampingan dengan orang miskin. Tetapi dengan aturan shaf, semua harus sama dan rata, tidak pandang bulu. Dalam sholat berjama’ah, tidak ada beda antara si kaya dan miskin, tidak ada kalangan atas dan bawah, semua sama di hadapan Allooh سبحانه وتعالى. Semua lurus. Kalau tidak, maka Allooh سبحانه وتعالى akan jadikan hati orang-orang itu berselisih.
Mudah-mudahan setelah mendengar pelajaran ini, hendaknya jangan canggung. Yang harus lurus adalah antar mata-kaki dengan mata-kaki, betis dengan betis, bahu dengan bahu. Itu yang diatur oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
Dalam Hadits yang lain, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « سَوُّوا صُفُوفَكُمْ فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصَّفِّ مِنْ تَمَامِ الصَّلاَةِ
“Luruskan shaf kalian dan rapatkan, luruskan shaf dalam shalat karena lurusnya shaf juga merupakan kesempurnaan dalam shalat berjama’ah”. (Hadits Riwayat Imaam Muslim no: 1003)
Dalam Hadits yang lain, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
عَنْ أَنَسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سَوُّوا صُفُوفَكُمْ فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصُّفُوفِ مِنْ إِقَامَةِ الصَّلَاةِ
“Sowwu shufufakum faa inna taswiyatash shoufi, min iqoomatishshollaah”. (Hadits Riwayat Imaam Al Bukhory no: 724)
– Semua nadanya sama, menunjukkan bahwa kita harus meluruskan shaf-shaf kita.
Dalam hadits yang lain, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
“Aku tidak mengingkari kalian, kecuali karena kalian tidak lurus dalam shaf”.
Dan masih banyak lagi tentang shaf, misalnya shaf laki-laki dan shaf perempuan.
Ada lagi hadits yang membicarakan shaf pertama dan shaf bagi orang yang datang belakangan. Ada lagi tentang shaf kanan dan shaf kiri berbeda. Dan semua itu diterangkan oleh Rosuululloohصلى الله عليه وسلم.
Ringkasnya,bagi laki-laki hendaknya segera penuhi shaf yang pertama, tidak usah ragu. Jangan karena rasa feodalisme, lalu anak muda tidak mau mengisi shat terdepan. Silakan siapa saja yang datang lebih dahulu, duduk di shaf paling depan.
7. Datang ke masjid, ikut shalat berjama’ah tetapi mulutnya bau.
Itu juga merupakan penyimpangan. Baunya bisa bermacam-macam, bisa bau petai, bau jengkol, bau rokok, semuanya sama, satu nasib. Bukan karena hukumnya menjadi haroom, melainkan bau-bau petai, jengkol, itu tidak ada nash untuk haroom dan halalnya, dan sesuatu yang didiamkan bukan berarti haroom, tetapi itu boleh, karena itu urusan duniawi.Tetapi jika dikaitkan dengan shalat berjama’ah, maka Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فِي غَزْوَةِ خَيْبَرَ مَنْ أَكَلَ مِنْ هَذِهِ الشَّجَرَةِ يَعْنِي الثُّومَ فَلَا يَقْرَبَنَّ مَسْجِدَنَا
ِArtinya:
“Siapa yang selesai makan dari pohon ini, jangan dekat-dekat tempat shalat kami”. (Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory dan Imaam Muslim).
Demikianlah sabda Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Oleh karena itu, jika anda selesai makan yang berbau (seperti: pete, jengkol, bawang), hendaknya dibersihkan, dengan sikat gigi misalnya. Yang demikian itu tidak haroom, hanya makruh menurut syar’i.
Berbeda dengan merokok yang terkategorikan haroom. Bukan karena baunya, melainkan karena rokoknya.
Maka hendaknya kita menjauhkan sholat berjama’ah dari hal-hal yang berbau.
Hadits, dari ‘Abdullooh bin ‘Umar رضي الله عنه. Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
“Siapa yang selesai makan bawang merah, bawang putih, jangan memasuki masjid-masjid kami”.
Dalam riwayat lain Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
“Siapa yang makan bawang, maka hendaknya ia menyendiri, memisahkan diri dari kami atau memisahkan diri dari masjid kami, dan duduklah di rumahnya”.
Padahal sholat di masjid hukumnya fardhu, menunjukkan bahwa yang demikian itu merupakan kekurangan bagi dirinya, bahkan dosa karena tidak berjama’ah di masjid.
Dari Anas bin Malik رضي الله عنه, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
“Barangsiapa yang makan pohon ini jangan mendekati kami dan jangan shalat bersama kami”
Padahal shalat berjama’ah itu harus, tetapi karena bau maka jangan dekat-dekat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Jangan dekat-dekat masjid dan jangan dekat-dekat imaamnya.
Demikianlah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda kepada kita semua, dan hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Al Bukhoory.
Dan hadits lain yang panjang dan diriwayatkan oleh Umar bin Khoththoob رضي الله عنه dalam shohiih Muslim, beliau berkata:
“Aku melihat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, apabila menemui ada orang yang makan makanan yang bau, lalu ia masuk ke masjid, maka oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم orang tersebut diusir, disuruh keluar lalu disuruhnya masuk ke kawasan kuburan Baqi’.
Lalu kata beliau: “Kalau ada orang yang mau makan makanan seperti itu, hendaklah dihilangkan baunya dengan cara memasaknya”.
Dari Anas bin Malik, riwayat Al Imam Ath Thobrony, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
“Jauhilah pohon ini (- maksudnya bawang merah dan bawang putih yang menimbulkan bau -). Ini adalah sangat busuk baunya untuk kalian makan (- Maksudnya jangan dimakan -).
Tetapi jika kalian inginkan dua jenis makan ini, bunuhlah baunya dengan api.”. (Maksudnya dimasak).
8. Shalat dengan memegang mushaf Al Qur’an
Tentu itu tidak boleh. Sering kita lihat dalam sholat Taroowih. Tetapi dalam shalat fardhudipastikan tidak lazim. Karena sesungguhnya perintah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم:
“Apabila kalian shalat maka hendaknya imam membaca Al Qur’an sesuai dengan apa yang olehnya dianggap mudah”.
Jadi jangan membaca yang susah, apalagi menyusahkan orang lain. Maka hendaknya imam membaca apa yang ia pahami. Tentu itu meringankan dirinya dan orang lain. Dan itu merupakan fatwa dari Syaikh ‘Abdullooh bin Jibrin, anggota ‘ulama-‘ulama besar di Saudi Arabia bahwa yang demikian itu tidak boleh.
Kata beliau : “Bila membaca Al Qur’an dari mushaf secara langsung, maka itu adalah bagian dari abas, yakni sesuatu yang membuat orang lain lalai, tidak khusyu’ dan sia-sia”.
9. Mendirikan shalat jamaah kedua, padahal imam sedang melakukan shalat berjama’ah
Jadi merupakan saingan jama’ah. Jadi itu tidak boleh. Boleh mendirikan jama’ah dengan kaum muslimin yang lain, selama itu bukan melakukan munafasah (saingan) terhadap imaam shalat yang pertama. Karena dengan mendirikan jama’ah saingan, akan menimbulkan perpecahan dalam masyakat melalui shalat berjama’ah dua gelombang.
10. Apabila iqamat sudah dilantunkan, tidak boleh ada orang yang melakukan shalat sunnat.
Maka dalam masjid harus diatur, kapan adzan dan kapan iqamat. Antara adzan dan iqamat harus ada waktu untuk memberi kesempatan kaum muslimin berwudhu, melakukan shalat sunnat, sehingga mereka sempat melakukan shalat sunnat sebelum shalat fardhu.
Misalnya Shubuh, waktu Shubuh termasuk lama, oleh karena itu antara adzan dan iqamat bisa diberikan waktu 15 – 20 menit. Setelah 20 menit barulah iqamat.
Yang perlu diperhatikan,terutama oleh muadzin, karena muadzin menentukan sah dan tidaknya ibadah shalat dan shaum. Oleh karena itu untuk waktu Shubuh harus dipahami bahwa menurut para ‘ulama yang empat (4 Madzab: Maliki, Hambali, Hanafi dan Syafi’i), menyatakan bahwawaktu Shubuh dengan diawali dengan Al Fajruts tsaani (Fajar kedua), bukan Al Fajrul Awwal (Fajar pertama). Fajar terjadi dua kali, yaitu fajar pertama dan fajar kedua. Fajar pertama adalah Kadzib dan fajar kedua adalah Shoodiq (Fajar Shoodiq).
Para ‘ulama telah mendefinisikan (Ibnu Qudamah, Imam An Nawawy) mengatakan bahwa Al Farjush shoodiq adalah Al Bayaadh, (Sinar putih), Al Mustathiil (Panjang), Al Mustadiir(melingkar ), Al Muntasyir (menyorot) fil ‘ufuqisysyarqi.
Berarti awal waktu Shubuh itu seharusnya ketika ufuk sebelah timur sudah kelihatan putih. Sebagai pertanda tidak lama lagi matahari akan terbit. Kalau belum muncul warna putih, berarti belum datang waktu fajar (Shubuh). Kalau ada orang adzan lalu shalat, maka shalatnya tidak sah. Maka bila kita ingin melakukan shalat, biarlah tunggu sampai kira-kira 15 – 20 menit. Di zaman Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم ketika orang pulang dari shalat Shubuh, orang terlihat sosok tubuhnya saja, belum terlihat jelas wajahnya.
Demikian pula ketika Dhuhur, sesudah adzan boleh ditunggu sampai 15 – 20 menit, kalau itu di tempat pemukiman. Bukan di kantor. Waktu Ashar demikian pula. Waktu Maghrib lebih pendek lagi. Selesai adzan bisa ditunggu antara 5 – 10 menit. Harus ada waktu jeda antara adzan dan Iqamat, karena sebelum Maghrib ada shalat sunnat.
Dalam Hadits shoohih Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ الْمُزَنِىِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « صَلُّوا قَبْلَ الْمَغْرِبِ رَكْعَتَيْنِ ». ثُمَّ قَالَ « صَلُّوا قَبْلَ الْمَغْرِبِ رَكْعَتَيْنِ لِمَنْ شَاءَ
Artinya:
“Shalatlah kalian sebelum shalat Maghrib, (diulang sampai 3 kali), bagi siapa yang mau”.(Hadits Riwayat Imaam Abu Daawud no: 1283)
Menunjukkan bahwa sebelum shalat Maghrib ada shalat sunnat. Kalau seandainya tidak ada kalimat “bagi siapa yang mau” dalam hadits tersebut, maka shalat sunnat sebelum Maghrib adalah shalat Sunnat Muakad. Karena ada kalimat tersebut, maka shalat sunnat Qabliatal Maghrib tidak Muakkad. Boleh bagi yang mau, yang tidak mau juga tidak mengapa. Intinya ada waktu jeda antar adzan dan iqamat.
Waktu shalat Isya’ lebih panjang, antara adzan dan iqamat bisa lebih panjang dari lainnya, bisa 15 menit, bisa 20 menit. Bahkan bisa diundur, karena jama’ahnya hanya itu-itu saja, maka boleh (Jaiz). Tetapi kalau ada jama’ah dari luar, maka harus dilaksanakan sesuai dengan waktunya.
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh penulis kitab hadits yang enam kecuali Imam Bukhoory, dari Abu Hurairah رضي الله عنه, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِذَا أُقِيمَتِ الصَّلاَةُ فَلاَ صَلاَةَ إِلاَّ الْمَكْتُوبَةُ
Artinya:
“Apabila iqamah telah ditegakkan (disuarakan), tidak ada lagi shalat sunnat”.
(Hadits Riwayat Imaam Muslim no: 1678)
Maka ketika ada orang sedang shalat sunnat, tidak boleh iqamat, tunggu sebentar hingga orang tersebut meyelesaikan shalat sunnatnya.
Kalau jamaahnya terlalu banyak, sehingga sulit melihat apakah sudah selesai shalat sunnatnya atau belum, maka gunakanlah tanda batasan waktu. Misalnya dengan aba-aba lampu merah, tanda bahwa tidak boleh lagi shalat sunnat.
11. Ma’mum ikut menyampaikan aba-aba (komando imam) kepada ma’mum dibelakangnya.
Misalnya imam bertakbir “Alloohu Akbar”, lalu ma’mum dibelakang ada yang menirukan imam dengan bersuara keras “Alloohu Akbar” untuk menyampaikan (aba-aba) kepada shaf yang dibelakangnya. Maksudnya baik, tetapi yang demikian itu tidak dibenarkan, kalau tidak dibutuhkan. Misalnya sudah ada mikrofon, dan terdengar oleh semua jama’ah, tentunya sudah tidak dibutuhkan. Tetapi bila tiba-tiba listrik mati, sehingga tidak terdengar oleh jama’ah yang dibelakang karena banyaknya jamaah, maka boleh itu dilakukan oleh salah seorang ma’mum yang ada ditengah-tengah, untuk memberikan aba-aba bagi jama’ah yang ada di belakang.
Pertanyaannya, bolehkah ada tabligh (penyampaian) dari orang yang ada di shaf belakang imam? Bagaimana hukumnya?
Jawabannya: Tabligh (penyampaian) oleh orang yang di belalakang imam tanpa ada suatu keperluan, maka hukumnya Bid’ah, tidak dianjurkan sesuai dengan kesepakatan para Imam Ahli Sunnah. Sesuai dengan kesepatan para Imam: Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dan para Khulafaa’ur rosyidiin menjaharkan Takbir dan tidak ada yang melakukan tabligh (penyampaian) sebelumnya. Tetapi ketika Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم sakit, dan beliau melemah suaranya, maka Abubakar As Siddiq رضي الله عنه, mengeraskan suaranya sebagai mubaligh (penyampai), atas nama Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
12. Memanjangkan Takbir (biasanya dilakukan imam shalat).
Imam mengucapkan “Alloohu Akbar” dengan nada panjang (Allooooohu Akbar). Yang demikian itu keliru dan tidak boleh diulangi. Maka sebagai imam ia seharusnya tahu tentang hukum-hukum tentang shalat berjama’ah, kapan ia batal, kapan ia harus terus, bagaimana mengerti tentang kondisi ma’mum, dstnya. Dan untuk menjadi imam shalat, perlu ilmu tertentu dan harus dipahami dengan baik. Bukan asal-asalan.
13. Tidak mendahulukan (menunjuk) orang yang Aqra’ (Fasih bacaannya), padahal orang itu ada.
Biasanya di Indonesia banyak sekali masjid yang tidak ada imam rowatib-nya. Lalu biasanya yang ditunjuk untuk menjadi imam shalat, orang yang senior usianya. Orang yang paling tua, misalnya. Yang muda-muda agak dikesampingkan. Yang demikian itu tidak benar. Sebetulnyayang menjadi imam adalah orang yang Aqro’, orang yang hafalannya banyak (Hafidz Al Qur’an), yang fasih membaca Al Qur’an, termasuk orang faqih (tahu hukum agama). Semua itu adalah bagian dari Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
Hadits dari Abu Mas’ud ‘Utbah bin Amir رضي الله عنه, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
عن أَبَي مَسْعُودٍ يَقُولُ قَالَ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللَّهِ وَأَقْدَمُهُمْ قِرَاءَةً فَإِنْ كَانَتْ قِرَاءَتُهُمْ سَوَاءً فَلْيَؤُمَّهُمْ أَقْدَمُهُمْ هِجْرَةً فَإِنْ كَانُوا فِى الْهِجْرَةِ سَوَاءً فَلْيَؤُمَّهُمْ أَكْبَرُهُمْ سِنًّا وَلاَ تَؤُمَّنَّ الرَّجُلَ فِى أَهْلِهِ وَلاَ فِى سُلْطَانِهِ وَلاَ تَجْلِسْ عَلَى تَكْرِمَتِهِ فِى بَيْتِهِ إِلاَّ أَنْ يَأْذَنَ لَكَ أَوْ بِإِذْنِهِ
Artinya:
“Menjadi imam suatu kaum adalah mereka yang paling aqro’, kalau mereka sama,maka orang yang lebih tahu dan paham tentang sunnah Rosuulullooh. Kalau ia sama, maka orang yangpaling dahulu hijrahnya”. (Hadits Riwayat Imaam Muslim no: 1566)
Itulah yang tentunya merupakan aturan bagi kita semua.
Ditambah lagi ada suatu riwayat dari Amr bin Salamah Aljurmi رضي الله عنه, ia menceritakan,
“Bahwa telah datang ayahku kepada Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم yang bersabda: “Orang yang menjadi imam adalah orang yang paling banyak hafalan Al Qur’annya. Aku telah datang pada suatu jama’ah yang hendak melakukan shalat, lalu dilihatnya (dipilihnya) orang yang akan menjadi ma’mum shalat itu orang yang paling banyak hafalan Al Qur’annya. Ternyata tidak ada, kecuali aku (Amr bin Salamah Aljurmi). Maka akulah yang dijadikan imam shalat. Padahal ketika itu umurku baru 6 atau 7 tahun”
Bayangkan, anak usia 6 atau 7 tahun menjadi imam shalat. Itu karena Qiro’atul Qur’annya, dan ia adalah termasuk shohaby, lisannya sudah ‘Arabi, dan Al Qur’an-nya sudah fasih, dan sudah diperhitungkan oleh para sahabat yang ketika itu berkumpul. Bukan seperti anak kita sekarang, meskipun umur 6 atau 7 tahun sudah bisa membaca Al Qur’an, belum aqro’, jadi jangan dijadikan imam shalat.
Bahkan menurut Imam Syafi’iy, yang dimaksud dengan Aqro’ adalah orang yang palingfaqiih, mengerti hukum Islam, mengerti yang halal dan haroom, maka merekalah yang berhak untuk dipilih menjadi imam.
14. Ketika ada disuarakan Iqamat, sampai pada kalimat: Qodqoomatishsholaah,
Qodqoomatishsholaah, lalu orang menyahut “Aqomahalloohu wa adamaha”.
عَنْ أَبِى أُمَامَةَ أَوْ عَنْ بَعْضِ أَصْحَابِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّ بِلاَلاً أَخَذَ فِى الإِقَامَةِ فَلَمَّا أَنْ قَالَ قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ قَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « أَقَامَهَا اللَّهُ وَأَدَامَهَا
(Hadits Riwayat Imaam Abu Daawud, dan di-dho’iif-kan oleh Syaikh Nashiruddin al Albaany)
Yang demikian itu haditsnya Dho’iif. Haditsnya lemah, diriwayatkan Imam Abu Daawud, dari Abu Umamah رضي الله عنه, tetapi hadits tersebut sesungguhnya Dho’iif. Tidak boleh dipakai. Berarti ketika disuarakan Iqamat, tidak perlu dijawab dengan seperti tersebut.
15. Bersalaman kepada orang yang ada di sebelah kanan dan kiri selesai shalat.
Jabat tangan adalah terpuji, sangat dianjurkan. Tetapi melazimkan, selalu melakukan setelah selesai shalat, yang demikian adalah bagian daripada kekeliruan, karena menyalahi Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
16. Imam saktah (diam) sebentar, begitu selesai membaca Al Fatihah; maksudnya memberi kesempatan kepada ma’mum untuk membaca surat Al Fatihah.
Yang demikian itu tidak dibenarkan. Seharusnya ia langsung membaca surat berikutnya. Ketika imam diam, ada yang memahami bahwa diam tidak menjaharkan. Dia membaca tetapi tidak manjaharkan. Tetapi di tengah-tengah surat ia menjaharkan. Yang demikian itu juga tidak benar. Itulah pemahaman saktah yang tidak dibenarkan.
Intinya yang demikian itu tidak dibenarkan, bahkan menimbulkan Bid’ah.
Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baaz, pernah ditanya tentang masalah tersebut, bagaimana hukumnya imam berhenti setelah membaca Al Fatihah, dengan maksud memberi kesempatan kepada ma’mum untuk membaca Al Fatihah, maka jawab beliau: “Tidak ada dalil yang shohiih mengenai ajaran diam bagi imam shalat, untuk memberikan kesempatan ma’mum membaca surat Al Fatihah dalam shalat jahriyah.”
Adapun ma’mum hendaknya membaca Al Fatihah dalam keadaan imam diam sejenak, jika imam itu diam. Jika tidak sempat karena diamnya hanya sebentar, maka ma’mum membaca Al Fatihah dengan sirr,walaupun imam membaca surat setelah surat Al Fatihah. Kemudian setelah ma’mum selesai membaca Al Fatihah, kemudian ia hendaknya diam mendengarkan imam. Karena ada Hadits Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda :
عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ يَبْلُغُ بِهِ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- « لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ
Artinya:
“Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca surat Al Fatihah”.
(Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory dan Imaam Muslim)
Lalu ada Hadits lain, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
“Kalian membaca apa dibelakang imam kalian?” Shohabat berkata: “Ya Rosuulullooh, kami membaca sesuatu dibelakang engkau”
Sabda Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم: “Jangan kalian lakukan itu, kecuali itu surat Al Fatihah. Karena tidak ada shalat, kecuali bagi orang yang membaca surat Al Fatihah”.
Fatwa beliau صلى الله عليه وسلم, bahwa dua Hadits tersebut memberikan pengkhususan terhadap firman Allooh سبحانه وتعالى, dan Hadits Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, bahwa imam shalat itu wajib diikuti, janganlah kalian menyelisihi imam, apabila imam bertakbir, maka bertakbirlah, apabila imam membaca, maka hendaknya kalian perhatikan.
Pertanyaan:
1. Sesorang masbuk yang tidak sempat membaca Al Fatihah, tetapi langsung mengikuti imam yang sedang ruku’, bagaimanakah yang demikian itu, apakah bisa dihitung satu raka’at?
2. Bolehkah kita mempersilakan orang untuk menjadi imam padahal ia seorang perokok?
Jawaban:
1. Ada hadits, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
“Barangsiapa yang menemui imam (shalat) dalam keadaan ruku’, maka ia bisa masuk langsung ruku’ bersama imam. Dan orang tersebut telah dihukumi sebagai mendapat satu raka’at bersama imam dalam shalatnya”.
2. Mengenai perokok yang menjadi imam, bahwa rokok dalam hukum syar’i berdasarkan ijtihad para ‘ulama terhadap dalil-dalil yang ada, seperti misalnya kitab yang pernah ditulis oleh SyaikhJamiil Zainu, mengkoleksikan dalil-dalil bahwa rokok hukumnya haroomun, kitab khusus yang namanya Hukmut Tad-hin (Hukum merokok).Bahwa orang yang merokok telah melakukan perbuatan yang haroom. Orang yang telah melakukan perbuatan yang haroom kecil atau besar, haroom kecil tetapi sering, maka ia terhukumi sebagai Fasiq. Hukum imam seorang yang fasiq adalah Shohiihah (sah). Jadi berma’mum kepada orang yang fasiq adalah Shohihiah (sah). Namun, apakah tidak ada orang lain yang lebih shoolih daripada orang tersebut? Hukum shalatnya sah, tidak batal. Tetapi hendaknya dicarikan imam yang aqro’, yang faqih danashlah, yang lebih shoolih.
Pertanyaan:
Ketika kita shalat malam (Tahajud) apakah boleh secara jahr kalau berjama’ah?
Jawaban:
Semua shalat malam terhukumi sebagai shalat Jahriyah.
Untuk shalat Tahajud, relatif tergantung dari kebutuhan masing-masing orang. Contohnya, ada orang seperti Umar bin Khoththoob رضي الله عنه. beliau shalat malam bisa khusyu’ bila dijahr-kan. Maka beliau jahr-kan ketika shalat Tahajud. Sedangkan Abu Bakar As Siddiq رضي الله عنه. khusyu’ dengan cara sirri, dan ini bukan berarti beliau seorang yang lemah. Jadi tergantung dari kebutuhan masing-masing orang.
Tetapi, bila shalat Tahajud secara berjamaah karena darurat al ma’mumin, maka boleh dijahr-kan supaya ma’mum menjadi tahu kapan berhenti, kapan bergerak.
Pertanyaan:
Imam adalah pemimpin shalat. Apakah dia juga pemimpin dzikir dan doa sesudah shalat, padahal kami ingin berdoa sendiri?
Jawaban:
Shalat fardhu (wajib), sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم adalah berjama’ah. Diluar shalat tidak ada tuntunan berjamaah. Jadi ketika selesai shalat, maka jama’ah masing-masing. Setelah imam salam, boleh membaca dzikir yang mana saja, mau doa yang mana, yang panjang, yang pendek, yang jelas adalah: Dzikir adalah masing-masing dan berdoa masing-masing sesuai dengan keperluannya, dan boleh dijahr-kan. Di-jahrkannya bukan berarti seragam bersama-sama /serentak, jadi janganlah dikomando dalam satu komando. Setelah selesai shalat, salam, maka semua dzikir dan doa adalah masing-masing.
Pertanyaan:
Apabila imam sedang sujud, lalu kita datang, maka kita langsung sujud atau Takbiratul Ihroom terlebih dahulu?
Jawaban:
Takbir yang pertama kali dalam shalat adalah Takbiratul Ihroom. Arti Tabiratul Ihroom adalah mengharoomkan segala gerak dan ucapan diluar tata-cara shalat. Jadi kalau ada orang Takbir langsung sujud mengikuti imam karena masbuk, berarti ia sudah Takbiratul Ihroom.
Pertanyaan:
1. Apakah iqamat dengan satu kali takbir itu salah?
2. Ketika adzan Shubuh kita berpatokan dengan jadwal yang ada. Tetapi saat itu belum ada tanda-tanda fajar kedua. Lalu bagaimana hukumnya adzan itu?
Jawaban:
1. Iqamat adalah ifrod (tunggal), adzan adalah tasniah (ganda), dan redaksi (ungkapan) yang diajarkan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم: Yang dimaksud dengan tasniah misalnya Alloohu Akbar – Alloohu Akbar (satu kali), diulang lagi: Alloohu Akbar – Alloohu Akbar (satu kali), maka itu disebut kalimah (kata), maka disebut kalimatun thoyyibah. Jadi dalam iqomah misalnya:Hayya ‘alashsholaah adalah kalimat (satu kata).
2. Adzan Shubuh yang berpatokan selalu pada jadwal, sebenarnya tidak benar. Karena waktu shalat itu sudah ditentukan oleh Allooh سبحانه وتعالى, dan waktunya telah diisyaratkan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dalam hadits-haditsnya. Misalnya waktu Shubuh adalah Fajritstsani ila tulu’isysyamsi, waktu Dzuhur adalah Idza zaalatisysyamsu, waktu ‘Ashar idzaa shooro dzillu kulli syai-in mistluh. Jadi setiap waktu ada batas-batasnya, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم yang mendefinisikan. Kalau Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم mendefinisikan, lalu orang melanggar definisi itu, maka tidak sah. Maka sebenarnya patokan kita adalah gejala yang Allooh berikan setiap pagi setiap melalui fajar shoodiq. Selalu terpaku pada jadwal itu tidak boleh, maka sesekali kita melihat dan membuktikan. Karena selisih satu menit saja dengan keadaan yang sebenarnya, maka itu bukan waktu Shubuh.
Pertanyaan:
Bagaimana hukum membaca Al Fatihah, karena diatas terungkap bahwa ada orang datang langsung ruku’ tanpa membaca Al Fatihah sudah dianggap satu rakaat?
Jawaban:
Kasusnya berbeda. Seseorang yang masuk pada shalat berjama’ah sejak imam membaca Takbiratul Ihroom, tentu ia sempat membaca surat Al Fatihah. Oleh karenanya, ia terhukumi dengan hadits yang satu, yaitu tidaklah dianggap shalat kecuali dengan membaca surat Al Fatihah. Shalatnya tidak sah tanpa membaca Al Fatihah. Sedangkan kasus yang kedua, seseorang tidak sempat membaca Al Fatihah karena begitu ia masuk dalam jama’ah shalat, imam sudah ruku’, maka ia langsung ikut ruku’. Dan itu dihukumi sebagai satu rakaat. Karena Rosuululloohصلى الله عليه وسلم sudah menjamin, siapa yang bisa ikut ruku’ bersama imam maka ia dianggap mendapat satu rakaat.
Ada penjelasan yang agak panjang dari Imam As Suyuuthy bahwa Bid’ahnya tentang peringatan Tahun Baru Masehi.
Yang mengatakannya adalah Imam As Suyuuthy dalam Kitab Al Amru bil Ittiba’, kata beliau: “Bahwa yang banyak dilakukan orang pada musim dingin, mereka menyangka dan mengklaim bahwa itu adalah kelahiran Nabi Isa عليه السلام, termasuk apa yang diperbuat pada malam hari ini berupa kemungkaran, misalnya menyalakan api, menyediakan makanan, menyalakan lilin, dll. Menjadikan waktu kelahiran itu menjadi musim, itu adalah ajaran Nasrani, bukan sesuatu yang ada dalam ajaran Islam.
Sekian bahasan kita, semoga bermanfaat,
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Categories: Uncategorized | 8 Komentar

TANDA KIAMAT 5

tanda-hari-kiamat-5

TANDA-TANDA HARI KIAMAT (BAGIAN-5)

Hadits dari Mu’adz bin Jabal رضي الله عنه, diriwayatkan oleh Imaam Ad Daarimy رحمها الله, beliau Mu’adz bin Jabal رضي الله عنه berkata :
عن معاذ بن جبل قال : سيبلى القرآن في صدور أقوام كما يبلى الثوب فيتهافت يقرؤونه لا يجدون له شهوة ولا لذة يلبسون جلود الضأن على قلوب الذئاب أعمالهم طمع لا يخالطه خوف إن قصروا قالوا سنبلغ وإن أساؤوا قالوا سيغفر لنا إنا لا نشرك بالله شيئا
Artinya:
Berkata Mu’adz bin Jabbal رضي الله عنه, “Al Qur’an akan rusak pada dada-dada banyak kaum, sebagaimana rusaknya baju. Mereka membacanya, sedang mereka tidak merasakan keasyikan dan kelezatannya, mereka memakai kulit-kulit domba diatas hati serigala.
Pekerjaan mereka rakus, tidak tercampur rasa takut.
Jika mereka kurang dalam beramal, mereka mengatakan, “Kita akan sampai.”
Dan Jika mereka berbuat buruk, mereka mengatakan, “Kita akan diampuni, karena kita tidak menyekutukan Allooh سبحانه وتعالى dengan apa pun.”
(Sunan Ad Daarimy no: 3346)
Maksudnya, mereka membaca Al Qur’an tetapi tidak punya gairah, tidak punya suatu ketertarikan, dan tidak punya kelezatan. Mereka memakai kulit domba, tetapi hatinya serigala. Amalan mereka itu tamak (rakus), tidak ada sama sekali perasaan takut.
Itu juga merupakan tanda-tanda dekatnya Hari Kiamat, yaitu bahwasanya Al Qur’an dibaca orang, tetapi bacaannya itu hanya merupakan rutinitas, hanya sekedar melaksanakan kewajiban bahwa Al Qur’an itu harus dibaca, tetapi orang yang membaca itu tidak punya ketertarikan kepada apa yang dimaksud dan apa yang terkandung dalam isi Al Qur’an.
Bila dibandingkan dengan pada masa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, apabila dibacakan Al Qur’an, maka para Shohabat dan umat Islam pada masa itu hatinya bergetar dan bahkan menangis. Misalnya Shohabat Abu Bakar As Siddiq رضي الله عنه, diberi kesempatan untuk meng-Imaami sholat Berjamaa’ah, maka ‘Aa’isyah رضي الله عنها (puteri Abu Bakar As Siddiq رضي الله عنه) mengatakan: “Jangan ya Rosuulullooh, karena ayahku bila membaca Al Qur’an pasti menangis”.
Artinya, bahwa Abu Bakar As Siddiq رضي الله عنه itu orang yang hatinya lembut, halus, peka. Apabila mendengar ayat Al Qur’an apalagi ayat-ayat mengenai neraka, beliau رضي الله عنه tidak tahan, pasti menangis. Bila para Shohabat mendengar dari Al Qur’an tentang surga, maka mereka penuh harap ingin dijadikan penghuni surga oleh Allooh سبحانه وتعالى.
Apa sebab mereka bisa bersikap demikian? Hal itu adalah karena mereka (para Shohabat) beriman kepada Allooh سبحانه وتعالى, serta beriman kepada Al Qur’an dengan sepenuh hati, membenarkan Al Qur’an bukan saja bacaan-nya, tetapi juga sangat paham dan menghayati isi kandungannya, mereka memerlukan Al Qur’an lebih daripada perkara makan mereka sendiri.
Bandingkan dengan di zaman sekarang, dimana betapa banyak diantara kaum Muslimin yang membaca Al Qur’an saja tidak bisa. Inilah keprihatinan kita yang mendalam, yaitu demikian berhasilnya musuh-musuh Allooh سبحانه وتعالى menjauhkan kaum Muslimin dari Kitabullooh, yang seyogyanya merupakan pedoman hidup dan petunjuk kesehariannya.
Itu baru perkara membaca, belum lagi perkara memahami isinya. Dengan isi Al Qur’an, banyak dari kalangan kaum Muslimin yang sudah lari menjauh, seolah-olah apa yang terdapat dalam Al Qur’an itu tidak patut dan tidak pantas dipraktekkan dalam kehidupan sehari-harinya. Bahkan diantara mereka ada yang menentang dengan menyatakan bahwa Al Qur’an itu isinya ada yang porno, tidak relevan dengan zaman sekarang, atau tuduhan lain seperti tidak adil, karena Al Qur’an telah membuat pembagian waris yang tidak sama antara laki-laki dan perempuan, lalu ada pula yang mengatakan bahwa Al Qur’an bertentangan dengan Hak Azasi Manusia, dsbnya.
Bila kita kembali pada isi Al Qur’an, maka di zaman sekarang banyak kaum Muslimin yang bahkan bersandiwara agar orang-orang menjadi Islamophobia (takut kepada Islam). Phobia terhadap Islam, phobia terhadap Al Qur’an.
Maka bila di zaman dahulu (zaman para Shohabat), sedemikian taatnya mereka kepada Al Qur’an, maka di zaman sekarang sudah begini keadaannya, berarti kita sudah dekat dengan kejadian Hari Kiamat. Banyak di antara kaum Muslimin yang sudah termasuk apa yang diutarakan dalam Hadits diatas yaitu “berbaju domba, tetapi berhati serigala”. Kalau sudah begini, bisa dibayangkan betapa jauhnya umat dari hidayah Allooh سبحانه وتعالى.
Banyak diantara kaum Muslimin menggampangkan Al Qur’an. Kalau mereka meninggalkan syari’at Allooh سبحانه وتعالى, tidak patuh kepada Allooh سبحانه وتعالى, menyalahi syari’at-Nya, melakukan penyimpangan dan maksiat kepada Allooh سبحانه وتعالى, lalu mereka mengatakan : “Nanti kita juga akan sampai ke surga, karena Allooh سبحانه وتعالى itu kan Maha Pengasih-Penyayang.”
Lalu kalau mereka berbuat kejahatan, maksiat, dsbnya, mereka pun mengatakan: “Ah, Alloohسبحانه وتعالى itu kan Maha Pengampun, Allooh سبحانه وتعالى akan memberikan pengampunan kepada kita. Selama kita tidak berbuat syirik, Allooh سبحانه وتعالى akan mengampuni kita.”
Begitu kata mereka.
Mereka menggampangkan kepada Allooh سبحانه وتعالى, dengan menganggap bahwa dosa itu adalah permainan, dan bahwa Allooh سبحانه وتعالى itu Maha Pengampun sehingga mereka boleh bebas-bebas saja berbuat dosa.
Yang demikian sekarang sudah semakin terlihat dalam kehidupan sehari-hari kaum Muslimin. Mu’jizat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم adalah bahwa satu demi satu apa yang diberitakan melalui Hadits-Hadits Shohiih tentang Tanda-Tanda Hari Kiamat itu sudah mulai terbukti dan itu adalah merupakan peringatan bagi manusia: “Ingatlah, Hari Kiamat sudah semakin dekat!”
Al Qur’an akan dijadikan sebagai seruling
Dalam Hadits Riwayat Imaam Ath Thobrony dalam Al Mu’jam Al Kabiir no: 14532, di-shohiihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany dalam Shohiih Al Jaami’ush Shoghiirno: 216, dari Shohabat ‘Auf bin Maalik رضي الله عنه, bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:
أَخَافُ عَلَيْكُمْ سِتًّا: إِمَارَةُ السُّفَهَاءِ، وَسَفْكُ الدِّمَاءِ، وَبَيْعُ الْحُكْمِ، وَقَطِيعَةُ الرَّحِمِ، وَنَشْوٌ يَتَّخِذُونَ الْقُرْآنَ مَزَامِيرَ، وَكَثْرَةُ الشُّرَطِ
Artinya:
“Aku takut 6 perkara menimpa kalian:
1. Kepemimpinan yang bodoh (dungu)
2. Tumpah darah
3. Jual beli hukum
4. Putus Silaturohim
5. Anak-anak kecil menjadikan Al Qur’an sebagai seruling
6. dan Banyaknya Polisi.”
Dari Hadits tersebut diatas, dapat kita perhatikan bahwa merupakan Tanda-Tanda Hari Kiamat adalah kepemimpinan yang bodoh (dungu), terjadinya tumpah darah, hukum diperjual belikan, terjadinya putus silaturohim, banyaknya polisi dan anak-anak kecil menjadikan Al Qur’an sebagai seruling. Maksudnya: anak-anak kecil, tetapi sudah dapat melantunkan pembacaan Al Qur’an dengan suara yang merdu
Bukankah tanda-tanda yang demikian itu sudah ada?
Bila hal-hal seperti itu sudah terjadi, maka itulah tanda bahwa hari Kiamat semakin dekat.
Wanita berdagang bersama Suaminya
Dalam Hadits Riwayat Imaam Ahmad dalam Musnad-nya no: 3870, dan Syaikh Syuaib Al Arnaa’uth mengatakan bahwa sanad Hadits ini adalah Hasan, dari Shohabat ‘Abdullooh bin Mas’uud رضي الله عنه, beliau berkata bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
إنَّ بَيْنَ يَدَيْ السَّاعَةِ تَسْلِيمَ الْخَاصَّةِ وَفُشُوَّ التِّجَارَةِ حَتَّى تُعِينَ الْمَرْأَةُ زَوْجَهَا عَلَى التِّجَارَةِ وَقَطْعَ الْأَرْحَامِ وَشَهَادَةَ الزُّورِ وَكِتْمَانَ شَهَادَةِ الْحَقِّ وَظُهُورَ الْقَلَمِ
Artinya:
“Diantara menjelang terjadinya hari Kiamat adalah orang-orang hanya memberikan salam pada orang-orang khusus (– orang-orang yang dikenalnya saja – pent.). Tersebar perdagangan, sehingga wanita menolong suaminya pada urusan perdagangan, dan putusnya silaturahmi, dan persaksian palsu dan disembunyikannya persaksian yang benar dan nampaknya pena (– karya tulis – pent.)”.
Maksudnya wanita sudah diikutkan mencari nafkah, padahal wanita adalah hanya menerima nafkah. Karena suaminya lah yang semestinya wajib mencari nafkah.
Tetapi di zaman sekarang justru laki-laki dengan sengaja menyuruh isterinya untuk bekerja dan bersama-sama memikul beban keluarga. Karena yang demikian ini sesungguhnya tidak sesuai dengan Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, karena wanita tidak punya kewajiban sedikitpun untuk memberi nafkah kepada keluarganya. Yang berkewajiban memberi nafkah adalah suami. Bahkan jika suami sudah tidak memberikan nafkah kepada isterinya maka si isteri boleh minta cerai (talak).
Tetapi apabila si isteri sangat besar rasa sayang dan cintanya kepada suami, atau karena merasa sangat besar tanggung-jawabnya, sementara suaminya telah bekerja keras tetapi hasilnya masih saja kurang, dan tidak cukup untuk menopang keluarga, sementara tanggungannya semakin hari adalah semakin besar; kemudian isterinya mulai berpikir untuk ikut membantu, maka itu adalah kemauan dari si isteri, dan itu terpulang kepada suaminya. Kalau suami mengizinkan, maka boleh dilakukan. Tetapi kalau suaminya tidak mengizinkan, maka isteri tidak boleh mencari nafkah. Demikian besarnya Islam menjunjung tinggi dan memuliakan wanita.
Namun, di zaman sekarang justru lapangan kerja lebih banyak dimasuki oleh para wanita. Misalnya di daerah Cikarang, Bekasi ada sebuah pabrik boneka yang buruh-buruhnya terdiri dari ribuan orang wanita. Kalau sudah demikian, apakah para Wali mereka bisa mengontrol?
Intinya adalah bahwa keluarnya wanita dari rumahnya itu menurut Hadits yang diriwayat oleh Al Imaam At Turmudzy no: 1773, dari Shohabat bernama ‘Abdullooh bin Mas’uud رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda :
المرأة عورة فإذا خرجت استشرفها الشيطان
Artinya:
“Wanita itu aurot. Apabila sudah keluar dari rumahnya maka ia dibuatnya cantik, mulia, dihiasi dan dibarengi oleh syaithoon”.
Jadi wajar jika lalu banyak terjadi perselingkuhan, perzinahan, bahkan ada orang yang suaminya tidak tahu isterinya bergaul atau berzina dengan siapa. Di kantor-kantor sekarang tidak mustahil wanita dan laki-laki yang bukan mahromnya saling berkomunikasi, lalu yang terjadi selanjutnya adalah perbuatan-perbuatan yang lebih jauh daripada itu. Bagaimana Walinya bisa mengontrol, jika wanita sudah keluar rumah. Sedangkan di rumah saja sekarang banyak fitnah semacam itu, apalagi kalau wanita itu sudah dilepaskan keluar rumahnya.
Itulah apa yang digambarkan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bahwa wanita ikut bekerja membantu bisnis suaminya, dan apabila itu terjadi maka itu bagian dari tanda dekatnya dengan Hari Kiamat.
Tanda-tanda lainnya menurut Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم adalah :
Putus silaturahim
Dan ini sudah banyak terjadi, mungkin karena perkara pembagian warisan, bisa juga karena pertikaian berkenaan dengan masalah harta, berkenaan dengan masalah bisnis, hubungan keluarga pun lalu menjadi terputus dan hal itu sudah terjadi, sedang terjadi dan akan terjadi. Itulah tanda-tanda dari dekatnya dengan Hari Kiamat.
Tersebarnya ‘ilmu, kitabnya banyak
Di zaman sekarang sangat mudah mendapatkan kitab. Kalau di zaman dahulu, orang menulis kitab itu dengan alat seadanya, misalnya pena dicelupkan ke tinta lalu dibuat menulis di atas kertas atau sejenisnya, kering penanya lalu dicelupkan lagi, untuk menulis lagi, demikian seterusnya. Sehingga apa yang ditulisnya itu tidak mustahil kalau si penulis hafal. Karena dengan jerih-payahnya yang sangat susah. Lalu orang yang ber-‘ilmu itu (si penulis) harus pergi dari Madinah ke negeri Syam (Irak, Syiria) kadang hanya untuk mendapatkan satu atau dua Hadits saja. Maka ia akan hafal dengan Hadits-Hadits yang didapatkannya itu.
Sementara di zaman sekarang, ‘ilmu (dien) didapatkan dengan mudah, tinggal beli Kitabnya, atau di-fotocopy, atau di-scanning, dan programnya juga sudah ada di komputer. Tetapi bersamaan dengan mudahnya kitab-kitab itu didapat, maka justru tidak ada lagi di zaman sekarang ini orang-orang yang se-‘aalim orang-orang di zaman dahulu. Sekarang himmah-nya sudah tidak ada, karena dunia sudah dekat dengan kehancuran dan itu adalah tanda-tanda dekatnya Hari Kiamat.
Syahadat Azzur (bersaksi palsu)
Orang yang salah dikatakan benar, orang yang benar dikatakan salah dengan bukti yang direkayasa, sehingga semua orang terkecoh. Itupun juga merupakan tanda-tanda Kiamat, sebagaimana telah dijelaskan dalam Hadits diatas.
Wa kitmanu sahadatil haq (Menyembunyikan kebenaran)
Sebagaimana telah dijelaskan dalam Hadits diatas, yaitu antara lain menyembunyikan kesaksian yang benar (haq). Yang benar tidak dimunculkan, tetapi malah disembunyikan. Karena kalau diperlihatkan dan dimunculkan, maka resikonya akan semakin besar.
Sekarang tidak sedikit orang yang mempunyai bukti kebenaran, lalu merasa dirinya tidak aman. Maka tidak sedikit orang yang terlibat kasus, daripada ia melapor, lalu menjadi lebih banyak masalah, maka lebih baik ia diam saja. Itupun juga merupakan tanda-tanda bahwa Kiamat sudah dekat.
Padahal diatas sebelumnya disampaikan bahwa kitab yang identik dengan ‘ilmu itu semakin banyak, semakin mudah didapat. Jumlah Kitab di zaman sekarang sudah tidak terhitung banyaknya, bisa kita lihat di toko-toko buku.
Padahal di zaman para Shohabat tidak ada kitab sebanyak seperti sekarang. Para Shohabat dan kaum Muslimin ketika itu tidak punya kitab-kitab sebanyak ini. Tetapi justru Al Qur’an dan Hadits itu ada dalam hati mereka masing-masing. Slogan mereka adalah : Al ‘ilmu fissuduur laa fissutuur (Ilmu itu ada dalam dada, bukan dalam catatan).
Hal itu menunjukkan bahwa yang disebut dengan ‘Ilmu (dien) adalah yang dihafal, bukan yang ada dalam kitab. Tetapi sekarang kitabnya semakin banyak, tetapi ‘ilmunya semakin tidak ada. Karena sekarang barokatul ‘ilmi (keberkahan ‘ilmu dien) yang sudah tidak ada. Orang yang hafal sudah semakin sedikit, dan seterusnya.
Maka yang demikian itu merupakan hal yang harus kita sadari, tetapi bukan harus diikuti, melainkan sedapat mungkin kita menegakkan apa yang menjadi keharusan bagi kita sebagaiAhlus Sunnah wal Jamaa’ah, yaitu mencintai, mempelajari, menghidupkan Sunnah-sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
Zina sudah nampak
Zina kelihatan, nampak, terang-terangan. Di zaman sekarang, perzinahan menjadi soal biasa, dan pergeseran nilai-nilai moral itu sangat cepat. Bila di zaman dahulu merupakan hal yang memalukan, maka di zaman sekarang bahkan menjadi suatu kebanggaan. Misalnya: Pacaran. Padahal pacaran itu tidak ada dalam ajaran Islam. Bahkan sebenarnya berbicara saja antara dua orang laki-laki dan perempuan yang bukan mahromnya itu sangat dibatasi didalam ajaran Islam.
Hadits Shohiih Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 5231, dari Anas bin Maalik رضي الله عنه, ia berkata, “Sungguh aku akan meriwayatkan pada kalian satu Hadits yang aku dengar dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dimana tidak akan ada yang meriwayatkan Hadits ini selainku. Aku mendengar Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
لَأُحَدِّثَنَّكُمْ حَدِيثًا سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُحَدِّثُكُمْ بِهِ أَحَدٌ غَيْرِي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ وَيَكْثُرَ الْجَهْلُ وَيَكْثُرَ الزِّنَا وَيَكْثُرَ شُرْبُ الْخَمْرِ وَيَقِلَّ الرِّجَالُ وَيَكْثُرَ النِّسَاءُ حَتَّى يَكُونَ لِخَمْسِينَ امْرَأَةً الْقَيِّمُ الْوَاحِدُ
Artinya:
“Sesungguhnya diantara tanda Hari Kiamat ialah ‘ilmu (dien) diangkat, jaahil (kebodohan) semakin banyak, zina semakin merebak, minum khomr semakin marak, jumlah laki-laki semakin sedikit, sedangkan jumlah wanita semakin banyak sehingga 50 wanita hanya diasuh oleh satu orang laki-laki”.
Syeikh Abu Bakar Al Jazaa’iry, seorang ‘Ulama di Madinah mengatakan bahwa apabila wanita mendengar telephone (mengangkat telephone) di rumahnya, dan yang berbicara dalamtelephone itu adalah laki-laki, maka suara wanita itu tidak boleh dilenggak-lenggokkan atau dilembut-lembutkan dan dimerdu-merdukan, sehingga menawan dan menarik. Karena yang demikian itu sudah menyalahi Syar’i. Dan beliau juga mengatakan bahwa wanita bila menggunakan sandal (selop) tidak boleh yang hak-nya tinggi. Karena itu juga adalah bagian dari fitnah, dimana bunyi ketukan sepatu hak tinggi-nya itu dapat mengundang perhatian laki-laki dan menjadi sumber fitnah bagi diri wanita tersebut.
Wanita semakin banyak jumlahnya, sementara jumlah laki-laki semakin sedikit
Dalam Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 5577, dari Shohabat Anas bin Maalik رضي الله عنه, beliau رضي الله عنه berkata, “Sungguh akan aku ceritakan kepada kalian suatu Hadits yang tidak seorangpun dari kalian mendengarnya kecuali dariku. Aku mendengar Nabi صلى الله عليه وسلمbersabda,
مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يَظْهَرَ الْجَهْلُ وَيَقِلَّ الْعِلْمُ وَيَظْهَرَ الزِّنَا وَتُشْرَبَ الْخَمْرُ وَيَقِلَّ الرِّجَالُ وَيَكْثُرَ النِّسَاءُ حَتَّى يَكُونَ لِخَمْسِينَ امْرَأَةً قَيِّمُهُنَّ رَجُلٌ وَاحِدٌ
‘Diantara tanda hari kiamat, yaitu:
1) Akan nampak kebodohan
2) Ilmu diangkat
3) Zina Nampak
4) Khamr diminum
5) Akan semakin sedikit bilangan laki-laki dan semakin banyak bilangan wanita, sehingga 50 wanita dipimpin (ditanggung) oleh seorang laki-laki’.”
Sehingga satu orang laki-laki berbanding 50 orang wanita (1:50). Berdasarkan survey, maka sekarang saja perbandingan antara jumlah laki-laki dan wanita adalah satu berbanding tujuh (1:7). Kalau sudah seperti itu, berarti sudah mulai berjalan apa yang digambarkan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم tentang apa yang akan terjadi dalam kehidupan kaum Muslimin.
Karena itu hendaknya sebagai Muslim justru kita harus semakin berhati-hati, karena apabila wanita yang jelas-jelas diciptakan oleh Allooh سبحانه وتعالى sebagai suatu fitnah bagi kaum laki-laki itu akan semakin banyak jumlahnya, dimana wanita itu adalah kesenangan bagi laki-laki (dan orang yang tidak suka dengan wanita maka berarti ia tidak normal), maka berarti fitnah (ujian dalam perkara) wanita pun akan semakin besar.
Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam QS. Aali ‘Imroon (3) ayat 14:
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ
Artinya:
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di duniadan di sisi Allooh-lah tempat kembali yang baik (surga).”
Berarti laki-laki itu kesukaannya adalah pada wanita, dan laki-laki itu kemauannya lebih besar. Oleh karenanya, Allooh سبحانه وتعالى menyediakan stok (jumlah) wanita lebih banyak. Itu sudahSunnatullooh, sesuai dengan yang Allooh سبحانه وتعالى berikan jauh sebelum manusia itu lahir. Maka apabila hal seperti tabarruj (berhias) itu dibiarkan merebak, maka wanita akan semakin menjadi banyak fitnah bagi laki-laki. Bicaranya, jalan lenggak-lenggoknya, penampilannya, berhiasnya, semua itu adalah fitnah. Semuanya itu juga bisa menyebabkan bagi si wanita itu menjadi calon penghuni neraka.
Dari Abu Hurairoh رضي الله عنه berkata, “Telah bersabda Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم,
صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا
Artinya:
“Dua golongan termasuk dari penghuni neraka yang belum pernah aku melihatnya:
1. Kaum, bersama mereka cemeti bagaikan ekor sapi. Dengannya mereka pukuli orang-orang.
2. Wanita, mereka berpakaian tetapi mereka telanjang. Mereka melenggak-lenggok dan diatas kepala mereka bagaikan punuk unta.
Mereka itu tidak akan masuk kedalam surga, bahkan tidak akan mencium baunya surga. Padahal baunya surga bisa menembus jarak sekian dan sekian (70 tahun).” (Hadits Riwayat Imaam Muslim no: 5704)
Maksud dari Hadits diatas adalah bahwa ada dua kelompok manusia yang akan menjadi Ahlun Naar (penghuni neraka), yaitu pertama adalah para Penguasa yang mendzolimi, menganiaya orang, dan kelompok kedua adalah wanita yang berpakaian tetapi mereka itu pada dasarnya adalah telanjang (karena pakaiannya yang ketat, membentuk tubuh, atau dari bahan yang menerawang ke kulitnya dsbnya sehingga meskipun ia berpakaian tetapi sebenarnya pakaian itu tidak menutupi aurotnya), berjalannya melenggak-lenggok sehingga menawan lawan jenisnya dan ada sanggul di kepalanya seperti punuk onta.
Jadi wanita yang suka berjalan melenggak-lenggok itu adalah wanita calon Ahlun Naar(penghuni neraka). Oleh karena itu, bila sekarang banyak wanita dijadikan bahan pameran, misalnya dipamerkan atau dijadikan ratu kecantikan sejagad, maka hendaknya anda berhati-hati karena itu identik dengan zina. Mereka berdalih bahwa itu sebagai seni. Tertapi ingat, bahwa dalam Islam seni itu diperbolehkan asal tidak bertentangan dengan Syar’i. Kalau bertentangan dengan Syar’i, apalagi merusak moral, dan sejenisnya, maka kita sebagai orang beriman hendaknya ingat bahwa hati dan hawa ini harus dibimbing dengan Wahyu yang berasal dari Allooh سبحانه وتعالى dan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Jangan kita mengatur segala sesuatu itu sekehendak diri kita sendiri, karena manusia itu tidak akan dapat dan tidak akan bisa melakukan dengan benar tanpa tuntunan Wahyu.
Melimpah ruahnya harta, sehingga shodaqoh pun ditolak
Lalu dalam Hadits Shohiih Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 1414 dan Imaam Muslim no: 2385, dari Abu Musa Al Asy’ary رضي الله عنه, beliau berkata bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda :
لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ يَطُوفُ الرَّجُلُ فِيهِ بِالصَّدَقَةِ مِنَ الذَّهَبِ ثُمَّ لاَ يَجِدُ أَحَدًا يَأْخُذُهَا مِنْهُ وَيُرَى الرَّجُلُ الْوَاحِدُ يَتْبَعُهُ أَرْبَعُونَ امْرَأَةً يَلُذْنَ بِهِ مِنْ قِلَّةِ الرِّجَالِ وَكَثْرَةِ النِّسَاءِ
Artinya:
“Akan datang kepada manusia suatu zaman dimana seorang laki-laki berkeliling untuk men-shodaqohkan emasnya, akan tetapi tidak ada yang mau menerima.Dan seorang laki-laki diikuti oleh 40 wanita dan itu disebabkan karena laki-laki hanya sedikit dan banyaknya wanita”.
Maksudnya bukan saja wanita yang melimpah, tetapi juga harta akan melimpah. Bayangkan seorang laki-laki membagi-bagikan emas, ia ingin bershodaqoh tetapi tidak ada yang mau menerimanya, karena samua orang sudah kaya-raya. Yang ini belum terjadi dan kelak akan terjadi. Tetapi bahwa laki-laki sudah lebih sedikit jumlahnya dibandingkan dengan wanita, maka sekarang sudah mulai terbukti.
Itulah yang dapat disampaikan dari Kitab “AHwaalul Qiyaamah” yang disampaikan oleh Al Imaam Al Baihaqy Asy Syaafi’iy رحمه الله.
Berikutnya kita masuk kepada kitab lain yang bernama Kitab “Al ‘Idzaa’ah Fi Asyrootissaa’ah” yang ditulis oleh Al ‘Allaamah Siddiiq Hasan Khoon.
Ada satu Hadits diriwayatkan oleh Imaam Ahmad no: 23303, dan menurut Syaikh Syuaib Al Arnaa’uth sanad Hadits ini Hasan, para perowinya terpercaya, dari Hudzaifah Ibnul Yaman رضي الله عنه, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَكُونَ أَسْعَدَ النَّاسِ بِالدُّنْيَا لُكَعُ بْنُ لُكَعٍ
Artinya:
“Tidak akan terjadi hari Kiamat sehingga orang yang paling bahagia di dunia pada saat itu adalah Luka’ bin Luka”.
Yang dimaksudkan adalah apabila orang yang paling hina yakni budak yang dungu ataupun orang yang tercela malah justru menjadi manusia yang paling senang (bahagia) di dunia, maka berarti Hari Kiamat sudah dekat. Luka’ bin Luka’ adalah nama seorang budak yang paling rendah, dungu, tercela ketika itu.
Jadi, apabila seorang budak sudah menjadi orang yang paling bahagia di dunia. Apakah itu sekarang sudah terjadi atau belum, ataupun masih jarang terjadi. Tetapi apa yang digambarkan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم satu demi satu sudah mulai terjadi.
Orang yang sabar, dirundung fitnah
Lalu dalam Hadits Riwayat Imaam At Turmudzy no: 2260, yang dishohiihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany, dari Shohabat Anas bin Maalik رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda,
يأتي على الناس زمان الصابر فيهم على دينه كالقابض على الجمر
Artinya:
“Akan datang pada manusia suatu zaman, (dimana) orang yang sabar diantara mereka dalam berpegang diatas dien-nya, bagaikan orang yang menggenggam bara api.”
Maksudnya, orang yang berpegang teguh pada As Sunnah itu justru disebut sebagai orang gila.
Itu disebutkan dalam Kitab Al I’tishoom, ditulis oleh Imaam Asy Sya’tiby رحمه الله yang hidup pada abad ke-7 Hijriyah.
Bagaimana pula dengan orang-orang yang ingin menegakkan Sunnah pada abad ke-15 Hijriyah seperti sekarang ini? Berbagai ujian dirasakan oleh kaum Muslimin di zaman ini, dimana ada orang berjenggot karena menjalankan Sunnah Rosuul justru dikatakan “Seperti kambing”, atau orang yang celananya agak tinggi (tidak isbal yakni tidak menutupi matakaki-nya) maka dikatakan “Kebanjiran”, dsbnya. Sedangkan wanita yang memakai cadar dikatakan “Seperti Ninja”, lalu orang yang taat kepada Sunnah Rosuul malah dikatakan “Kembali ke zaman onta”. Ini sebetulnya sudah sama dengan apa yang dirasakan oleh Imam Asy Syatiby رحمه الله.
Bahkan orang yang memegang teguh Sunnah Rosuul, sekarang dikatakan sebagai Ahlul Bid’ah, Al Mujassimah, bahkan dituduh sebagai pengikut paham tertentu. Misalnya ada orang kembali kepada Sunnah Rosuul, dikatakan sebagai pengikut paham Wahabi. Kalau seseorang itu ta’ashubkepada pendapat orang, maka boleh dikatakan ia sebagai pengikut paham tertentu. Tetapi bila seseorang itu mengemukakan dalil Al Qur’an dan Hadits, maka ia hanya semata-mata mengikuti Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Maka hendaknyalah obyektif dalam menilai.
Itulah yang digambarkan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم yang sudah mulai terjadi, walaupun belum sedahsyat seperti yang digambarkan.
Berbangga-bangga dengan bangunan Masjid
Lalu dalam Hadits berikut ini, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda :
من أشراط الساعة أن يتباهى الناس في المساجد
Artinya:
“Salah satu tanda hari Kiamat adalah manusia berbangga-bangga dengan bangunan masjid.” (Hadits shohiih riwayat Imaam An Nasaa’i رحمه الله no: 689 dari Anas bin Maalik رضي الله عنه)
Maksudnya, kalau masjidnya bagus maka orang menjadi bangga. Kalau orang bisa membangun masjid dengan bentuk yang bagus, indah, megah dan unik, bahkan sampai ada yang membuatnya dari bahan emas, maka ia pun akan merasa bangga. Jadi kalau orang sudah bangga dengan fisik masjidnya, maka itu lah tanda dekatnya dengan Hari Kiamat. Padahal orang di zaman dahulu bangganya adalah dengan memakmurkan aktivitas di dalam masjid, bukan bangga dengan fisiknya masjid. Memakmurkan masjid itu misalnya dengan halaqotul ‘ilmi, nashihah, sholat berjamaa’ah, dll.
Sebagaimana terdapat dalam Hadits Palsu Riwayat Imaam Al Hakim no: 7883, Syaikh Nashiruddin Al Albaany dalam Silsilah Hadits Dho’iif dan Maudhuu’ no: 447 bahwa Hadits ini adalah Palsu, dari Shohabat Anas bin Maalik, berkata bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
يكون في آخر الزمان عباد جهال و قراء فسقة
Artinya:
“Akan terjadi menjelang Hari Kiamat, ‘Ubbad (Ahli ‘Ibadah) yang Juhaal (Jaahil atau bodoh)wa Quro’ (pembaca Al Qur’an)”.
Hadits ini adalah Palsu sebagaimana telah terdahulu penjelasannya. Walau demikian, realitasnya di masyarakat terjadi. Maksudya ia rajin ber-ibadah tetapi ia bodoh (dalam perkara dien), “wa Quro’” artinya ia biasa membaca Al Qur’an atau Hadits Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, tetapi ia melaksanakan wirid-wirid yang tidak diajarkan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, karena ia jaahil(bodoh) didalam perkara dien, ia menganggap bahwa amalan-amalan yang ia kerjakan itu adalah bagian dari ajaran Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, padahal bukan.
Perhatikanlah, bukankah di saat menjelang bulan Robbi’ul Awwal banyak orang melaksanakan peringatan Maulid Nabi? Mereka menganggap bahwa perayaan Maulid (Mauludan) adalah bagian dari dien, sehingga mereka menganggapnya sebagai ibadah. Padahal perayaan Maulid itu tidak ada landasan atau dalil tentangnya. Bahkan perayaan Maulid tersebut menyerupai orang Nasrani yang merayakan Natal, sehingga dengan demikian merupakan suatu kejaahilan dimana kaum Muslimin malah menyerupai orang kaafir.
‘Ubbaad yang Juhaal, artinya Ahli Ibadah, tetapi bodoh.
Quroo’ artinya pembaca Al Qur’an, tetapi ia bodoh dan Fasaaqoh, maksudnya adalah Faasiq, atau orang yang berma’shiyat kepada Allooh سبحانه وتعالى. Maksudnya, pembaca Al Qur’an atau Hadits-nya bukan lah orang-orang yang shoolih melainkan orang-orang yang faasiq, karena ibadahnya didasarkan atas hawa-nafsu, bukan berdasarkan ‘ilmu dien.
Bulan terlihat lebih besar
Dalam Hadits berikut ini, dijelaskan bahwa bulan (pada awal bulan) pada suatu saat nanti akan terbit, dianggapnya bulan itu sudah tanggal dua, padahal baru saja terbit. Maksudnya, ketika tanggal satu awal bulan, tetapi dikatakan tanggal dua, karena bulan sudah kelihatan besar. Itupun merupakan tanda dari dekatnya Hari Kiamat.
عَنْ أَنَس رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ :«إِنَّ مِنْ اقْتِرَاب السَّاعَة أَنْ يُرَى الْهِلاَل لِلَيْلَة فَيُقَالُ : لِلَيلَتَينِ ، وَأَنْ يَظْهَر مَوتُ الْفَجْأة ، وَأَنْ تُتَّخَذ الْمَسَاجِد طُرُقاً
Artinya:
Dari Anas رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda, “Sesungguhnya bagian daritanda dekatnya Hari Kiamat adalah bahwa Bulan terlihat dalam satu malam seperti untuk dua malam (– maksudnya: Lebih besar dari biasanya, pen–), dan banyak terjadi mati mendadak, dan masjid dijadikan tempat lewat.”
(Hadits Riwayat Imaam Adhdhiyaa’ Al Maqdisy dalam Al Ahadiits Al Mukhtaaroh no: 2325, dan menurut Syaikh Abdul Maalik bin Dhuhaisy, sanadnya Hasan, demikian juga di-Hasankan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany dalam Shohiih Jaami’ush Shoghiir no: 10841 danSilsilah Hadiits Shohiih no: 2292)
Irak, Syam dan Mesir menolak mata uangnya
Dalam Hadits Riwayat Imaam Muslim no: 7459 dari Shohabat Abu Hurairoh رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
مَنَعَتِ الْعِرَاقُ دِرْهَمَهَا وَقَفِيزَهَا وَمَنَعَتِ الشَّأْمُ مُدْيَهَا وَدِينَارَهَا وَمَنَعَتْ مِصْرُ إِرْدَبَّهَا وَدِينَارَهَا وَعُدْتُمْ مِنْ حَيْثُ بَدَأْتُمْ وَعُدْتُمْ مِنْ حَيْثُ بَدَأْتُمْ وَعُدْتُمْ مِنْ حَيْثُ بَدَأْتُمْ
Artinya:
“Irak menolak mata uang (dirham) dan takarannya (– takarannya kurang lebih seberat 40 Kg – pen.). Syam (– sekarang Palestina, Syria, Lebanon, Yordania — pen.) akan menolak takaran (– takarannya kurang lebih seberat 75 Kg — pen.) dan dinarnya. Mesir akan menolak takaran (– takarannya kurang lebih seberat 80 Kg – pen.) dan mata uang dinarnya. Kemudian kalian akan kembali lagi dari awal. Kemudian kalian akan kembali lagi dari awal. Kemudian kalian akan kembali lagi dari awal.”
Maksud dari Hadits ini adalah bahwa orang-orang kaafir pada akhir zaman akan menguasai kawasan Irak, Syam dan Mesir (dimana sekarang sudah terjadi), sehingga mereka enggan untuk membayar jizyah dan upeti mereka. Kemudian kaum Muslimin akan mengalami keadaan dimana Islam kembali kepada keterasingan (dianggap aneh), sebagaimana dikemukakan oleh Al Imaam An Nawawy رحمه الله dalam mensyarah Hadits ini.
Manusia tidak peduli apakah hartanya berasal dari halal atau harom
Dalam Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 2083 dari Shohabat Abu Hurairoh رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لَا يُبَالِي الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ الْمَالَ أَمِنْ حَلَالٍ أَمْ مِنْ حَرَامٍ
Artinya:
“Sungguh benar-benar akan datang pada manusia suatu zaman, dimana seseorang tidak lagi memperdulikan asal pengambilan hartanya, dari halal kah atau dari harom kah.”
Manusia ambisius terhadap dunia, dan menjauh terhadap Allooh
Dalam Hadits Riwayat Imaam Al Hakim no: 7917, beliau berkata sanad Hadits ini Shohiih akan tetapi Imaam Al Bukhoory dan Imaam Muslim tidak meriwayatkannya, dan Hadits ini dishohiihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany dalam Silsilah Hadits Shohiih no: 1510. Dari Shohabat ‘Abdullooh bin Mas’uud رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم telah bersabda:
اقتربت الساعة و لا يزداد الناس على الدنيا إلا حرصا و لا يزدادون من الله إلا بعدا
Artinya:
“Hari Kiamat semakin dekat dan manusia tidak bertambah terhadap dunia kecuali kegigihan (ambisius), dan tidak bertambah terhadap Allooh kecuali menjauh.”
Itu adalah tanda-tanda diantara banyak sekali tanda yang sudah diberitakan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم kepada kita semua, dan mudah-mudahan kita tidak termasuk orang yang melanggar apa yang dikatakan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم tersebut.
Masih banyak lagi yang belum disampaikan, insya Allooh dalam kajian berikutnya mudah-mudahan kita masuk kepada pembahasan yang menurut para ‘Ulama adalah Tanda-tanda Kiamat Besar dan setelah yang besar ada lagi yang lebih besar, namanya Sepuluh Tanda. Dan bila Sepuluh Tanda itu terjadi maka Hari Kiamat di ambang pintu.
Yang tersebut diatas adalah tanda-tanda Kiamat yang mudah-mudahan menjadi kewaspadaan kita dalam meng-efektifkan sisa hidup kita. Dan kita bermohon kepada Allooh سبحانه وتعالى, mudah-mudahan Allooh سبحانه وتعالى selalu melimpahkan taufiq dan hidayah-Nya sehingga kita tidak pernah meleset sesaat pun dari Firman Allooh سبحانه وتعالى dan sabda Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.Karena kita sangat butuh akan hidayah Allooh سبحانه وتعالى, sangat miskin dengan kasih sayang Allooh سبحانه وتعالى dan berharap mudah-mudahan sebagaimana berkumpulnya kita di masjid ini, Allooh سبحانه وتعالى kumpulkan kelak di dalam surga-Nya.

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

TANDA KIAMAT 4

tanda-hari-kiamat-4

TANDA-TANDA HARI KIAMAT (BAGIAN-4)
Oleh: Ust. Achmad Rofi’i, Lc.

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allooh سبحانه وتعالى,
Pada kesempatan kali ini, kita masih membahas tentang Tanda-TandaHari Kiamat yang sudah terjadi dan masih memungkinkan akan terjadi atau berulang. Setelah itu kita akan membahas Tanda-Tanda Kiamat Besar. Masih banyak Hadits-hadits yang meng-khobarkan kepada kita tentang beberapa Tanda-Tanda, yang kita harus tahu dan waspadai, agar hidup kita tidak tergelincir.
Di bawah ini akan kami bacakan apa yang diriwayatkan oleh Imaam Al Baihaqy رحمها الله (beliau ber-madzhab Syafi’i), yang menulis Kitab yang berjudul “AHwaalul Qiyaamah” (Dahsyatnya Kiamat).
Imaam Al Baihaqy رحمها الله meriwayatkan beberapa Hadits berkenaan dengan Tanda- Tanda Kiamat. Haditsnya panjang sekali. Beliau رحمها الله menukil dari Kitab bernama Hilyaatul Auliyaa’ (Perhiasan Para Wali) yang ditulis oleh Abu Nu’aim Al Asfaahany رحمها الله, antara lain adalah Hadits yang diuraikan dibawah ini:
عن حذيفة بن اليمان قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : ( من اقتراب الساعة اثنتان وسبعون خصلة إذا رأيتم الناس أماتوا الصلاة وأضاعوا الأمانة وأكلوا الربا واستحلوا الكذب واستخفوا الدماء واستعلوا البناء وباعوا الدين بالدنيا وتقطعت الأرحام ويكون الحكم ضعفا والكذب صدقا والحرير لباسا وظهر الجور وكثر الطلاق وموت الفجاءة وائتمن الخائن وخون الأمين وصدق الكاذب وكذب الصادق وكثر القذف وكان المطر قيظا والولد غيظا وفاض اللئام فيضا وغاض الكرام غيضا وكان الأمراء فجرة والوزراء كذبة والأمناء خونة والعرفاء ظلمة والقراء فسقة إذا لبسوا مسوك الضأن قلوبهم أنتن من الجيفة وأمر من الصبر يغشيهم الله فتنة يتهاوكون فيها تهاوك اليهود الظلمة وتظهر الصفراء يعني الدنانير وتطلب البيضاء يعني الدراهم وتكثر الخطايا وتغل الامراء وحليت المصاحف وصورت المساجد وطولت المنائر وخربت القلوب وشربت الخمور وعطلت الحدود وولدت الأمة ربها وترى الحفاة العراة وقد صاروا ملوكا وشاركت المرأة زوجها في التجارة وتشبه الرجال بالنساء والنساء بالرجال وحلف بالله من غير أن يستحلف وشهد المرء من غير أن يستشهد وسلم للمعرفة وتفقه لغير الدين وطلبت الدنيا بعمل الآخرة واتخذ المغنم دولا والامانة مغنما والزكاة مغرما وكان زعيم القوم أرذلهم وعق الرجل أباه وجفا أمه وبر صديقه وأطاع زوجته وعلت أصوات ا لفسقة في المساجد واتخذت القينات والمعازف وشربت الخمور في الطرق واتخذ الظلم فخرا وبيع الحكم وكثرت الشرط واتخذ القرآن مزامير وجلود السباع صفافا والمساجد طرقا ولعن آخر هذه الامة أولها فليتقوا عند ذلك ريحا حمراء وخسفا ومسخا وآيات )
Artinya:
Dari Hudzaifah bin Al Yaman رضي الله عنه, beliau berkata bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda, “Diantara dekatnya hari Kiamat terdapat 72 tanda:
– Jika kalian melihat manusia mematikan sholat
– Menyia-nyiakan amanah
– Memakan riba
– Menghalalkan dusta
– Menyepelekan darah
– Meninggikan bangunan
– Menjual Islam dengan dunia
– Memutus silaturahmi
– Lemahnya hukum
– Dusta dianggap benar
– Sutra dijadikan pakaian
– Kedzoliman menjadi bampak
– Banyaknya perceraian
– Mati mendadak
– Penghianat dipercaya
– Orang jujur dituduh penghianat
– Pendusta dibenarkan
– Orang jujur didustakan
– Banyaknya saling tuduh-menuduh
– Banyaknya hujan
– Anak durhaka
– Banyaknya orang jahat
– Semakin langkanya orang dermawan
– Para Pemimpin yang faasiq
– Para Menteri yang dusta
– Banyak orang yang dipercaya itu yang menjadi penghianat
– Banyak Pejabat dzolim
– Banyak para Qurro’ (Pembaca Al Qur’an) yang Faasiq
– Memakai kulit domba, tetapi hati mereka lebih busuk daripada bangkai
– Orang yang sabar diliputi fitnah, mereka memperlakukannya seperti orang-orang Yahudi yang dzolim
– Munculnya uang kuning (–uang emas / dinnar –)
– Dicarinya dirham
– Banyak kesalahan
– Para Pemimpin dimusuhi
– Mushaf dihias
– Masjid didekorasi
– Mimbar ditinggikan
– Hati semakin rusak
– Khomer diminum
– Huduud diabaikan
– Hamba melahirkan tuannya
– Orang telanjang dan tak beralas kaki menjadi Raja
– Wanita menyertai suaminya dalam berdagang
– Laki-laki menyerupai wanita, dan wanita menyerupai laki-laki
– Bersumpah tanpa diminta
– Bersaksi tanpa diminta
– Mengucapkan salam hanya pada yang dikenal
– Islam dipelajari bukan untuk Islam
– Dunia dicari dengan amalan akherat
– Melarang ghonimah dari orang yang berhak
– Kepercayaan dijadikan jalan untuk memperkaya diri
– Zakat dijadikan hutang
– Pemimpin kaum adalah orang yang terhina dari mereka
– Seseorang durhaka pada bapaknya, kasar pada ibunya, tapi baik pada temannya
– Suami taat pada istrinya
– Orang faasiq suaranya nyaring di masjid-masjid
– Penyanyi wanita dijadikan sebagai kebutuhan hidup
– Musik dijadikan kebutuhan hidup
– Khomer diminum di jalan-jalan
– Kedzoliman dijadikan kebanggaan
– Hukum dijual-belikan
– Polisi semakin banyak
– Al Qur’an dijadikan seruling
– Kulit binatang dijadikan hiasan
– Masjid dijadikan jalan (tempat melintas)
– Akhir Ummat ini mengutuk Pendahulu Ummat.”
(Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim Al Asfahaany رحمها الله dalam Kitab “Hilayatul Auliyaa’”, namundi-dho’iifkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany رحمها الله dalam Silsilah Hadits Dho’iifno: 1171, karena ada seorang Perowi bernama Faroj bin Fudhoolah sedangkan dia adalah perowi yang lemah).
Namun betapapun Hadits ini Dho’iif, tetapi uraian-uraian yang terdapat didalamnya itu terdapat pula banyak Hadits yang menyatakan benarnya, sebagaimana dapat kita buktikan melalui Hadits-Hadits Shohiih berikut ini :
عن عبد الله بن مسعود قال قلت يا رسول الله هل للساعة من علم تعرف به الساعة فقال نعم يَا ابْنَ مَسْعُودٍ، إِنَّ لِلسَّاعَةِ أَعْلامًا، وَإِنَّ لِلسَّاعَةِ أَشْرَاطًا، أَلا وَإِنَّ مِنْ أَعْلامِ السَّاعَةِ وَأَشْرَاطِهَا أَنْ يَكُونَ الْوَلَدُ غَيْظًا، وَأَنْ يَكُونَ الْمَطَرُ قَيْظًا، وَأَنْ تَفِيضَ الأَشْرَارُ فَيْضًا، يَا ابْنَ مَسْعُودٍ إِنَّ مِنْ أَعْلامِ السَّاعَةِ وَأَشْرَاطِهَا أَنْ يُصَدَّقَ الْكَاذِبُ، وَأَنْ يُكَذَّبَ الصَّادِقُ، يَا ابْنَ مَسْعُودٍ، إِنَّ مِنْ أَعْلامِ السَّاعَةِ وَأَشْرَاطِهَا أَنْ يُؤْتَمَنَ الْخَائِنُ، وَأَنْ يُخَوَّنَ الأَمِينُ، يَا ابْنَ مَسْعُودٍ، إِنَّ مِنْ أَعْلامِ السَّاعَةِ وَأَشْرَاطِهَا أَنْ تَوَاصَلَ الأَطْبَاقُ، وَأَنْ تَقَاطَعَ الأَرْحَامُ، يَا ابْنَ مَسْعُودٍ، إِنَّ مِنْ أَعْلامِ السَّاعَةِ وَأَشْرَاطِهَا أَنْ يَسُودَ كُلَّ قَبِيلَةٍ مُنَافِقُوهَا، وَكُلَّ سُوقٍ فُجَّارُهَا، يَا ابْنَ مَسْعُودٍ، إِنَّ مِنْ أَعْلامِ السَّاعَةِ وَأَشْرَاطِهَا أَنْ تُزَخْرَفَ الْمَسَاجِدُ، وَأَنْ تُخَرَّبَ الْقُلُوبُ، يَا ابْنَ مَسْعُودٍ، إِنَّ مِنْ أَعْلامِ السَّاعَةِ وَأَشْرَاطِهَا أَنْ يَكُونَ الْمُؤْمِنُ فِي الْقَبِيلَةِ أَذَلَّ مِنَ النَّقْدِ، يَا ابْنَ مَسْعُودٍ، إِنَّ مِنْ أَعْلامِ السَّاعَةِ وَأَشْرَاطِهَا أَنْ يَكْتَفِيَ الرِّجَالُ بِالرِّجَالِ وَالنِّسَاءُ بِالنِّسَاءِ، يَا ابْنَ مَسْعُودٍ، إِنَّ مِنْ أَعْلامِ السَّاعَةِ وَأَشْرَاطِهَا أَنْ تَكْثُفَ الْمَسَاجِدُ وَأَنْ تَعْلُوَ الْمَنَابِرُ، يَا ابْنَ مَسْعُودٍ، إِنَّ مِنْ أَعْلامِ السَّاعَةِ وَأَشْرَاطِهَا أَنْ يُعْمَرَ خَرَابُ الدُّنْيَا، وَيُخْرَبَ عِمْرَانُهَا، يَا ابْنَ مَسْعُودٍ، إِنَّ مِنْ أَعْلامِ السَّاعَةِ وَأَشْرَاطِهَا أَنْ تَظْهَرَ الْمَعَازِفُ، وَتُشْرَبَ الْخُمُورُ، يَا ابْنَ مَسْعُودٍ، إِنَّ مِنْ أَعْلامِ السَّاعَةِ وَأَشْرَاطِهَا شُرْبَ الْخُمُورِ، يَا ابْنَ مَسْعُودٍ، إِنَّ مِنْ أَعْلامِ السَّاعَةِ وَأَشْرَاطِهَا الشُّرَطُ وَالْغَمَّازُونَ وَاللَّمَّازُونَ، يَا ابْنَ مَسْعُودٍ، إِنَّ مِنْ أَعْلامِ السَّاعَةِ وَأَشْرَاطِهَا أَنْ يَكْثُرَ أَوْلادُ الزِّنَى، قُلْتُ: أَبَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ، وَهُمْ مُسْلِمُونَ؟ قَالَ: نَعَمْ، قُلْتُ (يعني عتي السعدي ) : أَبَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ ( يعنى عبد الله بن مسعود )، وَالْقُرْآنُ بَيْنَ ظَهْرَانَيْهِمْ؟ قَالَ: نَعَمْ، قُلْتُ: أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ، وَأَنَّى ذَاكَ؟ قَالَ: يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ يُطَلِّقُ الرَّجُلُ الْمَرْأَةَ، ثُمَّ يَجْحَدُ طَلاقَهَا فَيُقِيمُ عَلَى فَرْجِهَا، فَهُمَا زَانِيَانِ مَا أَقَامَا
Artinya:
Dari ‘Abdullooh bin Mas’uud رضي الله عنه berkata, “Aku bertanya kepada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم apakah hari Kiamat itu terdapat tanda yang dapat kita ketahui sebelumnya?”
Maka Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم menjawab, “Ya.”
Kemudian Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda, “Wahai Ibnu Mas’uud, sesungguhnya hari Kiamat itu memiliki tanda-tanda, dan diantara tandanya adalah:
– Anak yang bengis
– Curah hujan tinggi
– Orang-orang jahat semakin membanjir (banyak)
Wahai Ibnu Mas’uud, sungguh diantara tanda hari Kiamat itu:
– Pendusta disebut jujur
– Orang jujur disebut pendusta
Wahai Ibnu Mas’uud, sungguh diantara tanda hari Kiamat itu:
– Penghianat diberi kepercayaan,
– Orang terpercaya disebut penghianat
Wahai Ibnu Mas’uud, sungguh diantara tanda hari Kiamat itu:
– Ketersambungan itu adalah didasarkan pada kemaslahatan duniawi
– Silaturahmi semakin terputus
Wahai Ibnu Mas’uud, sungguh diantara tanda hari Kiamat itu:
– Suatu suku semakin dipenuhi oleh orang-orang munaafiq
– Pasar semakin dipenuhi oleh orang-orang Faasiq
Wahai Ibnu Mas’uud, sungguh diantara tanda hari Kiamat itu:
– Masjid dihias
– Hati dirusak
Wahai Ibnu Mas’uud, sungguh diantara tanda hari Kiamat itu:
– Seorang mu’min dalam suatu suku adalah lebih hina dari uang
Wahai Ibnu Mas’uud, sungguh diantara tanda hari Kiamat itu:
– Seorang laki-laki cukup dengan laki-laki, dan wanita cukup dengan wanita
Wahai Ibnu Mas’uud, sungguh diantara tanda hari Kiamat itu:
– Masjid semakin banyak jumlahnya
– Mimbar ditinggikan
Wahai Ibnu Mas’uud, sungguh diantara tanda hari Kiamat itu:
– Perusak dunia dimakmurkan,
– Pemakmur dunia dirusak
Wahai Ibnu Mas’uud, sungguh diantara tanda hari Kiamat itu:
– Nampak musik semakin nyata,
– Khomer diminum
Wahai Ibnu Mas’uud, sungguh diantara tanda hari Kiamat itu:
– Minuman keras
Wahai Ibnu Mas’uud, sungguh diantara tanda hari Kiamat itu:
– Banyak polisi
– Banyak pencela
– Banyak pengolok-olok
Wahai Ibnu Mas’uud, sungguh diantara tanda hari Kiamat itu:
– Banyaknya anak zina.
Aku berkata (‘Atiy As Sa’diy رضي الله عنه), “Wahai Abu Abdirrohman, apakah mereka itu Muslimun?”
Beliau (‘Abdullooh bin Mas’uud رضي الله عنه) menjawab. “Ya.”
Aku berkata, “Wahai Abu Abdirrohman, apakah Al Qur’an ditengah-tengah mereka?”
Beliau menjawab, “Ya.”
Aku berkata, “Wahai Abu Abdirrohman, kapankah itu?”
Beliau menjawab, “Akan datang pada manusia suatu zaman, dimana seseorang menceraikan istrinya, kemudian memungkiri cerainya, tetapi tetap menjima’-nya, maka keduanya adalah pelacur selama melakukan itu.”
(Hadits Riwayat Imaam Ath Thobrony no: 10405 dalam “Al Mu‘jamul Kabir”)
Juga dalam Hadits Shohiih Riwayat Imaam Muslim no: 6959 dan Imaam Al Bukhoory no: 7064:
عَنْ أَبِى وَائِلٍ قَالَ كُنْتُ جَالِسًا مَعَ عَبْدِ اللَّهِ وَأَبِى مُوسَى فَقَالاَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ بَيْنَ يَدَىِ السَّاعَةِ أَيَّامًا يُرْفَعُ فِيهَا الْعِلْمُ وَيَنْزِلُ فِيهَا الْجَهْلُ وَيَكْثُرُ فِيهَا الْهَرْجُ وَالْهَرْجُ الْقَتْلُ
Artinya:
Dari Abu Waa’il رضي الله عنه, beliau berkata, “Suatu saat aku duduk bersama ‘Abdullooh bin Mas’uud dan Abu Musa رضي الله عنهما, lalu keduanya berkata: “Rosuulullooh صلى الله عليه وسلمbersabda, “Sesungguhnya sebelum hari Kiamat terdapat hari dimana:
– Allooh سبحانه وتعالى angkat ilmu
– Allooh سبحانه وتعالى turunkan kebodohan
– Al Haroj semakin banyak, dan Al Haroj itu adalah pembunuhan.”
Dan dalam Hadits Shohiih Riwayat Imaam Muslim no: 6964 dan Imaam Al Bukhoory no: 7161, dijelaskan pula tentang tanda-tanda Hari Kiamat yaitu:
أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « يَتَقَارَبُ الزَّمَانُ وَيُقْبَضُ الْعِلْمُ وَتَظْهَرُ الْفِتَنُ وَيُلْقَى الشُّحُّ وَيَكْثُرُ الْهَرْجُ ». قَالُوا وَمَا الْهَرْجُ قَالَ « الْقَتْلُ
Artinya:
Dari Abu Hurairoh رضي الله عنه, beliau berkata bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda, “Waktu semakin memendek, ilmu dicabut, fitnah menjadi nyata (nampak), merebaknya kekikiran, Al Haroj semakin banyak.”
Para Shohabat bertanya, “Apakah Al Haroj itu ya Rosuulullooh?”
Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم menjawab, “Pembunuhan.”
Juga dalam Hadits Shohiih Riwayat Imaam Muslim no: 7439:
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَكْثُرَ الْهَرْجُ ». قَالُوا وَمَا الْهَرْجُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « الْقَتْلُ الْقَتْلُ
Artinya:
Dari Abu Hurairoh رضي الله عنه, beliau berkata bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda, “Tidak akan terjadi hari Kiamat sehingga Al Haroj semakin banyak.”
Para Shohabat bertanya, “Apakah Al Haroj itu ya Rosuulullooh?”
Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم menjawab, “Pembunuhan, pembunuhan.”
Lalu dalam Hadits Shohiih Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 1036:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُقْبَضَ الْعِلْمُ وَتَكْثُرَ الزَّلَازِلُ وَيَتَقَارَبَ الزَّمَانُ وَتَظْهَرَ الْفِتَنُ وَيَكْثُرَ الْهَرْجُ وَهُوَ الْقَتْلُ الْقَتْلُ حَتَّى يَكْثُرَ فِيكُمْ الْمَالُ فَيَفِيضَ
Artinya:
Dari Abu Hurairoh رضي الله عنه, beliau berkata bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda, “Tidak akan terjadi hari Kiamat sehingga :
– Ilmu dicabut
– Banyak terjadi gempa
– Waktu semakin singkat
– Fitnah semakin nyata
– Pembunuhan semakin banyak
– Dan harta semakin melimpah ditengah-tengah kalian.”
Dan dalam Hadits Shohiih Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 7121 berikut ini:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَقْتَتِلَ فِئَتَانِ عَظِيمَتَانِ يَكُونُ بَيْنَهُمَا مَقْتَلَةٌ عَظِيمَةٌ دَعْوَتُهُمَا وَاحِدَةٌ وَحَتَّى يُبْعَثَ دَجَّالُونَ كَذَّابُونَ قَرِيبٌ مِنْ ثَلَاثِينَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ رَسُولُ اللَّهِ وَحَتَّى يُقْبَضَ الْعِلْمُ وَتَكْثُرَ الزَّلَازِلُ وَيَتَقَارَبَ الزَّمَانُ وَتَظْهَرَ الْفِتَنُ وَيَكْثُرَ الْهَرْجُ وَهُوَ الْقَتْلُ وَحَتَّى يَكْثُرَ فِيكُمْ الْمَالُ فَيَفِيضَ حَتَّى يُهِمَّ رَبَّ الْمَالِ مَنْ يَقْبَلُ صَدَقَتَهُ وَحَتَّى يَعْرِضَهُ عَلَيْهِ فَيَقُولَ الَّذِي يَعْرِضُهُ عَلَيْهِ لَا أَرَبَ لِي بِهِ وَحَتَّى يَتَطَاوَلَ النَّاسُ فِي الْبُنْيَانِ وَحَتَّى يَمُرَّ الرَّجُلُ بِقَبْرِ الرَّجُلِ فَيَقُولُ يَا لَيْتَنِي مَكَانَهُ وَحَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا فَإِذَا طَلَعَتْ وَرَآهَا النَّاسُ يَعْنِي آمَنُوا أَجْمَعُونَ فَذَلِكَ حِينَ {لَا يَنْفَعُ نَفْسًا إِيمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِنْ قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِي إِيمَانِهَا خَيْرًا} وَلَتَقُومَنَّ السَّاعَةُ وَقَدْ نَشَرَ الرَّجُلَانِ ثَوْبَهُمَا بَيْنَهُمَا فَلَا يَتَبَايَعَانِهِ وَلَا يَطْوِيَانِهِ وَلَتَقُومَنَّ السَّاعَةُ وَقَدْ انْصَرَفَ الرَّجُلُ بِلَبَنِ لِقْحَتِهِ فَلَا يَطْعَمُهُ وَلَتَقُومَنَّ السَّاعَةُ وَهُوَ يُلِيطُ حَوْضَهُ فَلَا يَسْقِي فِيهِ وَلَتَقُومَنَّ السَّاعَةُ وَقَدْ رَفَعَ أُكْلَتَهُ إِلَى فِيهِ فَلَا يَطْعَمُهَا
Artinya:
Dari Abu Hurairoh رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda, “Tidak akan terjadi hari Kiamat sehingga:
– Dua kelompok besar saling berperang dan karenanya banyak terbunuh, padahal dakwah mereka sama,
– Allooh سبحانه وتعالى bangkitkan para dajjal, para pendusta, bilangan mereka mendekati 30 (tigapuluh), seluruhnya mengaku bahwa dia adalah utusan Allooh.
– ‘Ilmu (dien) dicabut
– Banyak terjadi gempa
– Waktu semakin memendek
– Fitnah semakin nyata
– Pembunuhan semakin banyak
– Harta semakin melimpah, sehingga pemilik harta berharap ada yang menerima shodaqohnya, sehingga seseorang ditawari harta dan dijawabnya, “Saya tidak butuh lagi padanya (pada harta itu).”
– Manusia bermegah-megahan dalam bangunan
– Seorang melewati kuburan dan mengatakan pada yang dikubur, “Seandainya aku menempati tempatnya.”
– Matahari terbit dari Barat, dan ketika itu manusia berbondong-bondong beriman, hal itu seperti firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. Al An’aam ayat 158:
“Tidaklah bermanfa`at lagi iman seseorang bagi dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya.”
– Sungguh hari Kiamat akan terjadi, sedang 2 (dua) orang telah menebar pakaian keduanya dan tidak ada lagi saling jual beli,
– Sungguh akan terjadi hari Kiamat, sedang seseorang telah berpaling dari susu hewan perahannya dan tidak memakannya,
– Dan sungguh akan terjadi hari Kiamat, sedang seseorang memperbaiki kolamnya tetapi tidak diairi,
– Sungguh akan terjadi hari Kiamat dimana seseorang telah meletakkan makannya pada mulutnya, tetapi tidak memakannya.”
Juga dalam Hadits Shohiih Riwayat Imaam Muslim no: 102, dari Shohabat ‘Umar bin Khoththoob رضي الله عنه, bahwa:
قَالَ فَأَخْبِرْنِى عَنْ أَمَارَتِهَا. قَالَ « أَنْ تَلِدَ الأَمَةُ رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُونَ فِى الْبُنْيَانِ
Artinya:
(Jibril) berkata, “Beritahu padaku tentang tanda-tandanya (Hari Kiamat).”
Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda, “Seorang hamba melahirkan tuannya, dan kau lihatseorang yang telanjang, tak beralas kaki, penggembala domba, bermegah-megahan didalam bangunan tinggi (mewah).”
Dan dalam Hadits Shohiih Riwayat Imaam Muslim no: 328:
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا
Artinya:
Dari Abu Hurairoh رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda, “Bersegeralah kalian beramal, sebelum kalian ditimpa fitnah bagaikan potongan malam yang sangat gelap. Seseorang di waktu pagi mukmin di petang hari kaafir, di waktu petang mukmin dan di waktu pagi kaafir. Menjual diennya dengan dunianya.”
Juga diriwayatkan dari ‘Abdullooh bin Mas’uud رضي الله عنه, dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bahwa beliau صلى الله عليه وسلم bersabda:
من اقتراب الساعة السلام بالمعرفة وأن يجتاز الرجل المسجد لا يصلى فيه
“Diantara tanda dekatnya hari Kiamat adalah hanya memberi salam kepada orang yang dikenal dan orang-orang melintas di dalam masjid tanpa mengerjakan sholat didalamnya.” (Hadits Hasan Lighoirihi, diriwayatkan oleh Imaam Ath Thabrony رحمه الله dan Imaam Al Bazzaar no: 1459 dan di-shohiihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany dalam Silsilah Hadiits Shohiih no: 647)
Maka dari Hadits-hadits tersebut diatas, dapat kita ambil pelajaran sebagai berikut:
1. Jika kalian melihat manusia mematikan sholat
Artinya, manusia sudah tidak melaksanakan sholat atau manusia tidak lagi menegakkan, dan menghidupkan ajaran atau nilai-nilai sholat tersebut, yakni bahwa:
… إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاء وَالْمُنكَرِ …
Artinya:
“… Sesungguhnya sholat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar…” (QS. Al Ankabut (29) ayat 45)
Sehingga, sholat dan tidak sholatnya adalah sama saja. Atau dengan kata lain, sholat tersebut hanyalah sekedar gerakan tubuhnya saja, tetapi nilai-nilai yang terkandung didalam sholat tersebut tidak diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Akibatnya, betapa banyak Muslim yang sholat di zaman sekarang ini, tetapi perbuatan keji dan munkar bahkan semakin merebak dimana-mana.
Renungkanlah, adakah hal itu di zaman sekarang ini sudah terjadi atau belum? Kalau belum, tentu akan terjadi. Tetapi kalau sudah terjadi, berarti telah sampai lah kita pada masa yang dijelaskan pada Hadits tersebut. Lalu, apakah kita juga akan ikut seperti mereka sebagai orang-orang yang mematikan sholat? Na’uudzu billaahi min dzaalik.
Karena kita tidak boleh tergolong orang-orang yang mematikan sholat. Bahkan, meninggalkan sholat saja, ancamannya adalah Kufur.
Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
عن عبد الله بن بريدة عن أبيه قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم العهد الذي بيننا وبينهم الصلاة فمن تركها فقد كفر
Artinya:
Dari ‘Abdillah bin Buraidah dari ayahnya رضي الله عنهما, berkata bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلمbersabda,“Sesungguhnya ikatan antara kaum Muslimin dan orang kaafir adalah sholat. Siapa yang meninggalkan sholat, berarti ia telah kaafir.” (Hadits Riwayat Imaam At Turmudzy no: 2621, Imaam An Nasaa’I no: 463, dan Imaam Ibnu Maajah no: 1079)

2. Menyia-nyiakan kepercayaan (Amanah)
Amanah yang seharusnya dijaga, justru tidak dijaganya.
Padahal Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam QS. An Nisaa’ (4) ayat 58:
إِنَّ اللّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤدُّواْ الأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا …
Artinya:
“Sesungguhnya Allooh menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya..”
Amanah adalah kepercayaan. Tidak mungkin orang menitipkan sesuatu kepada kita, kalau orang itu tidak percaya kepada kita. Tetapi kepercayaan itu dikhianati. Kalau hal itu sudah terjadi, berarti Hari Kiamat sudah dekat, sebagaimana dijelaskan dalam Hadits Shohiih berikut ini:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا ضُيِّعَتْ الْأَمَانَةُ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ قَالَ كَيْفَ إِضَاعَتُهَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِذَا أُسْنِدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ
Artinya:
Dari Abu Hurairoh berkata bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم telah bersabda,”Jika kepercayaan telah disia-siakan maka tunggulah Hari Kiamat.“
Salah seorang shohabat bertanya, “Bagaimana tersia-siakannya amanah itu ya Rosuulullooh?“
Beliau صلى الله عليه وسلم menjawab, “Jika suatu perkara itu diserahkan pada bukan Ahlinya, maka tunggulah Hari Kiamat (saat kehancurannya).” (Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 6496)
Abubakar As Siddiq رضي الله عنه berkata : “Pengadilan Hari Kiamat itu ketika kita menghadap Allooh سبحانه وتعالى, kita tidak punya Menteri (saksi, pembela), tidak ada pemutus perkara yang bisa disuap, agar diringankan hukumannya.”
3. Memakan riba
Riba adalah dosa besar, terkutuk, tetapi justru dinikmati dan dimakan.
Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam QS. Al Baqoroh (2) ayat 275-276 :
الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لاَ يَقُومُونَ إِلاَّ كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُواْ إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَن جَاءهُ مَوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّهِ فَانتَهَىَ فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُوْلَـئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ ﴿٢٧٥﴾ يَمْحَقُ اللّهُ الْرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ وَاللّهُ لاَ يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ ﴿٢٧٦﴾
Artinya:
(275) “Orang-orang yang makan (mengambil) riba, tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaithoon lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba; padahal Allooh telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Robb-nya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allooh. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.
(276) Allooh memusnahkan riba dan menyuburkan shodaqoh. Dan Allooh tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.”
Perhatikanlah pula Hadits berikut ini:
عن عبد الله ابن مسعود: أن النبي صلى الله عليه و سلم لعن الربا وآكله وموكله وكاتبه وشاهده وهم يعلمون
Artinya:
Dari ‘Abdullooh bin Mas’uud رضي الله عنه bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم mengutuk riba, orang yang memakan riba, yang memberi makan orang lain dengan hasil riba, orang yang mengerjakan tulis-menulis dalam rangka riba, dan orang yang menyaksikan proses riba, sedangkan mereka tahu.
(Hadits Riwayat Imaam Ath Thobrony dalam Al Mu’jamul Kabir no: 10057, di-shohiihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany dalam Shohiih Al Jaami’ush Shoghiir no: 9225)
Sementara di zaman sekarang ini, riba merajalela dimana-mana. Bahkan riba itu diiklankan, dan iklan tentang riba tersebut dikirimkan melalui berbagai SMS (Short Message Service) setiap hari ke handphone-handphone kita.
Dalam suatu Hadits Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
عن البراء بن عازب قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم الربا اثنان وسبعون بابا أدناها مثل إتيان الرجل أمه وأربى الربا استطالة الرجل في عرض أخيه
Artinya:
Dari Al Baaro’ bin ‘Aazib رضي الله عنه, berkata bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم telah bersabda, “Riba itu memiliki 72 pintu di antara cabang riba yang paling rendah adalah seorang anak berzina dengan ibunya sendiri. Dan riba yang paling besar adalah seseorang merobek-robek harga diri saudaranya.“
(Hadits Riwayat Imaam Ath Thobrony dalam Al Mu’jamil Ausath no: 7151, Imaam ‘Abdur Rozzaaq dalam Kitab Al Mushonnaf no: 15345 di-shohiihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany dalam Shohiih Jaami’ush Shoghiir no: 5850 dan dalam Silsilah Hadiits Shohiih no: 1871)
Kalau itu sudah terjadi, berarti riba-riba yang lain tentu sudah terjadi. Misalnya: Seseorang menjual tanah dan hasil penjualan tanahnya itu, lalu uangnya dimasukkan ke bank ribawi, dan ia memakan bunganya setiap bulan. Bunga bank itu adalah riba. Berarti orang tersebut memakan riba. Yang demikian itu, tidak boleh kita lakukan.
4. Menghalalkan Dusta
Dusta (bohong) dianggap sesuatu yang boleh, padahal dusta (bohong) adalah hal yang dilarang dalam ajaran Muhammad Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
Dalam suatu Hadits, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم ditanya oleh Shohabatnya:
عن صفوان بن سليم : أنه قيل لرسول الله صلى الله عليه و سلم أيكون المؤمن جبانا ؟ قال : نعم قيل أيكون المؤمن بخيلا ؟ قال : نعم فقيل له أيكون المؤمن كذابا قال : لا
Artinya:
Dari Shofwan bin Sulaim رضي الله عنه, bahwa ditanyakan kepada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, “ Ya Rosuulullooh, apakah mungkin bisa terjadi ia seorang mu’min, tetapi ia pengecut?”.
Beliau صلى الله عليه وسلم menjawab: “Bisa saja terjadi”
Shohabat bertanya lagi: “Apakah mungkin seorang mu’min akan menjadi seorang yang kadzaab (pendusta)?”
Beliau صلى الله عليه وسلم menjawab: “Tidak, seorang mu’min (muslim) tidak akan berdusta.”
(Hadits Riwayat Imaam Al Baihaqy dalam Kitab Syu’abul Imaan no: 1795 di-dho’iifkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany dalam Dho’iif Targhiib Wat Tarhiib no: 1752)
Hadits diatas adalah dho’iif, namun demikian dalam Hadits lain yang Shohiih sebagaimana dijelaskan berikut ini, dijelaskan bahwa dusta itu bukanlah ajaran Islam, melainkan ia adalah perilaku orang munaafiq. Dan jujur itu adalah identitas seorang Muslim.
Dalam Hadits Shohiih Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 2459 dan Imaam Muslim no: 219, dari Shohabat ‘Abdullooh bin ‘Amr bin Al Ash رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ كَانَ مُنَافِقًا أَوْ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْ أَرْبَعَةٍ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ
Artinya:
“Empat perkara, barangsiapa pada dirinya terdapat empat perkara ini, maka dia adalah seorang munaafiq yang tulen. Barangsiapa yang didalamnya terdapat satu dari empat sifat ini, maka ia terdapat sifat kemunaafiqan (dalam dirinya), sehingga dia meninggalkannya: Jika ia berbicara maka ia berdusta, jika ia berjanji maka ia menyalahi (janjinya), jika ia mengikat suatu kesepakatan maka ia menyelisihinya, dan jika ia berdebat maka ia curang.”
Jadi dusta adalah tanda kemunaafiqan, dan bukan identitas seorang Muslim. Tetapi tidak mustahil dalam keseharian, banyak kaum Muslimin yang berkata dusta. Bahkan ada yang menggunakan sumpah untuk berdusta.
Di antara dosa-dosa besar yang tidak mustahil dilakukan oleh seorang Muslim adalah misalnya ia berdagang (melakukan jual-beli). Agar barang dagangannya dibeli orang, ia bersumpah: “DemiAllooh, ini barang asli, bukan palsu.”
Padahal barang itu sebenarnya sudah tidak asli lagi. Menggunakan sumpah untuk berdusta adalah dosa besar.
5. Menggampangkan darah (Menganggap ringan pembunuhan)
Maksudnya, menyepelekan nyawa manusia. Sedikit-sedikit membunuh orang. Persoalannya tidak seberapa, lalu membunuh. Yang demikian ini adalah tidak boleh dilakukan. Tetapi kalau hal itu terjadi dan sering terjadi, maka berarti Hari Kiamat sudah dekat, karena yang demikan itu merupakan Tanda-Tanda Hari Kiamat.
6. Bermegah-megahan dengan bangunan rumah
Orang membangun rumah dengan bangunan yang tinggi-tinggi, gedung bertingkat, sekian lantai, dan sejenisnya. Bermegah-megahan dengan dunia yang seperti itu adalah termasuk Tanda-Tanda dekatnya Hari Kiamat.
7. Menjual dien dengan dunia
Maksudnya, menjual dien adalah dimana Islam itu dibuat untuk mencari penghidupan.‘Aqiidah-nya dijual, yang penting adalah mendapat keuntungan duniawi.
Dalam QS. Al-Baqoroh (2) ayat 174, Allooh سبحانه وتعالى berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنزَلَ اللّهُ مِنَ الْكِتَابِ وَيَشْتَرُونَ بِهِ ثَمَناً قَلِيلاً أُولَـئِكَ مَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ إِلاَّ النَّارَ وَلاَ يُكَلِّمُهُمُ اللّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
Artinya:
“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allooh, yaitu Al Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api, dan Allooh tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak mensucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih.”
Mereka memperjual-belikan dien dengan harga yang murah. Terutama mereka yang bergerak di bidang dien, di bidang Syar’i, di bidang Qolallooh dan Qolarrosuul, maka hendaknya mewaspadai hal ini.
Jika para da’i, para Ustadz, dan orang-orang yang bergerak dibidang ‘ilmu dien telah membelok-belokkan Firman Allooh سبحانه وتعالى dan sabda Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, sesuai dengan order(permintaan) ummat-nya (jamaa’ah-nya), agar ummat-nya (jamaa’ah-nya) mengikutinya dan senang padanya.
Atau jika mereka memilih-milih untuk menyampaikan kepada ummat-nya hukum-hukum Allooh سبحانه وتعالى yang “ringan-ringan” saja seperti masalah hati, masalah akhlaq dan sejenisnya, lalu menghindarkan diri dari menyampaikan kepada ummatnya hukum-hukum Allooh سبحانه وتعالى yang dirasa “berat” seperti: Jihad fiisabiilillah, hukum Qishosh, hukum Rajam, hukum Poligami, hukum Had, dan lain-lain; karena ia kuatir diprotes atau ditinggalkan oleh jamaa’ah-nya.
Atau jika ayat-ayat Allooh سبحانه وتعالى digunakan untuk meminta-minta sumbangan diatas bus-bus kota, dan di pinggir-pinggir jalan.
Maka berhati-hati lah, jika semua fenomena ini telah muncul dan marak ditengah-tengah masyarakat, dimana orang-orang menjual Firman Allooh سبحانه وتعالى dan sabda Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم karena menggunakan dien ini untuk mencari penghidupan, maka itu adalah bagian dari tanda-tanda dekatnya Hari Kiamat.
Dalam Hadits Shohiih Riwayat Imaam Abu Daawud no: 3666 dan Imaam Ibnu Maajah no: 252, dari Shohabat Abu Hurairoh رضي الله عنه, beliau berkata, “Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda,
مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Barangsiapa yang belajar ilmu yang dengannya wajah Allooh dicari (‘ilmu syar’i), ia tidak mempelajarinya melainkan karena untuk mendapatkan bagian dari dunia, maka ia tidak akan mendapatkan aroma Surga nanti di hari kiamat.”
8. Memutus tali Silaturrohiim
Memutuskan hubungan kekerabatan, persaudaraan karena urusan duniawi, karena pertengkaran, karena harga diri, karena masalah Warisan, dan lain sebagainya. Bila hal ini telah terjadi dan sering terjadi ditengah-tengah masyarakat, maka itulah Tanda-tanda dari dekatnya Hari Kiamat.
9. Bila lemah lembut dikatakan kalah
Maksudnya, bila ada orang berlaku lemah-lembut, sopan-santun, mengalah, tetapi ia malah dikatakan lemah, tidak berani, tidak punya harga diri, dan sebagainya.
Padahal Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam QS. ASy Syuroo’ (42) ayat 43:
وَلَمَن صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَلِكَ لَمِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ
Artinya:
“Tetapi orang yang bersabar dan mema`afkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.”
Dan Allooh سبحانه وتعالى juga berfirman dalam QS. Aali ‘Imroon (3) ayat 134 :
الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاء وَالضَّرَّاء وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
Artinya:
“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, danorang-orang yang menahan amarahnya dan mema`afkan (kesalahan) orang.Allooh menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”
Dan padahal lemah-lembut dan sopan santun itu sebenarnya adalah karena ia Tawaadhu’(merendah), tetapi ia malah dinilai lemah, pengecut, tidak punya harga diri. Apabila nilai-nilai ini telah terbalik, maka itulah tanda-tanda dari dekatnya Hari Kiamat.
10. Menjadikan dusta sebagai kebenaran
Maksudnya, dusta dinilai sebagai suatu kebenaran. Dan hasil dari dusta itu dianggap sebagai kebenaran. Itu juga merupakan tanda dekatnya Hari Kiamat.
11. Sutera sudah menjadi pakaian
عن أَبُي عَامِرٍ أَوْ أَبُي مَالِكٍ الْأَشْعَرِيُّ أنه سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ
Artinya:
Dari Abu ‘Amir atau Abu Maalik Al Asy’aary رضي الله عنهما, bahwa beliau mendengar Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda, “Akan terjadi dari ummatku kaum-kaum yang menghalalkan zina, sutra, khomr dan musik…“
(Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 5590)
Bagi laki-laki, memakai kain sutera adalah harom. Tetapi sekarang sutera sudah banyak dipakai oleh kaum laki-laki.
Meskipun sekarang sutera itu murah, harganya terjangkau untuk dibeli, tetap janganlah kalian kaum laki-laki Muslim memakai kain sutera! Patuhilah apa yang menjadi syari’at Allooh سبحانه وتعالى.
Dari Shohabat Abu Muusa Al Asy’ary رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
أحل الذهب والحرير لإناث أمتي وحرم على ذكورها
Artinya:
“Emas dan sutera dihalalkan bagi para perempuan umatku dan diharoomkan bagi laki-laki.” (Hadits Riwayat Imaam An Nasaa’i no: 5148)
Dari Shohabat Anas bin Maalik رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
مَنْ لَبِسَ الْحَرِيرَ فِى الدُّنْيَا لَمْ يَلْبَسْهُ فِى الآخِرَةِ
Artinya:
“Orang yang memakai sutera di dunia, maka ia tidak akan memakainya di akhirat.” (Hadits Riwayat Imaam Muslim no: 5546 dan Imaam Al Bukhoory no: 5832)
Memang tidak masuk akal, mengapa laki-laki tidak boleh memakai sutera. Tetapi dien ini dibangun diatas Iman, bukan diatas masuk akal ataukah tidak masuk akal. DienulIslam dibangun diatas kepatuhan terhadap Wahyu yang datang dari Allooh سبحانه وتعالى.
Apabila dienul Islam diartikan oleh sebagian kalangan itu harus selalu masuk akal, maka perhatikanlah perkataan Shohabat Ali bin Abi Tholib رضي الله عنه tentang perkara mengusap khuf:
“Seandainya dien itu berdasarkan pemikiran, maka pastilah bagian bawah sepatu khuf lebih utama untuk diusap daripada bagian atasnya. Akan tetapi aku melihat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم mengusap bagian atasnya.”
Maksud dari perkataan Ali bin Abi Tholib رضي الله عنه tersebut adalah seandainya dien itu harus masuk akal, maka tentulah pada saat seseorang itu mengusap khuf ketika ber-Wudhu maka yang diusap semestinya adalah bagian bawah khuf karena bukankah yang kotor itu adalah bagian bawahnya? Tetapi ternyata Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم mencontohkan bahwa saat ber-Wudhu itu yang diusap adalah bagian atas khuf.
Hal ini menunjukkan bahwa dienul Islam dibangun diatas beriman terhadap Wahyu, bukan diatas pemikiran manusia. Karena itu, janganlah memandang bahwa seluruh aturan Allooh سبحانه وتعالى itu harus selalu masuk ke dalam akal manusia.
Demikianlah, jadi tidak usah dipersoalkan mengapa sutera itu dilarang dipakai oleh kaum laki-laki Muslim. Patuhi saja aturan Allooh سبحانه وتعالى. Karena bila laki-laki Muslim memakai sutera, berarti itu adalah pelanggaran dan ma’shiyat kepada Allooh سبحانه وتعالى dan Rosuul-Nya صلى الله عليه وسلم.
12. Nampak kedzoliman sudah biasa, sudah memasyarakat
Sesuatu yang tidak adil, yang dzolim justru dianggap sebagai sesuatu hal yang biasa.
13. Semakin banyak perceraian
Perceraian mudah terjadi antara suami-isteri. Bila yang demikian itu sudah sering dan banyak terjadi ditengah-tengah masyarakat, maka itu juga merupakan tanda-tanda dekatnya Hari Kiamat sebagaimana terdapat dalam banyak Kitab antara lain Kitab Syarah Al ‘Aqiidah Ath Thohawiyyah.
14. Mati mendadak
Banyak terjadi orang mati tiba-tiba, tidak sakit dan tidak ada penyebabnya, lalu mati. Yang demikian sudah mulai sering terjadi. Itu juga merupakan sebagian dari tanda-tanda dekatnya dengan Hari Kiamat.
عَنْ أَنَس رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ :«إِنَّ مِنْ اقْتِرَاب السَّاعَة أَنْ يُرَى الْهِلاَل لِلَيْلَة فَيُقَالُ : لِلَيلَتَينِ، وَأَنْ يَظْهَر مَوتُ الْفَجْأة، وَأَنْ تُتَّخَذ الْمَسَاجِد طُرُقاً
Artinya:
Dari Anas رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda, “Sesungguhnya bagian daritanda dekatnya Hari Kiamat adalah bahwa Bulan terlihat dalam satu malam seperti untuk dua malam (– maksudnya: Lebih besar dari biasanya, pen–), dan banyak terjadi mati mendadak, dan masjid dijadikan tempat lewat.”
(Hadits Riwayat Imaam Adhdhiyaa’ Al Maqdisy dalam Al Ahadiits Al Mukhtaaroh no: 2325, dan menurut Syaikh Abdul Maalik bin Dhuhaisy, sanadnya Hasan, demikian juga di-Hasankan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany dalam Shohiih Jaami’ush Shoghiir no: 10841 danSilsilah Hadiits Shohiih no: 2292)
Juga ada pula riwayat dari Anas bin Maalik رضي الله عنه, ia berkata bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
مِنِ اقْتِرَابِ السَّاعَةِ أَنْ يُرَى الْهِلالُ قِبَلا، فَيُقَالُ : لِلَيْلَتَيْنِ، وَأَنْ تُتَّخَذَ الْمَسَاجِدَ طُرُقًا، وَأَنْ يَظْهَرَ مَوْتُ الْفُجَاءَةِ
“Diantara tanda dekatnya hari Kiamat adalah hilal (bulan tsabit) terlihat lebih awal hingga hilal malam pertama dikatakan sebagai hilal malam kedua, masjid-masjid dijadikan sebagai tempat melintas dan banyaknya terjadi kasus kematian mendadak.” (Hadits Riwayat Imaam Ath Thobrony رحمه الله no: 1132 dan di-shohiihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany dalam Shohiih Al Jaami’ish Shoghiir no : 10841)
15. Penghianat dipercaya
Orang yang berkhianat justru ia malah dipercaya. Sudah terjadi atau belum, itulah yang diaba-abakan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
16. Orang yang amanah (terpercaya) dituduh Penghianat
Maksudnya, orang yang berbuat jujur itu justru malah ia diejek dan direndahkan. Katanya: “Kalau jujur, hancur”, “Kalau lurus-lurus saja, badan akan kurus”, atau “Kalau jujur, tidak akan mendapat ‘gizi’ dari kiri-kanan”, dan slogan-slogan sejenisnya.
Yang demikian itu di zaman sekarang, sudah menjadi hal yang biasa terjadi di masyarakat. Itulah tanda dekatnya dengan hari Kiamat. Khobar yang demikian itu sudah berabad-abad lalu di disampaikan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
17. Pendusta dibenarkan (dipercaya)
Orang pendusta, tetapi malah dibenarkan perkataannya.
18. Yang benar didustakan
Orang yang jujur dan benar, akan tetapi ia justru dianggap pendusta.
19. Semakin banyak tuduh-menuduh
Dalam masyarakat, orang sudah terlalu mudah menuduh orang lain berbuat jahat. Terlalu mudah menuduh tanpa bukti. Bila yang demikian itu sudah banyak, maka itulah tanda dekatnya Hari Kiamat.
Terutama menuduh orang lain berbuat zina. Dalam hal yang satu ini, kita harus berhati-hati. Menuduh seseorang mencuri itu secara Syari’at maka saksinya cukup 2 (dua) orang. Tetapi untuk menuduh orang berzina, maka saksinya harus 4 (empat) orang. Hal ini adalah untuk menunjukkan bahwa perzinahan bukan lah urusan kecil, melainkan urusan besar; yaitu urusan harga diri, urusan nasab, moral, urusan sosial, dan sebagainya.
20. Para Penguasa (Pemerintah) dan Menteri adalah para pengkhianat
Kalau hal itu sudah dan sering terjadi, maka itu juga tanda-tanda dekatnya hari Qiyamat. Bukankah di zaman sekarang, seringkali kita saksikan melalui berita-berita di media massa bahwa pejabat-pejabat Negara justru banyak terseret kasus korupsi.
21. Orang-orang yang Arif justru menjadi dzolim (penganiaya)
22. Para Pembaca Al Qur’an tetapi Faasiq
23. Pemilik hati yang busuk berpenampilan bagus, tetapi hatinya busuk
24. Penyabar dirundung Fitnah
Orang yang memerintahkan untuk bersabar justru ia diliputi oleh berbagai fitnah.
25. Mereka di dunia berperilaku seperti orang Yahudi dan orang-orang dzolim
26. Emas muncul (ditemukan, digali) dan perak juga dicari
27. Khotib semakin banyak
28. Amar Ma’ruf Nahi Munkar semakin sedikit
29. Al Qur’an dihias
Ada suatu Hadits dimana Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
إذا حليتم مصاحفكم وزوقتم مساجدكم فالدمار عليكم
Artinya:
“Jika kalian telah menghias mushaf-mushaf (Al Qur’an) kalian yang didalamnya menampung Kalamullooh, dan kalian telah menghias (mendekorasi) masjid-masjid kalian, maka kehancuran akan melanda kalian.”
(Hadits Riwayat Imaam Ibnu Abii Syaibah dalam Al Mushonnaf no: 8799 dan di-shohiih-kan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany dalam Silsilah Hadiits Shohiih no: 1351)
Maksudnya, Al Qur’an dihias dengan suara, dan lain sebagainya. Termasuk juga menghiasi Mushaf Al Qur’an, tetapi ajarannya tidak lah dilaksanakan dan tidak dimunculkan dalam kehidupan sehari-hari.
30. Masjid-masjid digambari (didekorasi)
Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda :
من أشراط الساعة أن يتباهى الناس في المساجد
Artinya:
“Salah satu tanda hari Kiamat adalah manusia berbangga-bangga dengan bangunan masjid.”
(Hadits shohiih riwayat Imaam An Nasaa’i رحمه الله no: 689 dari Anas bin Maalik رضي الله عنه)
31. Mimbar Masjid ditinggikan
Padahal dalam riwayat ketika Khutbah sholat ‘Ied, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم tidak diatas mimbar, tetapi di tanah biasa sambil bertelekan kepada badan Shohabatnya yaitu Bilaal.
32. Hati dirusak
Maksudnya, hati orang-orang itu dirusak. Bisa merusaknya dengan bernyanyi atau berjoget, atau dengan apa saja yang sifatnya merusak hati.
Berkata Shohabat ‘Abdullooh bin Mas’uud رضي الله عنه:
الْغِنَاءُ يُنْبِتُ النِّفَاقَ فِى الْقَلْبِ كَمَا يُنْبِتُ الْمَاءُ الزَّرْعَ وَالذِّكْرُ يُنْبِتُ الإِيمَانَ فِى الْقَلْبِ كَمَا يُنْبِتُ الْمَاءُ الزَّرْعَ
Artinya:
“Menyanyi itu menumbuhkan kemunafikan dalam hati sebagaimana air menumbuhkan tanam-tanaman; dan dzikir itu menumbuhkan iman dalam hati sebagaimana air menumbuhkan tanam-tanaman.” (Diriwayatkan oleh Imaam Al Baihaqy رحمه الله dalam Kitab “As Sunanul Kubro”)
Bukankah sekarang dimana-mana justru musik, menyanyi dan berjoget itu sudah merupakan hal yang dianggap biasa ditengah-tengah masyarakat? Ini juga merupakan tanda-tanda dekatnya hari Kiamat.
33. Minuman keras (Khomr) diminum
Maksudnya, minuman keras (khomr) sudah umum menjadi minuman masyarakat dan khomr itu diberi nama dengan nama yang lain seakan-akan ia bukan minuman keras. Sehingga orang Islam pun ikut meminumnya, karena mengira bahwa itu bukan lah minuman keras (khomr).
34. Al Huduud (Hukum Allooh سبحانه وتعالى) sudah diabaikan
Bukankah kita perhatikan bahwa di zaman sekarang, hukum-hukum yang digunakan itu justru mengacu kepada hukum-hukum, peraturan-peraturan dan Undang-Undang buatan manusia? Dan mengabaikan Al Qur’an dan As Sunnah yang seharusnya menjadi dasar hukum yang mengatur kehidupan manusia? Bahkan negara yang mayoritasnya kaum Muslimin pun “aneh”-nya justru memakai hukum, peraturan dan undang-undang yang digali dari orang-orang kaafir, bukannya mengacu kepada aturan-aturan Allooh سبحانه وتعالى dan Rosuul-Nya صلى الله عليه وسلم.
عن أبي أمامة قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : ( لتنتقضن عرى الاسلام عروة عروة فكلما انتقضت عروة تشبث الناس بالتي تليها فأولهن نقضا : الحكم وآخرهن : الصلاة )
Artinya:
Dari Abu Umaamah رضي الله عنه, berkata bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم telah bersabda, “Ikatan Islam sungguh akan terurai satu demi satu, ketika satu ikatan terurai maka manusia akan merusak ikatan yang berikutnya. Pertama kali ikatan yang runtuh adalah Hukum Allooh سبحانه وتعالى, dan ikatan yang terakhir adalah Sholat.”
(Hadits Riwayat Ibnu Hibban no: 6715 dan Syaikh Syu’aib Al Arnaa’uth mengatakan Sanad Hadits ini Kuat)
35. Budak wanita (pembantu) melahirkan tuannya
Karena tuannya men-zinahi budaknya (pembantunya), maka lahirlah anak. Dan anak tersebut adalah hasil dari hubungan gelap dengan tuannya, berarti anak itu adalah anak tuannya.
36. Orang tak beralas kaki (rakyat jelata), menjadi penguasa (raja)
Maksudnya, penguasa suatu negeri berasal dari orang-orang miskin atau rakyat jelata.
37. Wanita ikut serta berbisnis (berniaga) dengan suaminya
Maksudnya, juga merupakan tanda-tanda dekatnya Hari Kiamat adalah banyaknya wanita-wanita yang bekerja (wanita karier).
38. Laki-laki menyerupai wanita dan sebaliknya
39. Bersumpah dengan selain Allooh سبحانه وتعالى
40. Bersaksi sebelum diminta
عن عِمْرَانَ بْنَ حُصَيْنٍ يُحَدِّثُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِنَّ خَيْرَكُمْ قَرْنِى ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ». قَالَ عِمْرَانُ فَلاَ أَدْرِى أَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بَعْدَ قَرْنِهِ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلاَثَةً « ثُمَّ يَكُونُ بَعْدَهُمْ قَوْمٌ يَشْهَدُونَ وَلاَ يُسْتَشْهَدُونَ وَيَخُونُونَ وَلاَ يُتَّمَنُونَ وَيَنْذُرُونَ وَلاَ يُوفُونَ وَيَظْهَرُ فِيهِمُ السِّمَنُ »
Artinya:
Dari ‘Imroon bin Husayn رضي الله عنه bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda, “Sesungguhnya sebaik-baik kalian adalah pada zamanku, kemudian yang datang setelah mereka, kemudian yang datang setelah mereka, kemudian yang datang setelah mereka.”
‘Imroon رضي الله عنه berkata, “Saya tidak tahu apakah Rosuul mengatakan ‘Setelah zamannya’ itu 2 kali atau 3 kali. Kemudian terjadi setelah mereka kaum yang bersaksi padahal tidak diminta. Mereka berkhianat dan tidak bisa dipercaya. Mereka bernadzar tetapi tidak menepati dan muncul ditengah-tengah mereka As Siman (sebagian para ‘Ulama ada yang mengartikan “Bermegah-megahan dengan harta dan status).”
(Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 2651, dan Imaam Muslim no: 6638)
41. Mencari ‘ilmu dien bukan karena Allooh سبحانه وتعالى
Maksudnya, mencari ‘ilmu dien karena urusan penghidupan duniawi.
42. Mencari dunia dengan amalan Akhirat
Dari Shohabat ‘Abdullooh bin Mas’uud رضي الله عنه, beliau berkata,
كيف أنتم إذا لبستكم فتنة يهرم فيها الكبير و يربو فيها الصغير و يتخذها الناس سنة فإذا غيرت قالوا غيرت السنة قيل : متى ذلك يا أبا عبد الرحمن ؟ قال : إذا كثرت قراؤكم و قلت فقهاؤكم و كثرت أموالكم و قلت أمناؤكم و التمست الدنيا بعمل الآخرة
Artinya:
“Bagaimanakah keadaan kalian bila fitnah menimpa kalian sehingga membuat beruban orang-orang dewasa dan membuat (cepat) tua anak-anak kecil. Orang-orang menjadikan (fitnah itu) sebagai sunnah. Bila dirubah, serempak mereka mengatakan, “Sunnah telah dirubah!”
Ditanyakan kepada ‘Abdullooh bin Mas’uud رضي الله عنه, “Kapankah hal itu terjadi wahai Abu ‘Abdirrohmaan?”
Jawab ‘Abdullooh bin Mas’uud , “Jika:
a) Para Qori (pembaca Al Qur’an) semakin melimpah, namun para Fuqoha (orang yang faaqih dalam dien) semakin sedikit.
b) Jika harta kalian semakin melimpah, namun orang-orang yang terpercaya (amanah) diantara kalian semakin menghilang.
c) Jika keuntungan dunia dicari dengan amalan akhirat.” (Atsar diriwayatkan oleh Imaam Al Haakim dalam Kitab “Al Mustadrok” no: 8570)
Bukankah kita perhatikan bahwa di zaman sekarang, banyak terjadi dimana orang-orang membaca ayat-ayat Al Qur’an di kuburan karena mengharapkan bayaran?
43. Melarang ghoniimah dari orang yang berhak
Seseorang yang ikut berperang, maka seharusnya ia berhak untuk mendapatkan ghoniimah(rampasan perang), tetapi karena ia bukan lah pejabat, melainkan ia hanya seorang prajurit biasa saja, maka ia tidak diberi bagian rampasan perang tersebut karena bagian rampasan perang itu diambil atau dibagikan diantara pejabat-pejabatnya saja.
44. Pemimpin dari kalangan orang yang hina (rendah statusnya)
45. Seseorang durhaka kepada orang tuanya, kasar kepada ibunya, dan kepada teman-temannya ia malah bersikap baik
46. Seseorang (suami) taat kepada isterinya
Maksudnya, seorang suami yang semestinya ia adalah pimpinan didalam rumah tangganya, tetapi yang terjadi adalah terbalik, dimana ia malah patuh sekali kepada isterinya, sehingga segala sesuatu itu diatur oleh isterinya.
47. Suara-suara orang yang faasiq meninggi (mengeras) di masjid-masjid
48. Membudayanya musik dan suara wanita (penyanyi wanita)
Padahal dalam QS. Al Ahzab (33) ayat 32, Allooh سبحانه وتعالى berfirman:
يَا نِسَاء النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِّنَ النِّسَاء إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلاً مَّعْرُوفاً
Artinya:
“Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertaqwa.Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara (– melemah lembutkan suara) sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik,”
Maksud dari “orang-orang yang hatinya berpenyakit” adalah orang-orang yang mudah berma’shiyat, menjadi terfitnah oleh suara wanita (termasuk biduanita / para penyanyi wanita) tersebut. Hal ini telah kita saksikan, amat sangat marak ditengah-tengah masyarakat kita. Bahkan termasuk di tempat-tempat umum sekalipun (di lift, di busway, di pesawat dan sebagainya), pengumuman-pengumuman itu hampir sebagian besar disampaikan dengan menggunakan suara wanita.
49. Kedzoliman dijadikan kebanggaan
Maksudnya, suatu kemungkaran justru dibuat sebagai suatu kebanggaan, yang menunjukkan bahwa telah hilang rasa malunya.
50. Polisi semakin banyak
Karena kejujuran sudah langka, sehingga pengawasan pun harus semakin ketat.
51. Al Qur’an sudah menjadi seruling
Maksudya, bacaan Al Qur’an itu justru dinyanyi-nyanyikan dengan bermacam-macam lagu, dan bukannya di-tadabburi (direnungkan), dipelajari dan dihayati, lalu dilaksanakan apa-apa yang terkandung didalamnya.
Maka Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam QS. Muhammad (47) ayat 24:
فَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا
Artinya:
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an ataukah hati mereka terkunci?”
52. Kulit binatang buas dijadikan kemegahan (hiasan)
Maksudnya, bermegah-megahan dalam kehidupan dunia.
53. Akhir ummat ini mengutuki para Pendahulunya
Bukankah hal ini telah terjadi dan sampai sekarang masih terus berlangsung, dimana kaum Syi’ah mengatakan (menganggap) bahwa Abu Bakar As Siddiq dan ‘Umar bin Khoththoob رضي الله عنهما adalah “Dua berhala Quraisy”. Bukankah itu namanya mengutuk?
Padahal Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. At Taubah (9) ayat 100 berfirman :
وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Artinya:
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allooh ridho kepada mereka dan merekapun ridho kepada Allooh dan Allooh menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.”
Jadi “Allooh ridho kepada Muhajirin dan Anshor”. Maksudnya, adalah Allooh سبحانه وتعالى ridho kepada para Shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dari kalangan Muhajirin dan Anshor, termasuk diantaranya adalah Abu Bakar As Siddiq dan ‘Umar bin Khoththoob رضي الله عنهما.
Maka munculnya Syi’ah yang mengutuk para Pendahulu Ummat ini adalah bagian dari tanda-tanda dekatnya dengan Hari Kiamat.
Demikian pula pernyataan orang Mu’tazilah, yang tidak pernah menimbang siapa Shohabat dan siapa mereka (Mu’tazilah). Dianggapnya sama semua. Padahal Shohabat adalah orang-orang yang diciptakan oleh Allooh سبحانه وتعالى, yang hidup pada zaman itu untuk mendampingi Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Sedangkan orang-orang Mu’tazilah lahir berabad-abad sesudah zaman Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Bahkan jauh sesudahnya. Tidak mungkin mereka sama kualitasnya dengan para Shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Lalu sekarang orang-orang Mu’tazilah tersebut mengatakan bahwa: “Sama saja para Shohabat itu dengan kita-kita ini, tidak lebih dari kita, bahkan mereka adalah pelaku nepotisme.” Dan berbagai tuduhan lainnya, seperti yang dikatakan oleh orang-orang Jaringan Islam Liberal (JIL). Padahal orang-orang Islam Liberal tersebut baru muncul di zaman sekarang, tetapi mereka juga sering mengutuki para Pendahulu Ummat yang Shoolih.
Demikianlah berbagai tanda-tanda dekatnya Hari Kiamat. Maka, marilah kita kembali kepada Allooh سبحانه وتعالى, bertaubat kepada-Nya, agar kita selalu diberikan cahaya di depan kita kepada jalan yang lurus menuju ridho-Nya, agar kita dengan mudah mengikutinya dan mengakhiri hidup di dunia ini dengan husnul khootimah.

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

TANDA KIAMAT 3

tanda-hari-kiamat-3

TANDA-TANDA HARI KIAMAT (BAGIAN-3)
Bismillah
Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allooh سبحانه وتعالى,
Bahasan kali ini adalah lanjutan dari bahasan beberapa waktu lalu, yaitu berkenaan dengan masalah Iman kepada Hari Akhir atau Hari Kiamat. Dan kita sudah membahas tentang Tanda-Tanda akan Datangnya Hari Kiamat. Kali ini kita akan membahas satu bab, yaitu berkenaan dengan Banyaknya Fitnah.
Banyaknya Fitnah merupakan tanda akan segera terjadinya Hari Kiamat. Maka kita harus berhati-hati, waspada, meskipun hal ini sudah diberitakan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم,namun kewajiban kita adalah menghindarkan diri dari perkara-perkara yang membuat kita terjerembab ke dalam petaka, baik di dunia mapun di akhirat.
Bersama ini, kita akan membahas tentang Al Fitan (الفتن)
Fitan adalah kata jamak dari: Fitnatun (فتن), maknanya adalah Al Ibtila’ (الابتلاء). Dalam bahasa Indonesia disebut: Bala’, yang artinya adalah Ujian, Musibah, Imtihan, Fitnah.
Al Fitan atau Fitnah tidaklah muncul begitu saja. Dari dalil-dalil yang shohiih dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bahwa Fitnah itu muncul dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Tanda-tanda Hari Kiamat.
Banyak perkara yang harus kita ketahui tentang perkara Fitnah. Jangan lah dipahami kata “Fitnah” itu sebagaimana orang Indonesia memahaminya, yaitu “Fitnah” oleh orang Indonesia diartikan sebagai “Tuduhan”.
Padahal yang dimaksud dengan Al Fitan dalam bahasa Arab dan dalam bahasan kita kali ini, artinya adalah Bala’ (Ujian), yang tentunya kita sepakat tidak ingin tertimpa oleh Fitnah (Bala’) itu.
Oleh karena itu ada suatu do’a yang diajarkan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, yang sering kita baca dalam Sholat yakni ketika Tasyahud Akhir, dimana kita memohon kepada Allooh سبحانه وتعالى agar dilindungi dari 4 perkara :
اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ
“Alloohumma innaa na’uudzu bika min ‘adzaabi jahannama, wa a’uudzu bika min ‘adzzabil qobri, wa a’uudzu bika min fitnatil masiihid dajjaali, wa a’uudzu bika min fitnal mahyaa wal mamaat. ”
Artinya:
“Ya Allooh, sungguh kami berlindung kepada-Mu dari siksa jahannam, aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, aku berlindung kepada-Mu dari fitnah ad dajjaal danaku berlindung kepada-Mu dari fitnah kehidupan dan kematian.”
(Hadits Riwayat Imam Muslim, dari ‘Abdullah bin Abbas رضي الله عنه)
Paling tidak, kita dalam sehari semalam 5 kali bermohon kepada Allooh سبحانه وتعالى agar terlindung dari Fitnah ketika kita hidup dan Fitnah ketika kita sudah mati.
Fitnah banyak macamnya. Maka harus kita ketahui :
1. Apa itu Fitnah
2. Apa Hikmah dari munculnya Fitnah
3. Apa saja Wujud Fitnah atau Jenis-Jenis Fitnah
4. Apa yang harus kita sikapi berkenaan dengan Fitnah itu
5. Apa kiat agar kita terhindar dari Fitnah.
Lima perkara tersebut mungkin tidak akan selesai dalam bahasan kali ini, sebab dalam bahasan ini kita akan lebih memfokuskan kepada Hadits-Hadits Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم tentang berbagaiFitnah; yang sudah, yang sedang dan yang akan muncul pada kehidupan kita.
Pada Kitab bab pembahasan ke-3 (Al Mab-hatsuts Tsaaliitsu) “Al Fitan”, Pasal ke- 1: At Tahdziiru minal fitan (Kewaspadaan terhadap Fitnah).
At Tahdziir artinya kewaspadaan agar kita terhindar. Maka hendaknya kita mengeta-hui, dan apabila sudah tahu maka janganlah dekat-dekat. Juga memberikan kewaspadaan agar kita tidak mendekat atau terjerembab, sehingga dengan demikian kita berusaha membuat jarak terhadapFitnah-Fitnah sebagai berikut :
Syaikh ‘Umar Sulaiman Al Asyqor dalam Kitabnya yang berjudul Yaumul Akhir, memberikan kepada kita berbagai dalil.
Dalam Hadits Shohiih Riwayat Imaam Muslim no: 7449:
عن أَبُي زَيْدٍ عَمْرو بْنَ أَخْطَبَ قَالَ صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الْفَجْرَ وَصَعِدَ الْمِنْبَرَ فَخَطَبَنَا حَتَّى حَضَرَتِ الظُّهْرُ فَنَزَلَ فَصَلَّى ثُمَّ صَعِدَ الْمِنْبَرَ فَخَطَبَنَا حَتَّى حَضَرَتِ الْعَصْرُ ثُمَّ نَزَلَ فَصَلَّى ثُمَّ صَعِدَ الْمِنْبَرَ فَخَطَبَنَا حَتَّى غَرَبَتِ الشَّمْسُ فَأَخْبَرَنَا بِمَا كَانَ وَبِمَا هُوَ كَائِنٌ فَأَعْلَمُنَا أَحْفَظُنَا
Artinya:
Dari Abu Zaid ‘Amr bin Akhthob رضي الله عنه, beliau berkata bahwa: “Rosuulullooh صلى الله عليه وسلمsholat shubuh bersama kami, kemudian naik keatas mimbar dan berkhutbahsehingga tiba waktu dhuhur, kemudian turun (dari mimbar) dan sholat, kemudian naik (mimbar) lagi dan kembali berkhutbah hingga tiba waktu ashar, kemudian turun untuk sholat, kemudian naik ke mimbar lagi dan berkhutbah hingga terbenam matahari. Dalam khutbah itu, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم memberitahu kami tentang apa yang akan terjadi (hingga hari kiamat), maka orang yang paling ‘aalim dari kami, maka dia lah yang paling hafal.”
Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allooh سبحانه وتعالى,
Apa yang Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم sampaikan kepada kita (dalam Hadits tersebut diatas) adalah termasuk hal-hal yang akan terjadi, yakni tentang perkara Fitnah.
Juga Hadits Riwayat Imaam Muslim no: 7445, Dari seorang Shohabat bernama Hudzaifah Ibnul Yaman رضي الله عنه, beliau pun berkata bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم berdiri di tengah-tengah para Shohabat dan beliau صلى الله عليه وسلم berkhutbah dan tidak ada satupun yang tertinggal dari apa yang akan terjadi sampai hari Kiamat, kecuali beliau صلى الله عليه وسلم sebutkan. Ada yang hafal dan ada yang lupa, (– bisa dimaklumi karena panjangnya khutbah tersebut –). Kemudian Hudzaifah Ibnul Yaman رضي الله عنه menggambarkan ingat dan lupanya atas khutbah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم tersebut, seperti halnya seseorang itu mengingat orang. Tergambar wajahnya, lalu hilang dari pandangannya setelah sekian lama, lalu ketika terlihat wajah itu maka ia pun teringat kembali. Haditsnya adalah sebagai berikut:
عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ قَامَ فِينَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مَقَامًا مَا تَرَكَ شَيْئًا يَكُونُ فِى مَقَامِهِ ذَلِكَ إِلَى قِيَامِ السَّاعَةِ إِلاَّ حَدَّثَ بِهِ حَفِظَهُ مَنْ حَفِظَهُ وَنَسِيَهُ مَنْ نَسِيَهُ قَدْ عَلِمَهُ أَصْحَابِى هَؤُلاَءِ وَإِنَّهُ لَيَكُونُ مِنْهُ الشَّىْءُ قَدْ نَسِيتُهُ فَأَرَاهُ فَأَذْكُرُهُ كَمَا يَذْكُرُ الرَّجُلُ وَجْهَ الرَّجُلِ إِذَا غَابَ عَنْهُ ثُمَّ إِذَا رَآهُ عَرَفَهُ
Artinya:
Hudzaifah رضي الله عنه berkata, “Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم berdiri di tengah-tengah kami dalam keadaan beliau صلى الله عليه وسلم tidak meninggalkan sesuatupun disitu, tentang apa yang akan terjadi hingga hari kiamat, kecuali Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم mengkhobarkannya. Hafal bagi yang hafal, lupa bagi yang lupa. Para Shohabat sungguh telah mengetahui perkara itu, dan sungguh aku telah lupa sesuatu darinya, sehingga aku pandang untuk aku sebutkan sebagaimana seseorang menyebut wajah seseorang ketika orang itu ghoib darinya. Kemudian ketika dia melihat (bertemu), maka dia akan mengenalnya.”
Berbagai Fitnah
Juga dari Hadits Riwayat Imaam Muslim no: 7444:
قَالَ حُذَيْفَةُ بْنُ الْيَمَانِ وَاللَّهِ إِنِّى لأَعْلَمُ النَّاسِ بِكُلِّ فِتْنَةٍ هِىَ كَائِنَةٌ فِيمَا بَيْنِى وَبَيْنَ السَّاعَةِ وَمَا بِى إِلاَّ أَنْ يَكُونَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَسَرَّ إِلَىَّ فِى ذَلِكَ شَيْئًا لَمْ يُحَدِّثْهُ غَيْرِى وَلَكِنْ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ وَهُوَ يُحَدِّثُ مَجْلِسًا أَنَا فِيهِ عَنِ الْفِتَنِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَهُوَ يَعُدُّ الْفِتَنَ « مِنْهُنَّ ثَلاَثٌ لاَ يَكَدْنَ يَذَرْنَ شَيْئًا وَمِنْهُنَّ فِتَنٌ كَرِيَاحِ الصَّيْفِ مِنْهَا صِغَارٌ وَمِنْهَا كِبَارٌ
Artinya:
Hudzaifah Ibnul Yaman رضي الله عنه berkata, “Demi Allooh, sungguh aku adalah manusia yang paling tahu tentang setiap fitnah yang terjadi antara aku sampai dengan hari Kiamat. Yang demikian itu, tidak lain kecuali karena Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم memberitahu padaku secara khusus tentang hal itu, yang Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم tidak beritahukan (orang lain) selainku. Akan tetapi, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم memberitahu dalam suatu majlis tentang fitnah, sedangkan aku ada disitu. Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda dalam keadaan menghitung (merinci) fitnah-fitnah, diantaranya adalah 3 (tiga) perkara yang tidak tertinggal, antara lain: Fitnah-fitnah (yang berbentuk) seperti angin yang menghempas di musim panas, ada Fitnah yang kecil, dan ada Fitnah yang besar.”
Dalam Hadits Riwayat Imaam Muslim no: 328, dari Shohabat Abu Hurairoh رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا
Artinya:
“Bersegeralah kalian beramal shoolih, sebelum terjadinya banyak fitnah. Dimanapada waktu itu Fitnah adalah bagaikan sebagian malam yang gelap. Pada pagi hari seseorang beriman, tiba-tiba di sore hari ia kaafir. Bisa jadi seseorang itu sore hari beriman, tetapi tiba-tiba esok paginya ia kaafir. Dia jual diennya dengan sebagian dari kenikmatan dunia.”
Artinya sedemikian dahsyatnya godaan (fitnahnya) itu, sehingga membuat sedemikian cepatnya pikiran, hati, ‘aqiidah seseorang berubah, hanya di dalam hitungan jam. Sehingga‘aqiidah pun dapat ditukar dengan dunia, seperti orang yang berjual-beli. Mungkin karena diberi uang, atau makanan, atau diberi pekerjaan, dan lain sebagainya. Hal ini tidak mustahil. Di zaman sekarang ini, dimana orang sulit mencari pekerjaan; orang rela untuk menjual ‘aqiidahnya hanya karena diberi pekerjaan. Bayangkan, kalau seseorang kesana-kemari selalu ditolak untuk melamar kerja, lalu syaithoon yang datang menjadi “dewa penolong” baginya dengan menawarkan pekerjaan yang susah payah dicarinya, maka apabila orang tersebut buta mata hatinya, lemah imannya, maka tidak mustahil ia melepaskan ‘aqiidahnya. Siapa yang bertanggung-jawab? Kita harus berpikir tentang hal tersebut.
Saat ini mungkin kita bisa istiqoomah, tetapi kita harus juga memikirkan orang-orang di luar kita yang mereka itu adalah saudara kita juga. Tidak mustahil, di saat ini ada orang yang sedang kebingungan, apakah akan dilepaskan ‘aqiidahnya lalu ia tukar dengan dunia, ataukah ia akanistiqoomah, tetapi terancam keberlangsungan hidupnya.
Dan dalam Hadits lain yang semisal, dari Shohabat Anas bin Maalik رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم juga menjelaskan bahwa menjelang Hari Kiamat akan muncul Fitnah-Fitnah, dimana seseorang pada pagi hari beriman, lalu di sore harinya ia kaafir. Dan sebaliknya, seseorang di sore harinya ia beriman, lalu pada pagi harinya ia kaafir. Mereka menjual ‘aqiidahnya dengan dunia.
Ada laki-laki Muslim yang menjual ‘aqiidah-nya karena diberi cinta oleh seorang wanita yang kaafir atau sebaliknya, seorang wanita Muslim menjual ‘aqiidah-nya karena diberi cinta oleh laki-laki kaafir.
Lalu dalam Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 7115 dan Imaam Muslim no: 7485, dari Shohabat Abu Hurairoh رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَمُرَّ الرَّجُلُ بِقَبْرِ الرَّجُلِ فَيَقُولُ يَا لَيْتَنِي مَكَانَهُ
Artinya:
“Tidak akan terjadi Hari Kiamat sehingga seseorang melewati kuburan orang yang sudah meninggal, dan orang yang melewati kuburan itu berkata: ‘Alangkah baiknya bila aku saja yang (mati) menempati kuburan ini’.”
Maksudnya, orang itu ingin menjadi orang yang sudah lama mati seperti orang yang sudah dikubur itu. Orang dalam kubur itu sudah enak, sudah istirahat dari dulu, tidak mengalamiFitnah seperti yang dialami oleh orang-orang di zaman sekarang. Sampai sedemikian pikiran orang tersebut, karena tidak tahan dengan dahsyatnya realitas hidup di zaman sekarang ini, yang penuh dengan Fitnah. Dan perkara ini sudah terjadi.
Banyak terjadi di zaman sekarang, orang yang bunuh-diri, dan banyak orang kebingungan dalam menyikapi dan menapakkan kakinya, serta menentukan sikap apa yang semestinya dilakukan dalam menempuh kehidupannya, karena Fitnah yang melanda kehidupan ini sangat besar.
Lalu dalam Hadits riwayat Imaam Muslim no: 7486, dari Shohabat Abu Hurairoh رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لاَ تَذْهَبُ الدُّنْيَا حَتَّى يَمُرَّ الرَّجُلُ عَلَى الْقَبْرِ فَيَتَمَرَّغُ عَلَيْهِ وَيَقُولُ يَا لَيْتَنِى كُنْتُ مَكَانَ صَاحِبِ هَذَا الْقَبْرِ وَلَيْسَ بِهِ الدِّينُ إِلاَّ الْبَلاَءُ
Artinya:
“Demi yang jiwaku di-Tangan-Nya, dunia tidak akan pergi (musnah / tidak akan tegak hari Kiamat), sehingga seseorang berjalan melewati kuburan lalu ia menggali tanah kuburan itu dengan tangannya (untuk mengubur diri-sendiri). Ia berkata: ‘Betapa seandainya aku menempati kubur orang ini’. Dan tidak ada dien ketika itu, kecuali bala’.”
Bahkan dalam Hadits Riwayat Imaam At Turmudzy no: 2260, yang dishohiihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany رحمه الله, dari Shohabat Anas bin Maalik رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda,
يأتي على الناس زمان الصابر فيهم على دينه كالقابض على الجمر
“Akan datang pada manusia suatu zaman, (dimana) orang yang sabar diantara mereka dalam berpegang diatas dien-nya, bagaikan orang yang menggenggam bara api.”
Yang ini belum kita rasakan, mungkin generasi sesudah kita, anak-cucu kita. Tetapi hendaknya mulai sekarang kita berjaga-jaga bahwa itu akan terjadi menjelang Hari Kiamat. Dan kita menjaga agar terhindar dari hal tersebut, kita harus punya kiat-kiat bagaimana caranya supaya selamat dari Fitnah dunia ini.
Dalam Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 7064 dan Imaam Muslim no: 6959, dari Shohabat ‘Abdullooh bin Mas’uud رضي الله عنه dan Abu Musa Al Asy’ary رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
إِنَّ بَيْنَ يَدَيْ السَّاعَةِ أَيَّامًا يُرْفَعُ فِيهَا الْعِلْمُ وَيَنْزِلُ فِيهَا الْجَهْلُ وَيَكْثُرُ فِيهَا الْهَرْجُ وَالْهَرْجُ الْقَتْلُ
Artinya:
“Sesungguhnya menjelang terjadinya hari Kiamat ada beberapa hari: ‘ilmu akan diangkat, dan turun pada zaman itu kebodohan, dan banyak pembunuhan.”
Maksudnya, umat menjadi bodoh lagi. Dahulu di zaman Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dan para Shohabat, umat menjadi ber-‘ilmu (dien). Dan seterusnya, pada masa kejayaan Islam pun umat menjadi ber-‘ilmu (dien). Namun di zaman sekarang, kembali kepada kejaahilan (kebodohan) lagi dalam perkara dien sehingga ‘ilmu dien diangkat. Jadi jaahil (bodoh)-nya turun, lalu ‘ilmu diennya akan diangkat.
Jahiil (bodoh) dalam hal ini, yang dimaksud adalah bodoh dalam perkara dienullooh. Mungkin banyak orang yang punya gelar Profesor, Doktor, dan seterusya, tetapi mereka jaahil (bodoh) tentang perkara dien. Tidak sholat, dan kalaupun sholat maka tata cara sholatnya tidak sesuai tuntunan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم; lalu ada pula yang ‘aqiidahnya syirik (musyrik), perbuatannya tidak sesuai dengan batasan-batasan Syar’i, maka mereka itu tidak ada bedanya dengan hewan ternak.
Karena hidup orang tersebut hanyalah bagaimana ia mencari nafkah, bagaimana ia makan, istirahat, segar kembali dan esoknya ia kerja mencari nafkah lagi, demikian siklusnya. Peredaran hidupnya dari hari ke hari hanyalah seperti itu, bagaimana agar ia makan, istirahat, kerja lagi, makan lagi, demikian seterusnya. Tidak ada bedanya dengan kucing. Kita perhatikan, bahwa kucing itu kalau sudah kenyang maka ia akan bermalas-malasan, berjemur, lalu kalau lapar maka akan mencari makan lagi, tidur lagi, demikian seterusnya. Maka bila seseorang tidak punya dien, jaahil dalam perkara ‘ilmu syar’I, tidak beramal shoolih, tidak berhamba kepada Allooh سبحانه وتعالى, maka sesungguhnya ia tidak punya makna dalam hidupnya.
Oleh karena itu, seorang ‘Ulama Ahlus Sunnah Wal Jamaa’ah, yakni Imaam Al Hasan Al Bashry رحمه الله mengatakan bahwa: “Substansi dan esksistensi manusia itu diukur dengan ‘Ilmu (dien)-nya.”
Yang dimaksud ‘Ilmu dalam hal ini adalah ‘Ilmu Syar’i, yakni ‘ilmu bagaimana agar manusia sebagai hamba Allooh سبحانه وتعالى mengetahui tentang Hak Allooh سبحانه وتعالى dan apa yang wajib dilakukannya dalam hidup ini.
Selanjutnya beliau, Imaam Al Hasan Al Bashry رحمه الله mengatakan : “Apabila tidak lagi ada ‘Ulama di atas permukaan bumi ini, maka manusia tidak ada bedanya dengan hewan ternak.”
Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allooh سبحانه وتعالى,
Maka hendaknya kita kembali kepada jalan Allooh سبحانه وتعالى, meniti ‘ilmu dien sesuai dengan apa yang disabdakan dan disunnahkan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, sebelum terjadinya berbagaiFitnah sebagaimana telah disebutkan dalam Hadits diatas. Karena sekarang justru yang terjadi dalam masyarakat kita itu adalah kebodohan dalam perkara dien, ‘ilmu semakin diangkat, para ‘Ulama semakin habis karena diwafatkan oleh Allooh سبحانه وتعالى. Sementara yang marak justru adalah bagian dari bukti bahwa jaahil (kebodohan) itu semakin merajalela, ‘ilmu semakin ghoib, dan semakin banyak terjadinya pembunuhan manusia. Semua itu sekarang sudah terjadi. Lalu apa yang harus kita persiapkan untuk menghadapi Fitnah tersebut?
Dalam Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 5577, dari Shohabat Anas bin Maalik رضي الله عنه. Anas رضي الله عنه berkata, “Sungguh akan aku ceritakan kepada kalian suatu Hadits yang tidak seorangpun dari kalian mendengarnya kecuali dariku. Aku mendengar Nabi صلى الله عليه وسلمbersabda,
مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يَظْهَرَ الْجَهْلُ وَيَقِلَّ الْعِلْمُ وَيَظْهَرَ الزِّنَا وَتُشْرَبَ الْخَمْرُ وَيَقِلَّ الرِّجَالُ وَيَكْثُرَ النِّسَاءُ حَتَّى يَكُونَ لِخَمْسِينَ امْرَأَةً قَيِّمُهُنَّ رَجُلٌ وَاحِدٌ
‘Diantara tanda hari kiamat, yaitu:
1) Akan nampak kebodohan
2) Ilmu diangkat
3) Zina Nampak
4) Khamr diminum
5) Akan semakin sedikit bilangan laki-laki dan semakin banyak bilangan wanita, sehingga 50 wanita dipimpin (ditanggung) oleh seorang laki-laki’.”
Keterangan:
‘Ilmu (dien) diangkat itu bukan berarti Al Qur’an-nya pergi dan Sunnah Rosuul-nya menghilang. Tidak, itu belum saatnya. Tetapi nanti itu pun akan terjadi. Dan akan kita ketahui pula melalui berbagai Hadits, bahwa apabila sudah sangat dekat sekali dengan Hari Kiamat maka Al Qur’an atau Kitab yang di dalamnya terdapat firman Allooh سبحانه وتعالى, atau tulisan Kitabullooh, semuanya akan menghilang. Yang tadinya kalau kita buka terdapat tulisan firman Allooh سبحانه وتعالى, maka pada saat itu tinggal kertas kosong belaka. Itu apabila Hari Kiamat tinggal beberapa saat saja.
Sekarang belum lah sampai fase itu, tetapi sekarang sudah mulai dengan fase dimana kejaahilan merajalela. Tidak seimbang antara jumlah orang yang faaqih dalam ‘ilmu (dien), para ‘Ulama (ahlul ‘ilmi) yakni mereka orang-orang yang shoolih, orang-orang yang mendalam dalam bidangdien (dimana mereka itu satu per satu oleh Allooh سبحانه وتعالى diwafatkan); dengan jumlah orang-orang yang jaahil dalam perkara dien. Hal ini menunjukkan bahwa kejaahilan itu berpeluang untuk menyebar ke berbagai penjuru dunia. Itulah bagian dari tanda-tanda Hari Kiamat.
Semakin banyak perbuatan zina.
Sekarang sudah terjadi. Kalau kita cermati, diberitakan juga di radio, bahwa di daerah Bali dikeluarkan peraturan bahwa setiap PSK harus mempunyai surat keteranagan Bebas Virus HIV. Jadi yang diberantas itu hanyalah sebatas urusan penyakitnya. Bukan diberantas penyebab penyakitnya, yaitu zinanya. Karena di daerah pantai-pantai di sana malah disediakan, disajikan, dan dipersiapkan pelayanan untuk berzina. Bayangkan, bila zina sudah marak seperti itu, maka itu lah tanda-tanda hari Kiamat. Zina sudah diperbolehkan. Istilah “lokalisasi” itu artinya adalah diperbolehkannya perzinahan di lokasi atau tempat tertentu.
Hal ini adalah tidak sesuai dengan tuntunan Allooh سبحانه وتعالى dan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, dan tergolong perkara yang berat dalam Syari’at, karena menghalalkan apa yang Allooh سبحانه وتعالى haromkan.
Semakin hari semakin banyak minuman khomer.
Minuman khomr itu tidak akan ada, kalau tidak ada peminumnya. Semakin banyak peminumnya, maka produk minuman khomr itu pun semakin banyak. Pabrik-pabrik khomr malah sekarang justru semakin tumbuh, dan semakin banyak di negara kita (yang katanya umat Islamnya mayoritas). Beberapa pabrik minuman keras (khomr) bahkan sedang diproses untuk didirikan. Dan kalau itu sudah jadi, maka produksi minuman keras (khomr) akan semakin banyak. Itu semua bagian dari Fitnah yang muncul di tengah-tengah kita pada zaman sekarang ini. Hal tersebut bukannya membawa kebaikan, melainkan akan semakin memburuk.
Bilangan laki-laki semakin sedikit.
Maksudnya, jumlah laki-laki semakin berkurang jika dibandingkan dengan jumlah perempuan. Pertumbuhan perempuan akan semakin banyak. Sampai dengan lima puluh wanita berbanding satu orang laki-laki. Itu disebabkan oleh beberapa perkara yang insya Allooh juga akan kita bahas dalam kajian ini.
Dalam Hadits Riwayati Imaam Al Hakim no: 8392, yang dishohiihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany رحمه الله dalam Kitab Shohiih Al Jaami’ash Shoghiir no: 3810 dan dalam KitabSilsilah Hadits Shohiih no: 1682, Dari Shohabat Abu Muusa Al Asy’ary رضي الله عنه bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda :
عن أبي موسى الشعري رضي الله عنه قال : قال النبي صلى الله عليه و سلم : أخاف عليكم الهرج قالوا : و ما الهرج يا رسول الله ؟ قال : القتل قالوا : و أكثر مما يقتل اليوم إنا لنقتل في اليوم من المشركين كذا و كذا فقال النبي صلى الله عليه و سلم : ليس قتل المشركين و لكن قتل بعضكم بعضا قالوا : و فينا كتاب الله ؟ قال : و فيكم كتاب الله عز و جل قالوا : و معنا عقولنا ؟ قال : إنه ينتزع عقول عامة ذلك الزمان و يخلف هباء من الناس يحسبون أنهم على شيء و ليسوا على شيء
Artinya:
“Aku takut pada kalian Al Haroj.”
Para Shohabat bertanya, “Apakah Al Haroj itu, ya Rosuulullooh?”
Beliau صلى الله عليه وسلم bersabda, “Pembunuhan.”
Para Shohabat bertanya, “Berapa banyak hari ini yang dibunuh? Sungguh kami membunuh orang-orang Musyrikin sehari sekian dan sekian.”
Kemudian Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda, “Bukan membunuh orang Musyrikin, tetapi kalian saling membunuh satu sama lain.”
Para Shohabat bertanya, “Bukankah ditengah-tengah kita ada Kitabullooh (Al Qur’an)?”
Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda, “Ditengah-tengah kalian ada Kitabullooh.”
Para Shohabat bertanya lagi, “Apakah kami masih punya akal?”
Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda, “Pada zaman itu, umumnya akal akan dicabut, lalu disusul oleh manusia yang hina dimana mereka mengira bahwa mereka diatas sesuatu, padahal mereka tidak diatas sesuatu”.
Bukankah hal tersebut telah terjadi di zaman kita sekarang? Dimana pembunuhan itu bukan lah karena kaum Muslimin memerangi orang-orang musyrikin, melainkan pembunuhan terjadi karena sebagian dari kaum Muslimin membunuh sebagian kaum Muslimin yang lainnya. Sampai-sampai seseorang itu membunuh tetangganya, membunuh saudaranya, membunuh pamannya, membunuh anak pamannya. Manusia mengira bahwa mereka itu membunuh diatas peraturan yang benar, padahal sebenarnya tidak. Fitnah ini telah jauh-jauh hari diperingatkan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
Juga Hadits Riwayat Imaam Muslim no: 7487, dari Shohabat Abu Hurairoh رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لاَ يَدْرِى الْقَاتِلُ فِى أَىِّ شَىْءٍ قَتَلَ وَلاَ يَدْرِى الْمَقْتُولُ عَلَى أَىِّ شَىْءٍ قُتِلَ
“Demi yang jiwaku di dalam genggaman-Nya, sungguh benar akan datang kepada manusia suatu zaman, dimana orang yang membunuh itu tidak tahu di jalan apa ia membunuh, bahkan yang dibunuh pun tidak tahu mengapa ia dibunuh.”
Maksudnya, sebab ia membunuh itu ia tidak tahu, dan yang dibunuh pun juga tidak tahu mengapa ia sampai dibunuh.
Yang dimaksudkan adalah banyaknya pembunuh bayaran. Ia disuruh membunuh seseorang dengan bayaran tertentu, dan tidak tahu mengapa orang tersebut harus dibunuhnya. Apakah hal ini sudah terjadi di zaman sekarang? Kalau jawabannya: Sudah, maka berarti Kiamat tinggal beberapa saat lagi.
Lalu mengapa jumlah wanita semakin besar dan jumlah laki-laki semakin sedikit?
1. Karena Allooh سبحانه وتعالى menakdirkan kebanyakan bayi yang lahir itu adalah perempuan.
2. Karena banyaknya peperangan. Karena yang maju perang itu adalah laki-laki, dan mereka banyak terbunuh, sehingga yang masih hidup itu kebanyakan adalah perempuan yang tidak ikut berperang.
3. Banyak terjadi pembunuhan, dan itu menimpa laki-laki.
Dari Kitab Hujjatullooh, Fitnah itu ada beberapa jenis :
1. Fitnah yang ada pada diri sendiri
Dirinya sendiri sudah merupakan Fitnah. Misalnya, seseorang yang hatinya keras, membatu. Diajak kepada kebenaran itu, ia tidak mau. Bila diberitahukan Hadits yang shohiih, yang benar, maka ia tidak mau percaya.
Dalam Hadits Riwayat Imaam Al Hakim no: 319, yang dishohiihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany رحمه الله dalam Kitab Shohiih Al Jaami’ash Shoghiir no: 5248, dari Shohabat Abu Hurairoh رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
إني قد تركت فيكم شيئين لن تضلوا بعدهما : كتاب الله و سنتي
Artinya:
“Sungguh aku tinggalkan diatas kalian dua perkara, jika kalian berpegang teguh kepada dua perkara itu, maka kalian tidak akan sesat selama-lamanya. ItulahKitabullooh (Al Qur’an) dan Sunnah-ku (Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم).”
Maka kalau kita ingin selamat, berpeganglah kepada Al Qur’an dan Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Tetapi ada orang yang karena hatinya sudah membatu, keras seperti batu; ketika diberi tahu bahwa yang benar adalah ini Al Qur’an dan As Sunnah, maka ia tidak mau bahkan mengolok-olok.
Yang seperti itu sudah terjadi di tengah-tengah kita. Dan orang seperti itu sudah terjangkitPenyakit Fitnah. Mudah-mudahan kita terhindar dari penyakit itu.
Fitnah pada diri sendiri itu terjadi, adalah karena:
a. Tidak punya rasa malu. Semua yang dia mau, ia kerjakan.
b. Akalnya.
Akal juga bisa menjadi Fitnah, antara lain dengan Ghuruur (membanggakan akalnya, kepandaiannya, kemampuan dirinya sendiri).
c. Tabi’atnya.
Misalnya seorang yang bertabi’at seperti hewan, hidupnya hanya lah untuk makan, tidur, tidak mau beribadah kepada Allooh سبحانه وتعالى. Ada juga orang yang sabu’iyah, kerjanya hanyalah menyerang orang lain. Orang yang ada didekatnya harus dikalahkannya. Orang yang demikian itu di zaman sekarang disebut: Preman (Premanisme).
2. Fitnah Keluarga
Misalnya: Ada seorang laki-laki yang rajin mengaji, dan beribadah kepada Allooh سبحانه وتعالى; tetapi isterinya malah tidak mau diajak mengaji, tidak mau diajak beribadah kepada Allooh سبحانه وتعالى. Atau sebaliknya, istrinya yang rajin mengaji dan beribadah kepada Allooh سبحانه وتعالى, namun suaminya yang tidak. Maka itulah Fitnah Keluarga. Karena masing-masing sibuk, sehingga antara suami-isteri tidak ada komunikasi dengan baik, sehingga ketika si isteri diajak beribadah, diajak kepada kebaikan, maka si isteri tidak mau. Itulah Fitnah keluarga.
3. Fitnah rusaknya sistem pengaturan negeri (kota)
Tamaknya manusia untuk merebut jabatan dengan cara yang tidak benar.
Dalam Hadits Riwayat Imaam Muslim no: 8281, dari Shohabat Jaabir رضي الله عنه, “Aku mendengarRosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ أَيِسَ أَنْ يَعْبُدَهُ الْمُصَلُّونَ فِى جَزِيرَةِ الْعَرَبِ وَلَكِنْ فِى التَّحْرِيشِ بَيْنَهُمْ
Artinya:
“Sungguh Syaithoon sudah putus asa dari disembah oleh orang-orang di Jazirah Arab, tetapi yang syaithoon masih punyai adalah kesempatan untuk mengadu-domba antara mereka satu sama lain.”
Oleh karena itu kita tidak boleh mudah terpancing, semua harus dengan hati yang lapang. Apa pun permasalahannya, hendaknya Al Qur’an dan As Sunnah menjadi menjadi Tahkim (Dasar Hukum) -nya. Kembalikan lah semua persoalan itu kepada keputusan Allooh سبحانه وتعالى dan Rosuul-Nya صلى الله عليه وسلم.
4.Fitnah yang terjadi sepeninggal para Shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Sepeninggal para Shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, maka berbagai perkara dan urusan dipegang oleh orang-orang yang bukan ahlinya, sehingga tidak lagi berjalan secara tegak diatas Al ‘Ilmu, kemudian mereka menyepelekan para penguasanya, dan semaki banyak orang-orang jaahil dalam perkara dien, dan juga tidak ditegakkan Amar Ma’ruf Nahi Munkar; sehingga zaman itu tidak ada bedanya dengan zaman Jahiliyah.
Tidak ada satu Nabi kecuali Nabi itu mempunyai Hawaary (pembela, penolong). Kalau para pembela Sunnah sudah semakin langka, dan amar ma’ruf nahi munkar pun semakin langka, maka tunggulah kerusakan dunia ini.
5. Fitnah yang sangat membelenggu
Perubahan yang terjadi pada manusia, yang semestinya ia adalah “manusia”, tetapi berubah bukan lagi menjadi “manusia”. Orang yang paling suci dan paling zuhud dari mereka, sekarang sudah mulai berubah dan bergeser nilai-nilai kehidupannya kepada mengikuti tabi’at-tabi’at yang tidak benar. Kebanyakan dari manusia menjalani kehidupannya adalah laksana hewan. Yang kuat memangsa yang lemah.
6. Fitnah dengan kejadian-kejadian angkasa (udara)
Adanya suatu peringatan keras, adanya kerusakan umum akibat bencana angin topan, berupa banyak penyakit menular, adanya banyak gerhana-gerhana, udara yang tersebar di berbagai negeri (Global Warning).
Masih banyak lagi Fitnah-fitnah yang lain, yang insya Allooh akan dijelaskan di kajian yang mendatang.
Namun perlu disampaikan sebuah Hadits yang penting untuk diketahui oleh kita semua, yaitu :
Dalam Hadits Riwayat Imaam Ahmad no: 18402, dari Shohabat An Nu’man bin Basyiir رضي الله عنه, dan berkata Syaikh Syuaib Al Arnaa’uth رحمه الله bahwa sanad hadits ini Hasan, dan Hadit ini di-shohiihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany رحمه الله dalam Kitab Silsilah Hadits Shohiihno: 5, bahwa: “Dari An Nu’man bin Basyiir رضي الله عنه, beliau berkata bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda,
تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ثُمَّ
Artinya:
“Kenabian ditengah-tengah kalian akan berlangsung sebagaimana Allooh سبحانه وتعالى kehendaki, kemudian Allooh سبحانه وتعالى angkat jika Allooh سبحانه وتعالى kehendaki.Kemudian adalah Khilaafah diatas pedoman Nabi صلى الله عليه وسلم, kemudian Allooh سبحانه وتعالى angkat jika Allooh سبحانه وتعالى kehendaki. Kemudian adalah Kerajaan yang menggigit (– turun temurun –pent.), kemudian Allooh سبحانه وتعالى angkat jika Allooh سبحانه وتعالى kehendaki. Kemudian adalah Kerajaan Jabriyyah (tirani), kemudian Allooh سبحانه وتعالى angkat jika Allooh سبحانه وتعالى kehendaki. Kemudian Khilaafah diatas Pedoman Nabiصلى الله عليه وسلم.” Kemudian Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم diam.”
Jadi akan ada satu kali lagi masanya dimana kaum Muslimin dipimpin oleh Khilaafah yang berada diatas pedoman Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, sebelum Hari Kiamat nanti. Apabila hal itu sekarang belum terjadi, maka insya Allooh pasti akan terjadi karena hal tersebut sudah dikhobarkan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
Oleh karena itu kaum Muslimin, jangan lah pesimistis terhadap carut marutnya kondisi yang ada pada zaman kita sekarang ini. Tetaplah optimis, senantiasa berpegang teguh pada Al Haq, istiqoomah diatasnya, dan berdakwah kepada orang-orang lain disekitar kita tentang kebenaran Al Islam. Walaupun, bisa jadi kita sekarang hidup di zaman dimana kaum Muslimin berada dalam kejaahilan dan kelemahan, tetapi yakinlah akan janji Allooh سبحانه وتعالى bahwa suatu saat nanti kaum Muslimin akan dimenangkan lagi oleh Allooh سبحانه وتعالى.

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

TANDA KIAMAT 2

tanda-hari-kiamat-2

TANDA-TANDA HARI KIAMAT (BAGIAN-2)
Oleh: Ust. Achmad Rofi’i, Lc.

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allooh سبحانه وتعالى,
Tentang tanda-tanda Kiamat dari Kitab Al Yaumul Akhir yang ditulis oleh Syaikh Dr. ‘Umar Sulaiman Al Asyqor, kita sudah bahas pada pertemuan terdahulu, sudah sampai nomor 2. Maka untuk kali ini kita akan bahas Tanda-tanda Kiamat dari Kitab tersebut pada nomor berikutnya yaitu nomor 3.
Berkenaan dengan tanda Kiamat yang pertama (dari kitab tersebut), Pertama: Kemenangandan Kedua: Nabi Palsu. Untuk yang pertama: tentang Kemenangan, wahyu Allooh سبحانه وتعالى menjelaskan kepada kita, bahwa Islam ini akan mempunyai masa depan dan bahwa masa depan Islam itu ada di tangan kaum Muslimin. Oleh karena itu orang-orang kaafir jauh-jauh hari sudah khawatir.
Tentang Kemenangan
Dalam Hadits riwayat Imaam Muslim no: 7440, Dari Shohabat Tsauban رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
إِنَّ اللَّهَ زَوَى لِىَ الأَرْضَ فَرَأَيْتُ مَشَارِقَهَا وَمَغَارِبَهَا وَإِنَّ أُمَّتِى سَيَبْلُغُ مُلْكُهَا مَا زُوِىَ لِى مِنْهَا ….
Artinya:
“Sesungguhnya Allooh سبحانه وتعالى telah membentangkan kepadaku bumi, aku lihat bagian timurnya dan bagian baratnya. Umatku akan sampai ke pelosok dimana aku melihat dari bagian bumi itu.”
Dalam Hadits shohiih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim no: 7440 dari salah seorang Shohabat bernama Tsauban رضي الله عنه, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda :
إِنَّ اللَّهَ زَوَى لِىَ الأَرْضَ فَرَأَيْتُ مَشَارِقَهَا وَمَغَارِبَهَا وَإِنَّ أُمَّتِى سَيَبْلُغُ مُلْكُهَا مَا زُوِىَ لِى مِنْهَا
Artinya:
“Sesungguhnya Allooh سبحانه وتعالى membentangkan bumi kepadaku lalu aku lihat timurnya dan baratnya, dan sesungguhnya umatku akan sampai kekuasaannya(kerajaannya) kepada apa yang telah dibentangkan kepadaku”.
Maksudnya, umat Islam kelak akan tersebar sampai pada setiap pelosok bumi yang telah diperlihatkan kepada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, yaitu di seluruh muka bumi. Bukan hanya besarnya jumlah umat Islam, bahkan dikatakan dalam Hadits tersebut bahwa Kekuasaan Islamitu sampai di Timur dan di Barat. Maka hendaknya dipahami, kalau hal itu belum terjadi maka insya Allooh akan terjadi.
Selanjutnya dalam Hadits Riwayat Imaam Muslim no: 7440 tersebut, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda :
وَأُعْطِيتُ الْكَنْزَيْنِ الأَحْمَرَ وَالأَبْيَضَ
Artinya:
“Aku diberi dua simpanan berharga yang terpendam yaitu Al Ahmar (– para ulamamengartikan emas –), dan Al Abyad (– maksudnya perak –)”.
Hadits tersebut menjelaskan kepada kita tentang kemenangan-kemenangan pada masa yang akan datang.
Dalam Hadits yang lain diriwayatkan oleh Imaam Al Bukhoory no: 8326 dan Imaam Hibban رحمه الله dalam Shohiihnya no: 6701, dari Shohabat Tamim Ad Daari رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
ليبلغن هذا الأمر مبلغ الليل و النهار و لا يترك الله بيت مدر و لا وبر إلا أدخله هذا الدين بعز عزيز أو بذل ذليل يعز بعز الله في الإسلام و يذل به في الكفر (قال شعيب الأرنؤوط : إسناده صحيح على شرط الصحيح
Artinya:
“Sesungguhnya perkara dien ini (Islam), benar-benar sungguh akan sampai kepada belahan bumi yang terjangkau oleh malam dan siang. Allooh tidak akan membiarkan darat atau lautan-Nya kecuali Allooh akan memasukkan Islam dengan keperkasaan orang yang perkasa yang memperjuangkan Islam, atau dengan kehinaan yang dengan kehinaan itu orang-orang kaafir menjadi terhina.”
Maksudnya, di belahan bumi mana saja, dimana malam bisa menjangkau belahan bumi itu maka Islam akan sampai di situ. Oleh karena itu, kita sebagai muslim hendaknya optimis bahwa sebenarnya masa depan dunia ini ada di tangan Islam.
Tentang Nabi palsu, dalam kitab tersebut sudah dijelaskan tentang adanya Dajjaalun,Kadzaabun (pendusta-pendusta yang sangat ulung) dan bilangannya dekat dengan bilangan 30 (tigapuluh). Semua mereka mengaku sebagai Utusan Allooh سبحانه وتعالى.
Dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Imaam Al Bukhoory no: 3609 dan Imaam Muslim no: 7526, dari Shohabat Abu Hurairoh رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَقْتَتِلَ فِئَتَانِ فَيَكُونَ بَيْنَهُمَا مَقْتَلَةٌ عَظِيمَةٌ دَعْوَاهُمَا وَاحِدَةٌ وَلَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُبْعَثَ دَجَّالُونَ كَذَّابُونَ قَرِيبًا مِنْ ثَلَاثِينَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ رَسُولُ اللَّهِ
Artinya:
“Tidak akan terjadi Hari Kiamat sehingga dua kelompok orang saling berperang dan berakibat terbunuhnya banyak orang, padahal apa yang mereka seru sebetulnya satu. Dan tidak akan terjadi Hari Kiamat sampai Allooh سبحانه وتعالى bangkitkan di tengah-tengah mereka para Dajjal, para pendusta, lebih dekat bilangannya dari 30 orang, semua mereka mengaku bahwa dia adalah utusan Allooh”.
Itulah tanda-tanda hari Kiamat, karena pada awal Haditsnya Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم mensabdakan bahwa tidak akan terjadi hari Kiamat kecuali sampai tanda-tanda yang dijelaskan diatas.
Tanda-tanda hari Kiamat berikutnya:
3) Jika Suatu Perkara sudah Dilimpahkan kepada Orang yang Bukan Ahlinya
Apabila suatu perkara sudah dipegang oleh orang yang tidak kompeten atau tidak legitimate, maka itulah bagian dari tanda hari Kiamat.
Diantara dalil tentang hal itu, adalah:
Hadits shohiih yang diriwayatkan oleh Imaam Al Bukhoory no: 59 :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ بَيْنَمَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مَجْلِسٍ يُحَدِّثُ الْقَوْمَ جَاءَهُ أَعْرَابِيٌّ فَقَالَ مَتَى السَّاعَةُ فَمَضَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحَدِّثُ فَقَالَ بَعْضُ الْقَوْمِ سَمِعَ مَا قَالَ فَكَرِهَ مَا قَالَ وَقَالَ بَعْضُهُمْ بَلْ لَمْ يَسْمَعْ حَتَّى إِذَا قَضَى حَدِيثَهُ قَالَ أَيْنَ أُرَاهُ السَّائِلُ عَنْ السَّاعَةِ قَالَ هَا أَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ فَإِذَا ضُيِّعَتْ الْأَمَانَةُ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ قَالَ كَيْفَ إِضَاعَتُهَا قَالَ إِذَا وُسِّدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ
Artinya:
Dari Shohabat Abu Hurairoh رضي الله عنه yang berkata bahwa ketika Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم berada dalam suatu majlis, beliau صلى الله عليه وسلم sedang berbicara kepada para Shohabat, lalu datanglah seorang A’robi (Arab dari gunung) yang bertanya: “Kapankah Kiamat?”
Tetapi Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم tidak menanggapi pertanyaan orang itu. Beliau صلى الله عليه وسلم sebenarnya mendengar pertanyaan itu, tetapi tidak suka dengan apa yang didengarnya. Begitu tanggapan sebagian para Shohabat. Tetapi Abu Hurairoh رضي الله عنه mengatakan bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم memang belum mendengar, sebab kalau sudah mendengar pasti akan ditanggapi.
Sampai kemudian Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم berbicara, lalu sabda beliau صلى الله عليه وسلم:“Manakah orang yang bertanya tadi?”.
Orang A’robi itu berkata : “Ini, saya ya Rosuulullooh”.
Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda: “Jika kepercayaan (amanah) telah dilalaikan (disia-siakan, dikhianati) maka itu tanda Kiamat akan terjadi”.
Orang A’robi itu bertanya lagi: “Ya Rosuulullooh, amanah disia-siakan itu kapan dan bagaimana caranya?”
Beliau صلى الله عليه وسلم bersabda: “Jika suatu amanah dilimpahkan, diberikan, dibebankan kepada orang yang bukan ahlinya (tidak berkompeten), makaKiamat akan segera terjadi”.
Kalau kita pandang dari sudut management, itulah yang disebut professional. Bahwa orang yang tidak punya kompetensi dalam bidang apa pun, maka ia tidak berhak untuk menyandang amanah. Apalagi di zaman dimana orang berkata tentang professionalisme seperti di zaman sekarang ini, maka amanah selayaknya tidak diberikan dan dibebankan kepada pihak yang tidak kompeten atau tidak professional.
Banyak sekali hal-hal yang berkenaan dengan amanah yang diselewengkan, orang yang sebenarnya tidak berhak dalam suatu bidang, tetapi ia menggeluti bidang itu. Misalnya:
Seorang Ustadz yang bidangnya adalah Ilmu Syar’i, tetapi karena ia kebetulan menjadi anggota DPR, DPRD atau partai politik, maka ia lalu terpaksa menggali, mengkaji masalah-masalah yang sebenarnya bukan lah bidangnya. Akhirnya Ustadz itu habis waktunya, bukan untuk menelaah perkara-perkara Ilmu Syar’i yang menjadi bidangnya, tetapi waktunya adalah untuk mempelajari dan menelaah bidang-bidang yang menjadi tuntutan tugas pekerjaannya saat itu.
Banyak lagi orang-orang yang tidak kompeten, yang karena nepotisme, kekerabatan, ke-kolegaan, lalu orang itu diangkat untuk mengurus perkara-perkara yang bukan bidangnya. Akibatnya bukannya semakin maju berkembang, tetapi malah yang terjadi adalah mundur atau jalan di tempat.
Contoh-contoh diatas, pada zaman sekarang ini menjadi lumrah, biasa terjadi. Seorang yang berprofesi bukan sebagai seorang mubaligh, tetapi karena ia sering membaca internet (– dan sekarang buku-buku dan kitab itu banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, sehingga ia mampu beli dan membacanya –) kemudian sedikit-sedikit ia pun mencoba menjadi khotib, sekali dua kali, akhirnya menjadi Ustadz.
Ada juga seorang pemain musik, bahkan dahulunya tukang joget dangdut, lalu tiba-tiba ia menjadikan dirinya sebagai Ustadz.
Lalu ada lagi pemain sinetron yang kemudian merubah dirinya menjadi Ustadz.
Dari ‘Abdullooh bin ‘Amr bin Al Ash رضي الله عنه, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda,
عن عَبْد اللَّهِ بْنَ عَمْرٍو مَارٌّ بِنَا إِلَى الْحَجِّ فَالْقَهُ فَسَائِلْهُ فَإِنَّهُ قَدْ حَمَلَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- عِلْمًا كَثِيرًا – قَالَ – فَلَقِيتُهُ فَسَاءَلْتُهُ عَنْ أَشْيَاءَ يَذْكُرُهَا عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-. قَالَ عُرْوَةُ فَكَانَ فِيمَا ذَكَرَ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْتَزِعُ الْعِلْمَ مِنَ النَّاسِ انْتِزَاعًا وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعُلَمَاءَ فَيَرْفَعُ الْعِلْمَ مَعَهُمْ وَيُبْقِى فِى النَّاسِ رُءُوسًا جُهَّالاً يُفْتُونَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ فَيَضِلُّونَ وَيُضِلُّونَ
Artinya:
“Sesungguhnya Allooh tidak akan mencabut ‘ilmu begitu saja dari manusia, tetapi Allooh mencabut ‘ilmu itu melalui dimatikannya para ‘Ulama, sehingga jika tidak tersisa satu ‘alim pun, maka orang akan menjadikan orang-orang yang bodoh sebagai pemimpin mereka. Jika mereka ditanya, maka mereka akan berfatwa tanpa ‘ilmu, sehingga mereka akan sesat dan menyesatkan orang lain.” (Hadits Riwayat Imaam Muslim no: 6974)
Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda,
إن من أشراط الساعة أن يلتمس العلم عن الأصاغر
“Diantara ciri hari Kiamat, adalah ‘ilmu diambil dari Ahlul Bid’ah.”
(Hadits Riwayat Imaam At Thobrony رحمه الله, dan di-shohiihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany)
Itulah sebagian contoh dari perkara-perkara yang sebetulnya tidak boleh diemban oleh orang-orang yang bukan ahlinya, tetapi karena sudah menjadi trendy yang tak terkendali, maka perkara ini pun merebak di masyarakat kita. Padahal mereka adalah orang-orang yang belum lah kompeten di bidang Ilmu Syar’ie, namun menempatkan dirinya sebagai Ustadz atau Da’i. Kalau fenomena seperti ini terus-menerus berjalan, dikhawatirkan pemahaman tentang dien pada masa yang akan datang menjadi sangat rentan. Karena masing-masing orang mempunyai pemahaman sesuai dengan latar belakangnya yang berbeda-beda.
Sangat lah ironis, seharusnya ilmu tentang dien dipelajari berdasarkan suatu sistem dan metodologi Talaqqii (belajar dari guru), dan guru itu harus seperti yang dikatakan olehImaam Al Bukhoory رحمه الله, kata beliau: “Aku mengambil Hadits dan meriwayatkan Hadits dari tidak kurang dari 1000 (seribu) orang guru. Semua guru itu mengatakan: ‘Iman itu adalah perkataan dan perbuatan’.”
Itu menunjukkan bahwa guru beliau رحمه الله semuanya adalah Ahlus Sunnah wal Jamaa’ah.
Imaam Maalik رحمه الله, yakni guru dari Imaam Asy Syaafi’iy رحمه الله, beliau berkata, “’Ilmu (dien) itu tidak boleh diambil dari 4 (empat) jenis orang, yakni:
1. Orang bodoh walaupun banyak meriwayatkan Hadiits
2. Ahlul Bid’ah yang menyeru pada ke-Bid’ahannya
3. Orang yang berdusta dalam pembicaraan dengan manusia, betapapun aku tidak menuduhnya berdusta atas nama Rosuul,
4. Orang yang shoolih, ahlil ibaadah, mempunyai keutamaan; tetapi tidak hafal apa yang diriwayatkannya.”
Imam Maalik رحمه الله mengatakan bahwa ‘Ilmu dien itu tidak lah boleh diambil dari 4 jenis orang, antara lain yakni dari orang yang bergelimang dalam Bid’ah. Apalagi kalau ia menyuruh orang lain untuk berbuat Bid’ah, maka orang tersebut tidak boleh dan tidak berhak untuk dijadikan guru. Dan apabila ia mengajar, maka ia tidak berhak untuk diambil ‘ilmunya.
Zaman sekarang ada sebagian orang yang justru belajar ilmu Syar’i tentang Firman Allooh سبحانه وتعالى dan sabda Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم (Al Qur’an dan Hadits) itu belajarnya dari orang-orang kaafir, belajar dari orang-orang orientalis. Padahal mengambil ilmu dari Ahlul Bid’ah(yang notabene ia masih muslim) saja adalah tidak boleh. Bagaimana pula kalau mengambil ilmunya dari orang-orang kafir, orang-orang orientalis; yaitu orang-orang yang jelas-jelas tidak senang dengan Islam?
Itu berarti termasuk orang-orang yang meletakkan suatu urusan kepada orang yang bukan ahlinya. Banyak sekali contoh-contoh seperti ini di dalam masyarakat yang mengakibatkan kejadian-kejadian di masa datang. Kalau Islam sudah dipelajari dari orang-orang kaafir, maka muncul lah seperti apa yang terjadi di zaman sekarang ini, adanya Islam Liberal (JIL), ada lagi Islam-nya hasil pemikiran dan lain sebagainya, yang menyebabkan orang-orang yang awam terkecoh.
Bukankah hal ini sekarang sudah banyak terjadi? Orang banyak kesibukan, bisnis, rapat, seminar atau pun lain-lainnya, sehingga urusan dunia didahulukan dan sholat malah diakhirkan.
Dalam Hadits Riwayat Imaam Ibnu Maajah dalam Sunannya no: 1257, di-shohiihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany, dari salah seorang Shohabat yaitu ‘Ubadah bin Ash Shoomit رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
سيكون أمراء تشغلهم أشياء . يؤخرون الصلاة عن وقتها . فاجعلوا صلاتكم معهم تطوعا
Artinya:
“Akan muncul para Penguasa (Pemerintah) yang disibukkan oleh berbagai urusan, sehingga mereka mengakhirkan sholat dari waktunya maka jadikanlah sholat kalian bersama mereka adalah sholat Sunnah.”
Tentu lah ada hikmahnya, yaitu adanya kekhawatiran berpengaruh pada sah dan tidak sah-nya suatu sholat.
Dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Imaam Muslim no: 4907 dan Imaam Abu Daawud no: 4762, dari Ummu Salamah رضي الله عنها (istri Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم), bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
إِنَّهُ يُسْتَعْمَلُ عَلَيْكُمْ أُمَرَاءُ فَتَعْرِفُونَ وَتُنْكِرُونَ فَمَنْ كَرِهَ فَقَدْ بَرِئَ وَمَنْ أَنْكَرَ فَقَدْ سَلِمَ وَلَكِنْ مَنْ رَضِىَ وَتَابَعَ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلاَ نُقَاتِلُهُمْ قَالَ. لاَ مَا صَلَّوْا
Artinya:
“Akan ada (muncul) para Umaro (Pemimpin, Penguasa), kalian mengenal mereka, kalian tahu tetapi kalian ingkari. Barangsiapa membenci (mereka),maka ia telah berlepas diri. Barangsiapa yang mengingkari, maka ia akan selamat. Tetapi siapa yang ridho’ dan mengikuti mereka maka ia terancam tidak selamat.”
Shohabat bertanya, “Ya Rosuul, apa kita perangi mereka?”
Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم menjawab, “Tidak, selama mereka masih melaksanakan sholat.”
Maksudnya, barang siapa yang ridho’ terhadap Pemimpin yang dzolim maka ia akan dimintai tanggung jawab oleh Allooh سبحانه وتعالى. Pelajaran dari Hadits tersebut adalah bahwa kita ini diperintahkan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم untuk berlepas diri dari perkara-perkara yang tidak sesuai dengan ajaran beliau صلى الله عليه وسلم.
Ada lagi Hadits yang diriwayatkan oleh Imaam Ibnu Maajah no: 2865, dari Shohabat ‘Abdullooh bin Mas’uud رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
سيلي أموركم بعدي رجال يطفئون السنة ويعملون بالبدعة ويؤخرون الصلاة عن مواقيتها ) فقلت يا رسول الله إن أدركتهم كيف أفعل ؟ قال ( تسألني يابن أم عبد كيف تفعل ؟ لا طاعة لمن عصى الله
Artinya:
“Akan datang orang-orang (yang ditokohkan) yang mengurusi perkara kalian setelah aku, dimana mereka memadamkan Sunnah, mengerjakan Bid’ah dan mengakhirkan sholat dari waktunya”.
Aku berkata, “Ya Rosuulullooh, jika aku mengalami itu, maka apa yang harus aku perbuat?”
Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda: “Wahai Ibnu Ummi ‘Abdin, engkau bertanya tentang apa yang harus engkau perbuat? Tidak ada ketaatan bagi siapa pun yang berma’shiyat kepada Allooh سبحانه وتعالى.”
Maksudnya, bila seandainya telah atau akan terjadi para Umaro (Pemimpin) dimana mereka itu kita ketahui tetapi kita ingkari perbuatannya, mungkin dari sisi ‘aqiidah-nya, ideologinya, dsbnya; apalagi mereka itu mengakhirkan sholatnya dari waktunya, bahkan mengada-ada perkara yang Bid’ah; maka menurut Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم tidak perlu ada ketaatan dalam perkaradien bagi orang yang ma’shiyat kepada Allooh سبحانه وتعالى seperti itu.
Perkara-perkara yang disampaikan diatas ini harus lah kita ketahui dan itu semua merupakan tanda-tanda dekatnya Hari Kiamat. Jadi, jika suatu perkara sudah disandarkan kepada orang-orang yang bukan ahlinya maka itu adalah bagian dari tanda-tanda Hari Kiamat.
4) Rusaknya Kaum Muslimin
Dalam Al Qur’an Surat Al Ahzaab (33) ayat 72, Allooh سبحانه وتعالى berfirman :
إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَن يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُوماً جَهُولاً
Artinya:
“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat dzalim dan amat bodoh.”
Berkenaan dengan itu, banyak disebutkan dalam Hadits, diantaranya adalah Hadits yang diriwayatkan oleh Imaam Muslim no: 384:
عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ حَدَّثَنَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- حَدِيثَيْنِ قَدْ رَأَيْتُ أَحَدَهُمَا وَأَنَا أَنْتَظِرُ الآخَرَ حَدَّثَنَا « أَنَّ الأَمَانَةَ نَزَلَتْ فِى جِذْرِ قُلُوبِ الرِّجَالِ ثُمَّ نَزَلَ الْقُرْآنُ فَعَلِمُوا مِنَ الْقُرْآنِ وَعَلِمُوا مِنَ السُّنَّةِ ». ثُمَّ حَدَّثَنَا عَنْ رَفْعِ الأَمَانَةِ قَالَ « يَنَامُ الرَّجُلُ النَّوْمَةَ فَتُقْبَضُ الأَمَانَةُ مِنْ قَلْبِهِ فَيَظَلُّ أَثَرُهَا مِثْلَ الْوَكْتِ ثُمَّ يَنَامُ النَّوْمَةَ فَتُقْبَضُ الأَمَانَةُ مِنْ قَلْبِهِ فَيَظَلُّ أَثَرُهَا مِثْلَ الْمَجْلِ كَجَمْرٍ دَحْرَجْتَهُ عَلَى رِجْلِكَ فَنَفِطَ فَتَرَاهُ مُنْتَبِرًا وَلَيْسَ فِيهِ شَىْءٌ – ثُمَّ أَخَذَ حَصًى فَدَحْرَجَهُ عَلَى رِجْلِهِ – فَيُصْبِحُ النَّاسُ يَتَبَايَعُونَ لاَ يَكَادُ أَحَدٌ يُؤَدِّى الأَمَانَةَ حَتَّى يُقَالَ إِنَّ فِى بَنِى فُلاَنٍ رَجُلاً أَمِينًا. حَتَّى يُقَالَ لِلرَّجُلِ مَا أَجْلَدَهُ مَا أَظْرَفَهُ مَا أَعْقَلَهُ وَمَا فِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ مِنْ إِيمَانٍ ». وَلَقَدْ أَتَى عَلَىَّ زَمَانٌ وَمَا أُبَالِى أَيَّكُمْ بَايَعْتُ لَئِنْ كَانَ مُسْلِمًا لَيَرُدَّنَّهُ عَلَىَّ دِينُهُ وَلَئِنْ كَانَ نَصْرَانِيًّا أَوْ يَهُودِيًّا لَيَرُدَّنَّهُ عَلَىَّ سَاعِيهِ وَأَمَّا الْيَوْمَ فَمَا كُنْتُ لأُبَايِعَ مِنْكُمْ إِلاَّ فُلاَنًا وَفُلاَنًا
Dari Shohabat Hudzaifah Ibnul Yaman رضي الله عنه, beliau berkata, “Dua Hadits yang disampaikan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم kepada kami. Yang pertama, aku sudah melihatnya dan yang kedua, aku masih menunggunya. Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
“1. Bahwa amanah telah turun pada lubuk hati orang, kemudian Al Qur’an turun sehingga mereka mengetahui dari Al Qur’an, dan mengetahui dari As Sunnah.
2. Kemudian Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم mengatakan kepada kami tentang diangkatnya amanah, yaitu beliau صلى الله عليه وسلم bersabda, “Seseorang tidur sesaat, lalu dicabutnya amanah dari hatinya sehingga bekasnya seperti noda, kemudian tidur sesaat lagi dan amanah itu dicabut dari hatinya; sehingga meninggalkan bekas bagaikan bara yang mengenai kakinya sehingga orang-orang (manusia) saling berjual beli dan hampir tidak ada seorang pun dari mereka yang menunaikan amanah. Kemudian dikatakan, ‘Sesungguhnya pada bani Fulan ada seorang yang terpercaya, sehingga dikatakan pada orang ini: “Betapa kokohnya, teguhnya, berakalnya, padahal tidak ada sebiji sawit pun dalam hatinya iman.”.’
Hudzaifah Ibnul Yaman رضي الله عنه berkata, “Sungguh akan datang padaku suatu zaman, dan aku tidak peduli siapa diantara kalian yang ku-bai’at. Jika dia Muslim, maka dikembalikan kepada dien-nya. Jika dia Nashrony atau Yahudi, maka dikembalikan pada orang yang menjalankannya. Adapun hari ini, aku tidak akan membai’at dari kalian, kecuali Fulan dan Fulan.”
Ternyata mencari orang yang jujur itu sangat lah sulit. Kalaupun ada, karena saking sedikitnya, lalu orang yang jujur itu pun dipuji. Yang banyak adalah ketidak jujuran. Apabila sudah terjadi situasi seperti itu, maka tandanya Kiamat itu sudah dekat.
Pelajaran yang bisa diambil dari Hadits diatas adalah bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم mengkaitkan antara Amanah dengan masalah Iman. Amanah itu sangat erat kaitannya dengan Iman. Apabila orang tidak punya sifat amanah dan kejujuran, maka bisa dikatakan bahwa orang itu Imannya tidak ada. Yang ada bahkan menyerupai orang munaafiq.
Dalam Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 2459 dan Imaam Muslim no: 219, dari Shohabat ‘Abdullooh bin ‘Amr bin Al Ash رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ كَانَ مُنَافِقًا أَوْ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْ أَرْبَعَةٍ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ
Artinya:
“Empat perkara, barangsiapa pada dirinya terdapat empat perkara ini, maka dia adalah seorang munaafiq yang tulen. Barangsiapa yang didalamnya terdapat satu dari empat sifat ini, maka ia terdapat sifat kemunaafiqan (dalam dirinya), sehingga dia meninggalkannya: Jika ia berbicara maka ia berdusta, jika ia berjanji maka ia menyalahi (janjinya), jika ia mengikat suatu kesepakatan maka ia menyelisihinya, dan jika ia berdebat maka ia curang.”
Bila ciri-ciri orang yang demikian itu sudah banyak terjadi, maka itu juga bagian dari tanda-tanda Kiamat.
Dan dalam Hadits Riwayat Imaam Ahmad no: 13199 dan menurut Syaikh Syuaib Al Arnaa’uth maka Hadits ini adalah Hasan, dari Shohabat Anas bin Maalik رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
لَا إِيمَانَ لِمَنْ لَا أَمَانَةَ لَهُ وَلَا دِينَ لِمَنْ لَا عَهْدَ لَهُ
Artinya:
“Tidak ada iman bagi orang yang tidak mempunyai amanah dalam dirinya dan tidak ada dien bagi yang tidak punya ikatan janji padanya”.
Maksudnya, kalau amanat itu diartikan jujur, maka orang yang tidak jujur berarti tidak ada dien pada dirinya. Oleh karena itu, kita harus kembali menumbuhkan sifat amanah itu. Rusaknya kaum muslimin itu adalah kalau sampai tidak adanya amanah dalam diri mereka.
Selanjutnya dalam sebuah Hadits Riwayat Imaam Ibnu Hibban no: 6715 yang di-shohiihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany dalam Kitab Shohiih At Targhiib Wat Tarhiib no: 572, dari Shohabat Abu Umaamah رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
لتنتقضن عرى الاسلام عروة عروة فكلما انتقضت عروة تشبث الناس بالتي تليها فأولهن نقضا : الحكم وآخرهن : الصلاة
Artinya:
“Sungguh benar-benar ikatan Islam akan terurai satu demi satu. Setiap terurai satu ikatan, maka manusia terpaut dengan yang berikutnya. Pertama kali adalah terurainya ikatan Hukum (Hukum Islam tidak lagi ditegakkan — pent.) dan ikatan yang terakhirnya adalah Sholat.”
Apabila sholat tidak lagi menjadi sesuatu yang urgent, tidak dilaksanakan, tidak dipentingkan, maka itu juga merupakan tanda kerusakan kaum muslimin. Apabila hukum, tatanan nilai dan apapun yang sudah menjadi ketetapan Allooh سبحانه وتعالى tidak dijalankan, maka itu suatu merupakan kerusakan. Dan zaman sekarang ini kalau dilihat satu persatu maka banyak sekali yang sudah bermunculan tanda-tanda kerusakan itu.
Sabda Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, yang diriwayatkan oleh Imaam Abu Daawud dalam Sunan-nya no: 3464 dari ‘Abdullooh bin ‘Umar رضي الله عنه :
إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ
Artinya:
“Jika kalian sudah saling berjual beli dengan riba’ dan mengambil ekor sapi (membuntuti dunia), dan puas dengan pertanian (investasi) dan kalian tinggalkan jihad, maka Allooh akan jadikan kalian dikuasai oleh kehinaan yang tidak akan dicabut sehingga kalian kembali kepada dien kalian.”
Perkara-perkara tersebut, manakah yag tidak ada pada zaman sekarang ini ?
Sabda Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dalam suatu Hadits yang panjang yaitu:
عن عطـاء بن أبى رباح عن عبد الله بن عمـر، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : يَا مَعْـشَرَ الْمُـهَاجِرِيْنَ خَمْسٌ إِنِ ابْتُلِيْتُمْ بِهِنَّ وَنَـزَلَ فِيْكُمْ أَعُوْذُ بِاللهِ أَنْ تُدْرِكُوْهُنَّ
1. لَمْ تَظْهَرِ الْفَاحِشَةُ فِىْ قَوْمٍ قَطٌّ حَتَّى يَعْمَلُوْا بِهَا إِلاَّ ظَهَرَ فِيْهِمُ الطَّاعُوْنُ وَالأَوْجَاعُ الَّتِيْ لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِيْ أَسْلاَفِهِمْ،
2. وَلَمْ يَنْقُصُوْا الْمِكْيَالَ وَالْمِيْزَانَ إِلاَّ أُخِذُوْا بِالسَّنِيْنَ وَشِدَّةِ الْمُؤْنَةِ وَجَوْرِ السُّلْطَانِ عَلَيْهِمْ،
3. وَلَمْ يَمْنَعُوْا الزَّكَاةَ إِلاَّ مُنِعُوْا الْقَطْرَ مِنَ السَّمَاءِ وَلَوْ لاَ الْيَهَـائِمِ لَمْ يُمْطَرُوْا،
4. وَلَمْ يَنْقُضُوْا عَهْدَ اللهِ وَعَهْدَ رَسُوْلِهِ إِلاَّ سَلَّطَ عَلَيْهِمْ عَدُوُّهُمْ مِنْ غَيْرِهِمْ وَأَخَذُوْا بَعْضَ مَا كَانَ فِيْ أَيْدِيْهِمْ،
5. وَمَا لَمْ يَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللهِ إِلاَّ أَلْقَى اللهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ
Artinya :
Dari ‘Atho Bin Abi Robah dari ‘Abdullooh bin ‘Umar رضي الله عنهما, telah bersabda Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم: “Wahai segenap muhajirin ada lima perkara jika kalian ditimpa olehnya dan terjadi ditengah-tengah kalian – Aku berlindung pada Allooh سبحانه وتعالى agar kalian tidak mengalaminya“ :
1. Tidaklah kekejian (zina) itu nampak pada suatu kaum sehingga mereka melakukannya, kecuali akan muncul ditengah-tengah mereka tho’un (penyakit menular) dan kelaparanyang belum pernah sedahsyat itu terjadi pada kaum-kaum sebelum mereka.
2. Tidaklah mereka mengurangi takaran dan timbangan, kecuali mereka akan ditimpa dengan kemarau panjang, beban hidup yang berat dan penguasa yang dzolim.
3. Tidaklah mereka enggan menunaikan zakat, kecuali mereka akan dihalangi dari hujan atas mereka; dan jikalau bukan karena Allooh سبحانه وتعالى sayang pada binatang maka Allooh سبحانه وتعالى tidak akan turunkan hujan bagi mereka.
4. Tidaklah mereka membatalkan ikatan perjanjian mereka dengan Allooh سبحانه وتعالىdan Rosuul-Nya, kecuali musuh-musuh dari luar diri mereka akan menguasai mereka dan akan mengambil sebagian apa yang mereka miliki.
5. Dan tidaklah para pemimpin mereka berhukum dengan kitab Allooh سبحانه وتعالى, kecuali mereka campakkan di tengah-tengah mereka kecekcokan.”
(HR. Imam Hakim dalam “Al-Mustadrok”, Kitab “Al-Fitan wal Malaahim” No 8667 dan kata beliau sanadnya shohiih dan Imam Adz-Dzahaby menyepakati-nya, juga Imam Ibnu Majah dalam kitab yang sama no. 4019. Dan Syaikh Al-Albaany meng-Hasan-kan sanadnya sebagaimana dalam Silsilah Hadits Shohihnya 1/167-169 No.106).
Dari lima perkara tersebut, manakah yang sekarang ini tidak ada ?
Lalu kalau dikaitkan dengan becana alam yang banyak terjadi di zaman sekarang, maka sebagaimana sabda Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, yang telah diriwayatkan oleh Al Imaam Al Turmudzy di dalam Sunannya, kitab “Al Fitan” Jilid 4/495 melalui salah seorang shohaby bernama ‘Imron bin Hushoin رضي الله عنه. Lalu Ibnu Abid Dunya, dalam kitabnya “Dzammul Malaa’hi” (“Tercelanya berbagai alat lahwun/ alat-alat yang melalaikan”) melalui salah seorang shohaby, Anas bin Maalik رضي الله عنه, dan haditsnya dishohiihkan oleh Syaikh Nasiruddin Al Albaany dalam Silsilah Hadits Shoohih No: 2203; bahwa Rosuul Muhammad صلى الله عليه وسلم bersabda:
« في هذه الأمة خسف ومسخ وقذف ” فقال رجل من المسلمين : يا رسول الله ، ومتى ذلك ؟ قال : ” إذا ظهرت المعازف وكثرت القيان وشربت الخمور »
Artinya:
“Di tengah-tengah ummat ini akan terjadi tanah longsor, tsunami dan lemparan dari atas langit.”
Salah seorang shohabat lalu bertanya, “Wahai Rosuul, kapankah itu?”
Rosuul صلى الله عليه وسلم menjawab, “Jika telah nampak musik, semakin banyak penyanyi wanita dan khomr (minuman keras) telah diminum.”
Dan perkara-perkara tersebut sekarang sudah muncul. Maka kalau diatas dikatakan bahwa kaum Muslimin sudah rusak dengan munculnya berbagai gejala tersebut, maka hal itu menunjukkan bahwa kita hidup pada masa yang sudah memasuki akhir zaman.
Oleh karenanya, hendaknya kita waspada dan selalu ingat dengan Hadits Riwayat Imaam Muslim no: 389 berikut ini, dari Shohabat Abu Hurairoh رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلمbersabda :
بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ
Artinya:
“Islam ini bermula dengan aneh dan akan berakhir dengan aneh. Maka berbahagia-lah orang-orang yang dianggap aneh itu”.
Dan bila dicermati, Islam di zaman sekarang ini sudah masuk pada masa Islam itu dianggap aneh, bahkan oleh kaum Musliminnya sendiri. Karena, apabila disampaikan ajaran Hadits Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم yang sebenarnya, atau ayat-ayat Al Qur’an yang sebenarnya, maka tidak sedikit diantara mereka yang mengaku Muslim itu yang tidak mau menerima ayat-ayat Allooh سبحانه وتعالى dan Hadits-Hadits Shohiih dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, menolak ataupun bahkan mengolok-oloknya.
Ada yang mengaku Muslim tetapi ia mengatakan bahwa di dalam Al Qur’an itu juga ada perkara yang porno, lalu ada yang mengakunya Muslim tetapi mengatakan bahwa Al Qur’an itu tidak relevan untuk zaman sekarang sehingga mesti diubah-ubah atau disesuaikan dengan perkembangan zaman, lalu ada lagi yang mengaku Muslim tetapi mengatakan bahwa Islam itu tidak lengkap, masih kurang dan lain sebagainya.
Disisi lain, ada pula yang mengaku Muslim tetapi mencibirkan orang yang justru berusaha mengamalkan ayat-ayat Allooh سبحانه وتعالى dan Hadits-Hadits Shohiih dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم secara kaaffah seperti mencela orang-orang yang berjilbab ataupun bercadar dengan celaan “Ninja”, atau mengolok-olok orang yang mengamalkan sunnah dalam berpakaian dengan tidak memanjangkan celana dibawah mata kaki (tidak isbal) itu dengan celaan “Celananya orang takut kebanjiran”, dan sebagainya. Hal ini menunjukkan bahwa Al Qur’an dan As Sunnah sudah mulai dianggap aneh oleh kaumnya sendiri.
Cara agar kita tidak melakukan dan tidak bersama orang-orang yang demikian itu adalah dengan selalu menyadari bahwa pedoman kita itu adalah Al Qur’an dan Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dalam segala perkara. Kalau suatu perkara itu ada dalam Al Qur’an dan As Sunnah dan pemahamannya adalah sesuai pemahaman para Shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم (Salafus Shoolih), maka kita tidak boleh menentangnya, tidak boleh memilih-milih ayat (yang sesuai selera diri kita maka diterima, sementara yang tidak sesuai dengan selera diri kita maka bersikap enggan ataupun menolaknya). Yang demikian ini adalah salah. Islam itu adalah berdasar Wahyu dari Allooh سبحانه وتعالى. Bila sudah mengaku Muslim, maka harus tunduk pada aturan Syari’at Allooh سبحانه وتعالى dan tuntunan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
5) Lahirnya Majikan dari Budak
Di zaman sekarang tidak ada perbudakan, maka tidak ada budak. Tetapi yang ada di zaman sekarang ini adalah Pembantu Rumah Tangga (PRT). Apabila ada majikan yang melahirkan anaknya melalui pembantu rumah tangganya sendiri, maka itu pun bagian dari tanda dekatnya hari Kiamat.
Seperti yang kita mestinya hafal dalam Hadits Jibril yang diriwayatkan oleh Imaam Muslim no: 102, yaitu ketika Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم ditanya oleh Jibril:
قَالَ فَأَخْبِرْنِى عَنِ السَّاعَةِ. قَالَ « مَا الْمَسْئُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ ». قَالَ فَأَخْبِرْنِى عَنْ أَمَارَتِهَا. قَالَ « أَنْ تَلِدَ الأَمَةُ رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُونَ فِى الْبُنْيَانِ
Artinya:
Jibril berkata, “Beritakanlah kepadaku tentang kapankah hari Kiamat?”.
Beliau صلى الله عليه وسلم menjawab: “Orang yang ditanya tidak lebih tahu daripada yang bertanya”.
Lalu Jibril berkata: “Beritakanlah kepadaku tentang Tanda-Tandanya.”
Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم menjawab, “Akan terjadi ketika majikan lahir dari budaknya; dan orang yang tidak beralas kaki, orang yang tidak berbusana, dahulunya adalah penggembala domba, maka mereka sekarang bermegah-megahan dalam gedung-gedung mewah”.
Demikian itu oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم disebutkan sebagai tanda hari Kiamat. Yang demikian itu sudah terjadi, sedang terjadi dan akan terus berlangsung.
Dikatakan pula oleh Imaam Ibnu Rojab Al Hanbali رحمه الله dalam Kitab yang berjudulJaami’ul ‘Uluum wal Al Hikam, dimana beliau رحمه الله mengomentari Hadits tersebut sebagai berikut: “Kandungan dari apa yang tersebut dalam Hadits ini berkenaan dengan tanda-tanda hari Kiamat kembali kepada bahwa perkara-perkara digantungkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggu saja kehancurannya, yakni hari Kiamat. Selanjutnya, orang yang tadinya tidak beralas kaki, yang tadinya telanjang, yang tadinya adalah penggembala domba; mereka itu adalah ahlul jahli (orang bodoh), mereka orang polos, tetapi mereka sekarang menjadi pemimpin dan menjadi pemilik dari berbagai kekayaan (harta), sehingga mereka pun bermegah-megah di gedung-gedung tinggi. Sesungguhnya yang demikian itu akan merusak aturan dien dan aturan Dunia.”
Imaam Ibnu Rojab Al Hanbali رحمه الله, ‘Ulama Ahlus Sunnah yang hidup pada puluhan abad yang lalu itu menafsirkan seperti tersebut diatas, maksudnya adalah bahwa: “Mereka yang tadinya bodoh, kampungan, sekarang berubah nasibnya menjadi pemimpin-pemimpin bahkan mereka itu bermegah-megahan. Yang demikian itu akan mengakibatkan rusaknya aturan dunia dan aturan Akhirat. Karena pada dasarnya mereka itu adalah al jahlu (bodoh) dalam masalah dien.”
Padahal zaman Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dan masa-masa Khaliifah sesudahnya bahwa yang menjadi Pemimpin Islam itu adalah ‘Ulama. Misalnya: Abubakar As Siddiq رضي الله عنه, beliau adalah seorang yang ‘Aalim (ber-‘ilmu). Demikian pula ‘Umar bin Khoththoob رضي الله عنه, ‘Utsman bin ‘Affan رضي الله عنه serta Ali bin Abi Tholib رضي الله عنه sampai pada ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziiz رضي الله عنه; semuanya adalah orang-orang ‘Aalim (ber-‘ilmu dien). Maka dalam kepemimpinannya beliau-beliau itu lah yang disebut sebagai Khulaafaa’ur Roosyiduun Al Mahdiyyuun, karena mendapatkan petunjuk dengan ‘ilmu dien yang mereka kuasai.
6) Umat manusia akan mengeroyok (mengerumuni) umat Islam
Misalnya dalam suatu Hadits Riwayat Imaam Ahmad dalam Musnadnya no: 22450 dan berkata Syaikh Syu’aiib Al Arnaa’uth رحمه الله bahwa Sanad Hadits ini Hasan, dijelaskan sebagai berikut:
عن ثوبان مولى رسول الله صلى الله عليه و سلم قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : يوشك ان تداعى عليكم الأمم من كل أفق كما تداعى الآكلة على قصعتها قال قلنا يا رسول الله أمن قلة بنا يومئذ قال أنتم يومئذ كثير ولكن تكونون غثاء كغثاء السيل
Artinya:
Dari Tsauban Maula Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم berkata, “Telah bersabda Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, ‘Hampir ummat menerkam kalian dari berbagai penjuru, sebagaimana orang lapar mengeroyok nampan mereka.’
Kami para Shohabat bertanya, ‘Ya Rosuulullooh, karena minoritasnya kami saat itu?’
Beliau صلى الله عليه وسلم menjawab, ‘Justru kalian saat itu adalah berjumlah banyak, akan tetapi kalian bagaikan buih di air bah banjir.’…”
Lalu Hadits Riwayat Imaam Abu Daawud no: 4299, dari Shohabat Tsaubaan رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
يُوشِكُ الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا » فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ « بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزِعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِى قُلُوبِكُمُ الْوَهَنَ » فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهَنُ قَالَ « حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ
Artinya:
“Ummat-ummat ini (bangsa-bangsa – pent.) hampir menerkam kalian sebagaimana orang-orang lapar menerkam nampan makanan mereka.”
Seseorang bertanya, “Karena sedikitkah jumlah kita pada hari itu?”
Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم menjawab, “Bahkan pada hari itu, kalian berjumlah banyak, akan tetapi kalian bagaikan buih di air bah; sungguh Allooh akan cabut dari dada-dada musuh kalian rasa segan (wibawa) terhadap kalian, dan sungguh Allooh akan campakkan pada hati-hati kalian Al Wahnu.”
Seseorang bertanya, “Ya Rosuulullooh, apakah Al Wahnu itu?’
Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.”
Maka bila kita lihat di zaman sekarang dalam berbagai kejadian dunia misalnya kaum muslimin diAfghanistan, Chehnya, Sudan, Iraq, dan negara-negara Afrika; mereka itu menjadi obyek perebutan maupun penindasan.
Dan itu semua belum akan berakhir, bahkan akan terus berlangsug, karena yang demikian itu merupakan bagian dari tanda-tanda hari Kiamat.
7) Melimpah ruahnya harta sehingga orang tidak butuh terhadap shodaqoh
Tanda Kiamat yang berikutnya adalah sebagaimana dijelaskan dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Imaam Ibnu Hibban no: 6680 dan menurut Syaikh Syuaib Al Arnaa’uth Hadits ini adalahShohiih, dari Shohabat Abu Hurairoh رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, bersabda:
لا تقوم الساعة حتى تكثر فيكم الأموال وتفيض حتى يهم رب المال من يقبل منه صدقته وحتى يعرضه ويقول الذي يعرض عليه : لا أرب لي فيه
Artinya:
“Tidak akan terjadi hari Kiamat, sehingga harta semakin melimpah dan banjir diantara kalian. Sehingga orang kaya bingung siapa yang akan menerima shodaqohnya, dan menawarkannya maka ketika dipanggil orang untuk diberi shodaqoh maka mereka pun menjawab: ‘Aku tidak butuh dengan pemberianmu.”
Shohabat ‘Abdullooh bin Mas’uud رضي الله عنه berkata sebagai berikut:
كيف أنتم إذا لبستكم فتنة يهرم فيها الكبير و يربو فيها الصغير و يتخذها الناس سنة فإذا غيرت قالوا غيرت السنة قيل : متى ذلك يا أبا عبد الرحمن ؟ قال : إذا كثرت قراؤكم و قلت فقهاؤكم و كثرت أموالكم و قلت أمناؤكم و التمست الدنيا بعمل الآخرة
Artinya:
“Bagaimana kalian jika di suatu zaman fitnah menyelimuti kalian sehingga membuat pikun orang dewasa, membuat besar sebelum waktunya bagi anak kecil, dan manusia menjadikan fitnah itu sebagai sunnah sehingga jika sunnah tadi dirubah, mereka mengatakan: “Sunnah kita telah dirubah.”
Lalu beliau رضي الله عنه ditanya, “Kapan hal itu terjadi, wahai Abu ‘Abdirrohman?”
Beliau رضي الله عنه menjawab, “Jika:
1. Semakin banyak para Qurroo’ (para Pembaca Al Qur’an)
2. Semakin sedikit para Fuqoha (orang-orang yang faqih / mendalam dalam perkara dienul Islam)
3. Semakin melimpah harta kalian
4. Semakin langka orang-orang terpercaya dari kalian
5. Dan akhirat dijual dengan dunia.”
(Atsar ini diriwayatkan Imaam Al Hakim dalam kitab Al Mustadrok no: 8570)
Dalam Hadits yang lain, diriwayatkan oleh Imaam Al Bukhoory no: 3346 dan Imaam Muslim no: 7418, dari Zainab binti Jahsyin رضي الله عنها (istri Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم) bahwa:
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَيْهَا فَزِعًا يَقُولُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَيْلٌ لِلْعَرَبِ مِنْ شَرٍّ قَدْ اقْتَرَبَ فُتِحَ الْيَوْمَ مِنْ رَدْمِ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مِثْلُ هَذِهِ وَحَلَّقَ بِإِصْبَعِهِ الْإِبْهَامِ وَالَّتِي تَلِيهَا قَالَتْ زَيْنَبُ بِنْتُ جَحْشٍ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنَهْلِكُ وَفِينَا الصَّالِحُونَ قَالَ نَعَمْ إِذَا كَثُرَ الْخَبَثُ
Artinya:
Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم masuk ke rumahnya dalam keadaan takut, kemudian berkata: “Laa Illaaha Ilallooh, celaka bagi orang Arab dari kejahatan yang semakin mendekat; telah dibuka hari ini celah Ya’juj dan Ma’juj seperti ini (sembari melingkarkan ibu jari dan jari tengahnya).”
Zainab رضي الله عنها kemudian bertanya,“Apakah kita akan juga dibinasakan oleh Allooh سبحانه وتعالى, padahal di tengah-tengah kita masih banyak orang shoolih?”.
Beliau صلى الله عليه وسلم menjawab: “Benar, (termasuk orang-orang shooleh pun akan dibinasakan), jika sudah banyak Al Khobats (ahli ma’shiyat), Al Fujur (pezina) dan Al Fusuq (berbagai penyimpangan terhadap Syari’at Allooh سبحانه وتعالى – pent.)”.
Demikianlah, Hadits-Hadits yang banyak sekali jumlahnya, yang menunjukkan kepada kita tentang parahnya berbagai kerusakan yang terjadi itu, sebagai pertanda bahwa hari Kiamat sudah semakin dekat. Maka sudah saatnya kita, kaum Muslimin, berusaha semakin mendekatkan diri kepada Allooh سبحانه وتعالى dengan ‘Ilmu dien yang benar, agar kita tidak termasuk tenggelam bersama orang-orang yang dibinasakan.
Bagaimana Kiatnya?
Tentu kiatnya adalah dengan melaksanakan Amar Ma’ruf Nahi Munkar. Jangan sampai kemungkaran dibiarkan saja merajalela, sehingga kita pun semuanya ditenggelamkan oleh Allooh سبحانه وتعالى.
Masih ada tanda-tanda Kiamat lainnya, yakni banyaknya Fitnah, terbaliknya ukuran (dimana yang salah dikatakan benar dan yang benar dikatakan salah, atau yang Sunnah dikatakan Bid’ah, dan yang Bid’ah malah dianggap Sunnah), dan lain-lain yang insya Allooh akan dibahas pada pertemuan yang akan datang.

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

TANDA KIAMAT 1

tanda-hari-kiamat-1

TANDA-TANDA HARI KIAMAT (BAGIAN-1)
Oleh: Ust. Achmad Rofi’i, Lc.

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allooh سبحانه وتعالى,
Pada kajian kali ini akan disampaikan tentang Tanda-Tanda Hari Qiamat, yang dalam bahasa Arab disebut : Syarth (شرط), ‘Alamah (علامة) (Tanda).
Kiamat itu ada dua macam : Qiyamah Sughro (Kiamat Kecil) dan Qiyamah Kubro(Kiamat Besar).
Qiyamah Sughro (Kiamat kecil) atau disebut dengan: Mati (kematian), sudah dibahas pada kajian-kajian kita terdahulu. Dan sekarang kita insya Allooh akan membahas tentang QiyamahKubro (Kiamat Besar), yang biasa kita sebut Kiamat.
Kiamat dalam bahasa Arab biasa disebut Asyroth (أشراط), jamak dari kata Syarthun (شرط).
Dalam Al Qur’an dinyatakan, yang diantaranya terdapat dalam QS. Muhammad (47) ayat 18 :
فَهَلْ يَنظُرُونَ إِلَّا السَّاعَةَ أَن تَأْتِيَهُم بَغْتَةً فَقَدْ جَاء أَشْرَاطُهَا فَأَنَّى لَهُمْ إِذَا جَاءتْهُمْ ذِكْرَاهُمْ
Artinya:
“Maka tidaklah yang mereka tunggu-tunggu melainkan hari kiamat (yaitu)kedatangannya kepada mereka dengan tiba-tiba, karena sesungguhnya telah datang tanda-tandanya. Maka apakah faedahnya bagi mereka kesadaran mereka itu, apabila Kiamat sudah datang?”
Tanda-Tanda Qiyamah Kubro :
1. Telah terjadi dan tidak berulang
2. Telah terjadi dan masih berlangsung, bahkan berulang.
Tanda-tanda Qiyamah Qubro yang telah terjadi dan masih berlangsung, bahkan berulang itu banyak jumlahnya, tidak kurang dari 12 tanda-tanda. Sebagian akan kita bahas dan sebagian akan kita lalui saja, karena bahasan kita ini sifatnya untuk mengkaji, bukan sekedar untuk wawasan belaka.
Tanda-tanda Kiamat sejak zaman dahulu para Imaam sudah menulis dalam satu Kitab Khusus, seperti misalnya: Imaam Ibnu Katsir رحمه الله, menulis Kitab Al fitan wal Malaahim Wa Asyrothissaa’ah. Kitabnya tebal, dengan huruf-huruf yang kecil. Kalau tidak salah sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Tanda Qiyamat yang telah terjadi (menurut para ‘Ulama Ahlus Sunnah) itu ada 4 (empat) :
Sebagaimana yang ditulis oleh Syeikh Dr. ‘Umar Sulaiman Al Asyqor حفظه الله dalam Kitabnya yang berjudul Al Yaumul Akhir pada Jilid Satu (– tidak semua akan disampaikan di sini, hanya beberapa saja –), semuanya berkenaan dengan masalah Hari Kiamat.
Pada intinya merupakan berita dan khobar. Kalau ada yang merupakan ungkapan dari para ‘Ulama Ahlus Sunnah, maka itu berupa penjelasan. Sedangkan khobar itu bila datangnya dari Allooh سبحانه وتعالى dan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, maka tidak lain sikap kita adalah membenarkan, meyakini dan terhunjam dalam hati paling dalam dan kita tidak boleh sama sekali meragukannya. Karena itu adalah Wahyu. Apapun yang terjadi, kita hanya meyakini, tidak untuk mendiskusikannya. Tidak boleh ragu, karena sesungguhnya perkara ini sudah shohiih dan pasti.
1. Kebangkitan dan wafatnya Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
Itu sudah merupakan tanda Hari Kiamat. Hal itu bukan saja disebutkan dalam Al Qur’an, tetapi jauh sebelum Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم lahir, yaitu oleh Kitab-kitab Samawi sebelum Al Qur’an, baik itu dalam Taurot maupun Injil, sudah diberitakan bahwa akan muncul Nabi Akhir zaman. Dan orang-orang Yahudi dan Nashrani telah mengetahui identitas Nabi Akhir zaman itu (Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم) dan dimana Nabi itu akan muncul. Hanya saja mereka dengki, karena Nabi yang dimaksud tidak dari kalangan Bani Isroo’il.
Sebagaimana disebutkan oleh Imaam Ibnul ‘Atsiir رحمه الله dalam Kitab Jaami’ul ‘Ushuul, dalam Hadits shohiih Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 4936, dari Shohabat Sahl bin Saa’ad رضي الله عنه, beliau berkata bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم menunjukkan dua jarinya (jari tengah dan telunjuk) lalu merapatkan jari-jarinya tersebut dan bersabda :
بُعِثْتُ وَالسَّاعَةُ كَهَاتَيْنِ
Artinya:
“Bu’itstu wa assaa’ah kahaatain.”
(Aku dibangkitkan dengan Hari Kiamat itu seperti ini).
Maksudnya, antara Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم diutus dengan terjadinya Hari Kiamat itu adalah sangat dekat. Karena kita tahu bahwa beliau صلى الله عليه وسلم adalah Nabi Akhir zaman. Dalam Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 6504 dan Imaam Muslim no: 7593, dari Shohabat Anas bin Maalik رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةَ كَهَاتَيْنِ
Dalam Hadits riwayat Imaam Al Bukhoory, Imaam Muslim dan Imaam At Turmudzy dalam Sunannya dari Shohabat Anas bin Maalik رضي الله عنه, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:“Bu’itstu ana wassaa’ah kahaatain”.
Sama dengan Hadits tersebut diatas, yakni sangat dekat antara Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dengan Hari Kiamat.
Dekatnya itu seperti apa, maka tidak ada yang tahu. Buktinya sampai sekarang, 1428 tahun terhitung dari zamannya Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم belum juga terjadi Hari Kiamat. Bahkan tanda Kiamat Sughro saja ada yang belum terjadi. Tanda-tanda Kiamat Kubro, yang sepuluh macam juga belum terjadi. Berarti kalimat dekatnya antara jari telunjuk dan jari tengah itu, tentu tidak berarti dekat menurut pandangan manusia biasa, tetapi menurut ketentuan Allooh سبحانه وتعالى.
Semua itu adalah Nash, Wahyu, sehingga akal manusia tidaklah bisa memahami. Kita hanya mendengar, meyakini dan membenarkan saja, tetapi tidak boleh ada keragu-raguan sedikitpun. Dan tidak boleh ada protes, karena itu adalah Wahyu dari Allooh سبحانه وتعالى. Selama ia benar danshohiih, maka kewajiban kita adalah membenarkan dan meyakininya.
Dalam suatu Hadits diriwayatkan oleh Imaam Abu Nu’aim رحمه الله dalam Kitab Hilyaatul Auliyaa’, dishohiihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany رحمه الله no: 5143, dari Shohabat Abu Jubairoh رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda :
بعثت في نسم الساعة
Artinya:
“Bu’itstu fii nasami assaa’ah”.
(Aku diutus pada angin awal dari kejadian hari Kiamat)
Ada lafadz lainnya yakni: “Bu’itstu fii nasami assaa’ah”. Artinya menurut para ‘Ulama Ahlus Sunnah seperti dikatakan oleh Imaam Ibnul Atsir رحمه الله bahwa: “Awal bertiupnya angin yang lemah, kalau saja menuju hari Kiamat itu ada beberapa tanda, maka Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم adalah tanda yang pertama kali.”
Dalam riwayat yang lain bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم memberikan aba-aba kepada kita melalui Hadits riwayat Imaam Al Bukhoory no: 3176, yaitu dari Shohabat Auf bin Maalik رضي الله عنه, beliau berkata:
أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي غَزْوَةِ تَبُوكَ وَهُوَ فِي قُبَّةٍ مِنْ أَدَمٍ فَقَالَ اعْدُدْ سِتًّا بَيْنَ يَدَيْ السَّاعَةِ مَوْتِي ثُمَّ فَتْحُ بَيْتِ الْمَقْدِسِ ثُمَّ مُوْتَانٌ يَأْخُذُ فِيكُمْ كَقُعَاصِ الْغَنَمِ ثُمَّ اسْتِفَاضَةُ الْمَالِ حَتَّى يُعْطَى الرَّجُلُ مِائَةَ دِينَارٍ فَيَظَلُّ سَاخِطًا ثُمَّ فِتْنَةٌ لَا يَبْقَى بَيْتٌ مِنْ الْعَرَبِ إِلَّا دَخَلَتْهُ ثُمَّ هُدْنَةٌ تَكُونُ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَ بَنِي الْأَصْفَرِ فَيَغْدِرُونَ فَيَأْتُونَكُمْ تَحْتَ ثَمَانِينَ غَايَةً تَحْتَ كُلِّ غَايَةٍ اثْنَا عَشَرَ أَلْفًا
Artinya:
“Aku mendatangi Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم pada waktu perang Tabuk. Beliau صلى الله عليه وسلم ada dalam kubah, dan bersabda: “Ada enam perkara menjelang terjadinya Hari Kiamat, yaitu:
1. Kematianku,
2. Dimenangkannya Baitul Maqdis,
3. Binasanya harta seperti halnya penyakit yang menimpa kambing,
4. Membanjirnya harta sehingga seseorang diberi 100 dinar masih marah,
5. Fitnah yang memasuki setiap rumah orang Arab,
6. Perdamaian (gencatan senjata) diantara kalian dan orang-orang Romawi, kemudian mereka mengkhianatinya, lalu mendatangi kalian dengan 80 bendera dan setiap bendera ada 12.000 orang.”
Jadi pada intinya bahwa Kiamat itu ditandai dengan meninggalnya Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
2. Terbelahnya bulan menjadi dua.
Dan itu hanya terjadi pada zaman Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Dalilnya adalah tercatat dalam Al Qur’an surat Al Qomar (54) ayat 1 dan 2 :
Ayat 1 :
اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانشَقَّ الْقَمَرُ
Artinya:
“Telah dekat datangnya saat itu dan telah terbelah bulan.”
Ayat 2 :
وَإِن يَرَوْا آيَةً يُعْرِضُوا وَيَقُولُوا سِحْرٌ مُّسْتَمِرٌّ
Artinya:
“Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat suatu tanda (mu’jizat), mereka berpaling dan berkata: ‘(Ini adalah) sihir yang terus menerus’.”
Orang-orang mu’min (yang beriman) meyakini bahwa terbelahnya bulan itu adalah mu’jizat. Bagian dari bukti bahwa Allooh سبحانه وتعالى benar-benar telah menjadikan Muhammad sebagai Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Tetapi orang-orang musyrikin meragukan dan bahkan mengingkarinya dan menuduh bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم adalah tukang sihir, dan itu hanyalah bagian dari dampak sihir yang dilakukan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
Maka pada hari ini kalau ada orang-orang yang tidak mempercayai Mu’jizat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, dia sebenarnya bagian dari komunitas orang-orang musyrikin.
Dalam kitabnya, Imaam An Nawawy رحمه الله berkata dengan menukil perkataan dari Imaam Az Zajjaj رحمه الله bahwa: “Terbelahnya bulan itu adalah merupakan mu’jizat di antara mu’jizat-mu’jizat yang paling inti, karena hal itu telah diriwayatkan oleh banyak para Shohabat dengan disertai ayat Allooh سبحانه وتعالى yang mulia dan sangat jelas seperti dua ayat tersebut di atas.
Imaam An Nawawy رحمه الله menukil lagi dari perkataan Imaam Az Zajjaj رحمه الله, bahwa “Hal tersebut telah diingkari oleh sebagian Ahlul Bid’ah yang mana mereka itu adalah termasuk orang-orang yang menyelisihi ajaran.”
Yang demikian itu, karena tidak ada yang mengingkari terhadapnya bagi orang-orang yang berakal. Karena bulan itu adalah ciptaan Allooh سبحانه وتعالى. Dan Allooh سبحانه وتعالى menyuruh dan berbuat terhadap bulan itu apa saja yang Allooh سبحانه وتعالى kehendaki. Sebagaimana Allooh سبحانه وتعالى menyuruh agar bulan itu beredar, berputar, maka semuanya adalah bagian dari perintah Allooh سبحانه وتعالى. Sehingga apabila bulan itu disuruh terbelah, maka akan terbelahlah. Adapun Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم hanya sebagai Wasiilah (media) terhadap terbelahnya bulan tersebut.
Dalam suatu Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 4864 dan Imaam Muslim no: 7249, dari Shohabat ‘Abdullooh bin Mas’uud رضي الله عنه, beliau membuat suatu pernyataan agar kita bersaksi untuk membenarkan atas kejadian tersebut. Beliau رضي الله عنه berkata:
انْشَقَّ الْقَمَرُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِرْقَتَيْنِ فِرْقَةً فَوْقَ الْجَبَلِ وَفِرْقَةً دُونَهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اشْهَدُوا
Artinya:
“Telah terjadi pada masa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, bulan terbelah menjadi dua, sebelah diatas gunung dan sebelahnya lagi dibawah gunung. Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda: “Saksikan oleh kalian, bulan terbelah menjadi dua.”
Dalam riwayat yang lain yakni Hadits Imaam Al Bukhoory no: 4865 dan Imaam Muslim no: 7253, dari Shohabat ‘Abdullooh bin Mas’uud رضي الله عنه, bahwa:
انْشَقَّ الْقَمَرُ وَنَحْنُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَصَارَ فِرْقَتَيْنِ فَقَالَ لَنَا اشْهَدُوا اشْهَدُوا
Artinya:
“Ketika kami bersama Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم di Mina, tiba-tiba bulan itu terbelah menjadi dua. Lalu Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda: “Saksikan oleh kalian, saksikan oleh kalian”.
Itu terjadi di zaman Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
Dalam Hadits riwayat Imaam Muslim no: 7254, dari Anas bin Maalik رضي الله عنه, beliau mengatakan bahwa warga Mekkah berkata dan meminta kepada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم agar beliau memberikan bukti kenabiannya. Lalu beliau صلى الله عليه وسلم memberikan bukti dengan terbelahnya bulan dan itu terjadi dua kali :
عَنْ أَنَسٍ أَنَّ أَهْلَ مَكَّةَ سَأَلُوا رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ يُرِيَهُمْ آيَةً فَأَرَاهُمُ انْشِقَاقَ الْقَمَرِ مَرَّتَيْنِ
3. Api yang terbit dari negeri Hijaz (Mekkah dan Madinah).
Yang dimaksud dalam riwayat berikut, tepatnya adalah Madinah, kemudian sinarnya menyinari sampai ke negeri Basyrah (Iraq). Bukan saja menyinari, tetapi bahkan punggung unta pun menjadi terang benderang karena api yang ada di negeri Madinah tersebut. Padahal jarak antara Madinah dan Basryah itu adalah ribuan kilometer.
Diriwayatkan oleh Imaam Al Bukhoory no: 7118 dan Imaam Muslim no: 7473, dari Shohabat Abu Hurairoh رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَخْرُجَ نَارٌ مِنْ أَرْضِ الْحِجَازِ تُضِيءُ أَعْنَاقَ الْإِبِلِ بِبُصْرَى
Artinya:
“Tidak akan terjadi Hari Kiamat sampai terbitnya api dari bumi Hijaz (Madinah) lalu menyinari pundak-pundak unta di negeri Basyrah (Iraq).”
Terbukti dalam sejarah, menurut para ‘Ulama sejarah seperti dikatakan oleh Imaam Ibnu Katsiir رحمه الله, hal itu terjadi pada tahun 654 Hijryah, berarti 644 tahun dari wafatnya Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Dikatakan pula oleh Imaam Ibnu Katsiir رحمه الله bahwa di dalam tahun tersebut muncul api dari bumi Hijaz, yang menerangi pundak-pundak unta di Basyrah. Persis seperti yang dikatakan oleh Hadits tersebut di atas.
Yang demikian telah dijabarkan oleh Imaam Abu Syaamah Al Magdisi رحمه الله dalam KitabAdz Dzail. Imaam Ibnu Katsir رحمه الله menukil dari kitabnya Imaam Abu Syamah رحمه الله. Beliau, Imaam Abu Syamah رحمه الله, yakni ‘Ulama dari kalangan Ahlussunnah wal Jamaa’ah) menceritakan: “Banyak Kitab yang menceritakan tentang keluarnya api dari Madinah dan itu terjadi pada tanggal 5 Jumadal Akhir tahun 654 Hijriyah.”
Diceritakan pula dalam riwayat yang lain bahwa api itu muncul pada tanggal 5 Rajab dan ada yang mengatakan pada tanggal 10 Sya’ban.
Dalam suatu surat Abu Syamah رحمه الله mengatakan: “Bismillahirrohmaanirrohiim, telah datang di kota Damaskus pada awal bulan Sya’ban tahun 654 Hijriyah Kitab (tulisan) berasal dari kota Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم; didalamnya menjelaskan tentang perkara besar yang terjadi pada tahun itu, yang merupakan pembenaran mengenai apa yang terdapat dalam riwayat Hadits shohiih (Imaam Al Bukhoory dan Imaam Muslim), yaitu dari Abu Hurairoh رضي الله عنه dimana Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda: “Tidak akan terjadi hari Kiamat sehingga keluarnya api dari bumi Hijaz yang sampai menyinari pundak-pundak unta di Basyrah.”
Bahkan, seperti diceritakan oleh Abu Syamah رحمه الله selanjutnya, bahwa: “Pada malam Rabu tanggal 3 Jumaddil Akhir tahun 654 H telah terjadi di Madinah gempa yang besar sehingga meruntuhkan pagar, pohon, pintu-pintu dan seterusnya. Lalu sesaat demi sesaat hingga hari Jum’at tanggal 5 bulan tersebut, muncullah api yang sangat besar, di lingkungan Harroh, dengan kampung Bani Quroidzoh (Yahudi) ketika itu. Kita bisa melihatnya dari rumah-rumah kita dari kota Madinah, seolah-olah api itu ada pada kita. Api yang besar itu menyala dari tiga menara dan mengalir ke berbagai lembah berupa api, sampai-sampai menghalangi perjalanan Haji orang-orang Iraq yang akan berhaji ke Makkah. Sampai kami khawatir api itu akan tiba kepada kami, sampai kemudian kembali mengalir ke arah timur.”
Itulah penjelasan para ‘Ulama Ahlus Sunnah bahwa hal itu benar-benar terjadi dan penjelasannya sangat panjang dalam perkara tersebut. Bahkan sampai saat ini bekas-bekas banjir api itu masih terlihat.
4. Terhentinya Jizyah dan Khoroj.
Dalam bahasa Indonesia, Jizyah artinya Upeti. Kalau kaum muslimin berperang dengan orang kaafir lalu orang kaafir itu menyatakan dirinya tidak mau berperang, tetapi bersedia membayarJizyah, maka tidak boleh ada peperangan. Karena dalam Islam, yang menjadi tujuan itu adalah dakwah. Pilihannya adalah tiga, antara lain: Masuk Islam. Bahwa anda dan kita semua ini makhluk Allooh سبحانه وتعالى. Dan sebagai manusia di dunia ini, kita haruslah sesuai dengan aturan Allooh سبحانه وتعالى sebagai Pencipta. Allooh سبحانه وتعالى sebagai Pencipta memerintahkan manusia bahwa semua manusia itu harus muslim. Lalu ada manusia yang mengatakan: “Tidak mau”.
Maka kita katakan : La ikroha fiddin (Tidak ada paksaan dalam dien). Boleh saja, dan kalau kalian memilih kufur, memilih murka Allooh سبحانه وتعالى, silakan.
Perlu dijelaskan bahwa kata La ikroha fiddin ini tidak berlaku bagi yang sudah menjadi muslim. Perkataan tersebut lalu digunakan oleh sebagian orang secara salah. Misalnya ada seorang muslim yang tidak mau sholat, tidak mau beribadah kepada Allooh سبحانه وتعالى, malas, bahkan ia terjerembab dalam perbuatan ma’shiyat; lalu ia diingatkan agar sholat dan ibadah lainnya, tetapi orang tersebut malah menjawab: La ikroha fiddin (Tidak ada paksaan dalam dien). Maka yang demikian ini salah penerapannya. Kalau ia sudah mengaku Muslim, semestinya konsekwen dengan aturan Allooh سبحانه وتعالى. Jangan mengaku sebagai Muslim, tapi lalu berkata “La ikroha fiddin.”
Bukankah pernah disampaikan dalam kajian kita beberapa waktu yang lalu, bahwa ada Hadits yang meriwayatkan oleh Imaam Muslim no: 1514, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم akan memerintahkan seseorang untuk iqomat. Lalu seseorang diperintahkan untuk menjadi Imam sholat, sementara itu Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم pergi bersama sekelompok Shohabat, masing-masing mereka disuruh membawa kayu bakar, lalu menuju ke rumah-rumah dimana ada laki-laki yang tidak sholat berjamaa’ah di masjid, lalu akan dibakar rumahnya itu.
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ أَثْقَلَ صَلاَةٍ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلاَةُ الْعِشَاءِ وَصَلاَةُ الْفَجْرِ وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا وَلَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِالصَّلاَةِ فَتُقَامَ ثُمَّ آمُرَ رَجُلاً فَيُصَلِّىَ بِالنَّاسِ ثُمَّ أَنْطَلِقَ مَعِى بِرِجَالٍ مَعَهُمْ حُزَمٌ مِنْ حَطَبٍ إِلَى قَوْمٍ لاَ يَشْهَدُونَ الصَّلاَةَ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ بِالنَّارِ
Artinya:
Dari Shohabat Abu Hurairoh رضي الله عنه berkata bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda, “Sholat yang paling berat bagi orang munafiq adalah sholat Isya dan sholat Shubuh. Seandainya mereka tahu apa yang ada pada keduanya maka mereka akan mendatanginya walaupun dengan merangkak. Sungguh aku berkemauan untuk memerintahkan agar iqomah untuk sholat, kemudian aku perintahkan seseorang untuk menjadi imam bagi orang-orang, kemudian aku pergi bersama orang-orang lain, membawa kayu bakar menuju suatu kaum yang mereka tidak mengikuti sholat (berjamaa’ah), lalu aku bakar rumah-rumah mereka dengan api.”
Bukankah itu pemaksaan namanya? Itulah hukum Allooh سبحانه وتعالى, kalau seseorang sudah menjadi muslim maka ia otomatis terikat aturan Allooh سبحانه وتعالى dan aturan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
Contoh lain:
Abubakar as Siddiq رضي الله عنه memerangi sekelompok orang yang pada zaman Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم masih hidup mereka itu membayar zakat, tetapi ketika Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم sudah meninggal, maka lalu mereka menjadi enggan dan tidak mau membayar zakat lagi. Disiapkanlah sebuah pasukan oleh Abubakar as Siddiq رضي الله عنه untuk menuju ke tempat-tempat orang yang tidak mau membayar zakat tersebut, dan mereka itu pun diperangi.
Hal itu menunjukkan bahwa Syari’at Islam itu bagi orang Islam adalah menjadi keharusan untuk melaksanakannya. Maka tidak boleh karena ada kalimat La ikroha fiddinbagi seorang Muslim lalu ia dengan seenaknya saja tidak melaksanakan syari’at Islam.
Kembali kepada perkara Jizyah, pertama-tama orang-orang kaafir tersebut ditawarkan agar masuk Islam, tetapi apabila mereka tidak mau masuk Islam, dan memilih untuk tetap kaafir, maka silakan saja asalkan mereka membayar Jizyah. Jadi orang kaafir diharuskan membayar Jizyah(upeti) kepada Pemerintah Islam dan mereka diperbolehkan untuk menjalankan agamanya.
Khoroj adalah harta dari hasil bumi yang tanahnya merupakan bagian wilayah dari hasil kemenangan kaum muslimin, dan harta itu diserahkan kepada Baitul Mal.
Kalau Jizyah dan Khoroj sekarang sudah terhenti, sudah tidak ada lagi, maka itu tanda Hari Kiamat sudah dekat.
Itulah tanda-tanda Kiamat yang sudah berlalu, dan kalau saja nanti Allooh سبحانه وتعالى kembalikan kemuliaan kaum muslimin sehingga terbentuk suatu Daulah Islamiyah di dunia, dan itu akan terjadi satu kali lagi, rela atau tidak, siap atau tidak, suka atau benci; Allooh سبحانه وتعالى akan perlihatkan dan buktikan kembali, bahwa Islam akan berjaya dan menguasai seluruh muka bumi ini satu kali lagi.
Tanda Kiamat yang masih terjadi dan masih berlangsung atau berulang, ada 12 (duabelas) yaitu:
1. Peperangan dan kemenangan.
Dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Imaam Al Bukhoory no: 6630, dari Shohabat Abu Hurairoh رضي الله عنه, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
إِذَا هَلَكَ كِسْرَى فَلَا كِسْرَى بَعْدَهُ وَإِذَا هَلَكَ قَيْصَرُ فَلَا قَيْصَرَ بَعْدَهُ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَتُنْفَقَنَّ كُنُوزُهُمَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ
Artinya:
“Jika kekaisaran Romawi dan Nashrani telah musnah, maka tidak ada lagi kekaisaran, dan kalau itu terjadi maka tidak akan kekaisaran itu muncul kembali. Demi Yang Jiwa Muhammad di Tangan-Nya, akan diinfakkan Qunuz (Harta simpanan yang terpendam) di kekaisaran Romawi atau Nashrani itu dan digunakan untuk fii sabiilillaah.”
Dalam Hadits riwayat Imaam Muslim no: 7440, Dari Shohabat Tsauban رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
إِنَّ اللَّهَ زَوَى لِىَ الأَرْضَ فَرَأَيْتُ مَشَارِقَهَا وَمَغَارِبَهَا وَإِنَّ أُمَّتِى سَيَبْلُغُ مُلْكُهَا مَا زُوِىَ لِى مِنْهَا ….
Artinya:
“Sesungguhnya Allooh سبحانه وتعالى telah membentangkan kepadaku bumi, aku lihat bagian timurnya dan bagian baratnya. Umatku akan sampai ke pelosok dimana aku melihat dari bagian bumi itu.”
Hadits tersebut menunjukkan bahwa Islam akan sampai ke seluruh pelosok dunia. Berarti semua penjuru dunia akan menjadi penganut Islam. Itulah bagian dari Mu’jizat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
Kalau hadits itu kita ambil sebagai pelajaran bahwa Islam akan sampai ke seluruh pejuru dunia, Barat maupun Timur, menunjukkan bahwa Islam itu tidak bisa dibendung atau dicegah. Betapapun orang-orang yang membenci Islam itu berupaya untuk mencegah dan mematahkan perkembangan Islam dan kaum muslimin, dengan Kristenisasi, dsbnya. Tetap saja Islam akan sampai ke berbagai penjuru, karena Allooh سبحانه وتعالى telah berfirman dalam QS. At-Taubah (9)ayat 32:
يُرِيدُونَ أَن يُطْفِؤُواْ نُورَ اللّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللّهُ إِلاَّ أَن يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ
Artinya:
“Mereka berkehendak memadamkan cahaya (dien) Allooh dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allooh tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kaafir tidak menyukai.”
Berarti sudah merupakan Sunnatullooh yang harus kita yakini bahwa Islam itu akan sampai ke berbagai penjuru dunia dan Islam akan mewarnai dunia. Dan setelah mereka (orang-orang kafir) mendengar berita seperti itu, mereka menjadi ketakutan. Sehingga mereka pun memasang skenario agar bagaimana caranya supaya perkembangan Islam itu menjadi tersendat, kemudian tidak diikuti oleh banyak orang.
Bagian yang disampaikan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم sebagai tanda Kiamat yang disampaikan kepada kita ini sudah terjadi, sedikit demi sedikit. Dan sekarang masih berlangsung. Pernah terjadi, sedang terjadi dan sampai sekarang belum berhenti misalnya: Adanya perangIraq – Iran, Perang Teluk, peperangan di Baghdad yang sampai sekarang masih berkecamuk, juga di Chechnya. Semuanya itu peperangan, yang ternyata sudah disampaikan dan digambarkan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Artinya hari Kiamat sudah dekat.
Dekatnya seberapa, walloohu a’lam. Yang penting bagi kita adalah bersiap-siap untuk hari esok. Sebagaimana difirmankan oleh Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. Al Hasyr (59) ayat 18:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allooh dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allooh, sesungguhnya Allooh Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
Maka setiap diri kita hendaknya mempersiapkan hal itu, tidak usah menghitung-hitung bahwa Kiamat itu masih jauh, termasuk mempersiapkan diri untuk mati atau yang disebut sebagaiKiamat Sughro, yang selalu mengancam sewaktu-waktu.
2. Keluarnya para Dajjal.
Dajjal berasal dari kata Dajlun, persamaan kata dengan Kadzibun (dusta). Karena berdustanya itu tidak tanggung-tanggung, sampai ia mengaku sebagai Nabi dan Rosuul, maka disebut dengan mubalaghoh dan namanya Dajjal atau Kadzab. Atau disebut dengan Nabi Palsu karena ia berdusta.
Dalam Ilmu Hadits dinyatakan bahwa jika seseorang berdusta kepada manusia biasa, selain Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, maka haditsnya tergolong Dho’iif (lemah, tidak shohiih). Tetapi bila seseorang berdusta kepada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, maka haditsnya adalah tergolong Palsu. Palsu (Maudhuu’) itu tidak sama dengan Dho’iif. Kalau Dho’iif masih memungkinkan. KalauDho’iif-nya ringan disebut Dho’iifun Munjabar (Dho’iif yang bisa diperkuat, bisa naik derajatnya menjadi Hasan lighoirihi atau Shohiih lighoirihi). Tetapi bila Palsu (Maudhuu’), hendaknya dibuang. Bahkan kata para ‘Ulama Ahlus Sunnah: “Meriwayatkan Hadits Palsu adalah termasuk pendusta kepada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, hukumnya harom dan pelakunya berdosa besar. Kecuali bila untuk menjelaskan bahwa itu adalah Hadits Palsu.”
Sedangkan orang yang mengaku sebagai Nabi, itu lebih besar dan lebih dahsyat lagi dustanya, karena ia sudah mengaku sebagai Nabi dan Rosuul. Seperti yang baru-baru ini terjadi, misalnya Muhammad Mussadeq, dengan gerakan Al Qiyadah-nya. Atau yang sudah dihukum oleh pemerintah dan sekarang sudah keluar dari penjara, yaitu Lia Aminudin dan sampai sekarang gerakan ajarannya masih berlangsung dan beredar.
Secara Syar’i, berdasarkan Firman Allooh سبحانه وتعالى dan sabda Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, jika orang tersebut murtad dari Islam seharusnya ia dihukum Had, sampai dengan hukuman mati.
Karena itu kita sangat prihatin dengan banyaknya perkara-perkara semacam tersebut diatas di negeri kita. Mereka banyak mengaku dirinya muslim, padahal mereka membawa ajaran murtad. Ini membahayakan sekali. Orang yang mengaku Muslim padahal ia menyebarkan “Virus” untuk menjadikan orang yang mendengarnya menjadi murtad, maka ia disebut Zindiq. Dan orang semacam itu sekarang banyak sekali.
Pada zaman Khalifah ‘Umar bin Khoththoob رضي الله عنه tidak akan ada (ditemukan) orang semacam tersebut. Jangankan Zindiq, orang yang bertanya tentang Ayat yang Mutasyabihat saja, langsung disiksa berat. Bagaimana mungkin orang bisa memalsukan ajaran Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم ketika itu.
Di antara dalil tentang masalah tersebut, adalah dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Imaam Al Bukhoory no: 3609 dan Imaam Muslim no: 7526, dari Shohabat Abu Hurairoh رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَقْتَتِلَ فِئَتَانِ فَيَكُونَ بَيْنَهُمَا مَقْتَلَةٌ عَظِيمَةٌ دَعْوَاهُمَا وَاحِدَةٌ وَلَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُبْعَثَ دَجَّالُونَ كَذَّابُونَ قَرِيبًا مِنْ ثَلَاثِينَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ رَسُولُ اللَّهِ
Artinya:
“Tidak akan terjadi Hari Kiamat sehingga dua kelompok orang saling berperang dan berakibat terbunuhnya banyak orang, padahal apa yang mereka seru sebetulnya satu. Dan tidak akan terjadi Hari Kiamat sampai Allooh سبحانه وتعالى bangkitkan di tengah-tengah mereka para Dajjal, para pendusta, lebih dekat bilangannya dari 30 orang, semua mereka mengaku bahwa dia adalah utusan Allooh”.
Hadits diriwayatkan oleh Imaam Ibnu Maajah no: 4077 dari Abu Umaamah Al Baahily رضي الله عنه, beliau berkata bahwa, “Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم berkhutbah dihadapan kami dan terbanyak pembicaraan beliau صلى الله عليه وسلم adalah tentang Dajjal dan beliau صلى الله عليه وسلم memberikan peringatan keras pada kami tentangnya. Diantara yang beliau صلى الله عليه وسلم katakan adalah:
إنه لم تكن فتتة في الأرض منذ ذرأ الله ذرية آدم أعظم من فتنة الدجال . وإن الله لم يبعث نبيا إلا حذر أمته الدجال . وأنا آخر الأنبياء . وأنتم آخر بالأمم . وهو خارج فيكم لامحالة
Artinya:
“Sesungguhnya tidak ada fitnah di muka bumi ini sejak Allooh turunkan Adam عليه السلام yang paling besar daripada fitnah Dajjal. Sesungguhnya Allooh tidak membangkitkan nabi, kecuali nabi itu memperingatkan ummatnya dengan Dajjal. Dan aku adalah Nabi paling akhir,dan kalian adalah ummat paling akhir, dan dia (Dajjal) akan keluar ditengah-tengah kalian, tidak bisa tidak.”
Dalam Hadits yang lain, diriwayatkan oleh Imam Ahmad no: 23358 dan menurut Syaikh Syuaib Al Arnaa’uth رحمه الله sanad hadits ini shohiih, para perowinya terpercaya termasuk perowi-perowi hadits shohiih, dari Shohabat Hudzaifah Ibnul Yaman رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
فِي أُمَّتِي كَذَّابُونَ وَدَجَّالُونَ سَبْعَةٌ وَعِشْرُونَ مِنْهُمْ أَرْبَعُ نِسْوَةٍ وَإِنِّي خَاتَمُ النَّبِيِّينَ لَا نَبِيَّ بَعْدِي
Artinya:
“Pada umatku akan muncul para pendusta, para Dajjal, jumlahnya adalah 27 orang, 4 diantaranya adalah wanita. Dan sungguh aku adalah penutup para Nabi dan tidak ada Nabi setelah aku.”
Kalau Nabi saja sudah ditutup, maka tentunya Rosuul juga tidak akan ada lagi.
Maka jika kita beriman kepada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dan beriman kepada sabdanya pula, maka bila ada orang yang mengaku dirinya sebagai Nabi, berarti ia adalah pendusta, murtad dari Islam dan ia adalah bagian dari para Munaafiqin, bagian dari Zindiq, ancaman-nya adalah murka Allooh سبحانه وتعالى dan masuk neraka. Dan harus yakin, berdasarkan dalil.
Demikianlah penjelasan tentang tanda-tanda Kiamat yang sudah terjadi, sedang berlangsung dan akan berlangsung, bahsan kita kali ini baru sampai nomor 2, dan nomor-nomor berikutnya (sampai dengan nomor 12) akan disampaikan pada pertemuan berikutnya, Insya Allooh.
Itulah tanda-tanda Kiamat. Kita dibangkitkan oleh Allooh سبحانه وتعالى menjadi umat yang terakhir. Sebentar lagi akan Kiamat. Apakah Kiamat Sughro yang akan kita alami, atau Kiamat Kubro, kita tidak tahu. Oleh karena itu setiap diri kita hendaknya bersiap-siap bertemu dengan Allooh سبحانه وتعالى dengan memperbanyak beramal-shoolih dan ber-‘aqiidah yang lurus, sesuai dengan ajaran yang telah diwariskan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
Alhamdulillah, kiranya cukup sekian dulu bahasan kita kali ini, mudah-mudahan bermanfaat. Kita akhiri dengan Do’a Kafaratul Majlis :
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

TURUNNYA ISA AL MASIH

turunnya-isa

TURUNNYA ‘ISA AL MASIH
Oleh: Ust. Achmad Rofi’i, Lc.

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allooh سبحانه وتعالى,
Bahasan kali ini adalah mengenai Tanda – Tanda Qiyamah Kubro (Kiamat Besar) yang ketiga (Asyrootussaa’ah Al Kubro) yaitu turunnya Nabi ‘Isa عليه السلام.
Ada beberapa perkara dalam bahasan ini, yaitu :
1. Landasan dan dalil bahwa Nabi ‘Isa عليه السلام akan turun ke bumi, yaitu Al Qur’an dan Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
2. Status Hadits tentang turunnya Nabi ‘Isa عليه السلام.
3. Bagaimana para ‘Ulama Ahlus Sunnah menyikapi Hadits-hadits tersebut.
4. Sifat Nabi ‘Isa عليه السلام dan apa yang akan dilakukannya.
5. Tempat munculnya Nabi ‘Isa عليه السلام.
6. Berapa lama Nabi ‘Isa عليه السلام akan hidup.
7. Para ‘Ulama menyimpulkan terhadap Firman Allooh سبحانه وتعالى dan Sabda Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم mengenai turunnya Nabi ‘Isa عليه السلام.
8. Hikmah diturunkannya Nabi ‘Isa عليه السلام.
1. Landasan dan Dalil
Berikut ini adalah berapa dalil yang menyatakan bahwa Nabi ‘Isa عليه السلام akan turun kembali ke bumi. Nabi ‘Isa عليه السلام yang akan diturunkan oleh Allooh سبحانه وتعالى kembali ke bumi itu adalah Nabi ‘Isa عليه السلام yang dulu pernah Allooh سبحانه وتعالى bangkitkan, dan dalam riwayat Nabi ‘Isa عليه السلام berusia 33 tahun. Sehingga ada ‘Ulama yang menyatakan bahwa Nabi ‘Isa عليه السلام akan turun kembali ke bumi dan hidup selama 7 (tujuh) tahun. Jadi jumlah umur beliau عليه السلام seluruhnya adalah 40 tahun. Dan ada pula penjelasan dari para ‘Ulama terhadap ke-shohiihan Hadits tersebut, sehingga berarti jumlah 40 tahun itu adalah umur 33 tahun ketika diangkat, dan ketika diturunkan kembali ke bumi selama 7 tahun.
Pertama, sebagaimana firman Allooh سبحانه وتعالى dalam Al Qur’an Surat Az Zukhruf (43) ayat 61 :
وَإِنَّهُ لَعِلْمٌ لِّلسَّاعَةِ فَلَا تَمْتَرُنَّ بِهَا وَاتَّبِعُونِ هَذَا صِرَاطٌ مُّسْتَقِيمٌ
Artinya:
“Dan sesungguhnya ‘Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat. Karena itu janganlah kamu ragu-ragu tentang kiamat itu dan ikutilah Aku. Inilah jalan yang lurus.”
‘Abdullooh bin ‘Abbas رضي الله عنه menafsiirkan tentang ayat tersebut, bahwa yang dimaksud adalah keluarnya Nabi ‘Isa putera Maryam عليه السلام sebelum hari Kiamat. Inilah yang menjadi dasar keyakinan para ‘Ulama Ahlus Sunnah wal Jamaa’ah bahwa Nabi ‘Isa عليه السلام akan turun menjelang hari Kiamat.
Kedua, juga firman Allooh سبحانه وتعالى dalam Surat Muhammad (47) ayat 4 :
فَإِذا لَقِيتُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا فَضَرْبَ الرِّقَابِ حَتَّى إِذَا أَثْخَنتُمُوهُمْ فَشُدُّوا الْوَثَاقَ فَإِمَّا مَنّاً بَعْدُ وَإِمَّا فِدَاء حَتَّى تَضَعَ الْحَرْبُ أَوْزَارَهَا ذَلِكَ وَلَوْ يَشَاءُ اللَّهُ لَانتَصَرَ مِنْهُمْ وَلَكِن لِّيَبْلُوَ بَعْضَكُم بِبَعْضٍ وَالَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَلَن يُضِلَّ أَعْمَالَهُمْ
Artinya:
“Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka, maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berhenti. Demikianlah, apabila Allooh menghendaki, niscaya Allooh akan membinasakan mereka; tetapi Allooh hendak menguji sebahagian kamu dengan sebahagian yang lain. Dan orang-orang yang gugur pada jalan Allooh, Allooh tidak akan menyia-nyiakan amal mereka.”
Seperti dijelaskan oleh Imaam Al Baghowy رحمه الله dalam tafsir beliau tentang ayat ini, maka yang dimaksud dengan mengalahkan orang-orang musyrikin dengan dibunuh dan ditawannya mereka itu sehingga semua penganut ajaran di dunia ini akan masuk ke dalam Islam. Dan semua dien hanya lah untuk Allooh سبحانه وتعالى maka tidak ada setelah itu jihad atau peperangan.
Kapankah hal itu terjadi? Ialah ketika turunnya Nabi ‘Isa putera Maryam عليه السلام.
Ayat tersebut, menurut beliau (Imaam Al Baghowy رحمه الله) menjelaskan bahwa perang tidak akan terjadi lagi setelah turunnya Nabi ‘Isa puteraMaryam عليه السلام, karena semua manusia ketika itu tunduk dan menganut Islam.
Ketiga, juga firman Allooh سبحانه وتعالى dalam Surat An Nisaa’ (4) ayat 159 :
وَإِن مِّنْ أَهْلِ الْكِتَابِ إِلاَّ لَيُؤْمِنَنَّ بِهِ قَبْلَ مَوْتِهِ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكُونُ عَلَيْهِمْ شَهِيداً
Artinya:
“Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (`Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari Kiamat nanti `Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka.”
Ayat tersebut ditafsirkan oleh Imaam Ibnu Jariir Ath Thobari رحمه الله, kata beliau dari Abu Maalik, bahwasanya yang dimaksud dari ayat tersebut adalah ketika turunnya Nabi ‘Isa putera Maryam عليه السلام, adalah tidak ada seorang pun dari Ahlul Kitab kecuali mereka akan beriman. Artinya, orang Yahudi dan Nasrani akan beriman karena Nabi ‘Isa عليه السلام telah turun dan itu diberitakan oleh Allooh سبحانه وتعالى dalam ayat tersebut.
Pelajaran terpenting dari ketiga ayat tersebut diatas adalah semuanya menjelaskan bahwa Nabi ‘Isa عليه السلام akan ada lagi, beliau عليه السلام akan turun lagi; dan Nabi ‘Isa عليه السلام akan berperan di akhir zaman untuk menjalankan tugas yang diperintahkan oleh Allooh سبحانه وتعالى baginya.
Dalam Hadits Shohiih diriwayatkan oleh Imaam Al Bukhoory no: 2476 dan Imaam Muslim no: 406 dari Abu Hurairoh رضي الله عنه, beliau berkata, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَنْزِلَ فِيكُمْ ابْنُ مَرْيَمَ حَكَمًا مُقْسِطًا فَيَكْسِرَ الصَّلِيبَ وَيَقْتُلَ الْخِنْزِيرَ وَيَضَعَ الْجِزْيَةَ وَيَفِيضَ الْمَالُ حَتَّى لَا يَقْبَلَهُ أَحَدٌ
Artinya:
“Tidak akan tegak hari Kiamat sehingga akan turun di tengah-tengah kalian Ibnu Maryam (Nabi ‘Isa عليه السلام), ia menjadi seorang hakim (penguasa) yang adil, dan akan mematah-matahkan (menurunkan) salib dan membunuh babi, serta akan menghentikan aturan jizyah (upeti, pajak). Harta akan melimpah, tidak ada lagi orang yang membutuhkan (mau menerima) harta.”
Hadits tersebut diriwayatkan oleh Imaam Al Bukhoory dan Imaam Muslim, berarti Ahlus Sunnah Wal Jamaa’ah meyakini ke-shohiihan-nya, bahwa isi yang terkandung dalam Hadits tersebut adalah benar adanya. Kita harus membenarkannya. Yang tidak membenarkannya berarti ia tergolong Ingkar-Sunnah, bukan Ahlus Sunnah Wal Jamaa’ah. Berarti Nabi ‘Isa عليه السلام akan turun kembali ke bumi.
Juga dalam Hadits yang dirwayatkan oleh Imaam Al Bukhoory no: 7311 dan Imaam Muslim no: 5059, dari salah seorang Shohabat bernama Al Mughiroh bin Syu’bah رضي الله عنه, ia mendengar bahwa Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم bersabda:
لاََ يَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ حَتَّى يَأْتِيَهُمْ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ ظَاهِرُونَ
Artinya:
“Senantiasa kelompok kecil dari umatku akan berperang diatas kebenaran (– berperang karena Allooh سبحانه وتعالى untuk meninggikan Laa Ilaaha Illallooh – pent.), mereka menang dan terus menerus seperti itu sampai terjadi hari Kiamat. Sedangkan mereka dalam keadaan menang.”
Juga terdapat penjelasan dalam Kitab “As Sunnan Al Waaridatu Fil Fitaani Wa Ghowaa-iliha Was Sa’aati Wa Asrootiha” V/1105 sebagai berikut ini:
فإذا كان يوم الجمعة من صلاة الغداة وقد أقيمت الصلاة فالتفت المهدي فإذا هو بعيسى بن مريم قد نزل من السماء في ثوبين كأنما يقطر من رأسه الماء فقال أبوهريرة إذا أقوم إليه يا رسول الله فأعانقه فقال يا أبا هريرة إن خرجته هذه ليست كخرجته الأولى تلقى عليه مهابة كمهابة الموت يبشر أقواما بدرجات من الجنة فيقول له الإمام تقدم فصل بالناس فيقول له عيسى إنما اقيمت الصلاة لك فيصلى عيسى خلفه(السنن الواردة في الفتن وغوائلها والساعة وأشراطها 5/1105
Artinya:
“Maka pada hari Jum’at, ketika akan sholat Fajar dan Iqomat sudah dikumandangkan, maka Imaam Mahdi menengok, ternyata dilihatnya Isa bin Maryam عليه السلام telah turun dari langit, mengenakan dua baju, seolah dari kepalanya meneteskan air.”
Abu Hurairoh رضي الله عنه berkata, “Ya Rosuulullooh, jika aku menemuinya, aku merangkulnya.”
Lalu Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda, “Sesungguhnya keluarnya ini tidak seperti keluarnya (– Isa عليه السلام – pent.) yang pertama kali. Engkau akan menemui dia dalam keadaan berwibawa, dan disegani. Dia akan memberitahu kaum dengan tingkatan surga.” Lalu Imaam Mahdi mengatakan padanya, “Majulah anda dan jadilah Imaam (– sholat – pent.).”
Maka Isa عليه السلام berkata, “Sesungguhnya Iqomat telah dikumandangkan untukmu.”
Sehingga Nabi Isa عليه السلام pun sholat dibelakang Imaam Mahdi.”
Jadi dari hadits diatas, maka di akhir zaman nanti, ketika Imaam Mahdi sedang berada dalam barisan-barisan yang siap berperang dengan Ahlul Kitab, diantara mereka adalah orang-orang Yahudi dan Dajjal. Kemudian setelah siap hendak sholat, dan Iqomat telah disuarakan, maka Nabi ‘Isa عليه السلام pun muncul.
Lalu Imaam Mahdi berkata: “Wahai ‘Isa عليه السلام, silakan engkau menjadi Imaam”.
Kata Nabi ‘Isa عليه السلام: “Engkau yang menjadi Imaam, karena Iqomat telah ditegakkan.”
Maka Imaam Mahdi pun menjadi Imaam Sholat dan Nabi ‘Isa عليه السلام menjadi ma’mum-nya. Setelah sholat selesai, kemudian kepemimpinan barulah diambil alih oleh Nabi ‘Isa عليه السلام.
Hal ini adalah sebagaimana dalam Hadits Shohiih Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 3449 dan Imaam Muslim no: 409, dari Shohabat Abu Hurairoh رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda,
كَيْفَ أَنْتُمْ إِذَا نَزَلَ ابْنُ مَرْيَمَ فِيكُمْ وَإِمَامُكُمْ مِنْكُمْ
Artinya:
“Bagaimana dengan kalian, apabila ‘Isa bin Maryam عليه السلام turun kepada kalian, sedangkan Imaam kalian dari kalangan kalian sendiri.”
Semua yang berkenaan dengan tanda Hari Kiamat adalah berita. Karena berita, maka berita itu harus valid dan shohiih. Bagi kita Ahlus Sunnah wal Jamaa’ah tidak ada ruang bagi akal manusia untuk hal ini. Semua harus berdasarkan daliil, oleh karena itu bahasan dipadatkan dengan daliil, agar kita yakin bahwa semua ini bukanlah dari perkataan manusia, melainkan berdasarkan Wahyu yang datang dari Allooh سبحانه وتعالى dan telah disampaikan kepada kita melalui Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
Dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Imaam Muslim no: 6820, dari Shohabat Abu Huroiroh رضي الله عنه, beliau berkata, “Aku mendengar Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda :
أَنَا أَوْلَى النَّاسِ بِعِيسَى الأَنْبِيَاءُ أَبْنَاءُ عَلاَّتٍ وَلَيْسَ بَيْنِى وَبَيْنَ عِيسَى نَبِىٌّ
Artinya:
“Aku adalah orang yang lebih berhak diutamakan daripada ‘Isa عليه السلام. Para Nabi itu semuanya adalah anak-anak dari para ibu yang berbeda-beda, tetapi bapak mereka satu.Tidak ada Nabi antara aku dan ‘Isa عليه السلام”.
Hadits Shohiih tersebut bagi kita harus menjadi pegangan, sekaligus sebagai bantahan bagi orang yang mengaku-ngaku dirinya sebagai nabi sesudah Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم seperti: Mirza Ghulam Ahmad, Ahmad Musadek dan lain-lain.
Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم selanjutnya pun bersabda bahwa:
“Nabi ‘Isa عليه السلام akan turun. Jika kalian melihatnya maka kalian akan mengenalinya, orangnya berkulit putih kemerahan. Ia mengenakan dua baju.Rambutnya seolah-olah meneteskan air, meskipun tidak terkena basah”.
(Dalam Hadits lain disebutkan bahwa rambut Nabi ‘Isa عليه السلام keriting)
Lalu dalam Hadits Riwayat Imaam Ahmad no: 7665, dari Abu Hurairoh رضي الله عنه, menurut Syaikh Syu’aib Al Arnaa’uth sanadnya Shohiih sesuai dengan Syarat Imaam Al Bukhoory dan Imaam Muslim, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda,
والذي نفسي بيده ليوشك ان ينزل فيكم بن مريم حكما عادلا وإماما مقسطا يكسر الصليب ويقتل الخنزير ويضع الجزية ويفيض المال حتى لا يقبلها أحد
Artinya:
“Demi yang jiwaku ditangan-Nya, Isa bin Maryam عليه السلام akan turun ditengah-tengah kalian sebagai Penguasa yang Adil, akan mematahkan salib, membunuh babi, membebaskan dari hukum Jizyah (– Pajak / Upeti – pent.) dan harta akan melimpah sehingga tidak ada yang mau menerimanya seorang pun.”
Dan dalam Hadits Riwayat Imaam Al Hakim no: 4163, beliau berkata Hadits ini sanadnya Shohiih, hanya saja Imaam Al Bukhoory dan Imaam Muslim tidak mengeluarkannya dan Imaam Adz Dzahaby dalam Kitab “At Tarkhiiskh” menyatakan bahwa Hadits ini Shohiih; dari Abu Hurairoh رضي الله عنه bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda,
إن روح الله عيسى ابن مريم نازل فيكم فإذا رأيتموه فاعرفوه رجل مربوع إلى الحمرة و البياض عليه ثوبان ممصران كان رأسه يقطر و إن يصبه بلل فيدق الصليب و يقتل الخنزير و يضع الجزية و يدعو الناس إلى الإسلام فيهلك الله في زمانه المسيح الدجال و تقع الأمنة على أهل الأرض حتى ترعى الأسود مع الإبل و النمور مع البقر و الذئاب مع الغنم و يلعب الصبيان مع الحيات لا تضرهم فيمكث أربعين سنة ثم يتوفى و يصلي عليه المسلمون
Artinya:
“Sesungguhnya Roh Allooh سبحانه وتعالى, ‘Isa عليه السلام, akan turun ditengah-tengah kalian. Maka jika kalian melihatnya, maka kenalilah dia. Dia adalah berkulit putih kemerah-merahan dan mengenakan dua baju, seakan kepalanya meneteskan air dan basah. Dia akan menghancurkan salib, membunuh babi, menghapuskan hukum Jizyah dan menyeru manusia pada Islam, membinasakan Dajjal dan meletakkan amanah (keamanan) diatas muka bumi sehingga singa dengan unta bergembala bersama, singa dengan sapi, serigala dengan kambing dan anak kecil bermain ular, tidak membahayakan mereka. Nabi ‘Isa عليه السلام akan menetap 40 tahun, kemudian meninggal dan disholati oleh kaum Muslimin.”
2. Status Hadits
Intinya dalam Hadits tersebut bahwa Nabi ‘Isa عليه السلام akan diturunkan kembali oleh Allooh سبحانه وتعالى, tidak boleh ada keraguan tentang hal ini.
Ada beberapa Kitab yang khusus membahas tentang turunnya Nabi ‘Isa عليه السلام. Hendaknya itu menjadi dasar bagi kita untuk meyakini kebenaran adanya peristiwa turunnya Nabi ‘Isa عليه السلام tersebut.
Kata para ‘Ulama Ahlus Sunnah bahwa Hadits tentang turunya Nabi ‘Isa عليه السلام adalahMuttawatir. Karena Haditsnya adalah Muttawatir, maka orang Mu’tazilah dan orangRasionalis-pun, mereka akan membenarkan dan meyakininya.
3. Sikap ‘Ulama Ahlus Sunnah Terhadap Hadits tersebut
Berikut ini apa yang dikatakan oleh Imaam Ibnu Katsiir رحمه الله. Dalam Tafsiir Ibnu Katsiir, dikatakan bahwa Hadits-Hadits tentang turunnya Nabi ‘Isa عليه السلام derajatnya adalahMuttawatir dari banyak Shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم antara lain: Abu Hurairoh, ‘Abdullooh Ibnu Mas’uud, ‘Utsman bin Abdil ‘Ash, An Nuwwas bin Sam’an, ‘Abdullooh bin ‘Amr bin Al ‘Ash, dan Majma’ Libni Jaariyah, Abu Syarihah Hudzaifah Ibnu ‘Usaid رضي الله عنهم.
Itulah nama-nama para Shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم yang meriwayatkan tentang turunnya Nabi ‘Isa عليه السلام. Sehingga menurut Ahlus Sunnah Wal Jamaa’ah bahwa apabila Hadits diriwayatkan oleh sekian banyak orang kepada sekian banyak orang, maka tidak mungkin adanya kesepakatan dusta atas-nama Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Dengan demikian Hadits yang seperti itu disebut Hadiits Muttawatir. Hadits Muttawatir harus diyakini dan dibenarkan, karena derajatnya adalah sama dengan Al Qur’an.
Ijma’ adalah Kesepakatan. Dikemukakan oleh seorang ‘Ulama Ahlus Sunnah bernamaImaam As Safaariiny رحمه الله dalam Kitab “Lawaami’ul Al Anwaar Al Bahiyyah”, beliau berkata: “Ummat Islam telah bersepakat terhadap turunnya Nabi ‘Isa عليه السلام, tidak ada seorangpun yang menyelisihi kesepakatan itu dari kalangan Ahli Syari’ah, yaitu Ahlus Sunnah. Yang mengingkari akan turunnya Nabi ‘Isa عليه السلام adalah para ahli Filsafat, dan orang-orang yang menyimpang dari ajaran ini, yang tidak dianggap berarti jika mereka itu menyelisihi. Nabi ‘Isa عليه السلام akan turun dari langit dan akan tetap menjalankan hukum-hukum Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.”
4. Sifat Fisik dan Tugas Yang Akan Dilakukan oleh Nabi ‘Isa عليه السلام
Berdasarkan dalil-dalil yang tersebut diatas, bahwa diantara sifat fisik Nabi ‘Isa عليه السلام adalah : Berkulit putih kemerahan, berambut keriting (ikal), dan berdada lebar.
Tugas Nabi ‘Isa عليه السلام:
Tugas Nabi ‘Isa عليه السلام yang paling pokok adalah mengerjakan lima perkara yaitu :
1. Menghancurkan salib, sehingga tidak ada lagi salib di dunia ini.
2. Membunuh babi.
3. Membebaskan ummat dari hukum Jizyah (Pajak / Upeti),
4. Menyeru kepada Al Islam, sehingga semua keyakinan di dunia ini ada dibawah Islam.
5. Membunuh Ad Dajjal.
Semua itu adalah bagian bahwa Nabi Isa عليه السلام menetapkan, menjalankan dan men-dhohirkan Hukum-Hukum yang telah disunnahkan oleh Muhammad Rosuululloohصلى الله عليه وسلم.
5. Tempat Munculnya Nabi ‘Isa عليه السلام
Di mana Nabi ‘Isa عليه السلام akan muncul ?
Dalam Hadits Shohiih Riwayat Imaam Muslim no: 7560, dari Shohabat An Nuwwas bin Sam’an رضي الله عنه, beliau berkata bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
فَبَيْنَمَا هُوَ كَذَلِكَ إِذْ بَعَثَ اللَّهُ الْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ فَيَنْزِلُ عِنْدَ الْمَنَارَةِ الْبَيْضَاءِ شَرْقِىَّ دِمَشْقَ بَيْنَ مَهْرُودَتَيْنِ وَاضِعًا كَفَّيْهِ عَلَى أَجْنِحَةِ مَلَكَيْنِ إِذَا طَأْطَأَ رَأَسَهُ قَطَرَ وَإِذَا رَفَعَهُ تَحَدَّرَ مِنْهُ جُمَانٌ كَاللُّؤْلُؤِ فَلاَ يَحِلُّ لِكَافِرٍ يَجِدُ رِيحَ نَفَسِهِ إِلاَّ مَاتَ وَنَفَسُهُ يَنْتَهِى حَيْثُ يَنْتَهِى طَرْفُهُ فَيَطْلُبُهُ حَتَّى يُدْرِكَهُ بِبَابِ لُدٍّ فَيَقْتُلُهُ ثُمَّ يَأْتِى عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ قَوْمٌ قَدْ عَصَمَهُمُ اللَّهُ مِنْهُ فَيَمْسَحُ عَنْ وُجُوهِهِمْ وَيُحَدِّثُهُمْ بِدَرَجَاتِهِمْ فِى الْجَنَّةِ فَبَيْنَمَا هُوَ كَذَلِكَ إِذْ أَوْحَى اللَّهُ إِلَى عِيسَى إِنِّى قَدْ أَخْرَجْتُ عِبَادًا لِى لاَ يَدَانِ لأَحَدٍ بِقِتَالِهِمْ فَحَرِّزْ عِبَادِى إِلَى الطُّورِ. وَيَبْعَثُ اللَّهُ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ وَهُمْ مِنْ كُلِّ حَدَبٍ يَنْسِلُونَ فَيَمُرُّ أَوَائِلُهُمْ عَلَى بُحَيْرَةِ طَبَرِيَّةَ فَيَشْرَبُونَ مَا فِيهَا وَيَمُرُّ آخِرُهُمْ فَيَقُولُونَ لَقَدْ كَانَ بِهَذِهِ مَرَّةً مَاءٌ. وَيُحْصَرُ نَبِىُّ اللَّهُ عِيسَى وَأَصْحَابُهُ حَتَّى يَكُونَ رَأْسُ الثَّوْرِ لأَحَدِهِمْ خَيْرًا مِنْ مِائَةِ دِينَارٍ لأَحَدِكُمُ الْيَوْمَ فَيَرْغَبُ نَبِىُّ اللَّهِ عِيسَى وَأَصْحَابُهُ فَيُرْسِلُ اللَّهُ عَلَيْهُمُ النَّغَفَ فِى رِقَابِهِمْ فَيُصْبِحُونَ فَرْسَى كَمَوْتِ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ ثُمَّ يَهْبِطُ نَبِىُّ اللَّهِ عِيسَى وَأَصْحَابُهُ إِلَى الأَرْضِ فَلاَ يَجِدُونَ فِى الأَرْضِ مَوْضِعَ شِبْرٍ إِلاَّ مَلأَهُ زَهَمُهُمْ وَنَتْنُهُمْ فَيَرْغَبُ نَبِىُّ اللَّهِ عِيسَى وَأَصْحَابُهُ إِلَى اللَّهِ فَيُرْسِلُ اللَّهُ طَيْرًا كَأَعْنَاقِ الْبُخْتِ فَتَحْمِلُهُمْ فَتَطْرَحُهُمْ حَيْثُ شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ يُرْسِلُ اللَّهُ مَطَرًا لاَ يَكُنُّ مِنْهُ بَيْتُ مَدَرٍ وَلاَ وَبَرٍ فَيَغْسِلُ الأَرْضَ حَتَّى يَتْرُكَهَا كَالزَّلَفَةِ ثُمَّ يُقَالُ لِلأَرْضِ أَنْبِتِى ثَمَرَتَكِ وَرُدِّى بَرَكَتَكِ.
فَيَوْمَئِذٍ تَأْكُلُ الْعِصَابَةُ مِنَ الرُّمَّانَةِ وَيَسْتَظِلُّونَ بِقِحْفِهَا وَيُبَارَكُ فِى الرِّسْلِ حَتَّى أَنَّ اللِّقْحَةَ مِنَ الإِبِلِ لَتَكْفِى الْفِئَامَ مِنَ النَّاسِ وَاللِّقْحَةَ مِنَ الْبَقَرِ لَتَكْفِى الْقَبِيلَةَ مِنَ النَّاسِ وَاللِّقْحَةَ مِنَ الْغَنَمِ لَتَكْفِى الْفَخِذَ مِنَ النَّاسِ فَبَيْنَمَا هُمْ كَذَلِكَ إِذْ بَعَثَ اللَّهُ رِيحًا طَيِّبَةً فَتَأْخُذُهُمْ تَحْتَ آبَاطِهِمْ فَتَقْبِضُ رُوحَ كُلِّ مُؤْمِنٍ وَكُلِّ مُسْلِمٍ وَيَبْقَى شِرَارُ النَّاسِ يَتَهَارَجُونَ فِيهَا تَهَارُجَ الْحُمُرِ فَعَلَيْهِمْ تَقُومُ السَّاعَةُ
Artinya:
“Ketika Dajjal sedang berbuat kerusakan seperti itu, Allooh Azza Wa Jalla mengutus ‘Isa Almasih bin Maryam. Lalu ‘Isa bin Maryam turun di dekat menara putih di sebelah timur Damaskus, dengan mengenakan pakaian dua warna, sambil meletakkan dua telapak tangannya pada sayap dua malaikat. Apabila dia menundukkan kepalanya, hujan pun turun. Apabila dia mengangkat kepalanya, maka butir-butir air (– seperti mutiara –) berjatuhan dari kepalanya. Orang kaafir tidaklah mencium bau nafasnya melainkan mati atau bau nafasnya bisa dicium sejauh mata memandang. Dia mencari Dajjal, sehingga ditemukannya di pintu gerbang kota Ludd, lalu Dajjal dibunuhnya.
Kemudian ‘Isa bin Maryam mendatangi suatu kaum yang dilindungi oleh Allooh dari Dajjal, lalu ‘Isa bin Maryam mengusap wajah mereka dan memberitahukan kepada mereka mengenai derajat mereka di surga. Ketika ‘Isa bin Maryam dalam keadaan begitu, Allooh mewahyukan kepadanya, “Sesungguhnya Aku telah mengeluarkan hamba-hamba-Ku yang tidak terkalahkan oleh siapa pun. Karena itu selamatkanlah hamba-hamba-Ku yang shoolih ke bukit.”
Kemudian Allooh mengeluarkan Ya’juj dan Ma’juj (mereka turun ke segala penjuru dari tempat yang tinggi (Al Anbiyaa’ ayat 96). Kelompok mereka yang pertama kali melewati telaga Thabariyyah / Thiber, kemudian mereka meminum airnya hingga habis. Kelompok mereka yang akhir lewat pula, lalu mereka mengatakan, “Sungguh di tempat ini dulu ada air.”
Nabi ‘Isa dan para Shohabatnya terkepung, sehingga pada saat itu sebuah kepala sapi lebih berharga bagi mereka daripada uang seratus dinar sekarang ini. Nabi ‘Isa bin Maryam dan para Shohabatnya berdo’a agar Allooh menghancurkan Ya’juj dan Ma’juj beserta pengikutnya. Lalu Allooh menimpakan kepada mereka penyakit hidung seperti yang melanda hewan, sehingga mereka mati semuanya.
Kemudian Nabi ‘Isa dan para Shohabatnya tiba di suatu tempat di bumi. Mereka tidaklah mendapati sejengkal tanah melainkan penuh dengan bangkai-bangkai busuk, maka Nabi ‘Isa dan para pengikutnya berdo’a kepada Allooh Azza Wa Jalla. Sehingga, Allooh mengutus burung-burung sebesar punuk onta yang membawa bangkai-bangkai manusia tersebut, untuk dibuang di tempat yang dikehendaki oleh Allooh Azza Wa Jalla.
Kemudian Allooh menurunkan hujan yang menyirami setiap rumah di kota dan di desa, sehingga bumi menjadi bersih setelah tersiram hujan.
Lalu diperintahkan kepada bumi, “Munculkan buah-buahanmu, dan kembalikan keberkahanmu !”
Pada hari itu sekelompok keluarga bisa kenyang dengan memakan sebuah delima dan bisa berteduh di bawah kulit buah delima. Air susu juga penuh berkah, sehingga susu seekor onta cukup untuk sekelompok orang, susu seekor sapi cukup untuk orang satu kabilah, dan susu seekor kambing cukup untuk orang sekeluarga dekat.
Ketika mereka seperti itu, Allooh mengirimkan angin baik melewati ketiak mereka. Angin tersebut merenggut nyawa setiap mukmin dan muslim, sehingga tinggallah orang-orang yang jahat / jelek yang berhiruk-pikuk bagai hiruk-pikuknya keledai, maka terjadilah kiamat yang menimpa mereka.”
Jadi ketika barisan antara orang-orang dari kalangan Imaam Mahdi dan kalangan Dajjal, serta pengikutnya termasuk orang-orang Yahudi sudah berada dalam keadaan siap berperang, maka pada saat itu Allooh سبحانه وتعالى mengutus Nabi ‘Isa عليه السلام untuk turun di sebuah MenaraPutih sebelah timur Damaskus (Syiria). Nabi ‘Isa عليه السلام meletakkan kedua tangannya pada kedua sayap malaikat, jika ia menggerakkan rambutnya maka akan meneteskan air dan bila mengangkat kepalanya seolah-olah seperti permata berlian. Kalau ada orang kaafir yang bertemu dengannya dan mencium bau nafasnya maka orang kaafir itu akan menjadi mati. Nabi ‘Isa عليه السلام akan menyeret Dajjal sampai ke pintu gerbang Kota Ludd, kemudian disana Dajjal dibunuh oleh Nabi ‘Isa عليه السلام. Kemudian kepada Nabi ‘Isa عليه السلام, datanglah suatu kaum yang dijaga oleh Allooh سبحانه وتعالى dari Dajjal, lalu ‘Isa عليه السلام pun mengusap wajah-wajah mereka dan menceritakan kepada mereka derajat mereka di surga, dan seterusnya.
Ada penjelasan dari Imaam Ibnu Katsiir رحمه الله dalam Kitab Tafsiir beliau رحمه الله yang berjudulAn Nihaayah Fil Fitan wal Malaahim, kata beliau رحمه الله: “Keterangan yang termasyhur tentang dimana akan turunnya Nabi ‘Isa عليه السلام, ialah di Menara Putih sebelah timur Damaskus, (di masjid sebelah timur Damaskus).”
Kata Imaam Ibnu Katsir رحمه الله: “Mudah-mudahan ini riwayat yang terpelihara (yang benar).” Kata beliau رحمه الله selanjutnya: “Tidak ada di Damaskus disebut menara sebelah timur. Yang ada adalah di sebelah timur masjid ‘Umawi (kerjaan Mu’awwiyah).”
Inilah yang paling tepat karena: “Nabi ‘Isa عليه السلام akan turun sedang Iqomat sudah ditegakkan.”
6. Masa Hidup Nabi ‘Isa عليه السلام
Masa Hidup Nabi ‘Isa عليه السلام.
Ada dua versi dalam Hadits, pertama sebagaimana dalam Hadits Abu Hurairoh رضي الله عنه, yang telah dijelaskan diatas, bahwa Nabi ‘Isa عليه السلام akan tinggal selama 40 tahun, kemudian meninggal dan disholatkan oleh kaum Muslimin.
Kedua, dalam Hadits yang lain, diriwayatkan oleh Imaam Muslim no: 7568 bahwa berdasarkan riwayat ‘Abdullooh bin Amr bin Al Ash رضي الله عنه, beliau berkata bahwa Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم bersabda:
يَخْرُجُ الدَّجَّالُ فِى أُمَّتِى فَيَمْكُثُ أَرْبَعِينَ – لاَ أَدْرِى أَرْبَعِينَ يَوْمًا أَوْ أَرْبَعِينَ شَهْرًا أَوْ أَرْبَعِينَ عَامًا – فَيَبْعَثُ اللَّهُ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ كَأَنَّهُ عُرْوَةُ بْنُ مَسْعُودٍ فَيَطْلُبُهُ فَيُهْلِكُهُ ثُمَّ يَمْكُثُ النَّاسُ سَبْعَ سِنِينَ لَيْسَ بَيْنَ اثْنَيْنِ عَدَاوَةٌ ثُمَّ يُرْسِلُ اللَّهُ رِيحًا بَارِدَةً مِنْ قِبَلِ الشَّأْمِ فَلاَ يَبْقَى عَلَى وَجْهِ الأَرْضِ أَحَدٌ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ خَيْرٍ أَوْ إِيمَانٍ إِلاَّ قَبَضَتْهُ حَتَّى لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ دَخَلَ فِى كَبَدِ جَبَلٍ لَدَخَلَتْهُ عَلَيْهِ حَتَّى تَقْبِضَهُ
Artinya:
“Dajjal akan keluar pada ummatku, kemudian akan hidup 40 — saya tidak tahu 40 harikah, 40 bulankah atau 40 tahunkah – sehingga Allooh سبحانه وتعالى bangkitkan ‘Isa bin Maryam عليه السلام,dalam bentuk seperti ‘Urwah bin Mas’uud, mengejar dan membinasakannya. Kemudian manusia tinggal selama 7 tahun. Yang satu tidak memusuhi yang lain, kemudian Allooh سبحانه وتعالى turunkan angin yang dingin dari arah Syam, sehingga tidak ada yang tersisa di permukaan bumi ini seorang pun, yang ada didalam hatinya sebiji sawit kebaikan atau iman kecuali akan dicabut nyawanya, sehingg seandainya seorang dari kalian akan bersembunyi didalam sebuah gunung, maka angin itu pun akan memasukinya dan mencabut nyawanya.”
Jadi pada masa Nabi ‘Isa عليه السلام nanti, masyarakat akan damai sentausa.
Lalu sesudah 7 tahun, pada masa itu orang beriman akan mati dihempas oleh angin dingin yang Allooh سبحانه وتعالى kirimkan dari arah negeri Syam.
Yang menjadi masalah adalah, bahwa dalam Hadits tersebut Rosuulullooh صلى الله عليه وسلمmenyebutkan bahwa Nabi ‘Isa عليه السلام akan tinggal selama 7 tahun. Sementara itu dalam Hadits yang lain, diriwayatkan oleh Imaam Muslim bahwa Nabi ‘Isa عليه السلام akan hidup selama 40 tahun.
Dalam Musnad Imaam Ahmad no: 24511, dari ‘Aa’isyah رضي الله عنها, menurut Syaikh Syuaib Al Arnaa’uth sanadnya adalah Hasan.
ثم يمكث عيسى عليه السلام في الأرض أربعين سنة إماما عدلا وحكما مقسطا
Artinya:
“Kemudian ‘Isa عليه السلام akan hidup di bumi ini selama 40 tahun, menjadi Imaam yang adil dan Penguasa yang adil.”
Kesimpulan dari kedua versi Hadits diatas adalah sebagaimana yang ditulis oleh Syaikh ‘Abdullooh bin Sulaiman Al Ghufaily dalam Kitabnya Asyrootussaa’ah. Kata beliau, “Yang benar, sebagaimana yang didukung oleh riwayat Imaam Jalaaluddiin As Suyuuthi رحمه الله dalam Kitabnya Ad Durrul Mantsuur, bahwa Nabi ‘Isa عليه السلام akan hidup selama 40 tahun, tetapi 40 tahun itu seolah-olah seperti 4 tahun karena ketika itu hari sangat cepat berjalan.” Hadits tersebut adalah dari Abu Hurairoh رضي الله عنه, diriwayatkan oleh ‘Abd bin Humaid.

7. Kesimpulan Para ‘Ulama Tentang Turunnya Nabi ‘Isa عليه السلام
Dibawah ini adalah pernyataan para ‘Ulama Ahlus Sunnah, tentang keyakinan mereka terhadap Nabi ‘Isa عليه السلام.
Pertama, seperti dikatakan oleh Imaam Abul Hasan Al Asy’aary رحمه الله (setelah beliau رحمه الله menjadi seorang Salafi, ruju’ dari paham Mu’tazilah yang menyimpang kembali ke manhaj Salaf), yang mana beliau menulis Kitab yang berjudul Maqoolaat Al Islaamiyyiin Wakhtilaaf Al Musholliin, beliau mengatakan bahwa:
“Menyatakan beriman kepada Allooh سبحانه وتعالى, kepada para Malaikat-Nya, kepada Kitab-Nya, kepada rosuul-rosuul-Nya dan beriman pula kepada apa yang datang dari Allooh سبحانه وتعالى, apa yang diriwayatkan oleh orang-orang terpercaya dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم,tidak menolak dari apapun semua itu dan mereka membenarkan tentang akan keluarnya Dajjal, bahwa Nabi ‘Isa عليه السلام akan membunuh Dajjal, dan mengimani semua apa yang berasal dari kata-kata mereka.”
Imaam Abul Hasan Al Asy’aary رحمه الله awalnya adalah seorang Asy’aariyyah, yang di Indonesia diyakini sebagai tokoh Ahlus Sunnah wal Jamaa’ah. Sayangnya apa yang diyakini oleh sebagian kalangan kaum Muslimin Indonesia tersebut adalah keyakinan di masa ketika Imaam Abul Hasan Asy’aary رحمه الله masih berpaham Asy’aariyyah, jadi dimasa ketika beliau رحمه الله BELUM bertaubat dan belum kembali (ruju’) kepadamanhaj Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Akibatnya banyak terjadi kesalahan sebagian kalangan kaum Muslimin di Indonesia dalam memahami Ahlus Sunnah Wal Jamaa’ah manhaj Salafush Shoolih. Hal tersebut adalah akibat kesalahan dalam mengambil ‘ilmu dari Imaam Abul Hasan Al Asy’aary رحمه الله ini. Sehingga di Indonesia, yang banyak berkembang bukannya paham Ahlus Sunnah Wal Jamaa’ah, melainkan adalah pahamAsy’aariyyah. Hendaknya kaum Muslimin Indonesia mewaspadai hal ini, dan kembali kepada paham Ahlus Sunnah Wal Jamaa’ah yang benar.
Adapun perkataan beliau yang disampaikan diatas dalam kajian kita kali ini adalah perkataan Imaam Abul Hasan Al Asy’aary رحمه الله setelah beliau رحمه الله bertaubat dari paham Mu’tazilah-nya, atau dengan kata lain, ketika beliau رحمه الله sudah berposisi sebagai seorang Ahlus Sunnah Wal Jamaa’ah.
Kedua, menurut ulama lain seperti Muhammad Siddiiq Hasan Khoon Al Qonuji, beliau mengatakan dalam Kitabnya Al ‘Idzaa’ah, kata beliau, “Hadits-Hadits tentang turunnya Nabi ‘Isa عليه السلام adalah banyak. Disebutkan oleh Imaam Asy Syaukaany رحمه الله terdapat 29 Hadits antara Shohiih, Hasan dan Dho’iif yang terdukung. Diantaranya adalah yang kami sebut dalam Hadits-Hadits tentang Dajjal. Bahkan ada yang disebut-sebut dalam Hadits tentang Imaam Mahdi. Semua itu satu-sama lain digabungkan, dan semua itu berasal dari para Shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dan semuanya termasuk dalam hukum Hadits yangMarfu’, karena itu tidak ada satu kebolehan untuk ber-Ijtihad dalam perkara-perkara berita seperti tentang Nabi ‘Isa عليه السلام.”
Kemudian dijelaskan tentang beberapa Hadits yang kata beliau adalah termasuk Hadits yang sampai pada derajat Muttawatir.
Semua itu adalah perkataan para ulama bahwa turunnya Nabi ‘Isa عليه السلام adalah pasti. Termasuk ‘Ulama Ahlus Sunnah di zaman sekarang seperti Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albaany رحمه الله, beliau berkata bahwa, “Hadits-Hadits tentang Dajjal dan Hadits-Hadits tentang turunnya Nabi ‘Isa عليه السلام adalah Muttawatir. Wajib meng-imaninya dan jangan gentar dengan apa yang diklaim oleh orang-orang yang tidak meyakini Hadits Ahad. Sebab mereka adalah orang-orang yang bodoh, yang tidak punya kemampuan untuk mengikuti jalan-jalan Hadits. Padahal kalau mereka melakukannya, maka mereka akan mengetahui bahwa Hadits-hadits tersebut adalah Muttawatir.”
8. Hikmah Turunnya Nabi ‘Isa عليه السلام di Akhir Zaman.
1. Kita meyakini Nabi ‘Isa عليه السلام dan turunnya beliau عليه السلام merupakan bantahan terhadap orang-orang Yahudi bahwa mereka telah membunuhnya dahulu; dan juga bantahan kepada orang-orang Nasrani yang menjelmakan Nabi ‘Isa عليه السلام yang lalu kata mereka bahwa Nabi ‘Isa عليه السلام telah terbunuh dikeroyok oleh Yahudi dan disalib. Karena yang disalib itu bukanlah Nabi ‘Isa عليه السلام melainkan orang yang diserupakan oleh Allooh سبحانه وتعالى seperti Nabi ‘Isa عليه السلام. Sedangkan Nabi ‘Isa عليه السلام diangkat oleh Allooh سبحانه وتعالى ke langit. Dengan turunnya Nabi ‘Isa عليه السلام, mereka akan terbantahkan karena ternyata Nabi ‘Isa عليه السلام masih hidup dan diturunkan kembali ke bumi oleh Alloohسبحانه وتعالى.
Perhatikanlah firman Allooh Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. An Nisaa’ (4) ayat 157 :
وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيحَ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَـكِن شُبِّهَ لَهُمْ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُواْ فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِّنْهُ مَا لَهُم بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلاَّ اتِّبَاعَ الظَّنِّ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِيناً
Artinya:
“Dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya Kami telah membunuh Al Masih, `Isa putra Maryam, Rosuul Allooh”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan `Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) `Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah `Isa.”
2. Nabi ‘Isa عليه السلام wafat dan dikubur di dalam tanah. Nabi ‘Isa عليه السلام adalah manusia berasal dari anak-cucu Nabi ‘Adam عليه السلام, seperti disebutkan dalam Hadits Riwayat Imaam Muslim no: 6281, dari Shohabat Abu Hurairoh رضي الله عنه, bahwa Rosulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda,
أَبي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « الأَنْبِيَاءُ إِخْوَةٌ مِنْ عَلاَّتٍ وَأُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى وَدِينُهُمْ وَاحِدٌ فَلَيْسَ بَيْنَنَا نَبِىٌّ
Artinya:
“Para Nabi itu adalah bersaudara dari bapak yang sama, ibu mereka berbeda-beda, dien mereka adalah satu. Tidak ada Nabi diantara aku dengan ‘Isa عليه السلام.”
Berasal dari bapak yang sama, sedangkan ibunya berbeda-beda, maksudnya Syari’at mereka berbeda-beda, tetapi dien mereka satu.
Jadi Nabi ‘Isa عليه السلام adalah sama dengan nabi-nabi yang lain karena berasal dari tanah, maka meninggalnya pun kembali ke tanah. Maka seperti disebutkan dalam riwayat diatas, Nabi ‘Isa عليه السلام akan wafat dan disholatkan oleh kaum muslimin dan akan dikuburkan. Dan itu berarti Nabi ‘Isa عليه السلام adalah sama dengan nabi-nabi yang lain.
3. Turunnya Nabi ‘Isa عليه السلام adalah membantah orang-orang Nasrani yang mengatakan bahwa Nabi ‘Isa عليه السلام sudah berkorban menjadi penebus dosa dan rela mati untuk membalas dosa umatnya. Padahal Nabi ‘Isa عليه السلام tidak meninggal, tetapi diangkat oleh Allooh سبحانه وتعالى ke langit.
Perhatikanlah firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. Aali ‘Imroon (3) ayat 55:
إِذْ قَالَ اللّهُ يَا عِيسَى إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ وَمُطَهِّرُكَ مِنَ الَّذِينَ كَفَرُواْ وَجَاعِلُ الَّذِينَ اتَّبَعُوكَ فَوْقَ الَّذِينَ كَفَرُواْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأَحْكُمُ بَيْنَكُمْ فِيمَا كُنتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ
Artinya:
“(Ingatlah), ketika Allooh berfirman: “Hai ‘Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. Kemudian hanya kepada Aku lah kembalimu, lalu Aku memutuskan diantaramu tentang hal-hal yang selalu kamu berselisih padanya“.
4. Adalah Mu’jizat Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم bahwa apa yang diberitakan beliau صلى الله عليه وسلم betul-betul akan terjadi. Sedang beliau صلى الله عليه وسلم bukanlah tukang sihir atau tukang ramal, melainkan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم benar-benar menerima Wahyu dari Allooh سبحانه وتعالى dan hanya menyampaikan saja kepada umatnya.
5. Merupakan kekuasaan Allooh سبحانه وتعالى. Bahwa Allooh سبحانه وتعالى Maha Kuasa untuk menciptakan dan membuat jalan cerita bahwa Hari Kiamat itu ada yang Sughro (Kiamat Kecil atau mati) dan yang Kubro (Kiamat Besar). Lalu turunnya Imaam Mahdi, Dajjal, ‘Isa عليه السلام, dan seterusnya. Semua itu dihancurkan termasuk Dajjal (yang mengaku dirinya sebagai Tuhan dan mengaku bisa menunjukkan bahwa ini surga dan ini neraka), ternyata Dajjal pun akan dibunuh oleh Imaam Mahdi dan ‘Isa bin Maryam عليه السلام dan itu merupakan pertanda bahwa tidak selayaknya manusia berlaku sombong kepada Allooh سبحانه وتعالى. Karena Allooh سبحانه وتعالى dapat menghinakan orang-orang yang sombong terhadap Syari’at-Nya. Bukan saja di akhirat, melainkan di dunia saja dia sudah dihinakan oleh Allooh سبحانه وتعالى .
Demikianlah tentang turunnya Nabi ‘Isa عليه السلام dan berikutnya insya Allooh kita akan bahas tentang Ya’juj dan Ma’juj dan seterusnya sampai dengan akhir Tanda Hari Kiamat Kubro.

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

KA’BAH BUKAN BERHALA

kabah-poros-bumi-2

KA BAH BUKAN BERHALA
MENGAPA UMMAT ISLAM BERKIBLAT PADA KA’BAH.
Ada banyak pertanyaan ketika seorang muslim yang bertauhid kepada Tuhan dan tidak
menyekutukannya dengan benda apapun ditentang oleh kaum lain.
Pertentangan ini disebabkan acuan muslim yang menolak menyembah berhala namun sholat justru menyembah sebuah rumah batu berbentuk kotak yang disebut Ka’bah.
Tentu bagi sebagian muslim yang belum memiliki iman kuat akan terpancing keragu- raguannya akan kebenaran Islam.
Di sini saya akan menjelaskan perbedaan penyembahan berhala oleh umat lain, baik dalam bentuk pemujaan terhadap patung maupun pemujaan terhadap benda-benda lain yang diyakini merupakan manifestasi Tuhan. Umat Islam diwajibkan bersholat 5 waktu sehari, sholat adalah amalan utama dalam Islam, tidaklah seorang muslim akan ditanya perkara lain di hari kiamat kecuali akan ditanya terlebih dahulu tentang sholatnya. Barangsiapa yang sholatnya baik maka baik pula amalan hidupnya. Tetapi jika sholatnya buruk maka buruklah semua amalannya, jadi percuma jika seorang muslim yang dermawan dan baik hati tapi lalai dalam bersholat.
Kembali pada permasalahan Ka’bah sebagai kiblat umat Islam yang selama ini ‘diserupakan‘ oleh umat lain sebagai bentuk penyembahan terhadap berhala, ternyata merupakan anggapan yang sangat salah.
Dalam pandangan umat lain, Nasrani / Hindu misalnya, penyembahan mereka kepada salib tidak ditujukan kepada patung / salib tersebut tapi salib tersebut merupakan lambang / icon / simbol dari Tuhan mereka yang dihadirkan dalam bentuk fisik. Jadi mereka menyembah benda-benda itu bukanlah pada bendanya, tapi supaya mereka dapat lebih terfokus dalam menyembah Tuhannya. Bukankah sama saja dengan muslim yang sholat menghadap Ka’bah, mereka tidak menyembah Ka’bah tetapi supaya lebih terfokus dalam sholatnya. jadi pada dasarnya, Islam dan non muslim itu sama-sama membutuhkan manifestasi Tuhan dalam bentuk fisik yang dapat kita lihat supaya lebih yakin akan keberadaannya.
Sekali lagi saya ingatkan hal ini merupakan kekeliruan para orientalis dalam memaknai arti Ka’bah bagi seorang muslim. Ka’bah merupakan kiblat umat Islam, yang dimaksud kiblat itu adalah pusat, tetapi apakah pusat ini? Pusat penyembahan paganisme versi muslim? Oh bukan …
Seorang ilmuwan keturunan Palestine bernama Yasin As-Syauk menemukan bahwa Makkah ternyata merupakan poros bumi, dan hendaknya inilah tempat yang berhak menjadi tempat penentuan waktu dunia menggantikan kota Greenwich. Ini memperkuat penemuan-penemuan para Ilmuwan sebelumnya tentang hal serupa.
Bulan April Kemarin bertempat di Doha, Qatar, berlangsung hajatan ilmiah penting bagi dunia Islam. Sejumlah ilmuwan dan ulama Islam berkumpul, mendiskusikan kemungkinan mengalihkan perhitungan waktu yang sudah baku selama ini, dari mengacu pada Greenwich Mean Time (GMT) sebagai meridian nol, berganti menjadikan Makkah sebagai awal mula perhitungan waktu.
Konferensi ilmiah yang dibuka oleh Dr. Yusuf Qaradhawi itu bertajuk: ”Makkah Sebagai Pusat Bumi, Antara Praktik dan Teori”. Selain Yusuf Qaradhawi, hadir pula sebagai pembahas geolog Mesir, Dr. Zaglur Najjar, yang juga dosen ilmu bumi di Wales University, Inggris; dansaintis yang memelopori jam Makkah, Ir Yaseen Shaok.
Terkait Mekah sebagai pusat bumi, DR. Zaglul Najjar, dosen ilmu bumi di Wales University di Inggris mengatakan hal itu memang benar berdasarkan penelitian saintifik yang dilakukan olehDR. Husain Kamaluddin bahwa ternyata Mekah al-Mukarramah memang menjadi titik pusat bumi. Hasil penelitian itu dipublikasikan oleh The Egyptian Scholars of The Sun and Space Research Center yang berpusat di Kairo itu. Penemuan ini sekaligus menggambarkan peta dunia baru, yang dapat menunjukkan arah Mekah dari kota-kota lain di dunia.
Konferensi itu dilangsungkan untuk memperkenalkan Saat Makkah (jam Mekah). Penemu jam MEKAH ini, Yasin a-Shouk, mengatakan, jam Mekah bergerak berlawanan dengan arah jarum jam dalam direksi Thawaf, rotasi keliling Ka’bah. Masihkah ini menjadi sebuah kebetulan lagi bagi para orientalis?
Penemu asal Palestina yang bermarkas di Swiss, mengatakan bahwa penemuannya ditentang orang banyak, dan memakan waktu 4 tahun untukmendapatkan hak paten.
Moderator konferensi itu, Rabaa Hamo, yang juga istri penemu jam itu mengatakan, “Barat memaksakan kepada kami garis Greenwich sebagai patokan waktu.”
Ia berharap bahwa sebuah negara Islam akan mengadopsi proyek itu untuk menguatkan kepercayaan bahwa Makkah adalah pusat dunia, tidak secara teoritis tetapi secara praktis.
Makkah, tempat Ka’bah berada, disimpulkan merupakan ‘pusat bumi‘. Ini sekaligus membuktikan bahwa bumi berkembang dari Makkah. Sebagaimana lazim diketahui, setiap tahun jutaan umat Islam sedunia mendatangi Ka’bah di Makkah untuk melaksanakan haji. Dalam salah satu prosesi thawaf, jutaan umat Islam mengelilingi Ka’bah, dengan arah berlawanan jarum jam. Arah itu bertentangan dengan lazimnya perputaran waktu sesuai perhitungan Greenwich.
Penelitian menggunakan program komputer oleh Hosien, sebelumnya juga pernah dilakukan menggunakan perhitungan matematika sederhana oleh ilmuwan Islam, Abi Fadlallah Al-Emary, yang meninggal pada 749 H. Peta itu kemudian diabadikan di kitabnya Masalik Al Absar Fi Mamalik Al Amsar.
Peta yang melukiskan arah kiblat, Makkah, juga dibuat pemikir Islam, Al-Safaksy (meninggal pada 958 H), menggunakan perhitungan astronomi. Hasil kajian dua ilmuwan itu juga membuktikan bahwa Makkah adalah ‘pusat bumi’.
Kembali ke konferensi di Doha, seperti dilansir BBC, salah satu pembahas menjelaskan, Makkah berada di titik lintang yang persis lurus dengan titik magnetik di Kutub Utara.
Kondisi ini tak dimiliki oleh kota-kota lain, bahkan Greenwich yang ditetapkan sebagai meridian nol.
Apalagi, tutur geolog tersebut, penetapan Greenwich sebagai mula perhitungan waktu dilakukan oleh Inggris yang kala itu merupakan kekuatan kolonial super power dunia. Karenanya, sangat wajar, jika Makkah ditetapkan sebagai titik nol meridian, menggantikan Greenwich.
Sementara itu, ulama Dr. Syeikh Yusuf Al-Qaradawy mengatakan, sains modern akhirnya menunjukkan bukti bahwa Makkah berada di pusat bumi yang sebenarnya, yang sekaligus merupakan bukti tentang keagungan arah Kiblat.
Konperensi di Qatar itu juga membahas temuan seorang Muslim Perancis yang disebut arloji Makkah. Arloji itu dilaporkan berputar berlawanan dengan arah jarum jam — yang biasanya berputar ke kanan — dan juga bisa menunjukkan arah Kiblat dari tempat manapun di dunia.
Konperensi Qatar merupakan bagian dari upaya dunia Islam untuk mencari bukti-bukti mengenai sains dari kitab suci Al-Quran.
Kecenderungan ini disebut Ijaz Al-Quran yang artinya adalah ‘keajabaiban kitab suci’.
Pembuktian bahwa Kabah merupakan poros bumi dapat kita buktikan dengan adanya zero magnetism area pada kutub utara dan selatan bumi ini. Di tempat itulah sebuah kompas tidak akan menunjukkan arah utara karena telah berada di zero magnetism area.
Bagaimana dengan Ka’bah? Seseorang yang tinggal lama di Makkah dan senang melakukan thawaf(mengelilingi kabah) akan lebih sehat, karena tidak banyak dipengaruhi oleh gaya gravitasi bumi.
Jadi sholat yang menghadap kiblat ini bukanlah untuk menyembah Ka’bahnya atau untuk memanifestasikan bentuk fisik Tuhan tetapi karena di sanalah letak poros bumi. Tempat dimana bumi berpusat dan umat Islam menjadikannya sebagai acuan tempat untuk menentukan arah sholatnya di seluruh dunia. Jadi ada persamaan visi dalam sholat, dalam konteks menyatukan kekuatan umat.
PENEMUAN DARI LUAR ANGKASA
Penemuan para astronot bahwa bumi mengeluarkan semacam radiasi yang bersifat infinity (tidak berujung) dari salah satu bagian tubuhnya dan pusat dari radiasi
itu adalah Ka’bah. Radiasi ini bahkan tertangkap kamera dari pengambilan gambar di planet Mars. Ilmuwan muslim yakin ini lah radiasi yang menghubungkan Ka’bah
dunia di Makkah dengan Ka’bah akhirat.
Nabi Muhammad pernah menyatakan dalam sebuah hadits
“Hajar Aswad itu diturunkan dari surga, warnanya lebih putih daripada susu, dan dosa-dosa anak cucu Adamlah yang menjadikannya hitam”. ( Jami al-Tirmidzi al-Hajj (877) )
Di sebuah musium di negara Inggris, ada tiga buah potongan batu tersebut. Hajar Aswad (dari Ka’Bah) dan pihak musium juga mengatakan bahwa bongkahan batu-batu tersebut bukan berasal dari sistem tata surya kita.
Jika anda seorang muslim dan ditanyakan mengapa anda menyembah Ka’bah, anda sekarang dapat menambahkan penemuan ilmuwan Perancis tersebut untuk lebih menguatkan iman anda bahwa Ka’bah bukanlah manifestasi Tuhan yang diberhalakan oleh umat muslim, tetapi karena ia adalah kiblat / poros dari bumi.
Dari Ali rhodiyalloohu ‘anhu; Nabi Sholalloohu ‘alaihi wassalam bersabda, “Allah berfirman; apabila Aku menghendaki kerusakan dunia (kiamat) maka Aku mulai dengan rumahku (Ka’bah), lalu dunia mengiringinya.”

Dalil ini menyatakan bahwa Ka’bah akan menjadi tempat pertama yang akan hancur pada hari kiamat adalah kota Makkah, lalu menyebar keseluruh dunia, seperti putaran
roda yang dihantam porosnya, dunia ini akan hancur berantakan.
Pakar Islam, Zaghloul al-Najjar, mengatakan, Barat tidak suka bukti-bukti sains bahwa “Makkah terletak pada pusat planet kita, tapi kami akan tetap melanjutkan riset kami untuk mencari kebenaran”.
Sumber:
http://anotherorion.multiply.com/journal/item/51?&item_id=51&view:replies=reverse

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

PENYEBAB MASUK NERAKA 1

penyebab-masuk-neraka-1

Penyebab Masuk Neraka (Bagian-1)
6 OKTOBER 2012
tags: ahlussunnah, Akherat, aqidah, islam, Penyebab Masuk Neraka
(Transkrip Ceramah AQI 080609)
PENYEBAB MASUK NERAKA (BAGIAN-1)
Oleh: Ustadz Achmad Rofi’i, Lc.

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allooh سبحانه وتعالى,
Bahasan kita kali ini adalah berkenaan dengan Penyebab Masuk Neraka atau perkara-perkara yang menyebabkan seseorang masuk ke dalam Neraka, atau Allooh سبحانه وتعالى campakkan ke dalam murka-Nya. Perkara-perkara yang demikian itu banyak sekali. Akan tetapi bila dikaji secara umuam, maka penyebab itu ada yang mengakibatkan seseorang dapat menjadi abadi di dalam Neraka dan ada pula penyebabyang mengakibatkan seseorang itu tidak abadi di dalam Neraka.
Penyebab seseorang masuk neraka abadi (selamanya):
1. Kufur Akbar,
2. Nifaaq Akbar,
3. Syirik Akbar,
4. Riddah (Murtad).
Kufur Akbar: Apabila seseorang melakukan Kufur Akbar, dan ia mati dalam keadaan demikian (tidak bertaubat sebelum matinya) maka ia akan abadi (selamanya) berada di dalam Neraka.
Nifaaq Akbar, adalah sifat atau perilaku seseorang. Orangnya sendiri disebut Munaafiq.
Nifaaq ada dua macam: Nifaaq Akbar (Nifaaq Besar) dan Nifaaq Asghor (Nifaaq Kecil). Contoh seseorang yang melakukan Nifaaq Akbar adalah: ‘Abdullooh bin Ubay bin Saluul(tokoh Munaafiq pada masa Rosuululloohصلى الله عليه وسلم di Madinah).
Bahasan tentang Nifaaq Akbar ini sangat realistis, karena tidak mustahil ada orang yang mengaku sebagai Muslim, tetapi sebenarnya ia sudah murtad. Ia hidup ditengah-tengah kaum muslimin, ia anak-turunannya orang muslim, tetapi ia sebenarnya telah kaafir dan akan menjadi penghuni Neraka selamanya apabila mati dalam keadaan demikian.
Syirik:Apabila seseorang mati dalam keadaan syirik dan syiriknya itu adalah Syirik Akbar, maka menurut firman Allooh سبحانه وتعالى ia tidak akan diampuni-Nya, artinya ia akan berada dalam api Neraka selama-lamanya. Na’uudzu billaahi min dzaalik.
Akibat Syrik Akbar ini adalah sama dengan Kufur Akbar, dan sama dengan Nifaaq Akbar. Bahkan inipun termasuk realistis ada dalam masyarakat dan perlu dibahas pula. Oleh karena itu perlu digaris bawahi bahwa membahas perkara ‘Aqiidah itu adalah membahas perkara yang sangat relevan dan aktual karena ia bergesekan dengan kehidupan sehari-hari dalam masyarakat kita.
Riddahatau Murtad : Pada hakekatnya adalah sama dengan Kufur Akbar. Karena apabila seseorang itu melakukan Riddah (Murtad), maka ia bukanlah seorang muslim lagi, ia adalah tergolong orang kaafir (Kufur Akbar). Dan jika orang yang demikian itu mati, maka ia berhak mendapatkan adzab Allooh سبحانه وتعالى selama-lamanya. Inipun dalam masyarakat kita sangat realistis. Banyak amalan-amalan yang dilakukan oleh kaum Muslimin, jika itu dilakukan sebetulnya ia sudah murtad dari Islam. Tetapi karena kita tidak tahu, maka orang tersebut kita hukumi sebagai Muslim.
Penyebab seseorang masuk Neraka tidak abadi :
Penyebab yang dilakukan oleh seseorang tetapi ia masih memiliki harapan terhadap ampunan Allooh سبحانه وتعالى. Bahkan sesuai dengan kehendak Allooh سبحانه وتعالى, orang tersebut akan berkesempatan untuk mendapatkan Asy Syafaa’ah bahkan mendapatkan keringanan adzab, bahkan mendapatkan selamat, dan bahkan terbebas dari api Neraka. Walaupun sekalipun mungkin orang tersebut merupakan orang yang terakhir masuk ke dalam Surga Allooh سبحانه وتعالى. Inilah yang disebut dengan Fusuuq (orangnya sendiri disebut Faasiq) dan ‘Ish-yan(orangnya sendiri disebut ‘Aashyi). Hal ini diberitakan di dalam Al Qur’an.
Fusuq dan ‘Ish-yan ada dua :
1. Pelaku dosa besar. Orang yang melakukan dosa besar walaupun hanya satu kali maka ia sudah berhak menyandang julukan Faasiq. Sebagai contohnya adalah seseorang minum khomer; walaupun sekali saja ia minum khomer, maka orang tersebut adalah Faasiqun. Bila seseorang berzina, maka orang tersebut sudah mendapat julukan Faasiq, dan seterusnya. Perkara lain yang termasuk dosa besar antara lain adalah mencuri, korupsi, membunuh, dan sebagainya.
2. Terus-menerus (sering) melakukan dosa-dosa kecil. Karena menganggap ringan, ia melakukan dosa-dosa kecil setiap hari. Katakanlah saja dalam sehari ia melakukan dosa-dosa kecil misalkan sebanyak 5 kali, maka dalam setahun adalah sama dengan 360 X 5 dosa kecil = 1.800 kali dosa kecil. Dan jika dikalikan dengan jumlah umurnya selama hidupnya, misalnya ia berumur 60 tahun, maka sejak usia efektif (atau sejak aqil-baligh) dapat dikatakan adalah 45 tahun; maka perbuatan dosa kecilnya adalah 45 X 1.800 = 81.000 kali dosa kecil. Dengan dosa-dosa kecil yang sebanyak itu, ia berhak masuk ke dalam Neraka.
Maka kita perlu kiat agar kita tidak terjerembab dalam perkara-perkara yang menyebab-kan kita masuk Neraka yang abadi maupun tidak abadi. Oleh karena itu hendaknya kaum Muslimin memiliki tekad bulat dan kemauan yang keras untuk menghindarkan dirinya dari adzab Allooh سبحانه وتعالى. Jika kita tahu sesuatu perkara itu menyebabkan dosa besar atau dosa kecil, maka sesungguhnya kita harus tahu pula cara untuk menghapus dosa baik dosa yang besar maupun yang kecil tersebut, dan bagaimana pula cara menyiasati agar diri kita tidak dekat atau terperosok kedalam dosa.
Terdapat sebuah Kitab yang ditulis oleh ‘Ulama Ahlus Sunnah yakni Al Imaam Syamsuddiin Adz Dzahabi Asy Syafi’iy رحمه الله yang berjudul: “Al Kabaa-ir” (Dosa-Dosa Besar). Didalam Kitab tersebut dibahas bahwa dosa besar itu tidak kurang dari 75 (tujuh puluh lima) atau lebih.
Begitu banyak dalil dan ayat yang menunjukkan kepada kita bahwa ternyata tidak sedikit perkara-perkara yang dapat menyebabkan seseorang masuk ke dalam api Neraka.
Sebagai contoh adalah Hadits-Hadits berikut ini:
Dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Al Imaam Ahmad no: 18366, menurut Syaikh Syu’aib Al Arnaa’uth Sanad Hadits ini Shohiih memenuhi syarat Shohiih Al Imaam Muslim, dari Shohabat ‘Iyadh bin Himar رضي الله عنه, bahwa:
أهل الجنة ثلاثة ذو سلطان مقسط مصدق موقن ورجل رحيم رقيق القلب بكل ذي قربى ومسلم ورجل عفيف فقير متصدق
Artinya:
“Penghuni Surga itu tiga: Penguasa yang adil yang benar dan yakin, dan orang yang penyayang, berhati lembut terhadap kerabat, dan muslim yang bersih hati, miskin dan bershodaqoh.”
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al Imaam Ibnu Hibban no: 7482, menurut Syaikh Syu’aib Al Arnaa’uth Sanad Hadits ini Shohiih memenuhi syarat Shohiih Al Imaam Muslim, dari salah seorang Shohabat bernama ‘Iyadh Ibnu Himaar رضي الله عنه, bahwa Rosuululloohصلى الله عليه وسلم bersabda :
أهل النار خمسة : الضعيف الذي لا يؤبه له وهو فيكم تبع لا يبغون أهلا ولا مالا ) قلت : ويكون ذلك يا أبا عبدالله ؟ قال : نعم والله لقد أدركتهم في الجاهلية وإن الرجل ليرعى على الحي ما به إلا وليدتهم يطؤها ( ورجل لا يصبح ولا يمسي إلا وهو يخادعك عن أهلك ومالك ورجدل لا يخفى عليه شيء إلا خانه وإن دق وذكر الكذب وذكر البخل
Artinya:
“Penghuni Neraka ada lima:
1. Orang lemah yang tidak berakal, ikut-ikutan pada kalian, sedangkan mereka tidak mencari keluarga dan juga harta
2. Orang yang tidak pagi, tidak sore senantiasa menipumu berkenaan dengan keluargamu
3. Orang yang tidak dapat disembunyikan lagi bahwa dia adalah Pengkhianat
4. Berdusta
5. Kikir.”
Yang dimaksud dengan “Penghuni Surga ada tiga, dan penghuni Neraka ada lima” dalam Hadits diatas itu bukanlah bermakna membatasi, tetapi hal itu adalah untuk menunjukkan bahwa penghuni Neraka adalah lebih banyak daripada penghuni Surga.
Penghuni Neraka itu ada lima kelompok, diantaranya adalah :
– Orang yang lemah dan tidak berakal, atau tidak punya harta. Orang yang tidak dianggap, tidak dihiraukan, serta tidak berarti. Hanya sebagai orang yang ikut-ikutan saja, seolah-olah ia tidak memiliki tujuan dalam hidupnya tersebut.
– Orang pengkhianat. Orang ini bersifat rakus, meskipun dalam perkara yang lembut (daqqo) sekalipun, ia masih berkhianat dalam. Apabila diberi kepercayaan, ia berkhianat walau dalam perkara yang kecil sekalipun. Ia bersikap tamak untuk kepentingan dirinya sendiri. Orang yang demikian itu adalah calon penghuni Neraka. Maka berhati-hatilah wahai kaum Muslimin. Di zaman sekarang terdapat banyak sekali orang yang minta diamanati suatu jabatan (minta dipilih untuk mengemban suatu amanah). Namun apabila ia sudah terpilih maka ia bersikap tidak amanah. Orang yang demikian itu adalah calon penghuni Neraka.
– Seseorang yang pagi, sore dan malam harinya, selalu berkhianat terhadap keluarga dan hartanya. Ia bersikap bakhil (kikir), pendusta, akhlak, perangai dan perilakunya buruk.
Dalam Hadits riwayat Al Imaam Al Bukhoory no: 4918 dan Al Imaam Muslim no: 2853, dari Shohabat Haaritsah bin Wahab Al Khudzaa’i رضي الله عنه, bahwa Rosuululloohصلى الله عليه وسلم bersabda :
أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ الْجَنَّةِ كُلُّ ضَعِيفٍ مُتَضَعِّفٍ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللهِ لأَبَرَّهُ أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ النَّارِ كُلُّ عُتُلٍّ جَوَّاظٍ مُسْتَكْبِرٍ
Artinya:
“Maukah aku beritahu kalian tentang Penghuni Surga? Setiap orang lemah yang diperlakukan lemah. Jika dia bersumpah terhadap Allooh, niscaya Allooh akan memenuhinya. Tidakkah aku beritahu kalian tentang Penghuni Neraka? Yaitu setiap orang yang angkuh, sombong dan membesarkan diri.”
Adapun dalil-dalil yang berasal dari ayat-ayat Al Qur’an adalah sebagai berikut:
Sebagaimana Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam QS. Ghofir / Al Mu’min (40) ayat 10-12 serta ayat 69 – 76 :
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يُنَادَوْنَ لَمَقْتُ اللَّهِ أَكْبَرُ مِن مَّقْتِكُمْ أَنفُسَكُمْ إِذْ تُدْعَوْنَ إِلَى الْإِيمَانِ فَتَكْفُرُونَ ﴿١٠﴾ قَالُوا رَبَّنَا أَمَتَّنَا اثْنَتَيْنِ وَأَحْيَيْتَنَا اثْنَتَيْنِ فَاعْتَرَفْنَا بِذُنُوبِنَا فَهَلْ إِلَى خُرُوجٍ مِّن سَبِيلٍ ﴿١١﴾ ذَلِكُم بِأَنَّهُ إِذَا دُعِيَ اللَّهُ وَحْدَهُ كَفَرْتُمْ وَإِن يُشْرَكْ بِهِ تُؤْمِنُوا فَالْحُكْمُ لِلَّهِ الْعَلِيِّ الْكَبِيرِ ﴿١٢﴾
Artinya:
(10) “Sesungguhnya orang-orang yang kafir diserukan kepada mereka (pada hari kiamat):”Sesungguhnya kebencian Allooh (kepadamu) lebih besar daripada kebencianmu kepada dirimu sendiri karena kamu diseru untuk beriman lalu kamu kafir“
(11) Mereka menjawab: “Ya Robb kami, Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan kami dua kali (pula), lalu kami mengakui dosa-dosa kami. Maka adakah sesuatu jalan (bagi kami) untuk keluar (dari neraka)?“
(12) Yang demikian itu adalah karena kamu kafir apabila Allooh saja yang disembah. Dan kamu percaya apabila Allooh dipersekutukan, maka putusan (sekarang ini) adalah pada Allooh Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.”
Jadi pada ayat (10) diatas menjelaskan betapa orang-orang yang kaafir kepada Allooh سبحانه وتعالى, mereka itu kelak di hari kiamat akan menyesal atas kekufurannya, tetapi dikala itu penyesalan tersebut tiadalah berguna.
Lalu pada ayat (12)-nya dijelaskan betapa Allooh سبحانه وتعالى memberikan gambaran kepada kita bahwa apabila seseorang diseru kepada iman lalu ia memilih kaafir, maka orang-orang yang demikian itulah yang kemudian disebut dengan Kaafirun, dan orang-orang itu akan masuk ke dalam api Neraka.
Allooh سبحانه وتعالى juga berfirman dalam QS. Ghofir / Al Mu’min (40) ayat 69 – 76 sebagai berikut:
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يُجَادِلُونَ فِي آيَاتِ اللَّهِ أَنَّى يُصْرَفُونَ ﴿٦٩﴾ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِالْكِتَابِ وَبِمَا أَرْسَلْنَا بِهِ رُسُلَنَا فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ ﴿٧٠﴾ إِذِ الْأَغْلَالُ فِي أَعْنَاقِهِمْ وَالسَّلَاسِلُ يُسْحَبُونَ ﴿٧١﴾ فِي الْحَمِيمِ ثُمَّ فِي النَّارِ يُسْجَرُونَ ﴿٧٢﴾ ثُمَّ قِيلَ لَهُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ تُشْرِكُونَ ﴿٧٣﴾ مِن دُونِ اللَّهِ قَالُوا ضَلُّوا عَنَّا بَل لَّمْ نَكُن نَّدْعُو مِن قَبْلُ شَيْئاً كَذَلِكَ يُضِلُّ اللَّهُ الْكَافِرِينَ ﴿٧٤﴾ ذَلِكُم بِمَا كُنتُمْ تَفْرَحُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَبِمَا كُنتُمْ تَمْرَحُونَ ﴿٧٥﴾ ادْخُلُوا أَبْوَابَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا فَبِئْسَ مَثْوَى الْمُتَكَبِّرِينَ ﴿٧٦﴾
Artinya:
(69) “Apakah kamu tidak melihat kepada orang-orang yang membantah ayat-ayat Allooh? Bagaimanakah mereka dapat dipalingkan?
(70) (Yaitu) orang-orang yang mendustakan Al Kitab (Al Qur’an) dan wahyu yang dibawa oleh rosuul-rosuul Kami yang telah Kami utus. Kelak mereka akan mengetahui,
(71) ketika belenggu dan rantai dipasang di leher mereka, seraya mereka diseret,
(72) ke dalam air yang sangat panas, kemudian mereka dibakar dalam api,
(73) kemudian dikatakan kepada mereka: “Manakah berhala-berhala yang selalu kamu persekutukan
(74) (yang kamu sembah) selain Allooh?” Mereka menjawab: “Mereka telah hilang lenyap dari kami, bahkan kami dahulu tiada pernah menyembah sesuatu”. Seperti demikianlah Allooh menyesatkan orang-orang kafir.
(75) Yang demikian itu disebabkan karena kamu bersuka ria di muka bumi dengan tidak benar dan karena kamu selalu bersuka ria (dalam kema’shiyatan).
(76) (Dikatakan kepada mereka): “Masuklah kamu ke pintu-pintu neraka Jahannam, dan kamu kekal di dalamnya. Maka itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang sombong“.”
Didalam ayat (69) diatas dapatlah diambil pelajaran bahwa ada orang yang kerjanya menentang, mendebat dan men-jiddal terhadap ayat-ayat Allooh سبحانه وتعالى. Jadi sebagaimana disebutkan dalam ayat diatas, bahwa ada ditengah-tengah masyarakat kita ini yang sebetulnya ia itu orang-orang kaafir, tetapi mereka mengaku dirinya Muslim. Yaitu antara lain adalah orang-orang yang mendebat (menentang) ayat-ayat Allooh سبحانه وتعالى. Apabila ayat-ayat tersebut diajarkan, disampaikan, diserukan kepada mereka, namun mereka itu justru mendebatnya.
Sebagai contoh adalah di zaman sekarang ini ada sebagian kalangan yang mengatakan bahwa: “Ayat-ayat AlQur’an itu ada yang harus dianulir atau diperbaharui karena sudah tidak sesuai lagi dengan zaman sekarang.”
Nah, orang-orang yang berani mengeluarkan pernyataan seperti itu dengan penuh keyakinan dalam dirinya, maka mereka itu bukanlah Muslim lagi (walaupun ia menyatakan dirinya Muslim sekalipun), melainkan ia telah kaafir, dan murtad, keluar dari Islam.
Ketika ayat-ayat Allooh سبحانه وتعالى itu ditentang, dibantah dan dijadikan ajang debat,maka sikap yang demikian itu bisa mengakibatkan kekufuran. Dan yang menentang itu tidak sedikit diantara orang-orang yang mengaku dirinya sebagai Muslim. Padahal yang demikian itu bisa menyebabkan ia murtad, keluar dari Al Islam.
Kemudian didalam ayat (70)-nya Allooh سبحانه وتعالى menjelaskan bahwa Al Qur’an telah diturunkan kepada Rosuul-Nya صلى الله عليه وسلم untuk disampaikan kepada ummat manusia, juga wahyu telah dibawa melalui para rosuul, tetapi sikap orang-orang kaafir itu adalah mendustakan.
Sebagai contohnya adalah orang-orang yang mengubah-ubah hukum Allooh سبحانه وتعالى, dengan menjadikan Hak Waris laki-laki dan perempuan harus sama karena katanya itu emansipasi wanita, atau membuat peraturan bahwa wanita boleh mentalak laki-laki, atau berbagai perundang-undangan buatan manusia yang dimaksudkan untuk mengganti hukum Allooh سبحانه وتعالى, maka yang demikian itu sama dengan mendustakan Al Qur’an. Dan hal ini terjadi di tengah-tengah masyarakat. Mereka mengaku dirinya Muslim, padahal sesungguhnya mereka itu telah murtad.Orang yang ragu terhadap Al Qur’an, berarti ia adalah kaafir. Orang yang menolak dan mengatakan bahwa Al Qur’an tidak relevan lagi dan perlu diubah atau disesuaikan dengan zaman, maka orang itu adalah kaafir.
Perhatikan pula firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. Al Bayyinah (98) ayat 6 :
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُوْلَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ
Artinya:
“Sesungguhnya orang-orang kaafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.”
Berarti orang-orang kafir, orang-orang Ahlul Kitab, serta orang-orang musyrikin tempat mereka itu adalah didalam Neraka. Dan Neraka itu adalah kekal (selama-lamanya) bagi mereka.
Dengan demikian kekufuran itu telah memberikan gambaran yang sangat buruk, yaitu jika seseorang melakukan kekufuran maka ia akan masuk ke dalam Jahannam.
Pernyataan Syaikh Haafidz Hakami رحمه الله berkenaan dengan kekufuran adalah sebagai berikut:
“Kufur adalah kebalikan dari Iman. Bila seseorang itu tidak beriman, berarti ia kufur. Sebagaimana Iman itu memiliki cabang, maka Kufur pun juga memiliki cabang. Hukum-asal dari Iman ituadalah At Tasydiiq (membenarkan), tunduk-patuh serta taat yang berkonsekuensi tuntutan kepatuhan dan ketaatan kepada Allooh سبحانه وتعالى.”
Dengan kata lain, Iman itu diawali dengan At-Tasydiiq, kemudian diwujudkan dengan ketundukan dan kepatuhan serta ketaatan seseorang yang beriman itu kepada Allooh سبحانه وتعالى.
Kemudian dijelaskan pula oleh beliau رحمه الله: “Hukum-asal dari Kufur adalah Al Juhud(menentang), membangkang yang berkonsekuensi pada merasa sombong dan ‘Ish-yan(ma’shiyat) kepada Allooh سبحانه وتعالى.”
Dengan demikian apabila diperhatikan maka Kufur itu diawali dengan penolakan dan kemudian diwujudkan dengan mengaku bahwa dirinya itu lebih baik, lebih besar, sombong dan berma’shiyat kepada Allooh سبحانه وتعالى.
Selanjutnya kata beliau رحمه الله: “Semua jenis ketaatan adalah bagian dari cabang keimanan. Banyak dalil dalam AlQur’an maupun Al Hadits yang menjelaskan bahwa semua ketaatan adalah Iman. Sedangkan ma’shiyat dan segala jenis kema’shiyatan adalah bagian dari cabang kekufuran. Dan di dalam banyak nash baik Al Qur’an maupun Al Hadits bahwakema’shiyatan itu disebut Kufur.”
Syaikh Haafidz Hakami رحمه الله juga menjelaskan sebagai berikut: “Kalau demikian anda tahu bahwa kufur itu ada dua. Pertama adalah kufur yang mengeluarkan seseorang dari iman secara menyeluruh yaitu Kufur I’tiqodi, yaitu keyakinan yang meniadakan pernyataan hati maupun amalan. Dan kedua adalah Kufur Asghor (Kufur Kecil).”
Selanjutnya beliau رحمه الله mengatakan: “Bagaimana kufur itu terjadi secara menyeluruh dalam diri seseorang. Bahwasanya Iman itu terdiri dari perkataan dan perbuatan. Yaituperkataan hati dan mulut,serta perbuatan lisan dan tubuh. Perkatan hati adalah membenarkan, perkatan mulut adalah menyatakan dengan pernyataan ke-Islaman melalui mulutnya. Dan amalan hati adalah niat dan ikhlas, sedangkan perbuatan anggota tubuh kita adalah kepatuhan dengan bentuk seluruh ketaatan.
Maka jika hilang seluruh empat perkara tersebut, berarti hilang pula ke-Imanan seseorang itu secara menyeluruh. Jika dasar-dasar ke-Imanan yang harus diyakini oleh seseorang tidak ada dalam diri orang tersebut, maka orang itu menjadi kaafir. Dan tidak semestinya semua perkara harus tidak ada dalam diri seseorang. Satu perkara saja dari sekian banyak Syari’at dalam diri seseorang itu tidak ada, maka orang itu pun akan menjadi kaafir. Sebagaimana Khalifah Abubakar As Siddiiq رضي الله عنه memerangi orang yang murtad, karena mereka menolak membayar zakat.”
Dengan demikian agar kita dapat memahami perkara ini secara mendalam maka insya Alloohakan kita bahas tentang apa itu Kufur, apa penyebabnya, apa saja jenisnya, termasuk hukuman apa yang diterima oleh orang-orang Kaafir, baik di dunia maupun di Akhirat.
Nifaaq adalah juga menjadi penyebab seseorang masuk ke dalam api Neraka selama-lamanya. Hal ini adalah yang sebagaimana Allooh سبحانه وتعالى firmankan dalam QS. AT Taubah (9) ayat 68 :
وَعَدَ الله الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْكُفَّارَ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا هِيَ حَسْبُهُمْ وَلَعَنَهُمُ اللّهُ وَلَهُمْ عَذَابٌ مُّقِيمٌ
Artinya:
“Allooh mengancam orang-orang munaafiq laki-laki dan perempuan dan orang-orang kaafir dengan neraka Jahannam. Mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka; dan Allooh mela`nati mereka; dan bagi mereka azab yang kekal.”
Juga ancaman-Nya dalam QS. An Nisaa’ (4) ayat 145 :
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَن تَجِدَ لَهُمْ نَصِيراً
Artinya:
“Sesungguhnya orang-orang munaafiq itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka.”
Dari dalil-dalil tersebut diatas dapatlah diambil pelajaran bahwa ada perkara-perkara yang menyebabkan seseorang itu menjadi kaafir. Dia layak dan patut untuk menjadi Ahlun Naar (penghuni Neraka). Perkara-perkara itu adalah Kufur dan Nifaaq.
Ada pula suatu perkara yang pelu kita pahami bahwa seseorang yang akan menjadi Ahlun Naaritu ternyata berpisah dari Ahlus Sunnah wal Jamaa’ah, yaitu jika orang itu tidak meyakini kebenaran Ahlus Sunnah wal Jamaa’ah dan jika orang itu keluar dari Manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaa’ah, maka mereka akan menjadi Ahlun Naar (Penghuni neraka), atau terancam menjadi penghuni Neraka.
Perhatikanlah Hadits-Hadits berikut ini:
Pertama,adalah Hadits yang diriwayatkan oleh Al Imaam At Turmudzy no: 2641, dari Shohabat ‘Abdullooh bin Yaziid dari ‘Abdullooh bin ‘Amr رضي الله عنهما, berkata bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
ليأتين على أمتي ما أتى على بني إسرائيل حذو النعل بالنعل حتى إن كان منهم من أتى أمه علانية لكان في أمتي من يصنع ذلك وإن بني إسرائيل تفرقت على ثنتين وسبعين ملة وتفترق أمتي على ثلاث وسبعين ملة كلهم في النار إلا ملة واحدة قالوا ومن هي يا رسول الله قال ما أنا عليه وأصحابي
Artinya:
“Sungguh akan datang pada ummatku apa yang dialami oleh Bani Isroo’iil, bagaikan sepasang sandal, sampai-sampai jika diantara mereka ada yang berzina dengan ibunya terang-terangan, niscaya ada diantara ummatku yang melakukannya. Sesungguhnya Bani Isroo’iil terpecah menjadi 72 golongan, dan akan terpecah ummatku menjadi 73 golongan, semuanya didalam Neraka kecuali satu golongan.” Lalu para Shohabat bertanya: “Wahai Rosuulullooh, siapa dia?” Beliau menjawab, “Yaitu mereka yang berada pada apa yang telah ditempuh olehku dan oleh Shohabatku.”
Dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Al Imaam Ibnu Maajah no: 3992, di-shohiihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany, dari Shohabat ‘Auf bin Maalik رضي الله عنه, bahwa Rosuululloohصلى الله عليه وسلم bersabda:
افْتَرَقَتِ الْيَهُودُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِينَ فِرْقَةً ، فَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ ، وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ ، وَافْتَرَقَتِ النَّصَارَى عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً ، فَإِحْدَى وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ ، وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ ، وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَتَفْتَرِقَنَّ أُمَّتِي عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً ، وَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ ، وَثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ ، قِيلَ : يَا رَسُولَ اللهِ ، مَنْ هُمْ ؟ قَالَ : الْجَمَاعَةُ
Artinya:
“Bahwa Yahudi terpecah menjadi 71 golongan, satu golongan dalam surga dan 70 golongan dalam neraka. Nashoro terpecah menjadi 72 golongan, 71 golongan dalam neraka dan yang satu golongan masuk surga. Demi yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, sungguh ummatku akan terpecah menjadi 73 golongan. Satu golongan dalam surga dan 72 golongan di dalam neraka.”
Shohabat bertanya:“Ya Rosuulullooh, siapakah mereka (– satu golongan yang masuk surga itu –) ?”
Beliau صلى الله عليه وسلم menjawab:“Mereka adalah Al Jamaa’ah (– maksudnya: Ahlus Sunnah Wal Jamaa’ah – pent.).”
Jadi barangsiapa yang mengikuti ajaran Rosuululloohصلى الله عليه وسلم dengan berpegang teguh pada Al Qur’an dan Hadits, diatas pemahaman As Salafus Shoolih (yaitu pemahaman para Shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم) atau yang dikenal dengan julukan Ahlus Sunnah Wal Jamaa’ah,maka mereka itu akan menjadi Ahlul Jannah (Penghuni Surga). Tetapi kalau seseorang memisahkan diri dari manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaa’ah, yaitu mereka yang Ahlul Bid’ah (melakukan ke-Bid’ah-an), atau Ahlul Furqoh, maka hal itu dapat menyebabkan mereka masuk kedalam Neraka.
Na’uudzu billaahi min dzaalik !
Dengan demikian, jika kita ingin masuk kedalam Surga, maka carilah dan usahakan apa-apa yang dikerjakan oleh golongan Ahlussunnah wal Jamaa’ah. Hendaknya dipahami, didalami serta harus tetap berpegang-teguh diatasnya sampai mati, karena itulah jalan menuju surga Allooh سبحانه وتعالى.
Namun, tentu tentang “Ahlus Sunnah wal Jamaa’ah” ini pun harus kita bahas. Karena banyak orang mengaku dirinya adalah Ahlus Sunnah wal Jamaa’ah, padahal ia adalah Ahlul Bid’ah dan bukanlah Ahlus Sunnah wal Jamaa’ah yang semestinya. Bahkan diantara mereka (Ahlul Bid’ah) ini ada yang berani mem-vonis bahwa bila ada orang yang tidak sejalan dengannya maka ia adalah Komunis. Komunis adalah salah dan Ahlul Bid’ah juga salah. Kedua-duanya salah. Oleh karena itu setiap diri kita harus paham terlebih dahulu apa itu “Ahlus Sunnah wal Jamaa’ah”. Jangan sampai kita tidak paham. Harus dipahami apa saja yang menjadi kriteriaAhlus Sunnah wal Jamaa’ah. Siapapun boleh mengaku dirinya adalah Ahlus Sunnah wal Jamaa’ah, tetapi kalau tidak sesuai dengan kriterianya, maka ia tidak berhak menyandang julukan Ahlus Sunnah wal Jamaa’ah.
Kriteria Ahlus Sunnah wal Jamaa’ah itu seperti apa, bukanlah wewenang individu atau suatu lembaga ataupun suatu yayasan / organisasi untuk menetapkan kriterianya. Namun yang berhak menetapkan kriterianya adalah Allooh سبحانه وتعالى dan Rosuul-Nya صلى الله عليه وسلم.
Karena sebagaimana dalam Hadits diatas dijelaskan bahwa berdasarkan sabda Rosuululloohصلى الله عليه وسلم tentang Ahlus Sunnah wal Jamaa’ah itu adalah:
ما أنا عليه اليوم وأصحابي
(Ma ana ‘alaihil yauma wa ashaabi)
Yang maksudnya adalah orang-orang yang mengikuti Sunnah Rosuululloohصلى الله عليه وسلم dan apa-apa yang dipahami oleh para Shohabat beliau صلى الله عليه وسلم.
Oleh karena itu perlu kita kaji suatu bahasan tentang: “Memahami Ahlus Sunnah wal Jamaa’ah menurut versi Ahlus Sunnah wal Jamaa’ah.”
(silakan baca ceramah “Ahlus Sunnah Wal Jamaa’ah menurut Ahlus Sunnah Wal Jamaa’ah” yang pernah dimuat pada Blog ini, atau klik:
http://ustadzrofii.wordpress.com/2010/12/14/ahlus-sunnah-wal-jamaaah-menurut-ahlus-sunnah-wal-jamaaah/)
Jangan sampai memahami Ahlus Sunnah wal Jamaa’ah tetapi menurut versi Ahlul Bid’ah, karena tentu tidak akan menemukan kebenaran didalamnya.
Kemudian yang juga dapat menyebabkan seseorang itu masuk kedalam Neraka adalah Berdusta atas nama Rosuululloohصلى الله عليه وسلم. Termasuk kategori ini adalah menyampaikan Hadits-Hadits Palsu (tanpa menjelaskan tentang kepalsuan Hadits tersebut kepada ummat).
Sebagaimana dalam Hadits Riwayat Al Imaam Muslim no: 1, dari Shohabat Al Mughiiroh bin Syu’bah رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
مَنْ حَدَّثَ عَنِّى بِحَدِيثٍ يُرَى أَنَّهُ كَذِبٌ فَهُوَ أَحَدُ الْكَاذِبِينَ
Artinya:
“Barangsiapa meriwayatkan sebuah Hadits dariku, dilihat ternyata hadits itu dusta, maka sesungguhnya ia termasuk salah satu dari para pendusta.”
Kemudian perhatikanlah ancaman yang diberikan terhadap orang-orang yang berdusta atas nama Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم tersebut, sebagaimana hal itu dijelaskan dalam Hadits shohiihyang diriwayatkan oleh Al Imaam Al Bukhoory no: 110 dan Al Imaam Muslim no: 4, dari Shohabat Abu Hurairoh رضي الله عنه, ia berkata bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda,
مَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
Artinya:
“Barangsiapa sengaja berdusta atas namaku, maka bersiaplah dengan tempat duduknya di Neraka.”
Juga dalam Hadits lain yang diriwayatkan oleh Al Imaam Muslim no: 5, dari Shohabat Al Mughiroh bin Syu’bah رضي الله عنه, ia berkata, “Aku mendengar Rosuululloohصلى الله عليه وسلم bersabda,
إِنَّ كَذِبًا عَلَىَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ فَمَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
Artinya:
“Sesungguhnya, berdusta atas namaku tidaklah seperti berdusta atas nama orang lain,barangsiapa sengaja berdusta atas namaku, maka bersiaplah dengan tempat duduknya di dalam api Neraka.”
Berarti memalsukan Hadits atas nama Rosuululloohصلى الله عليه وسلم adalah juga termasuk perkara yang menyebabkan seseorang masuk ke dalam neraka. Maka janganlah sekali-kali mengatakan: “Ini Hadits Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم” kalau tidak tahu betul bahwa Hadits itu adalah Shohiihatau Hasan berasal dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
Sejak zaman dahulu kala para ‘Ulama Ahlus Sunnah telah memisah serta memilah mana saja yang tergolong kedalam Hadit-Hadits palsu. Contoh yang terkategorikan Palsu adalah perkataan: “Hubbul wathon minal iimaan” (Cinta negeri bagian dari iman).
Perkataan itu bukanlah Hadits.
Atau perkataan : “Anna dzoofatu minal iimaan” (Kebersihan bagian daripada iman) atau perkataan: “Roja’na minal jihaadil asghori ilal jihaadil akbar wahuwa jihaadun nafsi” (Kita pulang dari jihad kecil menuju jihad besar yaitu jihad melawan hawa nafsu).
Semua itu adalah Hadits Palsu. Sebagian ‘Ulama Ahlus Sunnah mengatakan itu adalah Hadits yang Lemah, dan tidak bisa diperkuat.
Kemudian yang juga merupakan Hadits Palsu adalah:
“Man a’dzoma maulidi hallat lahu syafa’ati yaumal Qiyamah”
(Barangsiapa yang mengagungkan hari kelahiranku, maka ia berhak atas syafa’atku di hari Kiamat).
Itu adalah Hadits Palsu, Rosuululloohصلى الله عليه وسلم sendiri tidak pernah bersabda seperti demikian.
Dan masih banyak lagi Hadits-Hadits yang dinisbatkan atas nama Rosuululloohصلى الله عليه وسلم, padahal Rosuululloohصلى الله عليه وسلم tidak pernah menyatakan dan mengajarkannya.
Selanjutnya, di antara perkara yang juga dapat memasukkan seseorang ke dalam api neraka adalah: Seorang Hakim atau Penguasa yang dzolim.
Hal itu adalah sebagaimana dalam Hadits yang diri