BAHAYA BID’AH

bahaya-bidah

BAHAYA BID’AH
oleh: Ustadz Achmad Rofi’i, Lc.

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allooh سبحانه وتعالى,
Kita bersyukur pada Allooh سبحانه وتعالى, yang telah mempertemukan kita pada hari ini tanggal 6 Muharrom 1426 di awal tahun Hijriyyah, dimana Allooh سبحانه وتعالى memperingatkan kita, bahkan peringatan tersebut bukan saja berupa berita, melainkan juga berupa larangan.
Berkenaan dengan tahun baru Hijriyah, marilah kita membuka Al Qur’an surat At Taubah ayat ke-36 :
{ إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ (36) }
Artinya:
“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allooh ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allooh diwaktu Dia menciptakan langit dan bumi, diantaranya empat bulan harom. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya (mendzolimi) diri kamu sendiri dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allooh beserta orang-orang yang bertaqwa.”
Bayangkan Allooh سبحانه وتعالى sampai mengatur 12 bulan, 4 bulan diantaranya adalah bulan-bulan harom, aturan semua itu tentulah takdir dan keputusan Allooh سبحانه وتعالى, yang merupakan hal yang harus kita yakini. Sayangnya kaum muslimin meninggalkannya. Kita lebih faham dan hafal dengan bilangan bulan dan tahun Masehi. Yang tahun Masehi itu diambil dari Al Masih, yakni Isa Ibnu Maryam عليه السلام. Berarti kita memakai penanggalan kaum Nashroni. Bukan memakai penanggalan kaum muslimin.
Penanggalan kaum muslimin mestinya seperti yang difirmankan oleh Allooh سبحانه وتعالى dalam ayat tersebut diatas. Karena yang dimaksud dengan 4 bulan yang harom dan bulan lainnya adalah nama-nama bulan kaum muslimin.
Empat bulan yang dimaksud adalah 3 bulan disebutkan secara berturut-turut dan satu bulan lagi terpisah, yaitu: Dzul qo’dah, Dzul hijjah, Muharrom dan satu terpisah adalah Rojab.
Setelah Allooh سبحانه وتعالى menyatakan seperti itu lalu ada hal yang harus digaris bawahi, yaitu:
فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ
“Maka janganlah kalian mendzolimi (meng-aniaya) diri kalian dalam bulan-bulan itu.” (QS At Taubah : 36)
Dan selanjutnya Allooh سبحانه وتعالى berfirman:
وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ (36)
“Perangilah kaum musyrikin itu seluruhnya, sebagaimana mereka telah memerangi kalian seluruhnya, dan ketahuilah bahwasanya Allooh beserta orang-orang yang bertaqwa.” (QS At Taubah : 36)
Yang ingin kami garis bawahi adalah janganlah kalian berbuat dzolim dalam bulan-bulan yang dua belas maupun yang empat. Karena akibat dari kedzoliman itu adalah kebinasaan. Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam ayat yang lain:
وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولًا
“Tidaklah Robb kalian (Allooh سبحانه وتعالى) membinasakan suatu negeri sebelum mengutus ketengah-tengah mereka Rosuul yang membacakan ayat-ayat Kami. Dan tidaklah Kami binasakan suatu negeri kecuali karena penghuninya berbuat dzolim.” (QS Al Isroo’ : 15)
Jadi kedzoliman itu mengundang malapetaka dan kebinasaan. Maka agar tidak mengundang malapetaka, maka kita ke depannya harus mempunyai target melatih dan mendidik diri kita untuk tidak berbuat dzolim.
Dzolim itu banyak ragamnya. Misalnya kufur, syirik, memutuskan suatu perkara tidak berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, memakan harta orang dengan cara yang bathil dan lain-lainnya masih banyak lagi. Oleh karena itu janganlah melakukan hal-hal seperti tersebut diatas, karena jika melakukannya, artinya sama dengan kita bersaham untuk mempercepat datangnya adzab Allooh سبحانه وتعالى.
Selanjutnya, marilah kita meneruskan pembahasan seperti kajian sebelumnya, yaitu masalah bid’ah.
Pada kajian yang lalu kita sudah membicarakan tentang definisi dan ungkapan para ‘ulama yang berbeda-beda dan beragam. Akan tetapi perbedaan dan keragaman tersebut pada hakekatnya menuju satu substansi yang sama, sebagaimana telah kita pelajari.
TENTANG BAHAYA BID’AH
Kita tidak boleh berbuat bid’ah. Apakah bahayanya jika dilakukan?
Kita harus mengambil apa saja yang datang dan dibawa oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dan kita harus menghentikan segala aktivitas dan perbuatan yang tidak sesuai dengan apa yang dibawa oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Hal itu diperingatkan oleh Allooh سبحانه وتعالى dalam surat Al Hasyr ayat ke-7 :
{ مَا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَى رَسُولِهِ مِنْ أَهْلِ الْقُرَى فَلِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاءِ مِنْكُمْ وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ }
Artinya:
“Apa saja harta rampasan (fa’i) yang diberikan Allooh kepada Rosuul-Nya yang berasal dari penduduk beberapa negeri, maka adalah untuk Allooh, Rosuul, kerabat Rosuul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang ada dalam perjalanan; supaya harta itu jangan hanya beredar diantara orang-orang kaya saja diantara kamu. Apa yang diberikan Rosuul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertaqwalah kepada Allooh. Sesungguhnya Allooh sangat keras hukuman-Nya.”
Maksudnya, apa saja bagian dan keseluruhan dari ajaran dien yang dibawakan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, maka ambillah. Itu adalah perintah. Setelah itu datang larangan, yaitu: dan apa-apa yang dilarangnya maka hentikanlah. Arti hentikan adalah seketika. Jangan banyak pertimbangan, segera hentikan perbuatan yang dilarang tersebut. Demikianlah instruksi dari Allooh سبحانه وتعالى. Jadi dalam ayat itu setengahnya berbentuk perintah dan setengahnya lagi berbentuk larangan.
Dalam ilmu tafsir, para ‘ulama merumuskan bahwa jika sesuatu diawali dengan perintah dan diakhiri dengan larangan atau sebaliknya, maka perintah itu tidak akan turun dari kadar wajib dan larangan itu tidak akan turun dari kadar haroom.
Berarti mengambil apa saja yang diperintahkan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم hukumnya adalah wajib dan meninggalkan larangan juga wajib, atau melaksanakannya adalah haroom.
Namun demikian, betapa pun perintah dan larangan itu sudah Allooh سبحانه وتعالى firmankan, dan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم juga telah beliau ajarkan kepada kaum muslimin, tetap saja mereka tidak segan dan tidak mau tahu. Mereka menjalankan sesuatu yang menurut mereka baik, padahal itu termasuk dalam bagian yang berbahaya bagi dirinya dan bagi kaum muslimin. Oleh karena itu, berikut ini akan kami sampaikan bukti-bukti bahwa bid’ah itu berbahaya. Ada 8 poin, yaitu:
1. Harus diyakini bahwa bid’ah itu identik dengan kesesatan.
Bid’ah berarti sesat. Bid’ah tidak bisa membedakan mana yang haq dan mana yang bathil. Itu yang harus dihindari. Ketika dikatakan bid’ah adalah sesat, maka kita berusaha memohon petunjuk Allooh سبحانه وتعالى, bukan justru mencari kesesatan untuk menemui adzab Allooh سبحانه وتعالى. Bukti bahwa bid’ah itu adalah sesat, lihat surat Yunus ayat- 32 :
{ فَذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمُ الْحَقُّ فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلَّا الضَّلَالُ فَأَنَّى تُصْرَفُونَ }
Artinya:
“Maka (Dzat yang demikian) itulah Allooh Robb kamu yang sebenarnya, maka tidak ada sesudah kebenaran itu melainkan kesesatan. Maka bagaimana kamu dipalingkan (dari kebenaran)?”
Jadi hanya ada 2, yaitu kebenaran dan kebathilan. Tidak ada diantara kedua itu. Selain bathil adalah haq dan selain haq adalah bathil. Yang berasal dari Allooh سبحانه وتعالى adalah haq dan selain yang datang dari Allooh سبحانه وتعالى adalah bathil.
Sedangkan bid’ah itu dinyatakan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم sendiri dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, beliau صلى الله عليه وسلم bersabda:
وكل بدعة ضلالة
Artinya: “Semua bid’ah itu sesat.”
Demikian pula setiap khotib biasanya dalam khutbahnya sering menyampaikan hadits tersebut. Apa yang sering dijadikan muqoddimah oleh khotib tersebut berasal dari hadits Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Bahwa semua jenis bid’ah adalah dholaalah (sesat).
Kalau orang sudah tahu bahwa bid’ah adalah dholaalah maka tidak ada yang berhak untuk menjadikannya sebagai pilihan, baik besar atau kecil. Urusan perkataan, keyakinan atau perbuatan, kalau sudah berstatus bid’ah maka tidak ada yang perlu untuk dipilih dan dijadikan alternatif. Karena setiap bid’ah adalah sesat.
2. Bid’ah berarti keluar dari ittiba’ kepada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم
Ketika seseorang melakukan, melanggengkan dan mempublikasikan kebid’ahan sesungguhnya ia sedang berdakwah tentang sesuatu yang bertentangan dengan ittiba’ yang harus diikuti dan seharusnya dipenuhi oleh setiap umat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
Allooh سبحانه وتعالى berfirman:
{ قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ }
Artinya:
“Katakanlah jika kalian mencintai Allooh, maka ikutilah aku, niscaya Allooh akan mencintai kalian dan akan mengampuni dosa-dosa kalian.”
Dua hal tersebut tidak akan terwujud kalau tidak melakukan ittiba’. Ittiba’ adalah seluruh sikap, pikiran, inspirasi, kiprah amaliyah dan tindakan kita seluruhnya harus mencontoh dan menginduk kepada apa yang berasal dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Kalau tidak, maka tidaklah disebut ittiba’.
Sedangkan bid’ah adalah tidak mengikuti sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Bagaimana akan disebut mengikuti sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم? Bahkan bid’ah itu telah melanggar apa yang menjadi larangan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
ذروني ما تركتكم
Artinya: “Biarkan apa-apa yang telah aku tinggalkan untuk kalian.”
Maksudnya apa-apa yang telah beliau صلى الله عليه وسلم sampaikan, ajarkan kepada ummatnya jangan diutak-atik. Jangan ditambah-tambah, dikurangi atau diubah, biarkan apa adanya. Demikian wasiat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
Maka kalau ada orang yang membuat bid’ah, sesungguhnya dia telah mengubah posisi yang utuh menjadi tidak utuh lagi, yang sempurna lalu menjadi kurang atau ditambah. Dengan demikian orang tersebut telah menyalahi apa yang disabdakan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Sebagaimana dalam hadits riwayat Imam At Turmudziy, dan hadits itu sanadnya shohih dari Al ‘Irbaadh Ibnu Saariyah رضي الله عنه, kata beliau:
صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- ذَاتَ يَوْمٍ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْنَا فَوَعَظَنَا مَوْعِظَةً بَلِيغَةً ذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُونُ وَوَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوبُ فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَأَنَّ هَذِهِ مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ فَمَاذَا تَعْهَدُ إِلَيْنَا فَقَالَ « أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ ».
Artinya:
“Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم menasehati kami, yang nasihat itu menyebabkan mata kami melelehkan air mata dan hati kami tersentak merasa takut dengan nasihat itu.” Maka para sahabat lalu mengatakan: “Yaa Rosuulullooh sesungguhnya seolah-olah nasihat engkau adalah nasihat perpisahan. Apa yang engkau wasiatkan untuk kami?” Maka Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda: “Aku telah tinggalkan ditengah-tengah kalian Al Mahajjata al Baidhoo[1],malamnya seperti siangnya. Tidak ada orang yang menyelisihinya[2] kecuali dia akan binasa.”(Hadits Riwayat Imaam Abu Daawud, Imaam At Tirmdzy dan Imaam Ibnu Maajah).
Demikianlah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم menasihati kepada kita. Dan selanjutnya beliau صلى الله عليه وسلم menerangkan:
مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ
Artinya:
“Siapa yang diberi panjang umur diantara kalian, maka akan menyaksikan perselisihan yang banyak. Hendaknya kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para al Khulafaa’ ar Roosyidiin[3]. Gigitlah dengan gigi geraham kalian[4].”
Maka janganlah kita mati kecuali dalam keadaan istiqomah, berpegang teguh kepada apa saja yang berada diatas sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Jangan sekali-kali kita menyalahi sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Karena ketika seseorang melakukan kebid’ahan, sesungguhnya orang tersebut telah mempunyai penyakit yang disebut zaiigh[5].
Zaigh menurut definisi para ulama adalah: Cenderung (lepas) dari kebenaran. Sudah mengetahui sesuatu itu adalah benar, tetapi dia meninggalkannya dan melakukan sesuatu yang baru, yang tidak diajarkan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
Orang yang sudah terkena zaiigh berarti ia sudah terkena penyakit hati. Yaitu penyakit hati yang sudah sangat parah dan tidak bisa diharapkan sembuhnya, kecuali orang tersebut diberi petunjuk oleh Allooh سبحانه وتعالى.
Menurut para ulama, bahwa seseorang itu sakit berada dalam satu diantara dua kemungkinan. Yaitu marodhusy syahwaat dan marodhul hawaa’ (sakit syahwat dan sakit hawa nafsu).
Sakit syahwat adalah ringan, walaupun berat ia masih ada harapan sembuh. Misalnya kalau seseorang lapar, kemudian dia diberi makan, maka sembuh lah laparnya. Dan sembuh pula sakit-sakit lain yang diakibatkan lapar tersebut.
Sedangkan sakit hawa nafsu, tidak bisa diobati kecuali dengan hidayah Allooh سبحانه وتعالى. Maka penyakit hati ini yang disebut zaiigh adalah sangat berbahaya. Jangan sampai sakit yang satu ini ada dan hinggap pada diri kita, karena kalau seseorang sudah dihinggapi penyakit zaiigh maka sulit untuk bertaubat pada Allooh سبحانه وتعالى. Sebagaimana di kalangan kaum muslimin, jika seseorang telah termasuk mencandu dan kecanduan bid’ah, biasanya orang tersebut sangat sulit bertaubat pada Allooh سبحانه وتعالى.
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al Imaam Ibnu Abi ‘Aashim dalam kitabnya yang bernamaAs Sunnah dan juga riwayat Al Imaam Ath Thobroony, kemudian dikatakan oleh Syaikh Al Albaniy didalam Shohiihnya dengan komentar Hasan, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
أبى الله عز وجل أن يقبل من صاحب بدعة توبة
Artinya: “Sesungguhnya Allooh akan memberikan penghalang pada taubat orang yang melakukan seluruh kebid’ahan.”
Maka kalau kita perhatikan, apabila seseorang sudah doyan bid’ah, kalau diajak ke sunnah akan sulit sekali. Itulah yang kita khawatirkan. Maka janganlah masuk kedalam kebid’ahan, karena kalau sudah masuk, akan susah untuk bertaubat kepada Allooh سبحانه وتعالى.
3. Pelaku bid’ah sudah tidak konsekwen dengan syahadat yang dia ucapkan.
Seseorang menjadi muslim karena dia mengucapkan dua kalimah syahadat. Ketika orang tersebut tidak mengucapkan dua kalimah syahadat, maka dia tidak akan shohiih masuk kedalam Islam.
Dan apabila seseorang telah bersyahadat kemudian dia melakukan kebid’ahan, maka syahadatnya adalah mandul. Seolah-olah orang tersebut hanya mengucapkan syahaadat:
أشهد أن لا إله إلا الله saja. Dan jika seseorang melakukannya hanya sepotong saja, maka sesungguhnya dia tidak sah syahadatnya. Karena akan sah kalau mengucapkan dua kalimah syahaadat:
أشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا رسول الله
(atau)
أشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا عبده ورسوله
Kita bersyahadat[6] harus memenuhi empat perkara, yaitu:
a. Membenarkan apa saja yang diberitakan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
Kalau ada orang yang mengatakan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم adalah utusan Allooh, tetapi ketika datang berita dari Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, lalu dia tidak mempercayainya dan tidak membenarkan berita itu, maka batallah syahadatnya itu. Karena dia tidak konsekwen dengan apa yang menjadi tuntutannya.
b. Taat kepada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dalam apa saja yang menjadi perintah beliau
Sabda beliau صلى الله عليه وسلم:
فَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِشَىْءٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَىْءٍ فَدَعُوهُ
Artinya:
“Kalau aku perintahkan pada kalian sesuatu maka hendaknya semaksimal mungkin kalian melakukannya, dan apa saja yang aku larang, maka hendaknya semaksimal mungkin kalian menjauhinya.” (Hadits Riwayat Imaam Muslim dari Abu Hurairoh رضي الله عنه)
Kalau perintah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم tersebut tidak ditaati maka orang tersebut tidak taat kepada Allooh سبحانه وتعالى, karena Allooh سبحانه وتعالى berfirman:
مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ
Artinya:
“Dan siapa yang taat kepada Rosuul, maka ia telah taat kepada Allooh.” (QS An Nisaa’ : 80)
Orang yang tidak taat kepada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم maka otomatis dia tidak taat kepada Allooh سبحانه وتعالى. Kalau orang sudah tidak taat kepada Allooh سبحانه وتعالى maka bahayanya dia bisa murtad. Karena dia sama saja dengan iblis, yang tidak taat kepada Allooh سبحانه وتعالى ketika diperintahkan oleh Allooh سبحانه وتعالى untuk sujud kepada Adam عليه السلام. Maka iblis dikutuk oleh Allooh سبحانه وتعالى.
c. Menjauhi apa saja yang dilarang oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, dan diperingatkan dengan keras.
Maka kalau dilarang oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, jangan dilakukan. Kalau kita melakukannya maka kita akan mendapatkan adzab. Jadi harus kita patuhi.
d. Tidak boleh Allooh سبحانه وتعالى diibadahi kecuali dengan apa saja yang telah disyari’atkan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم adalah penyampai syari’at dari Allooh سبحانه وتعالى. Maka kalau kita ingin disebut shoolih, ingin maqbul amalan kita, maka harus tepat sesuai dengan ajaran Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Kalau tidak maka marduud, tidak akan diterima oleh Allooh سبحانه وتعالى. Karena itu, orang yang melakukan kebid’ahan, berarti dia telah membatalkan syahadatnya sendiri.
4. Bid’ah berarti mencela kesempurnaan Islam.
Kalau orang melakukan kebid’ahan sebetulnya secara sadar atau tidak sadar, secara langsung atau tidak langsung menganggap bahwa Islam itu tidak sempurna, Islam itu tidak lengkap, dalam Islam itu ada kebaikan yang belum dimunculkan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Dan karena itu dia memunculkan “ Ini lho baik, tetapi oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم tidak disampaikan.” Yang demikian itu bertentangan dengan firman Allooh سبحانه وتعالى dalam surat Al Maa’idah ayat 3:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
Artinya:
“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhoi Islam menjadi agama bagimu.”
Jadi Islam itu sudah sempurna. Karena sudah sempurna, tidak perlu ditambah atau dikurangi. Apa adanya, itu sudah baku, tidak perlu diubah atau digeser. Dan kalau ada orang yang mengatakan bahwa Islam itu masih kurang, berarti dia murtad.
Dan kalau ada orang yang mengatakan bahwa Islam itu tidak sempurna, Islam itu tidak relevan, Islam harus dikritisi, dan anggapan lain yang semacam itu, maka orang yang mengatakan demikian telah murtad dari Islam.
Bahayanya, di zaman sekarang ini ada orang-orang yang murtad tetapi mengaku dirinya tokoh atau pelopor pembaharuan Islam. Itu berbahaya. Kalau ada orang mengatakan bahwa Al Qur’an harus dikritisi, Al Qur’an masih kurang, dan Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم tidak ma’shum, maka hal itu semua tidak benar. Artinya ia menganggap Islam ini relatif, Islam ini rapuh, Islam ini tidak paten, itu semua adalah teori orientalis dalam bagaimana membuat keraguan dalam hati setiap muslim, agar seorang muslim ragu terhadap kebenaran Islam. Itu adalah lebih dari bid’ah. Dan itu adalah bagian dari gerakan pemurtadan.
Itulah yang harus diwaspadai. Intinya, kebid’ahan adalah secara lisan mengatakan bahwa Islam itu tidak sempurna.
5. Pelaku bid’ah dengan secara lisan atau perilaku menyatakan bahwa Rosuululloohصلى الله عليه وسلم adalah cacat, tidak amanah, dan berkhianat
Karena kebid’ahan yang dilakukan oleh kaum muslimin tersebut, menurut mereka adalah perbuatan baik, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم tidak mengetahuinya. Sedangkan mereka mengetahuinya. Jadi mereka merasa lebih tahu dibandingkan dengan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم
Itulah yang tidak mungkin. Kalau aqidah kita benar, tidak mungkin kita menyatakan bahwa kita lebih mengetahui daripada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Karena beliau صلى الله عليه وسلم mendapatkan wahyu dari Allooh سبحانه وتعالى (berkenaan dengan dien, bukan dengan urusan duniawi). Apabila urusan itu berkenaan dengan dien, maka Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم adalah sumbernya.
Dan ketika seseorang melakukan kebid’ahan, berarti dia mengatakan bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم tidak tahu bahwa yang dilakukan itu kebaikan.
Kalau mereka mengatakan bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم mengetahui bahwa itu baik, tetapi beliau صلى الله عليه وسلم tidak mengajarkannya, tidak memperkenalkan, tidak menyampaikan, tidak mencontohkan kepada salaful ummat, itu berarti seolah-olah mereka mengatakan bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم menyembunyikan ilmu. Mestinya disampaikan tapi lalu disembunyikan. Lalu yang mengungkapkannya, dan yang mengangkatnya adalah mereka ahlul bid’ah. Itu sama dengan menganggap bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم adalah penghianat. Dan orang yang menganggap Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم itu penghianat adalah berbahaya, orang itu bisa menjadi murtad.
Oleh karena itu bid’ah itu berbahaya sekali, tidak bisa ditolerir, karena selain sesat juga telah merambah ke hal-hal lain yang berkenaan dengan aqidah, diantaranya adalah telah mencela Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
Para ulama diantaranya Al Imaam Maalik mengatakan kepada kita bahwa orang yang mencela Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم berarti dia sudah kafir. Itu adalah ijma’. Tidak perlu diragukan lagi. Orang yang mencela para sahabat saja berarti dia munafiq.
Al Imaam Maalik mengatakan: “Jika engkau melihat ada orang yang mencela, mencaci seorang saja dari para sahabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم [7], ketahuilah bahwa orang itu munafiq”. Itulah bahaya yang tidak boleh dianggap sepele.
6. Bid’ah telah membuat pecah-belah dan terkotak-kotaknya kaum muslimin
Bid’ah telah membuat kaum muslimin terpecah-belah. Satu sama lain bergontok-gontokkan.
Bukan sunnah yang membuat terpecah-belah itu, melainkan bid’ahnya yang membuat terpecah-belahnya ummat. Allooh سبحانه وتعالى telah memberi peringatan, yaitu dalam surat An Nahl ayat 76:
وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا رَجُلَيْنِ أَحَدُهُمَا أَبْكَمُ لَا يَقْدِرُ عَلَى شَيْءٍ وَهُوَ كَلٌّ عَلَى مَوْلَاهُ أَيْنَمَا يُوَجِّهْهُ لَا يَأْتِ بِخَيْرٍ هَلْ يَسْتَوِي هُوَ وَمَنْ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَهُوَ عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
Artinya:
“Allooh membuat (pula) perumpamaan dua orang laki-laki, yang seorang bisu, tidak dapat berbuat sesuatu pun dan dia menjadi beban atas penanggungnya, kemana saja dia disuruh oleh penanggungnya itu,dia tidak dapat mendatangkan suatu kebajikan pun. Samakah orang itu dengan orang yang menyuruh berbuat keadilan, dan dia berada pula diatas jalan yang lurus.”
Firman Allooh سبحانه وتعالى memerintahkan Rosul-Nya صلى الله عليه وسلم agar mengatakan:
وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا
“Ini (Al Islam) adalah jalanku[8], jalan yang lurus.” (QS Al An’aam : 153)
Yang sebenarnya itu jawaban permintaan kita yang sering mengucapkan:
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
Artinya:
“Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS. Al Faatihah : 6)
Selanjutnya firman Allooh سبحانه وتعالى:
فَاتَّبِعُوهُ
Artinya: “Ikutilah jalan itu.” Yang merupakan perintah kepada kita. Selanjutnya Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam bentuk larangan:
وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ
Artinya: “Dan janganlah kalian mengikuti As Subul (jalan-jalan)”.
Lalu selanjutnya berfirman:
فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ
Artinya: “Maka kalian akan bercerai-berai (terpecah-pecah).”
Maksudnya, ketika seseorang meninggalkan Ash Shirootol Mustaqiim maka pasti akan terpecah belah.
Misalnya orang mengatakan Mauludan itu baik. Lalu mereka membuat peringatan Maulid Nabi. Sementara itu ada yang mengatakan: “Tidak ada Mauludan itu, itu adalah tasyabbuh bil kuffar, tasyabbuh binnashooro, menyerupai orang-orang kafir, menyerupai orang-orang Kristen.” Tetapi tetap saja mereka melakukan Mauludan, dengan ngotot. Padahal mereka melakukan sesuatu tanpa ada dalil. Dan itu terjadi.
Belum lagi Allooh سبحانه وتعالى berfirman: “Fatafarroqo” yang artinya terpecah-belah. Masih mending kalau hanya ikhtilaaf. Kalau ikhtilaaf adalah masih bisa bersatu kembali, tetapi kalau sudah terpecah-belah, maka akan sulit untuk bersatu. Oleh karena itu sunnah dan bid’ah tidak akan bisa bersatu dan berdamai sampai hari qiyamat. Karena sunnah adalah jalannya Rosulullooh صلى الله عليه وسلم, sedangkan bid’ah adalah jalan kesesatan (dholaalah).
7. Jika bid’ah dihidupkan maka otomatis sunnah dimatikan.
Kalau orang menghidupkan bid’ah, maka dengan itu akan mati sunnah. Pernyataan ini telah disepakati oleh para ulama, diantara mereka adalah salaful ummah, diriwayatkan oleh para ‘ulama dalam kitab-kitabnya mereka berkata:
“Tidaklah suatu kaum itu melakukan, memunculkan, merintis kebid’ahan kecuali dengan kebid’ahan itu mereka telah menyia-nyiakan sunnah semisalnya atau lebih dahsyat.”
Itu berbahaya sekali. Seharusnya kita menghidupkan sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, bukan malah justru mematikan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
Jangankan bid’ah, menjalankan hadits dho’if saja sebenarnya telah menjadikan sunnah-sunnah yang shohiih menjadi tenggelam. Hadits shohiih itu menurut yang dihafal oleh Al Imam Al Bukhoriy misalnya, ada 200.000 hadits, kemudian disaring oleh beliau sedemikian rupa sehingga menjadi 4.000-an hadits (hanya 2 %). Tetapi yang 4.000-an itu kapan kita kaji dan kapan kita jalankan? Mengapa malah menjalankan hadits dho’if? Membaca dan mengamalkan yang shohih saja belum semua, mengapa sudah merasa lapar untuk menjalankan hadits yang lemah (dho’if)?
Masih banyak hadits yang shohiih. Sudah pernah saya sampaikan disini, bahwa kutubus sunnah yang diakui hujjahnya oleh Ahlussunnah dikenal dengan Kutubuttis’ah (kitab yang Sembilan), yaitu: Kitab Shohiih Al Bukhoory, Kitab Shohih Muslim, Kitab Sunan Abu Dawud, Kitab Sunan At Turmudziy, Kitab Sunan An Nasaa’i, Kitab Sunan Ibnu Majah, Kitab Sunan Ad Daarimiy, Kitab Muwaththo’ Imaam Maalik dan Musnad Imaam Ahmad Ibnu Hambal. Jumlah seluruhnya sembilan kitab. Kalau kita pukul rata maka 4000 X 9 = 36.000 hadits. Belum lagi berulang diantara itu, lalu berapa persen yang telah dikaji oleh kaum muslimin saat ini?
Ternyata yang kita temukan dalam masyarakat, kebanyakan malah melakukan kegiatan yang tidak ada tuntunannya dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم seperti: sholawatan yang dinyanyikan, malam Jum’at Yasinan, itu-itu saja. Sementara kitab-kitab hadits yang ada yang sangat banyak untuk dikaji, malah belum dipelajari. Padahal kitab-kitab hadits tersebut paket terminnya sangat panjang, maka para Ustadz tidak usah khawatir akan kehabisan materi. Masih banyak sekali. Tetapi itu justru malah tidak dikaji, yang justru dilaksanakan dan dimunculkan adalah justru hadits-hadits yang dho’if.
Maka kita harus berfikir, kalau demikian halnya kita harus menghidupkan sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Sabda Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم ketika mengatakan hadits ghurobaa:
بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ
Artinya:
“Islam itu datangnya dengan aneh (asing), dan akan berakhir pula dalam keadaan aneh. Maka berbahagialah bagi mereka yang disebut ghurobaa’ (orang-orang aneh).” (Hadits Riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairoh رضي الله عنه)
Orang dianggap aneh di akhir zaman karena menjalankan sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Orang tersebut dido’akan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم:
فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ
Artinya:
“Maka berbahagialah bagi mereka yang disebut ghurobaa’ (orang-orang aneh).”
Jadi jangan minder (rendah diri) kalau kita betul-betul menjalankan sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, lalu berbeda dengan yang lain. Karena kita yakin bahwa landasannya benar.
Lalu para sahabat bertanya:
الغرباء هم الذين يصلحون ما أفسد الناس من سنتي من بعدي
Artinya:
“Siapakah yang disebut ghurobaa’, yaa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم?”
Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم menjawab: “Orang yang disebut ghurobaa’ itu adalah orang yang memperbaiki apa yang dirusak manusia dari sunnahku setelah aku.”
Maka orang itu mendapatkan do’a dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, sedangkan orang yang dengan kebid’ahan, maka orang tersebut telah bersaham untuk mematikan sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Maka dari itu kita harus berusaha untuk menghidupkan sunnah, bukan mematikannya.
Banyak sekali para ‘ulama, diantaranya sahabat ‘Umar Ibnu Al Khoththoob رضي الله عنه mengatakan: “Hati-hatilah kalian terhadap orang yang selalu mengemukakakan dan mengelu-elukan hasil pendapatnya dan akal fikirannya yang tidak berdasarkan wahyu, sungguh mereka adalah musuh-musuh sunnah. Mereka telah buta akan hadits-hadits yang harus dihafal dan dipeliharanya, lalu mereka mengatakan dengan ro’yu-nya, sehingga mereka sesat.”
Abdullooh bin Mas’ud رضي الله عنه adalah shohabiyyun jaliilun mengatakan: “Sungguh kalian telah berada diatas fitroh (Al Islam), hanya saja harus waspada, karena kalian akan dihadapkan pada sesuatu yang bid’ah. Jika kalian melihat sesuatu yang baru (bid’ah) hendaknya kalian berpegang teguh pada pedoman yang pertama kali.”
Yang dimaksud pedoman pertama kali adalah pedoman yang pernah dipegang, dipelopori dan dicontohkan oleh generasi pertama yaitu para sahabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Yang mereka itu menurut Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم adalah manusia terbaik, yaitu orang yang hidup sezaman denganku, kemudian yang datang setelah mereka, dan yang datang setelah mereka (sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in).
Sementara itu kita hidup 14 abad setelah mereka, maka kita tidak boleh menganggap sesuatu yang baik menurut perasaan kita, padahal menurut dalil tidak demikian. Kembali kata Abdullooh bin Mas’ud رضي الله عنه: “Seseorang mencukupkan diri dengan sesuatu yang berdasarkan pada sunnah, lebih baik daripada ia gigih dalam masalah bid’ah.”
Misalnya seorang imam sholat, ketika ia selesai sholat berbalik menghadap ke jama’ah, lalu mengomandoi membaca Al Fatihah. Berbaliknya memang benar, ini sesuai dengan sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, tetapi lalu mengomandoi membaca Al Fatihah itu lah yang tidak benar. Siapa bilang Al Fatihah itu tidak baik? Al Fatihah itu baik, tetapi siapa yang menyuruh atau mencontohkan bahwa selesai sholat setelah salam lalu membaca Al Fatihah? Apa lagi dengan mengomandoi ma’mumnya, apalagi dengan suara keras? Dsbnya, dsbnya. Itu adalah bagian dari sesuatu yang tidak diajarkan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
Mungkin kita menganggap itu baik, kompak, seragam, ada kebersamaan, enak. Tetapi kalau tidak sesuai dengan sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, maka tidak boleh dilakukan. Karena dien Al Islam itu tidak berdasarkan enak dan tidak enak, asyik atau tidak asyik, akan tetapi thoriqohnya pun harus sesuai dengan yang diajarkan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
‘Abdullooh bin Abbaas رضي الله عنه berwasiat kepada Utsman Al Azdiy: “Hendaklah kamu selalu bertaqwa kepada Allooh سبحانه وتعالى, hendaknya kamu tetap berada pada sunnah Rosuululloohصلى الله عليه وسلم, ikutilah dia dan jangan berbuat bid’ah.”
Dan banyak sekali perkataan-perkataan ‘ulama yang sesungguhnya perkataan-perkataan tersebut harus kita pelajari.
8. Bid’ah menjadi “MLM (multi level marketing)” bentuk dosa bagi perintisnya
Orang yang merintis kebid’ahan itu sampai hari ini mendapat kiriman dosa dari setiap orang yang melakukan bid’ahnya sampai hari qiyamat. MLM (Multi Level Marketing)-nya, silahkan dikalikan berapa kuadrat.
Misalnya dalam satu generasi saja, yang mengikuti berapa? Sampai sekarang sudah 14 abad, sunnahnya diikuti terus, maka sabda Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم:
مَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَىْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ
Artinya: “Barangsiapa yang melakukan sunnah hasanah, maka sesungguhnya ia mendapatkan pahala dan pahalanya orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahalanya (orang yang mengikutinya itu) sedikit pun. Dan barangsiapa yang melakukan sunnah sayyi’ah maka ia akan mendapatkan dosa dan dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosanya (orang yang mengikutinya itu) sedikit pun.” (Hadits Riwayat Imam Muslim dari Jariir bin ‘Abdillaah رضي الله عنه)
Demikianlah terus menerus sampai hari qiyamat. Itulah yang dimaksud MLM dalam bentuk dosa. Hendaknya kita merasa takut dan khawatir atas hal tersebut, karena sesungguhnya hal tersebut adalah sesuatu yang harus kita hindari.
Imaam Abu Muhammad Al Barbahaari menulis untaian kata dalam kitab beliau yang bernamaSyarhus Sunnah: “Hindarilah oleh kalian hal-hal yang bid’ah itu betapa pun kecilnya, sebab bid’ah yang kecil itu secara terus-menerus akan menjadi besar.”
Demikian pula setiap bid’ah yang dimunculkan ditengah-tengah ummat, awalnya adalah kecil, lalu dianggap oleh orang bahwa itu kebaikan dan kebenaran, sehingga orang itu tertipu seolah-olah itu kebenaran, kemudian ia tidak bisa keluar dari hal tersebut, sehingga semakin besar bid’ah itu. Akhirnya akan dianggap sebagai dien (syari’at) yang diyakini, lalu menyelisihi jalan yang lurus.
Kembali beliau berkata: “Hendaklah engkau amati, siapa yang engkau dengar ucapannya dari orang yang semasa denganmu. Jangan terburu-buru, jangan engkau masuk kedalam sesuatu sehingga engkau bertanya, engkau lihat siapa yang berbicara, seorang atau salah seorang dari para sahabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, atau salah seorang dari kalangan para ‘ulama. Kalau engkau mendapatkan perkataan itu ada dasarnya dari sahabat dan para ulama, maka pegang teguhlah itu, jangan engkau lewati dan engkau lalai, dan jangan engkau tinggalkan itu sedikitpun, karena jika engkau tinggalkan, engkau akan terjatuh kedalam api neraka.”
Itulah pesan beliau dengan gamblangnya pada kita, agar kita selalu berpegang teguh pada sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Dan kemudian jangan tergiur dalam kebid’ahan, walaupun kelihatan semarak, banyak, asyik dan sebagainya.
Hendaknya kita puas, seperti yang dikatakan oleh Abdullooh bin Mas’ud رضي الله عنه diatas, syari’at itu sederhana saja. Bila sabda Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم: “Setelah sholat bacalah: أستغفر الله tiga kali.” Maka bacalah: أستغفر الله tiga kali. Tidak boleh ditambah apa-apa lagi.
Karena tambahan itu tidak ada dalam sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Seperti itu kita harus cukupkan puasnya kepada sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Walaupun katanya tambahan itu baik, karena mendo’akan kita, orangtua kita, kaum muslimin yang hidup dan yang mati. Itu memang betul. Tetapi yang betul itu, bila diterapkan pada sesuatu yang bukan tempatnya; menjadi tidak betul. Demikian pula dengan yang lain.
Itulah secara global tentang bahaya bid’ah, intinya bahwa bid’ah adalah sangat berbahaya, sangat fatal, jangan tergiur, tertipu, karena bid’ah bukan membuat kita beruntung melainkan akan mengundang murka Allooh سبحانه وتعالى, dan terjauhkan dari petunjuk Allooh سبحانه وتعالى.

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Post navigation

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat website atau blog gratis di WordPress,com. The Adventure Journal Theme.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: